Melihat Tradisi Muslim Chiang Mai di Masjid Hadayatul Islam Banhaw Chiang Mai

Awalnya terus terang, kami tidak berniat berwisata ke Masjid di Chiang Mai. Ya gimana mau wisata Masjid, kalau kami tahu di Chiang Mai banyaknya kuil. Lagipula, alasan kami ke Chiang Mai sebagai transit ke Chiang Rai.

Ternyata Allah maha baik. Kami dikasih hadiah ketika mencari tempat makan halal, eh sepaket dengan Masjid yang terbilang cukup besar di tengah kota seribu kuil ini. Masjid besar tersebut ternyata juga sebagai pusat perwakilan Islam Provinsi Chiang Mai. Asyik bisa sholat di masjid lagi.

Belum masuk waktu Zuhur, jadilah kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Selesai makan, kami pamit ((((pamit))) sok akrab. Memang kami sok akrab sama Ibu-ibu di warung-nya. Hehehehe. Kami menuju masjid yang terletak persis di sebelah kanan warung makan.

Kawasan Halal Street Chiang Mai
Kawasan Halal Street Chiang Mai
Kantor Perwakilan Islam di Chiang Mai
Kantor Perwakilan Islam di Chiang Mai

Tempat sholat Jamah pria dan wanita berada di gedung yang berbeda. Saya naik ke lantai dua gedung sebelah kanan dan Zaki di gedung yang sebelah kiri. Tempat tangga memang agak tersembunyi jika belum pernah pasti tidak tahu. Kebetulan siang itu ada Ibu-ibu yang sibuk memasak di dapur masjid. Mereka yang menunjukkan letak tangganya.

Masjid Hadayatul Islam
Bagian Sisi Kiri Masjid

 

Masjid di Chiang Mai
Bangunan Sisi Kanan Masjid
Dapur Masjid Chiang Mai
Dapur Masjid Chiang Mai
Suasana Dalam Masjid
Suasana Bagian Dalam Masjid Jemaah Wanita

Di lantai dua mesjid ada toilet dan tempat wudhu yang mengingatkan saya seperti di Mekah waktu itu. Usai berwudhu saya masuk ke dalam area sholat. Bagian belakang ada meja dan kursi sepertinya diperuntukan untuk belajar ilmu agama. Saya menyalakan kipas angin. Berharap kipas angin bisa sedikit menyejukkan hawa panas siang itu. Azan zuhur berkumandang disusul iqomat. Alhamdulillah bathin saya. Gak ketinggalan berjamaah. Tapi, kenapa sepi ya jemaah wanitanya. Ah gak papa, tempat sholat terbaik wanita memang di rumah.

Baru saja saya akan berdiri untuk menunaikan sholat, tiba-tiba empat orang anak perempuan usia 10-12 tahun memasuki ruangan. Mereka mengenakan mukena, tetapi tidak mengenakan sarung. Hanya celana panjang dan kaus kaki. Saya mengajak mereka untuk berdiri di samping saya menggunakan bahasa tangan dan sebuah senyuman mengajak. Mereka menghampiri, dan berdiri membuat satu syaf sholat dengan saya, sambil tersenyum.

Usai sholat dan berdoa sejenak, anak-anak  tersebut mengajak bersalaman seperti layaknya di Indonesia. Saya tentu menyambut dengan hangat. Sambil menyapa, “Hai, assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam…” balas mereka kompak sambil tersenyum malu-malu.

Lalu, anak yang paling dekat dengan saya, seperti mengajak saya ngobrol berbicara beberapa kalimat menggunakan bahasa Thailand. Saya hanya menatapnya dan berkata, “I’m sorry, I can’t speak Thai. I come from Indonesia, Jakarta not Thai. Do u know where Jakarta is?” saya mencoba menjelaskan sekaligus bertanya.

“Oooo… ” ucapnya sambil menatap saya. Kemudian Ia dan teman-temannya berbisik-bisik sepertinya menjelaskan kalau saya bukan orang Thailand.

“Oh, I can speak English. What is your name?” katanya lagi.

“My name is Rini, what is your name? tanya saya lagi.

“My name is Mia.” dan kemudian saya menanyakan nama ketiga temannya yang lain.

Kami berbincang-bincang sedikit. Saya menanyakan umur mereka dan di mana mereka tinggal. Di antara mereka, hanya Mia yang mengenakan kerudung dan paling berani bicara dengan orang asing macam saya.

Teringat ada foto Kabah di bawah mesjid tadi, saya memperlihatkan foto saya waktu di depan Kabah, dan mereka bilang mereka suatu saat akan pergi ke sana. “Yes you have to go there someday its a magic place.”

Saya kemudian mengajak mereka wefie, mereka pun mengiyakan dengan senang. “Thank you,” kata saya. Kemudian mereka berbisik-bisik lagi, dan kemudian Mia berkata, “You are beautiful.” tulus sekali.

“Oh, you are beautiful too, and all of u are beautiful. Very nice to meet you all. See u next time” ucap saya lagi sambil berpamitan mengucap salam. Kemudian mereka berjalan keluar dan kembali bermain di sekitar masjid.

Chiang Mai Little Girls
Chiang Mai Little Girls

Di bagian bawah tempat sholat wanita terdapat ruangan lapang berisi meja dan kursi seperti di ruang makan. Bagian paling kanan terdapat dapur yang siang itu terdapat kesibukan. Di bagian kiri ada sebuah panggung dengan berlatar gambar Kabah di Mekah Arab Saudi. Sepertinya tempat ini digunakan jika ada sebuah perayaan di Masjid.

Auditorium Masjid Chiang Mai
Auditorium Masjid Chiang Mai

Malamnya kami yang kembali ke area ini untuk makan malam, dan melihat-lihat pasar malam. Kamipun kembali mengunjungi Masjid dan melihata ada sebuah perayaan malam nisfu syaban. Malam menyambut bulan suci Ramadhan. Malam itu siapa saja boleh datang ke Masjid. Bahkan buat kami yang memang tidak ikut membaca Yasin (karena sudah terlambat). Acara dimulai selepas sholat Maghrib.

Kami diperbolehkan masuk dan menikmati hidangan yang tersedia di meja-meja malam itu. Kue-kue khas Thailand dan minuman terhidang di meja. Pikir saya, kok gak di bawa pulang yah, ini acara sudah selesai tapi hidangan cemilan masih cukup banyak di meja. Mungkin budaya Ibu-ibu di Thailand berbeda dengan di Indonesia.

Karena kami sudah kenyang, jadi kami hanya melihat-lihat saja. Gak enak meski mereka sih gak terlalu peduli dengan keberadaan kami malam itu. Asyik berbincang dengan kerabat atau teman. Ah saya foto-foto saja. Kemudian kami melihat-lihat majalah dinding yang terpampang di tembok sebelah kanan. Ah sayang, lagi-lagi aksara Thai dan China isinya. Untung saja ada beberapa foto. Kami melihat lagi-lagi foto raja yang kala itu sepertinya sedang berkunjung ke Masjid. Sepertinya diambil ketika awal pembangunan Masjid.

Tidak heran perlakuan rakyat Thai ketika Sang Raja mangkat belum lama ini. Begitu cintanya mereka terhadap Sang Raja. Sang Raja memang terlihat dekat dengan rakyatnya. Tidak terkecuali mereka yang beragama minoritas di Thailand. Dalam foto, terlihat sang raja didampingi pimpinan Masjid atau ulama.

Di perjalanan saya kembali ke hostel, Zaki menceritakan pengalamannya juga di Masjid. Jamaahnya pria ketika sholat Zuhur tadi siang ramai. Sekitar empat shaf dan ada sekelompok anak usia SMP katanya.

“Anak-anak di mana-mana sama saja. Mereka bercanda dan membuat keributan. Sampai-sampai dimarahi imam masjid.” cerita Zaki.

Waktu menunjukkan sekitar jam 9 malam. Kami memutuskan kembali ke hostel. Meski pasar malam terlihat baru mulai meriah. Iyah, posisi kawasan halal ini dekat sekali dengan night market, tapi sepertinya aman-aman saja. Tidak ada pergesekan antara mereka penikmat pasar malam yang memang banyak turis mancanegara dengan kaum muslim di situ. Alhamdulillah.

Ketika kami berjalan pulang, suasana jalanan kota tua sudah sepi. Kuil-kuil dan toko-toko sudah tutup. Hanya ada beberapa penjaja roti halal dengan gerobaknya yang ramai pembeli.

Di perjalanan pulang, kami juga sempat berpapasan dengan beberapa turis mancanegara (sebut saja para bule) yang sepertinya akan menikmati malam itu di Night Market. Berhubung besok pagi-pagi kami akan ke Golden Triangle, dan melakukan one day tour yang sudah pasti melelahkan, pilihan kami ya menyiapkan stamina alias istirahat alias tidur.

Ibu Mariam, Muslimah Keturunan Jawa di Kampung Jawa, Bangkok, Thailand

Setelah cukup puas berkunjung ke Masjid Jawa di postingan pertama kemarin, kami meninggalkan Masjid dengan pengalaman baru. Senangnya ke Masjid di luar negeri adalah kami seperti bertemu saudara. Saling mengucap salam, kemudian menyapa. Kendala bahasa tak menjadikan kami bingung. Ucapkan Assalamualaikum, semua akan terasa mencair. Seperti bertemu saudara yang sudah lama tak berjumpa.

Menyusuri gang di Kampung Jawa tak terasa kami belum makan siang. Kanan kiri di gang ini sepertinya akan ramai di malam hari. Warung-warung sepertinya baru akan buka di malam hari.

Oh iya, di daerah Kampung Jawa selain banyak penjual makanan di sepanjang gangnya, ada juga beberapa hostel yang dikelola penduduk. Pemilik hostel kebanyakan muslim. Jadi buat yang mau mencari hostel yang ramah untuk muslim, bisa coba ke sini. Di perjalanan kami juga sempat bertemu turis asal India muslim atau wajah-wajah Timur Tengah. Meski begitu ada juga beberapa anak muda berwajah kaukasoid, entah dari Amerika atau Eropa. Ya di daerah itu banyak penginapan yang sederhana.

Tak berapa jauh kami menemukan warung bakmi yang sudah buka. Cukup ramai pengunjungnya. Logo halal di pasang di depan warung. Sang penjual Ibu-ibu yang sudah cukup umur mengenakan ciput dan tambah meyakinkan kalau makanan yang dijual dipastikan halal. Ya, beliau muslim.

Warung Bakmie di Kampung Jawa
Gerobak Bakmie dan si Ibu Penjual
Bagian dalam Warung Bakmi
Bapak berkaus biru sedang mencuci mangkuk bakmie

Memasuki warungnya, hiasan kaligrafi sederhana menghiasi dinding. Sepertinya bangunan sudah cukup tua. Dilihat dari warna cat dinding yang tidak lagi putih terang, dan beberapa barang yang menurut saya cukup antik. Oh, selain Ibu tua, ada juga si Bapak tua. Mungkin suaminya. Si Bapak dengan cekatan menyajikan mangkuk mie yang sudah siap ke meja kami. Menyediakan gelas berisi bongkahan batu es yang air putihnya sudah ada di teko di setiap meja. Si Bapak juga akan mengambil mangkuk pengunjung yang sudah selesai dan mencucinya di bagian belakang warung.

Sepertinya warung ini juga merangkap tempat tinggal sang penjual. Dilihat dari barang-barang lain selain perangkat berjualan bakmie. Gerobak tempat memasak bakmi terletak di depan. Sama seperti di Indonesia. Sang Ibu berkacamata cekatan melayani pengunjung. Kami masuk, mengambil tempat, kemudian memesan dua mangkuk mie. Sepertinya Ibu penjual bakmi tidak bisa bahasa Inggris.

Tiba-tiba ada seorang Ibu berkerudung hitam menyapa kami. Melihat kami yang seperti kebingungan berbicara dengan Ibu penjual. Dia langsung menyapa kami dan berbicara bahasa melayu.

“Assalamualaikum,” sapanya.

“Waalaikumussalam,” jawab kami.

Lalu dia mengambil kursi dan duduk di dekat meja kami. Awalnya saya pikir, beliau adalah salah satu empunya warung bakmie ini. Tapi saya salah. Beliau juga pembeli. Warga sekitar Kampung Jawa. Rumahnya tidak jauh dari Masjid Jawa katanya.

Awalnya kami berbincang-bincang menggunakan Bahasa Melayu campur Bahasa Inggris. Setelah kami jelaskan kami dari Jakarta, Indonesia. Dia kemudian mulai menggunakan bahasa melayu kemudian lebih mengarah ke Bahasa Indonesia. Agak terkejut kami mendengarnya. Wow kok keren yah. Setahu saya ada daerah Thailand yang bisa sedikit bahasa melayu, tetapi daerah Thailand selatan yang berbatasan dengan Malaysia.

Si Ibu berjilbab hitam ini, namanya Ibu Mariam. Dia baik sekali mau menerjemahkan pesanan kami ke Ibu penjual yang hanya bisa Bahasa Thai. Ibu Mariam cerita, beliau adalah keturunan Jawa. Kakeknya adalah orang Jawa. Beliau tidak bisa bicara bahasa Jawa, tetapi setiap hari Ahad, di Mesjid Jawa ada orang Indonesia yang mengajar Bahasa Indonesia untuk jemaah Masjid Jawa.

Ibu Mariam bahkan rela si Ibu penjual melayani kami lebih dahulu. Mempromosikan ini Bakmie Thailand yang enak. Beliau juga mengundang kami malam Jumat untuk datang ke Masjid. Masjid Jawa akan mengadakan perayaan malam Nisfu Syaban. Pembacaan surat Yasin tiga kali selepas sholat Maghrib.

Wah ternyata tidak hanya di Indonesia yah. Di Bangkok juga ada malam Nisfu Sya’ban. Beliau bilang, di malam itu nanti sehabis sholat Isya akan ada makanan. Itu gratis untuk jemaah Masjid. Wajah kami memang kelihatan suka yang gratisan ya bu? Tauk aja nih si Ibu. Hihihihi. Saya berbicara dalam hati sih.

Ini penampakan bakmie Thailand. Mienya bermacam-macam. Ada bihun, mie kuning, mie kwetiauw. Dicampur sayuran seperti tauge dan sawi juga bakso ikan, udang, atau cumi. Rasa kuahnya segar. Ditambah perasan jeruk nipis dan ada pangsit gorengnya juga. Kalau dari rasanya mirip Mie Pho khas Vietnam. Di Indonesia mirip mie kocok Bandung. Hehehehe. Sueger deh.

Oh iya, jangan tanya kecap manis dan saus cabai di Thailand ya. Yang ada hanya cabe bubuk dan kecap ikan. Pakai apapun enak kok. Segar asam-asam khas Thailand.

Bakmie Thailand
Bakmie Thailand
Ibu Mariam
Ibu Mariam antusias bercerita

Sembari menikamti bakmie, Ibu Mariam masih semangat mengajak kami berbincang. Beliau mengundang kami untuk datang lagi di hari Minggu dan melihat pelajaran Bahasa Indonesia di Masjid Jawa. Sayang sekali, besok kami sudah berencana ke Chiang Mai dan Minggu pagi sudah harus pulang ke Jakarta. Lain kali kalau kami ke Bangkok lagi ya Bu.

Katanya lagi, Bahasa Indonesia mudah dipelajari. Sudah satu bulan dia belajar. Meski agak terbata-bata, saya salut usahanya yang berani berbicara dengan kami menggunakan bahasa baru-nya. Beliau belum pernah ke Jakarta, tetapi sudah pernah berhaji ke Arab.

Pesanan bakmie Ibu Mariam sudah selesai dibuat. Beliau pamit undur diri. Setelah mengucap salam, dan tetap mengharap kehadiran kami di hari Ahad, beliau pergi. Sepeninggal beliau, saya tersenyum ke Zaki. Ya tersenyum senang, seperti ketemu Saudara. Baik sekali Ibunya ya.

Tidak lama Ibu Mariam datang lagi menghampiri kami.

“Ini pisang Bangkok. Enak rasanya. Buat kalian.” ucapnya sambil menyerahkan kantung plastik berisi sesisir pisang. Kalau kata saya seperti pisang ambon yang kecil-kecil.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Bu.” kata kami kompak.

“Aduh jadi ngerepotin. Makasih banyak ya Bu.” tambah Zaki. Entah si Ibu mengerti apa tidak kata-kata ngerepotin itu.

Setelah itu, si Ibu pergi sambil tersenyum meninggalkan kami yang masih setengah bengong dengan kantung plastik berisi pisang di tangan.

Pisang Bangkok dari Ibu Mariam
Pisang Bangkok dari Ibu Mariam

Menengok Masjid Jawa di Kampung Jawa, Bangkok

Ramadhan tiba… Hei… apa kabar Ramadhan tahun ini? Semoga lebih banyak emmbawa keberkahan ya. Marhaban ya Ramadhan. Biasanya di bulan Ramadhan, masjid-masjid lebih ramai dikunjungi dari bulan-bulan lainnya. Masjid menjadi tempat yang tidak pernah sepi. Dari menunaikan sholat wajib, sholat sunah, ataupun kegiatan lainnya seperti tadarus atau kajian-kajian. Untuk Ramadhan kali ini saya punya cerita tentang liburan di Bangkok kemarin dan mengunjungi Masjid Jawa.

Ceritanya suami mau tugas ke Bangkok di Minggu di mana adanya tanggal merah dan hari kejepit nasional. Suami pun bilang, “Saya mau ke Mesjid Jawa ah. Masa, berkali-kali ke Bangkok belum pernah sekalipun ke sana.” Akhirnya, kami punya tujuan baru di Bangkok selain Wat-wat tourisity nya. Yeay. Senang sekali rasaya mau ke Mesjid Jawa, yang terletak di Kampung Jawa.

Saya pun mengajukan surat izin cuti dua hari. Izin dua hari, saya bisa mengunjungi Thailand selama lima hari. That’s how I love my country. Banyak liburnya. Kali itu hari libur dalm rangka Waisak. Yeay. Rabu pagi-pagi saya naik penerbangan budget (karena bayar sendiri) menuju Don Mueang, Bangkok.

Tiba di Bangkok jam 11:00 di jemput suami , kami akan langsung menuju Mesjid Jawa yang terletak di daerah Sathorn, Bangkok. Loh gak ke hotel dulu? Gak bawa koper? Nggak dong. Perlengkapan saya sudah di bawa suami duluan. Jadinya saya cuma bawa tas poket dan ransel saja.

Dari Don Mueang naik Bus A2 ke Victory Monumen. Dari situ sambung dengan BTS ke arah Silom, turun di terminal Surasak. Keluar pintu, ambil ke arah kiri dan jalan terus sekitar 500 meter saja, ketemu deh Mesjid Jawa. Oh iya, jangan takut kesasar atau bingung. Penduduk di sana ramah. Apalagi melihat tampilan saya yang berhijab dan sepertinya mereka sudah tahu saya mau kemana. Jadi setiap bertemu, setelah menyapa dengan Assalamualaikum, mereka dengan bahasa Thai, menggunakan tangannya seolah berkata,  “Sana, masih kesana lagi, terus aja. Masjid, ya Masjid.” Begitulah kira-kira saya menerjemahkan bahasa yang mereka ingin sampaikan. Sangat membantu sekali. Terima kasih Bapak-bapak yag lagi nongkrong di pangkalan ojek. Hehehe.

Gang Menuju Masjid Jawa

Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga. Tujuan pertama ya sholat Zuhur dijamak dengan Ashar. Waktu itu sudah lewat sedikit dari waktu sholat berjamaah, sehingga masjid sudah terlihat sepi. Masih ada siy, beberapa jemaah, tapi hanya jemaah laki-laki yang masih berbincang-bincang. Saya pun wudhu, dan memasuki masjid. Ketika saya masuk ada jemaah laki-laki yang berada di tempat sholat wanita. Dia sepertinya agak kaget, dan bergegas keluar lewat pintu belakang.

Saya sempat sedikit mengintip ruangan di balik pintu itu. Kok sepertinya ada banyak orang di dalam situ, berpakaian gamis putih, dan ada beberapa kasur berkelambu. Mereka ada yang membaca atau sekedar duduk-duduk. Sayang, pintu cepat sekali ditutup. Bruk, lenyaplah pemandangan, dan saya harus mengakhiri ke-kepoan saya.

Untuk interior masjid bagian dalam, saya tidak banyak mengambil gambar, soalnya ada beberapa jamaah, takut ditegur. Waktu itu sempat insta story sih di Instagram. Interior dalam tidak terlalu spesial. Kaligrafi di sekeliling dinding bagian atas Masjid dan karpet berwarna hijau. Seperti mushola di lingkungan perumahan di Indonesia biasanya. Sederhana. Ukuran Masjid juga tidak terlalu luas kurang lebih 500 meter. Meskipun bangunan utamanya tidak terlalu besar.

Ketika sudah keluar Mesjid, saya cerita ke Zaki dan menurutnya, masjid itu juga tempat singgah para muslim di Thailand atau negara lain seperti musafir. Mungkin memang ada tempat untuk menginap. Memang setiap hari Ahad ada kajian yang kadang ada orang asal Indonesia juga yang mengisi kajian. Barusan katanya juga ada orang dari konjen Indonesia yang mengatakan akan ada kerjasama Indonesia Thailand dalam mempelajari agam Islam. Wah… keren.

Benar saja, selesai sholat, Zaki sempat berbincang dengan jemaah ada yang dari Brunei ataupun Malaysia. Orang Indonesia sering berkunjung terutama kalau sholat Jumat. Ramai pendatang dari mana-mana. Kami juga sedikit foto-foto di muka masjid. Rencana kami selanjutnya ke Grand Palace. Kami pun balik menuju terminal BTS.

Pose di Depan Masjid Jawa
DI depan Masjid Jawa

Dalam perjalanan, kami membaca di sebuah perempatan jalan sebuah tembok keramik yang menceritakan sejarah Mesjid Jawa. Bermula di masa Raja King Rama IV, ada beberapa orang Jawa yang berdagang hingga ke Thailand. Mereka kemudian menetap di daerah Sathorn Utara ini. Selain berdagang, Raja juga meminta orang-orang Jawa di sana untuk bekerja di kebun-kebun istana seperti Grand Palace dan gedung-gedung pemerintahan lainnya. Hinga mereka menetap dan membangun keluarga di sana dan memutuskan untuk membangun masjid untuk mereka beribadah.

Tahun 1945, Hj Muh. Sholeh bin Hasan seorang pedagang Jawa mendonasikan tanahnya untuk dibangun masjid. Arsitektur masjid bergaya Semarang, Jawa Tengah. Hal itu terlihat dari atap bangunan yang berlapis seperti masjid-masjid di Jawa Tengah pada umumnya. Atas kerjasama orang-orang Jawa dan muslim sekitar, berdirilah masjid ini dan H. Muh Soleh bin Hasan menjadi imam masjid yang pertama. Masjid ini didaftarkan menjadi mesjid yang keempat di Thailand di Bulan November 1945.

Sejarah Masjid  Jawa

Euhm, meski ada Masjid Kampung Jawa dan dipercaya orang-orang yang tinggal di sini adalah keturunan Jawa, tapi jangan berharap mereka bisa berbahasa jawa apalagi Indonesia. Mereka semua sudah generasi keempat atau bahkan kelima. Hal itu ketika kami membeli sebotol air mineral di pinggir jalan dan mengajak ngobrol penjualnya. Cantik, sama seperti wanita Thailand pada umumnya. Berjilbab besar syar’i. Dia mengaku keturunan Jawa, tapi tidak bisa berbahasa Jawa.

Postingan selanjutnya, kami sempat bertemu dengan seorang Ibu warga setempat, yang bisa sedikit berbahasa Indonesia. Kami juga sempat berbincang-bincang di warung bakmi. Seru kan lihat postingan selanjutnya ya. 🙂

 

 

 

Akhirnya Nyobain Jadi Volunteer di #Onedayfundoingfun Batch 6; Garut

Volunteer… apa sih itu volunteer ya itu sukarelawan. Sukarelawan yang bekerja secara cuma-cuma tanpa bayaran dalam sebuah kegiatan sosial. Kegiatan sosial yang bertujuan membantu mereka yang perlu dibantu. memberi sedikit kebahagiaan dan tauk gak itu sama dengan memberi kebahagiaan bagi diri sendiri. Ya, itu salah satu lasan saya pingin banget jadi sukarelawan dan ikut menjadi bagian dalam sebuah kegiatan sosial.

Menjadi sukarelawan juga bisa membuat kita lebih mensyukuri hidup. Sering banget saya merasa hidup saya yang paling menyedihkan dan gak bahagia. Coba lihat itu teman-teman di sosial media mengunggah foto-foto yang bikin iri. Kemudian gak jarang saya merutuk dalam diri saya. Betapa lebih beruntungnya mereka. Mulai menyalahkan Allah yang terlihat tidak adil. Dimulailah kebaperan-kebaperan berikutnya.

Pada tahun 2015, Allah mempertemukan saya dengan anak muda yang super kreatif dan smart di mata saya. Berawal dari keikutsertaan kami di acara travel n blog dan kemudian kami memisahkan diri untuk mencari tempat sholat. Dari situ saya kenal dengan yang namanya Nia, kepanjangannya Isnia Nuruldita.

Perkenalan itu berlanjut saling mem-follow di media sosial. Dari situ saya tahu, Nia punya hajat yang bagus setiap tahunnya. Waktu saya tahu itu sudah gelaran kelima. One day fun doing fun namanya. Akhirnya saya beranikan diri buat japri nia dan tanya-tanya tentang acara itu. Baca di blognya juga dong. Kok seru yah. Tahun 2016, saya putuskan ikut berdonasi. Alakadarnya gak banyak, yang penting bisa sedikit membantu.

Waktu itu Nia bilang, kenapa gak coba ikutan aja. “Seru lo.” katanya lagi. Iyah kelihatan kok Nia, seru. Tapi karena satu dan lain hal, saya memang belum bisa ikutan.

Nah tahun 2017 Januari kemarin ini, saya bertekad saya mau ikutan. Mau nyobain jadi sukarelawan. Mau bermain sama adik-adik. Iya namanya aja One day Fun Doing Fun. Melakukan suatu hari yang menyenangkan.

Oke, karena acaranya di Garut, ternyata teman-teman sukarelawan yang lain menginap. Kata Nia sih, ini baru pertama kali pakai acara menginap, buat mengakrabkan diri katanya. Berhubung ada acara keluarga. Saya dan suami yang pingin ikutan naik bus bersama rombongan akhirnya jalan sendiri dan tiba di Garut lewat tengah malam. Oh iya, naik bus menempuh perjalanan panjang itu juga sangat berkesan buat kakak-kakak relawan. Ceritanya ada di sini.

Lokasinya di Villa Cipedes Garut. Tidak jauh dari lokasi wisata Candi Cisangkuang di Kecamatan Leles Kabupaten Garut. Kebaikan panita lagi, kami dapat villa dan bisa dapat satu kamar sendiri. Padahal gak papah lo dipisah kalau sekamar bareng-bareng sama sukarelawan lainnya.tapi anyway makasih yah. Hehehehe.

Keesokan paginya, meski hawa sejuk pegunungan begitu berat untuk menyadarkan diri, tapi kami tetap semangat bangun pagi. Ceritanya sih, jalan pagi, olahraga pagi. Tapi tetap tentu saja yang paling utama foto-foto. Maklum orang kota, gak pernah lihat sawah, berlatar pemandangan gunung pula. Hehehehe.

Sunrise di Leles
Jalan-jalan pagi memang gak pernah salah

 

 

Kakak-kakak ODFDF 6
Tiap sudut jangan lupa foto
Jalan-jalan Pagi ke Sawah
Jalan-jalan Pagi ke Sawah

Jalan-jalan pagi juga mengakrabkan saya dengan sukarelawan lain. Yah sok akrab ajah lah ya… memperkenalkan diri. Ngobrol sedikit-sedikit tentang asal dan kegiatan sehari-hari. Aduh, sepertinya mereka masih muda banget. Saya kayaknya agak paling senior yah. Hebat yah. Saya dulu seumur mereka ngapain aja yah. Hahahahha. Untungnya sih, wajah saya yang imut ini gak bikin gap usia kita terlihat jelas. Ya kan ya kan… hahahha. Maaf saya narsis.

Salah satu kakak relawan, Kak Tanti
Kak Tanti kenalan baru

Jalan pagi selesai, kami pun sarapan. Sederhana, nasi goreng, telur ceplok, dan kerupuk. Selesai sarapan kami membersihkan diri dan siap menyambut adik-adik yang hari ini akan bermain bersama kami.

Adik-adik yang jumlahnya hampir 40 orang itu, awalnya malu-malu. Kelihaian Kak Stevi si pemandu acara lah yang akhirnya sedikit demi sedikit bisa mencairkan suasana kaku di antara kami. Kakak-kakak sukarelawan yang berjumlah hampir 30 orang itu juga yang bikin seru.

Acara Perkenalan Kakak-kakak dan Adik
Sesi Perkenalan
Adiknya masih malu-malu
Adiknya dari usia 2 tahun sampai 10 tahun

Adik-adik datang dari panti asuhan dan beberapa anak yatim atau piatu lainnya tidak jauh dari vila. Kak Stevi membagi beberapa anak untuk menjadi tanggung jawab kakak-kakanya. Satu orang kakak sukarelawan, memegang satu sampai dua orang adik. Mereka bertanggung jawab sama si adik selama acara. Jadi kalau adiknya mau ke belakang, atau lapar ya kakaknya lah yang urusin.

Setelah acara perkenalan, dengan sedikit melemaskan otot bergoyang penguin, acara dimulai di pendopo untuk mendengarkan dongeng dari Kak Dita dan Yoyo boneka ajaibnya. Hehehehe. Antusias loh, adik-adik dengerinnya. Apalagi di penghujung dongeng nanti, ada hadiah yang dibagikan buat mereka yang bisa menjawab pertanyaan tentang dongeng yang disampaikan. Pintar-pintar semua, hadiah pun habis. Adik-adik berebutan ingin menjawab.

Kak Dita dan Yoyo in Action #ODFDF6
Aksi Kak Dita dan Yoyo mendongeng. Gak Cuma adik-adik yang nyimak, kakak-kakak juga serius. 🙂

Selesai dongeng, acara puncak dimulai. Acaranya apalagi kalo bukan bermain. Kakak-kakak dan adik dibagi menjadi beberapa kelompok. Diminta membuat nama kelompok juga yel-yel. Semua heboh (paling heboh ya tentu kakak-kakanya sih) Hehehe. Adik-adik yang sepertinya belum terlalu lancar berbahasa Indonesia cuma terpukau melihat kehebohan kakak-kakaknya. Iyah mereka masih terbiasa dengan bahasa ibu mereka Bahasa Sunda. Tapi apalah bahasa, tanpa bahasa yang sama pun kami tetap bisa bergembira bersama.

Beragam permainan dari yang membutuhkan keahlian fisik sampai basah-basahan semua benar-benar menikmati. Meski ada sedikit kecelakaan sedikit seperti jatuh, semua tetap gembira. Adik-adik yang awalnya malu-malu dan pendiam pun mulai bisa tertawa lepas dan aktif bermain.

Selesai permainan, kami berkumpul lagi di saung. Kali ini kami diminta membuat penampilan tiap kelompok. Panitia agak nyusahin yah. Tapi seru jadinya, ide-ide spontan mengalir begitu saja dan jadinya lucu.

Sambil duduk-duduk kita pun sedikit ngobrol-ngorol sama adik-adik. Adik asuh saya, namanya Azam, usianya 3 tahun. Kalem banget. Pipinya ngegemesin tembem. Gak banyak bicara. Pemalu sekali. Awalnya Azam gak mau lepas dari sang kakak. Tapi kemudian mau juga sih. Azam punya kakak dua orang dan adik yang masih bayi satu orang. Ibu Azam sudah meninggal dunia, karena sakit. Kakak Azam juga cerita, kalau mereka kakak beradik jadi harus terpisah-pisah. Ada yang tinggal sama nenek atau bibi. Ayah mereka juga bekerja di Garut agak jauh dari rumah.

Ini Azam dan Kakaknya
Ini Azam dan Kakaknya

Ada juga salah satu adik dengan keterbatasan fisik. Tangannya hanya satu. Tetapi selama permainan yang menggunakan fisik, tidak pernah ada rasa minder atau rendah diri. Dia tetap menikmati. Ada juga aduh saya lupa namanya, dan kemudian dikenal dengan teriakan khasnya “Kerang sakilo..” salah satu slogan buat yel-yel kemarin. Dia sudah harus memakai kacamata yang cukup tebal. Tetapi saya perhatikan dia suka membaca. Waktu itu, ada koran sebagai alat permainan, dan kemudian dia baca meski korannya sudah lecek dan kumal. Padahal sulit sekali untuknya, membaca harus dari jarak yang sangat dekat. Ketika saya tanya, “Kamu suka baca dek?” Dia mengangguk. Tunggu ya, kemudian saya ingat, di mobil saya membawa beberapa buku cerita anak yang kemudian saya berikan ke dia. “Terima kasih ya Kak,” sambil tersenyum. Senyum yang tulus.

Gendong-gendongan
Adik “Kerang Sakilo” digendong Kak Masha

IMG_8463

Di penghujung acara, ada testimoni dari kakak dan adik. Ada pemilihan kakak favorit, ada juga penulisan surat cinta dari kakak ke adik. Penulisan surat cinta ini berisi kata-kata motivasi ke adik buat belajar dan menjadi lebih baik. Agak sedih juga pas nulis surat cinta. Segenap doa yang baik-baik kami tulis untuk mereka. Kami bukan siapa-siapa yang bisa begitu saja merubah garis hidup mereka. Tetapi semoga lewat doa-doa baik yang kami tuliskan di sana bisa menjadi motivasi buat mereka menjadi lebih baik.

Rangkaian acara selesai, adik-adik bisa pulang dengan bahagia,membawa bingkisan yang kami siapkan. Paket sembako, cemilan, dan alat tulis. Aduh bawaannya banyak. Adik-adik yang kecil sampai kesusahan bawanya.

Semoga hal kecil yang kami lakukan bisa menjadi salah satu hari yang menyenangkan buat mereka. Memperkaya kenangan mereka, kalau masa kecil mereka sangat menyenangkan.

Formasi lengkap #ODFDF6
Formasi Lengkap #ODFDF6
Kakak-kakak #ODFDF6
Kakak-kakak #ODFDF6 Garut
kakak-kakak #odfdf6
Selalu heboh kalau lihat kamera
Kelompok POwer Rangers
Lihat siapa itu paling heboh yang paling depan ;)))

Buat Nia, makasih banyak memperkenalkan dan membawa saya dan Zaki dalam kegiatan ini. It was so fun. Awalnya saya takut Zaki gak melebur, eh ternyata malah hebohan dia. Hehehehe. Mau ikutan lagi? Yuks ikutan lagi, kali ini akan digelar di Majalengka Bandung 14 Mei nanti. Buat lengkapnya bisa lihat di instagram @onedayfundoingfun atau follow ig dan twitternya  nia di @alaniadita

 

Gak Ada yang Enak-enak itu Cuma-cuma Begitu Saja

Belum lama ini, saya dan suami berkesempatan menginap dengan harga yang bisa dibilang cukup murah untuk hotel di kawasan Nusa Dua Bali. Bersamaan dengan kunjungan Raja Salman di Bali kemarin. Awalnya sih, seharusnya Raja Salman sudah pulang duluan. Tapi kok ndilalah beliau memanjangkan liburannya di Bali. So, jadilah kita sempat tetanggan.

Dalam rangka apa saya ke Bali kemarin? Menginap di Kawasan Nusa Dua pula. Apakah kemarin kecipratan duit dari Raja Salman yang lagi ke Indonesia? Hahahhahaha… Tentu tidak dong.

Berawal ketika sebuah nomor telepon yang tidak ada di phone book hape terlihat. Kemudian gue angkat, dan ternyata dari sebuah marketing grup hotel kenamaan kita sebut saja Alor. Mereka menawarkan paket menginap 3 hari 2 malam di sebuah hotel kawasan Nusa Dua Bali dengan kamar yang luas, fasilitas lengkap, dan private beach tentu saja. Ada syaratnya gak? tentu saja. Syaratnya, pada hari kedua, kami harus mendengarkan sebuah presentasi dari marketing grup hotel tersebut selama kurang lebih dua jam. Dalam pikiran saya waktu itu, yah paling jualan dan  ditawarin paket liburan lagi. Biasalah.

Oh iyah, untuk meyakinkan kalo saya gak ditipu, saya juga nanya dong, tauk nomor saya dari mana. Kok bisa beruntung. Ini bukan penipuan kan? Mereka menjelaskan kalau mereka dapat nomor saya, dari data tamu yang pernah menginap di salah satu hotel yang masuk grup mereka. Setelah mereka menyebutkan nama hotelnya, saya pun ingat. Oke mereka tidak menipu.

Sebelum menetapkan tanggal berapa itu paket menginap ditentukan, jangan heran kalau hampir setiap hari itu marketing akan meneror seolah kamu punya hutang 1 M lebih dan udah nunggak berbulan-bulan. Gimana gak kesel, saya ditelepon ditanyain kapan pastinya setiap hari. Kalau pagi gak gue angkat ntar jam makan siang. Kalau pas siang gak saya angkat, pas jam pulang kerja ketika saya sedang terlelap di bus jemputan. Kan kesel banget lagi tidur enak-enak ada telepon yang aduh penting gak penting dan saya belum punya jawaban.

Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya kami putuskan untuk mengambil paket liburan tersebut di bulan Maret pas weekend dan kebetulan suami ulang tahun juga. Biar agak spesial gitu deh. Oh iyah paket menginap 3 hari 2 malam itu hanya senilai 990 ribu rupiah saja. Sudah termasuk makan pagi, dan fasilitas penjemputan.

Kami berdua yang orang kantoran dan males ngambil cuti (sayang banget siapa tauk ada rencana jalan yang lebih lama), memutuskan berangkat dari Jakarta pesawat malam dan tiba di hotel sudah cukup larut, walhasil kami tidak dijemput. Oke gak papah, kami pilih naik taksi onlen, dan alhamdulillah letak bandara ke hotel tidak terlalu jauh. Ongkos taksi hanya 40 rb saja.

Kami pun tiba di hotel dan saat mendaftar ke resepsionis, saya sedikit mengintip banyak juga peserta paket liburan murah seperti kami. Kami pun diantar ke kamar dimaksud. Hotelnya bergaya resort, terdiri atas beberapa gedung. Tenang sekali suasana hotel malam itu. Staf hotel yang membantu kami membawa barang pun memepersilahkan kami masuk, dan wow… ukuran kamarnya besar sekali. Kamar tipe apartemen dengan satu kamar.

Ruang tamu yang disatukan dengan ruang keluarga, ruang makan, dapur yang lengkap dengan alat masak dan kulkas dua pintu. Kamar mandi dan area laundry lengkap dengan mesin cuci. Kamarnya tidak begitu besar. Hanya tempat tidur single bed, lemari, dan meja rias.

Interior kamar yang sangat Bali ini agak-agak gimana gitu kalau cuma berdua. Dekat pintu masuk, kami disambut patung tanpa kepala, belum lagi di kamar tidur yang tidak ada tv dan ada lukisan gadis kecil seolah menatap kami. Penerangan agak remang-remang pula. Ah tenang lah, berani-berani. Gue emang rada-rada penakut gitu orangnya. Di belakang juga ada balkon yang cukup luas untuk bersantai. Memang sih kamar kami bukan kamar yang menghadap kolam renang, tapi dengan harga yang sudah kami bayar, gak boleh proteslah. Ini sudah jauh melebihi ekspektasi kami.

Oh iyah, sebelumnya saya juga sudah survey harga kamar ini permalamnya bisa lebih dari satu juta lo… jadi ya lupakan saja hal-hal yang spooky.  Pikirkanlah betapa beruntungnya saya bisa menginap di sini.

Esok paginya, saya ngotot pingin lihat pantai. Suami seperti biasa males banget, dan ritual tidur pagi buat dia sangat disayangkan kalau lewat. Meski akhirnya mau juga sih. Hotel ini sebenarnya punya private beach sendiri tapi karena letak hotelnya bersebrangan dengan pantai, jadi dibutuhkan jalan kaki kurang lebih 10-15 menit untuk menuju pantainya. Ah pagi-pagi kok, pasti asyik-asyik aja dong jalan kaki juga.

Saya yang memang norak karena gak pernah lihat pantai di Bali yang masih sepi, girang banget lihat pantai yang seolah milik sendiri. Sepi gak ada pengunjungnya. Hanya satu dua orang pekerja yang membersihkan pantai. Ada juga tetua adat setempat yang sedang memberi persembahan setiap mengawali hari. Eh iyah ternyata kami sebelahan lo sama hotel tempat Raja Salman menginap. Ada pembatas yang terbuat dari bambu yang baru dibangun untuk keamanan. Beberapa anggota marinir pun terlihat lalu lalang untuk menjaga penguasa Arab Saudi itu.

IMG_0213
Pemberian Sesajen untuk Memulai Hari
Private Beach Nusa Dua
Private Beach Hotel Nusa Dua Bali
Private Beach Nusa Dua
Enak banget buat leyeh-leyeh
Pose Ala-ala
Pose ALa-ala Couple (Horizon Miring?) Bodo Amat, Namanya Difotoin 🙂
Hotel Raja Salman Menginap
Hotel Raja Salman Menginap

Matahari yang semakin tinggi, kami pun bergegas balik ke hotel. Dalam perjanjian, kami harus hadir tepat jam 9 dan tidak boleh telat. Bawa tanda pengenal dan kartu kredit. Wah banyak juga nih pasangan yang ada di ruagan pertemuan. Setiap pasangan akan dijelaskan oleh satu orang marketing. Marketing kami wanita berjilbab, cantik. Dia menjelaskan panjang kali lebar tentang grup Alor dimana, pada intinya mengajak kami untuk menjadi member. Bukan sembarang member tapi. Member eksklusif. Katanya, bisa gratis menginap di hotel-hotel berbintang di seluruh dunia. Siapa yang gak tergiur coba?

Kami ditawari menjadi anggota member tersebut, seolah-olah seperti membeli sebuah properti, dimana kami harus membayar sejumlah uang. Dari uang tersebut, kami akan mendapatkan sejumlah point yang akan bisa digunakan untuk membayar penginapan di hotel-hotel yang masuk grup (sebut saja) Grup Alor di seluruh dunia. Intinya sih, DP sebelum liburan. Hotelnya bagus-bagus tentu saja dari bintang 2 sampai bintang 6. Keanggotaan berlangsung selama seumur hidup, tiap tahun point akan diberikan sekian poin, dan poin akan kadaluwarsa setiap dua tahun. Keanggotaan bisa diwariskan. Kalau kami gak pake boleh juga dihadiahkan atau dibisniskan. Aduh ribet amat yah. Saya buka travel agent aja dong mendingan. Wkwkwkwkwk.

Dengan segala rupa yang ditawarkan dan hotel-hotel yang bagus-bagus diseluruuh dunia itu, saya udah gak sabar banget pengen ngomong gini : “Ok mbak, jadinya kami harus bayar berapa nih kalau mau jadi member eksklusif itu.” umpat saya dalam hati.

Mbak-mbak marketing itu juga bilang keanggotaan mereka itu terbatas di seluruh dunia. Mereka hanya menargetkan kalo gak salah 2000 member saja. Makanya katanya lagi, kami termasuk orang yang sangat beruntung. Ya saya senyum-senyum aja dong sambil angguk-angguk tanda saya mengantuk. Hehehehehe.

Setelah lebih dari dua jam, kemudian datanglah si manajer yang katanya akan menentukan harga paketnya ke kami. Si mbak manajer menyapa kami sangat ramah. Pertama-tama dia seperti membaca sisi keuangan kami dahulu. Seperti nanya suami kerja di mana, saya kerja di mana, sering jalan-jalan dalam rangka apa. Bla-bla bla bla panjang lebar dan saya makin ngantuk. Dengan mengatakan harga yang ditawarkan ke seluruh peserta sama, dia kemudian menyebutkan angka sekian juta yang kira-kira bisa buat beli rumah di Citayam. Yah sekitar sembilan digit lah pokoknya. Membuat saya yang tadinya ngantuk mendadak seger dan kaget.

Berhubung member yang eksklusif, keputusan harus diambil saat itu juga. DP bisa gesek kartu kredit, sisanya dicicil selama 1 tahun yang cicilan DPnya lebih dari 2 digit dan kemudian gimana bayar kartu kredit yang buat DP itu? Wkwkwkwkkwkwkwk. Bayar kartu kredit dicicil? Bisa sih, tapi terus saya gak makan. Gak punya ongkos buat ke  kantor. Kami pun dengan halus langsung bilang, “Tidak, maaf.” dengan alasan akan menggangu stabilitas finasial lah, pake bohong lagi nyicil mobil lah. Rencana kami pergi haji dan lain-lain demi menghindari bujuk rayu mbak marketing ini.

Alhamdulillah, setelah tiga jam kami dicekoki, selesai juga acara prospek ini. Yang kami rasakan cuma lapar banget. Ish, gak dikasih makan siang sih. Hahahahhaha. Saya rasa kalo gue oke-in dikasih kali yah. Hahahahahahaha.

Keluar dari ruangan itu kami gak henti-hentinya ketawa. Saling menertawakan kok bisa ya, kami ditawarin kek gitu. Dari sisi mana coba kami akan tertarik. Mungkin yang cocok mah mereka yang uangnya udah gak berseri. Tinggal metik, tinggal nikmati hidup. Gak punya hutang cicilan, gak mikirin harus kerja. Pokoknya sudah mapan secara finansial.

Dari situ, si mbak marketing baik loh, memberi referensi makanan enak. Nasi ayam Ibu Oki. Tinggal jalan gak terlalu jauh sih, tapi cuaca Bali siang itu sangat tidak bersahabat buat pejalan kaki alias puanase poll. Berhubung laparnya sudah banget-banget ya tetap aja sih kita jalan kaki menerjang panas. Sambil lagi-lagi menertawakan, kalau saja saya atau suami kemasukan apa gitu yang mengiyakan tawaran marketing dan menggesek kartu yang hampir menghabiskan limit. Waw, sungguh tidak terbayang.

Eh, sebulan berikutnya, saya kembali menerima telepon. Lagi-lagi dari marketing hotel di Bali kemarin. Saya langsung ngomong gini dong, “Mbak, gak ada selain Bali ya, kalau Bali lagi saya gak mau deh Mba.” hehehe. Mbak marketingnya cuma bilang, “Wah gak bisa Ibu, karena kantor pusat kami di sana. Ibu datang saja dulu kesana. Nanti bisa bantu merencanakan liburan Ibu berikutnya.” Tanpa babibu gue langsung memotong, “Oke mbak, makasih, gak dulu yah.”

 

 

 

 

Menikmati Keriaan Senja di Danau Hoan Kiem Hanoi

Ada yang bilang, keajaiban sunset atau matahari terbenam hanya bisa dimengerti oleh masing-masing individu. Tiap individu memiliki rasa yang berbeda ketika menikmati sunset. So, lets keep it secret or they lose their magic

Setelah di postingan sebelumnya masalah urusan perut teratasi, tujuan kami berikutnya adalah menonton pertunjukkan Wayang Air. Water Puppet Show memang merupakan salah satu kebanggaan kebudayaan Vietnam yang cukup terkenal.

Saya sudah lama tahu tentang pertunjukkan wayang air ini. Mungkin sejak SMU, saat nonton berita di Buletin Siang-nya RCTI. Ya Allah ketauan deh tua. Hihihi. Ketika googling pas mau ke Hanoi dan menemukan bisa menonton water puppet show secara langsung, cus, wajib masuk ittinerary keliling Hanoi kali ini.

Perjalanan dari mesjid ke kawasan Danau Hoan Kiem tidaklah terlalu jauh. Suasana Sabtu sore itu semakin ramai oleh pengunjung. Kami melewati bangunan tua pusat pertokoan yang legendaris di Hanoi. Sepertinya setiap mereka yang berkunjung ke Hanoi mengambil foto bangunan ini. Ada beberapa restoran fast food Amerika juga di sana.

Frenchise Kuliner asal Amerika
Frenchise Kuliner ala Amerika
Bangunan Pertokoan Hanoi
Bangunan Pusat Pertokoan Historis di Hanoi
Becak di Hanoi
Becak di Hanoi

Kami langsung menuju sebuah bangunan bertuliskan Thang Long Water Puppet. Tidak mau lama menunggu, kami langsung membeli tiket untuk pertunjukkan jam 15:00. Menyisakan sepuluh menit pertunjukkan akan dimulai, sudah dipastikan dong, kami dapat nomor kursi paling belakang. Eh, nggak nomor dua dari belakang.

Thang Log Water Puppet Teather
Thang Log Water Puppet Teather

Harga tiket masuk sebesar 100.000 VND untuk satu orang, dan jika ingin mengambil gambar menggunakan kamera harus bayar lagi sebesar 10 USD. Jiahh… tentu gue gak mau. Hahahaha. Pake hape cukuplah. Kali ini memang mau menikmati pertunjukkan kok.

Panggung terletak di depan dan posisinya di bawah, dan kami yang telat ini dipastikan agak kesulitan melihat secara maksimal. Belum lagi kalau yang duduk di depan saya orang bule yang tinggi. Selamat deh harus usaha lagi biar terlihat jelas. Hihihihi.

Namanya wayang air, tentu saja pertunjukkan di dalam air. Sebuah kolam dengan backdrop bangunan khas Vietnam. Disamping kanan ada sekelompok pemain musik yang akan mengiringi dan beberapa pengisi suara seperti Pak Dalang dan dua orang penyanyi wanita.

Penampakan Di Dalam Teater
Suasana di Dalam Teater

Pertunjukkan dibuka dengan permainan alat musik tradisional yang meninabobokan. Hehehe. Iya bikin ngantuk melodinya. Kemudian dimulailah pertunjukkan wayang air dengan pembuka membacakan narasi yang katanya brosur sih pelawak. Berhubung tidak ada yang menterjemahkan, ya kami juga kurang mengerti apa yang diceritakan.

Pertunjukkan berikutnya adalah menampilkan beberapa kebudayaan khas Vietnam dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Seperti permainan alat musik drum yang khas, tarian naga, burung phoenix, unicorn, dan kura-kura. Keempat hewan tersebut merupakan hewan yang dianggap keramat oleh masyarakat.

Penggambaran khas masyaraakat Vietnam antara lain tentang kehidupan agrikultural di sana. Menanam padi, membajak sawah, dan memanen. Mirip Indonesia kan yah. Selain itu, ada budaya menangkap kodok, legenda srigala suka mencuri bebek milik petani, hingga kebisaaan memancing.

Ada juga pertunjukkan yang menceritakan tentang legenda Le Loi yang mengembalikan pedang. Le Loi adalah seorang pahlawan yang memimpin Vietnam berperang melawan invasi asing di abad ke 15. Menurut legenda, dia dikaruniai sebuah pedang dari dewa. Setelah perang usai, dia berperahu di sebuah danau di Hanoi. Kemudian muncullah sebuah kura-kura emas yang akan mengembalikan pedang tersebut kepada dewa. Berdasarkan legenda tersebut, kini danau itu dikenal dengan nama “Returned Sword” yang dalam bahasa Vietnam adalah Ho Hoan Kiem (Lake of the returned sword) yang kemudian menjadi danau yang terkenal di pusat kota Hanoi.

Pertunjukkan berlangsung selama satu jam. Cukup menarik. Bisa tahu banyak tentang Vietnam dengan cara yang menarik dan tidak membosankan. Di akhir pertunjukkan, para pengisi acara, termasuk mereka yang berada di dalam air memperlihatkan diri. Wow. Ternyata mereka ikutan ke dalam air juga loh. Ih, kebayang dong dinginnya kalau berlama-lama.

Para Dalang Wayang Air
Para Dalang Wayang Air menampakkan diri dari balik panggung

Keluar tempat pertunjukkan, kami melewati sebuah kedai kopi. Marketing yang bagus. Sehabis nonton berharap penonton kemudian mampir dan duduk-duduk di kafe. Kebanyakan sih om dan tante bule yang nongkrong. Oh iyah kalau diperhatikan, cukup banyak wisatawan mancanegara di Hanoi sore itu.

Kami kemudian menuju lapangan di depan Danau Hoan Kiem yang menjelang senja kala itu luar biasa ramai. Kalau di Jakarta seperti pasar malam. Ada pedagang clay, yang juga mempersilahkan untuk pembeli berkreasi sesuka hati. Kemudian banyak warga Hanoi yang menggelar permainan khas. Seperti joget bambu, bermain lompat tali, hingga tarik tambang. Serunya lagi, mereka juga tidak sungkan mengajak para turis untuk ikut gabung bermain.

Keramaian Lapangan Danau Hoan Kiem Kala Senja
Suasana Lapangan Danau Hoan Kiem Sabtu Sore

 

Ada juga sekelompok orang bermain musik dan mengajak para wisatawan bernyanyi dan menari bersama. Sore itu, warga Vietnam seolah berkata kepada dunia, meski negara kami beraliran kiri dan agak menegangkan, tidak demikian di tepi Danau Hoan Kiem ini. Para wisatawan dosmestik dan mancanegara berbaur dengan masyarakat lokal, dan melebur.

Pemusik Jalanan Hanoi
Penampilan Grup Musik

Mungkin ini salah satu trik dari pemerintah Vietnam untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara. Kebanyakan mereka adalah komunitas yang kebanyakan usia remaja, penggelut hobi tertentu yang sepertinya disediakan wadah sekaligus memperkenalkan Vietnam ke para wisatawan di sekitar Danau Hoan Kiem. Semua gembira, semua tertawa, mereka seperti berada di rumah sendiri meski sedang melakukan perjalanan jauh dari rumah.

Saya pun membayangkan kalau hal ini dilakukan di Lapangan Monas atau Kota Tua misalnya. Pasti seru. Coba yah Kementerian Pariwisata atau Dinas Pariwisata Jakarta mulai diatur. Hehehe. Tuhkan bisanya nyalahin pemerintah. Nggak. Tapi sumpah ini potensi banget untuk menggaet turis mancanegara. Kebanyakan mereka ketika melakukan perjalanan kan berbaur dengan orang lokal. Belajar kebudayaan dan mengenal nilai-nilai budaya suatu negara atau daerah yang dikunjungi. Nah pas banget nih. Vietnam keren.

Menjelang senja, buat yang tidak suka dengan karamaian, Danau Hoan Kiem sangat sempurna untuk sekedar duduk-duduk di pinggir danau kemudian menikmati proses terbenamnya matahari. Ada beberapa yang mencoret-coret kertas dengan membuat sketsa, mereka yang hobi foto-foto dengan kameranya. Ataupun ada yang hanya duduk-duduk memandangi percikan warna emas air danau yang tenang.

Pasangan Oma Opa Menikmati Danau Hoan Kiem
Relationship Goal
Sunset In HOan Kiem Lake
Sunset di Danau Hoan Kiem
A Girl Sketching In Hoan Kiem Lake
A Girl Sketching In Hoan Kiem Lake

Entah kenapa, sore itu terasa indah sekali. Sekumpulan bunga di taman warna-warni saja terlihat bagus sekali. Anak-anak berlarian memanjat bukit batu, dan pelukis jalanan yang serius menorehkan kuas ke kanvas. Meski ada pemandangan ibu-ibu penjaja kue donat atau kue bantal yang kucing-kucingan dengan Bapak Polisi. Ah sama saja di mana-mana ternyata. Sebenarnya penjaja kue itu boleh berjualan, asalkan tidak berhenti atau menggelar dagangannya. Mereka mau tidak mau harus membawa dagangannya yang lumayan berat kemana-mana. Demi kenyamanan pengunjung sepertinya sih. Jadi gak kayak pasar gitu loh.

Taman Bunga dan Pameran Lukisan
Taman Bunga dan Pameran Lukisan
Me In The Midle of Crowd
Namanya juga difotoin…

Buat yang hobi belanja, jangan khawatir. Di tengah-tengah lapangan ada spot tenda khusus penjual souvenir khas Vietnam. Semuanya barang-barang yang menurut saya lucu, tetapi gak dibutuhkan banget. Jadi saya sore itu ya gak beli apa-apa. Eh beli deh sedikit buat oleh-oleh.

Tenda Pedagang Sovenir di Hoan Kiem Lake
Pedagang Souvenir Khas Vietnam di Hoan Kiem Lake

So, apa yang kami lakukan sore itu? Ya itu kami menikmati pemandangan itu semua. Mengambil beberapa foto, kemudian minta difotoin. Meski yah tahu sendiri kalau Zaki yang ambil foto. Hasilnya jauh dari harapan. Hahahhaha. Ya objek jadi miringlah, saya belom siap udah di cekrek, tangannya yang tiba-tiba suka tremor lah. Hahahahha. Tapi kami senang sekali sore itu. Bisa mengenal Vietnam sekaligus masyarakatnya dari dekat. Melihat muda-mudi di Hanoi bergaul juga. Lepasnya tawa para wisatawan dari berbagai dunia, seolah kami sebuah keluarga besar meski berbeda bendera negara, ras, bahkan agama. Saat itu gak mikir deh kamu dari mana, agama kamu apa, politik yang kamu anut apa. Apalagi nanya waktu pilpres pilihnya siapa? Jokowi atau Prabowo atau Obama atau Trump. Wkwkwkwk. Bergembira saja bermain bersama di tepi Danau Hoan Kiem.

Lapangan Hoan Kiem Lake
Lapangan Hoan Kiem Lake
Child on Bycicle
A Little Girl on Bicycle

Menjelang jam tujuh malam, kami kemudian pulang menuju hotel. Hari sudah gelap, dan si Zaki mau nonton bola Final Piala AFF. Gak usah ditanya yah, hasilnya. Pokoknya gak seru. Hihihihi.

Perjalanan menuju hotel, lagi-lagi saya nikmati dengan melihat Hanoi lebih dekat. melewati toko buku kecil, pedagang gerobak yang menjajakan sandal, hingga melihat motor bebek tua keluaran tahun 80 an yang terparkir di trotoar. Balik ke hotel kemudian nonton bola sambil packing bersiap pulang ke Indonesia.

Melia Hotel Hanoi
Tempat Bobo cantik selama di Hanoi

Puas ke Hanoi hanya dua malam? Buat saya sih, puas banget. Banyak cerita, banyak pelajaran, dan senengnya paspor saya dapat cap juga di tahun 2016. Pingin ke Hanoi lagi? Tentu saja. Meski pengen juga ke Ho Chi Min, Da Nang, atau Nan Trang. Okey, yuks nabung lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Balada Chat Group di Hape

Setiap membaca sebuah tulisan dimanapun itu, seringkali saya terinpirasi mengiyakan atau membantah, tetapi dasar otak saya gak mau berhenti untuk memikirkan tulisan-tulisan yang kebetulan nempel itu.

Ya, saya harus menyuarakan apa yang ada di kepala saya ini, kalau gak mau otak saya memanas dan kemungkinan akan meledakkan isi kepala saya. Kalian boleh bilang saya lebay. Memang saya lebay. Hehehe.

Postingan Bahagia

Kali ini saya ingin menanggapi tulisan seorang selebtwit yang pernah mentuit seperti ini : “Gue pernah keluar dari sebuah grup wa yang isinya hanya pamer kebahagiaan.”

Kemudian gue berpikir, bagaimana dengan wa grup yang ada di hape gue yah? Apa iyah juga banyak yang begitu? Lalu saya merenung. Sebenernya bukan grup wa doang sih, sebagian besar sosial media yang kita miliki kebanyakan isinya pamer kebahagiaan.

Tetapi, memangnya kita punya hak untuk men-cap mereka pamer kebahagiaan? Siapa tahu tujuan mereka ingin membagikan bahagia ke teman-teman yang ada di grup itu. Iyakan? Lalu kita harus apa? Ya sikapilah dengan senyum. Lalu ikutlah seolah-olah bahagia. (((Seolah-olah bahagia))) Jangan-jangan. Itu sama saja kamu pura-pura bahagia. Lebih baik tanggapi singkat sudah, gitu aja. Terlalu berpura-pura juga gak bagus buat psikologis. Hahahhaha.

Pamer bahagia memang gak boleh yah? Boleh aja sih, gak papah. Doakan saja setiap pamer bahagia, nular ke yang dipamerin. Buat yang selalu dipamerin, silahkan berdoa dalam hati semoga kebahagiaan mereka menular ke teman-teman satu grup. Sesekali sirik dan merutuk bolehlah. Hahahahahaha.

 

Pertemanan dalam Sebuah Grup Chat Hp

Ngomong-ngomong soal bagaimana kagetnya gue ketika melihat postingan di sosmed teman dekat dan tentu saja satu grup chat di hp, yang isinya bikin gue teriak (meski dalam hati) “WOWWWW…” Gimana nggak. Disitu gue mearasa gue bukan seorang teman yang baik. Gue ternyata sebegitu tidak mengenalnya teman yang gue anggap ketika itu “dekat” sama gue.

Dekat dalam arti itu gue betah berlama-lama ngobrol sama dia. Betah berlama-lama sharing pikiran, ide, atau pendapat tentang apapun dengan dia. Tetapi, ketika gue melihat sosmednya, dan kemudian gue kaget, apakah gue kemudian akan menjauhi dia atau menjaga jarak? Ya tentu tidak dong. Dia tetap akan menjadi teman baik gue. Loh, memang dalam sebuah pertemanan apa harus selalu apa-apa seiya dan seirama? Boro-boro pertemanan yang banyak beda asal-usul. Nah sedarah aja banyak bedanya kan kadang.  Jadi ya gue harus berbesar hati menerima dia seperti itu. Toh gue juga bukan manusia yang sempurna.

Di zaman yang makin gila karena sosmed, entah itu berita benar atau nggak. Mari kita sikapi semua dengan bijak. Di sebuah chat group di hp misalnya. Bikin grup awalnya karena satu pemikiran tentang hobi dan punya visi misi sama. Kemudian diisi dengan postingan-postingan kekinian (baca:pilkada, pilpres or politik-politik apalah) yang sering muncul di sosmed. Seringnya yang ada kalimat “Jangan berhenti di kamu.” atau “Sebarkan” bawa-bawa agama pula.  Aduh, apakah itu yang nge-share sudah yakin 100% itu benar, lalu apa yang ada di kepala satu grup itu sama terus? Apa kita tidak boleh berbeda pendapat. Kalau berbeda apa kita harus left chat terus gak temenan?

Selama ini sih gue memilih diam dan berusaha gak nanggepin, alias nyuekin ajah. Kecuali emang yang udah berlebihan, gue baru keluar dari grup. Lagipula gue orangnya malas diskusi yang berdebat-debat kemudian bikin grup jadi krik-krik.

Begitupun di sosmed, gue gak cuma follow mereka yang satu pemikiran loh. Gue follow semua aliran, semua pilihan. Tujuannya apa? Biar hati gue terbiasa melihat bahwa di dunia ini banyak perbedaan. Tidak selalu sama. Lalu bagaimana hati gue menyikapi perbedaan itu. Ya tersenyum saja. Memang Tuhan menciptakan kita demikian, tidak semua sama persis, plek-plek. Lah suami isteri ajah sering beda pendapat kok. Itu sah-sah banget.

Dan kemudian ketika gue menanggapi sebuah postingan seorang selebtwit yang isinya begini : “Siapa aja yang bisa follow nereka yg tidak sejalan sepemikiran demi melihat dari sudut pandang lain? Tanpa bermaksud menghardik? Bisa? @pinotski

Kemudian gue quote : bisa dong, semua difollow biar bisa lihat dari segala sudut pandang, dan kalau gak sepaham, senyumin ajah.

Yeah thats me. Kemudian dibalas lagi sama dia : Kalau ada satu kubu yang agresip ngamuk ngamuk ya senyumin aja. Mungkin lagi nyambut gawe.

Wkwkwkwkwkwk. Gue percaya teman gue murni gak nyambut gawe dari yang begituan.

Jadi buat kamu-kamu yang suka memancing di air keruh, silahkan. Semoga gue makin gak kepancing. Dicuekin aja, toh kalian teman gue. Teman baik, dan gue gak mau kehilangan teman cuma gara-gara kita beda pilihan dalam memandang suatu hal. But, yang harus kalian pikirkan adalah, gak semuanya pendapat dan pemikiran kita sama. Alangkah baiknya berpikir sebelum jari jemari berbicara.

Tulisan ini gue dedikasikan buat mereka yang suka broadcast masalah kekinian di grup pertemanan dan mengira teman-teman di satu grup itu sepaham dengan kalian. But its okey, Keep it rock guys 🙂

 

Jatiasih, 4 Februari 2017

 

Jalan-jalan (kaki) di Hanoi (Makam Ho Chi Min dan Old Quarter)

Hari kedua di Vietnam setelah hari pertama ikutan one day trip ke Ha Long Bay adalah kami mau jalan-jalan keliling Kota Hanoi.

Bangunan Ta di Hanoi
Bangunan Tua Mendominasi Arsitektur Kota Hanoi

Hanoi adalah kota yang cantik berhawa sejuk dengan bangunan-bangunan tua khas peninggalan kolonial Perancis yang masih terawat dan digunakan dengan baik. Trotoarnya yang besar dan seharusnya cukup nyaman untuk pejalan kaki. Tetapi ya, itu kita harus berbagi dengan para pedagang pinggir jalan. Ketidaknyamanan juga akan didapat ketika beberapa pengendara motor yang jumlahnya memang banyak tiba-tiba cuek aja melintas di trotoar. Belum lagi kalau mau menyebrang. harus hati-hati pakai banget. Tengok kanan kiri biar gak ditabrak. Apalagi sama taksi di sana yang kalau di Bekasi mirip sama abang-abang supir angkot. Tapi keseluruhan berjalan kaki di Hanoi menyenangkan, dengan menikmati pemandangan khas yang sangat Hanoi.

Beres sarapan, kami memulai perjalanan jam 9 pagi. Sebenarnya ini sudah kesiangan sih, tapi ya itu si Zaki butuh tenaga katanya buat jalan jadi harus nambah jam tidur. Kzl banget, dan ketika kami melakukan perjalanan, hal inilah yang sering kami perdebatkan. Saya yang memang early morning person, apalagi di tempat yang jauh dari rumah, itu rasanya selalu ingin bangun pagi-pagi, jalan-jalan melihat aktivitas pagi.

Kebalikannya dengan suami, yang namanya jalan-jalan saat liburan harus nyantai, abis sholat shubuh ya gak papa tidur lagi. Kan lagi liburan. Hellow… kalau tidur di Bekasi ajah woy. Hal itu selalu aja berulang tiap jalan-jalan tapi ya kadang-kadang saya memilih mengalah biasanya sih, kalau Zaki tidur pagi, saya browsing tempat-tempat atau ngeblog, atau foto-foto pemandangan dari kamar. Kalau saya sudah kesel pengen banget keluar, saya langsung mandi dan ganti baju rapi. Biasanya dengan begitu Zaki langsung bangun dan siap-siap. Ya mungkin dia gak mau saya nekat keluar sendirian. Hehehehe. Takut ilang kali yah. Gak ada yang sebawel saya soalnya. Hihihihi.

Pemandangan Hanoi dari Hotel
Pemandangan Hanoi dari Jendela Hotel

Kembali ke topik, keliling Hanoi. Berbekal peta, tujuan pertama kami adalah Museum Ho Chi Min. Padahal sih Zaki sudah kesana dua hari yang lalu, tapi demi saya, dia bilang gak papah buat kesana lagi. Saya yang jelas-jelas gak bisa eh bukan gak bisa, tapi malas baca peta pun ikut ajah. Mengangguk-angguk ketika Zaki menunjukkan rute jalan yang akan kami lewati. Oh, ya…

“Itu, kita harus jalan yah? Gak ada taksi gitu?” tanya saya polos. “Kalau taksi ada sih, tapi kan katanya mau jalan. Dekat kok…” blablabla dan blababla Zaki menjelaskan rute. Padahal dalam hati saya mah ngomong gini : “Ya udahlah mau lewat mana juga, hayukslah. Lihat nanti ajah gimana.” Wkwkwkwk…

Dalam perjalanan, kami tidak sendiri, ada beberapa turis asing yang kami temui. Sepasang oma dan opa sepertinya dari Eropa, lalu ada rombongan empat orang dari Inggris dari logatnya, dan juga wanita Korea dan Ibunya dengan bekal google maps.

Serunya jalan-jalan dengan jalan kaki adalah bisa mengamati keseharian dan aktivitas warga Hanoi dari dekat. Pagi-pagi mereka sibuk braktivitas. Ada yang berjualan sayur, di trotoar banyak yang menjajakan kopi, teh, rokok, dan makanan kecil untuk sarapan.

Kursi-kursi yang terbuat dari plastik berukuran kecil, pengunjung duduk dan menikmati sarapan pagi. Para pekerja seperti mbak-mbak dengan rok mini yang sebenarnya sih kurang nyaman ya, kalau harus duduk di bangku kecil plastik. Tetapi mereka nyaman-nyaman aja tuh, cuek aja duduk minum teh ambil makan mie pho yang memang menjadi menu sarapan pada umumnya masyarakat Hanoi.

Sarapan
Menikmati Sraapan di Warung Pinggir Jalan

Hal ini pernah saya tanyakan sama karyawan hotel tempat saya menginap. Kenapa warga Hanoi memilih kursi plastik yang kecil buat warung makannya, kenapa gak yang besar, lagipula kalau orangnya besar seperti Zaki. Bagaimana kalau lagi duduk, tiba-tiba bangkunya patah. Krekk… ups! Tapi itu bisa terjadi kan? Pernah saya baca soalnya ada traveler Indonesia yang mengalami.

Mas-mas hotel yang saya ajak ngobrol menjawab, katanya kursi plastik kecil harganya lebih murah dibanding kursi kayu besar dan mudah di letakkan serta dibereskan jika mereka tutup warung. Begitu katanya. Memang sudah tradisi sejak lama, dan sampai sekarang tidak berubah. Serunya lagi, saya juga sesekali lihat bule-bule yang juga asyik menikmati mie Pho dengan duduk di kursi kecil dan merasa asyik aja. Mungkin mereka ingin meresapi jadi warga lokal. Saya kemudian berpikir, kok di Indonesia, saya jarang yah, lihat bule nongkrong di warteg, atau makan ketoprak di pinggir jalan pakai kursi plastik abangnya itu. Kebanyakan kita lihat mereka pasti di mall atau resto yang bagus. Kenapa begitu? Entahlah. Ada kali, cuma saya yang belum ketemu saja.

Meski hotel kami menginap merupakan pusat kota, tapi ada tuh yang menggelar sayuran atau buah-buahan untuk dijajakan di trotoar. Hanoi memang kota yang masih berkembang. Dari yang saya baca, Vietnam merupakan negara di Asia Tenggara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi. Mereka sedang giat-giatnya membangun. Pemerintahan yang dikuasai partai komunis, memang baru-baru ini terbuka. Banyak pabrik-pabrik merek ternama milik barat yang mulai membuka pabriknya. Sebut saja Nike, Kipling, Adidas, dan masih banyak lagi. Kabarnya sih, ongkos pekerja di sana yang masih lebih murah dibandingkan negara berkembang lainnya.

Bagaimana dengan harganya? Harganya sih beda tipis sama  di Indonesia kalau sepatu. Tas Kipling yang jauh lebih murah, jaket North Face juga. Berhubung kami lagi gak butuh sepatu, jaket, ataupun tas, ya kami gak beli. Kami memang mulai berprinsip membeli yang kami butuhkan bukan yang kami inginkan. Gak nyesel, gak beli? Kan mumpung lagi di situ… Nggak. Malahan seringnya sih kami berdoa lagi supaya bisa ke tempat itu lagi. Hehehe. Gitu aja sih, doanya.

Perjalanan kami pagi itu jauh juga yah ternyata, apalagi jalan kaki. Berusaha menikmati setiap langkah kaki ini, menikmati hiruk pikuk Hanoi pagi itu. Dalam perjalanan, kami melewati sebuah lapangan yang cukup luas, tepatnya berhadapan dengan Museum Militer. Tepat di tengah lapangan ada sebuah patung enggambarkan sesosok manusia. Ukurannya terbilang cukup besar, kurang lebih setinggi tiga meter. Beberapa turis mancanegara terlihat mengambil foto sambil mendengarkan penjelasan yang sepertinya pemandu, warga asli Vietnam.

Patung Vladimir Lenin di Hanoi
Patung Lenin di tengah Kota Hanoi

Ada yang tahu patung siapa yang dimaksud? Vladimir Lenin. Beliau adalah seorang pencetus alias seorang revolusioner komunis. Bisa dibilang salah satu Bapak Komunis di dunia. Hanoi yang di bagian utara Vietnam, awalnya merupakan ibukota Vietnam Utara  yang beraliran komunis. Vietnam memang punya sejarah kelam saat perang saudara antara Vietnam Utara yang didukung China dan Uni Soviet dan Vietnam Selatan yang didukung Amerika dan Sekutunya. Meski perang telah usai, paham komunis masih berkuasa di Vietnam hingga saat ini. Tapi sumpah, gak serem kok. Meski kita akan banyak mendapati polisi di mana-mana. Cukup banyak turis asing. Terus jangan salting juga kalau bendera berlogo palu arit yang lagi heboh di Indonesia bertebaran di mana-mana. Hihihihi.

Ada cerita lucu ketika Zaki ingin mengirimkan kartu pos buat keponakan di Indonesia. Dikasih perangko berlogo palu arit dong. Takut nanti bermasalah di Indonesia, Zaki pun minta tukar. Spontan petugas kantor pos menanyakan. “Kenapa? Apa bermasalah dengan gambar ini ?” tanyanya. Zaki cuma jawab. “No, I just want other picture. May I?” agak gugup juga tentunya. Hehehehe. Untung petugasnya terima aja dan kemudian menukar perangko tersebut dengan gambar lain.

Antrian Anak Sekolah Usis Dini
Anak PAUD mau kunjungan ke Museum nih… lucu :).

Sabtu mungkin bukan hari libur di Vietnam, tetapi suasana gerbang di Ho Chi Minh Museum terbilang lebih ramai. Antrean cukup mengular panjang. Bahkan beberapa pintu ditutup dan dialihkan untuk tempat parkir bus-bus pariwisata yang cukup ramai. Masuk ke dalam tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman. Jaket juga harus dititipkan, begitupun dengan kamera. Di dalam tidak boleh membawa kamera juga. Zaki sempat bingung, kemarin dia kesini gak segitu ketatnya. Ini kenapa ketat banget.

Demi kenyamanan, mari kita ikuti saja segala peraturan yang berlaku. Serem juga di mana-mana tentara. Penjaga museum aja, seragamnya blazer hitam, yang rapih dan terlihat tegas.

Mengikuti antrian yang cukup panjang, kami harus antri dengan tertib. Selama antri dilarang berisik. Seperti heboh bercanda, atau foto selfie misalnya. Pakaian juga harus sopan. Untuk mereka yang pake celana atau rok pendek dikasih pinjaman kain sarung gitu.

Kami gak tauk juga kami mau di bawa kemana sama antrian ini. Bingung, kata Zaki jalan masuknya beda. Mungkin Sabtu, jadi rame harus begini. Eh, ternyata kami masuk ke sebuah ruangan, naik tangga, dan penjaga berseragam di setiap meter. Penjaganya gak main-main. Seragam militer lengkap warna putih. Berdiri layaknya penjaga lambang negara. Gak ada ekspresi. Pandangan ke depan, lurus, mata aja gak berkedip.

Makam Presiden Ho Chi Min
Makam Presiden Ho Chi Min

Kami masuk ke dalam ruangan dengan pencahayaan yang remang-remang. Dilarang berisik, gak boleh mengeluarkan suara apalagi mengambil foto. Belok ke arah kana. Agak terbawa suasana, saya agak merinding. Tepat di tengah terdapat etalase kaca yang di dalamnya terdapat jasad yang tentu saja diawetkan Bapak Bangsa Vietnam. Presiden Ho Chi Min. Di tiap sudut etalase berukuran kurang lebih 1×2 meter itu, berdiri seorang penjaga, sehingga jumlahnya empat. Lengkap dengan senjata. Kebayang gak sih, kalau kita tiba-tiba nekad ambil foto. Bisa-bisa itu peluru nemplok di muka. Hiii…

Begitulah bangsa Vietnam memperlakukan pemimpin mereka. Mungkin agak mirip dengan negara komunis lainnya seperti Korea Utara, yang menjadikan hari lahir Presiden Kim Jong Un sebagai hari libur nasional. Kami terus berjalan perlahan, tidak diperbolehkan berhenti. kurang lebih 30 detik kami melihat kemudian langsung ke pintu keluar. Di pintu luar, kami sudah bisa mengambil kamera kami yang ditahan di pintu masuk.

Dari makam Presiden Ho Chi Min, kami menuju rumah beliau semasa memperjuangkan kemerdekaan Vietnam. Dimulai dari koleksi mobil yang digunakan, ruang kerja, hingga kamar tidur. Pengunjung tidak bisa masuk langsung, hanya melihat dari luar. Lagi-lagi tetap dalam penjagaan tentara. Melihatnya pun antri, karena rumah beliau berbentuk rumah panggung, kami antri naik ke tangga dan kemudian sambil terus berjalan dalam antrian melihat-lihat. Tidak boleh berhenti terlalu lama. Mengambil foto pun harus cepat-cepat.

 

Danau di depan Rumah Presiden Ho Chi Min
Danau di Belakang Rumah Ho Chi Min

 

Tampak Samping Istana Presiden Ho Chi Mi
Tampak Samping Istana Presiden Ho Chi Min

Kompleks istana Presiden Ho Chi Min bersebelahan dengan museumnya. Area yang cukup luas, tidak terasa kami sudah menghabiskan waktu dua jam, dan sejatinya, saya belum memasuki museum Ho Chi Min. Zaki sih sudah kemarin. Rute Sabtu Minggu ternyata dimulai dari makam kemudian tempat tinggal, dan terakhir museum. Untuk masuk ke museum, kami harus bayar lagi. Setelah dipertimbangkan, saya memilih untuk berjalan-jalan saja dan tidak masuk ke museum. Nanti diceritain saja sama Zaki katanya. Ya sudahlah gak papah.

Tampak Depan Museum Ho Chi Min
Tampak Depan Museum Ho Chi Min dan Saya Gak Masuk 😦
Kuil di Depan Museum Ho Chi Min
Kuil di Depan Museum Ho Chi Min
Museum Perang
Museum Perang

Melihat rencana kami hari itu, akhirnya kami kemudian memilih jalan-jalan ke kota tua, sekaligus mencari mesjid untuk sholat dan mencari makan siang tentunya. Untuk ke Kota Tua, kami harus mengambil jalur balik ke arah hotel. Kami melewati museum perang Vietnam dan lagi-lagi ketika kami tiba, museum tutup karena jam istirahat dan akan kembali buka jam 1 atau 2 siang. Zaki juga sudah masuk ke sini. Foto-foto di dalam Museum Ho Chi Min dan Museum Perang adalah foto yang diambil Zaki kemarin. Buat yang menyukai sejarah, sepertinya wajib kesini.  Saya sih bukan gak suka, tapi ya, lain kali ajah kali ya. Amiinnn.

Bermodalkan hanya peta di tangan, membuat saya merasa perjalanan kami seperti kok tidak sampai-sampai ya. Hahaha. Maklum kalau di peta semua terasa dekat, tapi tidak demikian kalau kita berjalan kaki. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di sebuah kedai es krim masa kini. Sekalian numpang wifi-an juga, dan tanya-tanya.

Siang itu saya pesan es krim matcha dan Zaki rasa cappucino dengan taburan almond. Tidak sampai lima belas menit, es krim di depan kami ludes. Kami pun melanjutkan perjalanan. Akhirnya tibalah kami di Kota Tua Hanoi.

Wilayah Kota Tua memang daerah tujuan turis. Selain bangunan tuanya, di sini pusatnya buat yang hobi belanja. Sepanjang jalan adalah toko-toko souvenir, tas Kipling, jaket North Face, sepatu Nike, dan juga kafe-kafe penjual Mie Pho. Saya gak belanja? Belanja siy, tapi dikit. Pengen beli tas, jaket atau sepatu sebenarnya, tapi balik lagi, apa saya butuh? Hahahaha. tentu saja tidak. Ya udah, akhirnya gak beli deh. Hehehe.

St. Joseph Catedral
St. Joseph Catedral

Spot pertama yang menarik kami temukan adalah sebuah gereja tua, khas bergaya Eropa, St. Joseph Catedral. Banyak turis lokal yang berfoto di depan gereja. Ikutan juga dong. Di sekitarnya banyak jasa biro perjalanan wisata dan kafe. Oh iya, yang menarik, selama berjalan di gang-gang kecil Kota Tua itu, selalu ada yang memperhatikan sepatu kami, ternyata tukang semir sepatu. Mereka membawa keranjang jinjing dari plastik. Agak berbeda dengan di Indonesia yang biasanya dengan kotak kayu. Mereka berkeliling menjajakan jasanya.

Tujuan kami berikutnya Mesjid untuk sholat Zuhur dan Ashar. Dari peta sih, seharusnya tidak jauh. Benar saja, akhirnya kami ketemua mesjid. Sepi. Mungkin sudah lewat dari jam sholat. Kami masuk, ke halamannya yang teduh karena pohon rindang. Di dalam mesjid pencahayaan agak gelap, lampu dimatikan, tapi justru suasana seperti di rumah. Sejuk. Ada seorang Bapak Tua seperti keturunan Timur Tengah yang sedang membaca Al Quran. Mungkin beliau Imam di mesjid ini. Kami menyapanya dengan salam, dan dia menjawab kemudian melanjutkan kegiatannya. Sepertinya tidak terlalu tertarik untuk mengobrol panjang dengan kami. Hanya bertanya asal kami, dan sudah. Padahal saya pengen banget ngobrol. Tapi ya sudahlah.

Selesai sholat, tidak sengaja di dalam mesjid, kami melihat sebuah papan kecil bertuliskan halal food. What? Ya ampun, senangnya kami. Buru-buru kami masuk. Tempatnya terpencil sekali. Di dalam wilayah mesjid dengan pintu besi tertutup rapat. Bangunannya menyatu dengan tempat tinggal sang empunya. Pintunya tidak terkunci, berarti buka. Yeay!

Hanya empat meja makan untuk masing-masing meja empat orang. Ada sebuah televisi yang menayangkan tayangan HBO. Saat itu hanya kami pengunjung di situ. Pelayannya seorang pria Vietnam yang posturnya agak tinggi dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. Its okelah, yang penting dia bisa mengerti apa yang kami maksud.

Siang itu sebenarnya kami ingin mencicipi Mie Pho yang dijual penduduk aseli. Tapi sayang, Mie Pho di warung itu hanya dibuat untuk pagi hari saat sarapan. Saya memesan ikan gurame yang di grilled dengan nasi yang menurut saya nasi ketan, dan sayuran. Zaki lebih mainstreem pesennya, nugget ayam :). Kami juga pesan vietnam roll dan capcay. Rasanya sih biasa aja, standar, gak terlalu spesial. Tapi kami senang, bisa ketemu resto ini. Harganya pun gak mahal. Jadi kesimpulannya okelah. Awalnya kami memang tidak mencari rumah makan. Habis sholat saja. Eh seperti sudah jodoh, kami dipertemukan. Halah.

Biasanya kalau kesulitan cari makanan halal, kami mendatangi minimarket dan cari makanan ringan yang mengenyangkan dengan label halal atau buah saja. Selama di negara tropis, dimanapun ada buah yang mengenyangkan. Pokoknya semua jangan dibuat susah dan ribet lah yah… Happy-happy ajah.

Tidak lama kemudian, datang sepasang turis lagi memasuki restauran. Satunya wanita berjilbab dan laki-laki seusia kami. Kami pun saling menyapa. Sedikit berbasa-basi,  mereka berasal dari Thailand Selatan, Pathani. Selesai makan kami langsung ke tujuan berikutnya, menonton pertunjukkan wayang air di depan Danau Hoan Kim.

Cerita diatas, dua pertiga dari perjalanan kami keliling Kota Hanoi. Cerita tentang pertunjukkan wayang air dan asyiknya menikmati suasana Danau Hoan Kiem Sabtu sore yang ruame dan seru, akan saya ceritakan di postingan berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menyusuri Teluk Ha Long (Ha Long Bay) di Vietnam Utara

Yeay… nge-blog pertama di tahun 2017. Mau cerita perjalanan ke Vietnam kemarin aja yuk.

Percaya atau tidak, nama Vietnam gue tulis dalam resolusi 2016 kemarin. Alasannya? Sederhana saja, sebelum jalan-jalan yang terlalu jauh, untuk memberi tanda di paspor kenapa tidak dimulai dari negara-negara di Asia Tenggara dulu? Ah sepertinya semesta mendukung (kata-kata yang lagi trend nih).

Sebenarnya sih Filipina juga masuk daftar destinasi gue tahun lalu, gara-gara mulai jatuh cinta sama serial dan film-film mereka yang romantis komedi. Cerita yang sederhana, ringan, dan romantis. Ya, boleh dibilang film menye-menye receh mungkin kalau kata pengamat film. Buat gue sih ya hidup harus seimbang saja. Nonton film mikir berat hayuks, ke bioskop model Allied film perang atau film detektif yang pake mikir kayak Snowden. Tapi sespertinya otak gue kadang memilih yang kata orang nggak banget itu demi keseimbangan hidup. Halahhh. Oke balik ke topik mau bahas Vietnam.

Meski baru sebulan kemarin memaksakan ambil cuti untuk ikut suami ke Semarang, kali ini gue maksa juga ikut ke Vietnam. Bermodalkan nekad mengajukan surat izin tidak masuk kerja selama dua hari. Oke suatu perjalanan dimulai sejak memesan tiket. Yup memesan tiket.

Kota terbesar di Vietnam sebenarnya ada di selatan yaitu, Ho Chi Min, meskipun ibukota berada di utara yaitu Hanoi. Kenapa begitu? Ceritanya panjang, dan harus membuka luka lama negara tersebut. Bentuk Vietnam yang memanjang dari utara ke selatan pernah mempunyai sejarah kelam dengan adanya perang saudara yang membawa dua kepentingan. Vietnam utara beraliran komunis dan Vietnam selatan dibawah kekuasaan AS dan sekutunya. Sekarang sih sudah bersatu dan Vietnam termasuk dari beberapa negara yang saat ini masih menganut paham komunis.

Penerbangan langsung dari Jakarta menuju Vietnam bisa dengan Garuda tujuan Ho Chi Min. Sayangnya kami kekeuh maunya ke utara. Tauk kemana? Ha Long Bay. Sebuah teluk yang berada di perbatasan Vietnam dengan Cina. Letaknya yang di utara dan terbatasnya waktu, kami harus ke Hanoi kota yang lebih dekat untuk menuju Ha Long Bay. Suami berangkat lebih dulu dan saya kemudian menyusul. Maunya saya sih naik penerbangan yang sampai Hanoy pagi, tapi untuk itu harus bermalam di Bangkok, dan suami (pasti) gak mengizinkan. Dapat tiker pagi dengan Thai Airways dan tiba di Hanoy malam harinya dengan transit di Bangkok satu jam saja. Harga tiket lumayan mahal sih 5,4 jt, tapi ya gak papalah, kan hotel sudah beres, tiket suami gratis pula. Mari kita anggap harga tiket murah. Hihihihi.

Tiba di Hanoy jam 21:00 waktu yang masih sama dengan Jakarta. Jangan lupa bekal dollar AS aja, tukar di Noi Bai Airport Hanoi. Seratus Dolar dapat 2 juta sekian VND (Vietnam Dong).

Suhu Hanoi di bulan Desember sejuk, agak dingin, seperti hujan belum lama mengguyur, tapi masih bisa ditolerir buat penduduk negara tropis macam saya. Sesekali angin berhembus agak kencang malam itu. Dijemput suami di bandara, malam itu kami langsung pulang ke hotel, karena besok pagi-pagi kami mau ke Ha Long Bay. Kami naik taksi dari bandara menuju hotel. Jangan lupa harus sepakat dari awal mengenai ongkos taksinya. Pakai argo atau tidak, dan mata uang apa yang digunakan. Di Vietnam, selain mata uang VND, banyak juga yang menggunakan US Dollar.

Sehari sebelumnya, suami sudah mendaftarkan kami ikut One Day Trip ke Ha Long Bay via Shin Cafe. Shin Cafe adalah biro perjalanan yang cukup terpercaya. Silahkan googling atau kalau mau datang langsung, banyak terdapat di daerah kota tua Hanoi. Sebelum deal, harus banyak-banyak tanya dan jangan ragu untuk membandingkan. Soalnya para wisatawan suka dapat harga yang berbeda-beda. Apa saja yang di dapat dengan harga-harga yang ditawarkan. Pokoknya harus teliti deh.

Selesai sarapan di hotel, tepat jam 08:30 seorang laki-laki Vietnam menjemput kami di hotel. Hotel kami adalah hotel terakhir peserta tur. Perjalanan menuju Ha Long Bay menggunakan sebuah minibus van berisi 15 kursi. Kami duduk di kusi paling belakang, yang seharusnya untuk empat orang, jadi bisa selonjoran deh. Laki-laki dengan tinggi kurang dari 160 cm yang menjemput kami di hotel tadi, adalah guide tour kami nama Vietnamnya Ngu Yen siapa begitu, tetapi untuk memudahkan kami para tamu yang berasal dari berbagai negara, ia mengizinkan kami memanggilnya dengan sebutan Kim.

Kim kemudian mengabsen kami satu persatu. Teman perjalanan kami hari itu memang dari beragam negara. Duduk di baris paling depan ada pasangan sepertinya belum menikah dari Italia. Oppa-oppa yang ramah dan chubby dari Korea Selatan. Barisan kedua sebuah keluarga campuran Austria dan Thailand dengan anaknya yang cantik Asia tapi memiliki rambut kecoklatan dan postur yang kurus dan tinggi seperti ras Eropa bernama Kathy. Baris ketiga ada pasangan suami isteri Mexico dan Amerika serta solo traveller dari Amerika juga. Baris belakang, kami dari Indonesia. Meski banyak yang menebak kami dari Malaysia. Why???

Di perjalanan, Kim menceritaka kami sedikit tentang Vietnam. Seperti peta negara Vietnam yang sering dijuluki sexy lady, cara orang Vietnam melakukan toast saat minum-minum dan meminta kami mempraktikannya, dengan air mineral tentunya.

Perjalanan Hanoi menuju Ha Long Bay ditempuh dalam waktu empat jam. Selama perjalanan itu gue ngapain? Ngobrol sama yang lain? Nggak. Ada yang sibuk main hape, dan karena gue gak mengaktifkan paket data, ya udah gue mengamati Vietnam dari kaca mobil. Gak terlalu beda sama di Indonesia sih. Negara agraris, banyak sawah, perkebunan sayur, pohon pisang, anak sekolah naik sepeda onthel, pengendara sepeda motor dengan bawaan yang melebihi kapasitas. Mirip sama daerah Sleman di Yogya kali yah.

img_6907
Pemandangan dari depan hotel

Setelah dua jam kami menempuh perjalanan, bus kami berhenti di sebuah tempat pemberhentian, seperti rest area gitu kali ya. Bedanya rest area di Indonesia dan Vietnam adalah di Vietnam cuma ada satu bangunan besar yang berisi tempat penjualan souvenir khas kerajinan tangan berikut tempat workshopnya. Istimewanya mereka mendayagunakan mereka yang difable. Mereka membuat lukisan dengan sulaman benang. Merangkai benang di atas kain yang sudah digambari pola lukisan. Hasilnya keren-keren banget. Tema lukisan dibuat khas Vietnam sekali. Seperti kehidupan sehari-hari masyarakat Vietnam bercocok tanam, orang memancing di danau, dan seorang gadis yang memakai pakaian tradisional dengan membawa payung berdiri di bawah pohon atau dipinggiran danau dengan topi caping.

Barang-barang khas yang dijajakan mulai dari tempelan kulkas, tas kipling, anggur khas Vietnam yang di dalam botolnya ada kepala ular, juga makanan dan minuman ringan. Kayaknya teman-teman rombongan gue gak begitu doyan belanja. Paling ada yang jajan kopi dan cemilan. Kalau gue cuma ke toilet aja. Hehehe. Bangunan toilet terletak di luar dan bersih. Sambil menunggu yang lain kami juga sedikit ngobrol sama Park lebih tepatnya sih, berkenalan. Pipinya yang chubby dan wajah imutnya gak menyangka kalau dia seumuran sama kami.

Meski sudah nahan-nahan mata biar gak merem, tapi sejuknya AC mobil bikin gue ketiduran juga, dan ketika bangun, belum kelihatan juga penampakan Ha Long Bay. Gak lama kemudian, Kim menyapa kami (lebih tepat membangunkan kami yang tidur) dan mengingatkan, tidak lama lagi kami akan tiba di Ha Long Bay. Kim meminta kami melihat ke arah kanan, dan benar saja, bukit-bukit batu besar yang diselimuti pepohonan hijau bisa sedikit kami lihat. Iklim bulan Desember membuat suasana siang itu tidak panas karena matahari memang tertutup awan tebal. Mendung dan memang diselimuti kabut tipis. Foggy dan mistis. “Agh… itu Ha Long Bay!” teriak gue dalam hati. Persis seperti yang aku lihat di blognya orang-orang meski cuaca mendung, tapi aku senang.

One Day Trip ke Ha Long Bay dimulai dengan kami menaiki sebuah kapal mesin berukuran sedang yang akan membawa kami menyusuri teluk Ha Long ini. Paket trip gue ini harganya 50 US Dolar satu orang sudah termasuk makan siang di kapal. Oh iya, ada yang lucu nih masalah makanan. Berhubung kami ingin aman (halal) dalam hal makanan, maka kami bilang ke Kim kalau kami vegetarian. Kami dapat menu satu nampan besar khusus vegetarian. Isinya mie goreng, telur gulung, sedikit bakso tahu, dan bola-bola kentang. Gak lama datang makanan yang no vegie. Tauk gak, menunya apa? Semua seafood dong, ada udang bakar, ikan bakar, dan gue sama suami liat-liatan kemudian tertawa menertawakan kesialan kami.

Paling goks adalah kami sempat bekal mie goreng yang kami masak di hotel dan kami juga cuek aja mengeluarkan sambal botol belibis. Hihihihi. Kami takut makanannya aneh-aneh kan, tapi gak papa tauk menunya seafood, kami agak tenang lah makannya. Teman makan semeja kami si Park orang Korea dan pasangan campur dengan putrinya. Selesai makan gue tanya ke Zaki, “Nyesel bilang kita vegie?” Zaki jawab, “Gak papalah kita pesan menu terpisah dari mereka, itu Oppa-oppa (sebutan kakak laki-laki Korea bagi wanita) makannya banyak juga.” Wkwkwkwkwk. Emang sih, si Oppa makannya banyak.

Selesai makan, kami menaiki bagian atas kapal dan menikmati keindahan Ha Long Bay. Langit siang itu mendung, angin berhembus sedikit kencang. Suhu udara kurang lebih 10-15 derajat celcius, mirip dengan udara di Lembang Bandung musim hujan.

Foggy Ha Long Bay
Batu di tengah tersebut ada di gambar mata uang Vietnam

Kim menunjukkan kepada kami kalau pemandangan Ha Long Bay diabadikan juga sebagai gambar yang terdapat di lembar mata uang Vietnam. Kim juga menceritakan sedikit cerita atau mitos seputar Ha Long Bay. Konon batu-batu besar di teluk tersebut adalah batu-batu yang dilemparkan oleh para dewa, ketika tanah Vietnam akan diserang oleh bangsa China. Batu-batu tersebut konon menjadi penghalang bagi penjajah untuk menyerang Vietnam.

Ha Long Bay
Pemandangan di Sekeliling Ha Long Bay

Kapal kami kemudian berlabuh di sebuah dermaga kecil. Paket kami juga termasuk menaiki kapal kayu kecil. Satu kapal berisi 4-5 orang. Kami berperahu bersama Kathy dan sempat melakukan perbincangan. Ayah Kathy yang aseli Austria sudah pernah ke Bali, kemudian Ibunya Kathy kelihatan agak sebal pengen banget diajak ke Bali suatu hari nanti. Mereka sekarang tinggal di Austria dan Kathy bisa berbicara bahasa  Jerman, Thailand, dan Inggris. Emang sih, pas ngobrol sama Ibunya pakai bahasa Thai, pas sama bokapnya bahasa Jerman, kalau di sekolah Bahasa Inggris.

Mereka ke Vietnam dalam rangka liburan dan kemudian akan lanjut ke Thailand untuk merayakan natal di sana. Liburan keliling Asia dua bulan bo… Ngiri banget.

Dermaga Ha Long Bay
Dermaga tempat naik perahu kayu
Mixed Couple
Kathy dan Orang Tuanya
Perempuan Perkasa Hanoi
Pendayungnya Kebanyakan Wanita
Ha Long Bay
Penampakan Batu di Ha Long Bay

Menariknya lagi dari pejalanan kami dengan perahu kayu, adalah siapakah yang mendayung? Pendayung kebanyakan Ibu-ibu dan mbak-mbak cantik lho. Meskipun badannya kecil, tetapi tenaganya kuat banget. Lumayan kurang lebih 30 menit. Ada sih, kalau mau uji kekuatan tangan mendayung dengan kano. Mana mau si Zaki, ngedayung, dengan alasan nanti dia doang yang dayung. Hahaha. Males ah. Bahkan ada yang kano sendirian loh. Bodo ah, kami memang pemalas. Usia yah, gak bohong.

Canoing di Ha Long Bay
Canoing di Ha Long Bay

Ha Long Bay

Ha Long Bay

Ha Long Bay

 

Selesai menikmati keindahan Ha Long Bay dengan perahu kayu, kami balik ke kapal untuk mengunjungi gua dibalik bukit. Untuk mencapai gua, kita perlu sedikit menanjak. Jangan khawatir, jalurnya sudah bentuk tangga beton. Memasuki dalam goa, jangan bayangkan goa gelap dan lembab. Lampu warna-warni di dalamnya. Kuning, hijau, pink, wah berasa di club malam deh, bukan di goa. Sepanjang penyusuran ke goa, Kim menceritakan sedikit tentang goa. Cerita berasal dari mitos-mitos atas bentuk-bentuk yang terbentuk dari stalaktit dan stalakmit dalam gua. Misal ada yang berbentuk sepasang kekasih, seorang ibu dan anaknya, kera, buaya, sampai santa claus. Masyarakat Vietnam sama halnya dengan Indonesia memiliki sekali cerita atau mitos-mitos yang menarik.

Penampakan Gua
Penampakan Gua

Gua Ha Long Bay

Gua Ha Long Bay
Penampakan dari atas Gua Ha Long Bay

Berakhirnya kunjungan kami ke gua, mengakhiri perjalanan sehari kami ke Ha Long Bay, jam 5 sore kami kembali ke Hanoi. DI perjalanan menuju dermaga kami disuguhi teh khas Vietnam dan kue kacang hijau yang rasanya manis banget dan jeruk mandarin yang imut-imut. Eh si oppa lapar sepertinya. Dia yang paling banyak makan itu kue. Hihihihi.

Park, teman baru dalam perjalanan di Ha Long Bay
Pemandangan dari Dermaga Gua
Pemandangan dari atas Bukit Gua Ha Long Bay
Kue Kacang HIjau Khas Vietnam
Kue Kacang Hijau Khas Vietnam dan Secangkir Teh

Perjalanan pulang ke Hanoi melewati jalur yang berbeda dengan arah berangkat, dan karena hari itu hari Jumat, lalu lintas lebih ramai dan yang paling membuat tidak nyaman kenapa orang-orang di Vietnam senang sekali bermain klakson dan itu bikin kuping capek.

Perjalanan pulang, kami juga berhenti di rest area untuk ke kamar kecil ataupun berbelanja buat yang mau belanja. Rombongan kami yang cowok malahan asyik membahas masalah politik dan langsung menanyakan ke narasumber alias ke masing-masing warga negara. Contohnya, tentang terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika, kudeta Presiden Korea Selatan, dan sebagainya-sebagainya. Berat amat sih obrolan. Hahahahaha. Berasa lagi ikutan rapat di PBB.

Akhirnya tepat jam 20:30 kami tiba di Hanoi, dan kami yang pertama kali di antar ke hotel malam itu. Oh iya, kata si Park, hotel kami bagus. Ya iyalah kan dibayarin kantor. Hihihihi. Mau beli makan malam, kami ingat mie goreng tadi pagi belum di makan. Marilah makan mie goreng aja sama rendang. Ceritanya dietlah malam-malam. Padahal badan sudah capek banget, bawaannya pingin mandi kemudian langsung tidur. Hehehehe.

Perjalanan kami siang tadi meninggalkan pengalaman yang yang luar biasa. Ikutan grup tur yang mempertemukan kami dengan orang-orang dari berbagai negara. Oppa Korea malah bersedia memandu kami kalau kami suatu hari main-main ke Korea. Dari obrolan kami, kebanyakan mereka masih melanjutkan perjalanan keliling Vietnam seperti Danna  di Vietnam tengah dan Ho Chi Min di selatan. Bahkan ada yang lanjut ke Myanmar, Kamboja, atau Thailand. Sayangnya gak ada yang mampir ke Indonesia. Oh iyah, ketika ngobrol, kami gak bosan-bosan loh, promosi tentang Indonesia ke mereka. Cerita betapa indahnya Indonesia dan pulaunya yang banyak. Mereka sih manggut-manggut ajah dan janji suatu saat akan mampir ke Indonesia.

Ada juga yang tertarik dengan jilbab saya, menanyakan apa kami muslim, kenapa muslim begini dan begitu. Oke,lain kali akan saya ceritakan di halaman berikutnya dari blog saya ini.

Perjalanan kami esok harinya, kami lanjutkan dengan keliling Kota Hanoi. Kemana? Entahlah kami belum punya tujuan yang pasti, tapi saya yakin perjalanan kami besok pasti sama serunya dengan hari ini.

 

Sebuah Cerita tentang Ibu-ibu Hebat di Kota Tua dan Megahnya Mesjid Agung Jawa Tengah (Masih di Semarang)

Sebenarnya tulisan ini sudah nangkring di draft blog saya sejak dua bukan yang lalu, ketika saya melakukan perjalanan Yogya-Semarang-Cirebon. Punya waktu di Semarang hanya satu hari dan Kota Tua Semarang adalah pilihan kami berikutnya setelah Lawang Sewu. Sengaja ingin posting tulisan ini dalam rangka hari Ibu.

Mengunjungi kota tua karena ya itu lagi, lihat postingan di IG. Saya IG mania? Ya boleh dibilang begitu. Meski follower saya gak banyak, tapi saya banyak dapat ilmu di IG. Hehehe, mari kembali ke laptop. Kami tiba di kota tua tepat pukul dua belas siang. Matahari emang lagi lucu-lucunya. Ternyata suhu siang itu mencapai tiga puluh enam derajat celcius.

Mobil kami parkir tepat di depan Taman Sri Gunting. Keluar mobil, ampun panasnya. Kami langsung mengambil duduk di taman yang merupakan tempat paling nyaman siang itu. Gimana nggak. Pohon rindang, semilir angin dan pemandangan kota tua seperti Gereja Blenduk, Kafe Spiegel, dan deretan penjaja barang-barang unik di Pasar Seni benar-benar bikin adem.

Ikon Kota Tua Semarang

Kota Tua Semarang
Lalu Lintas di Kota Tua
Gedung Bersejarah Spiegel
Gedung Spiegel
kota Tua
Taman Kota Sri Gunting

Awalnya saya bermaksud ngubek-ngubek Kota Tua, mencari objek foto-foto yang keren, eh tapi baru jalan sedikit ke arah kafe Spiegel, aduh panasnya gak tahan. Akhirnya ya duduk ajah di depan Taman Sri Gunting, sambil menikmati semangka dari penjaja buah dan gorengan dengan gerobak dorong. Murah meriah, semua yang dijual di dalam gerobaknya harganya seribu rupiah. Wah panas-panas terik begini paling cocok memang ngemil semangka. Siang itu saya membeli semangka dan papaya. Lima ribu saja semua. Padahal awalnya saya berharap Zaki mengajak masuk ke Kafe Spiegel yang ber-AC dan menikmati segelas cappuccino dingin. Tapi harapan tinggal harapan. Hahahhaha. Makan buah lebih sehat kan? Halah. Ngeles.

Taman Kota Sri Gunting

Taman Kota Bagai Oase di Tengah Kota Semarang yang Panas Terik

Ketika saya ingin mengambil foto taman dari sudut Pasar Seni, ada si dua Ibu-ibu yang sedang duduk terlihat canggung melihat kamera saya mengarah ke mereka. Lalu saya tersenyum ke mereka. “Eh gak papah Bu. Duduk saja,” Saya menenangkan. Kemudian saya menghampiri mereka. Ikut duduk-duduk menikmati Semarang yang sukses membuat peluh saya terus mengalir. Iseng-iseng saya ngobrol deh sama dua Ibu-ibu itu.

Sebut saja Bu Parni dan Bu Marni. Melihat dari kostum mereka saya menduga mereka petugas parkir di situ. Menggunakan rompi kuning dengan peluit tergantung di leher. Benar saja ketika ada bus pariwisata lewat, Bu Parni sigap berdiri dan memberi aba-aba untuk bus bisa parkir. Tapi Bu Parni kurang beruntung. Bus itu hanya lewat saja. Tidak berhenti di kota tua. Bu Parni kembali duduk dengan wajah yang tetap tersenyum. Mungkin dia menertawakan dirinya yang terlalu semangat, eh ternyata bus-nya tidak parkir.

Iseng-iseng saya mengajak kedua Ibu itu berbincang-bincang. Sudah bertahun-tahun mereka menjadi juru parkir di kota tua. Bekerja dari jam delapan pagi sampai jam dua belas malam. Rumah mereka tidak dekat, di pinggiran Semarang. Bu Parni yang berbadan agak besar mengaku mengayuh sepeda ontel dari rumahnya dengan perjalan 45 menit. Ia bekerja menjadi tukang parkir demi sang cucu yang berusia enam tahun. Anak Bu Parni sendiri sekarang sedang menjadi TKW di Hongkong. Meski sesekali kiriman uang datang, ia tidak betah hanya berdiam diri di rumah dan tidak menghasilkan apa-apa.

Lain lagi dengan Bu Parni. Bu Marni nenek lima orang cucu. Beliau bergantian menjaga parkir dengan sang suami. Mereka sebulan dibayar hanya tiga ratus ribu rupiah dari Pak Bos. Entah siapa Pak Bos yang dimaksud. Boro-boro mereka mengharapkan upah minimum regional. Mereka hanya berharap tips dari para pemilik kendaraan di situ. Paling senang kalau bus-bus besar atau bus pariwisata yang parkir. Biasanya tips yang diberikan lumayan besar.

Panas terik kota tidak mematikan semangat mereka. Kerja lebih dari lima belas jam sehari, beratap langit yang kadang hujan kadang terik, dengan bayaran tiga ratus ribu setiap bulan. Pendapatan mereka harus dibagi untuk menghidupi keluarga dan juga makan sehari-hari ketika bekerja. Mereka tidak kenal lelah demi cucu-cucu di rumah. Tidak malu atau gengsi meski mereka wanita. Mereka wanita-wanita perkasa. Pahlawan dalam keluarga.  Membayangkan bagaimana mereka setiap hari menjalani hidup, kok rasanya luar biasa yah. Dari jam sembilan pagi hingga jam sebelas malam. Badan rasanya kayak gimana ya? Ya, memang sejatinya setiap wanita memang diciptakan demikian. Pejuang dalam kehidupan.

Tiba-tiba saya ingat, masih punya sedikit yang bisa diberikan buat mereka. “Sebentar ya Bu, saya ada sedikit oleh-oleh buat Ibu-ibu. Dikit tapi ya Bu.” Kata saya. Kemudian bergegas ke arah mobil yang diparkir. Setelah saya memberikan sedikit oleh-oleh, si Ibu seketika tersenyum dan mengucapkan terima kasih yang panjang sekali. Berulang kali juga saya mengaminkan. “Terima kasih juga doanya Ibu-ibu. Semoga saya balik lagi ke Semarang, nanti kita ketemu lagi ya Bu. Semoga sehat terus ya Ibu-ibu. Salam buat cucu-cucu.” Kata saya menutup perjumpaan kami siang itu. Kemudian saya minta izin untuk kami foto bareng, dan kali ini Ibu-ibu tidak takut lagi dengan kamera. Sebulan kemudian saya balik ke Semarang, tapi malah gak sempat menemui mereka. Payah ya saya. 😦

Ibu-ibu Perkasa Penjaga Parkir kota Tua
Ibu-ibu Perkasa Penjaga Parkir Kota Tua

Dari Kota Tua, perjalanan kami lanjutkan untuk sholat Zuhur di Mesjid Agung Jawa Tengah. Namanya Mesjid Agung pasti besar dan bagus. Jadi destinasi yang sayang kalau dilewatkan.

Berbekal google maps kami menuju Mesjid Agung Jawa Tengah yang cukup besar dan luas. Sampai kami salah parkir. Bukan di tempat sholat tapi parkiran resepsi pernikahan. So, bisa sih, mampir numpang makan, tapi sayang gak kenal sama yang punya hajat dan kostum kurang representatif juga sih. Hihihihi.

Mesjidnya besar, ventilasinya bagus. Tetapi karena tidak jauh dengan pantai, so udara yang bergerak alias angin tetep ajah semilir hot gimana gituh. Bangunan dengan banyak ventilasi juga ternyata membuat burung-burung suka masuk ke Mesjid. Hati-hati yah pas sholat ada kotoran burung. Aduuh, gimana yah kalau gitu??

Penampakan Kemegahan Mesjid Agung Jateng

Penampakan Dalam Mesjid Agusng Jawa Tengah

Alquran Raksasa di Mesjid Agung Jawa Tengah
Alquran Raksasa

Puas berkeliling di dalam mesjid. Saya keluar dan bermaksud mencari lokasi yang pas untuk mengambil foto masjid secara utuh. Tapi susah, maklum bukan profesional. Pake drone kali yah baru sempurna. Eh tapi tunggu dulu. Di depan Masjid ternyata ada sebuah menara. Menara yang sepertinya belum jadi seratus persen. Di dalam menara yang sangat tinggi itu terdapat Museum Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Tengah di lantai dua dan tiga. Sejarah Islam di Jawa adalah proses perubahan atau proses alkulturalisasi atau perpaduan budaya dari masa Hindu ke Islam. Tidak heran banyak masjid-masjid lama di Jawa dengan arsitektur mirip dengan bangunan Pura. Untuk masuk ke menara AL Husna pengunjung dikenakan  tiket masuk tujuh ribu rupiah.

Selain Museum, kita juga bisa naik dengan lift hingga ke lantai 19 yaitu puncak menara. Dari puncak menara, kita bisa melihat pemandangan sekitar masjid dan pesisir Semarang. Bahkan hingga lautan lepas dengan teleskop. Kira-kira seperti di puncak Monumen Nasional. Angin bertiup sedikit lebih kencang di puncak menara.

Waktu itu si Zaki memilih makan di warung dekat parkiran mobil. Sedangkan saya ke atas menara. Hehehe. Prioritas kami beda. Dia mah urusan perut nomor satu. Kalau sudah begitu, ya udah ada waktu sebentar buat saya jadi solo traveler. Hore. Hihihihi.

Mesjid Agung Jawa Tengah
Dilihat dari depan Menara AlHusna

Kalau diperhatikan desain masjid ini seperti berkiblat ke Mesjid Nabawi di Madinah Arab Saudi. Keempat pilar payung yang bisa membuka dan menutup secara otomatis sesuai kebutuhan. Al-Husna Tower, apakah meniru Zamzam Tower di Mekkah Arab Saudi sana? Hehehe. Terinspirasi mungkin kali yah.

Menara Al Husna
Al Husna Tower

 

Mesjid Agung Jawa Tengah

Tidak lama saya di Al Husna Tower, saya menghampiri Zaki yang lagi-lagi asyik menikmati kupat tahu Semarang. Ya ampun padahal dari Lawang Sewu kami sudah membeli kupat tahu yang  kami makan di mobil ketika menuju Mesjid Agung. Satu bungkus berdua dan itu enak banget. Ada ceritanya juga, nanti deh ya diceritain. Soalnya si Bapak mau aja ngeladenin kami yang bawel tanya-tanya. Hehehehe. Bahkan saya iseng merekam perbincangan kami. Seperti bikin vlog ala-ala gitu.

Sebelum meninggalkan parkiran, saya membeli jus tomat. Sialnya, gelas jusnya bau kecoa. Belum habis jus, langsung saya buang. Bau kecoaknya itu loh, bikin pusing. Perjalanan kemudia kami lanjutkan. Tujuan kami berikutnya adalah Cirebon, kota perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Senja sore mengiringi kami menuju Cirebon. Perjalanan kali ini punya cerita tersendiri. Selain mengagumi destinasi bangunan-bangunan peningggalan Belanda, mengagumi kemegahan Mesjid Agung, belajar sejarah Islam di Jawa, dan bisa bertemu dengan Ibu-ibu hebat di Taman Sri Gunting. Bersyukur bisa belajar dari kisah hidup mereka. Perjalanan memang tempat pembelajaran yang tidak ada habis-habisnya. Jadi teruslah melakukan perjalanan dan teruslah jadi manusia pembelajar. Oh iya, selamat hari Ibu untuk semua Ibu-ibu hebat di dunia. Setiap Ibu diciptakan untuk menjadi pahlawan dalam kehidupan.