Roadtrip Surabaya-Jakarta Part 4 (Surabaya Hari Kedua: Monumen Kapal Selam dan Kulineran Belut)

Hari kedua kami di Surabaya, dan alhamdulillah kerjaan Zaki sudah beres. Jadi kami berencana langsung balik saja ke Jakarta, siang ini langsung chek-out dari Harris. Pagi ini karena lebih santai, Zaki fitness dan saya berjemur di pinggir kolam renang mencari sinar matahari sembari membaca novel saya yang mulai nagih untuk diselesaikan.

Kolam renang Hotel Harris selalu bagus

Continue reading “Roadtrip Surabaya-Jakarta Part 4 (Surabaya Hari Kedua: Monumen Kapal Selam dan Kulineran Belut)”

Advertisements

Roadtrip Jakarta-Surabaya (Part 3) Surabaya; Jalan-jalan Kaki dan Kuliner Bebek Kayu Tangan

Berhasil menembus kemacetan Surabaya menjelang senja hari itu, akhirnya kami tiba di Hotel Harris Gubeng. Rencananya kami akan menginap di sini dua malam. Besok Zaki akan ke Gresik untuk urusan kerjaan dan belum tahu juga apakah kerjaan besok bisa beres atau kami memperpanjang waktu singgah kami di Surabaya.

Kenapa pilih Harris, dengan budget di bawah 1 juta, hotel ini menurut saya paling tidak , (sejauh ini) belum pernah mengecewakan. Sudah pernah di beberapa kota seperti Bali dan Malang, selalu berkesan. Makanya saya agak maksa untuk menginap di Harris selama di Surabaya. Letak Haris di tengah kota di Jalan Gubeng. Bersebelahan dengan adiknya, yaitu Hotel Pop. Maaf yah, kali ini karena dibayarin kantor, agak mendingan dikit dong. Gak di Pop lagi. Hehehe.

Tiba di kamar hotel yang untungnya pemandangannya tidak lagi menyeramkan, kami sebenarnya antara lapar dan tidak lapar. Mau cari kulineran di Surabaya, Zaki sudah malas keluar. Mau gojek, takut ribet. Akhirnya kami pilih pesan di hotel atas rekomendasi petugas hotel, kami pilih nasi goreng kampung komplit.

Berhubung tidak terlalu lapar dan katanya komplit dengan sate ayamnya, kami pesan satu porsi untuk dimakan berdua. Biar romantis gitu. Eh padahal mah ngirit. Hehehe. Mahal bok. Kurang lebih 15 menit nasi goreng datang. “Eh kok katanya pedas, ini mah gak pedas ah.” kata Zaki. “Iyah, ini mah standar,” balas saya yang memang selera pedasnya jauh di bawah Zaki. Loh ini kan Surabaya yang terkenal apa-apa pedas. Kok malah gak pedas ya. Ya sudah, meski demikian piring nasi goreng tersebut langsung bersih tak ada sisa. Kami lafaaarrr ternyata yah.

Keesokan paginya, sebelum Zaki berangkat ke Gresik menempatkan diri sarapan. Ini bagian yang paling dinanti kalau menginap di Harris. Sarapannya buanyak macamnya. Puas. Meski demikian, pagi itu saya gak banyak makan. Udah kenyang saja. Efek membiasakan makan sesuai kebutuhan kali ya. Kalau Zaki, eits jangan ditanya. Pagi itu bubur ayam, mie ayam, lontong sayur. Hahahahaha. Katanya capek nyetir kemarin. Bisaaaaa… ajahhhh…

Sarapan di Harris Gubeng
Selpih ketika Sarapan

Zaki berangkat ke Gresik nyewa mobil rental Blue Bird yang memang ada di hotel. Katanya lagi dia capek. “Kalau disetirin kan bisa tidur, enak. Kayak kamu.” begitu katanya.

Zaki berangkat, saya buka laptop dan berencana mau nge-blog gitu. Kan enak kamar hotelnya. Alih-alih nge-blog, pagi hingga siang saya malah sibuk memindahkan foto-foto dari hp ke external HD. Kalau bosan ya sesekali saya membaca novel Crazy Rich Asians yang sedang saya baca.

Menjelang tengah hari, usai Zuhur saya berencana keluar hotel untuk mencari makan siang sekalian mencari buah tangan untuk berkunjung ke sepupunya Zaki yang tinggal di Surabaya nanti malam. sekalian silaturahmi kan yah.

Berhubung ini hotel di tengah kota, saya putuskan untuk ke mall saja. Padahal yah, hotel menyediakan shuttle bus untuk menuju mall tersebut, dasarnya saya gak disiplin ya telat aja dong. Ya udah saya memilih jalan kaki saja.

Tauk gak apa yang pikirkan ketika saya memilih jalan kaki siang itu. Loh kalau lagi di Singapura atau Bangkok saja kok saya bisa jalan berkilo-kilo meter, kenapa ini di Surabaya yang kotanya gak kalah bagus kok saya malas. Meski ditawari taksi, sama petugas hotel, saya kekeuh mau jalan. Buka google maps dan jalan kaki. Alhamdulillah meski awalnya sulit menggunakan google maps ya tapi lumayanlah lama-lama saya terbiasa juga. Kalau bingung kan nanya bisa. Toh bahasa yang digunakan masih sama. Bahasa Indonesia. Ye kannn…

Menenangkan berjalan kaki di Surabaya. Tamannya bagus, sangat terawat. Tanaman tumbuh subur, dengan bunga-bunga. Meski Surabaya agak panas, berada di dekat taman udara siang itu sedikit sejuk karena tiupan angin dan mata jadi hijau banget.

Air Mancur
Air Mancur di salah satu taman di Surabaya
Sungai di Surabaya
Bersihnya ini sungai di Surabaya

Entah karena saya yang dudul atau gimana, akhirnya saya tiba di mall yang bukan tujuan saya. Iyah, awalnya tuh saya mau ke Surabaya City Walk, eh malah belok ke Surabaya Plaza. Gara-gara mungkin saya salah baca maps. Sudah gak papah, kan sama-sama mall. Menghibur diri dan berusaha menerima kebodohan.

Gerai makanan di mall ya tentu saja sama persis dengan yang ada di Jakarta. Makanya saya memilih mencari foodcourt biar agak beda. Pilihan jatuh kepada nasi goreng Jancuk, yang katanya fenominil. Meski begitu saya pilih yang gak pedes. Nasinya banyak banget dan rasanya gak sefoneminil itu ternyata. Biasa ajah, ada potongan ikan asin kecil-kecil yang asinnya mantab. Harganya cukup mahal buat ukuran nasi goreng menurut saya. Entah kenapa saya selalu membandingkan setiap nasi goreng yang saya makan, dengan nasi goreng warung tenda dekat rumah. Sudah langganan, karena rasanya enak, dan murah. Enak versi saya, bumbu terasa, manis kecapnya cukup, nasi tidak terlalu ambyar dan sayurnya banyak. Sebenernya saya gak habis, tapi sayang. Pelan-pelan saya makan sambil membawa novel saya. Akhirnya sisa dikit. Yah maaf ya.

Nasi Goreng Jancoe di Plaza Surabaya
Nasi Goreng Jancoek di Plaza Surabaya

Selesai makan, saya putar-putar ke pusat perbelanjaan di situ. Dapat jaket lucu dan cardigan untuk dua orang keponakan. Dari situ ternyata Zaki menelepon dan bilang sudah di hotel. “Buruan pulang!” seperti biasa gaya otoriternya sebagai suami datang. Saya kembali ke hotel dengan ojek online dan hanya 5000 pemirsa. Ya ampun padahal lumayan lo muternya.

Malamnya kami berkunjung ke rumah sepupu Zaki yang di Surabaya. Dari situ kami meutuskan makan malam. Saran dari sepupu Zaki, namanya Dek Beni enaknya makan sambal belut. Kami meluncur ke sana. Eh belom rezeki, warung belut tutup. Kami menuju tujuan berikutnya, Bebek Kayu Tangan.

Rumah Makan Bebek Kayu Tangan sederhana. Bangunan lama tidak ada polesan kekinian sama sekali. Sangat otentik khas Surabaya. Buat yang gak suka bebek, ada juga ayam kampung. Saya pesan ayam kampung bakar bumbu rujak dan Zaki, bebek bakar bumbu rujak. Katanya itu yang khas.

Perlu diingatkan, kalau lagi lapar berat, pikir-pikir makan di sini. Agak lama gitu soalnya. Meski saat itu sedang tidak terlalu ramai pengunjung. Ketika hidangan tersaji langsung saja kami serbu. Kesetiaan kami menunggu berbuah. Ya ampun itu enak banget. Bumbu rujaknya manis, pedas, asam, bercampur jadi satu. Bubunya meresap hingga ke dagingnya. Meski untuk saya pedas, tapi itu enak sekali. Semuanya pas. Pedas manis dan asam, selera saya banget.

Di belakang meja kasir duduk seorang nenek yang usianya mungkin sudah 70 tahun. Selesai membayar makanan yang kami makan, saya sedikit mengobrol dengan beliau dan asistennya. Bukannya apa, sang asisten kadang memebri kode ke saya kalau si nenek sudah agak kurang pendengaran. Pantas kadang saya tanya apa, beliau jawab apa. Ya maklum lah ya.

Jadi hasil pembicaraan saya dengan mereka ketika saya usul agar membuka cabang di Jakarta, sebenarnya sudah pernah mereka coba. Di daerah Matraman. Respon pelanggan cukup bagus, namun entah kenapa harga sewa makin mencekik. Mereka tidak sanggup lagi dan akhirnya sekarang hanya menjalankan satu saja di Surabaya. Sudah berjualan sejak tahun 1970-an sejak anak-anak si nenek masih kecil. Alhamdulillah masih laris sampai sekarang.

Bebek Kayu Tangan
Ini Ayam Bakar Bumbu Rujak dengan Irisan Mangga Muda biar kayak rujak

Malam itu hari saya di Surabaya ditutup dengan kenangan pedas, asam, dan manis tentang sebuah rasa. Ya rasa, bumbu rujak yang bikin kangen. Pokoknya kalau ke Surabaya. Harus coba lagi. Begitu kata saya dalam hati, dilanjutkan dengan untung malam itu warung belut tutup. Hahahaha…

 

 

 

Jakarta-Surabaya Part 2 (Semarang-Surabaya) Nyobain Jalan Tol Baru :)

Apa Kabar Semarang? Jalan-jalan Pagi dan Mencari Sarapan

Melanjutkan kisah perjalanan kami yang akhirnya menginap di Hotel Pop belakang Lawang Sewu, alhamdulillah kami bisa tidur pulas. Mungkin karena capek yah. Iyah yang capek bukan saya sih, Zaki. Hihihihi. Saya waktunya tidur ya tidur. Misal tidur siang, atau setelah makan mengantuk.

Meski demikian, kalau lagi roadtrip begitu, sebelum tidur baiknya tanya ke rekan yang bawa mobil. “Kamu ngantuk gak?”, “Aku boleh tidur gak?”, Nah kalau dijawab gak ngantuk, lalu diizinkan tidur, baru saya tidur sih. Soalnya bukan apa-apa. Kalau mengantuk lebih baik kan kami istirahat dulu, atau kalau sedang di tol yang jalannya lurus, biasanya saya akan tahan-tahanin untuk menemani Zaki nyetir. Jalan tol yang lurus dan mulus yang memang baru kan banyak nih sekarang. Itu bikin ngantuk Pak supir kadang, jadi mau gak mau, sebagai partner yang baik, ya harus temani. Mengobrol apa kek, setel lagu lalu karaokean bareng juga asyik loh. Itu yang kami lakukan kemarin. Makanya sebelum perjalanan, siapkan lagu-lagu untuk teman di perjalanan.

Kembali melanjutkan kisah perjalanan kemarin ya. Pagi-pagi Zaki harus buka laptop, kemudian saya minta izin untuk keluar hotel. Berjanji untuk tidak jauh-jauh. Lagipula ini kali keberapa saya ke Semarang. Letak hotel di pusat kota dan di belakang Lawang Sewu, juga sepertinya saya hanya akan berkeliling Lawang Sewu saja. Di luarnya ya, karena kalau masuk, ya belum buka juga sih jam 7 pagi.

Kami yang tidak memilih sarapan di hotel, ketika keluar hotel saya langsung bertanya ke Pak Satpam yang sudah berganti. Maksudnya bukan satpam yang mengantar kami ke kamar itu loh. Beliau merekomendasikan di samping kiri hotel ada sebuah warung nasi. Warung nasi kecil dengan spanduk yang sudah lusuh bertuliskan Warung Mak’e. Meski kecil, dan tempatnya tidak menarik, tapi menu masakannya lumayan ramai (bermacam-macam) dan enak.

Benar saja, ketika saya melewati warung Mak’E, antrian pembeli cukup banyak. Mereka adalah pekerja yang mau berangkat ke kantornya. Ternyata, di depan hotel saya adalah sebuah pusat perbelanjaan.

Saya memutuskan untuk memilih berjalan-jalan dulu saja sebelum membeli sarapan. Trotoar di Semarang bagus sekali. Lebar dan nyaman untuk pejalan kaki. Pagi itu lalu-lintas belum terlalu ramai. Saya melewati Lawang Sewu, dan melihat beberapa petugas kebersihan sedang membersihkan pelatarannya.

Sepanjang trotoar tidak ada yang berjualan. Beda dengan Jakarta. Meski di jalan utama terkadang ada saja pedagang dengan motor atau sepeda yang menjajakan makanan untuk sarapan. Seperti bubur ayam, nasi uduk, roti bakar, bahkan buah segar. Akhirnya saya rindu Jakarta. Hehehehe. Tetapi itu yang membuat trotoar di Semarang bagus. Lebar, terlihat rapi dan bersih. Sangat enak bagi pejalan kaki. Meski ya trotoarnya pagi itu sepi dengan pejalan kaki.

Berbelok ke kiri untuk kembali ke hotel, saya melewati kali kecil, dan ada tempat pembuangan sampah kota. Gerobak sampah berbaris. Ada beberapa petugas kebersihan memilah sampah. Aromanya kurang enak. Saya kagum melihat mereka. Bekerja setiap hari dengan sampah. Hidup membuat mereka harus bekerja, meski saya rasa mereka tidak suka. Semoga banyak rejeki ya Ibu-ibu dan Bapak-bapak. Pahlawan keluarga.

Sebelum kembali masuk hotel, saya akhirnya membeli nasi bungkus di warung Mak’e. Seperti biasa, saya merindukan sayur mangut khas Semarang yang ternyata juga ditemukan di setiap daerah di pesisir utara Jawa ini. Dua porsi sayur bayam, sebungkus nasi dengan mangut ikan pari, kering tempe, dan sebungkus lagi dengan telor dadar untuk Zaki. Mak’e memberi bonus teh tawar hangat dan saya hanya membayar 23 ribu untuk semua makanan yang saya beli. Murah yah…

Sarapan
Sarapan Nasi Mangut Pari

Pagi itu warung Mak’e masih saja ramai oleh pembeli. Mereka yang ingin mengisi tenaga sebelum bekerja. Padahal saya mau ngobrol banyak sama Mak’e wanita yang kira-kira berusia 50-60 tahun dibantu seorang gadis muda yang menghidangkan minum bagi pembelinya.

Ah nanti saya mengganggu, jam ini jam sibuk di warung Mak’e. Mak’e bahkan sempat bertanya ke saya, “Sampeyan, kerja di hotel ini tho?” tanyanya. “Oh, nggak Bu, saya dari Jakarta. Cuma menginap saja kok, mau ke Surabaya. Makasih ya Bu.” Saya pamit dan harus segera kembali ke hotel. Zaki pasti sudah menunggu. Kami harus segera melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Jika lancar, kami akan tiba sore hari saat matahari terbenam.

Menikmati Kerennya Jalan Tol Bawen-Salatiga

Jam 09:00 pagi kami Chek-out dari Hotel Pop menuju Surabaya. Rute yang dipilih kali ini kami memilih melewati jalan tol terindah di pulau Jawa atau di Indonesia, saya gak tauk juga sih. Iyah, jalan tol Bawen-Salatiga. Yeayyy…

Lagi-lagi kami perlu ke toilet dan berhenti di rest area tol tersebut yang masih di masuk wilayah Kabupaten Semarang. Masih pagi, masih sepi pengunjung. Toiletnya bersih sekali. Gratis lagi. Berjalan ke bagian belakang toilet, kami disuguhi pemandangan alam nan ciamik. Subhanallah keren banget. Pemandangan pegunungan khas pedesaan kami nikmati. Tak kalah menarik juga mesjid di rest area tersebut. Masjidnya bagus, megah, dan besar. Sayangnya kami gak masuk. Kami memilih berfoto saja, dan kembali melanjutkan perjalanan.

Bergaya di rest area Tol Bawen-Salatigasekali-kali selfieee….

Jalan Tol Bawen-Salatiga
Jalan tol Bawen-Salatiga

Keluar tol Salatiga, kami memasuki jalan biasa, yaitu jalan antar provinsi. Kadang melewati hutan jati, atau ketika kami melewati daerah Sangiran ada museum fosil purbakala. Sayangnya Zaki gak mau mampir. Hiks. Ya gimana ini kan kerja ya, bukan jalan-jalan, jadi harus sampai di Surabaya segera. Zaki janji, setelah pekerjaan beres, nanti kita baru menikmati perjalanan dengan mampir-mampir. Baiklah, seertinya saya harus mengerti. Hihihihi.

Meski agak bete karena gak bisa mampir ke objek wisata yang kami lewati, saya cukup menikmati perjalanan kali ini. Kami melewati Pondok Modern Gontor yang cukup megah di daerah Ponorogo. Saya hanya mendengar saja tentang Pondok Pesantren Modern Gontor ini, kali ini saya melewatinya. Pondok tersebut terdapat di beberapa tempat, ada khusus laki-laki dan wanita yang terpisah.

Makan Siang di Madiun

Hari beranjak siang. Saya akui, jalan provinsi di Jawa Timur lebih bagus dan lebih besar dibandingkan Jawa Tengah. Perut mulai teriak minta diisi. Kami mau mencicipi pecel madiun ketika memasuki daerah Madiun, tetapi kok warung makan di daerah itu banyak yang tutup. Apa mungkin mereka hanya buka di akhir pekan? Saya tidak tahu. Akhirnya karena perut sudah lapar, kami berhenti di sebuah warung makan di daerah perbatasan Madiun dan Ngawi yaitu Caruban. Tepatnya di depan Kantor Kepala Desa Purworejo. Nah kan sama nama daerahnya seperti sebuah daerah di Jawa Tengah.

Kantor Kepala Desa Purworejo-Caruban
Kantor Kepala Desa yang sudah sepi

Siang itu sekitar jam 14:30 kantor kepala desa sudah sepi. Begitu pula dengan sekolah dasar di dekatnya. Siang itu hanya ada anak-anak sedang bermain sepeda. Mungkin mereka sudah pulang sekolah. Ketika saya tanyakan ke Ibu warung, kenapa kantor kepala desa sudah sepi? “Memang sudah bubaran mbak jam segini.” jawab si Ibu. “Wah senangnya… ” spontan saya berkata demikian.

Bandingkan dengan mereka yang bekerja di kota besar seperti saya. Jam segitu, mungkin baru memulai kerja dengan disposisi dari Bu Bos hasil rapat, yang kemudian harus diselesaikan hari itu juga. Tak jarang harus pulang jauh melewati jam kerja seharusnya. Jam 21:00 bahkan lebih. “Ya itulah bekerja di desa. Santai, gak ngoyo kayak orang kota.” tiba-tiba Zaki mengeluarkan celetukan. Iyayah, apa sebenarnya yang dicari dari pulang malam dari kantor? Apa yang di dapat? Oke, kapan-kapan kita bahas di lain waktu.

Makanan sudah tersaji di meja, dan kali ini saya lapar berat. Apa daya pecel Madiun tidak ada, adanya pecel lele. Berhubung lapar, sikattt… Hehehe.

makan siang pecel lele dan rawon

Nyobain Jalan Tol Baru Mojokerto-Surabaya

Oh iya, kemudian kami masuk tol lagi di Mojokerto yang belum lama diresmikan kemarin. Ya ampun, itu jalan tol mulus banget, bagus pula.

Sebenarnya sih, kenapa Zaki mau roadtrip sampai ke Surabaya pun ya karena sudah ada jalan tol yang menyambungkan Jakarta-Surabaya. Iyah belum jadi semua kok. Tapi ini membantu banget. Merasakan betapa pembangunan terjadi di negara ini. Setahu saya pembangunan waktu itu adanya di era Pak Harto dan kemudian entah kenapa semua orang atau petinggi negeri ini terlalu disibukkan dengan urusan politik yang gak jelas buat saya. Ya mungkin demikian prosesnya. Pokoknya saya happy banget lihat pembangunan yang benar-benar nyata adanya.

Ini Tol Mojokerto
Jalan Tol Mojokerto yang baru diresmikan September 2017 kemarin

Tiba-tiba kami memasuki sebuah keriuhan jalan. Kemacetan lalu-lintas. Oh ternyata lampu merah. Motor saling berdesak-desakan maju ke depan, hingga mobil kami yang mau belok ke kiri sulit sekali belok. Untungnya ada Bapak yang baik hati memberi aba-aba, sehingga kami bisa belok dengan mulus, meski di celah yang sempit. Ya, akhirnya kami tiba di Surabaya, tepat ketika orang-orang pulang bekerja. Kembali ingatan kami ke Jakarta. “Gokil, Surabaya persis banget Jakarta pas jam pulang kantor gini.” sumpah serapah mulai keluar dari mulut Zaki. Hahahaha. Welcome to Surabaya. 🙂 But Surabaya is more beautiful than Jakarta because of the park i think. Yess. Bersambung ke next post yah cerita di Surabaya dan perjalanan kembali ke Jakarta yang pastinya  lebih seru.

Road Trip Jakarta-Surabaya 1 (Jakarta-Semarang)

Memasuki minggu-minggu terakhir libur kuliah akan segera usai. Nah sebelum waktu berlalu begitu saja, mari kita stock tulisan banyak-banyak. Mengingat semester ini sepertinya akan sangat menggila. Hahahahaha.

Sebenarnya ini adalah perjalanan dinas suami yang tertunda, tapi alhamdulillah saya masih libur jadi masih bisa ikutan. Berhubung waktu yang luang, kami memutuskan untuk mencoba membawa kendaraan sendiri. Waktu itu pernah juga sih, kami bawa mobil sampai Yogyakarta yang kemudian ada trip Semarang dan Cirebon. Udah ditulis di sini belum yah ?

Eh udah nih ternyata :

Menjelajah Wisata di Semarang dan Sekitarnya

Hahaha yang Cirebon malah belum. Nantilah ya, kalau mood. Hehehe.

Jadi kami berangkat Senin 15 Januari 2017 jam 11:00 dari Bekasi. Kemudian transit di KM 39 untuk sholat Zuhur. Perjalanan kami banyak sekali transitnya sih, maklum faktor usia, jadi sebentar-sebentar mau ke toilet. Keberuntungan menghinggapi ketika kami bermaksud untuk ke toilet di daerah Tegal. Saya yang lupa belum menjamak sholat merasa senang bisa mampir di SPBU Muri Tegal atau SPBU Muri Shinta Irawaty.

Salah Satu Lorong di Toilet SPBU Muri Tegal
Barisan pintu toilet di SPBU Muri Tegal

Mengapa dinamakana SPBU Muri? Ya karena mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia sebagai SPBU dengan toilet terbanyak, yaitu 67+40 toilet bersih. Beneran banyak banget, meski agak bikin gimana gitu, karena sore itu pengunjung sepi. Mungkin ramai kalau musim mudik lebaran atau liburan panjang sangat bermanfaat. Barisan pintu kamar mandi yang kosong siang itu seperti sebuah misteri buat saya yang emang orangnya rada penakut. Untung siang dan terang. Hehehehe.

Tidak hanya toilet bersih, di SPBU itu dilengkapi ruang istirahat lengkap dengan ranjang yang disewakan 40 ribu per 8 jam, fasilitas pijat, tempat makan, sampai kolam renang. Buat yang membawa anak-anak yang sudah mulai bete dalam perjalanan bisalah buat hiburan nyemplung ke kolam renang dulu.

 

 

Puas berkeliling SPBU ini, kami melanjutkan perjalanan dengan target akan bermalam di Semarang sebelum melanjutkan perjalanan sampai ke Surabaya.

Kami berhenti di SPBU untuk Sholat Maghrib di daerah Kendal sebelum memasuki Semarang. Pokoknya target tidak mau terlalu malam melewati daerah Alas Roban yang sempat terkenal agak “menyeramkan” buat pengemudi yang belum terbiasa. Alhamdulillah aman-aman, meski suasana gelap ketika melewati hutan jati tersebut ditemani rintik hujan yang lumayan lebat.

Oh iyah, kok gak makan siang? Di SPBU KM 39, kami beli siomay dan saya membawa bekal nasi, lauk ayam, dan capcay sisa makan di rumah  semalam. Ketika matahari terbenam, perut mulai keroncongan, kami memutuskan makan malam di daerah Gringsing, Kendal di rumah makan Nyoto Roso. Sepanjang daerah Gringsing sepertinya terkenal dengan rumah makan yang menyajikan makanan khas berupa ayam kampung goreng.

Malam itu, kami memesan ayam kampung goreng, sayur asam bening yang beningnya seperti sayur bening. Isinya hanya labu siam, kacang panjang dan tomat, bening. Sekali lagi bening pemirsa. Saya agak shock lihat sayur asem seperti sayur bening soalnya. Hahaha. Zaki seperti membutuhkan tenaga tambahan, juga memesan sop ceker ayam kampung.

 

Selesai makan dan melihat-lihat ternyata rumah makan ini sudah cukup lama. Untuk meyakinkan pelanggan ada sertifikat halal dari pihak yang berwenang yang diberikan kepada rumah makan tersebut.

Di dinding juga terdapat foto saat rumah makan tersebut baru dirintis sekitaa dua puluh lima tahun yang lalu. Berawal dari sebuah rumah kecil, hingga menjadi rumah makan yang besar dengan area meja kursi dan lesehan yang bisa menampung seratus pengunjung.

Bagaimana rasanya? Enak. Sambal terasinya juara. Pedas dan khas terasi. Ayam gorengnya pun lezat. Meskipun ukurannya mini seperti ayam kampung pada umumnya, tapi bumbunya pas asinnya. Kesegaran sayur asem bening pun begitu menyegarkan hangat dan segar di tengorokkan, menghangatkan suasana dingin malam itu. Sop cekernya pun enak, gurih dan pas rasanya.

Sebagian menu di RM Nyoto Roso

Menu yang kami pesan di RM Nyoto Roso

Kami kemudian booking hotel di Semarang, dan memutuskan untuk menginap di Hotel Pop Semarang. Kira-kira jam 20:30 Zaki membangunkan saya yang pulas tertidur setelah kekenyangan. “Bangun, bangun, sampai di hotel nih.” Dengan setengah sadar, saya membuka mata dan mengumpulkan nyawa. Berpikir, apa saja yang akan kami bawa ke dalam, mengingat bawaan kami yang banyak. Iyah, saya bawa buah-buahan sisa di kulkas, sampai blender buat nge-jus. Kami memutuskan pesan hotel dengan harga tanpa sarapan. Hehehehe. Kenapa? Karena kami sudah pernah mencoba sarapan di hotel Pop Yogya dan yakin, sarapan di warung makan pinggir jalan sekalipun di Semarang jauh lebih enak.

Memasuki lobi hotel, saya cukup senang dengan design interior loby hotel tersebut. Anak muda sekali, kekinian sekali, instagenic sekali, pokoknya baguslah. Agak mengejutkan lagi, ternyata hotel tersebut baru dibuka tiga hari yang lalu sebelum kami menginap. Wow, seru nih. Hotel baru, asyik, pasti semuanya bagus. Gumam saya dalam hati.

 

Kami di antar ke kamar dibantu Pak Satpam. Kok Pak Satpam? Iya, mungkin karena hotel baru yah, bell boy-nya belum ada. Jadilah Pak Satpam yang baik hati mengantar kami hingga ke kamar. Sambil membantu mebuka pintu kamar, Pak Satpam berucap, “Selamat istirahat Bapak dan Ibu, silahkan, pemandangan hotel langsung menghadap ke Lawang Sewu?” sambil tersenyum. Kemudian saya, “What??? Syerem dong.” Langsung bergegas ke jendela dan membuka tirai, “Ohmoooo…” saya dan Zaki sontak tertawa terbahak-bahak.

Pemandangan dari Kamar Hotel
Pemandangan dari Kamar Hotel, Bangunan Lantai 2 Lawang Sewu dan Bangunan Sebelah Hotel yang Kosong Sisa Kebakaran

Untuk hotelnya sendiri bagus kok, so jangan khawatir. Pagi-pagi pemandangannya bagus dan pelayanannya memuaskan.

 

Baiklah sampai di sini cerita perjalanan kami, besok kami akan lanjut ke Surabaya dan akan saya ceritakan di post berikutnya.

Senyumin Aja, Meski Ku Suka Manyun Juga :)

Tulisan ini saya tulis, ketika ada sebuah kompetisi apalah waktu itu dan lumayan masuk 10 tulisan terbaik. Meski katanya mau dibukukan, tapi sampai sekarang belum juga tuh. Hehehe. Ya sudahlah biar saja, yang penting saya jadi produktif menulis lagi.

Ini sebuah cerita salah satu perjalanan hidup saya yang lumayan seru. Berawal dari seorang teman yang curhat waktu nilainya kurang bagus saat kuliah S2 ini, dan mengeluhkan keadaannya yang harus sekolah sambil bekerja. Meski katanya sekolah dibiayai orang tua, tapi gak enak kalau resign. Kalau teman-teman cerita begitu, saya jadi ingat kalau saya pernah di kondisi seperti mereka. Kuliah sambil bekerja. Kenapa? Ya harus, kalau gak kerja, dari mana saya bayar kuliah? 🙂

Kalau mengingat kondisi waktu itu, rasanya sulit sekali saya membayangkan saya bisa sampai di titik hidup saya sekarang (belom apa-apa juga sih) tapi saya bersyukur banget banget, kalau melihat perjuangan saya yang bahkan menyelesaikan S1 ajah kok harus huuuuu haaaahhhh sekali. Cuma satu ajah sih, yakin keadaan bisa berubah hanya saya dengan sekolah. Demi keluarga, dan orang tua. Itu tiga cuyyyy… Hihihi… plis jangan ketawa bacanya.

Mau Kuliah Lagi Setelah Selesai D3

“Pak, aku maunya sih, sekolah lagi. Lanjutin S1, seperti teman-temanku si Rahma, Rifqy, dan Santi.” Curhatku ke Bapak siang itu, ketika sudah hampir dipastikan saya akan segera menamatkan kuliah saya di Politeknik Kesehatan Jakarta II Jurusan Farmasi.

Tiga tahun sudah akhirnya saya berhail menamatkan pendidikan di sana. Buat saya itu tidak mudah. Bukannya tidak suka, tetapi sepertinya kemampuan otak kiri saya semakin berkurang seiring dengan usia. Agak terengah-engah buat saya untuk bisa lulus mata kuliah ilmu pasti seperti Matematika, Fisika, ataupun Kimia. Tetapi, kalau sudah masuk mata kuliah berkenaan dengan obat dan fungsi saya bisa lebih mudah menerimanya dengan menggunakan logika berpikir. Menurut saya lebih mudah dibayangkan.

Waktu itu Bapak hanya menjawab, “Memangnya biaya untuk kuliah berapa? Tahun ini Bapak sudah pensiun lo.”  Sambil matanya menatap keluar jendela di ruang tamu.

“Ya sudah Pak, saya mau coba kerja saja. Nanti nabung sendiri buat lanjut S1.” Saya menutup pembicaraan dengan mencari jalan terbaik yang saya bisa. Padahal dalam hati saya sangat iri dengan teman-teman yang bisa melanjutkan kuliah. Mereka mendaftar di sebuah perguruan tinggi negeri program ekstensi di bilangan Depok, Jawa Barat. Tetapi saya buru-buru membuang jauh rasa iri itu. Ini mungkin jalan saya. Ingat, saya waktu itu memutuskan memilih program D3 Farmasi agar bisa selesai tepat waktu saat Bapak pensiun. Selain itu, agar cepat dalam mendapat pekerjaan. Jadi ya terima saja, toh waktu itu cita-cita saya, sesederhana itu. Ingin membantu ekonomi keluarga.

Bertepatan dengan saya menamatkan sarjana muda saya, bapak pensiun. Bersamaan pula dengan adik saya lulus SMU. Saya tidak boleh egois. Adik saya harus kuliah juga. Meski Ibu bekerja, pendapatan Ibu tidak seberapa untuk membiayai kuliah adik saya.  Uang pensiun Bapak tentu tidak cukup untuk membiayai saya melanjutkan sekolah ke jenjang strata satu yang tidak murah.

Tabungan? Jangan ditanya. Kami bukan keluarga berlebih yang mempunyai tabungan pendidikan, dana cadangan atau apalah seperti istilah perencana keuangan yang sedang ngetren saat ini. Bapak seorang Pegawai Negeri Sipil yang hanya tamatan SMU, belum ada yang namanya tunjangan kinerja, di tempat Bapak juga tidak ada dinas keluar kota. Ibu bekerja di Balai Kesehatan Masyarakat sebagai pegawai administrasi yang gajinya dicukup-cukupkan untuk biaya hidup kami, terutama sekolah.

Kami bisa sekolah melanjutkan kuliah, mungkin dengan pinjaman dari koperasi tempat Ibu bekerja. Kami makan seadanya dan hampir tidak pernah jajan makan di luar. Meski Ibu bekerja dan harus berangkat jam 05:30 setiap hari Senin-Sabtu, Ibu selalu menyiapkan sarapan pagi dan bekal kami untuk makan siang. Sepulang kerja jam tiga sore, Ibu langsung memasak, kadang juga menyetrika pakaian. Waktu itu kami sudah bisa membantu membersihkan rumah dan mencuci pakaian.

Diterima Kerja Pertama, Senangnya

Alhamdulillah adik saya diterima di Universitas Negeri Jakarta. Doa Ibu dan Bapak juga membuat saya bisa dengan mudah diterima disebuah industri farmasi di daerah Cikarang, Jawa Barat. Buat kami yang hanya lulusan D3, diterima bekerja di industri farmasi, merupakan suatu kebanggan tersendiri. Apalagi waktu itu saya belum resmi di wisuda. Teman-teman saya masih berjibaku mengirimkan surat lamaran kesana kemari, alhamdulillah saya sudah dapat pekerjaan.

Pendidikan saya yang hanya D3, tidak bisa membuat saya langsung bekerja sebagai karyawan tetap. Saya terikat kontrak dengan status “KKWT” alias “Karyawan Kontrak dengan Kesepakatan Waktu Tertentu. Untuk percobaan, saya dikontrak selama satu tahun. Kelanjutannya akan dinilai oleh atasan langsung. Apakah saya akan diangkat menjadi karyawan tetap ataukah saya diputus kontrak, yang berarti saya akan jadi pengangguran.

Semangat fresh graduate yang ingin membuktikan kemampuan, saya bekerja dengan giat. Lokasi kantor yang di luar kota, membuat saya harus datang pagi-pagi buta dan pulang saat matahari tenggelam. Belum lagi adanya shift yang mengharuskan saya pulang jam dua dini hari jika saya mendapatkan shift kedua. Satu lagi, jika produksi sedang tinggi, kadang kami juga melakukan long shift. Jam 7 pagi sampai jam 7 malam atau dibalik, jam 7 malam sampai jam 7 pagi. Seperti zombie rasanya waktu itu. Pagi hari tidur, malam hari harus bekerja. Belum lagi tuntutan dari atasan saya yang lumayan tinggi buat pemula seperti saya. Menurut beliau, di sini kami harus bekerja, bukan belajar, karena di sini kantor bukan universitas. Aduh, kalau ingat itu kadang suka senyum-senyum saja sih.

Meski terasa berat, saya tetap menjalani pengalaman kerja pertama saya dengan fun. Pertama, saya senang sekali, bekerja di industri farmasi, karena ilmu yang saya pelajari bisa benar-benar diaplikasikan. Bahkan ilmu saya tambah banyak. Belajar dari para senior dan apoteker-apoteker yang menurut saya mereka semua jenius sangat cinta pada dunia farmasi. Teman-teman di kantor juga hampir seusia. Beberapa kali kami mengadakan jalan-jalan bareng seperti ke Bandung dan Anyer. Pokoknya bahagia deh.

Hingga pada suatu hari, kontrak saya akhirnya diselesaikan, karena atasan langsung saya sepertinya kurang puas dengan kinerja saya. Entahlah mungkin ini saya yang salah. Saya tidak cepat beradptasi. Tapi akhirnya saya terima saja. Berat sekali hidup saya waktu itu. Setahun sudah bekerja lalu menjadi pengangguran lagi dan serasa kembali ke titik nol.

Sepertinya Sudah Lelah 

Mulailah saya mencari-cari pekerjaan lagi seperti baru lulus kuliah. Setiap minggu mengirimkan paling tidak sepuluh amplop melalui PT. Pos, pergi ke warnet mengecek situs pencarian kerja, dan berlangganan koran setiap akhir pekan.

Satu bulan menganggur, akhirnya saya diterima bekerja di sebuah Apotek di bilangan Pondok Gede. Gajinya tentu saja sedikit lebih rendah. Tetapi cukup besar untuk kelas Apotek waktu itu. Pengalaman saya bekerja di Apotek pertama kali, dinodai dengan paraktik kecurangan Apotek tersebut. Hati nurani saya berontak. Bagaimana tidak, saya harus mengganti obat pasien dengan generik, tetapi memberi harga dengan harga obat bermerek. Itukan sama saja dengan menipu. Sudah mereka sakit, membeli obat dengan harga yang tidak murah, eh kok saya malah mencurangi. Hanya satu bulan, saya pun mengundurkan diri, dan diterima bekerja di sebuah Apotek jaringan di Menteng Jakarta Pusat.

Saat bekerja di Apotek jaringan ini, saya bekerja dua shift. Shift pagi jam 08:00 hingga15:00 dan shift siang jam 14:00 hingga jam 21:00. Waktu yang fleksibel, terlintas di pikiran saya untuk kembali ke bangku kuliah. Setelah meminta izin teman-teman dalam pengaturan shift.

Akhirnya Kuliah Lagi, S1

Saya sadar, hanya pendidikan yang bisa mengubah nasib saya. Kalau pendidikan saya hanya D3, akan selamnya saya menjadi bawahan. Akan selamanya saya tidak mempunyai jenjang karir jika bekerja di bidang farmasi.

Berbekal tabungan saya yang pas-pasan, saya nekat mendaftar kuliah. Tabungan saya cukup membiayai kuliah saya selama 2 semester. Saya mengambil kuliah di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jurusan Farmasi. Alasan saya memilih kuliah disitu yang pertama karena lokasinya tidak jauh dari rumah saya. Kedua, waktunya bisa fleksibel, bisa pagi dan sore hari. Dengan begitu tidak mengganggu jam kerja saya.

Jika saya bekerja masuk pagi, sore hari saya langsung ke kampus. Kuliah hingga jam delapan malam. Sebaliknya jika saya kerja siang, maka jam tujuh pagi saya sudah di kampus. Belum lagi tugas, kuis, dan ujian yang tidak ada toleransi meski bekerja. Sering saya mencuri-curi waktu di Apotek jika sepi pengunjung untuk belajar atau mengerjakan tugas. Kuliah farmasi juga disibukkan dengan praktikum. Mengerjakan jurnal sebelum praktikum dan membuat laporan sesudahnya. Buat saya itu luar biasa. Sepertinya otak saya diminta tidak berhenti selama empat belas jam.

Perjuangan akan lebih berat jika ujian tiba. Pernah saya terlambat datang ujian karena kereta atau pun lalu lintas macet. Jarak apotek dan kampus lumayan jauh. Di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Pernah saya menangis, ketika paginya saya kuliah, lalu siang bekerja. Pulang malam, naik kendaraan umum lalu turun hujan dan badan basah kuyup. Waktu itu saya merasa Tuhan tidak adil. Kenapa harus saya, teman-teman saya tidak susah-susah amat seperti saya untuk bisa menyelesaikan S1. Waktu itu yang membuat saya tambah sedih, ketika Ibu ikutan menangis. Ibu selalu sabar menunggu saya di rumah. Hanya bisa menghibur saya dengan kata-katanya. “Kamu harus kuat Rin, inikan maunya kamu. Kuliah sambil bekerja.” Biasanya Ibu bilang begitu, saya makin kencang menangis dan langsung ambil air wudhu buat sholat dan mengadu ke Tuhan.

Saya harus kuat, perjuangan ini belum selesai. Sering saya berpikir untuk tidak bekerja saja dan fokus di kuliah. Tetapi dari mana nanti saya bayar kuliah, darimana untuk membeli pulsa. Jauh-jauh dari mall deh. Beli buku pun hanya sebatas buku kuliah. Tidak ada pos untuk membeli novel yang menjadi bacaan favorit.

Meski saya bekerja, saya tetap mengusahakan agar Indek Prestasi Kumulatif saya lebih dari tiga. Berbagai jalan saya lalui. Berusaha bergaul dengan teman-teman yang hanya fokus kuliah untuk mencari informasi bahan kuliah ataupun kumpulan-kumpulan soal menjelang ujian. Pokoknya meski sibuk kuliah tidak boleh asal-asalan. Bagaimana bisa untuk modal melamar kerja jika nilai IPK saya jelek.

Tidak selesai di urusan kuliah dan bekerja, ternyata ada lagi ujian di hidup saya. Apotek jaringan tempat saya bekerja dinyatakan bangkrut. Menurut saya sih karena salahnya manajemen. Tetapi entahlah saya tidak tahu menahu urusan itu. Saya kemudian pindah bekerja di Apotek di Kali Malang. Lucunya pembayaran gaji di sini dicicil  Tidak sampai satu bulan saya mengundurkan diri dan pindah ke sebuah rumah sakit di Bekasi.

Alhamdulillah diterima CPNS

Diantara carut-marut pekerjaan dan kesibukan kuliah, saya iseng-iseng menguji nasib untuk ikut tes CPNS di sebuah Kementerian. Mungkin waktu itu Tuhan sudah lelah mendengar tangisan dan keluhan saya, dan setelah melalui tes di Stadion Utama Senayan, saya dinyatakan lulus. Alhamdulillah, waktu itu tidak bisa digambarkan bagaimana bahagianya Ibu saya. Mungkin ini semua atas doa beliau.

Saya akhirnya bekerja di  Kementerian sambil menjalani  kuliah saya yang  tinggal dua mata kuliah dan tugas akhir alias skripsi. Meski pekerjaan saya cukup membuat saya nyaman, ternyata justru disinilah saya mengalami kesulitan mengatur waktu. Pekerjaan saya mengharuskan saya sesekali bertugas ke luar kota. Kalau sudah begitu, berat sekali untuk harus izin kuliah. Di lain sisi, di kantor saya masih anak baru yang belum punya hak suara, apalagi menolak perintah.

Di saat semangat kuliah yang menurun padahal tinggal selangkah lagi, tidak lelah Ibu memberi dukungan agar semua perjuangan saya kemarin tidak sia-sia. Terhitung satu tahun lamanya saya mengerjakan tugas akhir alias skripsi. Untuk menyelesaikan skripsi, saya mempunyai rekan yang tidak kalah sibuknya dengan saya. Positifnya kami bergantian memberikan motivasi. Pokoknya harus selesai. Ini tinggal sedikit lagi. Kalau melihat semua yang sudah kami lakukan dalam kuliah dan bekerja, sangat tidak rela jika kuliah ini tidak selesai.

Waktu itu, alhamdulillah saya juga punya kesibukkan baru, yaitu menyiapkan pernikahan. Calon suami yang sekarang sudah menjadi suami saya, juga ikutan direpotkan. Menemani saya di laboratorium sampai malam, ataupun ikutan wira-wiri menemui dosen pembimbing. Alhamdulilah akhirnya saya sidang dan dinyatakan lulus. Waktu itu hanya bisa bilang alhamdulillah dan akhirnya selesai juga.

Setahun lulus S1, saya kembali melanjutkan pendidikan profesi Apoteker di perguruan tinggi yang sama. Seperti dejavu, aktivitas pagi hari bekerja, sorenya kuliah hingga malam berulang. Kali ini ditambah mengurusi rumah tangga.

Pendidikan profesi tidak hanya belajar di bangku kuliah tetapi ada Praktik Kerja Profesi (PKP) di Rumah Sakit, Apotek, dan Instansi. Ketika PKP di Rumah Sakit selama 10 hari dan Apotek 1 bulan, hampir setiap hari saya harus naik taksi atau ojek dari kantor agar tidak terlambat.

Tidak terhitung biaya,waktu, dan tenaga yang dikorbankan. Apakah itu semua demi gelar? Buat saya perjuangan yang dilalui tidak sesederhana demi sebuah gelar. Saya haus akan ilmu dan orang tua saya yang selalu mengingatkan, kalau mereka tidak pernah bisa memberi apa-apa selain membekali saya ilmu. Iyah, sekolah. Ibu dan Bapak akan melakukan apa saja agar saya dan adik bisa terus sekolah.

Pendidikan D3 saya membuat saya terpacu untuk melanjutkan ke S1 dan ketika sudah selesai S1, alhamdulillah Pak Bos di kantor mendukung untuk saya nyambi kuliah  program profesi Apoteker. Alhamdulillah selesai dengan nilai yang lebih memuaskan dibanding S1 🙂

Lima tahun setelah Apoteker, alhamdulillah dapat rezeki buat lanjut S2. Kali ini gratis dibiayai negara. Bersyukur sekali rasanya.

Oh iya, waktu itu, tema tulisan ini untuk lomba dengan tema perjuangan demi gelar. Kalau buat saya sekarang, apalah arti gelar yang kita miliki jika tidak diiringi dengan peningkatan akan manfaat kehadiran diri kita di dunia. Pekerjaan saya kali ini mungkin tidak begitu mengaplikasikan praktik langsung ke masyarakat, tetapi dengan ilmu yang saya miliki, saya masih bisa menjawab jika keluarga, teman, ataupun kerabat yang bertanya sedikit tentang obat.

Saya tidak pernah menyesal dengan semua yang saya lalui. Saya bersyukur bisa bekerja di industri, apotek, dan rumah sakit dengan segala suka duka ceritanya. Saya beruntung dan lebih mudah dalam menjalani kuliah profesi, karena saya sudah pernah terjun langsung. Saya beruntung dengan segala yang saya lalui, itu yang menempa saya dan membuat saya tidak cengeng. Yah sesekali cengeng boleh lah :).

Semua perjuangan tersebut semakin menguatkan saya. Saya ingat ketika dalam berdoa saya tidak minta untuk dimudahkan urusan, saya hanya minta Tuhan menguatkan saya. Menjadikan saya pribadi yang kuat dan tidak cengeng dalam menjalani semua takdirnya. Seperti salah satu ayat alquran favorit saya. “Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.”

Buat teman-teman yang masih pusing dengan sekolah, skripsi atau apalah itu, yakin, semuanya akan lewat dan akan tersenyum pada waktunya.

Tersenyum di Ha Long Bay
Senyumin Ajaaa

 

 

10 Hal, Ketika Saya Kembali Jadi Mahasiswa

Hai hai blog… apa kabar? Saya kangen banget nulis hal-hal yang receh gak pakai mikir nih. Alhamdulillah nyolong-nyolong waktu buat nge-blog, meski UTS di depan mata. Disela-sela kebosanan memandang layar laptop yang selalu bahan kuliah. Hihihihi…

Tulisan ini di draft ketika menjelang Ujian Tengah Semester coba. Berhubung menggilanya tugas dan belum ada fotonya kemudian diundur-undur dan ini saya edit ketika sudah liburan semesteran coba. Hehehehe. Baiklah kita langsung sajah.

Bukannya saya gak bersyukur yah, tapi proses transisi dari kehidupan yang awalnya sudah nyaman dengan hanya kerja dan mengurus rumah tangga, ke kehidupan kuliah yang segudang tugas, kuis, presentasi, dengan limit waktu yang terbatas, membuat saya seperti kekurangan waktu dalam sehari. Agak berlebihan memang, tapi ya memang demikian. Belum lagi saya anaknya yang memang tidak terlalu kompetitif, agak lemot,  dan terhitung santai. Hihihihi.

Perubahan ritme hidup perlahan harus saya bisa kendalikan kalau saya tidak mau kalah oleh keadaan. Halah. Apasih. Iyah mau gak mau saya harus memecut diri saya, untuk lebih semangat, giat, dan mencoba tetap menikmati kehidupan yang dengan sadar sudah saya pilih ini. Iyah alhamdulillah saya dapat tugas belajar dari kantor kuliah S2 di Depok sana. Insyaallah kalau lancar sekitar dua tahunan lah ya…

Berikut ada beberapa hal yang berubah dalam hidup saya, ya kira-kira bisa dibilang sebagai suka dan duka yang saya rasakan dalam masa transisi kembali menjadi mahasiswa :

1.Janji Mau Nge-blog Seminggu Satu Kali Tinggalah Janji Belaka

Tampilan beranda scele (web kampus UI)
Berikut halaman wajib yang harus rajin ditongkrongin selama ini. Menggantikan wordpress.

Jadi ya, waktu awal kuliah itu, kan saya dapat jatah libur satu minggu dua hari, yaitu Senin dan Kamis. Nah, hari-hari libur itu mau saya optimalkan dengan meningkatkan produktivitas blog saya. Awalnyalah saya mau bikin jadwal topik, sampe harus rajin nge-draft.

Eh ndilalah, setelah kuliah berjalan, lah kok ya, tiap mata kuliah itu selalu ada tugas. Tugasnya itu ndak Cuma menjawab soal begitu, tapi ya nulis. Topiknya apa? Beuh jangan ditanya, topiknya bsurd banget buat saya yang memang tidak terbiasa menulis topik-topik berat. Palagi cara penulisan harus ilmiah dan jangan sampai ketahuan plagiat. Harus cermat melihat sumber dan menuliskannya kembali ke dalam tulisan. Kalau ketahuan plagiat, bisa dilumat abis sama Dosennya. Hihihihi.

Belom lagi yah kalau sudah dibuat dalam bentuk tulisan ya nggak dengan enaknya pun ngumpulin. Ya harus dibuat power point-nya untuk dipresentasikan. Belum lagi sebelum dipresentasikan harus di acc oleh dosennya dulu. Bayangin harus ngejar dosennya, nungguin dosennya belom benerin revisi. Sementara itu tugas gak cuma satu mata kuliah jendral.

Bagaimana dengan materinya? Karena menurut dosennya ini kami mahasiswa S2 gak perlu banyak-banyak dikasih materi. Jadi kami hanya dikasih masalah lalu disuruh menganalisa dan menelaah. Ya ampun, pokoknya semua harus dipikirin dan bisa dipertanggungjawabkan. Ya kalau salah atau gimana gak papah sih, namanya belajar, tapi ya siap-siap agak malu aja kali yah.

Selain mata kuliah yang macam itu, selalu menganalisa dan membuat tulisan, adalagi mata kuliah yang bobotnya cukup besar mau masukin ke dalam otak saja, susahnya minta ampun-ampunan deh. Belum lagi setiap pertemuan kuis dan kuis, presentasi dan presentasi.

Iyasih, tiap minggu memang saya produktif menulis, produktif sekali. Itu nulis untuk tugas kuliah tapinya. Topiknya buanyak banget. Kalau saya tulis di blog, aduh bisa bosan nanti bacanya.

Dalam hati kecil saya sih, saya masih mau banget berusaha menjaga ke-istiqomahan blog saya meski apapun itu yang saya tulis. Liburan? Aduh nanti dulu lah. Semoga libur semester nanti saya bisa liburan dan menulis tentang traveling yang seru banget itu.

Nah rajinnya jadi rajin nongkrongin web kampus buat melihat tugas apalagi gerangan yang akan menghampiri. Hehehe. Soalnya suka mengejutkan mepet-mepet gitu sih.

2. Mata Suka Bergetar dengan Sendirinya

Awalnya saya suka aneh kenapa ini mata sebelah kanan suka bergetar sendiri. Buka-buka primbon kok malah aneh. Hehehehehe Ternyata hal tersebut termasuk gejala mata lelah. Misalnya terlalu banyak menatapa layar komputer atau hape. Iyah tubuh saya pun sebenarnya memberikan sinyal cukup bagus untuk saya agar jangan lupa istirahat.

3. Jarang Update Instagram tapi Sering Curhat di IG-Stories

IG Stories Wahyu Eka Arini
Berikut contoh curhat dan nyinyir saya lebih tepatnya di IG stories. Hihihihi

Buat saya feed Ig saya itu ya foto-foto traveling saya atau foto yang bagus seputar perjalanan yang bercerita. Nah kalau yang model kuliah begini diceritain fotonya kek mana yah? Sepertinya semua orang kok yah mengalami.

Memang sih saya jarang banet posting di IG yang isinya curhat tentang keseharian atau daily activity. Males ajah. Maunya itu yang ceritanya seru. Seru buat saya itu ya cerita liburan atau kehidupan, gak melulu tentang keluhan kayak yang sering terjadi belakangan. Makanya saya upadate di IG stories ajah yang usianya cua 24 jam gak perlu dilihat-lihat lagi. Memang gak penting soalnya. Uhmmm…

4. Jarang Masak Apalagi Moto Masakan Kemudian Upload di Sosmed

Pisang Nugget Nutella
Iya meski jarang masak di hari kuliah. Weekend kadang masih iseng bikin cemilan kekinian. Penasaran soalnya.

Padahal kan yah, namanya lagi sering di rumah, gak ngantor, idealnya kan masak yah sebagai isteri yang baik. Kenyataannya, sekarang kalau bangun tidur abis shubuh langsung buka laptop. Sampai di rumah sore bebersih, langsung buka laptop. Mana sempat masak. Kalaupun sempat masak, ya kemudian langsung dimakan sampai lupa garnish ini itu buat dipajang di IG. Udah keburu lapar soalnya. Hihihihi…

5. Jam Tidur Berubah Lebih Malam

Kalau ketika kerja saya abis isya bisa leyeh-leyeh nonton TV di sofa ataupun sekedar menikmati the art of doing nothing. Nonton film favorit atau menertawakan apapun itu, sampai akhirnya ketiduran, sekarang beuh boro-boro deh. Pulang kuliah langsung buka laptop, sampai mata bergetar itu tadi batasnya. Maksimal saya hanya kuat sampai jam 23:00. Lewat dari situ, bukannya mata yang gak bisa melek, tapi otak pun sudah enggan diajak berpikir. Badan udah gemeretek. Mau gak mau, biar gak jadi sakit, harus tidur. Setel weker jam 4 biar gak kesiangan Shubuh-annya.

Dari zaman masih sekolah sampai kuliah di tiga tempat, sumpah belom bisa yang namanya begadang. Mungkin saya penganut aliran Bang Oma sejati. Begadang jangan begadang. Meski ini ada artinya. Emang gak kuat sih. Hihihi… Makanyah nilai akademis saya standar. Mungkin memang perjuangan saya kurang yah… gak kaya rang-orang ituloh. Minum kopi bercangkir-cangkir demi nilai A. Saya mah… gimana besok sajalah, wong badan minta ditidurin kok. Piye dong. Walhasil IP yang penting cukup buat ngelamar kerja, jadi PNS. Payah banget jangan ditiru lah.

6. Sudah Jarang Baca Novel

Rini di depan Rektorat UI
Jarang ke toko buku baca novel, tapi masih berusaha bahagia, dengan bersepeda keliling kampus 🙂

Yaelah… kok gimana yah. Selama bergelut kuliah, saya kangen banget sama yang namanya membaca novel. Palingan yah blog walking di hape aja sih.  Dua bulan ini ditahan-tahanin biar gak beli novel, gak ke Gramedia. Padahal Gramedia tinggal kepleset dari kampus. Mau bekal buku apa gitu buat di jalan aja kok yah merasa kayak aku selingkuh dengan dunia kampus. Nanti kualat. Gak bisa jawab kuis. Iyah, bukannya baca buku kuliah wong mau UTS atau kuis malah enak-enak baca buku apa itu.

Huhuhu segitunya yah saya… Tapi kemarin nekat dong, gak ada dosen, saya pun pergi ke Gramedia dan dapat empat buku. Satu novel, satu bukunya Gita Savitri, satu bukunya Paulo Coelho dan yang terakhir buku buat siraman rohani yang berjudul Me+Good = Enough. Hahahhaha. Mungkin saya takut depresi jadi mulai mencari self healing melalui bacaan yang saya baca itu. Kemudian dalam waktu  dua minggu sudah selesai tiga buku. Hihihihi. Itu ditahan-tahanin sih soalnya. Kalau gak bablas.

7. Jarang Belanja Online

Mie Yamin Cijantung Kopasus
Ini mie yamien enak bangettttt….

Alhamdulillah ini mah yah. Berusaha menurunkan nafsu belanja hal-hal yang gak penting. Fokus pada kebutuhan yang benar-benar penting selama kuliah. Budget belanja jadi budget buat beli es kopi dan makanan. Hahahahaha sama ajah dong itu mah. Beneran sih. Alhamdulillah bisa menahan dari godaan sale jilbab di IG ataupun baju-baju lucu. Duitnya buat beli es kopi biar bisa ganjel mata yang ngantuk-an ini. Sesekali jajan mie yamin endeus di Cijantung pas pulang kuliah mampir ke rumah Orang Tua. Itu dah bikin bahagia banget. Hihihihi

8. Kecanduan Kopi

Kolary Kopi
Andalan ketika kuliah tiga SKS, biostatistika pula dan kemudian dosennya minta tambahan waktu karena kemarin beliau gak masuk 😦

Iyah jadi ceritanya gini, ada teman sekelas di mata kuliah yang super duper menuntut fokus tinggi yaitu Biostatistika yang punya warung kopi gitu. Plusnya lagi, beliau pun mantan barista dan orang Gayo. You know what i mean kan yah… Kopi Gayo itu memang kopi premium, gak bisa dibandingin sama kopi sachet-an itu kan yah.

Beneran dong aduh itu kopinya bikin nagih banget. Belum lagi yang manisnya pun gak terlalu, kopinya tebal, agak asam, dan ampuh banget buat saya. Ampuh maksudnya bisa bikin mata melek. Itulah why kopi sachet gak berpengaruh di saya. Buat saya kopi sachet itu seperti air gula warna coklat. Iyah, manis ajah kebangetan, no effect to my body beside can make my blood sugar rate higher, I think. Hihihihi sorry not sorry nih.

9. Cuek Rumah Berantakan

Awalnya tuh yah, pengen banget tiap hari bisa nyapu dan mengepel. Kalau bisa lagi bikin-bikin DIY hiasan rumah yang lucu-lucu gitu kaya para selebgram. Kenyataannya, keinginan hanya tinggal kenangan, dan kupun malas sekali. Sampai kadang di kuat-kuatin ajah cuek lihat rumah kayak kapal pecah.

Suami untungnya gak komplain dan maklum banget sama isterinya yang lagi khusyuk ngerjain tugas. Malah dia yang lebih aware misalnya kerangjang cucian kotor sudah penuh dan dengan sukarela memasukkannya ke mesin cuci. Iyah, Suamiku yang nyuci deh. Ya Allah… nikmat mana lagi yang kau dustakan. Makasih banget dikasih suami yang gak risih mengerjakan pekerjaan rumah. Alhamdulillah

10. Mengenal Karakter Teman Lama dan Teman Baru

Kebijakan Hukum Kesehatan 2017
Teman-teman satu perjuangan di satu peminatan Kebijakan Hukum Kesehatan

Untuk yang ini agak lumayan panjang dan sepertinya bisa ditaruh satu judul sendiri sih yah… hahahaha. Dasar julid saya mah yah, sukanya mengomentari kelakuan manusia. Eh nggak, maksudnya dengan begitu kita bisa belajar kan yah. Belajar mengenali watak manusia yang sangat beragam. Bukannya dengan demikian makin menambah kekaguman kita sama Allah, kalau semua itu cipataanNya yang mau tidak mau, suka tidak suka kita harus bisa hidup berdampingan. Hehehehe…

Sekian curhatan saya yang sangat tidak berfaedah ini. Seneng ajah, akhirnya saya bisa nulis lagi yang gak melulu isinya tugas kuliah. Cuma curhatan sih, gak penting buat yang baca, tapi penting banget buat saya untuk membuat saya tetap sehat secara mental. Wkwkwkkwkwk…

Staycation di Hotel Bintang Lima di Pulau Bali

Pengalaman yang akan saya tulis kali ini adalah pengalaman staycation saya di sebuah hotel bintang lima di Bali. Kalau kalian mau tahu ceritanya kok bisa-bisanya saya yang gak kaya-kaya amat 🙂 ini bisa staycation di hotel bintang lima di kawasan elit lagi. Bukan kawasan hostel-hostel para backpacker di daerah Kuta. Kawasan ini juga tepat Raja Salman ketika berkunjung ke Pulau Dewata.

Kok bisa? Oke, kalau mau tahu ceritanya, bisa baca di sini :

Gak Ada yang Enak-enak itu Cuma-cuma Begitu Saja

Janji yah, jangan ketawa. Pokoknya banyakan senangnya kok dan dengan begitu saya jadi punya pengalaman deh staycation di hotel bagus di Bali.

Kamar Hotel yang Luas Meski Agak Spooky

Novotel Bali
Kamarnya Luas dengan Pencahayaan yang Sedikit Sekali

Waktu itu kami mendarat di Bali sudah cukup malam. Letak hotel kami yang tidak terlalu jauh dari bandara, ya kami tidak masalah meski fasilitas penjemputa sudah tidak ada. Kami beruntung sudah ada yang namanya taksi online, meski kami harus sedikit kucing-kucingan dengan taksi resmi di Bandara. Ya, jadi kami naiknya bukan dari terminal kedatangan, tapi dari terminal keberangkatan.

Kami juga diminta tidak terlalu sibuk memegang handphone dan seolah-olah kami dijemput dengan kenalan bukan dengan taksi online. Memang, keberadaan taksi online di Pulau Dewata ini belum diterima baik dengan pengusaha taksi konvensional setempat. Jangankan taksi online milik asing seperti Uber atau Grab, wong taksi konvensional burung biru yang jelas-jelas milik orang Indonesia saja dibatasai pergerakannya. Yeah this is my country, Indonesia.

Tiba di hotel, kami menuju resepsionis dan langsung diantar ke kamar yang memang agak jauh dari lobby hotel. Kamar kami terletak di bangunan yang terletak di lantai kedua. “Whoaaa…” hanya itu kalimat yang bisa saya ucapkan sambil mendengar Bli yang mengantar kami memeberikan penjelasan sedikit tentang kamar yang akan kami tinggal selama dua malam kedepan.

Bentuk kamar kami model apartemen dengan satu kamar, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar mandi dan ruang laundry. Kumplit sekali. Bahkan menurut syaa untuk kami berdua, ukurannya terlalu besar. Ada balkon menghadap ke kebun belakang juga.

Pencahayaan yang tidak terlalu terang, ditambah beberapa benda seni seperti patung tubuh wanita tanpa kepala, lukisan wajah yang sangat mirip dengan aselinya, dan hiasan dinding kepala sang Budha membuat saya yang memang penakut agak berasa gimana gitu. Hehehe. Iyah suasana malam membuat kamar itu memang agak spooky.

Menikmati Private Beach dan Spa 

Keesokan paginya, saya memaksa Zaki untuk menikmati sunrise di private beach hotel yang memang letaknya bersebrangan dengan letak hotel. Jadi, kami harus berjalan kira-kira tiga ratus meter untuk ke pantai. Menikmati kecantikan lingkungan hotelnya yang ngademin hati.

Novotel Hotel Bali

Tiba di pantai, ada seorang tokoh masyarakat setempat sedang melakukan sembahyang tepat di pintu masuk pantai. Pagi itu pantai sepi banget. Hanya ada kami dan dua orang karyawan hotel yang sedang membersihkan pantai. Eh, ada pengunjung juga satu orang Ibu-ibu usia paruh baya yang ternyata salah satu Direktur Rumah Sakit Umum di Yogya. Cerita punya cerita beliau juga ikutan program menginap sama seperti kami loh. Hehehe.

Private Beach Novotel Bali

Private Beach Novotel Hotel Bali
Private Beach Novotel Hotel Bali

Private Beach Novotel Hotel Bali

Pagi di pantai itu, kami menikmati matahari pantai dengan berjalan membasahi kaki sebatas lutut dengan air laut. Kami memilih tidak berenang karena tepat jam delapan kami harus sudah duduk rapi di ruang pertemuan.

Kami berjalan ke arah hotel tempat Raja Salman menginap. Penasaran dengan bangunan yang dipagari bambu itu. Terpasang tangga dari halaman hotel hingga ke pantai. Baru saja kami ingin mendekat dengan menaiki tangga, seorang pria berpostur kekar menggunakan setelan jas hitam menghardik kami. Meminta kami segera menjauhi area pantai hotel.

“Okey Sir, we just took a picture. Thank you Sir.” kemudian kami bertiga menjauh dari area pantai terlarang tersebut. DI sekitaran pantai kami juga sempat bertemu dengan TNI Angkatan Laut yang sedang malakukan tugas pengamanan di sepanjang area pantai.

Perjalanan kami kembali ke hotel dari pantai, kami bertemu dengan Bapak Satpam yang berasal dari NTT. Bapaknya cerita banyak, daerahnya sudah semakin bagus karena pembangunan mulai terasa. Seperti bandara, jalan, dan lain-lain. “Bangga dan kagum sama Pak Presiden kita.” katanya lagi. Alhamdulillah.

Bapak Penjaga Keamanan
Pak penjaga kemanan Padang Golf yang bersebelahan dengan hotel dari Flores NTT

The Real of Me Time, Ditraktir Spa

Oke, mari kita skip acara yang super penting yang kami ikuti pagi hingga siang hari itu. Nah sekarang waktunya kami menikmati staycation. Setelah makan siang di warung nasi ayam Ibu Oki, saya dapat kado spesial meski waktu itu yang ulang tahun Zaki, dia kasih saya hadiah voucher spa di hotel siang itu. Asiiikkkk….

Zaki tidur siang, saya meluncur ke tempat spa yang dari luar saja sudah adem benerrrr… Beruntung siang itu, saya juga tidak perlu antri jadi langsung saja.

Spa House Novotel Bali
Tampak Depan Tempat Spa-nya

Teras Spa Novotel

IMG_0275
Itu ranjangnya dan di balik tirai itu buat berendam nanti

Memasuki kamar yang tentu saja dengan wangi aromaterapi khas Bali yaitu bau kayu cendana membuat cuaca siang di luar yang terik sama sekali tidak terasa. Hawa sejuk dari mesin pendingin dan interior kamar yang artistik membuat saya agak rileks.

Setelah berganti pakaian saya tiduran di sebuah ranjang khusus spa. Mbak-mbak yang siang itu memijat saya tidak terlalu suka ngobrol sepertinya. Obrolan hanya terjadi satu arah. Oke, saya memilih menikmati pijatan mbak-nya saja sambil menahan rasa kantuk yang amats angat. Berusaha menikmati setiap detik waktu yang sudah dibayar mahal Pak Suami. Wkwkwkwkwkwkwk…

Selesai spa, saya kemudian berpindah untuk badan saya dipanaskan. Seperti masuk ke dalam mesin cuci yang isinya uap panas. Uap panas tujuannya membuka pori-pori kulit agar bahan lulur meresap paripurna ke dalam kulit dan maksimal bekerja. “Panasnya booo…” Sumpah gerah banget. Lamanya waktu itu lima belas menit saja.

Selesai badan saya di uap, kemudian saya diminta berendam di kolam busa yang terletak di luar dibataskan sebuah pintu yang merupakan akses langsung ke tempat pemandian. Syahhhh pemandian. 🙂 Beralaskan langit dan dikelilingi tanaman bambu yang menutupi dinding. Seolah sedang mandi di tengah hutan. Aduh rileks banget pokoknya. Seolah masalah dalam hidup terhempas begitu saja. Hehehehe.

Bathtub Spa

Tidak terasa, satu setengah jam yang bisa saya sebut sebagai rekreasi jiwa dan raga ini seslesai. Saya lumayan puas dengan layanan spa hotel ini siang itu.

Berenang-berenang Cantik di Kolam Bareng Bule-bule

Swimming Pool Novotel Bali
Swimming Pool nya keren banget

Bali Novotel HOtel Swimming Pool

Menjelang sore, selesai spa saya menggeret Zaki untuk bergerak. Malas untuk fitnes atau lari, kami memutuskan untuk berenang saja. Iya, berenang. Sambil sesekali leyeh-leyeh di pinggir kolam minum jus semangka dan makan kentang goreng.

Sore itu kolam renang ramai dengan keluarga bule yang kalau saya dengar dari logatnya kebanyak bulek Australia sih. Ya ampun anak-anak kecil dah pinter-pinter banget berenang. Serunya lagi mereka ramah banget. Menyapa saya ketika bolanya terlempar ke arah saya dan tersenyum manis.

Menikmati Sarapan Pagi yang Agak Mewah

Kapan lagi sarapan mewah kalau nggak di hotel. Bintang lima lagi, Hehehe. Makanan enak dan pemandangan taman hotel yang bermandikan matahari pagi itu, perpaduan yang sempurna.

Uhm… akhirnya berakhirlah pengalaman menikmati hotel mewah buat saya. Seru, meski saya tahu gak ada sesuatu di muka bumi ini yang benar-benar gratis. Kemewahan yang dibayar mendengarkan ocehan marketing dan mengikhlaskan waktu kami di Bali untuk mendengarkan marketing jualan produknya.

Happy diajakin liburan meski singkat banyak cerita
Happy diajakin liburan, meski singkat banyak cerita

Puncaknya, ketika kami ingin kembali ke Jakarta, dan fasilitas antar ke bandara yang tidak disediakan pihak hotel. Pihak hotel bilang itu tanggung jawab biro perjalanan yang meski satu grup mempunayi manajemen yang terpisah dari hotel. Oke baiklah, malas berdebat kami kembali pesan taksi online untuk ke bandara. Di bandara pesawat kami harus rela delay karena  bersamaan dengan Raja Salman meninggalkan Indonesia. Plus buku “Lembaran-lembaran Pelangi” nya Nila Tanzil yang sedang saya baca tertinggal di bandara.

Kalau sudah begitu, kira-kira, saya untung apa rugi sih??? Auk ah… Sudahlah apa-apa jangan di hitung-hitung untung atau rugi. Paling penting semua memperkaya pengalaman dan  ada bahan buat nulis blog. Wkwkwkwkwk.

IMG_0395
Pemandangan di Bandara Ngurah Rai

 

 

“Korban First Travel?” Iyah, Saya :)

“Sesekali saya mau nulis yang kekinian ah… Apayah?” Begitu yang ada dalam benak saya belakangan ini. Sibuknya dunia awal perkuliahan saya, dengan jadwal satu hari weekend, mau gak mau ya jadi agak susah buat jalan-jalan dalam jangka waktu lama. Mungkin nantilah pas libur kuliah semesteran. Berawal karena hal itulah, saya jadi semangat buat nulis yang kekinian. Meski dengan menulis ini membuka aib “kebodohan” saya sendiri sih. Gak papalah, selain buat dokumentasi arsip pribadi, semoga bisa jadi pelajaran juga buat pembaca blog saya.

“Korban First Travel? Kok Bisa?”

Waktu itu di tahun 2016, alhamdulillah saya ditugaskan dari kantor ke Arab Saudi sebagai tim penerima obat yang akan digunakan jamaah haji Indonesia. September 2016 setahun lalu tepatnya.

Ini oleh-oleh tulisan saya waktu itu : Makanan Khas Arab yang Yummy (Worktrip Arab Saudi Part 2)   

Selama tujuh hari berada di Arab, tentu sangat berkesan sekali buat saya. Bagaimana tidak? Menginjakkan kaki di tanah haram adalah impian setiap umat muslim di manapun. Meski ketika itu tentu waktu saya sebagian besar ya buat bekerja tetapi kami tetap menyempatkan diri untuk beribadah di tanah berdirinya kiblat umat muslim seluruh dunia.

Kenangan spiritual ataupun duniawi sangat membekas. Hingga terbesit keinginan untuk suatu saat saya bersama suami akan bisa bersama-sama beribadah ke Mekkah. Singkat cerita, salah seorang teman saya yang juga berangkat saat itu menceritakan pengalaman umrohnya bersama suami dengan biro perjalan yang terbilang biayanya cukup murah.

“Iyah, enak kok, kemarin gue sama suami bareng Kak Naningnung nengnong tuh malah tiap tahun.” bebernya lagi mempromosikan sebuah biro perjalanan umroh yang kemudian akan dibekukan pemerintah di pertengahan 2017

Iya, disitulah saya mulai tergerak penasaran dengan yang namanya First Travel. Agak bimbang terus terang saya waktu itu, hingga Bos saya, juga bercerita beliau sudah dua kali berangkat umroh dengan biro perjalanan yang sama, First Travel. Bergeser ke ruangan sebelah, teman saya sejak kuliah, sebut saja Mawar menceritakan bahwa dia dan suaminya baru melakukan umroh dengan lagi-lagi First Travel. Tidak hanya Mawar ternyata di ruangan tersebut, ada juga Ibu Titi Teliti dan Pak Anwar Fuadi dan keluarganya.

Mereka semua saya tanyakan bagaimana bisa umroh dengan budget minim di sana? Bagaimana hotelnya? Bagaimana cateringnya? Bagaimana pelayanan-pelayanan lainnya. Mereka kompak menjawab bagus dan memuaskan. Tentu saja disesuaikan dengan uang yang sudah mereka bayarkan, pelayanan terbilang bagus.

Perlu diketahui, sebelumnya saya bermaksud menawarkan kedua orang tua saya buat umroh. Tidak dengan First Travel dengan biro perjalanan lainnya. Sudah jelas tanggal berangkat dengan harga lebih mahal tentunya. Kalau waktu itu First Travel 14 jutaan, biro perjalanan tersebut menawarkan di harga 22 juta sekian sekian. Kemudian Ibu dan Bapak memilih menggunakan dana tersebut untuk daftar haji. Baiklah Ibu dan Bapak kemudian daftar haji dan masih dalam proses mengantri.

Berbekal pengalaman saya di Arab ketika dinas, saya pikir kami (saya dan suami) masih usia yang cukup sehat untuk beribadah di sana meski dengan biaya yang murah sekalipun. Mumpung masih muda. Gak papahlah, toh kemarin saya bisa kok ketika dinas ke Mekkah naik taksi atau mau ke pasar mau beli apa secara mandiri tanpa biro atau agen perjalanan.

Bismillah, saya meminta suami untuk mendaftar ke kantor First Travel di daerah Depok. Kesana sendiri tanpa melalui agen atau paksaan. Mengambil formulir, menyiapkan foto untuk visa, membayar DP sampai harus melunasi beberapa hari kemudian. Kami juga menerima kalau kami akan berangkat di Tahun 2017 bulan April.

Hingga di penghujung 2016, suami ikut manasik umroh yang diselenggarakan First Travel di Masjid Istiqlal yang luar biasa jamaahnya memenuhi seluruh tempat di Masjid terbesar se-Asia Tenggara itu. Saya memilih tidak ikut. Selain tahu akan penuh, toh saya sudah pernah umroh. Suami berangkat sendiri pagi-pagi sekali agar mudah mendapat parkir. Di sana suami bertemu dengan tetangga dekat rumah, yang belakangan kami tahu beliau membawa atau mengajak beberapa jemaah. Entah beliau agen atau hanya membantu sampai sekarang saya tidak tahu.

Oh iyah, saat itu di ruangan saya di kantor, tidak hanya saya saja yang tertarik. Bu Lily Kasoem Optik, Bu Philips dengan suami, dan Pak Steward bahkan sekeluarga dengan istri dan dua anaknya.

Di penghujung 2016, mulai terdengar kehebohan di media tentang First Travel. Banyak jemaah yang dijanjikan akan berangkat di Januari 2017 belum juga diberangkatkan. Berita yang awalnya simpang siur mulai terbukti benar adanya. Bu Lily Kasoem Optik bergabung dengan grup WA yang mulai membuat aduan ke Kementerian Agama. Ketika itu Kemenag belum juga membekukan First Travel. Lucunya lagi, iklan dan tawaran First Travel masih dengan mudah ditemui di media sosial seperti Instagram.

Mulai Aneh, Minta Refund dan “Kembalikan Paspor Saya!”

Lucunya First Travel itu yah, paspor sudah diminta jauh-jauh hari banget. Katanya sih buat urus visa. Yaelah visa kan kalau lancar begini paling beberapa hari juga jadi. Oke, mikirnya jemaah banyak. Saya sudah meneyerahkan paspor di akhir 2016.

Suami yang memang masih membutuhkan paspor dalam rangka kerja, memilih akan membayar lebih yaitu sebesar tiga juta jika belakangan menyerahkan paspor. Ini yang bikin sebel. Suami waktu itu ada kerjaan ke Jerman dan Italia, dan saya yang tadinya mau ikut memilih gak ikut karena tahun depan mau umroh, harus menerima kenyataan pahit. Gagal ke Eropa dan gagal umroh. Wkwkwkwkw. Kasihan deh lo.

Bulan April 2017, kegaduhan mulai terjadi. Pihak First Travel tiba-tiba memenerapkan aturan tambahan biaya sebesar 2,5 juta rupiah bagi program umroh promo jika mereka akan diberangkatkan. Konon katanya biar bareng sama jemaah reguler. Nah loh, awalnya ajah udah molor setahun, kok tiba-tiba minta nambah terus bisa berangkat. Piye to? Gak masuk akal.

Mulai mencium keanehan, saya minta suami ke kantor First Travel. Minta refund dan ambil paspor saya. Sebel banget pokoknya. I want my paspor back. Paspor ditahan itu kayak kena banned sama pemerintah kalau saya itu penjahat, jadi gak boleh ke luar negeri. Sumpah sebel banget.

Alhamdulillah yah (selalu ada alhamdulillah di setiap peristiwa) suami kerjanya fleksibel. Jadi yang mondar mandir ke kantor First Travel yang mulai rusuh banget itu ya suami. Setiap habis dari kantor First Travel selalu ada ajah cerita sedih yang dibawa.

Cerita jemaah yang gagal berangkat padahal sudah menunggu dua tahun, ada anak yang memperjuangkan orang tuanya yang mau umroh, ada curhat para agen yang memperjuangkan orang-orang yang mereka bawa, hingga curhat para Customer Service First Travel yang menjadi sasaran amukan massa jemaah.

Kenapa Jualan yang Sifatnya Spiritual Laris Manis ?

Setelah formulir refund kami terima yang katanya akan cair 90 hari kerja dan paspor saya kembali, hati agak lega. Bahkan kemudian saya langsung gatel memakai paspor yang telah ama hilang itu. Hahahahaha. Lebay. Iyah saya langsung ikut nemanin suami ke Thailand. Hihihi.

Bagaimana dengan uang refund yang dijanjikan? Sudahkah cair? Tentu saja belum Saudara-saudara. Bolak-balik suami nanya, “Udah ada uang masuk, ke rekening kamu?” Saya cuma bisa jawab, “Yaelah gak usah diharapin deh…” bahkan saya menjawab demikian sebelum kedua Bos FT itu dijebloskan ke penjara. Apalagi sekarang Bos mereka sudah di penjara. Jelas keuangan pribadi dan perusahaan yang disatukan ditambah manajemen yang carut marut, hampir dipastikan kecil sekali kemungkinan dana kami akan kembali.

Terus, saya sedih gak? Ya sedih mah pasti. Tapi kok ya mau gimana lagi. Kekayaan mereka tidak sebanding dengan jemaah yang belum berangkat. Belum lagi stake holder yang mereka hutangi. Sebatas melapor ke Bareskrim akan kami tempuh.

Banyak teman-teman saya yang bilang, aduh manusia Indonesia nih. Pasrah dan menerima, bilangnya musibah dan takdir. Usaha dong. Yaelah mbak dibanding ngeributin dana kami yang hilang, waktu kami akan lebih berharga buat hal-hal yang jauh lebih berharga saat ini. Bukan berarti uang 28 juta sekian kami itu gak berharga, tapi ya itu, uang atau kekayaan milik Bos FT (kalau mereka jujur) sudah pasti tidak akan bisa membayar kembali uang jemaah yang belum diberangkatkan. Beda halnya kalau kami sebagai agen yang membawa jemaah banyak. Mungkin kami akan fight sekuat tenaga.

Apa kami menutut pemerintah buat ganti? Ih sumpah gak rela, meski kami jadi korban penipuan, tapi kalau pemerintah yang harus ganti. Kami gak mau. Yah uang pemerintah dari mana kalau bukan dari pajak rakyat? Kasihan banget rakyat Indonesia suruh mengganti kerugian gara-gara nafsu manusia serakah macam AA itu. Kalau gitu enak dong kalau kita nipu ajah, jalan-jalan ke luar negeri. Kemudian nanti diganti sama pemerintah. Bisa kualat sama satu rakyat Indonesia kalau begitu.

Penipuan yang gampang itu, di Indonesia memang ya main di seputar spiritual sih. Manusia Indonesia gampang banget mengeluarkan uang dengan dalih ibadah spiritual. Entahlah.

Pernah dengar nih, kok bisa murah yah, katanya lagi si Ibu Anisa itu sudah kaya,  punya usaha banyak, jadi ingin bantu orang Indonesia ibadah. Hadewh… mamam noh bantu. Berangkatin artis beserta keluarganya dengan fasilitas VIP, dan memprioritaskan pegawai-pegawai rombongan kantor pemerintah agar citranya bagus. Apalagi kalau lihat postingan IG-nya yang foto-foto di luar negeri. Ku tak sanggup gak menyinyir.

Hati-hati Mempromosikan Sesuatu yang Di Luar Kewajaran

Iyah, awalnya mungkin hanya ingin testimoni, tapi saya sama sekali gak menyalahkan teman saya, sampai Bos saya. Jujur awalnya kesel tapi ya saya kan juga sadar pergi ke Kantor FT sendiri, bayar, dan semuanya murni sadar dengan yang saya lakukan. Jadi ya gak bisa menyalahkan mereka. Bahkan ketika sudah bayar dan cerita ke Bapak Mertua pun dimarahin. Hehehe.

Sedih itu seperti Bu Lily Kasoem Optik yang anaknya bermaksud membahagiakan sang mertua, eh kemudian begini kejadiannya. Baik hati Bu Lily sedang mengusahakan agar besannya tetap bisa berangkat umroh dengan biro perjalanan lain, meski dia dan keluarganya gotong royong mencari dana. Lucunya lagi, besannya Bu Lily itu gak tauk apa-apa dong tentang hebohnya kasus FT ini. Padahal tinggal sebelahan. Kadang hidup butuh begitu. Tidak perlu tahu banyak. Salah satu efek kamu tahu banyak ini nih. Ikutan dan ditipu. Hahahhaha…

Jadi, kalau kemudian teman saya di Bus antar jemput kantor bertanya dengan lantangnya, “Eh, di sini gak ada yang korban First Travel, kan?”

Saya akan dengan lantang menjawab, “Ada. Saya. Iyah, saya korban First Travel.”

Kemudian akan diikuti lagi pertanyaan, “Kok bisa? Mbak?”

Kemudian cerita bergulir, hingga teman saya berkata, “Iyah sih kalo gue kayak lo juga gue tergiur. Untungnya di ruangan gue gak ada yang ikut First Travel.” Hahahhaha. Kami tertawa bersama. Dalam hati sih saya meringis menahan tangis. 😦

 

 

One Day Tour Chiang Rai-Golden Triangle (First Stop : Hot Spring)

Perjalanan kali kedua  saya ke Bangkok kali ini, lagi-lagi karena gak rela suami mau dinas dari kantornya. Hehehe emang saya istri yang sirik kalau suami lagi traveling. Enaknya kalau suami yang tugas dinas, itu seringnya sendiri, jadi saya selalu pinginnya ngintil . Ngintil itu bahasa Jawa yang artinya ngikutin.

Kalau yang pertama kali kami ke Bangkok kami liburan dulu, kali ini dibalik. Suami kerja dulu, saya menyusul kemudian. Alasan berikutnya, karena sudah hampir enam bulan paspor saya tertahan di travel agent penyelenggara umroh yang lagi bermasalah banget. Ketika sudah mendekati waktu keberangkatan dan sepertinya tidak ada kejelasan, kami memutuskan untuk menarik uang dan paspor kami, alias membatalkan. Paspor kembali ditangan setelah hilang beberapa bulan itu rasanya kan pengen diajak jalan yah. Hehehehe.

Setelah gagal ikut suami ke Jerman atau Singapura, pokoknya harus ikut  ke Bangkok. Dalam rangka pembebasan paspor saya dan hari kejepit tanggal merah. Hihihi. Meski ini kali kedua, saya pokoknya mau ikut. Tapi kalau cuma ke Bangkok lagi, kok rasanya bosan. Halah kayak udah sering aja ngomong begini. 🙂

Suami awalnya bilang kita staycation aja di hotel. Kantor tempatnya bekerja, bersedia kasih lebih 2-3 malam untuk menginap di hotel apartemen yang memang super duper nyaman. Saya merenung. Apa bedanya leyeh-leyeh di hotel bintang lima  sama leyeh-leyeh di rumah saya yang menurut saya tidak kalah nyaman dengan hotel? Ah, saya berpikir keras. Sayang cap di paspor saya deh. Moso jauh-jauh cuma leyeh-leyeh di hotel. Pokoknya harus kemana ini. Lagi-lagi pokoknya. Hehehehe.

Era sosial media sekarang ini, membuat saya bisa memecahkan persoalan saya kali ini dengan mudah. Ah masa, lima hari empat malam di Thailand jalan-jalan di Bangkok doang dan bobo-bobo di hotel ajah. Dari instagram teman saya, saya melihat belum lama ini, dia jalan-jalan ke Golden Triangle yang letaknya di sebelah utara Thailand dan berbatasan langsung dengan Laos dan Myanmar. Aha, saya ,mau ke sana. Meski kami harus merogoh kocek lagi, untuk transport dari Bangkok ke Chiang Mai. Ya, Chiang Mai. Saya juga belum pernah ke Chiang Mai. Provinsi di Thailand yang pernah menjadi tuan rumah acara pertandingan olahraga bangsa-bangsa se-Asia Tenggara di tahun 1995 zaman saya di sekolah dasar.

Setibanya saya di Bangkok, kami langsung memutuskan keliling Bangkok, tepatnya, menengok saudara tua di Kampung Jawa.

Baca : Menengok Masjid Jawa di Kampung Jawa, Bangkok dan bertemu Ibu Mariam yang baik hati. Baca juga : Ibu Mariam, Muslimah Keturunan Jawa di Kampung Jawa, Bangkok, Thailand

Hari berikutnya, kami menuju Chiang Mai dan menghabiskan satu hari melihat-lihat kota tua yang cukup terawat. Berkesempatan sholat berjamaah di masjid di kawasan muslim Chiang Mai.

Baca : Melihat Tradisi Muslim Chiang Mai di Masjid Hadayatul Islam Banhaw Chiang Mai

Berkunjung ke sebuah kuil dari banyaknya kuil yang ada di Chiang Mai.

Baca : Menengok Wat Buparram di Kota Seribu Kuil Chiang Mai

Hari kedua kami di Chiang Mai, kami akan dijemput oleh tour guide di depan hostel kami. Jam tujuh pagi kami sudah siap. Berhubung paket menginap kami tidak mendapat sarapan, pagi itu kami sudah melipir dulu ke Sevel. Oh iyah sebenarnya ada satu hal lagi yang mau saya ceritakan di sini. Entah kenapa, dari semalam sebelum keberangkatan kami ke Chiang Rai, perut saya mules. Untuk pengalaman ini baiknya sih nanti aja ya saya ceritakan di episode berikutnya.

Kembali ke topik tour ke Golden Triangle. Setelah peserta tour lengkap, akhirnya kami tiba di tempat pemberhentian pertama kami yaitu Hot Spring alias sumber mata air panas dari pegunungan.

Setibanya kami di sana, saya langsung mencari toilet. Guide tour kami menginfokan kami hanya 15 menit saja berada di sini. Ya ampun, sebentar banget. Apa yang mau dilihat coba?

Hot Spring Water Chiang Mai

Selesai dari toilet saya menghampiri beberapa orang yang sedang berendam (kebanyakan hanya menenggelamkan bagian kaki sampai lutut, gak ada yang sampai merendam tubuhnya). Coba sebesar mana. kira-kira diameter kolam tiga meter kali yah. Pengunjungnya pun belum terlalu ramai.

Turis-turis berendam di Hotspring

Zaki malah seperti biasa. Lebih tertarik sama jajanan yang namanya ro-tee. Iya kayak roti maryam gitu yang dimasak pakai telor dan dikasih saus. Jajanan khas Chiang rai yang kebanyakan penjualnya muslim. Biasanya di gerobaknya selalu ada tulisan halalnya soalnya.

Melipir cari cemilan

DSC01945.JPG
Rotee

Di sepanjang parkiran mobil juga banyak yang menjual cendera mata. Di bagian depan dimana ada tulisan nama tempat ini, ada sebuah kolam yang berdiameter satu meter yang airnya memiliki suhu paling panas dibanding di tempat lainnya. Di sekitarnya ada penjaja telur untuk ditawarkan pelanggan yang ingin membuktikan air di kolam itu bisa merebus telur.

Kalau dipikir-pikir yah. “Segini doang nih? Gak ada apa-apanya dibanding Pemandian Air Panas di Ciater atau di Garut yang kolam renangnya aja gede banget. Belum lagi aliran sungai air panas dari atas yang meliuk-liuk dan banyak orang berendam di dalamnya. Berendam seutuh-utuhnya badan lo yah. Bukan cuma basahin kaki. Hihihihihi. Ya udah namanya juga jalan-jalan. Dinikmati aja yah. Nah kan Indonesia lebih oks kan. Hehehe. Tapi… kenapa banyak turis aja gitu di sana? Coba yah bantu pikir, kenapa?

Pancuran air panas

Penampakan Hot Spring di Chiang Rai
Mata Air Panas di Chiang Rai
Sumur Air Panas
Sumur Air Panas Tempat Pembuktian Kalau Air Itu Panas, Jendral. Caranya? Telur Mentah Berubah Menjadi Telur Rebus 🙂

One day tour belum selesai, bersambung di postingan selanjutnya yah… 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

Hati-hati Kalau ke Toilet, Apalagi di Negara Orang :(

Sebenarnya dengan menuliskan hal ini, sedikit membuka aib diriku. Sumpah tulisan ini juga sangat tidak bermanfaat bagi pembacanya. Pokoknya gak dibutuhkan sama orang-orang, sehingga gak mungkin tulisan ini meningkatkan trafic blog saya. Hehehehe. Tapi ya sudahlah, semoga bisa jadi pelajaran buat teman-teman yang lain.

Entah apa yang terjadi pada metabolisme tubuh saya ketika di tempat yang sedikit ber-ac atau agak dingin sedikit. tiba-tiba saja selalu ada hasrat panggilan untuk ke belakang. Maksudnya ke belakang di sini tentu saja ke toilet. Bukan buang air kecil, tapi buang air besar. ups. Maaf kalau tulisan ini agak menyebalkan. Ya udah silahkan jangan lanjutkan bacanya.

Keinginan BAB di tempat umum ini sudah lama. Sepertinya sudah dua puluh tahun yang lalu. Dari Mall yang besar sampai cuma Indomaret atau Alfamart, saya sudah pernah loh. Bandara mah jangan ditanya. Pasar tradisional aja pernah. Parah kan? Pokoknya orang-orang terdekat sayamah sudah tauk banget kebiasaan saya yang nggak banget ini.

Sepertinya jejak banyak saya tinggalkan di mana-mana. Tapi ada yang paling banget gak bisa saya lupa. Itu sekitar beberapa tahun lalu, ketika jalan-jalan ke Bangkok. Lebih tepatnya ketika kami akan mengunjungi museum Madame Tussaud.

Museum Madame Tussaud memang terletak di Mall, namanya Mall Siam Paragon. Pagi-pagi kami sudah tiba di sana. Belum lama masuk mall, langsung deh perut berasa muter alias mules gitu. Saya pun segera mencari toilet.

Tauk dong mall di Bangkok, yang megah dan besar, toilet sudah pasti bersih dan modern. Pagi itu pengunjung mall pun masih bisa dihitung dengan jari. Masih sepi. Begitu masuk toilet pun yang ada hanya mbak-mbak petugas kebersihan toilet. Asyik bisa aman dan nyaman nih. Memang agak kurang nyaman kan kalau lagi kebelet Pup toliet antri. Mending gak deh. Hehehehe.

Saya pilih toilet yang paling pojok dong. Alasannya biar apa? Toilet pojok kan letaknya di ujung. Pasti jarang dipakai sama pengunjung lain. pasti mereka langsung incar yang di depan. eh tapi, kalau sebagian besar orang berpikiran seperti saya. Toilet pojok paling sering dipakai dong ya.

Langsung deh saya duduk manis. Masalah terjadi ketika saya menekan tombol flush toilet duduknya. Jreng… jreng.. kok gak bisa. Cuma bluk-bluk. What… ya Allah gimana dong. Coba lagi, coba lagi sampai berkali-kali belum berhasil. Ih, si Zaki sudah bolak-balik nelpon aja. Bodo amat cuekin ajah. Ini masalah genting.

Kondisi toilet yang sepi, kan malu banget. Belum lagi di sini saya turis. Dari Indonesia pula. Aduh bisa di cap jelek dong turis Indonesia. Padahal kan emang mesin flush toiletnya yang rusak. Gila yah ini mall besar kok bisa toiletnya rusak. Masih ada untungnya nih, ada showernya. Datanglah akal saya menggunakan kekuatan shower untuk menyiram “sampah” toilet. Lama sih emang, tapi… yeay it works. Alhamdulillah berhasil.

Sumpah saya kesel banget, pagi-pagi dapat zonk masalah di toilet begini. Ya ampun kenapa juga pas di Bangkok begini. Keluar toilet saya pun coba protes ke mbak-mbak penjaga kebersihan pake Bahasa Inggris. Baik-baik tentunya. Dia cuma ngangguk-ngangguk aja. tauk deh ngerti apa nggak.

Moment ini memberi pelajaran buat saya, sebelum pakai toilet cek terlebih dahulu apakah mesin flush nya berfungsi dengan baik atau tidak. Entah itu di Indonesia atau di manapun alam memanggilmu. Camkan itu Rini. Camkan.

Meski agak bete kemudian saya bisa bertemu dengan idola sejak zaman SMP. Selalu ada alhmadulillah… :)))

Rini dan Beckham
Finally Meet Him in Personal even just of his statue :)))))