Apa semua harus jadi PNS?

Image

Belakangan ini lagi dihebohkan penerimaan CPNS di beberapa instansi pemerintah. Hampir semua Kementerian dan beberapa lembaga negara membutuhkan tenaga-tenaga baru untuk mengisi kekurangan tenaga karena moratorium selama dua tahun kemarin. Moratorium atau pemberhentian sementara penerimaan CPNS disebabkan membengkaknya APBN akibat belanja pegawai. Selain itu banyaknya masukan dari masyarakat yang mengatakan belum maksimalnya kinerja PNS yang telah ada selama ini.

Apa sih enaknya jadi PNS ?

Beberapa hari yang lalu, ada kompasioner yang menliskan betapa enaknya jadi PNS di Indonesia. Penulis yang merupakan PNS juga, menceritakan beberapa hal kenapa jadi PNS itu enak. Pertama, mereka dapat asuransi kesehatan sesuai golongannya, kenaikan gaji yang secara berkala dan pasti, kenaikan pangkat atau golongan, tambahan uang melalui honor dan perjalanan dinas yang kadang agak disangsikan tujuannya. (hehehehe). Paling enak diantara semuanya adalah semua itu didapat tanpa memperhitungan kinerjaindividu yang bersangkutan Mau di rajin masuk, mau dia bolos, atau meliburkan diri, semua itu masih normal berjalan.

Reformasi birokrasi yang sedang didengung-dengungkan belakangan ini agaknya belum bisa sepenuhnya merubah kebiasaan PNS. Tetapi apapun itu namanya yang jelas sudah ada usaha sedikit dari pemerintah untuk perlahan mengubah buruknya birokrasi di negeri ini.

Bagaimana Caranya Jadi  PNS ?

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, menjadi PNS merupakan favorit cita-cita para mahasiswa di Indonesia. Hah gawat gak sih ? kenapa gawat? kalo gituh yang jadi pengusaha siapa? yang jadi profesional siapa?

Ada temen honorer yang menceritakan bagaimana perjuangannya untuk jadi PNS. Untuk mengurus SKCK di POlres saja dia harus datang jam 3 dini hari demi masih mendapat antrian nomor depan. Belum masalah legalisir ijazah, kartu kuning, oh ya sebelum sampai ke POlres harus bat pengantar dari RT, Rw, Kelurahan, sampe kecamatan. Kabarnya yang datang jam 5 pago sudah tidak bisa dilayani karena kuota 250 SKCK perhari yang diterbitkan sudah penuh. Gila yah???

Setelah berkas terkumpul, mulailah isi registrasi via online, masih perlu seleksi berkas. Kalau beruntung baru bisa ikut ujian tulis. Selain ujian tulis tiap-tiap instansi belum seragam. Ada yang tes wawancara, tes psikotes. Semuanya harus dilalui tanpa belum pasti mereka akan jadi PNS. Bahkan adikku cerita, temannya sampe rela mengundurkan diridari perusahaan asuransi yang sudah terlanjur mengontraknya dan membayar penalti sebsar 10 juta rupiah untuk bisa ikut tes CPNS di Kemenkeu.

Kenapa Harus PNS ?

1. Faktor orang tua.

    Orang tua menginginkan anaknya berdaa di zona yang nyaman. Alias gak ada yang akan memecat apapun itu yang terjadi. Ya kecuali ketangkep KPK, atau polisi karena berbuat kriminal.

2. Mudahnya dapat izin

     Terutama perempuan, seneng banget jadi PNS, kalau anak sakit, suami sakit, ambil rapot, urus ini itu. Apalagi ada yang menyambi berbisnis. Aman… karena pada umumnya bos nya itu akan maklum.

3. Tidak adanya tekanan atau target pada pekerjaan

    Mo kerja nya nyantei, gak ada yang marah2in masalah target penjualan. Karena emang gak berorientasi profit. Jadi nyantelah…

Oh ya entah kenapa gak ada teman saya satupun yang PNS cerita gak enaknya jadi PNS. Padahal????

Gimana setelah jadi PNS ?

Terus terang gw kan PNS yah… Awalnya gimana yah, penasaran. Waktu itu sumpah penasaran banget. Latar belakang pendidikanku kan kesehatan. Sudah pernah merasakan kerja di pabrik yang gak selalu dikejar target, kerja di apotek, yang gak abis2nya ngerjain resep ampe apoteknya tutup, kerja di rumah sakit yang bingung mikirin pengadaan padahal pasiennya dah pada sekarat.

Mungkin gw stuck yah, dengan segala permasalahan ditempat gw kerja itu. Kalau kerja di swasta kok rasanya gak aman banget yah, masalah kontrak yang gak jelas, asuransi kesehatan, kok kayaknya sekolah capek2 gak dihargai yah. Pernah gw ngelamar di salah satu klinik dekat rumah, yang menurut gw lumayan besar. Berhubung waktu itu lagi nyambi kuliah ya gw coba lamar disitu, tauk gak gw ditawari gaji berapa? 300 ribu perak. Jleb banget gak sih? Waktu itu UMR Jakarta aja udah 1 juta lebih. Gw, lulusan D3 Farmasi, mainnya sama obat, tanggung jawab nyawa orang dong, cuma dibayar 300 rb? Oh noooo….emangnya gw pembokat, gaji pembokat waktu itu ajah di kisaran 500rb. Parah banget kan…

Bukan masalah bayaran aja, masalah kesehatan. Kerja shift waktu di Apotek dan ruumah sakit itu pulangnya ada yang jam 10 malem. Belom kalo hujan, harus naik ojek, angkot sudah habis. Sumpah itu sedih…banget sampe gw nangis dan pernah teriak dalam hati. Kok gini bener nasib gw yah.

Berhubung bokap PNS, beliau selalu menyarankan untuk anaknya bisa jadi PNS. Setidaknya bisa aman, gak ada yang namanya dipecat karena perusahaan kekurangan modal, belum lagi gak kena shift. Itulah orang tua selalu mau yang terbaik untuk anaknya.

Berkat doa ortu juga kali ye, gw akhirnya bisa lolos ujian PNS, ya, gw yakin doa Ibu adalah yang terbesar waktu itu. Doi mungkin frustasi juga lihat gw pulang tengah malem, kalo keujanan pake nangis lagi. Hehehehe…emang gw cengeng banget sih…

Nah setelah jadi PNS, pertama kali bahagia, tapi kembali ke sifat alamiah manusia, yang merasakan bosan dengan rutinitas yang itu2 saja. Waktu itu Ibu pernah bilang : “kalau kamu udah jadi PNS, kamu bisa bilang manajemen nya gak bagus. Tapi gak bisa keluar. ” And it truth… Syok banget sama manajemen kerja, mental orang-orangnya. Ada yang kerja nya sibuk banget ada yang gak kerja sama sekali. Ngeliat duit negara di pake buat begiitu2… aduh sempet syok dan bertanya-tanya. Dan itu masih sampe sekarang.

Oh ya, tadi siang gw juga kedatangan kakak kelas gw yang demi PNS ke Kemenkominfo., dan sekarang dia berniat pindah or mutasi ke tempat gw. Katanya gak berkembang lah, gak ngebayang sampe pensiun akan berkutat di poloklinik. Thats human…

Ada lagi temen gw yang menulis di medsos tempat kerjanya : Ministry I dont wanna be here…. but she still here..hehehhehehe…Dan gak jarang kita bersama-sama merutuki cara bekerja bos, rekan kerja dan macem-macem. Sampe sekarang belom ketemu jawaban, kita harus bagaimana. Langkah terekstrim ya pergi dari sini, tapi, gimana sama ortu, dan ngapain gw nanti ketika gw tidak bekerja.

Maka dari itu untuk mengusir rutinitas yang rada membosankan gw melakukan apa yang gw suka, salah satunya menulis. Maybe someday I’ll be awriter at all n work in home. Aminn.

Sekarang ketika sedang ramai-ramainya temen2 yang masih honor berbondong-bondong jadi PNS gw cuma bisa berkata dalam hati : “Besok kalau punya anak, gak perlu jadi PNS kok nak, gw akan dukung  jadi apapun dia.” Kalau semua jadi PNS yang buka toko di pasar siapa? yang punya usaha taksi siapa? Buka usaha kuliner? Tukang jahit?

Pemerintah mungkin harus memikirkan kesejahteraan mereka. Biar semuanya gak cari aman dengan jadi PNS. Karena pas kita sudah jadi PNS pun, bukan berarti aral merintang dan cobaan dalam hidup selesai. Selama masih bernafas, Allah akan mengingatkan kita kalau ada Allah tempat kita meminta, tidak sombong karena udah jadi PNS. Satu lagi pembunuh sejati adalah zona nyaman. Ia akan membunuh pikiranmu perlahan, ketika sudah merasa nyaman dan malas berusaha menggunakan akal dan pikiran.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s