Bolehkah saya tersinggung, kesal, atau bete ?

Hal-hal kecil sering banget bikin saya bete, kesal, ataupun tersinggung. Gak ngerti mungkin memang gini ya, jadi sensitif. Tapi sebisa mungkin saya tidak menunjukkannya di hadapan orang lain. Tapi muka gw ini kaya jendela. Apa yang di muka ya pasti yang di hati. Kalo hati gw lagi kesel, ya pasti muka gw juga jelek banget pastinya.

Meminta mereka mengerti. Dari bahasan atau topik di obrolan misalnya. Saya berusaha menghindari, pura-pura cuek, gak denger, bahkan gak peduli ada orang-orang disana. Malas bersosialisasi. Bahkan teman-teman terdekat pun tidak mengerti apa yang saya rasakan. Palingan ya teman saya cuma nulis, curhat ajah ke blog. Biar gak ada yang denger gak papaah. Allah kan maha mendengar.

Lagipula mengharap manusia mengerti semua mau kita mustahil. Terima ajah. Senyum ajah. Pura-pura gak ada apa2. Allah akan tahu kapan kita waktunya tersenyum dan kapan mereka tahu kalau saya bahagia. Bukan karena pikiran mereka. Karena saya juga mau tersenyum dan tertawa seperti mereka.

Jika saya bahagia, pasti saya akan pikir apakah teman saya bisa untuk berbagi bahagia dengan saya tanpa dia diam-diam menangis? Saya akan lebih memilih menangis dengannya, dan mengajaknya mencari bahagia. Ketimbang dia harus berpura-pura tertawa ketika saya bahagia. Sebenarnya dia menangis. Maafkan saya teman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s