Penjaja Benda Pos Kuno dan Gedung Filateli Jakarta

“Sudah berapa lama jualan di sini Pak?” tanyaku.

Si Bapak Tua yang setelah saya tahu bernama Pak Muhammad Suwir menjawab, “Udah lama neng, gak kehitung. Lama banget. Sekitar tahun 65-an.”

“Wow, berarti kira-kira sudah 50 tahun ya Pak,” ucap saya lagi. Tapi tidak ada respon. Saya pun agak mendekatkan badan ke arah nya dan mengulang ucapan saya. Kelihatannya, pendengaran Bapak ini sudah agak berkurang karena faktor usia.

“Banyak yang masih nyari barang dagangan Bapak?” saya bertanya lagi dengan nada agak lebih tinggi dari sebelumnya. Tapi gak membentak kok. Sumpah.

“Yah ada aja sih Neng, satu dua sih ada. Namanya rejeki. Tapi ya gini, sepi. Gak nyari untung neng di sini mah. Gak ada untungnya.” jawabnya lagi.

Begitulah sekelumit percakapanku dengan salah satu pedagang kaki lima yang menenjajakan perangko, materai, surat akta jual beli dan uang kertas kuno di samping gedung kantor pos lama Pasar Baru. Sebuah lorong yang letaknya di bagian samping kiri Gedung Filateli Jakarta. Jumlah kios di lorong itu tidak sampai berjumlah 10 kios. Pada waktu saya dengan rombongan travelnblog saya berkunjung Sabtu 26 September 2015 yang lalu memang sudah agak sore, sekitar pukul 15:00, jumlah kios yang masih buka hanya dua buah kios.

Setelah saya puas bertanya, Pak Suwir pun masih sempat menjajakan barang dagangannya kepada kami. Salah satunya uang kertas kuno pecahan 5000 bergambar Presiden RI pertama seharga 250 ribu Rupiah. Mahal juga bathin saya. Tapi entah kenapa, saat itu pikiran saya terlalu sibuk dengan tugas mencari materi tulisan mungkin, atau sibuk sekedar memotret yang pada waktu itu saya sendiri tidak tahu mau menulis apa. Mungkin waktu itu Pak Suwir berharap ada salah satu dari kami yang membeli barang dagangannya. Saya pun baru terpikir ketika menuliskan artikel ini. Kenapa juga saya gak membeli, satu aja dari dagangannya, paling tidak pasti dia senang ada uang yang bisa di bawa pulang. Menyesal memang selalu datang belakangan kan.

Pak Suwir dengan dagangannya
Pak Suwir dengan dagangannya

Awalnya, para penjaja barang pos atau filateli tersebut berdagang di dalam gedung yang sekarang bernama Gedung Filateli Jakarta. Gedung ini dibangun pada tahun 1913 sebagai kantor pos. Keberadaan gedung ini tidak lepas dari kepindahan pusat kota Batavia dari Oud Batavia (Kota Tua sekarang) ke Niew Batavia (sekarang kawasan Lapangan Banteng). Kantor Pos diperlukan dengan pusat kota, sebagai sarana dukungan layanan penghubung pengiriman dokumen dan komunikasi bagi pemerintahan saat itu.

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1995 dibangun gedung pos yang baru, yang terletak di belakang gedung Pos lama. Kemudian gedung tersebut dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima yang menjajakan barang-barang pos terkini maupun kuno. Seiring berjalannya waktu gedung tersebut menjadi tidak terawat dan kumuh. PT. Pos bermaksud mengusir para pedagang di dalam gedung tersebut. Tetapi terjadi perlawanan dari pedagang. Kesepakatan dihasilkan ketika para pedagang mau dipindahkan untuk berjualan ke samping kiri bangunan. Akhirnya PT Pos merubah fungsi gedung tersebut menjadi Gedung Filateli Jakarta.

Gedung Filateli Jakarta Pasar Baru
Gedung Filateli Jakarta Pasar Baru

Meski keuntungan yang di dapat pedagang kaki lima di samping gedung filateli ini sudah sangat tidak menguntungkan. Namun mereka tetap bertahan demi kelangsungan hidup. Iya hidup memang harus bertahan kan, kalau tidak ya kita akan kalah. Zaman terus berubah, mungkin keberadaan mereka suatu saat akan hanya menjadi kenangan. Menjadi bagian dari sejarah sebuah gedung Filateli Jakarta dan daerah bernama Pasar Baru.

Ngecap Paspor; Singapore Day 2, USS

Jihaaa… lanjutin cerita kemarin yah…

Kali ini cerita hari kedua dalam rangka nge cap paspor ke Singapura. Kamis 27 Agustus 2015. Hari kedua ini kami mau ke Universal Studio Singapura. Sebuah taman permainan yang seru banget…

Tiket ke USS kami beli via online seharga 65 dollar, dapat kupon makan seharga 5 dollar dan potongan belanja 5 dollar. Nah yang makan sih kepake, tapi yang belanja gak kepake. Soalnya potongan kupon belanja berlaku kalau kita belanja 30 dolar. Idih… akumah males banget itu…

Untuk menghemat, kami bawa bekal makan siang, yaitu mie goreng yang kita masak dari hostel.

Perjalanan ke USS dari Bugis, ke stasiun Outram Park, terus lanjut ke Harbour Front, dari situ kita ke arah Vivo City Mall. Nah kan, pintar nya SIngapura, apa-apa terhubung sama Mol dan tempat belanja. Dari Vivo City, kita ke lantai paling atas untuk naik monorail yang harus bayar lagi masing-masing 4 dollar. Disini kartu MRT gak berlaku yah. Lalu turun di stasiun pertama waterfront.

Nah akhirnya samapailah kita di depan bola dunia ini… Untuk masuknya kami cuma menunjukkan bukti pembeliat tiket via online. Gak pake lama. Karena masih pagi dan bukan weekend, antriannya gak lama. 🙂

Foto wajib kalo ke Sentos, ya di depan bola dunia ini,
Foto wajib kalo ke Sentosa, ya di depan bola dunia ini.

Memasuki area USS, kami berbekal peta biar gak ribet nyari2. Wahana yang pertama kami kunjungi adalah Sesame Street. Pokoknya kita mah gak pilih2, apa aja yang di depan mata, kita coba ajah. Kapan lagi… dan memang kami sudah siapkan satu hari penuh ini buat di sini.

Our First... Sesame Street Arena
Our First… Sesame Street Arena

Seperti yang udah kami duga, permainan ini kalo di dufan kayak masuk ke istana boneka, disajikan keberisikan oleh penghuni Jalan Sesama. Liat kanan kiri dengan kereta, dan permainan teknologi cahaya yang canggih. Cuma kelihatan keren, belum memacu adrenalin.

Permainan kedua ini gak terlalu rame, terbilang sepi, karena emang gak ada maskotnya. Disni kita disajikan bagaimana cara pembuatan spesial efek di film yang bikin adegan fim jadi terlihat nyata. Bagaimana cara membuat hujan badai, dan tiba-tiba bangunan berjatuhan, banjir, wah keren deh, sampe kebakaran. Efek-efek itu disajikan di depan mata dan benar2 terasa hembusan angin, air hujan, dan panasnya api.

Special Effect on Movie
Special Effect on Movie

Permainan pilihan ketiga kami jatuh ke Transformers. Si Zaki juga pengen banget setelah teman kantornya cerita. Wahana ini yang paling seru.

Kerennya lagi di Singapura, setiap kami ingin memasuki sebuah wahana, kami di info berapa lama kami harus antri untuk memasuki wahana tersebut. Pas dikasih tauk 90 menit. Kami okey2 ajah… pasti worth it lah. Awalnya gw kira, 90 menit itu lama kami menikmati wahana, gak tauknya lama ngantrinya. Ya iyalah…emang ngapain ajah 90 menit di dlama sono. Bodohnya saya 🙂

Mengantri memang sebuah pekerjaan yang paling membosankan, Tapi karena kali ini ngantrinya dalam rangka jalan2 ya dinikmati aja… Bagaimana menikmati antri biar gak membosankan ?

  • Berhubung lagi di Singapura dan banyak turis juga, jadilah kami mengamati para turis yang berasal dari mancanegara. Menerka-nerka dari bahasa yang mereka gunakan, dari mana asal mereka. Ada yang dari Filipina, Korea, Malaysia, China. Pokoknya seru deh. Kuping ampe pusing dengerin bermacam2 bahasa. Hehehe… kuping kok pusing yah. Enaknya lagi kami juga suka ngomentarin mereka pake Bahasa.
  • Mengamati gaya turis dari berbagai mancanegara itu. Kayak turis asal Filipina, mereka biasanya sekeluarga besar. Kalau yang dari Korea, biasanya kumpulan anak remaja. Kalau turis asal Malaysia itu keliatan banget dari penampilan busananya. Berjilbab tapi melayu banget. Ngerti gak? Bukan2 bukan dangdut, tapi melayu banget.
  • Mengamati kehebatan SIngapura dalam menata pariwisata nya. Mereka rata-rata mempekerjakan anak-anak muda usia sekolah. Apa jangan2 mereka kerja part time ya. Meski ngantri panjang dan cuaca panas banget, gak ada tuh yang pingsan. Soalnya di tempat antrian juga disediakan kran air minum. Jadi kalau berasa haus tinggal minum or isi botol. Yang paling keren sih ya itu, mereka bisa memperkirakan berapa lama kami akan mengantri dan menampilkannya di depan wahana. Jadi pengunjung gak merasa di php-in gituh. Hihihihi….
  • Mengamati fashion dari pengunjug juga seru. Kebanyakan sih pakenya sepatu kets, tanktop atau kaos dan celana pendek. Cuaca SIngapura hari itu emang panas banget. Gak ketinggalan, kacamata hitam dan topi. Tapi sekarang mengantri gak masalah ya, soalnya tiap orang memegang gadget nya masing-masing. Jadi agak tidak menikmati kebersamaan nya ya… tapi nggak juga kali yah. Kan mereka harus update di medsos.

Transformer... katanya sih kerennn... tapi emang kerennnn sih...
Transformer… katanya sih kerennn… tapi emang kerennnn sih…

Antrian Transformers 90 menit boooo...
Antrian Transformers 90 menit boooo…

Permainan transformers itu, kita naik kayak kendaraan gitu. Sebaris empat kursi. Setelah pengaman dipasang. Kami memasuki tempat gelap, sambil duduk dan kendaraan yang kami naiki bergerak sesuai yang tersaji di layar. Tayangan yang disajikan tentu saja kayak kita lagi berada di film transformers. Naik mobil kebut-kebutan sambil berantem melawan robot-robot musuh. Tentu saja kami sambil teriak2 karena mobil seolah2 ngebut sambil meluncur. Pokoknya adrenalin benar2 keluar deh. Jadi kita seolah-olah diajak untuk menyelesaikan sebuah misi. Di akhir pertunjukkan si robot bilang terimakasih, misi berhasil. Deg-degan kami pun berakhir. Fuih… lega banget.

Setiap kita menyelesaikan permainan dari suatu wahana, tentu saja kita dipaksa melewati toko suvenir dari wahana tersebut. Berhubung wahananya transformers, tentu aja yang dijual robot2an dan harga nya gak murah, Jadi… lewat aja deh ya…

Kami pun melanjutkan perjalanan, kali ini area Mesir. Bangunan-bangunan yang tersaji pun serasa kita lagi di Mesir. Ada Spinx dan patung-patung yang tinggi ini Pharaoh. Wahananya namanya The Mummy. Sejak awal masuk ini wahana aja, udah kayak masuk ke dalam gua, gelap, agak spooky, dindingnya pun di desain seperti batu di gua.

Sumpah, awalnya gak kebayang permainan di wahana ini kayak apa, tapi gw berharap no more mengetes adrenalin dengan ketinggian. Tapi pas udah di dalem, kok ada papan peringatan ttg ketinggian, Sama seperti wahana transfomers, kami duduk di sebuah kereta dengan pengaman. Waduh,… agak jelek nih feeling. Beneran ajah, kali ini kita dibuat kayak roller coster tapi indor. Udah ajah gw merem. Badan berasa di puter2, mundur tiba-tiba, naik turun ah… ntahlah. Gw cuma merem dan berdoa, segera selesai. HIhihihihi…

The Mummy
The Mummy

Sebenarnya abis main The Mummy itu kami makan siang, tapi foto-fotonya di kamera hape. Dan belom sempat di transfer ke laptop. Kami menggabungkan voucher makan kami dan di tukar dengan 6 potong chicken wings yang kami jadikan lauk untuk di makan bareng mie goreng yang kami bawa dari hostel. Lumayan enak loh…dan mengenyangkan. Selesai makan siang, kami lanjut ke area dream land, kayak negeri dongeng yang ada fairy tale nya gitu.

Abis makan, liat ada yang lagi prewed, dan keisengan gw muncul… untuk ambil foto mereka, dan gw dengan sukses di hardik dong. hehehehe…Oh ya habis ini kami sholat lo, ada mushola nya bagus, adem, dingin, besih. Dan ketemu orang Bandung di sana.

Iseng...
Iseng…

Salah satu wahana di dalam sini ada Shrek. Yah… kami tadinya gak berharap banya, lucu2an ajah, paling kayak Sesame street. Eh tapi nggak loh. Kita awalnya masuk ke hall, sambil berdiri sambil di dongengin kayak pengantar ceritanya gitu deh. Terus masuk ke dalam dan duduk kayak di bioskop. Kami juga dikasih kacamata 3 D, bener aja, setelah duduk, kami disajikan tontonan film Shrek, dengan kursi nya yang ikut2 goyang mengikuti atraksi yang sedang kami tonton. Seru deh serasa beneran main di film Shrek, seperti mengendarai kuda waktu Shrek mau menyelamatkan Putri Fiona, lalu deg-degan waktu Putri Fiona di sungai yang airnya deras banget. Keren….

Far.. far.. away
Far.. far.. away 

Setelah itu, kami ke arena Pussy, si kucing yang jago berantem. Duduk di kereta, outdoor. Kelihatan kan dari wahananya, kami naik ke atas, terus kayak naik roler coster, dan gw merem lagi…. Fiuh…

DSCF2504

Pas ngantri, gw ambil foto ini. Capek banget yah keliatannya. Hehhehe… A sleepy Little girl asking piggy back to her mommy… cute…

Mungkin dia lelah...
Mungkin dia lelah…

Pas lagi jalan2 cari mushola ada yang lagi show… Om Elmo dkk… mereka nyanyi2 gitu ajah sih sambil joget2 lucu.

Ada yang laig jumpa fans...
Ada yang laig jumpa fans…

Nah ini cuma foto ajah, naikin mah kagak. Gw jelas gak berani, eh dengan alasan gw gak mo naik si Zaki juga gak mau naik dong. Ah mungkin dia takut juga kali yah.. sssstttt ini rahasia.

Gak punya nyali naik beginian...
Gak punya nyali naik beginian…

Ada wahan Jurasic Park, dan kok ampe ada yang jual jas hujan gitu di depan wahananya. Loh, kami gak prepare baju ganti nih. Kami juga males kalau harus mengeluarkan dolar kami buat beli jas hujan plastik. Tapi akhirnya nekat ajah, berhubung wahana itu udah gak begitu antri. Kami berpikir, ah nanti jalan2 sebentar juga kering lagi. Cuek ajah. Ternyata, wahana nya kayak arung jeram kalau di dufan. Tapi yang bikin lebih seru itu, ada masuk ke pintu yang kemudian kita meluncur ke bawah, kayak di jeblosin gituh… hadewh… mainin adrenalin lagi. Pokoknya gak ada yang biasa di sini. Semuanya luarrrr biasaaa….

Alhamdulillah, posisi duduk kami gak bikin kami terlalu basah. Krennya, di luar juga tersedia mesin pengering untuk seluruh badan. Kita tinggal berdiri, dan ditiup, kayak pengering di tempat cuci tangan gitu.

Oh iyah, untuk melindungi barang2 kami, disediakan loker tempat menyimpan barang, yang setiap satu jam nya 5 dollar kalo gak salah. Kalo lewat itu, yah bayar lagi deh. Huhuhuhu… SIngapura benar2 merampok kami…. oh oh… hehhehehhehe…

DSCF2491

Lucunya ada baby dinosaurus loh… lucu yah… robot sih… mereka disediakan buat foto2 kayak bareng baby dinosaurus beneran gitu deh.

Wewww.... ada baby Dino loh...
Wewww…. ada baby Dino loh…

Yang ini masih ajah bikin terkagum-kagum

WOWWWW... speechless,,,
WOWWWW… speechless,,,

Moto kaki ah… dear feet steps…please stay healthy so you can bring us to see the hole world…

Our steps... always move on.. to see the world
Our steps… always move on.. to see the world

Wahana ini yang terakhir kami naiki. Madagaskar. Bener2 epic, kayak masuk ke istana boneka. Liat mereka pada goyang sambil nyanyi2, tapi terhibur banget deh.

I Like to Move It.. Move It.. We Like to Move It Move It..
I Like to Move It.. Move It.. We Like to Move It Move It..

Akhirnya kami keluar area USS, tapi sebelumnya kami sempat kelaperan beli kebab seharga 10,8 dollar, tapi lumayan gede dan sayurnya banyak. Satu buat berdua, dinikmati di pinggir danau. Euhm…enaknya… terus sebelum keluar kami beli magnet kulkas USS ajah seharga 4 dollar. Dah ituh ajah yang kami beli di situ. Bahkan masuk ke Herseys yang toko coklat asal Ameriki pun gw gak beli apa2. Beli Herseys sih tapi di Pasar Bugis. :))

Nah yang ini air mancur yang seru… yang suka gw liat di film2 korea.

DSCF2544

Tawarin zaki buat nonton Wings of Time, karena bayar lagi eh males. Ya udah menikmati sore dan kelelahan ajah di pinggir laut.

Relaxing at the bay...
Relaxing at the bay…

Look… what I’ve got… they’re in love… and enjoying the sunset… same with us.. :))

A lover...
A lover…

Karena capek, gw bobo an bentar… kok bagus yah..kalo di jepret…

Ngambil fotonya sambil lay down.. saking capeknya hari itu...
Ngambil fotonya sambil lay down.. saking capeknya hari itu…

Kami udah lelah banget. Mau ke vivo aja, ngantri banget monorail nya. Sampe vivo, belanja di Giant. Beli salad seharga 5 dolar, chia seeds, dan buah kiwi. total 24,25 dollar. Biar lagi liburan, kami harus tetap sehat. Biar gak sakit dan enjoying liburannya,

Sampe Bugis Zaki kelaperan lagi. Kami memutuskan makan KFC, karena udah beli salad, ya bolehlah junk food. Setelah itu kami pulang dan istirahat… sambil bersiap untuk hari ketiga…. hari Jumat. Hari ini kami senang… balik jadi anak2… :)) Thank you USS…

Ngecap Paspor 2015 ; Singapore (Day 1st)

Hahahaha… gw juga bingung banget mau kasih judul apa sama tulisan gw kali ini. Tapi semenjak memperpanjang paspor tahun kemaren, kok sayang yah kalo itu paspor masih kosong melompong. Tahun kemarin udah dicap dong di Suvarnabhumi. Nah tahun ini, berhubung lagi krisis ekonomi, ya yang deket aja deh ngecap nya. Pilihan jatuh pada Singapura… Yuhuuuu…

Sebenarnya ini bukan kali pertama gw ke Singapura. Waktu itu tahun 2010 via Batam bareng teman-teman kantor. You know lah… :))) Pas ke Singapura pertama kali juga kan pake guide, terus cuma satu malem. Aduh kayak ngimpi deh, yang bisa diceritain apa yah… gw aja bingung. Seinget gw waktu itu kita cuma ke Merlion,  Bukit Bintang (apanya yang bukit gw bingung), Orchard, makan eskrim 1 dollar, ke Sentosa poto2 dan nonton Wings of Time, makan nasi padang, ke Mustafa, bobo di hotel cuma 4 jam, terus balik mustafa lagi shubuh2 (I’m Indonesian yeah) terus pulang deh lewat Changi. Udah gitu ajah. Yang paling berkesan waktu itu cuma pas nonton Wings of Time kalo gak salah. Sederhana isinya tapi dikemas keren banget, pakai permainan lampu laser. Di Indonesia belum ada.

Kali ini, berhubung kesininya bareng Zaki, harus matang dong persiapan. Waktu itu pengen abisin cuti ajah, tapi rencana berubah ketika ada sepupu Zaki yang mau merid di bulan November. Harus sisain cuti. Baiklah, karena menurut gw Singapura tidak besar sekali, akhirnya gw putusin ambil cuti 3 hari. Rabu- Jumat pulang Sabtu. Perburuan tiket di mulai. Kali ini gw yang tanggung jawab tiket dan itinerary. Biar Zaki yang urus penginapan dan tiket2 masuk tempat hiburan (pintarkan gw 🙂 *tersenyumlicik*

Tiket sudah dipesan. Kali ini dapat 1,9 berdua, pp, tanpa bagasi, naik TIger Air. Gw cari juga gak cuma murah aja yah, tapi juga yang jam nya asyik. Biar waktunya optimal. Awalnya seperti biasa, gw semangat banget bikin itin, googling sana sinih, perbandingin itin sono sini. Pokoknya biar tiap detik dan tiap sen yang kita keluarkan berarti gitu loh. Halah… hahahahha…

Zaki udah dapet hostel, namanya Plush Pods Hostel di daerah Bugis. Emang kalo di daerah Bugis harganya agak lebih mahal dibandingkan di Geylang atau China Town. Tapi konon relatif lebih bersahabat susananya. Meski ini hostel tapi dari situs agoda yang kita pake, itu private buat 2 orang ajah, plus kamar mandi dalam. Dilihat dari gambar ya okey, tapi kayaknya lo harus investigasi lebih lanjut. Pelajaran moral 1 : Dont believe 100% your booking sites. Oke deal per malam 700 rb an. TIket USS cari2 di online dapet seharga 65 Sing Dollar/orang. Untuk tiket yang lain, kita berpikir ya liat nanti di sana aja gimana lah ya…

Kami memutuskan bawa mobil untuk lebih menghemat dibandingkan naik taksi. Kenapa gak naik DAMRI? Soalnya Damri terdekat letaknya di Kayuringin Bekasi Barat dan Terminal Kampung Rambutan Jaktim. Berhubung ribet kesananya naik apa, ya udah kita putuskan naik mobil dan parkir nginap di bandara.

Sampe di bandara jam 06:30, rencananya mau sarapan di lounge yang gratisan. Tapi ternyata lounge yang gratisan masih dalam proses renovasi akibat kebakaran beberapa waktu yang lalu, Ada siyh yang bisa gratisan pake cc, tapi cuma satu orang, dan gak bisa bayar. Akhirnya kami sarapan di Old Town White Coffee. Gw pesen roti bakar ala Sinagpura, Kaya toast, roti bakar yang warnanya coklat dengan isi selai srikaya dan butter. Zaki pesan Spring Noodle Chicken and Sausage alias Indomie kari ayam dengan potongan ayam, sosis, dan pokcoy sebagai sayurnya plus air mineral. Total sarapan kita abis 104 rb. Buat bekal nanti kita beli pastel kari 4 biji harganya 60 rb.

Tiba-tiba terdengar panggilan nomor penerbangan kita untuk masuk gate, dan tepat waktu pesawat menuju Singapura. Penerbangan berjalan lancar meski tanpa hiburan, gw lumayan nyenyak tidur. Isi dokumen imigrasi di atas pesawat.

Tiba di Singapura langsung menuju loket pembelian Singapore Tourist Pass, yaitu kartu langganan untuk naik MRT selama 3 hari kedepan. Kartu untuk 3 hari harganya 30 singdol dengan jaminan 10 dolar dan kartu untuk 1 hari 10 dolar. Naik MRT menuju Bugis harus transit di Tanah Merah. Perjalanan 30 menit. Tiba di Bugis bingung cari hostel. Untungnya petunjuknya jelas, keluar stasiun MRT ke arah Tan Kuan Lee Street. Tepatnya di ujung Heritage Place. Hostelnya kecil, kayak ruko. Kok gw merasa melihat itu kayak pintu kemana saja ya… yang di dalamnya penuh misteri… “Sejatinya sebuah petualangan dimulai sejak petualangan itu direncanakan.” Jadinya, ya sejak mencari hostel, bikin itinerary pun sebenarnya kita sudah bepetualang dengan sejuta misteri di dalamnya.

Yeayy, ketemu, tulisannya kecil banget. Masuk ke dalam gak liat apa2 selain lift dan sebuah lemari yang menutupi dinding. Setelah gw tauk isinya, perlengkapan untuk hostel, kayak handuk, sabun, dsb. Ada petunjuk lobby di lt. 2.

Our hostel :)))
Our hostel :)))

Setibanya di lobby, kita disambut sama mas2 resepsionis yang beretnis Tiongkok. Kami diminta memperlihatkan paspor dan bukti booking dari Agoda dan memberikan uang jaminan 30 dollar. Kami pun dikasih kunci dan katanya kamar kami letaknya di lantai ini di bunker 5E. Segeralah kami menuju kamar dimaksud. Kamar?? Yakin loh kamar? Setibanya kami di dalam kamar yang lebih mirip bunker, ada 2 tempat tidur tingkat, dan jelas2 ada penghuninya terlihat dari barang2 yang berserakan dimana-mana. Tentu saja kami shock dan bergegas kembali ke reespsionis untuk minta penjelasan. Karena gw dah emosi, akhirnya biarlah si Zaki yang berdialog sama mas2 yang agak chubby itu. Ternyata, persepsi hotel dan agoda berbeda.Di agoda jelas2 kami pesan satu kamar dan kamar mandi dalam tidak bercampur dengan tamu lain. Tapi pihak hostel menjelaskan, dengan harga yang kami bayar itu kami mendapat bunker untuk berame2 dan gak terpisah gender. Gila kan… moso iya sekamar berame-rame sama laki2 pula. Sodara mending, nah ini. Okey, gw suka baca buku n blog nya Trinity tapi gw gak kebayang untuk kayak gitu.

Setelah bernegosiasi, kami minta yang modelnya kamar aja plus kamar mandi dalam dengan menambah uang sebesar 125 dollar untuk 3 malam. Berasa dirampok dan langsung berasa bangkrut. Gw yang bete banget, agak nyalahin Zaki sih. Secara dia bagian cari hostel kan. Tapi dia juga gak salah sepenuhnya. Agoda aja yang dudul…. Pelajaran no 678. Cek langsung ke hostel sebelum lo deal booking. Oh ya alhamdulillahnya kita dapat makan pagi siy.

Plush Pods Hostel, ada tv, kamar mandi dalam yang kaca itu
Plush Pods Hostel, ada tv, kamar mandi dalam yang kaca itu. Ada tv juga meski gak pernah kita nyalain 🙂

Itu tempat tidurnya, di bagian atasnya ada AC nya. Maafkan ada model yang sudah lelah sangat.
Itu tempat tidurnya, di bagian atasnya ada AC nya. Maafkan ada model yang sudah lelah sangat. Gak ada selimut, untungnya bawa sarung Bali. Kasurnya juga udah lembek banget. Kamar gak ada jendelanya. Tapi gak lembab banget kok. Gak ada keset kamar mandi juga. Wifinya okeh 🙂

Setelah dapat kamar, kami bergegas masuk dan langsung istirahat dan memutuskan untuk jalan lagi sejam kemudian, tepatnya jam 16:00. Berbekal dua botol air minum dan roti tawar isi ovomaltine kita siap menjelajah. Makan siang? Berhubung kita berasa abis kerampokan, ya udah kita makan siangnya pastel kari yang dibeli di bandara Soetta.

Tujuan pertama Singapore Flyer. Kalo di Indonesia kayak kincir raksasa, yang bisa dinaikkin terus muter.  Pas di atas kita bisa melihat pemandangan kota Singapura sampai negara tetangga Malaysia dan Indonesia. Tapi lagi2 harus bayar dong 33 dolar. Kami memutuskan untuk gak usah naik. Poto-poto di depannya juga udah cukup kok.

Singapore Flyer aka Kincir Raksasa
Singapore Flyer aka Kincir Raksasa

Naik ke tempat SG Flyer, bisa melihat Marina Bay Sands Hotel yang dipisahkan sungai. Singapura emang jago banget menata pariwisata. Di sungai itu ada yang namanya The Wacky Duck. alias perahu untuk menyusuri sungai sambil melihat pemandangan kota dan per orang di tarif 37 dollar. Glek banget kan bo… cuma duduk2 manis di sungai bayar 400 rb. Ya kalo lo sampe ke Pulau sebelah si okey. Nah ini cuma muter2 kali berapa meter palingan.

Dari area SIngapore Flyer keliatan sungai dan Marina Bay Sands Hotel yang tersohor itu
Dari area SIngapore Flyer keliatan sungai dan Marina Bay Sands Hotel yang tersohor itu

Dari SG Flyer, kami berencana ke MBS Hotel, jalan ke arah sungai, ketemu jalan raya dan jalan menuju MBS. Singapura emang top banget buat pejalan kaki. Pokoknya nyaman deh.

Trotoar di Singapura emang nyaman banget buat pejalan kaki :)
Trotoar di Singapura emang nyaman banget buat pejalan kaki 🙂

Ini sungainya dilihat dari trotoar
Ini sungainya dilihat dari trotoar

Sampai di MBS Hotel, ada pemandangan beberapa mobil Ferari, yang katanya disewakan buat nyobain sensasi naik Ferari. Foto dulu dong.

Mejeng di depan mobil2 keren yang di parkir di depan MBS Hotel
Mejeng di depan mobil2 keren yang di parkir di depan MBS Hotel

Nah ini mode lain transportasi buat turis. Hellowww Jakarta kemana yah…. hahahhahaha…

SIngapore City Buss for SIght Seeing bayar dong jadi gak naik deh :)
SIngapore City Buss for SIght Seeing bayar dong jadi gak naik deh 🙂

Masuk ke dalam MBS yang didalamnya selain hotel, ada cafe, restoran, mall dengan butik2 kelas dunia dan yang paling terkenal casino tentunya.

Tampak dalam MBS Hotel, karena ada mall nya juga ya pasti ada kafenya dong
Tampak dalam MBS Hotel, karena ada mall nya juga ya pasti ada kafenya dong

Ke arah samping MBS ada pemandangan sungai, dimana kami bisa melihat Patung Merlion.

Sungai dari pinggiran MBS, kalo diperhatikan patung Merlion ada diseberangnya, agak jauh memang.
Sungai dari pinggiran MBS, kalo diperhatikan patung Merlion ada diseberangnya, agak jauh memang.

Capek juga jalan yah… istirahat dulu di pinggiran kolam teratai.

Turis laper... makan bekal roti gandum ovomaltine bekal dari rumah :)
Turis laper… makan bekal roti gandum ovomaltine bekal dari rumah 🙂

Di area MBS ada Art Science Museum, kalo gak salah masuk kedalam nya 24 dollar. Lagi-lagi kami foto aja. Kebetulan hari itu ada kunjungan dari anak SMU Singapura. Singapura adalah negara kecil dengan 3 etnis utama, Tiongkok, Melayu, dan India. Lucunya ketiga etnis itu tidak melebur menggunakan bahasa Melayu sebagai Bahasa resminya. Mereka pada umumnya sehari2 berbahasa Inggris. Kalau dengan sesamanya, yang India pake Bahasa India, yang Tiongkok dan Melayu pun begitu. Makanya ada temennya Zaki yang etnis Tiongkok gak bisa nyanyi lagu kebangsaannya yang berbahasa Melayu. Lucu yah…

Art Museum, pengen masuk tapi... mahal 24 Singdol, jadi poto2 aja deh :)
Art Science Museum, pengen masuk tapi… mahal 24 Singdol, jadi poto2 aja deh 🙂

Ini mall MBS nya keliatan. Atapnya seperti mangkuk transparan. Itu termasuk karya Art Science juga lho.

Dilihat dari atas bentuknya seperti mangkok, atap mall di MBS Hotel
Dilihat dari atas bentuknya seperti mangkok, atap mall di MBS Hotel

Puas keliling MBS dan sekitarnya, kami beranjak ke Garden By The Bay untuk menyaksikan taman yang dihiasi lampu2, katanya keren banget kalau malam, ada lagunya dan permainan lampu yang cantik. Tapi kok capek juga yah… poto dulu lah…

Capek....duduk dulu ah... mau ke Garden by The Bay..
Capek….duduk dulu ah… mau ke Garden by The Bay..

Ini dia… Garden by The Bay. Sebenarnya GBTB itu adalah kebun yang letaknya di atas berisi 1 juta tanaman dari 50.000 spesies yang ada di dunia. Pembuatannya emang complicated banget, waktu itu pernah ada di Natgeo. Kebun itu berisi bunga2, tumbuhan2 dari hutan tropis bahkan ada air terjun buatannya. Tapi kalau mau masuk ke dalamnya bayar. Jadilah kami liat2 aja di bawah permainan lampu yang disajikan dengan lagu2 ceria memeperlihatkan keramahan dan keindahan Singapura. Kalo gw liatnya sih, kehebatannya mengemas dan menjual. Hihihihihi

Sampe....akhirnya... GbTB
Sampe….akhirnya… GbTB

GbTB tampak jauh
GbTB tampak jauh

Jalan-jalan air minum kita habis, lihat kanan kiri gak ada kran air minum, malah ada mobil ini, yang menjual minuman dan snack. Gw yang ngirit males dong ngeluarin duit buat beli minuman air putih seharga 2,2 dollar. Tapi si Zaki cuek ajah dia beli.

Mobil yang menjual snack dan minuman di area GbTB, karena gak ada warung.
Mobil yang menjual snack dan minuman di area GbTB, karena gak ada warung.

Padahal, gak jauh dari situ ada toilet, dan di belakang nya ada kran air minum dong. Hahahhahaa… langsung isi deh semua botol kita. Pelajaran nomor 456 di Singapura kran air minum biasanya terletak dekat dengan toilet umum.

Kran ini... bagai oase di padang pasir, sangat membantu para turis kere kayak kami ini :))
Kran ini… bagai oase di padang pasir, sangat membantu para turis kere kayak kami ini :))

Hari semakin gelap, kami segera ke arah GBTB untuk melihat permainan lampu. Nah kan udah banyak yang dateng, gak semua turis naik kok. Banyak juga yang cuma di bawah duduk-duduk menikmati lampu.

Pengunjung bersiap menyaksikan atraksi di GbTB
Pengunjung bersiap menyaksikan atraksi di GbTB

Pertunjukkan permainan lampu dan music dikemas dengan teknologi tinggi yang bikin turis terkagum-kagum
Pertunjukkan permainan lampu dan music dikemas dengan teknologi tinggi yang bikin turis terkagum-kagum

DSCF2391

MBS in the nigt... full of lights
MBS in the nigt… full of lights

SG Flyer and MBS di malam hari
SG Flyer and MBS di malam hari

DSCF2407

Semakin malam, kami pun laper. Rencana berikutnya kami mau cari makan ke China Town. Ini persimpangan China Town.

Lalu lintas malam hari di daerah China Town
Lalu lintas malam hari di daerah China Town

Gerbang China Town
Gerbang China Town

Nah ini pasar malamnya. Banyak yang jual souvenir2 khas Singapura. Gw yang emang gak niat belanja. Ya liat2 harga ajah. Ngebandingin. Tujuan utama sih cari makan. Tapi kok takut yah… hehhehehe. AKhirnya kami memutuskan pulang ke daerah Bugis yang mungkin lebih banyak pilihan makanan halalnya.

DSCF2418

Muter2 Bugis, isinya gak beda jauh dengan China Town, pasar souvenir Singapura. Pusing muter2 kami memutuskan makan di resto cepat saji Sevel yang ada label halal. Selain itu kami dah capek jalan. Untuk dinner hari ini kami menghabiskan 7,8 dollar Menunya rendang dan ayam kecap. :))

Dinner at sevel Bugis
Dinner at sevel Bugis

DSCF2424

Selesai untuk hari ini, gak sabar buat berpetualang esok hari. Sesampainya d hostel kami langsung mandi, sholat, ngecas gadget dan tidur. Dollar yang kami infakkan ke Singapura hari ini totalnya 267 dollar… wew… baru hari pertama yah. Bersambung ya… hari kedua kami mau ke USS…pastinya seru banget deh….