Ngecap Paspor ; Singapore Day 3 (Merlion, Kampong Glam, Botanic Garden, Orchard Road, Little India)

Alhamdulillah bisa melanjutkan cerita perjalanan gw di Singapura kemarin. Kali ini gw akan cerita sekaligus hari ketiga kami berkeliling negara Singa ini.

Setelah lelah hari kedua kemarin kami puas main-main di Universal Studio, hari ini kami mau city tour. Padahal itinerary kami hari ini ingin merasakan sholat Shubuh di Mesjid Sultan, tetapi berhubung kami lelah hari kemarin, ya sholat di hostel sajalah.

Tujuan kami akhirnya menuju ikon negara ini, yaitu Merlion. Sempat bingung juga ke Merlion. Tetapi untungnya, memang wilayah tujuan wisata. Banyak juga deh barengannya. Apalagi orang Indonesia, padahal waktu belum menunjukkan pukul 09:00 dan kebanyakan mereka datang rombongan, lengkap dengan gaya kaca mata hitam, payung, dan tongkat narsis.

Di Merlion, kami tidak terlalu lama. Ambil foto di depan patung singa, satu dua jepret, abadikan sekitarnya. Langsung beranjak menuju tujuan berikutnya. Dari lokasi ini kita bisa lihat hotel Marina Bay Sands dari jauh, sedangkan kemarin kami sudah masuk ke dalamnya.

Merlion

Tujuan kami selanjutnya sebenarnya gak jelas juga. Pikiran gw waktu itu cuma pingin keliling kota ini dengan berjalan kaki. Pingin tahu apa isi kota ini sampai ke pelosok-pelosoknya. Ya, katakanlah gw berlebihan, tapi memang itu yang ada di kepala. Akhirnya kami berjalan mengikuti kaki ke arah trotoar yang agak menanjak, lalu menuruni tangga untuk menuju Esplanade. Melalui terowongan yang sepi dan sempat-sempatnya  ambil poto, buat lucu-lucuan.

Tibalah kami di Esplanade, yang agak membuat kami lelah karena matahari yang cukup bersinar terik waktu itu. Suasana masih sepi pengunjung, hanya satu keluarga dengan anaknya yang bermain di atas meja pingpong berbentuk bulat. Kami melihat poster-poter yang berisi jadwal pertunjukkan. Tiba-tiba ada pintu masuk. Kami sebelumnya tidak tahu, apakah boleh masuk kalau tidak ada pertunjukkan, bayar atau tidak masuknya. Tetapi Zaki berkeras ingin masuk. Pingin mendinginkan kepala katanya. Akhirnya gw mengalah. Kami pun masuk. Benar saja, begitu pintu kami buka, hembusan angin pendingin ruangan begitu sejuk menerpa wajah. Setelah tengok kanan kiri tidak ada yang menegur, kami langsung semangat 45 menyusuri ruangan tersebut.

Hal pertama yang kami lakukan apalagi kalau bukan terperangah uniknya desain ruangan tersebut. Bodohnya lagi saya gak berani mengeluarkan mirrorless saya, takutnya dilarang foto-foto. Tapi sepertinya saya ambil gambar dengan iphone zaki. Ruangan itu bisa dikatakan lobby dari Esplanade, di bagian tengahnya ada sebuah karya seni yang kalau dilihat dari kejauhan seperti sekumpulan burung yang sedang terbang. Ada anak tangga yang mengarah ke panggung. Di bagian sebelah kiri, ada papan yang berisi seniman-seniman yang berjasa bagi perkembangan seni di Singapura. Agak terkejut juga saya membaca beberapa biografi seniman-seniman tersebut. Ada dua orang yang berasal dari Indonesia, aseli Indonesia. Di masa mudanya mereka bermigrasi ke Singapura dan menetap di sana. Singapura memang benar-benar menghargai apapun karya mereka dengan tidak memandang asal dari mana, yang jelas mereka sudah memajukan seni di Singapura. Merinding saya membacanya.

Lobby Esplanade
Lobby Esplanade

Beranjak ke bagian atas, ternyata lagi-lagi gedung ini dihubungkan dengan mal. Ada toko yang menjual alat musik ukulele dengan beragam motif. Mampir ke toilet sebentar, mumpung masih sepi. Kemudian, ada serombongan anak TK sedang berkunjung. Waktu beranjak siang, dan kami teringat harus segera mencari mesjid untuk Sholat Jumat. Kami memutuskan untuk kembali ke Bugis mencari Mesjid Sultan, yang katanya merupakan salah satu tujuan turis.

Espalanade

Mengikuti petunjuk yang memang sangat memudahkan para turis ini, kami menuju stasiun MRT. Melewati parkiran lalu masuk, melewati lorong panjang, kami mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangan tentunya. Di sepanjang lorong tersebut, kami seperti berada di museum atau galeri seni yang memajang sebuah maha karya. Tetapi, uniknya lukisan yang dipajang bukanlah lukisan dari para pelukis terkenal Singapura ataupun dunia. Melainkan coretan tangan dari anak-anak Singapura, yang menceritakan asal usul keluarga mereka. Lukisan yang terlihat begitu jujur. Selain itu ada beberapa puisi atau narasi yang berisi curahan hati. Saya paling suka sama tulisan yang berjudul “Me, Myself, and I”. Isinya menceritakan dirinya dengan berbagai banyak minat dan gak bisa memilih salah satu yang paling diminatinya. Semua membentuk karakter si penulis.

Lorong MRT Esplanade

Menggunakan MRT, kami menuju kawasan Bugis. Berbekal aplikasi penunjuk jalan dan peta kami mencari jalan menuju Masjid Sultan. Daripada nyasar, kami pun memilih untuk bertanya kepada serombongan Bapak-bapak berpeci. Tebakan kami, Bapak-bapak ini pasti hendak pergi ke masjid juga. Benar saja, setelah kami sapa, rombongan yang berjumlah empat orang ini hendak menuju masjid Sultan, tapi mereka hendak mencari makan dulu di kawasan Kampung Gelam. Bapak-bapak ini berusia kurang lebih seusia dengan orang tua kami sekitar enam puluh tahunan. Ternyata mereka berasal dari Riau. Mereka berkunjung ke Singapura hendak menghadiri pernikahan salah satu anak teman mereka yang rumahnya di pinggiran Singapura. Akhirnya kami bersama menuju ke arah mesjid Sultan.

Waktu menunjukkan masih ada satu jam lagi sebelum masuk waktu sholat Jumat. Mungkin karena kami sudah berjalan cukup lama, kami lapar dan memutuskan untuk mencari makanan Indonesia di daerah Kampung Arab.

Kami pun berpisah dengan rombongan Bapak-bapak tersebut dan menuju Bali Lane yang sepertinya menarik untuk dilewati. Bangunan disepanjang Haji Lane ini merupakan tempat usaha. Ada  barbershop, salon kuku, art shop, tapi yang paling banyak ya rumah makan. Rumah makan ayam penyet, kebab, masakan India, ataupun Tiongkok. Di ujung jalan Haji Lane, terdapat gang kecil yang dindingnya penuh dengan vandalisme yang nyeni banget. Lokasi ini merupakan lokasi wajib foto bagi para turis. Bangunannya boleh tua, tetapi lukisan dindingnya masa kini.

Haji Lane

Akhirnya kami menemukan tujuan kami, Mesjid Sultan. Melirik waktu sholat masih sekitar 30 menit, kami memutuskan untuk mencari makan siang. Berjalan menyusuri pertokoan yang menjual souvenir, kami menemukan kafe Kampong Glam. Kafe ini terletak di ujung jalan . Di Indonesia rumah makan ini seperti warteg, tetapi letak meja dan kursinya seperti restauran. Pengunjung langsung memilih makanan dengan cara touch screen maksudnya dengan cara menunjuk makanan yang dipilih, stelah itu langsung membayar di kasir. Selain makanan kafe tersebut juga menjual kue-kue khas Singapura. Seperti pastel, donat, apem, dan masih banyak lagi.

Setelah dua hari kemarin kami lumayan irit dengan makan, kali ini kami agak melampiaskan nafsu makan kami. Apalagi makanan yang tersaji kali ini mirip sekali dengan makanan rumahan Indonesia. Seperti sop, terong goreng, ikan teri, telur dadar, dan lain-lain. Zaki juga memesan segelas air jeruk nipis dingin yang segar banget, untuk cuaca terik siang itu. Saya juga membeli dua buah pastel isi kari dan dua buah risol isi sayuran. Buat bekal kalau-kalau nanti lapar lagi.

Makan Siang Kampung Glam

Dari Kafe Kampong Glam, kami berpisah. Zaki sholat Jumat, dan saya memutuskan berjalan menyusuri daerah tersebut. Sendirian.

Saya beranjak menuju Arab Street, sepanjang jalan tersebut merupakan pertokoan yang menjual barang-barang dari Arab. Seperti toko oleh-oleh bagi mereka yang baru saja berhaji. Seperti air zam-zam, hena, alat minum warna emas dan lain-lain. Dari situ saya sampai di North Bridge road dimana banyak rumah makan yang menyajikan masakan khas India dan Timur Tengah. Kemudian, sampailah saya di Kandahar Street, bangunan tua di sepanjang jalan ini kebanyakan juga merupakan tempat usaha. Tiba-tiba saya melihat sekerumunan orang berada di depan sebuah toko. Keingitahuan saya mulai terusik. Ternyata toko tersebut menjual kue yang kalau di Indonesia disebut bolu gulung aneka isi. Penjualnya keturunan Tionghoa. Sebenarnya saya punya keinginan mebeli kue itu. Tapi kami masih ada sehari lagi, dan agak repot nanti membawanya. Saya putuskan tidak jadi beli. Lagipula melihat antriannya bikin saya ciut.

Kandahar street

Puas mengelilingi daerah Kampong Glam, saya melihat jam dan memutuskan menuju Mesjid Sultan. Rupanya banyak juga yang hanya duduk-duduk di pelataran mesjid tersebut. Sesekali beberapa turis asing berwajah Kaukasoid pun terlihat. Persis di depan mesjid, saya melihat ada toko yang menjual barang-barang yang saya yakin hanya dibuat di Indonesia. Iya, merek aseli Indonesia. Berupa jamu kemasan, obat ketiak, pewarna rambut, krim wajah, hingga teh diet. Agak bangga dan gimana ya. Tapi mengingat jumlah orang asal Indonesia di Singapura, ya tidak heran juga sih kalau barang-barang ini mudah ditemukan.

Dari tempat saya beristirahat, saya juga bisa melihat ada Restoran Minang di sana. Cukup ramai pengunjungnya. Ketika saya menunggu, saya sempat berkenalan dengan seorang wanita yang berasal dari Pakistan, tepatnya kota Karachi. Dia sudah cukup lama tinggal di Singapura, mengikuti suami bekerja. Ternyata dia pernah tinggal di Jakarta, dan bahasa Indonesia nya cukup bagus. Bahkan dia cerita, anak bungsunya suka sekali makan sate ayam. Ah bangganya saya. Tidak disangka jika usianya sudah hampir 50 tahun dan anak yang pertama sudah cukup dewasa. Wajahnya terlihat masih muda. Sayangnya saya tidak berani meminta selfie. Entahlah. Dia bilang, meskipun kehidupan di Singapura lebih aman dibandingkan di negaranya, tetapi dia tetap lebih suka tinggal di negara asalnya. Apalagi kalau bukan keluarga besarnya. Diapun selalu menyempatkan pulang setiap hari raya Idul Fitri. Ah, hidup memang harus selalu memilih. Kamipun berpisah setelah jamaah sholat Jumat mulai meninggalkan mesjid. Dia mencari keluarganya dan saya mau sholat Zuhur. Saya lupa juga namanya siapa ya?

Mesjid Sultan salah satu mesjid tertua di Singapura. tidak heran mesjid ini sangat ramai dikunjungi, terlebih lagi hari Jumat. Ketika saya menanyakan tempat wudhu dengan bahasa Inggris, entah kenapa, Bapak yang saya tanya menjawab dengan Bahasa Indonesia dengan logat Jawa medok. Langsung saja saya tertawa dibuatnya. Selesai sholat dan mengambil beberapa gambar di dalam masjid, kami melanjutkan perjalanan yang tanpa tujuan ini.

Mesjid Sultan

Tiba-tiba saya terpukau dengan sebuah bangunan yang letaknya tidak jauh dari Masjid. Ke arah restoran Minang, kami hanya menyebrang dan menemukan tulisan : Malay Heritage Centre. Sebelumnya saya tidak tahu, bahkan dari beberapa blog yang saya kunjungi saat membuat itinerary, tempat ini hampir tidak pernah disebutkan. Kamipun segera masuk. Hawa dingin dari dalam ruangan membuat kami tersenyum. Tebak apa yang kami lihat di sana? Sejarah suku Minangkabau. Suku melayu yang menjadi bagian salah satu ras penduduk Singapura berasal dari suku Minangkabau. Minangkabau merupakan suku yang berasal dari Sumatera Barat, salah satu provinsi di Indonesia. Diperlihatkan peta Pulau Sumatera dimana suku tersebut berasal. Lengkap pula dengan asal-usul, sistem kekerabatan, nama marga, hingga manekin pengantin melayu. Baiklah, saya kembali termenung, saya menemukan cerita tentang suku yang berasal dari negara saya, di negara tetangga. Mungkin budaya merantau suku tersebut yang membuat mengapa suku tersebut cukup diperhitungkan di Singapura. Bahkan setiap tahun selalu digelar pertemuan warga asal Minangkabau, agar tidak melupakan kerabat dan asal usul. Apakah di Indonesia ada? Saya yakin ada. Pasti ada.

MHC

Puas mengagumi Malay Heritage Centre, kami menyusuri Sultan Gate, kembali ke Arab Street dan memutuskan untuk kembali ke hostel untuk beristirahat sejenak. Bermalas-malasan sambil menikmati wifi. Jam 15:30 kami memutuskan untuk pergi menuju Singapore Botanic Garden. Dari peta MRT yang kami lihat, letaknya agak jauh. Tapi kami tetap mau kesana.

Tiba di SBG sudah agak sore, kami pun masuk. Jangan bayangkan kebun raya seperti Kebun Raya Bogor ya. Kebun raya Singapura ini tidak seberapa besar. Usia pohon-pohon di sana mungkin sebagian besar hanya puluhan tahun. Hamparan padang rumput didalamnya memikat pengunjung untuk hanya skedar berpiknik dan bercengkrama. Menikmati sore dan udara bersih.

Singapore Botanical Garden

Kami menyusuri kebun tersebut dan menemukan jalan pintas menuju National University of Singapore. Pantas saja banyak sekali mahasiswa berseragam yang kami temui melewati kebun raya tersebut untuk menuju stasium MRT. Zaki minta di foto di beberapa titik NUS. Setelah puas, kami berencana ke Orchard lalu Mustafa Center di daerah Little India. Perjalanan dari SBG menuju MRT kami sempat melihat rumah tinggal di Singapura. Bisa dipastikan yang tinggal di dalamnya merupakan orang kaya. Mengingat kebanyakan warga Singapura tinggal di Apartemen. Itu hanya kesimpulan saya pribadi. Tidak usah percaya.

NUS

Kurang afdol sepertinya kalau kami tidak mengunjungi pusat belanja di Singapura. Tapi sebenarnya tujuan kami adalah makan ayam penyet di Lucky Plaza. Pertokoan di Lucky Plaza bagian atas sudah ada beberapa yang tutup. Untungnya tempat yang kami tuju belum tutup. Kami pesan ayam penyet 2 porsi, jus alpukat dan es jeruk. Kami menghabiskan 21,70 dollar untuk ayam penyet. Oh my God tiba-tiba saya merindukan makan ayam penyet 15 ribu di kantin kantor.

Setelah makan malam, entah kenapa saya gak berminat belanja coklat di Lucky Plaza. Kami menyusuri Orchard Road yang cukup ramai. Lalu  kami masuk mall yang tujuannya agar kami bisa menuju MRT dengan mudah. Butik-butik branded begitu saja kami lewati. Lagi-lagi saya tidak tertarik dengan barang-barang mahal di sana atau karena kaki saya sudah begitu lelah dan kemungkinan tabungan kami bisa minus. Saya pikir di Jakarta juga banyak yang begitu. Terus, apa di Jakarta saya beli? Sudah pasti tidak juga. Hiiii… Langsung saja kami menuju MRT untuk menuju Mustafa Centre. Tapi ide saya ke Orchard ataupun pusat belanja lainnya dimalam hari, cukup efektif membuat nafsu belanja sedikit berkurang. Selain itu kalau traveling juga saya lebih suka membeli benda yang otentik dengan tempat yang saya kunjungi.

Perjalanan menuju Mustafa Centre, lumayan jauh. Hari sudah gelap, saat kami tiba di Little India. Kami sudah tiba di Little India, tapi di mana letaknya Mustafa Center? Sebagai orang Indonesia, tidak lengkap rasanya kalau ke Singpura tidak mengunjungi pusat perbelanjaan 24 jam ini. Apalagi tujuan saya kalau bukan untuk membeli oleh-oleh. Bagi sebagian orang Indonesia, membawa oleh-oleh itu bisa dibilang wajib kalau bepergan. Apalagi perginya ke luar negeri. Lagipula setelah lima tahun lalu, saya ingin kembali berkunjung lagi ke Mustafa.

Ternyata, kami salah turun MRT, kami turun di Little India, seharusnya kami turun setelahnya. Hal tersebut mebuat kami harus jalan cukup jauh untuk menuju Mustafa. Saya yang sudah sangat lelah mulai menggerutu. Zaki seperti biasa mengingatkan, kalau ini maunya saya ke Mustafa. “Kita kan sama-sama gak tahu di mana Mustafa itu, ayo sedikit lagi.” tambahnya sok menyemangati. Meski dalam hati menggerutu, tapi saya memanfaatkan ini dengan mengamati wilayah yang didominasi etnis asal India ini. Kebanyakan daerah ini merupakan pertokoan yang menjual barang-barang asal India. Seperti toko grosir di wilayah Jatinegara. Mereka juga memutar lagu-lagu asal tanah leluhur. Diputar sangat keras sekali. Hingga membuat bising. Tapi inilah Little India. Postur tubuh orang India yang tinggi besar, membuat saya berpikir dua kali jika harus traveling solo ke daerah ini. Tapi sepertinya mereka tidak menyeramkan kok, saya saja yang berlebihan. Kami juga melewati sebuah kuil yang berhias lampu warna-warni. Banyak penjual kartu perdana telepon seluler di sini. Tetapi awas, ada beberapa pengalaman yang kurang enak jika membeli kartu perdana di sini. Jadi sebaiknya berhati-hati.

Kuil di daerah Little India
Kuil di daerah Little India

Akhirnya kami tiba di pelataran Mustafa Centre. Hal yang pertama kami lakukan adalah duduk, minum, dan mengambil nafas dalam-dalam sejenak, baru kami masuk. Saya langsung menuju tempat makanan dan coklat. Membeli coklat pesanan teman, dan melihat-lihat beberapa makanan untuk oleh-oleh. Setelah saya lihat, harganya ternyata lebih murah di Bugis Street. Tapi agar tidak sia-sia perjalanan ini, saya beli juga kacang almond mentah di sini. Di Mustafa saya menghabiskan 24,3 dolar. Untuk sekantung kacang almond 500 g dan 4 buah coklat merek Hippo.

Setelah itu kami menuju MRT dan kembali ke hostel untuk merencanakan perjalanan besok, dan kembali ke rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s