Ngecap Paspor; Singapore Day 4 (Last Day)

Akhirnya, tiba juga di hari terakhir di negara mungil tapi sangat modern ini. Pagi-pagi kami sudah bangun. Awalnya saya mau lari pagi, tapi mengingat hari ini kami mau ke bandara, jadinya gak usah lari pagi deh. Pakai baju sekalian untuk pulang, kami mau berjalan-jalan di seputar wilayah Bugis.

Jam 07:25 kami sudah keluar hostel, ke arah jalan raya. Biasanya kami ke arah MRT, kali ini arah yang berlawanan. Meski hari itu hari libur, tetapi pagi itu wilayah Bugis masih sepi baik orang yang berolahraga ataupun kendaraan.

Kami tiba di jalan raya, di mana di seberangnya terdapat beberapa hotel seperti Amaris, Fragrance, dan Hotel 81. Oh, ternyata di sini letak hotel-hotel itu. Baru tahu.

Deretan ruko, hotel dan Jalanan Bugis di pagi hari
Deretan ruko, hotel dan Jalanan Bugis di pagi hari

Kami kemudian menyebrangi jalan, dan melihat bangunan National Building Library kalau diterjemahkan mungkin Gedung Perpustakaan Nasional. Bangunannya terlihat megah dan modern. Beda sekali sama penampilan Perpustakaan Nasional yang terletak di Salemba, agak spooky dan bangunan yang sudah berusia cukup tua.

Dilihat dari papan petunjuk di dalamnya ada perpustakaan tentu saja, perpustakaan untuk publik, drama centre, beberapa kantor organisasi, plaza, kafe, dan tempat pengembalian buku yang beroperasi 24 jam. Bentuknya seperti mesin, dimana kita tinggal memasukkan buku yang akan dikembalikan ke dalam drop box tersebut. Bagaimana kalau buku-buk tersebut dicuri? Ini kota yang penuh dengan cctv, jadi kekhawatiran tersebut sama sekali bukan masalah. Pagi itu saya melihat ada seorang pria yang mengembalikan buku. Tampangnya seperti baru bangun tidur. Kaos oblong dan celana pendek, sepertinya belum mandi, tetapi dia sudah mengembalikan buku yang dipinjamnya. Mungkin takut dikenakan denda. Oh iya untuk masalah denda, ada juga mesin seperti atm yang berfungsi untuk membayar jika kamu dikenakan denda atas keterlambatan peminjaman buku. Mudah sekali kan. Kapan di Indonesia bisa begitu sodara-sodara… (suatu saat Insha Allah)

National Library
National Library

Kami langsung memasuki gedung megah tersebut. Meski hari itu hari libur dan masih pagi. Petugas yang berusia awal dua puluh tahunan tersebut sudah siap melayani pengunjung yang datang. Di lobi utama gedung tersebut terdapat meja petugas yang berjumlah tiga orang. Di depannya terdapat pajangan palet-palet, yang dipasang seperti sebuah karya seni. Ada ruang tunggu, bahkan di ruang tunggu yang dirancang seperti lobi di hotel. Ada seorang kakek yang tengah membaca sebuah majalah, ada lagi yang melihat-lihat majalah lalu dibawa pulang. Waktu itu saya juga mengambil majalah yang memang boleh untuk di bawa pulang tersebut. Isinya bagus. Profil orang-orang biasa, maksudnya bukan artis. Tetapi mereka punya cerita luar biasa. Seperti seorang anak hasil bayi tabung pertama di Singapura, pedagang sate terkenal yang ternyata dari Indonesia, penari, dan masih banyak lagi. Suka…

Di bagian pelataran gedung terdapat seperti panggung untuk pertunjukkan, yang berisi boneka karakter berukuran besar. Dipamerkan juga beberapa maket kota Singapura dari zaman sebelum merdeka hingga sekarang. Mngkin karena Singapura baru saja merayakan kemerdekaannya yang ke 50 bulan Agustus silam.

3. National Library 2

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Bangunan-bangunan tua yang terawat di sana membuat kami terkagum-kagum. Kemudian ada sebuah bangunan tua bercat putih, berukuran cukup besar. Yap, kami menemukan Raffles Hotel. Raffles hotel merupakan tempat kediaman Raffles pada waktu ia masih berkuasa di Singapura.

Sepanjang perjalanan menuju Raffles Hotel
Sepanjang perjalanan menuju Raffles Hotel

Kami langsung saja masuk ke dalam bangunan yang sama sekali belum berubah tersebut. Bagian luar banyak terdapat pertokoan seperti butik, lalu ada restoran, yang kami cuma bisa melirik aja. Gak sanggup membayangkan sarapan pagi di situ. Zaki cerita dia pernah diajak bos nya ngopi-ngopi ganteng di dalam kafe hotel tersebut. Kami terus menusuri bangunan tersebut. Pagi itu kami melihat petugas kebersihan membersihkan daun-daun kering yang mengotori lantai.

Saya tiba-tiba ingin ke toilet, dan sangat mudah ditemukan. Tetapi, terus terang, karena pengunjung selain saya belum ada, saya agak takut di dalamnya. Bagaimana tidak toilet nya perlu memasuki 2 buah pintu, kemudian di dalamnya ada 5 ruang toilet yang cukup luas. Warna lampu dan desain ruangan mendukung rasa penakut saya, yang membayangkan wajah-wajah orang Eropa. Berlebihan yah? Memang.

Kami akhirnya iba di bagian depan Raffles Hotel. Ada serombongan turis yang sebagian besar sepertinya warga Eropa. Ternyata di Raffles Hotel ada paket tur yang menawarkan berkeliling Raffles Hotel dengan guide yang tidak gratis tentunya. Mereka juga boleh masuk ke dalamnya, mendapat souvenir dan air minum.  Buat kami, cukuplah hanya melihat bagian luarnya saja. Mungkin nanti suatu saat, kami akan ikut tur atau mungkin menginap di dalamnya. Doakan.

Bagian dalam dan tampak bagian depan Raffles Hotel
Bagian dalam dan tampak bagian depan Raffles Hotel

Dari hotel Raffles, si Zaki sudah ribut supaya kita balik ke hostel, atau cari sarapan. Pagi itu kami memang belum sarapan. Di Singapura susah yah pagi-pagi cari sarapan di pinggir jalan. Seperti yang banyak terdapat di Indonesia. Tukang nasi uduk, ketoprak, lontong sayur, lopis, dan masih banyak lagi. Tiba-tiba kami jadi pengen  cepet pulang.

Kami menemukan minimarket tujuh sebelas dan memutuskan untuk sarapan di situ. Zaki memilih nasi lemak dan susu stroberi merek lotte. Saya mashed potato dan susu soya Hersey’s.

Tanpa disengaja lagi kami melewati museum mainan Singapura. Meski masuknya terbilang mahal, kami penasaran. Untuk dewasa dikenakan tiket masuk masing-masing 15 dollar.

Jangan mebayangkan bangunan museum nya megah dan besar. Kalau boleh dibilang, museum ini seperti Comics Cafe di bilangan Tebet. Bangunan ruko terdiri dari 5 lantai,. Setiap lantai terdiri dari kategori mainan berdasarkan jenisnya

Mainan koleksi yang terdapat di museum ini kebanyakan di adapat berasal dari kolektor atau balai lelang internasional. Dilihat dari usia dan keberadaannya yang sudah cukup langaka ataupun dibuat dalam jumah yang terbatas di dunia. Terdapat boneka atau karakter seperti action figure dari seluruh dunia. Karakter Tintin, Mickey Mouse, hingga Betty Boop melengkapi koleksi dari Amerika dan Eropa. Untuk dari Asia sendiri terdapat mainan tua asal Tiongkok hingga Doraemon dari Jepang. Ada juga boneka-boneka yang terlihat agak menyeramkan dan berusia cukup tua.

Setelah puas berkeliling museum tobalah kami di lobby utama. Di sana kami mebeli souvenir pensil yang bisa digulung-gulung untuk oleh-oleh. Saya sempat tanya, kok di atas tidak ada mainan aseli dari Singapura ya. Melainkan maina-mainan yang kebanyakan yang berasal dari Eropa atau Amerika. Seorang petugas kemudian menunjukkan permainan tradisional Singapura seperti ular tangga dan gundu yang di jual di sana. Oh “cuma” itu, mainan aseli Singapura. Kali ini saya boleh dong sedikit membanggakan betapa lebih banyak dan beragamnya permainan tradisional di Indonesia. Seperti lompat tali, bola bekel, kasti, dampu, gasing, kereta jeruk bali, dan masih banyak lagi. Untuk urusan kaya budaya, Indonesia memang tiada duanya. Bangga.

Museum of Toys
Museum of Toys

Puas berkeliling, kami memutuskan untuk makan siang di daerah Bugis saja, supaya tidak perlu makan di bandara nanti. Kami memilih makan siang di rumah makan Sabar Menanti. Makanan rumahan aseli melayu. Siang itu saya makan sepiring nasi, ikan, sayur, dan segelas air jeruk nipis. Zaki memilih nasi, sayur, ayam goreng dan es milo. Total 15 dollar.

Sepulang perjalanan menuju hostel, kami sempatkan mampir ke Pasar Bugis untuk lagi-lagi  beli oleh-oleh. Wah rame juga ya, sempet serius liat-liat jam lucu-lucu tapi murah tapi  gak dibeli juga. Beli cokelat dan kaos titipan teman saya untuk anaknya. Dari Pasar Bugis melalui Bugis Junction sekalian ngadem, kami kembali ke hostel.

Trip ke Singapura kali ini menurut saya sangat dapat menegrem nafsu belanja saya. Buktinya, saya bisa gak membeli apapun di Orchard (mehong, gak mampu). Lalu gak beli barang-barang yang tidak saya butuhkan. Mungkin lain ceritanya dengan di Bangkok ketika mengunjungi Chatuchak market. Barangnya unik, susah ditemukan di Jakarta dan harganya murah. Kalau di Singapura, barangnya gak bagus, mahal pula. Paling beli coklat aja buat oleh-oleh sogokan teman kantor dan keluarga.

Tiba di hotel langsung check out, dan istirahat sebentar di lobby hotel. Siang itu rupanya pegawai hostel sedang makan siang bersama di meja makan. Pegawai hostel tersebut terdiri dari dua orang laki-laki dan satu orang wanita. Berusia dua puluh tahunan, mungkin kurang. Si perempuan yang bertugas bersih-bersih hostel sepertinya baru tiba dari Tiongkok. Dia tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali, jadi saya menyimpulkan demikian. Sambil terus menyuap makanan, ketiganya memegang gadget masing-masing. Laki-laki 1 sepertinya bermain game, sedangkan laki-laki yang satunya lagi sedang menonton drama berbahasa Mandarin sama seperti mbak-mbak Tiongkok itu. Lalu sesekali mereka tertawa dan berdiskusi tentang fim yang mereka tonton. Itu kesimpulan saya lagi, soalnya kan mereka ngobrol pake bahasa Mandarin. Mereka ngobrol santai, tetapi matanya tetap di gadget masing-masing. Lucu.

Pukul 12 kami menuju bandara, naik MRT. Setelah mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal. Kami meninggalkan hostel dengan tersenyum. Aneh rasanya, awalnya kami merasa seperti ditipu, tapi ya sudahlah mngkin kami yang kurang teliti. Tapi kami syukuri saja perjalanan ini, luar biasa. Saat kami hendak chekout, kami sempat melihat rombongan turis Indonesia yang baru saja tiba. Hohoho… weekend telah tiba.

Menu makan siang kami, Bugis Street, dan Hotel Workers sedang makan siang
Menu makan siang kami, Bugis Street, dan Hotel Workers sedang makan siang

Tiba di bandara, mengembalikan STP dan mengambil uang deposit. Bahagia deh, nambah dollar Singapura. Siapa tauk ada barang-barang lucu nanti.

Okey, kami chek in beres, memang gak mau ada bagasi. Tapi tunggu dulu, begitu masuk ke gate, tiba-tiba petugas mengharuskan kami untuk menimbang koper dan barang-barang bawaan kami. Peasaan gak enak nih. Benar aja, bawaan barang-barang kami melebihi berat maksimal bawaan kabin. Sehingga koper mau tidak mau harus masuk bagasi dan dikenakan biaya 50 dollar. Glek. Dengan berat hati dan sedikit menggerutu saya menyerahkan uang denda. Sambil ngomel-ngomel ke Zaki. Gak tauk kenapa saya selalu ngomel-ngomel ke dia. Terus saya harus ngomel ke siapa dong. Merutuki betapa menyebalkannya Tiger Air dan kebodohan kami tidak memeperkirakan hal seperti ini. Okey pelajaran yah, catet.

Kami sempatkan sholat di Changi, berkeliling ke ikon-ikon yang Changi banget, lalu menunggu di gate. Meski sempat bete dengan tiger Air, tapi saya senang, tidak delay. Oh iyah, jangan buang botol air minum ketika pemeriksaan di depan ya. Cukup dikosongkan, setelah mau masuk pesawat, ada keran air minum yang bisa untuk mengisi botol, berhubung penerbangan hemat ini tidak mendapatkan apa. Jadi lumayanlah buat di pesawat nanti.

Finally, thats all our journey in Singapore. Senangnya bisa mewujudkan cita-cita 5 tahun yang lalu, buat ke SG lagi bareng suami. Semoga ke SG selanjutnya bisa bawa junior kami yah. Aminn.

Perjalanan kali ini yang berkesan adalah, ketika city tour dengan berjalan kaki, justru menemukan tempat-tempat yang tidak terkira. Lagipula di Singapura ini kota yang sangat ramah buat turis dari segi sarana dan transportasi, juga didukung kemudahan mendapat info dimana keberadaan suatu tempat. Petunjuknya besar-besar gitu. Expecting the unexpected, its secrets of a great journey. Pada awalnya, mana tahu kami ke National Building Libarary, atau museum mainan yang awalnya cuma cadangan. Belum lagi menemukan Raffles Hotel dan Malay Heritage yang memang tidak masuk dalam list kunjungan kami. Berjalan kaki di pagi hari terakhir juga membuat kami melewati pemukiman penduduk Singapura. Iya. Apartemen. Tapi kami melihat lebih dekat.

Changi Airport
Changi Airport

Bye Singapura, maaf kalau akhir-akhir ini kami mengirim asap. Untungnya pas kami ke sana belum ada asap. Bahkan waktu itu sempat turun hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s