Weekend Gateaway ; Menguji Kekuatan Kaki ke Curug Seribu Bogor

Beberapa waktu yang lalu, ketika liburan Natal yang bersebelahan dengan libur hari besar Islam, membuat sebagian besar penduduk Jakarta berbondong-bondong ke luar kota. Jalan tol menuju Bandung ataupun Jawa Tengah sudah bisa dipastikan macet total. Bahkan ada yang bilang macetnya melebihi macet ketika Lebaran. Luar biasa sekali kan.

Awalnya suami mengajak ke Cirebon. Tetapi di kantor saya galau. Akhirnya setelah googling sana sini, kemudian kami diskusikan, kami memutuskan untuk ke Curug Seribu di daerah Kabupaten Bogor.

Letaknya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, juga dekat dengan lokasi Gunung Bunder, yang katanya bisa tempat untuk camping. Asyik. Camping. Ihiy.

Kami berangkat hari Kamis pagi setelah sholat Shubuh, dengan membawa pakaian untuk menginap sehari semalam sampai bantal, dan selimut.

Alhamdulillah pagi itu jalur jalan tol Jagorawi ramai lancar. Paling suka jika melewati jalan tol yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor ini di waktu pagi dan sore. Tepatnya saat matahari akan terbit atau tenggelam. Momen emas namanya. Langit yang berwarna keemasan, dengan latar belakang pemandangan deretan pegunungan. Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak. Sayangnya waktu itu cuaca mendung agak tertutup awan, sehingga pemandangan tidak terlalu indah. Tetapi, dalam suasana liburan seperti ni, jalan lancar saja sudah sebuah berkah banget buat kami yang mau piknik. Hihihihi

Tujuan kami ke Curug Seribu. Tiba di sana sekitar jam 8 pagi. Berarti perjalanan kurang lebih tiga jam, termasuk dua kali ke minimarket untuk membeli cemilan dan numpang ke toilet. Pagi-pagi kami bekal pepaya dan buah naga untuk sarapan.

Kami tidak berniat untuk mandi-mandian di curug jadi kami hanya membawa ransel yang berisi kamera, air minum, dan sedikit cemilan.

Road to Curug Seribu
Jalurnya masih bersahabat

Untuk masuk ke Curug Seribu, kami harus membayar 7500 rupiah. Menuju ke Curug Seribu bukan perkara yang mudah. Meski jalurnya sudah cukup bagus, tetapi tetap saja cukup menguji adrenalin karena merupakam turunan yang agak curam dan sempit. Ditambah lagi kalau semalam diguyur hujan. Jalan cukup licin. Jadi sangat diperlukan kehati-hatian yang sangat. Jangansalah  pakai alas kaki ya, dan pakai pakaian yang nyaman seperti bahan kaus.

Hati-hati Buat yang Asma dan Penyakit Jantung ya...
Hati-hati Buat yang Punya Asma dan Penyakit Jantung ya…
Jalur nya banyak turunan yang curam
Turunannya lumayan curam, hati-hati yah…
Peringatan di sepanjang jalan
Peringatan yang dipasang untuk engingatkan agar pengunjung berhati-hati
Pemandangan menuju curug Nangka
Perjalanan menuju Curug Seribu
Mendinginkan Kaki
Sungai kecil menuju cutug. Airnya dinginnn…
Perjalanan Menuju Curug Seribu Wuih
Jalur Menuju Curug Seribu
Pemandangan Menuju Curug Seribu
Pemandangan yang terhampar
Pemandangan Menuju Curug Seribu yang Ijo
Hijau di mana-mana…segerrrrr….
Bapak Pengangkut Kayu
Lagi jalan, tiba-tiba ada yang lewat bawa kayu di pikul pula. Wedew… keren Pak…

Perjalanan dari pintu masuk Curug Seribu sampai di lokasi air terjun atau curugnya menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit – 1 jam dengan beberapa kali istirahat, menikmati  sungai kecil, foto-foto sebentar dan menikmati cemilan. Boleh ya, makan cemilan di sini, tapi ingat sampahnya jangan buang sembarangan. Lebih baik simpan dan bawa untuk dibuang di tempat sampah. Di sepanjang perjalanan juga sudah disediakan tempat karung-karung buat tempat sampah siy, tapi saya memilih menyimpan dan membuangnya di tempat samapah di atas nanti.

Tibalah kami di lokasi Curug Seribu dengan pemandangan seperti di bawah ini. Taraaaaa….. Debit airnya lumayan deras. Pengunjung sepertinya dibatasi dengan pembatas yang terbuat dari dahan pohon agar tidak berenang tepat di bawah air terjun. Jangankan nyemplung, berada dekat pembatas saja, sudah membuat kami seperti berada di tengah hujan gerimis. Jadi pingin pake payung. Hehehehehe.

Curug Seribu
Curug Seribu

Buat pengunjung yang sudah niat banget mandi, bisa di sungai yang mengalir di bawahnya. Banyak batu-batuan penahan arus jadi dianggap tidak terlalu berbahaya. Kalau gak mau basah-basahan badannya. Basah-basahin kaki dan foto-foto aja cukup kok. Air sungainya dingin seperti air di dalam kulkas. Buat saya yang memang gak niat berbasah-basahan ya merendam kaki aja cukup membuat brrrrr….

Sungai yang dialiri air dari Curug Seribu terlihat coklat kemerahan. Kalau kata suami, artinya air tersebut mengandung zat besi yang cukup tinggi. Jadi hati-hati buat yang doyan minum air terjun ya. Hehehehe.

Curug Seribu

Setelah puas agak berbasah-basahan di curug, dan menghindari terik matahari, kami segera beranjak meninggalkan lokasi. Mulai terbayang dong, kalau tadi kami menuju curug kebanyakan jalur turunan, ketika pulang kami harus menanjak. Lumayan banget loh, buat pemula kayak saya ini. Beberapa kali kami istirahat. Oh iya pastikan membawa air minum yang cukup. Saat kelelahan, jangan terlalu memaksakan diri. Istirahat di mana saja. Takutnya gelinding ke bawah kalau pingsan.

Akhirnya sampai juga. di pintu keluar. Pengunjung yang datang makin banyak. Saya perhatikan, tipe  pengunjung sangat beragam. Kebanyakan waktu itu adalah keluarga. Tidak sedikit anak-anak dan ada juga Ibu-ibu dengan dandanan yang trendy seperti lengkap dengan kacamata hitam, topi, juga pakaian dan sepatu yang lebih pas buat ke Mall. Tapi ya sudahlah nanti mereka juga tahu sendiri.  Tips ya, kalau mau traveling cari tahu medannya gimana, biar gak repot di sananya.

Kami yang memang kelaparan akhirnya nongkrong di warung yang banyak terdapat di dekat pintu masuk. Suami pesan Indomie pake telor, sedangkan saya yang berusaha menahan diri gak makan mie instan memilih makan nasi putih pake telor dadar dan kecap. Sumpah itu nikmat banget sepertinya telur dadar terenak di dunia. Kombinasi lelah dan lapar adalah koki terhebat menurut saya. Hehehehe.

Indomie dan nasi telur dadar "paling enak sedunia"
Indomie dan nasi telur dadar “paling enak sedunia”

Buat saya, yang namanya weekend gateway, gak perlu jauh-jauh dari tempat tinggal. Apalagi kalau saya juga memang belum pernah mengunjungi tempat tersebut. Selain hemat di kantong, yang terpenting bisa melepaskan penat dan tetep bisa jalan-jalan. Ke Curug Seribu kali ini pengalaman yang saya dapat selain baru pertma kali, buat olahraga dan latihan buat naik gunung suatu saat nanti. Kapan? Gak tauk juga sih. Hihihihi. Paling penting lagi biar tetep kekinian dong posting di sosmed. Hehehehe.

 

 

It’s Not About The Destination, It’s About The Journey

Dapat ide nulis ini sebenarnya dari twitter Traveloka yangbeberapa waktu yang lalu mengadakan kuis berhadiah tiket gratis ke Bangkok.

Meski perjalanan saya sudah terjadi setahun silam dan (maaf) belum sempat menuliskan ceritanya satupun di blog ini, makanya sekarang saya mau cerita satu momen yang bisa dibilang “nyebelin” banget tapi juga spesial soalnya . Saking menyebalkannya makanya saya masih inget sampe detik ini. Ya rasanya, emosinya, gondoknya, macem-macem deh.

Waktu itu hari kedua di Bangkok dan kami mau ke Phuket buat liat pantai dan snorkeling di Pulau-pulaunya James Bond. Ya mumpung lagi ke Thailand dong, moso cuma ke Bangkok ajah yang gak beda jauh sama Jakarta. Tapi beda sih, Bangkok punya MRT, Jakarta masih dalam proses membuat. Di Bangkok punya wisata menyusuri sungai, di Jakarta yang ada cuma sungai nya ajah yang penuh dengan sampah. Udah stop comparing Rini.

Untuk ke Phuket, kami sudah memesan tiket Nok Air yang akan berangkat dari Bandara Don Muang. Setelah googling, kami mencoba hemat, dan memutuskan untuk naik kereta dari Bangkok menuju Don Muang.

Kami menuju stasiun Hua Lampong dengan MRT. Tiba di stasiun Hua Lampong, kami langsung membeli tiket. Sambil menunggu kami juga sempatkan foo-foto. Stasiunnya mirip dengan stasiun Jakarta Kota, tua dan klasik. Bedanya di Hua Lampong banyak backpacker bule berkeliaran. Stasiunnya juga rapi, banyak spot untuk foto. Hehehehe.

Stasiun Hua Lampong Bangkok
Stasiun Hua Lampong Bangkok

Setelah ada pengumuman kalau kereta yang menuju Bandara Don Muang sudah tersedia, kami segera naik ke kereta. Kaget ajah waktu liat keretanya itu kayak kereta Indonesia tahun 90 an. Modelnya kereta kelas ekonomi dengan mesin diesel. Kursinya untuk dua orang berhadapan dan tanpa mesin pendingin udara. Bedanya, apalagi kalau bukan kebersihan. Biar tampang kereta ini tua, tapi bersih, gak ada sampah juga coretan di dinding.

Kereta Api di Bangkok
Suasana di Dalam Kereta Menuju Don Muang

Suasana kereta hari itu sepi. Bisa dibilang sepi sekali. Waktu itu dalam satu gerbong hanya ada kami, seorang biksu, satu orang mbak-mbak kantoran, dan sepasang suami isteri. Jadwal keberangkatan kereta waktu itu jam 7:15, diperkirakan akan menempuh perjalanan selama satu jam ke Don Muang. Pesawat kami menuju Phuket sendiri jam 9:45. Kami percaya, di luar negeri itu jarang banget ngaretnya kan? Jadi kami harapkan sampai Don Muang tepat waktu seperti yang sudah kami rencanakan.

Waktu akhirnya menunjukkan pukul 7:15 tapi belum ada tanda-tanda kereta akan diberangkatkan. Kami mulai gelisah. Foto-foto layaknya turis di dalam kereta sudah. Makan bekal yang kami bawa juga sudah. Akhirnya saya gak tahan juga buat mencari tahu kenapa kereta belum juga diberangkatkan.

Saya berjalan ke arah gerbong restorasi. Di gerbong restorasi, saya bertanya kepada pegawai yang bertugas di sana. Katanya, ada gangguan sinyal di setasiun berikutnya. Sehingga kereta harus mengantri dan belum bisa diberangkatkan.

Saya makin gelisah. Mulai marah-marah dan membayangkan hal-hal yang berlebihan. Bagaimana kalau kami ketinggalan pesawat dan gagal terbang ke Phuket juga gagal untuk leyeh-leyeh di pantai. Apalagi kami membeli tiket promo, yang pasti akan hangus kalau kami tertinggal pesawat.

Mungkin suami saya sudah mulai gerah dengan ketidaksabaran saya. Akhirnya kami memutuskan untuk turun dari kereta. Kami loncat lalu berlari-lari di rel untuk kembali ke setasiun Hua Lampong. Maklum waktu sudah benar-benar mepet. Waktu itu kereta memang sudah agak berjalan menjauh sedikit dari setasiun tetapi kemudian berhenti. Kami sampai tidak peduli pada tatapan orang-orang yang seperti heran melihat kami loncat dari kereta dan berlarian di sepanjang rel.

Tetapi pemirsa, coba tebak apa yang terjadi ketika kami berlari-lari meninggalkan kereta tersebut. Setelah kami sudah terlalu jauh jaraknya dengan kereta, eh keretanya malah jalan dong. Sakit hati banget liatnya. Mau kembali ke kereta, keretanya sudah jalan dan kami juga sudah menjauh. Jadi pasrah aja kami balik ke stasiun.

Kami keluar stasiun dan langsung mencari taksi. Suami saya sampai gak tawar-menawar lagi dan langsung naik taksi menuju Bandara Don Muang. Bilang ke supir taksinya untuk ngebut, karena kami mengejar pesawat. Di dalam taksi, suami sempat menegur saya yang tidak sabaran menunggu kereta jalan. Tapi kan memang keretanya juga gak pasti kapan berangkat. Saya juga tidak mau sepenuhnya disalahkan.

Alhamdulilah kami tiba di Bandara Don Muang satu jam sebelum jadwal pesawat kami terbang ke Phuket. Kami pun terburu-buru masuk ke bandara, chek in tanpa bagasi, dan segera masuk ke gate. Ternyata setelah kami masuk bandara, kami baru sadar ada jalur penghubung antara bandara dengan stasiun kereta. Tambahlah kami “agak” menyesal karena harus mengeluarkan uang taksi yang tidak murah. Tapi ya sudahlah. Mau bagaimana lagi.

Keriwehan hari itu belum berhenti disitu. Saat kami akan memasuki gate dan harus melalui pemeriksaan x-ray, petugas bandara menemukan sesuatu di dalam ransel suami saya. petugas meminta kami untuk menyingkir dan meminta kami membongkar isi ransel suami saya. Saya sempat bingung. Tapi petugas memperlihatkan dari tampilan di x-ray, memang ada benda seperti pisau di ransel suami. Waduh, apalagi nih.

Ternyata, setelah ransel dibongkar-bongkar, memang ada sebuah pisau roti terselip di dalam ransel. Ya ampun dari mana pisau itu yah? Sepertinya sih itu pisau roti dari hotel. Hotel di mana? Sepertinya hotel di Bogor waktu itu. Berarti, pisau ini lewat dong pas pemeriksaan di Soeta. Waduh ngeri juga nih. Kok bisa lolos yah. Penerbangan internasional lagi. Ah sudahlah. Pisau roti disita, kami akhirnya diizinkan masuk gate.

Huaaaa… lega banget saat berhasil masuk. Ditambah lagi penerbangan ditunda selama 30 menit dong. Kami hanya tertawa getir aja mendengar pengumuman penundaan keberangkatan. Udah ah gak usah dibahas, bikin tambah nyesek. Hahahhaha… yang terpenting kami sudah di bandara dan mau ke Phuket dengan Nok Air.

Sambil menunggu panggilan barding saya sempatkan melihat-lihat sekeliling ruang tunggu bandara, membeli sekotak buah potong, dan mengamati pesawat Nok Air yang sedang diparkir dari kaca.

Buah Potong
Buah Potong seharga 100 THB (kurang lebih 40 ribu rupiah) kurs 2014

Nok Air sebuah airlines di Thailand yang tampilannya “unik”. Uniknya maskapai Nok Air itu adalah warna tema yang dipakai sebagai imej pada design tampilan pesawatnya. Warna badan pesawatnya ungu, kuning, dan pink.Bagian mulut pesawat digambar seperti paruh burung elang yang sedang menggunakan kacamata hitam. Badan pesawatnya juga dicat warna pink keunguan.

Pesawat Nok Air
Tampilan Pesawat Nok Air yang eye catching

Belum lagi interior di dalam pesawat. Jok kursinya berwarna pink, ungu, dan kuning. Warna-warni ini cukup merelaksasi pikiran setelah rangkaian kejadian yang kami alami.

Tampilan Kursi Penumpang Nok Air
Tampilan kursi penumpang Pesawat Nok Air

Dalam perjalanan ke Phuket, sebelum tertidur, saya sempatkan mengurai peristiwa yang tadi kami alami. Mulai dari kekesalan di dalam kereta, memutuskan loncat turun dari kereta, naik taksi dengan harga yang gak murah, hingga insiden di pemeriksaan x-ray.

Seru banget perjalanan kami kali ini. Semua itu tentunya di luar rencana kami. Memang kami sudah membuat sedemikian rupa rencana untuk memuluskan perjalanan kami. Tapi siapa yang bisa memastikan semuanya akan sesuai rencana. Manusia memang selalu berencana tapi Tuhan yang akan menentukan. Semuanya tergantung bagaimana kami menyikapinya.

Semenjak itu saya jadi sadar, kalau kejadian yang seperti itu akan selalu ada dalam sebuah perjalanan. Saya yang biasanya selalu mengkambinghitamkan suami, jadi agak menyesal. Loh, emangnya kejadian-kejadian barusan salah suami saya. Dia kan juga gak tahu hal-hal tersebut akan terjadi. Jadi ya jangan marah-marah dong. Kasihan juga yah suami. Maaf ya…

Hal-hal tersebut yang sebenarnya tantangan dalam sebuah perjalanan. Kejadian tidak terduga yang akan mendewasakan. Keluar dari zona nyaman keseharian, dan ditantang menyelesaikan masalah-masalah secara arif dan bijak. Percaya deh, setelah melewati itu semua, sebuah perjalanan itu akan terasa lebih indah. Kenapa? karena kita sudah menang melawan diri kita sendiri.

Masalah-masalah yang terlewati membuat hati kita bertambah kaya akan pengalaman mengatasi masalah. Semenjak itu juga, jadinya saya sudah bisa meminimalisir melampiaskan kekesalan-kekesalan dalam sebuah perjalanan ke orang lain. Setiap melakukan perjalanan, saya sudah bersiap-siap akan masalah yang akan datang, dan berjanji akan menikmati setiap kejadian apapun dalam sebuah perjalanan. Jadi nikmati saja.

Akhirnya sebelum saya benar-benar terlelap saya teringat sebuah quotes yang benar-benar menggambarkan perjalanan saya kali ini : “It’s not about the destination, it’s about the journey.”

This Is Our Journey
This is our journey