It’s Not About The Destination, It’s About The Journey

Dapat ide nulis ini sebenarnya dari twitter Traveloka yangbeberapa waktu yang lalu mengadakan kuis berhadiah tiket gratis ke Bangkok.

Meski perjalanan saya sudah terjadi setahun silam dan (maaf) belum sempat menuliskan ceritanya satupun di blog ini, makanya sekarang saya mau cerita satu momen yang bisa dibilang “nyebelin” banget tapi juga spesial soalnya . Saking menyebalkannya makanya saya masih inget sampe detik ini. Ya rasanya, emosinya, gondoknya, macem-macem deh.

Waktu itu hari kedua di Bangkok dan kami mau ke Phuket buat liat pantai dan snorkeling di Pulau-pulaunya James Bond. Ya mumpung lagi ke Thailand dong, moso cuma ke Bangkok ajah yang gak beda jauh sama Jakarta. Tapi beda sih, Bangkok punya MRT, Jakarta masih dalam proses membuat. Di Bangkok punya wisata menyusuri sungai, di Jakarta yang ada cuma sungai nya ajah yang penuh dengan sampah. Udah stop comparing Rini.

Untuk ke Phuket, kami sudah memesan tiket Nok Air yang akan berangkat dari Bandara Don Muang. Setelah googling, kami mencoba hemat, dan memutuskan untuk naik kereta dari Bangkok menuju Don Muang.

Kami menuju stasiun Hua Lampong dengan MRT. Tiba di stasiun Hua Lampong, kami langsung membeli tiket. Sambil menunggu kami juga sempatkan foo-foto. Stasiunnya mirip dengan stasiun Jakarta Kota, tua dan klasik. Bedanya di Hua Lampong banyak backpacker bule berkeliaran. Stasiunnya juga rapi, banyak spot untuk foto. Hehehehe.

Stasiun Hua Lampong Bangkok
Stasiun Hua Lampong Bangkok

Setelah ada pengumuman kalau kereta yang menuju Bandara Don Muang sudah tersedia, kami segera naik ke kereta. Kaget ajah waktu liat keretanya itu kayak kereta Indonesia tahun 90 an. Modelnya kereta kelas ekonomi dengan mesin diesel. Kursinya untuk dua orang berhadapan dan tanpa mesin pendingin udara. Bedanya, apalagi kalau bukan kebersihan. Biar tampang kereta ini tua, tapi bersih, gak ada sampah juga coretan di dinding.

Kereta Api di Bangkok
Suasana di Dalam Kereta Menuju Don Muang

Suasana kereta hari itu sepi. Bisa dibilang sepi sekali. Waktu itu dalam satu gerbong hanya ada kami, seorang biksu, satu orang mbak-mbak kantoran, dan sepasang suami isteri. Jadwal keberangkatan kereta waktu itu jam 7:15, diperkirakan akan menempuh perjalanan selama satu jam ke Don Muang. Pesawat kami menuju Phuket sendiri jam 9:45. Kami percaya, di luar negeri itu jarang banget ngaretnya kan? Jadi kami harapkan sampai Don Muang tepat waktu seperti yang sudah kami rencanakan.

Waktu akhirnya menunjukkan pukul 7:15 tapi belum ada tanda-tanda kereta akan diberangkatkan. Kami mulai gelisah. Foto-foto layaknya turis di dalam kereta sudah. Makan bekal yang kami bawa juga sudah. Akhirnya saya gak tahan juga buat mencari tahu kenapa kereta belum juga diberangkatkan.

Saya berjalan ke arah gerbong restorasi. Di gerbong restorasi, saya bertanya kepada pegawai yang bertugas di sana. Katanya, ada gangguan sinyal di setasiun berikutnya. Sehingga kereta harus mengantri dan belum bisa diberangkatkan.

Saya makin gelisah. Mulai marah-marah dan membayangkan hal-hal yang berlebihan. Bagaimana kalau kami ketinggalan pesawat dan gagal terbang ke Phuket juga gagal untuk leyeh-leyeh di pantai. Apalagi kami membeli tiket promo, yang pasti akan hangus kalau kami tertinggal pesawat.

Mungkin suami saya sudah mulai gerah dengan ketidaksabaran saya. Akhirnya kami memutuskan untuk turun dari kereta. Kami loncat lalu berlari-lari di rel untuk kembali ke setasiun Hua Lampong. Maklum waktu sudah benar-benar mepet. Waktu itu kereta memang sudah agak berjalan menjauh sedikit dari setasiun tetapi kemudian berhenti. Kami sampai tidak peduli pada tatapan orang-orang yang seperti heran melihat kami loncat dari kereta dan berlarian di sepanjang rel.

Tetapi pemirsa, coba tebak apa yang terjadi ketika kami berlari-lari meninggalkan kereta tersebut. Setelah kami sudah terlalu jauh jaraknya dengan kereta, eh keretanya malah jalan dong. Sakit hati banget liatnya. Mau kembali ke kereta, keretanya sudah jalan dan kami juga sudah menjauh. Jadi pasrah aja kami balik ke stasiun.

Kami keluar stasiun dan langsung mencari taksi. Suami saya sampai gak tawar-menawar lagi dan langsung naik taksi menuju Bandara Don Muang. Bilang ke supir taksinya untuk ngebut, karena kami mengejar pesawat. Di dalam taksi, suami sempat menegur saya yang tidak sabaran menunggu kereta jalan. Tapi kan memang keretanya juga gak pasti kapan berangkat. Saya juga tidak mau sepenuhnya disalahkan.

Alhamdulilah kami tiba di Bandara Don Muang satu jam sebelum jadwal pesawat kami terbang ke Phuket. Kami pun terburu-buru masuk ke bandara, chek in tanpa bagasi, dan segera masuk ke gate. Ternyata setelah kami masuk bandara, kami baru sadar ada jalur penghubung antara bandara dengan stasiun kereta. Tambahlah kami “agak” menyesal karena harus mengeluarkan uang taksi yang tidak murah. Tapi ya sudahlah. Mau bagaimana lagi.

Keriwehan hari itu belum berhenti disitu. Saat kami akan memasuki gate dan harus melalui pemeriksaan x-ray, petugas bandara menemukan sesuatu di dalam ransel suami saya. petugas meminta kami untuk menyingkir dan meminta kami membongkar isi ransel suami saya. Saya sempat bingung. Tapi petugas memperlihatkan dari tampilan di x-ray, memang ada benda seperti pisau di ransel suami. Waduh, apalagi nih.

Ternyata, setelah ransel dibongkar-bongkar, memang ada sebuah pisau roti terselip di dalam ransel. Ya ampun dari mana pisau itu yah? Sepertinya sih itu pisau roti dari hotel. Hotel di mana? Sepertinya hotel di Bogor waktu itu. Berarti, pisau ini lewat dong pas pemeriksaan di Soeta. Waduh ngeri juga nih. Kok bisa lolos yah. Penerbangan internasional lagi. Ah sudahlah. Pisau roti disita, kami akhirnya diizinkan masuk gate.

Huaaaa… lega banget saat berhasil masuk. Ditambah lagi penerbangan ditunda selama 30 menit dong. Kami hanya tertawa getir aja mendengar pengumuman penundaan keberangkatan. Udah ah gak usah dibahas, bikin tambah nyesek. Hahahhaha… yang terpenting kami sudah di bandara dan mau ke Phuket dengan Nok Air.

Sambil menunggu panggilan barding saya sempatkan melihat-lihat sekeliling ruang tunggu bandara, membeli sekotak buah potong, dan mengamati pesawat Nok Air yang sedang diparkir dari kaca.

Buah Potong
Buah Potong seharga 100 THB (kurang lebih 40 ribu rupiah) kurs 2014

Nok Air sebuah airlines di Thailand yang tampilannya “unik”. Uniknya maskapai Nok Air itu adalah warna tema yang dipakai sebagai imej pada design tampilan pesawatnya. Warna badan pesawatnya ungu, kuning, dan pink.Bagian mulut pesawat digambar seperti paruh burung elang yang sedang menggunakan kacamata hitam. Badan pesawatnya juga dicat warna pink keunguan.

Pesawat Nok Air
Tampilan Pesawat Nok Air yang eye catching

Belum lagi interior di dalam pesawat. Jok kursinya berwarna pink, ungu, dan kuning. Warna-warni ini cukup merelaksasi pikiran setelah rangkaian kejadian yang kami alami.

Tampilan Kursi Penumpang Nok Air
Tampilan kursi penumpang Pesawat Nok Air

Dalam perjalanan ke Phuket, sebelum tertidur, saya sempatkan mengurai peristiwa yang tadi kami alami. Mulai dari kekesalan di dalam kereta, memutuskan loncat turun dari kereta, naik taksi dengan harga yang gak murah, hingga insiden di pemeriksaan x-ray.

Seru banget perjalanan kami kali ini. Semua itu tentunya di luar rencana kami. Memang kami sudah membuat sedemikian rupa rencana untuk memuluskan perjalanan kami. Tapi siapa yang bisa memastikan semuanya akan sesuai rencana. Manusia memang selalu berencana tapi Tuhan yang akan menentukan. Semuanya tergantung bagaimana kami menyikapinya.

Semenjak itu saya jadi sadar, kalau kejadian yang seperti itu akan selalu ada dalam sebuah perjalanan. Saya yang biasanya selalu mengkambinghitamkan suami, jadi agak menyesal. Loh, emangnya kejadian-kejadian barusan salah suami saya. Dia kan juga gak tahu hal-hal tersebut akan terjadi. Jadi ya jangan marah-marah dong. Kasihan juga yah suami. Maaf ya…

Hal-hal tersebut yang sebenarnya tantangan dalam sebuah perjalanan. Kejadian tidak terduga yang akan mendewasakan. Keluar dari zona nyaman keseharian, dan ditantang menyelesaikan masalah-masalah secara arif dan bijak. Percaya deh, setelah melewati itu semua, sebuah perjalanan itu akan terasa lebih indah. Kenapa? karena kita sudah menang melawan diri kita sendiri.

Masalah-masalah yang terlewati membuat hati kita bertambah kaya akan pengalaman mengatasi masalah. Semenjak itu juga, jadinya saya sudah bisa meminimalisir melampiaskan kekesalan-kekesalan dalam sebuah perjalanan ke orang lain. Setiap melakukan perjalanan, saya sudah bersiap-siap akan masalah yang akan datang, dan berjanji akan menikmati setiap kejadian apapun dalam sebuah perjalanan. Jadi nikmati saja.

Akhirnya sebelum saya benar-benar terlelap saya teringat sebuah quotes yang benar-benar menggambarkan perjalanan saya kali ini : “It’s not about the destination, it’s about the journey.”

This Is Our Journey
This is our journey
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s