Pempek City Tour di Palembang

Jembatan Ampera
Jembatan Ampera

Alhamdulillah dapat rejeki bisa menginjakkan kaki di bumi Sriwijaya, salah satu provinsi yang ada di Pulau Sumatera. Alhamdulillah lagi ini adalah pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di Provinsi Sumatera Selatan, tepatnya di Kota Palembang. Sepertinya alam mendukung untuk saya pergi ke Palembang. Bagaimana tidak. Setelah awalnya rencana kantor mau ke Palembang itu bertepatan dengan rencana cuti saya ke Surabaya dalam rangka nikahan adik ipar. Eh ternyata dimajukan dan tidak mau bilang kebetulan, Zaki ditugaskan ke Bangkok. Bukannya gimana yah, soalnya kalo ninggalin suami pas dinas itu kok agak gimana gitu yah. Jadi kali ini dinasnya benar-benar plong deh. Hehehehe.

Perjalanan kali ini bukan liburan yah. Tapi tetep ajah namanya traveling alias business traveling. Jadi ya di Palembang sudah dipastikan kerja, di hotel ajah. Mengurusi bos-bos dan peserta dari beberapa provinsi yang memang kita undang. Kali ini jumlahnya 500 orang. Tapi tetap harus dinikmati dong.

Setelah googling dan cari tahu tempat mana aja yang menarik di Palembang. Kemudian saya tanya-tanya sama teman yang memang orang aseli Palembang. Sedihnya teman saya yang Bapak-bapak itu bilang di Palembang tidak ada tempat wisata selain Jembatan Ampera yang memang menjadi ikon Kota Palembang. Tidak puas dengan jawaban si Bapak, saya kemudian menyebutkan beberapa lokasi yang saya tahu dari blogger-blogger yang baru meramaikan hashtag #pesonasriwijaya melalui akun Instagram mereka. Si Bapak pun menyebutkan lokasi atau daerah tempat-tempat yang menurut teman-teman blogger menarik untuk dikunjungi itu agak jauh dari pusat kota. Kecuali jembatan ampera yah. Saya pun termenung (tsaaahhhh… termenung). Apa bisa curi-curi waktu tanpa memundurkan waktu kepulangan saya di Jakarta. Yah gimana nanti aja deh. Kita liat nanti aja yah.

Sedikit keberuntungan pun menghampiri. Tiba-tiba Bos besar diharuskan kembali ke Jakarta untuk menghadiri suatu acara yang penting. Beliau meminta saya untuk membeli pempek, untuk dibawa sebagai oleh-oleh ke Jakarta.Tenu saja saya senang. Dengan begitu saya bisa keluar hotel dan melihat kota Palembang. Iya. Saya senang, meski sekedar hanya ke toko Pempek. Kemudian, dimulailah City Tour Pempek di Kota Palembang. Ahey.

  1. Pempek Candy (Dekat Bandara Sultan Mahmud Badarudin II dan masih banyak lagi)

Pempek Candy adalah pempek yang dipesan Bos saya. Waktu itu saya tidak menanyakan alasan dia kenapa dia memilih Pempek Candy. Pastinya dia punya alasan tersendiri, karena di Palembang banyak sekali merek Pempek yang dijual. Pempek Candy termasuk yang sudah cukup ternama di Palembang. Toko-tokonya yang cukup besar tersebar di mana-mana.

Toko Pempek Candy yang kami kunjungi bukan toko yang besar. Kami memilih mendatangi toko yang lebih meneyerupai rumah. Biasanya di tempat itu pempek diproduksi, sukur-sukur kami bisa melihat pempek yang sedang dalam proses produksi.

Tiba di sana, kami langsung memesan Pempek yang diperuntukkan sebagai oleh-oleh. Ternyata ada beberapa paket yang ditawarkan. Mulai dari 100.000 sampai 500.000 rupiah. Semua nanti dikemas dengan kardus yang praktis dan siap dibawa untuk oleh-oleh.

Sembari menunggu pesanan kami siap, kami memutuskan untuk mencicipi pempek Candy. Awalnya kami tidak tahu dan mau memilih seperti di toko pempek di Jakarta. Tetapi di Palembang, Pempek dijual per porsi. Satu porsi biasanya berisi sekitar 10 pempek yang terdiri dari kulit, adaan, lenjer dan pempek isi telor atau kapal selam. Akhirnya kami memesan satu porsi pempek yang kemudian kami disediakan wadah mangkuk kecil yang terbuat dari melamin untuk tempat cuko dan sambal hijau jika dirasa kurang pedas.

20160217_092820
Pempek Candy Satu Porsi dengan Cuko

Saat seporsi pempek dihidangkan di depan kami, tidak sabar rasanya untuk segera mencicipi pempek langsung di kota kelahirannya ini. Konon katanya, pempek aseli dari Palembang sangat berbeda dengan Pempek yang ada di kota-kota lainnya, sekalipun itu pempek yang paling enak di sana.

Saya menuangkan cuka atau yang dalam bahasa Palembang disebut cuko ke dalam mangkok. Sepertinya cukanya tidak terlalu kental. Ketika dimasukkan ke dalam mulut, pempek masih terasa hangat. Tetapi menurut saya, ini bukan pempek yang paling enak. Menurut saya lho. Bahkan rasanya lebih enak pempek Gaby di Bekasi. Cuko nya yang kurang kental dan tidak terasa pedas, membuat kami harus menambahkan sambal hijau lagi kedalamnya. Menurut saya, cuko yang enak itu harus terasa saat pertama kali. Seperti rasa pedas, manis, asam, yang pas berpadu dengan gurihnya pempek. Jadi menurut saya pempek merek Candy, biasa saja. Maaf buat fans garis keras nya Candy. Hehehehe.

2. Pempek Noni 168 (Pusat : Jl. Sudirman depan SMAN 3 Palembang)

Perjalanan Pempek City Tour kami berlanjut ke Pempek Noni 168. Bangunannya di sebuah ruko yang terletak di jalan utama kota Palembang yaitu Jalan Sudirman, tepatnya di depan SMAN 3 Palembang.

Bangunannya tidak begitu besar. Begitu tiba kami langsung memesan satu porsi pempek yang tentunya akan kami makan bareng-bareng. Tujuan kami kan memang mau mencari pempek yang paling juara buat kami bawa sebagai oleh-oleh. Hehehe. jadi icip-icip dulu, beli banyak kemudian.

Sambil menunggu pempek digoreng saya menengok ke ruko sebelah, yang ternyata adalah tempat produksi pempek Noni 168. Sayangnya ketika saya datang, produksi telah usai. Produksi dimulai dari jam 8 pagi hingga waktu Zuhur.

Pempek sudah terhidang, sayangnya kali ini saya lupa mengambil foto pempek yang tersaji (keburu nafsu lihat pempeknya). Rasa pempek Noni menurut saya lebih enak dibanding Candy, begitupula cuka nya. Cuka nya lebih kental dan lebih berasa pedasnya. Pempek Noni 168 juga menjual biang cuko dalam kemasan plastik. Jika mau digunakan tinggal ditambah air sesuai selera. Oke. Mari lanjut ke toko pempek berikutnya.

3. Pempek Lince (Jl. Tugu Mulyo No. 2398/ Sekip)

Pempek Lince belum pernah kami dengar sebelumnya. Kali ini sopir mobil rental kami yang orang aseli Palembang yang merekomendasikan. Dia membawa kami bukan ke sebuah jalan besar, tetapi ke sebuah kompleks perumahan. Perumahan daerah Sekip namanya. Kebanyakan bentuk rumah di perumahan ini perumahan bergaya bangunan tua.

Tempat Pempek Lince diproduksi dan dijajakan memang bukan toko, melainkan rumah. Rumah biasa yang bagian teras dan ruang tamunya disulap menjadi tempat makan bagi pelanggan yang datang. Memasuki ruang tengah kami bisa melihat proses pengemasan pempek.

20160217_154117
Ruang Tengah sebagai tempat pengemasan Pempek Lince

Saat kami datang, sang empunya Anton, menyambut kami dengan ramah. Mempersilahkan kami masuk dan melihat-lihat proses pengemasan pempek yang sedang dikerjakannya dibantu dua orang pegawainya. Nama Lince diambil dari si pemilik alias isteri Koh Anton namanya Lince. saat kami kesana Ci Lince sedang tidak ada. Keahlian Lince membuat pempek ternyata adalah resep turun temurun dari Ibu, Tante hingga Sang Nenek.

Pempek Lince yang Siap di Kemas
Pempek Lince yang siap di kemas

Pempek Lince memang terbilang baru dibandingkan dengan pempek lainnya. Mereka baru memulai usaha di tahun 2010 dan memulai memasarkan lewat online shop ataupun media sosial. Tidak heran keberhasilan usaha Pempek Lince melalui online membuat pempek Lince termasuk makanan yang direkomendasikan oleh Trip Advisor. Pembukaan model warung pempek dimulai setelah melihat banyaknya pelanggan yang mendatangi rumah produksi mereka. “Kok kayaknya gak enak ya, gak punya tempat makan kalau pelanggan datang ke sini.” terang Anton.

Anton dengan sabar menjawab pertanyaan saya yang banyak sambil sesekali potret sana sini. Koh Anton juga mengajarkan kami bagaimana caranya memilih pempek yang baik, rahasia kelebihan pempek Lince dibandingkan Pempek lainnya yang ada di Palembang.

Anton menjelaskan cara memilih pempek yang bagus dan enak
Anton menjelaskan cara memilih pempek yang bagus dan enak

Anton menjelaskan kelebihan pempek buatannya adalah cuko buatannya yang kental dan ada tingkatan rasa kepedasannya. Seperti Pas Mantabb, OMG (OMG pedasnyo), dan Cek TKP alias Enak Top kurang pedas. Jadi pembeli bebas memilih cuka sesuai selera. Belum lagi bahan baku cuka nya yang menggunakan gula aren bukan gula pasir. Rasa asam pun bukan dari cuka kimia, tetapi dari jeruk kunci. Sebuah jeruk khas Palembang yang bentuknya kecil-kecil. Pempek Lince juga menggunakan telur bebek sebagai isian pempek kapal selam. Pengemasannya pun dengan di vakum tidak dibaluri sagu, karena dapat mengubah cita rasa pempek.

Jeruk kunci rahasia kelezatan cuko pempek Lince
Jeruk kunci rahasia kelezatan cuko pempek Lince

Selain pempek tenggiri, pempek yang memiliki tagline Mantabb Pempeknyo Dahsaytt cukonyo ini juga membuat Pempek dari Ikan Belida. Tetapi karena sudah mulai sulitnya bahan baku Ikan Belida, pempek Ikan Belida tidak diproduksi setiap hari, hanya jika ada pesanan saja.

Akhirnya pempek terhidang. Kami tidak sabar mencicipi. Benar saja, ketika pempek dan cuka berpadu. Rasanya enak sekali. Pempek kulitnya garing sekali. cuka nya pun kental, manis gula jawanya terasa, dan asamnya pas tidak menyengat. Sampai perjalanan ini menurut saya, Pempek Lince juara. Hehehehe. Sumpah ini gak di endorse yah. Oh yah paket pempek Lince dijual dari harga 100.000 sampai 980.000.

Pempek kulitnya juara, garing krenyes-krenyes.
Pempek kulitnya juara, garing krenyes-krenyes.

4. Pempek Vico (Jl. Letkol Iskandar, Palembang, Kota Palembang, Sumatera Selatan)

Pempek Vico adalah rekomendasi dari teman saya. Katanya rasanya enak. Ah semua juga enak kan. Apalagi merek kabel alias kagak beli. Hehehe.

Warung Pempek Vico cukup besar. Saat kami datang pun cukup ramai dengan pengunjung yang makan di tempat. Sayangnya perut kami sudah tidak kuat untuk menampung pempek lagi. Akhirnya kami bungkus saja satu porsi untuk di makan di hotel nanti.

Pempek Vico
Warung Pempek Vico
Pempek Vico Tampak Dalam
Suasana Pempek Vico yang cukup ramai

Tiba di hotel, saya bergegas sholat ashar karena hari sudah sore. Disambut teman-teman yang mau memesan pempek. Langsung saja Pempek Vico kami diserbu dan langsung habis. Kesimpulannya saya tidak mencoba pempek Vico. Mungkin lain kali saya ke Palembang lagi deh. Eh kok susah amat. tinggal telfon kan bisa yah.

Tidak kehabisan akal, saya bertanya ke salah satu teman saya yang mencicipi Pempek Vico. Menurut teman saya yang namanya Lili, menurut dia pempek nya kurang lembut dan cukanya tidak terlalu kental dan rasa pedasnya kurang.

Pempek Vico
Pempek Vico, ada risolnya juga
  1. Pempek Beringin (Jalan Lingkaran 1 No. 20/B 9, Ilir, Sumatera Selatan)

Toko pempek yang terakhir kami kunjungi adalah Pempek Beringin. Toko ini juga cukup besar di ruko yang terdiri dari dua lantai. Ada salah satu teman saya yang maunya dibelikan Pempek Beringin. Akhirnya kami mengunjungi Pempek Beringin ini.

Warung Pempek Beringin yang juga terletak di ruko ini pun terbilang apik menurut saya. Desain ruangan di dalamnya menarik. Seperti ada beberapa tulisan di dinding yang meneceritakan sejarah pempek ataupun cerita tentang cuka pempek. Selain itu di Pempek Beringin, pengunjung juga bebas memilih pempeknya yang diajikan seperti prasmanan. Di bagian depan juga ada tempat dijajakan oleh-oleh khas Palembang lainnya seperti lempok durian, sirup markisa khas Medan, gantungan kunci, boneka pengantian adat Palembang dan lain-lain.

Sejarah Cuko Pempek
Sejarah Cuko Pempek yang terpajang di dinding Warung Pempek Beringin
Oleh-oleh Khas Palembang dan Daerah Sumatera lainnya
Oleh-oleh Khas Palembang dan Daerah Sumatera lainnya
Penyajian Pempek Beringin
Penyajian Pempek Beringin dan kue-kue khas Palembang seperti lapis kojo dan sarikayo
Pempek Panggang
Pempek Panggang Beringin

Rasa pempek beringin tidak berbeda jauh dengan pempek lainnya. Tetep enak (gagal jadi food blogger) :). Rasa asam cukanya menurut saya terlalu asam. Harga di pempek Beringin ternyata belum termasuk pajak 10%. Selain pempek di sini juga dijakan pempek khas Palembang seperti kue lapis kojo, tekwan, sarikayo, mie celor,ataupun rujak mie.

Kesimpulan dari City Tour Pempek di Palembang kali ini menurut saya juaranya jatuh ke Pempek Lince, kedua Noni 168, ketiga Beringin, lalu Candy. Untuk Vico, karena saya belum pernah mencicipi langsung, saya tidak berani mengikutsertakannya.

Pempek yang baik bukan pempek yang bau ikannya menyengat, bahkan konon jika bau terlalu menyengat bahan baku ikan yang digunakan sudah kurang bagus. Jika pempek terbuat dari ikan belida yang kini sudah langka, bahkan pempeknya tidak terlalu bau ikannya, tetapi teksturnya lebih lembut.

Pempek bisa tahan lama jika ditaruh di freezer lemari es bisa bertahan selama beberapa bulan, asalkan tidak keluar masuk kulkas. Sebaiknya pempek yang disimpan, dikemas untuk sekali makan sehingga tidak terlalu sering terpapar dengan udara di luar, dengan begitu pempek akan lebih tahan lama.Tetapi siapa yang tahan mendiamkan pempek lama-lama kalau rasanya terbayang-bayang sangat menggoda lidah.

Apapun mereknya, bagi sebagian besar orang Palembang pempek merupakan makanan wajib yang harus ada di rumah setiap hari. Pada umumnya mereka biasa membuat pempek di rumah dan selalu memiliki persediaan biang cuka. Seperti yang disampaikan Anton dari pempek Lince, mungkin semua orang di Palembang bisa membuat pempek. Tapi ada yang rasanya biasa dan istimewa, dan keahlian istimewa itu yang merupakan berkah bagi pengusaha pempek di Palembang. Mungkin jika rasa pempek tidak terlalu berbeda  antara merek yang satu dan yang lainnya, perbedaan yang bisa dirasa adalah rasa cuka sebagai teman menikmati pempek. Selamat menikmati pempek.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anak-anak Hebat Dalam Perjalanan 2 (Agum di Pasar Apung)

Entah disengaja atau tidak beberapa perjalanan terakhir yang saaya lakukan, saya dipertemukan oleh anak-anak yang hebat. Kalau yang pertama seorang penjaja bakso goreng di Curug Seribu Bogor, kali ini saya dipertemukan sama seorang anak laki-laki bertubuh gempal yang punya nama Agum.

Saya bertemu Agum ketika mengajak keponakan-keponakan saya menjelajah daerah Sentul. Setelah sejak pagi kami bermain di Hutan Gunung Pancar lalu ke Curug Bidadari dan kemudian memutuskan istirahat sejenak di Mesjid Andalusia yang terletak di depan Pasar Apung. Oh iya kayaknya seru juga yah kalau cerita perjalanan bareng mereka. Okey mungkin suatu saat saya akan tulis.

Setelah mendapatkan parkir di depan Pasar Apung yang memang lumayan susah, kamipun bergegas menuju masjid. Parkiran masjid waktu itu sudah penuh. Jadi kami memilih parkir di halaman atau tempat parkir Pasar Apung. Baru saja kami turun dari mobil, beberapa anak-anak seusia 8-10 tahun menyerbu. Menawarkan dagangannya antara lain keripik pisang, keripik singkong, dan peyek kacang. Agak setengah memaksa mereka mengharapkan agar pengunjung membeli panganan yang mereka jajakan.

Saya yang saat itu memang bertujuan untuk sholat, ya saya cuekin ajah. Bahkan dalam hati sempat merasa terganggu dengan cara mereka yang menurut saya terlalu agresif. Hahahaha. Iya agresif. Gimana gak agresif coba, baru turun langsung diserbu. Terus ditempel. Jalan kesini diikutin, jalan kesitu ditempelin. Agak ganggu kan yah.

Waktu itu sih saya cuma bilang, “maaf ya dek, nanti ya, saya buru-buru mau sholat dulu. Keburu kesorean nih, maaf yah.” Sambil menyunggingkan sedikit senyum yang mungkin agak dipaksakan.

Usai sholat, kami awalnya mau makan di Pasar Apung, tetapi tiba-tiba hujan turun sangat derasnya. Kami pun bingung. Payung semua di mobil. Akhirnya kami memutuskan duduk di beranda masjid. Menunggu hujan reda.

Sambil duduk dan menatap ke depan, tiba-tiba saya melihat sekelompok anak-anak penjaja keripik yang kali ini jumlahnya cukup banyak. Mereka sepertinya sedang berteduh juga. Mereka lalu juga menawarkan kepada pengunjung yang barus saja keluar dari mesjid. Kali ini saya rasa saya mau membeli untuk dimakan sambil menunggu hujan reda.

Saya meminta keponakan saya untuk membeli dua bungkus. Harganya 10 ribu perbungkus dan saya membeli keripik opak. Rasanya enak. Tidak lama buat kami sekeluarga menghabiskan keripik opak tersebut. Tetapi hujan masih saja belum reda.

Akhirnya saya tertarik mengamati tingkah laku anak-anak tersebut. Memang sih mereka berbicara dengan bahasa Sunda yang tidak saya mengerti. Tetapi saya tertarik dengan cerita dibalik mereka. Hahahha. Kepo banget kan.

Saya pun mendekat, menghampiri salah seorang anak yang sedang duduk dengan keranjang dagangan di pangkuannya. Anaknya agak gemuk, hitam manis, dan bermata agak sipit. “Namanya siapa dek ?” saya mengawali percakapan.

“Agum.” jawabnya.

“Agum masih sekolah? Kelas berapa?” tanya saya lagi.

“Masih. kelas 6 SD.” jawab Agum.

Agum kelas enam sekolah dasar, dia memilih berjualan keripik untuk mengisi waktu liburnya. Agum hanya berjualan setiap hari Sabtu dan Minggu atau ketika sekolah libur. Dari hasil berjualan, Agum sudah memiliki dua ekor kambing. Kambing yang dibelinya kemarin sudah dikawinkan dan sudah mempunyai anak.

Ibu Agum yang berprofesi sebagai Ibu rumah tangga yang mengurus kambing-kambing Agum. Rencananya kambing-kambing itu sebagai tabungan untuk biaya sekolahnya nanti.

Agum tinggal tidak jauh dari situ, tepatnya dekat dengan Mesjid Adzikra. Biasanya dia menumpang ojek dengan ongkos 5000 rupiah sekali jalan. Agum sehari bisa menghasilkan penghasilan bersih sebesar 60.000 – 100.000 rupiah. Keripik diambil dari produsen dengan Agum mengambil keuntungan 100%. Wah lumayan juga yah. Makanya tidak heran banyak anak-anak seusia Agum yang turut berjualan.

Kalau musim hujan ada beberapa teman Agum yang langsung beralih profesi menjadi penyewa payung alias ojek payung. Keripik ditaruh dulu, lalu mereka manawrkan jasa ojek payungnya.

Tetapi ada juga dari mereka yang memang sudah berhenti sekolah dan berjualan di sekitar Pasar Apung dan Mesjid Andalusia setiap harinya. Mereka memilih membantu ekonomi keluarga dibandingkan bersekolah.

Ketika saya meminta Agum untuk di foto, Agum langsung memasang senyumnya yang manis. Meski waktu itu beberapa teman-temannya menggoda. Lalu sebagai ucapan terima kasih, atas kesediaan Agum melayani obrolan saya. Saya kembali membeli keripik opak yang dijajakan Agum.

Agum dengan Keranjangnya yang sudah kosong
Agum dengan Keranjangnya yang Sudah Kosong

Tiba-tiba keponakan saya Fawaz namanya, mendekat. Usianya masih 9 tahun. Sepertinya dia dari tadi memperhatikan perbincangan saya dengan Agum. Lalu saya berbisik di telinga Fawaz. “Tuh, kamu beruntung kan. Bisa sekolah, minta ini itu tanpa harus mencari duit dengan berjualan seperti itu. Sekolah yang pintar, jangan kebanyakan meminta barang-barang yang lagi ngetren gara-gara ikut-ikutan teman.” kata saya kepada Fawaz.

“Mereka gak tauk baju distro ya tante?” tiba-tiba keponakan saya yang satu lagi namanya Odi menimpali. Memang si Fawaz seperti sudah anak ABG yang keranjingan barang bermerek dari distro. Kadang saya sampai geleng-geleng kepala kalau Fawaz sudah mulai merengek minta sesuatu dan harus belinya di toko distro. Heran yah anak jaman sekarang umur segitu sudah tauk barang distro. Entah fenomena apa ini.

Fawaz hanya diam. Semoga saja Fawaz bisa mencerna omongan saya tadi. Semoga.

Sebuah perjalanan adalah tempat pembelajaran terbaik buat anak-anak menurut saya. Mereka bisa langsung melihat kondisi sesungguhnya. Saya jadi berpikir untuk mengurangi pemberian barang-barang yang sepertinya tidak terlalu mereka butuhkan. Lebih baik saya menabung uangnya dan mengajak mereka untuk jalan-jalan. Melihat dunia dan isinya. Bermain dan belajar dalam waktu bersamaan.

 

 

 

 

Anak-anak Hebat Dalam Perjalanan 1 (Penjaja Bakso Goreng di Curug Seribu)

Beberapa perjalanan terakhir belum lama ini, saya dipertemukan dengan beberapa anak-anak hebat. Saya menyebut mereka hebat, karena di usia mereka yang masih duduk di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, mereka sudah bisa menghasilkan uang untuk membantu ekonomi keluarga.

Mereka mengharapkan rupiah dengan cara berjualan di lokasi tidak jauh dari tempat wisata. Anak yang pertama saya temui, sebut saja namanya Anton. Jujur saja saya lupa dengan namanya. Waktu itu sempat kenalan, bahkan kalau saya tidak salah ingat, saya sempat mencatatnya. Tapi entah ketika saya ingin menuliskan cerita ini, saya tidak menemukan catatan itu dimanapun. Maafkan ya. Mungkin usia yang membuat ingatan saya begini parah pelupanya.

Saya melihat Anton karena suami saya yang memang suka jajan. Suami tiba-tiba menuju sebuah bangunan gubug yang dijaga oleh Anton dan kedua orang temannya. Saya menghampiri. Awalnya sih saya kurang setuju dengan suami saya yang membeli makanan yang dijajakan Anton. Iya, Anton berjualan bakso goreng yang cara menyajikannya dengan plastik ukuran 1 kg lalu diberi saus yang tentu saja tanpa merek.

Tapi kemudian saya tertarik, kok yang jualan anak kecil, dan tidak ada satupun orang dewasa yang menemani mereka. Suami saya sudah mendapatkan bakso gorengnya. Tapi saya belum beranjak dan masih ingin mengobrol dengan Anton dan kedua temannya.

Anton sepertinya anak yang pemalu. Ketika saya dekati untuk ngobrol dia hanya menjawab seperlunya dan kadang tidak melihat ke arah saya. Hanya, kedua teman Anton terlihat tersenyum-senyum melihat Anton yang kebingungan seperti diwawancarai oleh saya.

Anton sekarang duduk di kelas 1 SMP, dia berjualan bakso goreng di dekat pintu masuk Curug Seribu Bogor setiap hari libur saja. Anton sudah berjualan bakso goreng sejak kelas 5 SD. Ketika saya bertanya bagaimana mengangkut perlengkapan berjualannya, ia bilang semuanya ditinggal saja di gubugnya tempat berjualan. Ia hanya membawa bakso, minyak goreng, dan saos saja.

Ketika kami sedang mengobrol, saya mengingatkan bakso goreng yang sedang digorengnya, “hati-hati itu gosong nanti.” Anton hanya melirik penggorengannya dan tetap cool. Ealah ini anak kalem ajah.

Saya pun menanyakan, uang hasil berjualan untuk apa. Menurut Anton, uangnya ia bagi dua, sebagian ia berikan ke orang tua dan sebagian lagi untuk jajan di sekolah. Anton bercita-cita menjadi Polisi kalau sudah dewasa nanti.

“Cepet ayo, nanti keburu siang, lanjut.” tiba-tiba saja suami memanggil. Ups, waktunya pamitan sama Anton. sebelum pamitan, saya minta izin untuk mengambil gambar mereka bertiga. Mereka mau, tetapi malu-malu untuk bergaya. Sebelum pergi saya ingat punya sedikit coklat yang kemudian saya berikan buat mereka bertiga. “Ini dibagi-bagi ya, sedikit tapi.” kata saya ” Makasih…” jawab mereka kompak.

Penjaja Bakso Goreng di Curug Seribu
Anton dan temannya yang malu-malu ketika difoto