Anak-anak Hebat Dalam Perjalanan 1 (Penjaja Bakso Goreng di Curug Seribu)

Beberapa perjalanan terakhir belum lama ini, saya dipertemukan dengan beberapa anak-anak hebat. Saya menyebut mereka hebat, karena di usia mereka yang masih duduk di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, mereka sudah bisa menghasilkan uang untuk membantu ekonomi keluarga.

Mereka mengharapkan rupiah dengan cara berjualan di lokasi tidak jauh dari tempat wisata. Anak yang pertama saya temui, sebut saja namanya Anton. Jujur saja saya lupa dengan namanya. Waktu itu sempat kenalan, bahkan kalau saya tidak salah ingat, saya sempat mencatatnya. Tapi entah ketika saya ingin menuliskan cerita ini, saya tidak menemukan catatan itu dimanapun. Maafkan ya. Mungkin usia yang membuat ingatan saya begini parah pelupanya.

Saya melihat Anton karena suami saya yang memang suka jajan. Suami tiba-tiba menuju sebuah bangunan gubug yang dijaga oleh Anton dan kedua orang temannya. Saya menghampiri. Awalnya sih saya kurang setuju dengan suami saya yang membeli makanan yang dijajakan Anton. Iya, Anton berjualan bakso goreng yang cara menyajikannya dengan plastik ukuran 1 kg lalu diberi saus yang tentu saja tanpa merek.

Tapi kemudian saya tertarik, kok yang jualan anak kecil, dan tidak ada satupun orang dewasa yang menemani mereka. Suami saya sudah mendapatkan bakso gorengnya. Tapi saya belum beranjak dan masih ingin mengobrol dengan Anton dan kedua temannya.

Anton sepertinya anak yang pemalu. Ketika saya dekati untuk ngobrol dia hanya menjawab seperlunya dan kadang tidak melihat ke arah saya. Hanya, kedua teman Anton terlihat tersenyum-senyum melihat Anton yang kebingungan seperti diwawancarai oleh saya.

Anton sekarang duduk di kelas 1 SMP, dia berjualan bakso goreng di dekat pintu masuk Curug Seribu Bogor setiap hari libur saja. Anton sudah berjualan bakso goreng sejak kelas 5 SD. Ketika saya bertanya bagaimana mengangkut perlengkapan berjualannya, ia bilang semuanya ditinggal saja di gubugnya tempat berjualan. Ia hanya membawa bakso, minyak goreng, dan saos saja.

Ketika kami sedang mengobrol, saya mengingatkan bakso goreng yang sedang digorengnya, “hati-hati itu gosong nanti.” Anton hanya melirik penggorengannya dan tetap cool. Ealah ini anak kalem ajah.

Saya pun menanyakan, uang hasil berjualan untuk apa. Menurut Anton, uangnya ia bagi dua, sebagian ia berikan ke orang tua dan sebagian lagi untuk jajan di sekolah. Anton bercita-cita menjadi Polisi kalau sudah dewasa nanti.

“Cepet ayo, nanti keburu siang, lanjut.” tiba-tiba saja suami memanggil. Ups, waktunya pamitan sama Anton. sebelum pamitan, saya minta izin untuk mengambil gambar mereka bertiga. Mereka mau, tetapi malu-malu untuk bergaya. Sebelum pergi saya ingat punya sedikit coklat yang kemudian saya berikan buat mereka bertiga. “Ini dibagi-bagi ya, sedikit tapi.” kata saya ” Makasih…” jawab mereka kompak.

Penjaja Bakso Goreng di Curug Seribu
Anton dan temannya yang malu-malu ketika difoto
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s