Keliling Malang bareng Bapak Ibu (Zangrandi, Museum Angkut, D’Topeng)

Helllooooo…. saya kembali. Hihihi. Semoga aja ada yang kangen baca tulisan blog saya. Sudah sebulan gak update blog nih. Februari memang bulan yang sibuk banget buat saya (sok sibuk aja padahal) dan alhamdulillah waktunya traveling. Nah setelah pulang traveling, males deh. Alasannya tiap weekend ada aja agenda keluar rumah. Kalaupun gak ada, ya waktunya bersih-bersih ataupun hanya mager (males gerak) menikmati sofa, leyeh-leyeh, main hape, dan oh ya kembalinya mood menonton drama Korea, jadinya bikin mood nulis saya gak dateng-dateng. Hehehe. Ada aja kan alasannya. Males nulis ya malas ajah.

Acara nikahan adik ipar saya di Surabaya kemarin, membuat saya berencana untuk traveling ke Malang. Jujur aja, November kemarin saya sudah outbond kantor ke Malang. Tetapi namanya juga jalan bareng rombongan ya gak banyak yang didatangi dan Malang memang kota yang asyik buat dikunjungi berulang kali. Outbond kemarin saya hanya dapat siraman rohani biar semangat ala motovator, rafting di Pujon, Museum Angkut, Museum Satwa, belanja oleh-oleh, dan main sepeda di sekitar Hotel Harris Malang.

Traveling kali ini agak berbeda buat saya, karena saya yang biasanya duet traveling bareng suami, kali ini mengajak Bapak dan Ibu. Hanya Bapak dan Ibu saya aja, karena Bapak dan Ibu mertua masih kerja dan mereka gak mau cuti lagi (karyawan teladan, patut di contoh). Awalnya bahkan kami mau traveling ke Malang dengan saudara-saudara ipar saya tetapi karena masing-masing punya keperluan dan kepentingan yang beragam, jadilah kami hanya berempat ke Malang. Meskipun ada tiga keluarga suami yang ke Malang, tetapi kami punya itinerary masing-masing dan jalan terpisah.

Perjalanan kami dari Surabaya start jam 9 pagi dengan mobil rental. Kami mampir ke Pasar Genting untuk beli oleh-oleh. Di sana saya hanya beli Teng-Teng Mente dan Sambal Bu Rudi yang harganya bisa dua kali lipat kalo udah nongkrong di Mall Jakarta.

Sambal Fenomenal Bu Rudi
Sambal Bu Rudi harganya sebotol 25 ribu

Dari Pasar Genting, kami mampir ke Warung Es Krim legendaris Zangrandi yang terletak di Pusat Kota Surabaya. Dua hari di Surabaya agak menyesal menyia-nyiakan waktu di kamar Asrama Haji yang memang asri. Ternyata banyak spot-spot menarik di Surabaya yang dikunjungi. Sepertinya next trip yah. Ahseeekk…

Es Krim Zangrandi, Surabaya
Menikmati manisnya Es Krim di Kedai Zangrandi dan senyum Ibu. 🙂

Dari Surabaya, kami beranjak ke Malang. Perjalanan Surabaya ke Malang normalnya kurang lebih tiga jam. Kami istirahat sebentar di sebuah Pom Bensin untuk sholat dan ke toilet. Hujan deras mengiringi perjalanan kami ketika kami tiba di Kota Malang. Tujuan kami memang langsung menuju Kota Batu. Tiba di Kota Malang, kami berhenti untuk makan siang di jalan Surabaya-Malang tepatnya di Warung Sate Hotplate. Alasannya kami makan di sini, ada pilihan selain ayam dan daging dimana saya sudah males banget makan menu itu, masuk list rumah makan enak di Malang, dan yang paling penting tempat parkirnya ada.

Menu yang kami pesan benar-benar menu rumahan. saya dan Ibu memilih telor dadar dan sayur asam. Sedangkan Zaki dan Bapak pilih sate kambing dan lalapan. Cuaca yang dingin membuat kami memilih minuman hangat, kecuali Zaki yang pilih es jeruk.

Sate Hot Plate Malang
Sate Hot Plate, telor dadar, dan tempe goreng. Sayur asem belom dateng. Udah keburu laper… hehehe

Perut kenyang hati senang, apalagi harganya juga tidak terlalu mahal. Makan berlima habis kurang lebih 150 ribu. Kami berlima ya, bareng Pak Supir rental yang pesan sate kambing.

Hujan masih menguyur Kota Malang kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Batu, tepatnya ke Museum Angkut. Tiba di Museum angkut sekitar jam 14:30. Berhubung weekend, harga tiket menjadi 80 rb ditambah terusan untuk ke Museum D’Topeng, totalnya 90 rb.

Museum Angkut memang museum yang sangat direkomendasikan jika kamu jalan-jalan ke Batu. Semua cerita alat angkut ada di sini. Tetapi apa coba alat angkut yang paling hebat dan bisa membawa kamu kemana saja? Jawabannya adalah uang. Hehehe bener juga siy.

Koleksi Uang di Museum Angkut
Koleksi Uang Berbagai Negara
Museum Angkut Malang
Uang termasuk alat angkut yang hebat bukan? 🙂
Museum Angkut
Simulasi Kokpit Pesawat
Koleksi Sepeda Onthel di Museum Angkut
Koleksi Sepeda Ontel di Museum Angkut
Replika Kota Tua di Museum Angkut
Replika Kota Tua di Museum Angkut
Koleksi Museum Angkut
Mobil dan Motor Jadul

Namanya saja museum angkut ya, di sini memang wajar jika yang ditampikan berbagai macam alat angkut dari yang sangat tradisional seperti gerobak sampai mobil yang dipakai Presiden, dan mobil-mobil yang paling keren di masanya. Keunikan yang dimiliki museum ini adalah design tempatnya yang dibuat untuk membuat pengunjung benar-benar menikmati museum. Buat orang awam seperti saya yang memang gak terlalu suka dan gak mengerti tentang mobil-mobil keren atau apalah. Tempat ini sangat menarik buat foto-foto, belajar sejarah alat angkut, games pengetahuannya yang kreatif, sampai penyajian miniatur-miniatur Kota-kota besar dunia seperti London, Paris, Berlin, Italia, New York yang gak kalah tampilannya sama Universal Studio nya Singapura.

Pokoknya saya bangga banget di Indonesia ada museum keren kayak begini. Pokoknya jauh sama kesan museum yang membosankan dan menjemukan. Apalagi buat yang suka selfie atau foto, sediakan waktu seharian penuh untuk mengunjungi museum ini. Selain waktu, kalian juga butuh banget tenaga terutama kaki yang kuat buat berkeliling.

Tembok Berlin, Museum Angkut
Mejeng di depan tembok Berlin
Museum Angkut Big Ben
Berdua sama Ibu…
Museum Angkut
Mobil Kuno 🙂

Meskipun seharian kamu di Museum, jangan khawatir kelaparan. Di dalam area museum ini ada Pasar Apung seperti yang terdapat di Lembang Bandung. Pasar yang menjajakan berbagai macam makanan di sebuah perahu yang terapung. Selain makanan ada juga souvenir yang dijual. Pokoknya kumplit deh.

Pasar Apung Museum Angkut
Pasar Apung Museum Angkut

Puas berkeliling di Museum Angkut, kami masih punya satu tiket museum lagi, yaitu museum D’Topeng. dari namanya saja kita pasti sudah tahu, ini museum topeng yang isinya topeng-topeng dari daerah di seluruh Indonesia. Ah pasti layaknya Museum Wayang di Jakarta, paling sebentar karena kami pasti hanya berkeliling dan lihat-lihat (begitu pikir saya di awal).

Kami segera masuk dengan hanya menunjukkan gelang di lengan kami sebagai tanda masuk ke Museum D’Topeng. Tiba di dalam Museum, seorang pemandu kemudian mendekati kami dan kemudian menemani kami berkeliling museum sambil menjelaskan benda-benda yang dipajang (bayangan saya salah).

Kita sebut saja Mas-mas Pemandu soalnya saya lupa namanya. Selain menjelaskan tentang sejarah benda-benda di sini, asal muasal, dan keistimewaannya, sesekali mas-mas pemandu juga suka melucu. Mungkin untuk menghilangkan jika pengunjung mulai bosan mendengarkan celotehnya. Asyik juga sih, dengan begitu kami malah semangat terus untuk bertanya ini itu.

D'Topeng Museum
Mas-mas pemandu sedang menjelaskan patung sembahan nenek moyang

Selain topeng, sebenarnnya museum ini juga berisi kekayaan budaya Indonesia. Mulai dari batik dengan keunikan di berbagai daerah di Indonesia, barang-barang peninggalan nenek moyang seperti tombak, alat-alat masak, dan masih banyak lagi. Pokoknya masuk ke dalam museum ini jadi tambah kaya pengetahuan tentang Indonesia. Makin bangga jadi orang Indonesia. Di Singapura adapun bukan punya bangsa mereka sendiri. Ini asli punya Indonesia. Bangganya saya. Maaf ya lebay.

Museum D'Topeng Malang
Makin bangga jadi orang Indonesia
D'Topeng Museum
Nice Quote

Waduh, gak rugilah nambah 10 ribu bisa masuk ke dalam museum keren begini. Pake pemandu dan dijelaskan lengkap lagi. Di penghujung museum, kita masih dapat bonus pertunjukkan musik keroncong. Boleh masukin uang sekedarnya juga. Pokoknya puaslah.

D'Topeng Museum

Pertunjukan Musik di D’Topeng Museum

Selesai berkeliling Museum D’Topeng, kami memutuskan untuk masuk lagi ke Museum Angkut yang setiap jam lima sore ada parade mobil. Eh, sayang di sayang setibanya kami di sana, paradenya sudah selesai dan yang ada kami tinggal disuguhi orang dengan berbagai kostum sehabis berparade yang berjoget-joget dengan musik yang jedung jedung yang bikin kepala saya muter. Kami pun memutuskan untuk keluar museum dan rencananya mau ke Batu Naight Spectacular (BNS).

Gerimis yang masih mengguyur Kota Batu tidak mengalahkan tekad kami. Setibanya di BNS kami berencana untuk makan malam saja. Tetapi setelah kami turun dari mobil dan mau membayar tiket masuk, terlihat dengan jelas kalau di dalam BNS sebenarnya banyak wahana permainan outdoor. Ah sepertinya sayang sekali kalau kami harus bayar hanya untuk makan yang pasti menunya alakadarnya. Kami pun memutuskan untuk meninggalkan BNS dan menuju alun-alun Kota Batu untuk menikmati ketan susu Legenda yang terkenal itu.

Sepertinya hukumnya wajib kalau ke Batu harus mencicipi ketan Legenda di Alun-Alun Kota Batu. Kedainya kecil, tetapi antrian pengunjungnya luar biasa. Kali ini kami beruntung antriannya tidak terlalu ramai. Mungkin karena hujan.

Menunya tentu saja ketan dengan berbagai macam toping. Ada toping keju, susu, duren, dan yang original adalah ketan dengan toping bubuk kacang kedelai. Ketannya memang pas tidak terlalu banyak apa yang istimewa saya juga tidak tahu. Rasanya sih sama saja dengan ketan yang saya makan di mana-mana.

Ketan Legenda Kota Batu
Ketan Legenda di Alun-alun Kota Batu sejak tahun 1967
Ketan Legenda Batu
Ketan Keju Susu
Ketan Legenda Kota Batu
Ketan Bubuk Kacang Kedelai
Warung Ketan Legenda
Wedang Uwuh dan Susu Jahe Madu

Teman makan ketan yang cocok di saat hujan apalagi kalau bukan wedang susu jahe ataupun susu murni. Kota Batu memang banyak terdapat peternakan sapi dan penghasil susu murni. Selain susu ada juga wedang uwuh yang berisi rempah-rempah yang dapat menghangatkan tubuh.

Warung Ketan Legenda buka sejak pukul 17:00 sampai tengah malam atau sampai habis. Sepertinya kami tidak perlu makan malam lagi. Sepiring ketan dan segelas wedang jahe sudah cukup mengenyangkan. Kami pun bergegas karena antrian sudah mulai panjang. Selain itu kami ingin cepat-cepat merebahkan badan yang sudah gemeretak. Belum lagi masih harus mencari lokasi penginapan yang sudah kami booking sebelumnya melalui booking.com

Bersambung di episode ke 2 perjalanan bareng Bapak dan Ibu ke Malang di Post selanjutnya ya. Keesokan harinya kami akan mengunjungi Coban Rondo, Batu Secret Zoo, Museum Satwa, Museum Tubuh, dan di hari terakhir kami akhirnya ke Bromo. Yeay… ditunggu yah.

 

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Keliling Malang bareng Bapak Ibu (Zangrandi, Museum Angkut, D’Topeng)

  1. Pingback: Keliling Malang Part 3 (Batu Secret Zoo) – ariniwahyu01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s