Keliling Malang Part 4 (Akhirnya ke Bromo)

Semoga ini menjadi bagian terakhir saya menceritakan perjalanan keliling Malang kali ini. Hehehe takutnya keburu basi kalo gak kelar-kelar ih.

Awalnya kami berencana ke Malang tujuannya apalagi kalau bukan untuk ke Bromo. Pemandangan matahari terbit dari penanjakkan Bromo memang salah satu yang bikin kami untuk mengunjungi salah satu gunung api yang masih aktif di Jawa Timur ini.

Akhir tahun yang lalu, sebenarnya saya sudah berencana ke Bromo dengan rombongan teman-teman kantor. Apa daya tidak ada yang bisa melawan kehendak alam semesta ini. Meski perlengkapan mendaki sudah diberikan, seperti topi kuplu, syal, dan sweater kami tetap tidak bisa ke Bromo karena waktu itu memang sedang aktifnya mengeluarkan semburan awan panas ke langit. Waktu itu saja, kami terpaksa ke Malang via Surabaya, karena Bandara Abdurrahman Saleh di Kota Malang ditutup.

Kali ini saya yang pergi membawa kedua orang tua juga tidak berani langsung membooking travel agent untuk perjalanan ke Bromo. Oh iyah sebenarnya ke Bromo itu bisa via agent ataupun sendirian ngebolang gitu kok. Tergantung diri sendiri aja sih enakan mana. Jelas kalau mau hemat ya jalan sendiri. Berhubung mengajak orang tua ya baiknya pake travel agent. Saya mulai menghubungi beberapa travel agent dan menanyakan tentang pendakian ke Bromo yang pada waktu itu memang masih ditutup dan hanya bisa sampai di sunrise view point. Tidak bisa yang namanya ke Pasir Berbisik, naik kuda, apalagi melihat kawahnya. Tetapi memang dasar travel agent adalah orang yang jualan jasa, ya mereka tetap saja menawarkan pendakian Bromo ditambah iming-iming pemandangan yang tidak biasa yaitu kepulan asap nan cantik yang muncul dari kawah Bromo.

Saya tetap tidak langsung membooking travel agent juga sih, tapi bisa dijadikan pertimbangan. Saya pikir besok saja lihat gimana nanti. Soalnya waktu itu kan bukan weekend ataupun musim liburan. Sepertinya tidak akan terlalu ramai.

Tiba di Malang kami mencarter sebuah mobil untuk berkeliling Malang. Kemudian kami berdiskusi dengan Pak Pego (supir rental) bagaimana jika kami ingin ke Bromo. Pertimbangan dari beliau, kami sebaiknya ke Kota Malang saja, tidak usah kembali lagi ke Batu. Waktu itu kami menginap di Batu memang, dan rental Pak Pego juga nantinya yang akan memfasilitasi keberangkatan kami menuju Bromo malam dini hari nanti. Akhirnya kami langsung check out setelah sarapan.

Puas dan lelah menjelajah Batu Secret Zoo, Museum Angkut, dan Museum Bagong kami menuju Kota Malang yang tentu saja ditemani hujan rinik-rintik. Tiba di Kota Malang hari sudah gelap. Tujuan pertama kami apalagi kalau bukan kulineran. Kurang afdol sepertinya kalau di Malang belum mencicipi Bakso President yang letaknya dipinggir rel kereta api itu. Entahlah, mungkin saya bukan penggemar bakso sejati ya, tetapi buat saya rasa baksonya biasa saja. Katanya yang enak sih bakso bakar, tapi melihat penampakannya yang hitam begitu saya jadi memikirkan arang. Hahahahaha. Eh tapi, beneran enak siyh sepertinya. Ponakan saya saja habis 3-5 tusuk gitu. Pokoknya wajib di coba bakso bakar. Kuah bakso yang hangat pas sekali dengan dinginnya udara Kota Malang yang diguyur hujan.

Bakso President
Warung Bakso President
Bakso President
Bakso yang tersohor di Kota Malang
Bakso Presiden
Semangkuk bakso President dan Jeruk hangat, paling pas disantap ditengah hujan rintik.

Selesai makan malam, kami diantar belanja oleh-oleh khas Kota Malang yang tokonya besar banget. One stop shopping, lengkap. Mulai dari keripik khas Malang seperti keripik tempe dan keripik buah, minuman sari apel, sambal pecel, kaos-kaos, sampai pernak-pernik lucu kerajinan tangan.  Saya tidak terlalu banyak membeli, lebih banyak Ibu yang memang diperuntukkan untuk para tetangga di rumah. Tidak mau repot dengan bungkusan keripik yang besar, kami memilih sambel pecel yang imut dan enak sebagai oleh-oleh. 🙂

Oleh-oleh beres, kami menuju toko perlengkapan naik gunung ada yang mau dibeli. Syahelah… gaya banget, kayak mau mendaki beneran ajah yah. Gak papah persiapan matang itu wajib kan?

Tujuan utama kami sih mau mebelikan jaket untuk Bapak yang kelupaan bawa jaket. Tetapi si Zaki berpendapat lain, Bapak dipinjamkan jaketnya dan dia beli jaket baru. Jiaaahhh curang kan? Biar saya gak sebel, saya juga ikutan beli celana lapangan ajah. Hehehe. Akhirnya kami membeli jaket buat Zaki, celana kargo buat saya, kaus kaki buat Bapak dan Zaki serta topi kuplu buat Bapak. Sebenarnya ini termasuk pengeluaran yang tak terduga dalam perjalanan. Tapi mau gimana lagi dong.

Pekerjaan rumah kami yang belum selesai berikutnya adalah mencari tempat di mana kami akan menghabiskan waktu hingga jam 00:00 WIB dimana kami akan di jemput untuk menuju Bromo. Kakak saya menawarkan kamar hotelnya siy, tapi kasian nanti anak-anaknya gak bebas untuk beristirahat, begitu juga kami, terutama Bapak Ibu yang sepertinya lelah sekali.

Kami memutuskan untuk mencari penginapan yang sederhana saja, yang penting bisa untuk membersihkan badan dan tidur sebentar. Awalnya kami berpikir untuk menginap di mesjid. hadewh… faktor U kali yah mulai gak nyaman tidur di tempat umum. Sudahlah cari yang sedikit nyaman ajah. Hehehe.

Pak Pego mengantarkan kami ke sebuah penginapan yang terletak di dalam gang perumahan. Tidak jauh dari jalan raya. Namanya Guest House Hasanah yang terletak di Jl. Soekarno Hatta. Kemudian saya bernegosiasi untuk meminta potongan harga, karena kami hanya tiga jam saja. Jam 12 malam langsung check out. Pihak penginapan memberi diskon 100 rb. Untuk satu kamar kami membayar hanya 150.000. Harga murah yang didapat harus dibayar dengan kamar di lantai 3 dan lift nya belum jadi (sabar… saya menghibur diri, kalau mau enak di hotel aja yah). Akhirnya kardus oleh-oleh kami titipkan saja di resepsionis, kami hanya membawa koper yang berisi pakaian untuk besok.

Alhamdulillah. Kamarnya bagus dan yang terpenting kamar mandi di dalam. Ukurannya cukuplah buat kami berempat. Isi kamarnya ada tempat tidur single bed, televisi, AC, dan meja tulis. Setelah bersih-bersih, sebelum tidur, saya meminta Bapak dan Ibu sudah menyiapkan pakaian yang akan dipakai untuk nanti malam biar besok tidak terlalu grasa grusu (artinya : gedubrakan).

Hasanah Guest House
Cuma sempat ambil gambar ini… soalnya udah pada capek barang-barang sudah bergeletakan di mana-mana :))

Single bed ukuran nomor 2 itu kami tiduri berempat. Gak usah rusuh tidurnya. Orang cuma sebentar. Semua alarm hape yang kami bawa diaktifkan. Takut-takut kami gak bangun. Maklum badan capek banget.

Jam 00:00 wib waktu Malang Pak Pego menelepon, membangunkan kami. Kami bergegas. Baju yang memang sengaja lebih dari satu lapis langsung kami gunakan. Oh iya, waktu itu kami gak mandi. Cuma cuci muka dan sikat gigi saja. Hehehehe dan minyak wangi tentunya.

Kami dijemput menggunakan mobil Xenia oleh Pak Pego, dan singgah di kantor travel agent beliau untuk bertukar dengan Jeep sekaligus menitipkan koper-koper bawaan kami. Jeep dikemudikan oleh sebut saja Pak Toni, sumpah lupa banget namanya dan gak nyatat. Parah. Blogger macama apa sayah :).

Satu jeep jika full biasanya bisa mengangkut hingga 8 orang penumpang. Tetapi karena kami dijemput dari Malang alias mencarter Jeep seharga 1,1 juta ini ya isinya Zaki, Pak Pego dan driver di depan, saya, Ibu, dan Bapak di kursi belakang. Kota Malang di malam hari sepi sekali. Ya iyalah malam gitu loh. Oh iyah, buat saya harga segitu cukup terjangkau. Soalnya paket travel agent lainnya kemarin dibandrol 500 rb/orang.

Dari Kota Malang menuju Bromo kami melewati 3 kabupaten lainnya di Jawa Timur seperti Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang yang akan ditempuh sekitar 3-4 jam. Kami melewati jalur perkebunan gula, apel yang waktu itu saya gak bisa membayangkan kalau tiba-tiba saja ada orang jahat menghentikan kendaraan kami. Terus saja saya berdoa, semoga cepat sampai ke area perkampungan. Kami yang duduk di belakang dengan santainya bisa melanjutkan tidur, meski tidak terlalu nyenyak. Biarkan yang di depan saja yang terjaga, menemani Pak Supir.

Akhirnya setelah 2 jam perjalanan, kami harus turun untuk membayar karcis masuk dan ke kamar kecil. Airnya sudah mulai dingin banget. Di Pos penjualan karcis masuk juga banyak penjual syal, topi kuplu, dan sarung tangan. Ibu yang belum punya kuplu akhirnya membeli kuplu.

Pintu Masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Pintu Masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Dari pos pertama kami melanjutkan perjalanan di mana di daerah tersebut sudah tidak ada  penduduknya. Jadi kalau ada penduduk yang menaiki motor atau berjalan kaki, ya biasanya mereka berjualan di Puncak Bromo sana.

Kami tiba di sbuah warung untuk menunggu waktu pendakian sekitar jam 04:00 WIB. Parkiran mobil masih kosong. Mas Pego menjelaskan kalau terlambat sedikit saja, bisa-bisa kami tidak dapat parkir di tempat terdekat dan harus berjalan lumayan jauh.

Namanya tempat singgah, sudah pasti ada warung yang menjual minuman hangat dan mie instan. Bapak, Zaki, Mas Pego, dan Pak Supir memesan mie dan secangkir kopi. Saya cukup air putih panas. Hawa yang cukup dingin dan kabut yang cukup tebal membuat kami khawatir, bagaimana jika pemandangan Bromo akan tertutup kabut. Kami berdoa saja semoga saat matahari terbit nanti kabutnya pergi jauh-jauh.

Ibu-ibu Suku Tengger
Yah si Ibu merem. Ibu-ibu yang menawarkan sewa mantel besar yang merupakan penduduk asli Tengger

Sambil menunggu, saya melihat beberapa Bapak-bapak mengelilingi tungku untuk menghangatkan tangannya. Mereka yang orang asli Tengger saja kedinginan, apalagi kami yang dari Bekasi yang very H.O.T city. Hehehehehe. Mengusir kebosanan menunggu Shubuh, saya dan Ibu ke dapur berbincang-bincang dengan Ibu penjual kopi. Mereka asei suku Tengger dan bercerita sedikit asal-usul mereka yang dari penduduk yang menyingkir karena runtuhnya Majapahit tetapi tidak ke Bali. Mereka menjelaskan juga sekarang sudah banyak anak-anak mereka yang bersekolah keluar seperti ke Kota Malang atau Surabaya. Tetapi setelah selesai mereka akan kembali lagi ke desa-nya. Sebagai penganut Hindu Bromo Tengger, mereka masih taat menjalankan ibadah mereka seperti melakukan upacara Kesada setiap tahunnya. Ramai sekali jika hari raya Kesada tambah Ibu penjual mie.

Bapak penunggu Toilet di Bromo
Si Bapak pake begituan doang dong, makanya dia menghangatkan diri dekat tungku

Selesai makan, Zaki membayar dan agak shock dengan harga semangkuk mie dan secangkir kopi. Hahaha. Setelah saya tanyakan kenapa harga makanan dan minuman yang dijualmahal,Ibupenjual menerangkan kalau di situ tidak ada pipa air bersih, yang mebuat mereka harus membawa berliter-liter air dari desa mereka. Begitu juga dengan tarif untuk sekali ke toilet yaitu 5000 rupiah. Hahahaha. Indomie semangkuk 15.000 secangkir kopi instan 10.000. Indomie termahal yang pernah kami makan. Di warung, kami juga ditawari sewa mantel bulu yang besar-besar. Katanya sih, hawa di atas nanti dingin sekali. Awalnya saya males, wong sudah pakai baju lapis 2 ditambah jaket juga, syal, kuplu, dan topi. Tetapi si penjaja nempel terus dan setelah tawar menawar kami akhirnya menyewa mantel bulu ala-ala musim dingin di Eropa gitu seharga 20.000/mantel.

Selepas sholat Shubuh, kami bersiap untuk ke tempat penanjakan. Pada hari kami datang kawah dan Pasir berbisik belum boleh dibuka untuk wisata. Jadi lupakan saja berfoto di bukit teletubbies dan menunggang kuda di area Pasir Berbisik. Gak papaaaahhhh (saya berusaha menghibur diri sendiri). Menjelang matahari akan terbit, beberapa pengunjung kemudian berdatangan. Waktu itu ada rombongan ABG yang kemudian saya perkirakan mereka mahasiswi yang backpacker satu geng. Kemudian ada beberapa rombongan bule-bule yang saya dengar dari perbincangan mereka kemungkinan berasal dari Inggris dan Perancis.

Sekitar jam 05:00 pagi kami mulai menajak dan mencari tempat terbaik untuk melihat matahari terbit dan mengabadikannya. Euhm… minder banget deh melihat peralatan fotografi mereka. Tripod segede-gede gaban dipasang, kamera dengan lensa yang panjang hampir satu meter dikeluarin. Lah eikeh, cuma bawa mirrorless yang pas-pasan banget. Pas lagi siap-siap mengabadikan foto, bule sebelah nyolek dan nunjukin hasil jepretannya dan keren booo… meski masih gelap tapi kok kelihatan terang dan jelas si Bromo dan Semeru nyah. Hahahahha… saya mulai iri dan syirik. Tambah kepengen les motret deh. Kamera segitu ajah belum banyak di eksplor aduh berasa kecil deh. Hehehehe.

Merasa kecilnya saya kemudian menjadi ketika melihat sinar berwarna merah jingga mulai menyeruak dari balik awan. Perlahan kabut menghilang dan matahari mulai menampakkan sedikit demi sedikit sinarnya. Tidak ada kata lain yang terucap selain Subhanallah, maha suci Allah yang menciptakan alam semesta yang luar biasa ini. Seneng pake banget ditambah bisa mengajak Ibu dan Bapak kesini.

Bromo

Bromo Sunrise

Sunrise Bromo

Bromo Sunrise
Awannya tebal
Bromo dan Semeru
Bukit pasir, Bromo, dan Semeru

Bromo

 

Pengunjung pemandangan sunrise Bromo ini bisa dikategorikan dua jenis. Jenis yang pertama jenis fotografer handal seperti mereka yang membawa peralatan kamera DSLR komplit beserta tripod dan mengabadikan perubahan warna dari langit setiap detiknya. Jenis kedua adalah jenis yang gak peduli sama  pemandangannya tetapi lebih ke mengabadikan diri mereka dengan pemandangan itu alias selfie, di mana mereka harus bisa ber-selfie ria dalam berbagai sudut pengambilan gambar. Hahahahahha… Kalau saya masuk yang mana yah? Yah 50:50 lah. Fotoin iyah, selfie juga iyah. :).

Suasana di Sunrise View Point
Suasana di Sunrise View Point Bromo
Suasana Sunrise Mountain View
Suasana Sunrise Mountain View pagi itu lebih banyak wisatawan asingnya.
Tipe Penikmat Sunrise di Bromo
Mereka yang sibuk mengabadikan setiap detik perubahan langit menjelang sunrise di Bromo
Tipe Penikmat Sunrise
Nah ini tipe penikmat Sunrise yang penting selfie dulu… :))

 

Couple in Bromo
Couple multi etnis yang juga hobi difotoin atau selfie di berbagai sisi view point 🙂

Sekitar pukul 06:30 kami turun, mengembalikan mantel-mantel yang lumayan berguna. Ternyata memang dingin, tapi untuk bawa dari rumah juga repot bener. Jadi ya okelah dan bisa juga sekalian membantu perekonomian mereka.

Foto Dulu sambil makan Pisang Goreng
Sebelum turun mejeng dulu sambil makan pisang goreng 🙂
Senyum setelah puas di Bromo
Senyum dulu lah meski gak ke pasir berbisik, naik kuda, atau ke bukit Teletubies, yang penting liat Bromo lah 🙂

Dari situ kami melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Malang dan sempat berhenti di view point lainnya. Malahan ada juga ojek yang menawarkan untuk naik ke atasa dengan iming-iming pemandangan yang lebih keren. “Ah sudahlah cukup Pak,” saya menolak halus. Perjalanan pulang saya tidur dan bangun. Melihat aktivitas warga di sekitar area yang kami lalui. Betapa kreatifnya mereka membuat penjemur pakaian dari kayu. Malahan terlihat lebih kokoh dibandingkan yang dari alumunium.

Tiba di Kota Malang, kami sarapan Pecel Pincuk sambil numpang merapikan diri supaya tidak terlihat muka bangun tidur. Masih sempat beli oleh-oleh Strudle Malang yang punya Teuku Wisnu juga. Itu enak banget, harganya pas dan worth it. Kami tiba di kantor travel agent dan berganti mobil Xenia untuk menuju Bandara. Jam masih menunjukkan pukul 11:00, saya minta diantar melihat Mesjid Agung Kota Malang yang terletak persis di depan alun-alun Kota Malang.

Mesjid Agung Kota Malang
Mesjid Agung Kota Malang

Ibu, Bapak, saya dan Zaki berkeliling alun-alun Malang. Lengkap sekali fasilitas sosial dan umum di alun-alun Kota Malang. Selain rapi dan terawat, di sini ada, bangku-bangku taman buat sekedar melepas lelah, area permainan anak, perpustakaan, dan ruang Ibu menyusui juga. Keren banget deh pokoknya. Dari alun-alun saya mampir ke pusat perbelanjaan untuk mencari ATM dan sekalian ke toilet. Cuma menyebrang sedikit aja dari alun-alun. Kemudian mata saya melihat kantor pos. Langsung saja saya membeli kartu pos dan perangko untuk dikirimkan ke diri saya sendiri dan keponakan saya di Jakarta. Asyik.

Alun-alun Kota Malang
Alun-alun Kota mlang yang asri
Alun-alun Kota Malang
Alun-alun Kota Malang

Tepat azan berkumandang, saya bergegas kembali ke mesjid, sholat Zuhur dan kemudian sudah lebih siap untuk meninggalkan Kota Malang yang luar biasa keren ini. Seusai sholat kami menuju bandara dan kembali ke Jakarta. Senengnya saya, bandara Malang sudah jauh berubah dibandingkan 5 tahun yang lalu saya berkunjung ke Malang. Waktu itu lebih mirip terminal bukan bandara. Hahahahaha.

Buat saya Malang dan sekitarnya (baik Kota maupun Kabupaten serta Batu) destinasi wisata yang lengkap untuk dikunjungi. Objek wisata alamnya yang banyak seperti gunung, pantai, air terjun, taman bunga, perkebunan apel, hingga wisata menguji adrenalin seperti sungai untuk rafting dan paralayang. Museum dan area permainannya yang keren dan lengkap di Batu, penginapan dan wisata kuliner yang enak-enak dan harga terjangkau. Wisata pantai aja siy, yang belum pernah saya kunjungi. Mungkin lain waktu. Amiiinnn. Semoga bisa balik lagi ke Malang :).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Keliling Malang Part 4 (Akhirnya ke Bromo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s