Makanan Khas Arab yang Yummy (Worktrip Arab Saudi Part 2)

Setelah bagian 1 cerita worktrip ke Arab kemarin perjuangan meraih buku kuning, kali ini saya mau cerita tentang makanan. Hahaha. Maaf lah yah, masih gak jauh-jauh dari makanan. Belom yang berat-berat. Habis gimana, kita kan hidup butuh makan. Jadi, daripada yang berat-berat, bahas makanan memang lebih enak. Ngeles ajah.

Alhamdulillah, teman-teman worktrip saya kali, ini sudah semuanya pernah ke Arab. Bahkan gak cuma yang sepuluh hari sebagian besar sudah pernah tinggal di Arab selama 3 bulan sebagai TKHI (Tenaga Kesehatan Haji Indonesia). So, mereka udah tahu banget makanan apa saja yang bikin kangen kalau lagi di Arab Saudi.

1.Nasi Mandhi/ Nasi Bukhari /Hadramaut

Sebagai orang asia dan Indonesia sejati, tentu saja kami gak bisa jauh-jauh dari yang namanya nasi. Buat kami, nasi adalah makanan wajib. Kalau belum makan nasi, sepertinya kami belum makan. Jadilah pilihan pertama kami adalah nasi mandhi. Nasi mandhi disini mungkin mirip-mirip nasi briyani atau nasi kebuli.

Nasi mandhi atau biasa disebut hadramaut. Hadramaut sendiri sebenarnya nama daerah di Yaman dimana konon katanya asal muasal makanan itu.

Nasi Mandhi
Nasi Mandhi/ Hadramaut Kambing

Nasi mandhi dan nasi bukhari adalah nasi yang diolah dengan diberikan bumbu-bumbu khas Timur Tengah seperti kayumanis, kapulaga, pala, yang aromanya cukup kuat. Sajian nasi mandhi biasanya didampingi daging kambing yang dimasak diungkep ataupun ayam panggang atau roasted chicken. Ada juga bawang bombay, dan cabai hijau besar yang rasanya gak pedas sama sekali. Nah, disinilah sambal terasi sachet sangat bermanfaat. Jadinya rasanya gak beda jauh sama makan pecel ayam di Indonesia. Enakk… apalagi ditambah ikan saluang (makanan khas Banjarmasin), bawang goreng, dan kerupuk.

Makan nasi mandhi
Tim Penerimaan Obat, di karpet yang kami jadikan tempat kerja, makan, sampai tidur. :))

Makan nasi mandhi memang seru. Penjualnya selalu menyediakan plastik untuk alas makan. DImakannya bareng-bareng. Seru! Sesekali rebutan daging atau sambel.

Satu porsi nasi mandhi buat kami para wanita bisa dimakan bertiga sampai berempat. Maklum porsi Arab itu memang jumbo. Kami sering beli berlebihan, tapi karena nasi ini gak terlalu pulen (apayah bahasa Indonesianya pulen?) jadi masih kami bisa makan untuk sarapan keesokan harinya. Hemat kan jadinya? Hehehehehe.

2. Ayam Goreng Tepung Al Baik

Ayam goreng tepung ala Arab itu  berbeda dengan yang ada di Indonesia. Restoran siap saji asal Kolonel asal Amerika itu ada sih, tapi gak banyak. Hanya ada di pusat-pusat kota. Nah yang sangat masif itu, alias hampir di setiap sudut ada, mereknya AlBaik. Perbedaannya resto cepat aji di Arab dan di Indonesia adalah, mereka membedakan tempat antrian, gak ada nasi, sausnya hanya saus tomat, dan ada saus bawang putih.

Pengganti nasinya ada kentang goreng ataupun roti burger. Ada juga salad isinya wortel dan letuce. Oh iyah ukuran ayam di sana lebih besar-besar. Dua kali lipat dengan ukuran di Indonesia tetapi ayamnya kesat dan gak ada darahnya gitu. Ada juga nugget ayam dan ikan. Menariknya nugget di Arab itu, seperti potongan daging ayam utuh, bukan ayam yang diolah seperti di Indonesia, lebih mantap. Untuk rasa lebih spicy dan bumbunya itu meresap sampai ke dalam. Aduh sambil ngetik ini, jadi nelan ludah sendiri.

AlBaik
Albaik Ayam Goreng Tepung disajikan dengan kentang goreng, roti, dan salad

AlBaik selalu ramai menjelang waktu makan. Di salah satu outlet AlBaik di Jeddah, pembeli pada umumnya pekerja bangunan asal India yang karena harganya tergolong murah dan banyak. Satu porsi ayam (isi 2-3) dan kentang dihargai kurang lebih 13 real.

Seperti di Indonesia, kami gak bosan-bosan makan ayam tepung ini. Sampai-sampai, karena kami sibuk belanja, teman-teman saya sampai minta tolong supir  untuk dibelikan paket Albaik untuk oleh-oleh ke Indonesia. Wow banget kan? Eh ternyata, di bandara ada outletnya.

3. Shawarma

Shawarma
Shawarma dengan kentang goreng

Orang Indonesia pada umumnya mengenal shawarma dengan sebutan kebab. Shawarma bisa dibilang sandwich-nya orang Timur Tengah. Roti tipis berbentuk bulat diisi dengan daging kambing atau ayam panggang bersama sayuran seperti bawang bombay dan timun. Lucunya, di sana penjualnya ada yang menyediakan kentang goreng sebagai teman makannya. Kebayang gak sih orang Arab itu makannya hebat. Hahahaha.

Ada cerita lucu waktu beli shawarma yang persis di depan Kantor BPHI Mekkah. Mereka juga menjual jus. Ketika saya pesan jus tomat (soalnya saya lihat banyak  tomat dipajang). Mereka malah tertawa dan bilang gak ada jus tomat. Tomat dimaksud ternyata untuk membuat sambal. Yaelah. Orang tinggal blend ajah kok susah sih :))).

Kemudian teman saya pesan jus melon. Ketika jadi, dikasih  jus semangka (watermelon), Padahal maksud teman saya, melon itu yang warnanya hijau. Tapi ya udah miskom, eh ternyata semangka di sana enak banget, lebih manis, dan buahnya itu dua kali lipat besarnya dibandingkan semangka Indonesia.

4. Ma’sub

Maksub
Maksub yang manis dan manis banget, tapi enaaaakkkkk

Ma’sub ini bukan makanan berat. Seperti cemilan atau kue khas Arab. Terbuat dari pisang kukus yang ditumbuk, lalu dicampur susu kental manis, gula, cream cheese dan dengan taburan keju chedar yang melimpah. Rasanya satu. Manis dan manis sekali. Tapi enak, apalagi kalau didinginkan di kulkas. Lebih padat dan perpaduan pisang dengan keju itu memang luar biasa enaknya. Harganya 10 real atau sekitar 35 ribu.

Kemarin, saya coba buat ini di rumah. Tapi gak berhasil rasanya belum pas, entah kurang apa. Soalnya googling resepnya pun belum ada. Hehehehe.

5. Martabak Mose

Parata
Parata/Martabak kali ini isinya pisang

Martabak di Arab itu berbeda dengan di Indonesia. Martabak di sana, roti atau adonan martabak manisnya seperti martabak telur. Tipis dan dengan isian pisang. Harganya 9 real. Gak tauk juga sih saya isiannya apa ada variasi yang lain. Sayangnya, waktu di sana, kami para wanita gak bebas jalan-jalan. Jadi, bagian membeli makan ya selalu tugas teman laki-laki. Jadinya saya gak lihat proses pembuatan. Mau ikut, gak boleh kalau bukan muhrim. Aduh repot yah… Oh iyah, di Arab sana belom ada gojek ataupun delivery, jadi mau makan apa ya harus cari keluar. Itulah yang bikin kangen sama Indonesia, kalau lapar gak bingung dan gak harus nyusahin orang, tinggal pake aplikasi.

6. Tamis

Tamis
Tamis dengan pelengkapn

Tamis adalah makanan yang sering disajikan untuk sarapan pagi di Arab. Harganya murah, hanya 1 real yang diametenya kurang lebih 30 cm. Seperti roti yang dibuat menggunakan tungku yang amsih sangat tradisional. Tamis harus segera dikonsumsi agar tidak mengeras terkena udara luar. Dimakan dengan saus olahan kacang dan jeruk lemon. Kalau saya terus terang kurang suka. Rasanya hambar. Enakan nasi pecel. Eh…

7. Jajan Cemilan di Toko Kelontong 

Di Arab, sepertinya saya belum melihat yang namanya minimarket retail seperti yang sangat banyak di Indonesia. Toko-toko kelontong milik orang lokal sudah di desain seperti minimarket. Barang-barang yang agak kurang rapi diletakkan di rak sesuai macamnya. Harga memang sudah tertera. Sayangnya mereka masih manual dan kalau mau minta bon atau nota, nama barangnya tidak ada. Hanya harganya saja. Aduh… repot deh.

Jangan heran kalau produk-produk asal Indonesia banyak dijumpai di sana. Bahkan Indofood pun sudah punya pabrik di Arab. Berikut beberapa jajanan yang saya beli selama di sana. Maklum kami semua doyan nyemil, biar kuat angkat kardus obat :))

 

Kami di sana kemarin juga suka beli croisant ala-ala seharga satu real isinya ada coklat, vanila, dan strawberry, harganya 1 real saja. Kami menyebutnya dengan roti seven. Soalnya di platiknya ada angka 7. Teman-teman juga beli buat oleh-oleh. Kalau saya tentu saja tidak. Makan tempat banget soalnya.

Selain itu kami juga rajin beli jus. Jus jeruk di Arab itu enak banget. Cuaca yang mencapai 42 derajat celcius itu, menjadikan kami harus sering minum dan konsumsi buah segar supaya tidak dehidrasi. Jus jeruk diperas langsung dari jeruk segar tanpa gula aja rasanya manis banget. Enak, rasa jeruk asli. Harganya lupa, maaf. Tapi gak mahal kok.

Kangen Makanan Indonesia? Jangan khawatir, ada ini nih… :

Sebagai negara yang menurut saya memiliki makanan terenak di dunia, paling lama hanya bertahan tiga hari tahan dengan makanan asing. Setelah itu, tentu terbayang-bayang bakso, mie ayam, sate, sop iga, dan masih banyak lagi. Meski kami bawa sambel terasi, ikan saluang, dan kering kentang, keinginan kami makan masakan Indonesia terus menghantui. Gak usah khawatir, di Arab banyak restoran atau rumah makan Indonesia dengan koki orang asli Indonesia.

  1. Warung Bakso Mang Udin

Warung Bakso Mang Udin terletak di pusat pertokoan Al Balad Jeddah. Memasuki area Al-Balad, langsung kelihatan jelas. Melihat plang nya pertama kali, saya langsung senyum-senyum. Keren juga Indonesia yah. Meski kemarin saya datang belum musim haji, warung bakso Mang Udin selalu ramai pengunjung. Pengunjungnya memang mayoritas orang Indonesia yang merantau di Arab.

Menu di Warung Baskso Mang Udin, gak hanya bakso dan mie ayam. Ada soto ayam, sop iga, rawon, nasi goreng dan masih banyak lagi. Minumannya yang paling laris apalagi kalau bukan teh kemasan botol yang punya slogan selalu menjadi teman segala makanan alias teh botol sosro. Sebut aja deh mereknya.

Bakso Mang Udin
Bakso Mang Udin

Berhubung itu warung bakso, saya pun pesan bakso tanpa mie dan jeruk hangat. Rasanya standar sih, kayak bakso pada umumnya, gurih kaldu sapi tapi agak kurang asin. Baksonya enak, dagingnya berasa. Untuk mengobati kangen makanan berkuah ya lumayanlah.

2. Rumah Makan Garuda

Selain Warung Bakso Mang Udin, di Al Balad ada rumah makan yang menyajikan makanan Indonesia. Dari namanya saja sudah Indonesia banget. Rumah Makan Garuda. Rumah makan ini terletak di dekat pintu masuk parkir pertokoan Al Balad. Masuk kedalamnya, kita lalu naik beberapa anak tangga.

Menu rumah makan garuda lebih lengkap. Ada nasi rames yang menyajikan masakan seperti oseng-oseng, capcay, tempe orek, terong balado, sampai semur jengkol. Semua diletakkan di etalase ala warteg. Gorengan juga ada. Pisang, tempe, tahu semua digoreng pake tepung. Menunya selain nasi rames antara lain bakso, mie ayam, gado-gado, ketoprak, sop iga, rawon, ikan bakar, sate ayam atau kambing juga ada. Pokoknya ini rumah makan kayak one stop eating Indonesian food. Semuanya ada.

Dua kali kami berkunjung, menu pertama yang saya pesan gado-gado. Maklum, makanan khas Arab minim sayuran. Biar tetep sehat. Pesan gado-gado pake lontong. Sudah bisa ditebak. Porsinya kebanyakan buat saya tapi rasanya lumayan enak. Hari berikutnya sebelum ke bandara kami mampir lagi. Kali ini saya pesan mie ayam. Rasanya lumayan enak. Mengobati kangen mie yamin di kantin kantor. Saking enaknya saya lupa foto. 🙂

Rasa makanan di resto ini terbilang enak semua. Saya icip-icip juga menu yang dipesan teman saya. Pokoknya makan disitu serasa di Indonesia deh. Apalagi sambil nonton televisi yang selalu memutar chanel  Indonesia. Tayangan apa yang diputar coba? Apalagi kalau bukan Indosiar dan SCTV yang menayangkan sinetron atau FTV. Para pelayannya pun kalau sedang tidak melayani tamu, ikutan duduk dan ikutan nonton tv dengan khusuknya. Loh segitu kangennya sama Indonesia yah…

Sebenarnya ada satu lagi restoran yang menyajikan makanan Indonesia. Tapi panjang ceritanya, agak drama-drama gitu pas mau makan di sana. Buat bahan next post ajah kali yah.

 

Advertisements

5 thoughts on “Makanan Khas Arab yang Yummy (Worktrip Arab Saudi Part 2)

    1. Enaknya katanya2 sih, setelah haji. Kalau tahun ini Oktober-November. Tapi hati2 cuaca dingin. Pas saya kemarin Agustus juga gak terlalu ramai sih, tapi cuaca panas bingits. Makasih sudah mampir yah… :)) Salam kenal juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s