Yogya-Jakarta Lintas Pantura (Part 1 : Yogya-Klaten)

Aduh, saya malu sama para blogger yang patuh sama janjinya mau nge-post rajin. Apalah saya ini yang hanya bisa janji tapi susah untuk menepati. Hampir sebulan nih vakum gak nge-post. Tapi tnang meski gak nge-post, tapi alhamdulillah masih nulis di draft. Malesnya masukin foto dan ngedit itu yah. Hahahaha. Kali ini saya mau menceritakan perjalanan saya dari Yogya menuju Jakarta mampir ke Klaten. Kemudian menyempatkan main-main ke Semarang dan Cirebon.

Waktunya bertepatan ketika saya ada tugas ke Yogyakarta dalam rangka menghadiri Pertemuan Ilmiah Tahunan yang diadakan oleh Ikatan Apoteker Indonesia. Suami yang kerja di bagian marketing pun mengatur waktu, supaya punya alasan untuk menengok customer di Yogya. Saya pun berangkat lebih dulu ke Yogya dengan pesawat. Suami mengendarai mobil ke Yogya. Wow suatu prestasi buat suami, mengingat rute yang paling jauh sebelumnya adalah Bandung. Tugas kantor saya dan suami selesai, suami jemput dan dimulailah perjalanan darat kami dari Yogya menuju Jakarta.

Kami sebenarnya terinpirasi dari Komik karya Benny Rahmadi yang berjudul Tiga Manula jalan-jalan ke Pantura. Sebenarnya kami sudah pernah menyusuri pantura beberapa kali dalam rangka mudik Lebaran menuju kampung halaman suami di Klaten. Dalam komik tersebut digambarkan keseruan yang dialami tiga manula selama jalan-jalan ke Pantura. Kami pun tertantang untuk melakukan napak tilas jalur pantura. Ceileh napak tilas.

Bedanya, kali ini kami ingin lebih meresapi perjalanannya. Bawa mobil, nyetir sendiri, melewati kota-kota di pantai utara Jawa, singgah di tempat-tempat wisata yang belum pernah kami kunjungi ataupun sekedar makan di pinggir jalan. Pokoknya maunya perjalanan yang santai dengan sejuta makna tentunya.

Berhubung yang menyetir mobil hanya suami seorang, dan belajar mengendarai mobil hanya selalu menjadi wacana buat saya. Hormon adrenalin saya sepetinya selalu berada di titik terendah dan sepertinya saya tidak berniat untuk meningkatkan kadarnya. Pengaruh umur kah? Terserah. Hahahaha. Pokoknya saya belom berani buat menyetir mobil. Titik.

Ngapain aja kami di Yogya? Hahaha buat kami yang hampir setiap tahun ke Yogya, jadinya  kali ini kami hanya akan menengok adik-adik di Yogya, kulineran, dan jalan-jalan dekat hotel saja.

Kamis menjelang maghrib kami jemput Nida, adik saya yang lagi break koas dan mau PTT. Kami janjian untuk makan Seafood di restoran yang lagi hits di Yogya dengan adik kami yang sedang menimba ilmu di Universitas Islam Indonesia.

1. Makan Seafood Kekinian di Jakal

Crabby Crab Kaliurang
Seafood Time at Crabby

Hits atau tidaknya suatu tempat bisa dilihat dari usia pengunjungnya. Kami berasa paling om-om dan tante-tante gitu. Kalau saya sih pasti masih masuk banget untuk masuk kategori anak kuliahan yah. Hehehe. Rata-rata mereka datang ada yang berpasangan, ada juga yang segerombolan seperti sedang merayakan ulang tahun. Belom lagi kehebohan yang mereka timbulkan. Teriakan-teriakan ala gadis imut dan manja sesekali terdengar memekik telinga. Bayangin sendiri deh ya gimana.

Kira-kira dua puluh menit, pesanan kami akhirya datang. Untuk makan kami disediakan alas dengan kertas buram, tettapi agak tebal, alat bantu potong kepiting, dan celemek yang bisa dibilang bau macam kembang tujuh rupa tapi kembangnya bau eek ayam. Hahahaha. Pokoknya baunya gak enak banget deh. Daripada nanti itu bau berpindah ke baju, kami memilih untuk tidak memakainya.Lebih memilih berhati-hati lebih saja.

Rasa sajian kepiting yang kami pilih adalah kepiting saus padang. Tidak hanya kepiting, kami memilih paket. Paket tersebut berisi kepiting, udang, kerang, dan jagung rebus. Saya yang memang tidak terlalu suka kepiting karena males sama cangkangnya, memilih udang dan kerang. Rasanya biasa aja sih buat saya. Bumbunya kurang berasa. Level 3 dari yang tertinggi 4 saja kurang pedas buat kami. Bumbu kurang menyerap, yah nilainya enam deh. Tapi harganya sesuai kantong mahasiswa sih. Murah. Paket lengkap hanya dua ratus ribuan.

Sangat disayangkan lagi, tempat sholatnya sangat alakadaranya sekali. Seperti kamar tidur karyawan warung yang disulap jadi mushola dadakan. Bau khas kamar anak cowok. Mukenanya juga khas mukena tempat umum dengan tingkat kebersihan 2 dari 5. Maaf. Itu saja sudah mengurangi nafsu makan saya malam itu. Tapi ya karena lapar, udah ajalah ya kita makan.

Ketika hidangan belum tersaji, adik saya Nida bermaksud mengajak kami ke tempat hits berikutnya di Yogya. Es krim gelato. Eh Dek Naufal mau les Bahasa Inggris, jadilah kami putuskan bubar saja setelah makan. Kami pun balik ke hotel tempat suami menginap, di Jambuluwuk. Kapan-kapan deh ya saya tulis di blog reviewnya. Kapan yah? hehehe.

2. Jalan-jalan tanpa Tujuan di Malioboro

Pagi-pagi saya memaksa suami saya jalan-jalan ke Malioboro. Tepatnya sih ke Pasar Beringharjo. Pengen tahu ajah pagi-pagi itu gimana penampakannya. Sebelumnya mampir dulu ke restoran, siapa tauk sarapan sudah siap. Eh tapi, belum. Jadilah kami langsung cus ke Malioboro. Awalnya saya maksa ke Malioboro berjalan kaki, tapi dengan alasan jauh saya mengalah. Kami akhirnya naik mobil. Mau naik becak dari depan Hotel Jambuluwuk tempat kami menginap 50.000. Ups, lumayan yah.

Pasar Beringharjo
Pasar Beringharjo

Di sepanjang jalan Malioboro sekarang sudah tidak boleh parkir. Parkir tersedia di dalam kawasan  Benteng Vrederburg. Malioboro pagi itu masih sepi. Hanya ada beberapa pedagang asongan tas batik yang masih duduk-duduk santai menungu calon pembeli. Beberapa penjaja pecel dan gudeg sudah ramai diserbu mereka yang mencari sarapan. Ealah, apa itu, ternyata Pasar Beringharjo pun pagarnya masih tertutup dan sedang di pel. Hihihihi. Mari kita bantu si Bapak ngepel aja yuk. Tentu saja hal itu membuat si Zaki senengnya bukan main. Apalagi kalau bukan dengan begitu peluang saya belanja lenyap. Beuh, puas deh.

Malioboro
Malioboro
Malioboro
Malioboro masih sepi

Lelah menyusuri Malioboro yang masih sepi, perut minta diisi. Kami memutuskan untuk sarapan di hotel aja. Gak mau rugi kan. Tapi ternyata, ada acara senam pagi bersama yang diselenggarakan sebuah komunitas. Untuk itu mereka juga menutup akses jalan kami pulang. Oke baiklah. Rejekinya bakul gudeg deh, akhirnya kami menikmati seporsi gudeg di pelataran Beringharjo.

Selesai makan, kami memilih menghampiri acara senam pagi tersebut ke arah Monumen Titik Nol Kilometer. Pesertanya cukup banyak dan ramai. Warna-warna sponsor mewarnai kaus yang dikenakan, goody bag, dan stand-stand ikut meramaikan acara senam bersama tersebut. Alih-alih ikut senam, kami memilih duduk-duduk cantik di bangku di sepanjang trotoar nol kilometer. Memperhatikan betapa semangatnya si Bapak yang berdiri paling depan mengikuti gerakan sang instruktur senam kenamaan, Lisa Natalia. (Buat yang gak tauk Lisa Natalia, googling aja ya. Ketauan deh zaman kita berbeda) 🙂

Senam Pagi Komunitas Ikatan Apoteker Indonesia
Senam Pagi Komunitas Ikatan Apoteker Indonesia

Memperhatikan lalu lintas Yogya pagi hari yang mulai ramai dengan mereka aktivitas pagi. Seperti berangkat kerja atau sekolah. Menikmati bangunan-bangunan tua seperti Kantor Pos, Gedung Bank Indonesia,dan Gedung Bank Negara Indonesia.Sempat mampir ke kantor pos, maksud hati mau mengirimkan kartu pos. Eh kok yah gak ada yang jual kartu pos yah. Ya sudah, batal deh.

Jam sembilan tepat akhirnya acara senam bersama selesai. Horeee. Kami pun segera kembali ke hotel. Bersih-bersih lalu chek-out deh. Lanjut ke Klaten.

4. Sholat Jumat di Mesjid Raya Klaten dan Silturamhmi

Sebelum ke Klaten, kami menyempatkan untuk mampir membeli titipan Bakpia Kurnia Sari terdekat. Harus merek Kurnia Sari? Iyah harus. Rasanya lebih lembut dan lumer di mulut. Cobain deh. Perjalanan Yogya – Klaten memakan waktu kurang lebih dua jam. Berhubung hari itu hari Jumat, kami memutuskan mengunjungi Mesjid Raya Klaten yang baru untuk sholat Jumat. Bangunan tersebut berdiri di atas tanah yang sebelumnya adalah terminal. Terminal dipindah, dan berubah menjadi mesjid kebanggan warga Klaten.

Di daerah Jawa Tengah, memang tidak aneh kalau wanita ikutan sholat Jumat. Jadilah saya waktu itu bergabung untuk sholat Jumat juga. Daripada bengong panas terik menunggu.  Iya, itu sholat Jumat pertama saya selama saya bisa mengerjakan sholat. Hehehe.

Mesjid Raya Klaten
Mesjid Raya Klaten

Pengalaman menarik yang saya lihat selain kemegahan mesjid tersebut adalah jemaah anak-anak di sana. Mesjid raya yang terdiri dari tiga lantai, dilengkapi dengan lift. Nah, lift ini ternyata menjadi objek menarik buat anak-anak usia 6-10 tahun itu. Selesai sholat, mereka berebut untuk turun melalui lift. Anak-anak memang selalu punya cara untuk bahagia. Apapun dan dimananpun mereka berada. Raut wajahnya ituloh benar-benar bahagia. Makanya biar gak stres kadang kita harus mempunya kacamata seperti mereka.

Anak-anak di Masjid Raya Klaten
Anak-anak di Masjid Raya Klaten
Bagian Dalam Masjid Raya Klaten
Bagian Dalam Masjid Raya Klaten

Sholat Jumat selesai, mengagumi Mesjid Raya selesai. Kami pun ke tujuan utama kami ke Klaten. Ke rumah Simbah Putri satu-satunya yang kami miliki. Iyah, kami sengaja gak bilang-bilang. Kejutan ceritanya. Eh, tiba di rumah Simbah, Mbahnya lagi menikmati angin sepoi-sepoi di teras rumah dengan mata terpejam. Wah, Simbah tertidur pulas sepertinya. Di teras rumah Simbah, meski siang terik, persis di depannya ada pohon mangga yang cukup meneduhkan halaman rumah. Belum lagi tanaman bunga dalam pot dan hamparan sawah didepannya. Siang itu angin pun bertiup seperti meninabobokan. Udara begitu sejuk tanpa perlu kipas angin apalagi air conditioner. Bayangan saya malah menambahkan dengan buku digenggaman, ah lima menit saja mungkin saya terlelap.

Simbah Ketiduran di Teras
Simbah Ketiduran di Teras

Pelan-pelan kami membangunkan Simbah. Agak kaget sepertinya beliau melihat kedatangan cucunya ini. Bukan hari libur atau ada perayaan apa seperti kami biasa mengunjungi rumah Simbah. Kurang lebih tiga puluh menit di rumah Simbah dan setelah menghabiskan segelas teh manis buatan Bulek, kami mohon pamit. Berkah silaturahmi kami dapat ketika kami dibawakan kira-kira sepuluh liter beras oleh Bulek Rukh. Beras bukan sembarang beras. Beras yang ditanam oleh Om Sayid tanpa pupuk kimia dan memiliki aroma khas yang wangi pandan. Lumayanlah ya… Hemat gak beli beras dua bulan. Hihihi. Perjalanan kami masih panjang, bersambung di posting-an berikutnya ya.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Yogya-Jakarta Lintas Pantura (Part 1 : Yogya-Klaten)

  1. Kiky

    Ahh jadi kangen Jogja!
    Dan kayanya dilema “rajin ngepost” dirasain sama semua blogger deh mba, saya juga gitu hehe
    Salam kenal ya:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s