Anak-anak Hebat Dalam Perjalanan di Bawen Semarang

Perjalanan seru kami melintasi pantura Yogya-Jakarta, dari Klaten kami lanjutkan menuju Semarang melewati Boyolali dan Salatiga. Memasuki Kabupaten Semarang, sepertinya suami agak menyadari kalau dia salah jalan. Maksud hati ingin masuk tol, kenapa tiba-tiba berjalan di kawasan industri dengan kendaraan truk-truk besar lalu lalang. Melipirlah kami ke sebuah masjid milik pabrik Apac Inti Corpora yang lumayan besar untuk urusan toilet dan karena matahari sudah mulai tenggelam, kami memutuskan akan sholat Magrib juga.

Mesjid PT. AIC
Pembatas tempat sholat pria dan wanita

Lampu Gantung di Mesjid Apac
Lampu Gantung Mesjid
Seusai sholat, saya tertarik untuk menyapa tiga orang anak perempuan yang dengan santunnya menyalami tangan semua jemaah orang dewasa. Meski jemaah dewasa saat itu hanya berjumlah empat orang. Saya bertanya kenapa mereka tidak langsung pulang. Anak yang sepertinya paling tua menjawab dengan sopan . “Kami mau mengaji mbak.” Jawabnya dengan logat jawa yang kental. Saya pun sedikit bertanya hal-hal seputar kegiatan mereka mengaji. Oo, sepertinya saya harus segera bergegas melanjutkan perjlanan ke Semarang. Hari sudah gelap.Kami belum tahu juga mau menginap di mana di Semarang nanti. Ketika membereskan alat sholat, tetiba saya teringat kalau saya membawa sedikit oleh-oleh untuk mereka.

Sama sekali tidak ada rasa takut dalam raut wajah anak-anak itu, ketika saya ajak  mereka untuk ikut ke mobil mengambil sesuatu yang saya janjikan. Bahasa tubuh mereka juga memperlihatkan kalau mereka senang sekali akan diberi “sesuatu”. Mereka terus mengekor saya sampai saya mengambil sesuatu yang saya janjikan. Sambil berjalan menghampiri mobil, saya kembali bertanya ke salah satu anak yang paling besar lagi. Sepertinya memang dia yang paling punya keberanian untuk menjawab pertanyaan orang baru seperti saya ini.

Saya tanya orang tuanya berprofesi sebagai apa, adik kecil yang duduk di kelas 5 SD itu menjawab, “Ibu jualan warung, kalau Bapaksudah meninggal sejak saya lahir.” Jawabnya dengan nada suara yang tidak berubah sama sekali. Deg. Tenggorokan saya sperti ada yang menahan dan mulai mellow deh. “Oh, sabar ya dek.”jawab saya sambil menggandeng tangan kecilnya. Entah kenapasaya gak menanyakan ayahnya meninggal kenapa dan bagaimana. Ya ampun Rini, itu anak umur tujuh tahun.Bisa aja dia sedih.Udah gak usah banyak tanya.Buruan ajah kasih kan bikin dia seneng bahagia. Kalau ditanya-tanya takutnya dia jadi teringat almarhum ayahnya. Tiba-tiba seperti ada yang berbisik dan mengingatkan saya.

Setibanya di depan mobil, saya segera membuka pintu mobil bagian belakang dan mengambil beberapa kotak makan, tempat minum dan Majalah Bobo. “Ada Bobo nih, sudah pernah baca Bobo belum?” tanya saya. Mereka menjawab mereka sudah pernah membacanya di perpustakaan sekolah. “Wow, hebat. Ini dibagi-bagi juga ke teman-teman ngaji yang lain ya.” Ujar saya sambil menyerahkan dan kembali menutup pintu mobil.

Mereka bersorak riang dan dengan kompaknya mengucapkan terima kasih. Meski saat itu hari telah gelap dan lampu penerangan tidak cukup terang, tapi saya bisa melihat jelas raut wajah bahagia mereka.

“Mbaknya dari mana?” tiba-tiba salah satu dari mereka bertanya. “Saya orang Jakarta, dari Yogya mau ke Semarang” jawab saya. Kemudian mereka serempak berlari kembali ke masjid, karena salah satu kawan mereka sudah memanggil. Pengajian akan segera dimulai. Sambil memandang mereka saya pamitan dan mengatakan, “Sampai jumpa lagi kapan-kapan ya, dek. Belajar dan ngaji yang rajin ya.”

Terharu sekali melihat mereka. Bahasa mereka sangat sopan. Meskipun mereka orang jawa yang sehari-hari berbahasa daerah, ketika saya ajak bicara Bahasa Indonesia, mereka menjawab dengan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Terkadang saya jadi malu, sering berbahasa sesuka hati saya meski saya tinggal di Jakarta. Tempat di mana saya seharusnya bisa ber- Bahasa Indonesia lebih baik dibanding mereka.

Saya juga kagum dengan semangat yang mereka miliki. Seperti semangat anak-anak yang selalu haus akan ilmu. Untuk mencapai masjid, mereka harus menyeberang jembatan penyeberangan. Mengikuti sholat berjamaah di masjid, dan juga menciumi semua tangan jemaah dewasa, seperti sebuah kewajiban bagi mereka. Meski mereka belum mengenal orang-orang yang mereka ciumi tangannya itu. 

Masih dari cerita mereka,  sehabis sholat mereka belajar membaca Alquran. Setiap hari rutinitas tersebut mereka jalani. Murid yang datang kadang banyak mencapai sepuluh hinga lima belas anak, kadang hanya lima orang saja. Saat itu sepertinya sayahanya melihat jumlah mereka tidak lebih dari lima anak.

Meski kali ini saya hanya membawa majalah Bobo, kotak makan, dan tempat minum plastik alakadarnya. Belum bisa seperti teman-teman yang punya nyali besar untuk membawa perubahan. Saya terinpirasi dengan Mba Nila Tanzil yang melahirkan Taman Bacaan Pelangi buat teman-teman timur Indonesia, atau teman saya Nia yang membuat acara One Day Doing Fun untuk anak-anak kurang beruntung. Tapi langkah besar dimulai dengan hal kecil bukan. Saya ingin sedikit saja mencoba bergerak. Tidak banyak, tetapi buat saya ini prestasi tersendiri.

Sebelumnya, tujuan saya melakukan perjalanan hanya melihat tempat wisata, foto-foto ala turis, lalu pamer di social media. Bangga kalau di like banyak, dan dapat komen yang bagus. Tujuan jalan-jalan saya sekarang naik satu tingkat.Sseperti tulisan terbaru mbak Windy di blognya, ingin menjadi “kaki-kaki buku”. Meski awalnya hanya majalah dan kotak makan plastik, yang semoga bermanfaat buat mereka. Dalam hati saya janji, mau nabung agar bisa memberi lebih banyak ke mereka yang saya jumpai dalam perjalana. Semoga saya bisa berbuat lebih seperti mereka-mereka yang keren-keren dengan cara saya sendiri tentunya.

Sayangnya lagi, saya gak ajak mereka berfoto ria, karena mereka sudah harus mengaji. Hari juga sudah gelap. Terima kasih adik-adik di Mesjid As-Salam, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Semoga kalian jadi orang sukses nantinya. Semoga suatu saat nanti, akan ada pertemuan berikutnya.

Masjid PT. AIC
Penampakan Luar Masjid PT. Apac Inti Corpora

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Anak-anak Hebat Dalam Perjalanan di Bawen Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s