Semarang (Edisi : Simpang Lima dan Kucing Lawang Sewu)

Setelah dari Yogya dan kemudian mampir ke Klaten, kami menuju kota yang akan menjadi tujuan utama kami, Semarang. Saya sendiri sudah pernah ke Semarang, tapi waktu itu pulang pergi di hari yang sama. Boro-boro nginep, makan siang pun terburu-buru. Cuma say hello sama toko oleh-oleh dan chek in di Bandara Ahmad Yani aja.

Agak bikin panas ketika teman saya mengatakan, “Ada apa sih di Semarang?”. Waduh. Buat saya, selama itu tempat adalah tempat yang belum pernah saya kunjungi, selalu ada yang menarik dan special buat saya. Bahkan sampai sekarang saya masih penasaran dengan yang namanya Pasar Pagi Asemka atau bahkan ke hutan mangrove di Pantai Indah Kapuk. Setiap perjalanan adalah unik dan pasti akan menghasilkan cerita yang berbeda. Jadi buat saya, Semarang salah satu kota besar di Jawa dan wajib banget buat saya jalan-jalan di sana.

Tiba di Semarang hari sudah gelap. Tujuan pertama kali apalagi kalau bukan makan. Yah urusan manusia yang satu ini memang repot kalau terlambat. Apalagi buat suami sehabis menyetir mobil kurang lebih 6 jam dari Klaten.

  1. Simpang Lima
Simpang Lima Semarang
Simpang Lima Semarang

Simpang Lima adalah tujuan pertama kami mengunjungi Semarang. Selain icon Semarang kami juga mau cari makan. Dari hasil riset saya sebelum perjalanan,di kawasan ini banyak tempat makan. Benar saja. Setibanya di sana, kami sampai bingung mau makan apa dan yang mana. Akhirnya kami memutari kawasan itu terlebih dahulu. Simpang Lima mengelilingi  alun-alun Semarang yang merupakan tempat hiburan rakyat. Sepeda yang dihiasi lampu warna-warni dengan berbagai bentuk meramaikan suasana Simpang Lima.

Pilihan menu makanan khas Jawa sepertinya ada semua di Simpang Lima. Kami memilih soto khas Semarang untuk makan malam kali ini. Soto disajikan dengan hangat yang berlebihan (panas) dengan mangkuk kecil nan imut berisi tauge, kubis, bihun, dan suwiran ayam. Kuah soto bening dan agak kental karena bumbu rempahnya. Ditemani dengan aneka lauk seperti perkedel kentang, tempe dan tahu bacem, atau pun aneka jeroan, soto memang paling pas disantap di malam selepas hujan. Total makan malam itu enam puluh ribu rupiah saja. Itu suami sudah dua mangkuk, satu porsi soto lima belas ribu.

Sambil makan malam, kami juga menyempatkan cari-cari penginapan yang murah untuk bermalam. Kami pilih yang paling murah di booking.com. Alasan pakai booking.com, karena gak perlu bayar dulu. Jadi kalau tidak berkenan, ya dibatalin aja.

Berbekal arahan google map, kami mencari hotel yang dimaksud, Nozz Hotel. Sebenarnya lokasi hotel budget ini terbilang strategis. Entah kenapa simbah google kasih jalan kami lewat gang-gang kecil. Awalnya bahkan kami hamper membatalkan menginap setelah melihat lahan parkir yang tidak cukup untuk mobil kami. Tapi suami kemudian turun dan ternyata staf hotel meyakinkan kalau masih tersedia parker dan aman. Oke, turunkan barang, malam ini tidur disini. Ulasan mengenai Nozz Hotel akan saya tulis nanti ya.

2. Klenteng Sam Poo Kong

Klenteng Sam Poo Kong
Klenteng Sam Poo Kong

Keesokan paginya saya googling, mau kemana kami di Semarang ini. Tujuan utama sudah pasti Lawang Sewu. Sebagai icon Kota Semarang, tentunya kami juga penasaran. Setelah membereskan urusan hotel, kami memilih mengunjungi Klenteng Sam Poh Koong sebagai tempat tujuan pertama kami, dengan pertimbangan cuaca panas dan semoga belum terlalu ramai kalau pagi-pagi.

Klenteng Sam Poh Kong adalah Klenteng bersejarah di Semarang. Bangunan ini tidak lepas dengan seorang yang patungnya tinggi besar berada di tengah-tengah komplek Klenteng, Laksamana Cheng Ho. Kalau kami kesini terus terang memang ingin melihat kemegahan Klenteng dan tentu saja berfoto ala turis. Kalau sejarah yang lebih lengkap tentu sudah ada di mana-mana kan. Hehehehe.

Klenteng Sam Poh Kong terdiri atas beberapa bangunan klenteng. Selain klenteng di sana juga ada monumen Laksamana Cheng Ho yang ukurannya cukup besar. Ada juga beberapa patung prajurit laksamana yang tertulis nama penyandang dana pembangunan patung-patung tersebut. Unik yah. Awalnya saya mengira itu patung namanya kok kekinian dan Indonesia banget. Tapi saya salah. Mereka penyandang dana. Bagi mereka yang percaya, itu semacam sedekah seperti misalnya kita membantu pembagunan masjid misalnya.

Patung yang di Prasastinya ada nama Penayndang Dana Pembuatnya
Patung dengan Prasasti nama Penyandang Dana Pembuatnya

3. Ada Kucing Lucu Misterius di Lawang Sewu. ((((LUCU))))

Tujuan kami berikutnya apa lagi kalau bukan Lawang Sewu. Dikarenakan kami tiba di Semarang malam dan sudah terlalu leha juga, kami baru sadar kalau letak Lawang Sewu tidak terlalu jauh dari pusat kota. Bahkan banyak yang bilang seharusnya kami berkunjung ke Lawang Sewu di malam hari. Lebih menantang. Menantang apa nih? Ya apalagi kalau bukan sedikit menguji adrenalin. Aduh makasih deh yah. Terus terang say amah gak tertarik. Numpang lewat ajah kalau malam mah.

Memasuki gerbang Lawang Sewu yang cukup megah ini di siang hari memang jauh dari kesan angker apalagi mistis. Saya seperti berkunjung ke bangunan besar, museum. Waktu itu tidak ada rasa merinding, deg-degan, bulu kuduk berdiri, dan sebagainya dan sebagainya.

Memasuki Lawang Sewu dimulai dari tulisan start atau dimulai dari sini. Kami ikuti saja. Kebetulan waktu itu, saya berbarengan dengan sepasang kekasih (sepertinya) dan sepasang sahabat remaja putri. Kami berjalan tidak berbarengan. Tetapi kemudian lama-lama saya agak jengkel (bukan sirik yah, saya kan juga bareng suami) sama pasangan mbak dan mas di depan kami. Kejengkelan kami disebabkan di setiap langkah dan sudut si mbak selalu berpose, dan kemudian mas-nya motoin. Aduh, kapan gue fotonya dan jadinya jalan kita kan lama banget. Belum setiap sudut si mbak beberapa kali gaya, dari angel yang berbeda pula. Alamak, gak sabar saya. Akhirnya saya memilih untuk mempercepat jalan dan kalau bisa kami ada di depan mereka. Hahaha.

Kemegahan Lawang Sewu
Kemegahan Lawang Sewu

Asyiknya Lawang Sewu itu sih sebenarnya ya suka-suka hati ajah gedung mana yang ingin dimasuki terlebih dahulu. Jadi ya kalau di situ rame silahkan berbelok atau berpindah gedung yang lebih sepi. Jadi bebas deh. Mau foto atau mau membaca sejarah tetang perekeretaapian di Indonesia.

Selfie dikit Boleh Dong
Selfie di Lawang Sewu
Foto Wajib di Lawang Sewu
Foto Wajib di Lawang Sewu
dscf5619
Sejarah Perkerreta Apian Indonesia

Selain gedung yang memang khusus sebagai museum, yang bercerita sejarah berdirinya Lawang Sewu, di gedung bagian lain ada sejarah yang menceritakan tentang berdirinya stasiun-stasiun besar di Indonesia.

Belajar Sejarah Perkeretaapian Indonesia

 

Beralih ke lantai dua bangunan samping Lawang Sewu, ternyata kosong. Kosong berarti tidak ada apapun di dalamnya. Waktu itu bahkan saya sempat berceloteh kalau kami bisa bermain bulu tangkis di sana. Setiap sudut Lawang Sewu memang sangat instagramable banget. Mungkin kalau yang ilmu fotografinya keren wah pasti luar biasa. Berhubung sebagai model saya sangat tidak berbakat, begitu juga mengambil foto pun asal sekenanya saja. Tapi yah paling tidak saya cukup puas siang itu. Jeprat jepret dan bergaya dikit-dikit.

 

Dari lantai dua, bagian belakang Lawang Sewu di mana dari kami berdiri bisa melihat pusat perbelanjaan besar di Semarang. Tetapi ketika kami melihat ke bawah, kami melihat seorang Pak Tua sedang memandikan kucing. Menariknya, setelah diperhatikan kucingnya bukan kucing biasa atau kucing kampung. Kucing itu seperti jenis kucing angora. Ukurannya besar, bulunya lebat dan halus. Kalau tidak salah jumlahnya empat ekor. Warnanya hitam dan coklat. Dari kejauhan seperti anak harimau.

Pak tua yang kurang lebih berusia 70 tahuanan itu memandikan kucingnya dengan selang air. Herannya kucing itu tidak takut air. Kucing-kucing itu sangat nurut dan menikmati setiap basuhan tangan Pak Tua. Setelah mandi kucing-kucing dimasukkan ke kandang yang ukurannya tidak terlalu besar. Kurang lebih satu kali satu meter. Siapa yah Pak Tua itu dan kenapa memelihara kucing di bangunan milik pemerintah ini.  Karena jarak kami jauh, jadi saya tidak bisa bertanya. Meski semakin banyak pertanyaan di kepala saya. Baoak itu siapa? Kerja di sini? Rumahnya di mana? Kenapa pelihara kucing di sini? Ah ssaya suka sebel sama rasa kepo sa yang berlebihan ini. Udah ah. “Turun yuk.” Suara Zaki menyadarkan lamunan saya. Kami pun turun.

Pintu keluar Lawang Sewu letaknya berbeda dengan pintu masuk. Di pintu keluar ada satpam yang sedang berjaga di pos. Iseng-iseng saya bertanya ke Pak Satpam itu. “Pak itu di belakang ada Pak Tua sedang memandikan kucing. Kucingnya siapa?” tanya saya. “Kucingnya Bapak itu mbak.” Jawab si Pak Satpam lagi. “Kalau malam kucingnya dilepas mbak, kalau siang dikandangkan.” Tambah Pak Satpam. Terus terang saya langsung terkejut. “Hah? Dilepas? Kenapa dilepas kalau malam Pak. Kok aneh?” tanya saya lagi. “Yah, mana saya tahu mbak, tanya saja ke Si Bapaknya sendiri sana.” Jawab si Bapak. Sebelum saya berpikir kembali atau bahkan menghampiri Bapak tua yang sedang memandikan kucing, Zaki sudah terlebih dahulu menarik lengan saya keluar sambil mengucapkan makasih ke Bapak Satpam.

Nah buat yang penasaran, silahkan ke Lawang Sewu dan cari Bapak Tua pemilik kucing itu. Hihihihi. Saya mah cukup sampai di situ aja yah. Pengecut? Iyah, emang. Bodo deh dibilang gitu juga. Wong sama kucing bayi aja rada gimana gitu. Apalagi itu, kucing raksasa yang malam-malam berkeliaran di Lawang Sewu. Aduh udah deh yah gak usah dibahas. Buat yang mau investigasi boleh. Coba deh malam-malam ke sana terus cari itu kucing yang dilepas. Aduh say amah mending bobo kalau malam. Dibayar juga makasih.

Jalan-jalan Semarang belum selesai, bersambung di next post yah. Berikutnya kami akan mengunjungi Kota Tua Semarang dan Mesjid Agung Jawa Tengah. Dilanjutkan perjalanan ke arah Jakarta.  Ikutin terus ya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s