Jalan-jalan (kaki) di Hanoi (Makam Ho Chi Min dan Old Quarter)

Hari kedua di Vietnam setelah hari pertama ikutan one day trip ke Ha Long Bay adalah kami mau jalan-jalan keliling Kota Hanoi.

Bangunan Ta di Hanoi
Bangunan Tua Mendominasi Arsitektur Kota Hanoi

Hanoi adalah kota yang cantik berhawa sejuk dengan bangunan-bangunan tua khas peninggalan kolonial Perancis yang masih terawat dan digunakan dengan baik. Trotoarnya yang besar dan seharusnya cukup nyaman untuk pejalan kaki. Tetapi ya, itu kita harus berbagi dengan para pedagang pinggir jalan. Ketidaknyamanan juga akan didapat ketika beberapa pengendara motor yang jumlahnya memang banyak tiba-tiba cuek aja melintas di trotoar. Belum lagi kalau mau menyebrang. harus hati-hati pakai banget. Tengok kanan kiri biar gak ditabrak. Apalagi sama taksi di sana yang kalau di Bekasi mirip sama abang-abang supir angkot. Tapi keseluruhan berjalan kaki di Hanoi menyenangkan, dengan menikmati pemandangan khas yang sangat Hanoi.

Beres sarapan, kami memulai perjalanan jam 9 pagi. Sebenarnya ini sudah kesiangan sih, tapi ya itu si Zaki butuh tenaga katanya buat jalan jadi harus nambah jam tidur. Kzl banget, dan ketika kami melakukan perjalanan, hal inilah yang sering kami perdebatkan. Saya yang memang early morning person, apalagi di tempat yang jauh dari rumah, itu rasanya selalu ingin bangun pagi-pagi, jalan-jalan melihat aktivitas pagi.

Kebalikannya dengan suami, yang namanya jalan-jalan saat liburan harus nyantai, abis sholat shubuh ya gak papa tidur lagi. Kan lagi liburan. Hellow… kalau tidur di Bekasi ajah woy. Hal itu selalu aja berulang tiap jalan-jalan tapi ya kadang-kadang saya memilih mengalah biasanya sih, kalau Zaki tidur pagi, saya browsing tempat-tempat atau ngeblog, atau foto-foto pemandangan dari kamar. Kalau saya sudah kesel pengen banget keluar, saya langsung mandi dan ganti baju rapi. Biasanya dengan begitu Zaki langsung bangun dan siap-siap. Ya mungkin dia gak mau saya nekat keluar sendirian. Hehehehe. Takut ilang kali yah. Gak ada yang sebawel saya soalnya. Hihihihi.

Pemandangan Hanoi dari Hotel
Pemandangan Hanoi dari Jendela Hotel

Kembali ke topik, keliling Hanoi. Berbekal peta, tujuan pertama kami adalah Museum Ho Chi Min. Padahal sih Zaki sudah kesana dua hari yang lalu, tapi demi saya, dia bilang gak papah buat kesana lagi. Saya yang jelas-jelas gak bisa eh bukan gak bisa, tapi malas baca peta pun ikut ajah. Mengangguk-angguk ketika Zaki menunjukkan rute jalan yang akan kami lewati. Oh, ya…

“Itu, kita harus jalan yah? Gak ada taksi gitu?” tanya saya polos. “Kalau taksi ada sih, tapi kan katanya mau jalan. Dekat kok…” blablabla dan blababla Zaki menjelaskan rute. Padahal dalam hati saya mah ngomong gini : “Ya udahlah mau lewat mana juga, hayukslah. Lihat nanti ajah gimana.” Wkwkwkwk…

Dalam perjalanan, kami tidak sendiri, ada beberapa turis asing yang kami temui. Sepasang oma dan opa sepertinya dari Eropa, lalu ada rombongan empat orang dari Inggris dari logatnya, dan juga wanita Korea dan Ibunya dengan bekal google maps.

Serunya jalan-jalan dengan jalan kaki adalah bisa mengamati keseharian dan aktivitas warga Hanoi dari dekat. Pagi-pagi mereka sibuk braktivitas. Ada yang berjualan sayur, di trotoar banyak yang menjajakan kopi, teh, rokok, dan makanan kecil untuk sarapan.

Kursi-kursi yang terbuat dari plastik berukuran kecil, pengunjung duduk dan menikmati sarapan pagi. Para pekerja seperti mbak-mbak dengan rok mini yang sebenarnya sih kurang nyaman ya, kalau harus duduk di bangku kecil plastik. Tetapi mereka nyaman-nyaman aja tuh, cuek aja duduk minum teh ambil makan mie pho yang memang menjadi menu sarapan pada umumnya masyarakat Hanoi.

Sarapan
Menikmati Sraapan di Warung Pinggir Jalan

Hal ini pernah saya tanyakan sama karyawan hotel tempat saya menginap. Kenapa warga Hanoi memilih kursi plastik yang kecil buat warung makannya, kenapa gak yang besar, lagipula kalau orangnya besar seperti Zaki. Bagaimana kalau lagi duduk, tiba-tiba bangkunya patah. Krekk… ups! Tapi itu bisa terjadi kan? Pernah saya baca soalnya ada traveler Indonesia yang mengalami.

Mas-mas hotel yang saya ajak ngobrol menjawab, katanya kursi plastik kecil harganya lebih murah dibanding kursi kayu besar dan mudah di letakkan serta dibereskan jika mereka tutup warung. Begitu katanya. Memang sudah tradisi sejak lama, dan sampai sekarang tidak berubah. Serunya lagi, saya juga sesekali lihat bule-bule yang juga asyik menikmati mie Pho dengan duduk di kursi kecil dan merasa asyik aja. Mungkin mereka ingin meresapi jadi warga lokal. Saya kemudian berpikir, kok di Indonesia, saya jarang yah, lihat bule nongkrong di warteg, atau makan ketoprak di pinggir jalan pakai kursi plastik abangnya itu. Kebanyakan kita lihat mereka pasti di mall atau resto yang bagus. Kenapa begitu? Entahlah. Ada kali, cuma saya yang belum ketemu saja.

Meski hotel kami menginap merupakan pusat kota, tapi ada tuh yang menggelar sayuran atau buah-buahan untuk dijajakan di trotoar. Hanoi memang kota yang masih berkembang. Dari yang saya baca, Vietnam merupakan negara di Asia Tenggara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi. Mereka sedang giat-giatnya membangun. Pemerintahan yang dikuasai partai komunis, memang baru-baru ini terbuka. Banyak pabrik-pabrik merek ternama milik barat yang mulai membuka pabriknya. Sebut saja Nike, Kipling, Adidas, dan masih banyak lagi. Kabarnya sih, ongkos pekerja di sana yang masih lebih murah dibandingkan negara berkembang lainnya.

Bagaimana dengan harganya? Harganya sih beda tipis sama  di Indonesia kalau sepatu. Tas Kipling yang jauh lebih murah, jaket North Face juga. Berhubung kami lagi gak butuh sepatu, jaket, ataupun tas, ya kami gak beli. Kami memang mulai berprinsip membeli yang kami butuhkan bukan yang kami inginkan. Gak nyesel, gak beli? Kan mumpung lagi di situ… Nggak. Malahan seringnya sih kami berdoa lagi supaya bisa ke tempat itu lagi. Hehehe. Gitu aja sih, doanya.

Perjalanan kami pagi itu jauh juga yah ternyata, apalagi jalan kaki. Berusaha menikmati setiap langkah kaki ini, menikmati hiruk pikuk Hanoi pagi itu. Dalam perjalanan, kami melewati sebuah lapangan yang cukup luas, tepatnya berhadapan dengan Museum Militer. Tepat di tengah lapangan ada sebuah patung enggambarkan sesosok manusia. Ukurannya terbilang cukup besar, kurang lebih setinggi tiga meter. Beberapa turis mancanegara terlihat mengambil foto sambil mendengarkan penjelasan yang sepertinya pemandu, warga asli Vietnam.

Patung Vladimir Lenin di Hanoi
Patung Lenin di tengah Kota Hanoi

Ada yang tahu patung siapa yang dimaksud? Vladimir Lenin. Beliau adalah seorang pencetus alias seorang revolusioner komunis. Bisa dibilang salah satu Bapak Komunis di dunia. Hanoi yang di bagian utara Vietnam, awalnya merupakan ibukota Vietnam Utara  yang beraliran komunis. Vietnam memang punya sejarah kelam saat perang saudara antara Vietnam Utara yang didukung China dan Uni Soviet dan Vietnam Selatan yang didukung Amerika dan Sekutunya. Meski perang telah usai, paham komunis masih berkuasa di Vietnam hingga saat ini. Tapi sumpah, gak serem kok. Meski kita akan banyak mendapati polisi di mana-mana. Cukup banyak turis asing. Terus jangan salting juga kalau bendera berlogo palu arit yang lagi heboh di Indonesia bertebaran di mana-mana. Hihihihi.

Ada cerita lucu ketika Zaki ingin mengirimkan kartu pos buat keponakan di Indonesia. Dikasih perangko berlogo palu arit dong. Takut nanti bermasalah di Indonesia, Zaki pun minta tukar. Spontan petugas kantor pos menanyakan. “Kenapa? Apa bermasalah dengan gambar ini ?” tanyanya. Zaki cuma jawab. “No, I just want other picture. May I?” agak gugup juga tentunya. Hehehehe. Untung petugasnya terima aja dan kemudian menukar perangko tersebut dengan gambar lain.

Antrian Anak Sekolah Usis Dini
Anak PAUD mau kunjungan ke Museum nih… lucu :).

Sabtu mungkin bukan hari libur di Vietnam, tetapi suasana gerbang di Ho Chi Minh Museum terbilang lebih ramai. Antrean cukup mengular panjang. Bahkan beberapa pintu ditutup dan dialihkan untuk tempat parkir bus-bus pariwisata yang cukup ramai. Masuk ke dalam tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman. Jaket juga harus dititipkan, begitupun dengan kamera. Di dalam tidak boleh membawa kamera juga. Zaki sempat bingung, kemarin dia kesini gak segitu ketatnya. Ini kenapa ketat banget.

Demi kenyamanan, mari kita ikuti saja segala peraturan yang berlaku. Serem juga di mana-mana tentara. Penjaga museum aja, seragamnya blazer hitam, yang rapih dan terlihat tegas.

Mengikuti antrian yang cukup panjang, kami harus antri dengan tertib. Selama antri dilarang berisik. Seperti heboh bercanda, atau foto selfie misalnya. Pakaian juga harus sopan. Untuk mereka yang pake celana atau rok pendek dikasih pinjaman kain sarung gitu.

Kami gak tauk juga kami mau di bawa kemana sama antrian ini. Bingung, kata Zaki jalan masuknya beda. Mungkin Sabtu, jadi rame harus begini. Eh, ternyata kami masuk ke sebuah ruangan, naik tangga, dan penjaga berseragam di setiap meter. Penjaganya gak main-main. Seragam militer lengkap warna putih. Berdiri layaknya penjaga lambang negara. Gak ada ekspresi. Pandangan ke depan, lurus, mata aja gak berkedip.

Makam Presiden Ho Chi Min
Makam Presiden Ho Chi Min

Kami masuk ke dalam ruangan dengan pencahayaan yang remang-remang. Dilarang berisik, gak boleh mengeluarkan suara apalagi mengambil foto. Belok ke arah kana. Agak terbawa suasana, saya agak merinding. Tepat di tengah terdapat etalase kaca yang di dalamnya terdapat jasad yang tentu saja diawetkan Bapak Bangsa Vietnam. Presiden Ho Chi Min. Di tiap sudut etalase berukuran kurang lebih 1×2 meter itu, berdiri seorang penjaga, sehingga jumlahnya empat. Lengkap dengan senjata. Kebayang gak sih, kalau kita tiba-tiba nekad ambil foto. Bisa-bisa itu peluru nemplok di muka. Hiii…

Begitulah bangsa Vietnam memperlakukan pemimpin mereka. Mungkin agak mirip dengan negara komunis lainnya seperti Korea Utara, yang menjadikan hari lahir Presiden Kim Jong Un sebagai hari libur nasional. Kami terus berjalan perlahan, tidak diperbolehkan berhenti. kurang lebih 30 detik kami melihat kemudian langsung ke pintu keluar. Di pintu luar, kami sudah bisa mengambil kamera kami yang ditahan di pintu masuk.

Dari makam Presiden Ho Chi Min, kami menuju rumah beliau semasa memperjuangkan kemerdekaan Vietnam. Dimulai dari koleksi mobil yang digunakan, ruang kerja, hingga kamar tidur. Pengunjung tidak bisa masuk langsung, hanya melihat dari luar. Lagi-lagi tetap dalam penjagaan tentara. Melihatnya pun antri, karena rumah beliau berbentuk rumah panggung, kami antri naik ke tangga dan kemudian sambil terus berjalan dalam antrian melihat-lihat. Tidak boleh berhenti terlalu lama. Mengambil foto pun harus cepat-cepat.

 

Danau di depan Rumah Presiden Ho Chi Min
Danau di Belakang Rumah Ho Chi Min

 

Tampak Samping Istana Presiden Ho Chi Mi
Tampak Samping Istana Presiden Ho Chi Min

Kompleks istana Presiden Ho Chi Min bersebelahan dengan museumnya. Area yang cukup luas, tidak terasa kami sudah menghabiskan waktu dua jam, dan sejatinya, saya belum memasuki museum Ho Chi Min. Zaki sih sudah kemarin. Rute Sabtu Minggu ternyata dimulai dari makam kemudian tempat tinggal, dan terakhir museum. Untuk masuk ke museum, kami harus bayar lagi. Setelah dipertimbangkan, saya memilih untuk berjalan-jalan saja dan tidak masuk ke museum. Nanti diceritain saja sama Zaki katanya. Ya sudahlah gak papah.

Tampak Depan Museum Ho Chi Min
Tampak Depan Museum Ho Chi Min dan Saya Gak Masuk 😦
Kuil di Depan Museum Ho Chi Min
Kuil di Depan Museum Ho Chi Min
Museum Perang
Museum Perang

Melihat rencana kami hari itu, akhirnya kami kemudian memilih jalan-jalan ke kota tua, sekaligus mencari mesjid untuk sholat dan mencari makan siang tentunya. Untuk ke Kota Tua, kami harus mengambil jalur balik ke arah hotel. Kami melewati museum perang Vietnam dan lagi-lagi ketika kami tiba, museum tutup karena jam istirahat dan akan kembali buka jam 1 atau 2 siang. Zaki juga sudah masuk ke sini. Foto-foto di dalam Museum Ho Chi Min dan Museum Perang adalah foto yang diambil Zaki kemarin. Buat yang menyukai sejarah, sepertinya wajib kesini.  Saya sih bukan gak suka, tapi ya, lain kali ajah kali ya. Amiinnn.

Bermodalkan hanya peta di tangan, membuat saya merasa perjalanan kami seperti kok tidak sampai-sampai ya. Hahaha. Maklum kalau di peta semua terasa dekat, tapi tidak demikian kalau kita berjalan kaki. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di sebuah kedai es krim masa kini. Sekalian numpang wifi-an juga, dan tanya-tanya.

Siang itu saya pesan es krim matcha dan Zaki rasa cappucino dengan taburan almond. Tidak sampai lima belas menit, es krim di depan kami ludes. Kami pun melanjutkan perjalanan. Akhirnya tibalah kami di Kota Tua Hanoi.

Wilayah Kota Tua memang daerah tujuan turis. Selain bangunan tuanya, di sini pusatnya buat yang hobi belanja. Sepanjang jalan adalah toko-toko souvenir, tas Kipling, jaket North Face, sepatu Nike, dan juga kafe-kafe penjual Mie Pho. Saya gak belanja? Belanja siy, tapi dikit. Pengen beli tas, jaket atau sepatu sebenarnya, tapi balik lagi, apa saya butuh? Hahahaha. tentu saja tidak. Ya udah, akhirnya gak beli deh. Hehehe.

St. Joseph Catedral
St. Joseph Catedral

Spot pertama yang menarik kami temukan adalah sebuah gereja tua, khas bergaya Eropa, St. Joseph Catedral. Banyak turis lokal yang berfoto di depan gereja. Ikutan juga dong. Di sekitarnya banyak jasa biro perjalanan wisata dan kafe. Oh iya, yang menarik, selama berjalan di gang-gang kecil Kota Tua itu, selalu ada yang memperhatikan sepatu kami, ternyata tukang semir sepatu. Mereka membawa keranjang jinjing dari plastik. Agak berbeda dengan di Indonesia yang biasanya dengan kotak kayu. Mereka berkeliling menjajakan jasanya.

Tujuan kami berikutnya Mesjid untuk sholat Zuhur dan Ashar. Dari peta sih, seharusnya tidak jauh. Benar saja, akhirnya kami ketemua mesjid. Sepi. Mungkin sudah lewat dari jam sholat. Kami masuk, ke halamannya yang teduh karena pohon rindang. Di dalam mesjid pencahayaan agak gelap, lampu dimatikan, tapi justru suasana seperti di rumah. Sejuk. Ada seorang Bapak Tua seperti keturunan Timur Tengah yang sedang membaca Al Quran. Mungkin beliau Imam di mesjid ini. Kami menyapanya dengan salam, dan dia menjawab kemudian melanjutkan kegiatannya. Sepertinya tidak terlalu tertarik untuk mengobrol panjang dengan kami. Hanya bertanya asal kami, dan sudah. Padahal saya pengen banget ngobrol. Tapi ya sudahlah.

Selesai sholat, tidak sengaja di dalam mesjid, kami melihat sebuah papan kecil bertuliskan halal food. What? Ya ampun, senangnya kami. Buru-buru kami masuk. Tempatnya terpencil sekali. Di dalam wilayah mesjid dengan pintu besi tertutup rapat. Bangunannya menyatu dengan tempat tinggal sang empunya. Pintunya tidak terkunci, berarti buka. Yeay!

Hanya empat meja makan untuk masing-masing meja empat orang. Ada sebuah televisi yang menayangkan tayangan HBO. Saat itu hanya kami pengunjung di situ. Pelayannya seorang pria Vietnam yang posturnya agak tinggi dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. Its okelah, yang penting dia bisa mengerti apa yang kami maksud.

Siang itu sebenarnya kami ingin mencicipi Mie Pho yang dijual penduduk aseli. Tapi sayang, Mie Pho di warung itu hanya dibuat untuk pagi hari saat sarapan. Saya memesan ikan gurame yang di grilled dengan nasi yang menurut saya nasi ketan, dan sayuran. Zaki lebih mainstreem pesennya, nugget ayam :). Kami juga pesan vietnam roll dan capcay. Rasanya sih biasa aja, standar, gak terlalu spesial. Tapi kami senang, bisa ketemu resto ini. Harganya pun gak mahal. Jadi kesimpulannya okelah. Awalnya kami memang tidak mencari rumah makan. Habis sholat saja. Eh seperti sudah jodoh, kami dipertemukan. Halah.

Biasanya kalau kesulitan cari makanan halal, kami mendatangi minimarket dan cari makanan ringan yang mengenyangkan dengan label halal atau buah saja. Selama di negara tropis, dimanapun ada buah yang mengenyangkan. Pokoknya semua jangan dibuat susah dan ribet lah yah… Happy-happy ajah.

Tidak lama kemudian, datang sepasang turis lagi memasuki restauran. Satunya wanita berjilbab dan laki-laki seusia kami. Kami pun saling menyapa. Sedikit berbasa-basi,  mereka berasal dari Thailand Selatan, Pathani. Selesai makan kami langsung ke tujuan berikutnya, menonton pertunjukkan wayang air di depan Danau Hoan Kim.

Cerita diatas, dua pertiga dari perjalanan kami keliling Kota Hanoi. Cerita tentang pertunjukkan wayang air dan asyiknya menikmati suasana Danau Hoan Kiem Sabtu sore yang ruame dan seru, akan saya ceritakan di postingan berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s