Ibu Mariam, Muslimah Keturunan Jawa di Kampung Jawa, Bangkok, Thailand

Setelah cukup puas berkunjung ke Masjid Jawa di postingan pertama kemarin, kami meninggalkan Masjid dengan pengalaman baru. Senangnya ke Masjid di luar negeri adalah kami seperti bertemu saudara. Saling mengucap salam, kemudian menyapa. Kendala bahasa tak menjadikan kami bingung. Ucapkan Assalamualaikum, semua akan terasa mencair. Seperti bertemu saudara yang sudah lama tak berjumpa.

Menyusuri gang di Kampung Jawa tak terasa kami belum makan siang. Kanan kiri di gang ini sepertinya akan ramai di malam hari. Warung-warung sepertinya baru akan buka di malam hari.

Oh iya, di daerah Kampung Jawa selain banyak penjual makanan di sepanjang gangnya, ada juga beberapa hostel yang dikelola penduduk. Pemilik hostel kebanyakan muslim. Jadi buat yang mau mencari hostel yang ramah untuk muslim, bisa coba ke sini. Di perjalanan kami juga sempat bertemu turis asal India muslim atau wajah-wajah Timur Tengah. Meski begitu ada juga beberapa anak muda berwajah kaukasoid, entah dari Amerika atau Eropa. Ya di daerah itu banyak penginapan yang sederhana.

Tak berapa jauh kami menemukan warung bakmi yang sudah buka. Cukup ramai pengunjungnya. Logo halal di pasang di depan warung. Sang penjual Ibu-ibu yang sudah cukup umur mengenakan ciput dan tambah meyakinkan kalau makanan yang dijual dipastikan halal. Ya, beliau muslim.

Warung Bakmie di Kampung Jawa
Gerobak Bakmie dan si Ibu Penjual
Bagian dalam Warung Bakmi
Bapak berkaus biru sedang mencuci mangkuk bakmie

Memasuki warungnya, hiasan kaligrafi sederhana menghiasi dinding. Sepertinya bangunan sudah cukup tua. Dilihat dari warna cat dinding yang tidak lagi putih terang, dan beberapa barang yang menurut saya cukup antik. Oh, selain Ibu tua, ada juga si Bapak tua. Mungkin suaminya. Si Bapak dengan cekatan menyajikan mangkuk mie yang sudah siap ke meja kami. Menyediakan gelas berisi bongkahan batu es yang air putihnya sudah ada di teko di setiap meja. Si Bapak juga akan mengambil mangkuk pengunjung yang sudah selesai dan mencucinya di bagian belakang warung.

Sepertinya warung ini juga merangkap tempat tinggal sang penjual. Dilihat dari barang-barang lain selain perangkat berjualan bakmie. Gerobak tempat memasak bakmi terletak di depan. Sama seperti di Indonesia. Sang Ibu berkacamata cekatan melayani pengunjung. Kami masuk, mengambil tempat, kemudian memesan dua mangkuk mie. Sepertinya Ibu penjual bakmi tidak bisa bahasa Inggris.

Tiba-tiba ada seorang Ibu berkerudung hitam menyapa kami. Melihat kami yang seperti kebingungan berbicara dengan Ibu penjual. Dia langsung menyapa kami dan berbicara bahasa melayu.

“Assalamualaikum,” sapanya.

“Waalaikumussalam,” jawab kami.

Lalu dia mengambil kursi dan duduk di dekat meja kami. Awalnya saya pikir, beliau adalah salah satu empunya warung bakmie ini. Tapi saya salah. Beliau juga pembeli. Warga sekitar Kampung Jawa. Rumahnya tidak jauh dari Masjid Jawa katanya.

Awalnya kami berbincang-bincang menggunakan Bahasa Melayu campur Bahasa Inggris. Setelah kami jelaskan kami dari Jakarta, Indonesia. Dia kemudian mulai menggunakan bahasa melayu kemudian lebih mengarah ke Bahasa Indonesia. Agak terkejut kami mendengarnya. Wow kok keren yah. Setahu saya ada daerah Thailand yang bisa sedikit bahasa melayu, tetapi daerah Thailand selatan yang berbatasan dengan Malaysia.

Si Ibu berjilbab hitam ini, namanya Ibu Mariam. Dia baik sekali mau menerjemahkan pesanan kami ke Ibu penjual yang hanya bisa Bahasa Thai. Ibu Mariam cerita, beliau adalah keturunan Jawa. Kakeknya adalah orang Jawa. Beliau tidak bisa bicara bahasa Jawa, tetapi setiap hari Ahad, di Mesjid Jawa ada orang Indonesia yang mengajar Bahasa Indonesia untuk jemaah Masjid Jawa.

Ibu Mariam bahkan rela si Ibu penjual melayani kami lebih dahulu. Mempromosikan ini Bakmie Thailand yang enak. Beliau juga mengundang kami malam Jumat untuk datang ke Masjid. Masjid Jawa akan mengadakan perayaan malam Nisfu Syaban. Pembacaan surat Yasin tiga kali selepas sholat Maghrib.

Wah ternyata tidak hanya di Indonesia yah. Di Bangkok juga ada malam Nisfu Sya’ban. Beliau bilang, di malam itu nanti sehabis sholat Isya akan ada makanan. Itu gratis untuk jemaah Masjid. Wajah kami memang kelihatan suka yang gratisan ya bu? Tauk aja nih si Ibu. Hihihihi. Saya berbicara dalam hati sih.

Ini penampakan bakmie Thailand. Mienya bermacam-macam. Ada bihun, mie kuning, mie kwetiauw. Dicampur sayuran seperti tauge dan sawi juga bakso ikan, udang, atau cumi. Rasa kuahnya segar. Ditambah perasan jeruk nipis dan ada pangsit gorengnya juga. Kalau dari rasanya mirip Mie Pho khas Vietnam. Di Indonesia mirip mie kocok Bandung. Hehehehe. Sueger deh.

Oh iya, jangan tanya kecap manis dan saus cabai di Thailand ya. Yang ada hanya cabe bubuk dan kecap ikan. Pakai apapun enak kok. Segar asam-asam khas Thailand.

Bakmie Thailand
Bakmie Thailand
Ibu Mariam
Ibu Mariam antusias bercerita

Sembari menikamti bakmie, Ibu Mariam masih semangat mengajak kami berbincang. Beliau mengundang kami untuk datang lagi di hari Minggu dan melihat pelajaran Bahasa Indonesia di Masjid Jawa. Sayang sekali, besok kami sudah berencana ke Chiang Mai dan Minggu pagi sudah harus pulang ke Jakarta. Lain kali kalau kami ke Bangkok lagi ya Bu.

Katanya lagi, Bahasa Indonesia mudah dipelajari. Sudah satu bulan dia belajar. Meski agak terbata-bata, saya salut usahanya yang berani berbicara dengan kami menggunakan bahasa baru-nya. Beliau belum pernah ke Jakarta, tetapi sudah pernah berhaji ke Arab.

Pesanan bakmie Ibu Mariam sudah selesai dibuat. Beliau pamit undur diri. Setelah mengucap salam, dan tetap mengharap kehadiran kami di hari Ahad, beliau pergi. Sepeninggal beliau, saya tersenyum ke Zaki. Ya tersenyum senang, seperti ketemu Saudara. Baik sekali Ibunya ya.

Tidak lama Ibu Mariam datang lagi menghampiri kami.

“Ini pisang Bangkok. Enak rasanya. Buat kalian.” ucapnya sambil menyerahkan kantung plastik berisi sesisir pisang. Kalau kata saya seperti pisang ambon yang kecil-kecil.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Bu.” kata kami kompak.

“Aduh jadi ngerepotin. Makasih banyak ya Bu.” tambah Zaki. Entah si Ibu mengerti apa tidak kata-kata ngerepotin itu.

Setelah itu, si Ibu pergi sambil tersenyum meninggalkan kami yang masih setengah bengong dengan kantung plastik berisi pisang di tangan.

Pisang Bangkok dari Ibu Mariam
Pisang Bangkok dari Ibu Mariam
Advertisements

One thought on “Ibu Mariam, Muslimah Keturunan Jawa di Kampung Jawa, Bangkok, Thailand

  1. Pingback: Tempat Makan Halal dan Enak di Bangkok – ariniwahyu01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s