Menengok Wat Buparram di Kota Seribu Kuil Chiang Mai

Hellow… dah lama banget gak posting. Harus displin lagi nih, oneweek one post-nya. Anyway… ini salah satu cerita dari masih ada beberapa seri perjalanan terakhir saya ke Thailand beberapa bulan lalu. Semoga belom basi ya… hehehe.

Jam enam pagi di hari kedua saya di Thailand, kami sudah duduk manis di restauran hotel bintang lima di kawasan Sukhumvit Bangkok itu. Ehem, jam segini sudah ramai. Kebetulan hotel itu merangkap apartemen di mana banyak ekspatriat yang kebanyakan Japanese tinggal. Mereka bekerja dan menetap di Bangkok. Gak mau rugi, pagi itu saya makan buah dan oats. Menyelipkan satu croisant keju, dan dua buah yogurth yang kemudian ketinggalan di kulkas di hostel Chiang Mai dan jadinya gak saya makan juga. Well, apakah karena itu mencuri? Ah gak dong, kan boleh diambil. Ya belom rejeki kali ya.

Dari Marriot kami naik taksi ke Don Mueang airport kurang lebih 30 menit saja. Hari masih pagi jalanan Bangkok belum macet. Di bandara saya sempat BAB dan jajan masker di Sevel. Di Chiang Mai kan panas, muka harus tetap kinclong. Demi foto yang cetar (padahal kemudian tidak ada foto yang cetar). Hehehehe.

Jajanan Skincare di Thailand
Jajan Skincare Sachet di Sevel Don Mueang (ka-ki : CC cream, Masker Lidah Buaya, dan Masker Tomat)

Tepat jam 9, kami sudah dipanggil untuk naik pesawat. Wah maskapai singa di Bangkok on-time sekali. Senangnya, gak malu-maluin Indonesia. Lucunya, saya tidak terlalu melihat perbedaan penampakan antara penumpang yang naik maskapai budget dengan mereka yang naik maskapai premium seperti Thai airways. Penumpang Thai Lion pagi itu tertib mengantri sesuai nomor tempat duduk, dan tertib saat di pesawat. Agak beda dengan yang saya temukan di Indonesia. Aduh maaf ya, bukan maksud nyinyir tapi itu memang nyata adanya.

Beberapa kali naik pesawat Singa itu beda sekali dengan naik Burung Biru ketika di Indonesia. Beda tempat jelas ya, tapi penumpang yang saya temui juga berbeda kelas sepertinya. Ya disitulah uniknya Indonesia. Seru dan indahnya keberagaman, bikin hidup gak selalu mulus.

Tiket ke Chiang Mai
Bangkok-Chiang Mai Thai Lion Air

 

Kembali ke judul yuk ah. Kami tiba di Chiang Mai satu jam kemudian. Pagi itu bandara masih sepi. Hanya pesawat kami saja yang mendarat. Seperti bandara di mana ya, mungkin Batam, tidak juga lebih kecil. Masih sederhana, tapi rapi dan cantik.

Banadara Chiang Mai
Landmark Bandara Chiang Mai

Sebelum keluar bandara, kami menghampiri sebuah travel agent di sana untuk membeli paket tour  ke Golden Triangle besok. Kami mendapat potongan 200 THB. Belakangan saya baru sadar harga kami sepertinya masih kemahalan (emak-emak selalu gini).

Di luar bandara, kami bingung memilih song thew (angkot di Chiang Mai kayak oplet), taksi konvensional, atau tuk-tuk (kendaraan roda tiga khas Thailand). Zaki mendekati sebuah tuk-tuk yang sedang parkir. Nego harga, kami rasa masih masuk akal. Deal, naiklah kami ke kendaraan yang mirip bajaj itu.

Wuzzz… tuk-tuk jalan dengan kecepatan agak lumayan. Angin kencang menerpa wajah kami. Dengan bantuan google maps, supir tuk-tuk membantu kami menuju tempat penginapan yang sudah kami booking via booking.com.

Agak lama kami berputar-putar di daerah old town, yang memang kawasan favorit turis untuk bermalam. Masuk ke gang yang satu keluar gang yang satu. Supir tuk-tuk sepertinya mulai kebingungan. Zaki mulai gak sabar, akhirnya ikutan buka hape dan bantu mencari. Euhm… alhamdulillah gak lama ketemu juga hostel kami. Ternyata letaknya di pinggir jalan. tidak di dalam gang. Meski begitu, kami kasihan juga sama supir tuk-tuk, akhirnya kami kasih lebih dari ongkos sesuai perjanjian. Senang sekali wajah si Bapak, menerimanya.

Lanna House
Lanna House Chiang Mai

Masih terlalu pagi, kami belum bisa masuk ke kamar hostel. Kami hanya menitipkan koper saja, dan kemudian keluar hostel untuk melihat kota Chiang Mai lebih dekat. Mau kemana kita? Sampai saat itu kami belum tahu mau kemana. Kemudian saya menujuk ke arah kanan hostel kami. “Jalan ke sana aja yuk.” yang diikuti anggukan Zaki.

Di sekitar hostel kami banyak kafe-kafe yang menjajakan western food dan Thai food dan tentu saja tempat buat mimik-mimik. Ada juga kafe yang menjual kopi seperti setarbaks. Menarik lagi, di Chiang Mai banyak toko-toko buku lokal yang menjual buku baru atau buku bekas dengan harga yang miring. Sayangnya saya gak mampir. Payah ya? Iyah payah. Hehehe. Abis belum lama ke Big Bad Wolf, takut kalap banget kalau masuk toko buku. Budget untuk beli buku juga gak ada. Tapi iyah, saya salah. Harusnya saya masuk saja.

Chiang Mai mungkin bisa dijuluki sebagai kota seribu kuil. Setiap dua ratus meter, kita akan bisa menemui kuil yang bagus-bagus khas bangunan kuil Budha Thailand. Siang yang terik, sebelum masuk kuil kami sempat berhenti untuk membeli Thai Iced Tea. Panasnya terik sekali siang itu, padahal suhu hanya 32ºC. Matahari seolah berjarak sejengkal dari kepala. Godaan kesegaran es teh Thailand memang tak tertahankan.

IMG_2376
Gerobak Penjual Thai Ice Tea
IMG_2378
Penampakan Thai Ice Tea

Setelah berjalan kurang lebih lima ratus meter, saya melihat gerbang sebuah kuil yang terbuka. Saya lihat lagi, sepertinya ada pengunjung. Ini kuil kedua yang kami lewati. Kuil pertama gerbangnya tertutup. Kami masuk saja. Untuk turis dikenakan biaya 40 THB per orang. Nama kuil ini Wat Buparram.

Penampakan Kuil Wat Buparram
Kuil Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram

Memasuki bangunan utama kuil, tentu ada patung Budha duduk. Di dalam sudah ada rombongan turis dari China dengan tour guidenya. Sayang sekali tour guide menggunakan bahasa China yang tentu saja kami tidak mengerti sama sekali. Kami cukup puas dengan mengambil foto saja.

Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram dan jangan tanya siapa laki-laki dan wanita cantik di foto itu.

Keluar bangunan utama, kami berkeliling area kuil. Berpose ala-ala selebgram di depan sebuah stupa yang paling besar, dan melihat-lihat ke area dapur kuil yang siang itu saya melihat seorang biksu. Ada museum juga tapi ditutup dan seperti kurang terawat.

Buparram Museum
Wat Buparram Museum
Wat Buparram dari pelataran
Wat Buparram dari samping
IWat Buparram
Wat Buparram dari depan
Gagal Gaya Ala Selebgram
Gagal Gaya Ala Selebgram 😦 Belom Siap dah Cekrek
Tuktuk
Parkir Tuk-tuk
Payung dan Sunglasses
Payung dan Sunglasses membuktikan panasnya Chiang Mai siang itu

Mungkin di sana kami hanya 30 menit dan kemudian dengan tiba-tiba sebuah konvoi tuk-tuk mengejutkan kami masuk ke dalam area parkiran kuil. Rombongan turis Korea ternyata. Wah seru juga yah. Rombongan naik tuk-tuk. Kami pun bergegas keluar gerbang kuil dan memutuskan cari makan. Iyah, kami lapar sudah jam dua belas. Cari makanan halal di mana yah. Zaki mulai kemudian meng-googling.

Sepertinya untuk satu postingan blog sudah terlalu panjang yah saya berceloteh. Bersambung aja kali ya… Next post, kami juga menemukan kawasan makanan halal di Chiang Mai.

 

Advertisements

2 thoughts on “Menengok Wat Buparram di Kota Seribu Kuil Chiang Mai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s