Kembali Ke Sekolah :)

Hari ini Senin  pertama di Bulan September. Senin itu, buat saya dan kebanyakan orang adalah hari yang horor. Berbeda dengan saya yang  dulu dan sekarang. Now, I Love Monday very much. Why??? Because this day is my free day… Buat saya, Senin kali ini adalah hadiah buat lelah saya di akhir minggu. Hihihihi. Kok bisa libur? Gak kerja? Yup. Saya lagi off dari kantor selama dua tahun kedepan dalam rangka tugas belajar. Tugas belajar? Apakah itu? Heumh… baiklah saya jelaskan sedikit yah.

Jadi tugas belajar itu buat saya adalah suatu reward buat seorang Pegawai Negeri Sipil macam saya ini. Mungkin hal ini juga lah yang membuat saya tertarik buat menjadi PNS selain zona nyamannya. Omong-omong zona nyaman, kamu akan merasa mencari zona nyaman kamu ketika kamu berada di zona yang bisa dikatakan tidak nyaman menurutmu. Tetapi, ketika kamu sudah bisa mencapai zona nyamanmu, salah satu pembisik dihatimu akan berteriak lagi dan lagi. “Yah ampun, ngapain lagi ini??? Bosannnn…'” begitu kira-kira. Kemudian kamu akan mencari hal-hal baru lagi dan akan berteriak lagi. Menadakan kita belum mati. Ya, kita masih hidup.

Cerita bagaimana saya menjadi PNS dan berada dalam kondisi yang tidak nyaman sudah pernah saya tulis dan akan saya posting juga nanti. Yup. Setelah melalui perjuangan dan lika-liku hidup akhirnya tibalah saya di kantor yang menjadi impian banyak pencari kerja di negara ini. Tepatnya di Jl. HR. Rasuna Said Kav 4-9 Blok X5. Kantor sebuah kementerian.

Buat saya dan teman-teman saya, bisa masuk kantor ini adalah impian. Gimana nggak, pokoknya semua serba pas. Latar pendidikan saya yang memang kesehatan, berharap jam kerja yang normal (bandingkan dengan teman-teman yang bekerja di pelayanan kesehatan atau industri yang harus di shift), serta kepastian (gak ada lagi yang namanya PHK) :). Wah pokoknya benar-benar nyaman deh.

Meski yah, setelah masuk dan menjadi PNS di eranya Pak Jokowi, eh saya masuk masih era Pak SBY deng. Itu yah gak ada lagi yang namanya PNS santai kayak di pantai. Waktu saya baru masuk di tahun 2009 sih yah, saya masih melihat generasi santai yang begitu. Melihat dengan mata kepala sendiri betapa kayanya negeri ini dari APBN kantor. Hahahahaha. Gak munafik saya melihat hal-hal yang tidak patut alias korupsi juga di kantor.

Tapi yah…itu zaman dahulu kala. Perlahan-lahan negara ini mulai membangun sistem. KPK dibentuk, BPK mulai kerja beneran, pokoknya semua sudah mulai berjalan sebagaimana mestinya karena semua mata masyarakat dan netizen 🙂 tentunya benar-benar mengawasi kami para pengurus negara yang dibayar pakai uang rakyat ini.

Meski saya sadar belum sepenuhnya saya berkontribusi banyak buat negara ini, saya cuma mau mulai dari diri saya, dari hal yang terkecil, dan dari sekarang. Percaya yang namanya hidup setelah mati itu ada. Berbuat hal baik atau jahat sekecil apapun Tuhan akan lihat. Jadi kalau mau memulai hal-hal yang baik dan birokrasi bersih ya mulai dari sekarang, meski penghalangnya tidak sedikit yes. Hahaha. Kembali ke topik tubel yah.

Tugas belajar boleh diberikan kepada PNS yang kalau gak salah sudah dua tahun terhitung sejak menjadi PNS. Mulai dari jenjang S1, S2, sampai S3 kalau memang instansi atau tempat di mana kamu mengabdi membutuhkan.

Oh iyah, ada yang namanya tubel alias tugas belajar dan ibel alias izin belajar. Bedanya tubel dan ibel adalah, kalau tubel kamu sepenuhnya dibiayai oleh negara masih mendapat gaji dan tukin meski tidak boleh ikutan dinas-dinas keluar kantor dengan demikian kamu boleh gak ngantor :). Kalau Ibel alias izin belajar itu cuma dapat izin ajah biasanya harus di luar jam kerja, masih harus masuk kerja dan masih boleh boleh dinas kemana-mana. Jadi ibel itu kayak kuliah sambil kerja dan tubel tugasnya belajar, jadi gak wajib ke kantor. Begitu.

Prosesnya Gimana Kalau Mau Tubel?

Berhubung pengalaman saya ambil tubel dibiayai oleh instansi Kementerian tempat saya bekerja dan bukan badan-badan yang mengadakan beasiswa seperti LPDP atau Bank Dunia misalanya, jadi saya hanya akan share pengalaman saya saja yah… buat yang itu coba di googling pasti banyak deh. Kemudian lagi, tubel saya ini hanya terbatas buat PNS di Kementerian Kesehatan buat Kementerian-kementerian lain ya silahkan di cari mungkin stepnya mirip-mirip. Mungkin lohhh…

Jadi yah beberapa tahun terakhir ini, terus terang saya mulai suntuk banget di kantor. Bosan dengan rutinitas di kantor yang memang agak menggila semenjak Pak Jokowi. Wkwkwk. Lah lagi-lagi salah Pak Jokowi? Nggak… saya mah nge-fans banget sama beliau. Berasa suasana kantor berubah jadi lebih kondusif banget. Suasana kerja, kerja, dan kerjanya itu benar-benar luar biasa.

Suntuknya saya itu yah, kok cuma segini yah yang bisa saya perbuat. Kok bosan yah. Lah terus lo udah dibayarin pakai uang negara, cuma karena anaknya bosanan? Nggak gitu cuy… Adalah dalam diri saya egois untuk mencoba yang namanya keluar di zona nyaman tadi dan pengen banget merasakan yang namanya reward tugas belajar. Toh jurusan yang dituju harus seizin atasan dan sesuai dengan bidang pekerjaan kita. Jadi di sini saya akan mencari ilmu yang kiranya berguna buat pekerjaan saya di kantor. Wong ada syarat setelah menyelesaikan tubel, saya harus mengabdi selama 2N+1 artinya dua tahun masa belajar ditambah satu tahun. Kalau tiba-tiba saya resign gimana? Ya saya harus mengganti biaya tugas belajar saya ke negara tercinta ini.

Terpecut oleh beberapa teman sengkatan yang sudah pada lulus S2 dan teman sebelah kubikel pergi ke Jepang, akhirnya saya bareng teman memutuskan untuk ikutan peruntungan tubel ini. Kenapa peruntungan, ya karena banyak faktor yang harus kami lalui, antara lain :

  1. Harus ada izin pasangan atau orang tua

Yup tentu pasangan jika kamu menikah harus dong tahu kamu mau sekolah lagi dan tidak masuk kantor. Buat yang kepala keluarga misalnya, dipastikan pasangan menerima kalau ketika tubel nanti, pemasukan rekening hanya gaji pokok, dan 50% tunjangan kinerja. Gak ada yang namanya dinas luar kota apalagi  luar negeri misalnya. Tentu akan sedikit berpengaruh ke perekonomian keluarga yah. Hehehehe

2. Harus dengan seizin atasan

Ini point paling penting sih. Dengan atasan kamu mengizinkan kamu ikut tubel, ya mereka harus rela kamu gak ngantor selama beberapa tahun kedepan. Jadi, ya mereka siap kehilangan “partner” atau stafnya dalam bekerja. Ini gak mudah loh. Ada atasan yang egois gak kasih izin karena melihat beban pekerjaan kantor yang banyak misalnya. Buat atasan yang baik mereka sih berpikiran terbuka dong, pingin anak buahnya maju dan berkembang. Itu maksudnya.

Izin atasan gak cuma izin boleh atau nggaknya sih, izin atasan juga masalah jurusan yang kamu ambil harus sesuai dengan kebutuhan organisasi. Misal kamu S1 nya dokter, kerja di Kementerian Kesehatan Direktorat Kesehatan Masyarakat, lalu ujug-ujug kamu pingin ambil S2 Seni Kontemporer misalnya :)) ya kayaknya atasanmu gak akan mengizinkan sih.

3. Mau di dalam atau luar negeri

Nah ini pun penting. Buat yang mau ke luar negeri sih, persiapan kayaknya paling tidak setahun atau bahkan lebih  harus mulai cari-cari beasiswa atau info kampusnya. Kalau mau di dalam negeri macam saya nih persiapan cukuplah enam bulan sampai setahun dari tahun rencana kita buat cari-cari info. Masalah tempat tinggal juga loh. Dipikirin buat yang di luar kota misalnya.

4. Pantengin web penyelenggara tugas belajar

Dalam hal ini kalau saya penyelenggaranya itu Badan Peningkatan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kesehatan. Pada umumnya akan dilakukan seleksi tubel dari instansi dulu sebelum seleksi di perguruan tinggi nya. Tapi gak ada salahnya kamu juga buka-buka web universitas yang kamu tuju itu.

Sebelumnya mereka juga akan mengirimkan surat edaran tugas belajar di Bulan November 2016 nah baca baik-baik dan pahami segala persyaratannya ada di situ. Mulai dari seleksi administratif tahap satu dan dua, hingga seleksi akademik. Berikut contoh surat edaran tahun lalu yah. Lengkap di sini. Baca perlahan-lahan dan resapi. Surat Edaran Tugas Belajar Tahun 2017. 

Perhatikan baik-baik batas pengajuan ini itunya. Misal batas akhir up-load dokumen ke web nya kapan. Pastikan semua berkas yang dibutuhkan sudah dipenuhi. Misal surat keterangan sehat dan bebas narkoba  dari rumah sakit pemerintah, surat izin dengan materai, sampai jurusan yang kamu ambil sudah benar-benar sesuai dan mendapat izin atasan. Web nya tubel Kemenkes itu ini : http://tubel.bppsdmk.kemkes.go.id

Pengalaman saya kemarin agak-agak gimana yah berkaitan dengan izin atasan. Untuk sekolah S2 ini, saya mau mengambil agak melenceng sedikit dari ilmu S1 saya. Masih kesehatan, tetapi saya mau ambil yang sifatnya kekinian alias promotif dan preventif. Berbeda dengan ilmu farmasi yang memang sekarang sudah fokus ke pelayanan tetapi masih lebih besar porsi kuratif nya terutama obat. Saya mantab mengambil peminatan Promosi Kesehatan.

Eh, ndilalah, ada di bagian lain yang peminat tubelnya lumayan banyak yaitu empat orang sehingga pimpinan tertinggi di unit saya harus ikut memantau dan memutuskan apa saja jurusan yang diambil. Ternyata saudara-saudara, saya tidak diizinkan mengambil peminatan promosi kesehatan dan dianjurkan atau “dipaksa” mengambil peminatan Kebijakan dan Hukum Kesehatan, mengingat kebutuhan organisasi di unit kerja saya. Ampun  DJ… yah itu Bu Dirjen pelakunya. Sempat bete dan kesel. Tapi ya sudahlah. Mungkin memang sudah jalannya. Kalau saya gak nurut itu Bu Dirjen gak mau tanda tangan izinnya. Ya Allah gini amat yaks. Akhirnya saya menerima keputusannya dan mengambil peminatan Kebijakan dan Hukum Kesehatan. Fuihhh

Setelah dipikir-pikir lagi kenapa nggak yah, justru itu semakin luas dan bisa membuat kebijakan-kebijakan yang sifatnya promotif dan prefentif dan akhirya saya menerima dengan lapang dada dan dewasa. Hahahahaha.

5. Pantengin web universitas tujuan kamu

Kalau sudah upload seleksi administratif instansi, hal yang kamu perhatikan berikutnya adalah persiapan buat masuk ke universitas inceran kamu. Perhatikan kapan tanggal buka pendaftaran, lihatin persyaratannya apa saja. Butuh nilai TOEFL atau nggak, butuh proposal thesis atau nggak, dll. Isinya pelan-pelan yah, pastikan semua benar. Kemudian lihat kapan akan dilakukannya tes tertulis. Soal-soal apa yang kira-kira akan diuji. Kalau UI kemarin alhamdulillah gak perlu TOEFL. Soal yang diujikan ada TPA (Tes Potensi Akademik) dan Bahasa Inggris. Kampus incaran saya Universitas Indonesia, Fakultas Kesehatan Masyarakat Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat dengan peminatan Kebijakan dan Hukum Kesehatan.

Persiapan saya kemarin sih beli buku-buku tes TPA di Gramedia ajah sama belajar Bahasa Inggrisnya pakai buku Persiapan TOEFL. Terus terang susah jendral. TPA nya itu ada Matematika Dasar yang sudah sekian lama saya gak tegur-tegur dan logikanya yang benar-benar gak nyampe banget. Hihihi. Kalau Bahasa Inggrisnya soal cerita dan topiknya macam-macam. Bagusnya sih sering baca-baca artikel Bahasa Inggris biar kosakata agak banyakan. Hehehehe.

Selesai ujian terus terang saya pesimis dan berharap di gelombang kedua. Oh iyah biasanya ada dua gelombang gitu. Nah kalau gak lulus gelombang pertama, bisa ikut lagi di gelombang kedua. Yes bayar lagi dari awal tentunya yah.

Setelah dinyatakan lulus, perhatikan lagi apa yang harus dilakukan. Meskipun tubel saya dibiayain negara, ternyata belum ada pengumuman lolos tidaknya seleksi administratif di Kementerian. So mau gak mau daripada nama saya terdepak dari sistem Universitas Indonesia, saya rela tabungan saya buat nalangin uang kuliah saya terlebih dahulu. Katanya diganti kok. Jadi ada baiknya, kamu siapin dana kuliah sebesar uang gedung dan satu semester. Buat yang mau pakai surat tunda bayar bisa, tapi harus ke BPPSDM buat minta usratnya kemudian menyerahkan ke bagian akademik kampus.

Setelah melalui itu semua, di sinilah saya. Setelah daftar ulang, siap-siap buat mengisi IRS atau mata kuliah yang harus berebut dosen yang enak katanya. Soalnya kan kita belom nyoba. Alhamdulillah ada yang namanya Pengenalan Sistem Administrasi Fakultas buat yang belom kuliah di UI, ini sangat membantu, yah istilahnya kenalan deh sama Fakultas dan Kampus juga teman-teman satu kelas yang beragam asalnya. Sok akrab juga sama kaka-kakak kelas. Ini sangat membantu buat membagi pengalaman.

Minggu ini kuliah sudah dimulai, bismillah saya bisa selesai tepat waktu dan menjalaninya dengan kuat. Bukannya apa, di UI sejak tahun ini, ada prasyarat yang mengharuskan input tulisan ke Jurnal Internasional juga gencarnya mereka membasmi plagiarisme. Mohon doanya teman-teman. Semoga bisa melalui dua tahun ini. Masa kuliah ini, saya kan off kerja semoga bisa lebih rajin nge-blognya. Meski akan banyak tugas kuliah, tapi berharap bisa rutin nge-blog.  Itung-itung latihan menulis yah, meski gak ilmiah. Setidaknya tangan dan pikiran terbiasa menuangkan ke dalam kata-kata dan membentuk sebuah kalimat panjang. Hahahhaha. Amiiinnn…

Suasana Pengenalan Sistem Akademik Fakultas selama dua hari
Mencoba kompak dala rangka adu “yel-yel” antar peminatan
Alhamdulillah kekompakan terbayar dengan dinobatkan sebagai “yel-yel” terbaik di PSAF Pasca FKM

Menjelajah Wisata di Semarang dan Sekitarnya

Perjalanan ke Semarang jilid dua ini sebenarnya berlangsung tahun lalu yang belum sempat saya tuliskan di blog ini. Berhubung ini Agustus, dimana di bulan ini adalah hari kemerdekaan Indonesia, maka kali ini saya mau menulis cerita perjalanan saya di Indonesia negeri tercinta. Perjalanan ke Semarang saya kali ini tentu saja mendatangi destinasi yang berbeda dengan perjalanan saya ke Semarang sebelumnya.

Jika perjalanan saya sebelumnya, kami menggunakan kendaraan mobil yang disupiri Zaki, kami ke tempat-tempat wajib di Kota Semarang, yang bisa kamu baca cerita lengkapnya di :

Semarang (Edisi : Simpang Lima dan Kucing Lawang Sewu)

Kulineran wajib di Semarang kayak di cerita ini :Nostalgia Masakan Simbah, Mencicipi Sayur Mangut (kuliner khas Semarang)

Kemudian sebelum kembali ke Jakarta, waktu itu kami menyempatkan diri menikmati kota tua dan bertemu Ibu-ibu hebat di sana juga mampir ke Mesjid Agung Jawa Tengah. Bisa baca di : Sebuah Cerita tentang Ibu-ibu Hebat di Kota Tua dan Megahnya Mesjid Agung Jawa Tengah (Masih di Semarang)

Perjalanan kami kali ini kami memilih naik pesawat, karena dalam rangka menemani Zaki yang business trip dan saya yang menghabiskan cuti tahunan. Waktu itu, berhubung ini kali kedua, saya sama sekali tidak punya rencana muluk-muluk di Semarang. Malah waktu itu rencananya saya mau puas-puasin staycation aja di hotel yang tentunya agak lumayan bagus dan berjudul gratisan. Hehehehe.

Menikmati Hotel 

Hari pertama kami tiba siang menjelang sore, jadi ya sampai hotel tidur siang, nonton tv, dan pokoknya goler-goler di tempat tidur ajah. Oh iya, kali ini kami menginap di Hotel Louise Kienne tidak jauh dari Simpang Lima. Meski hotel bintang lima, tapi kamar hotelnya jauh dari harapan kami. Kecil, sempit, dan semuanya menurut kami standar. Tapi ya sudahlah ya, masih untung dibayarin. Memang sih, melihat bentuk hotelnya, ini hotel sepertinya di setting untuk apartemen, jadi gak ada artistik-artistiknya banget.

Ruang makan kecil, sempit dan menu yang jauh dari harapan menu hotel bintang lima. Pengalaman yah bu…

Kamar Hotel Louise Kienne
Tempat tidurnya enak sih, kamarnya sempit tapi
Sudut Kamar Louise Kienne
Sudut kamar yang cukup nyaman buat ngeti-ngetik

Sorenya kami lagi-lagi gak mau rugi. Menikmati fasilitas hotel dengan fitness dan besok paginya berenang cantik dengan pemandangan keren. Nah kali ini bolehlah hotel ini menang dikit. Kolam renangnya di lantai atas dan bisa memandang pemandangan Simpang Lima dan Kota Semarang.

Berenang di Louis Kienne Hotel
Berenang…
IMG_6285
Maaf agak norak yah..

Makan Malam di Restoran Hits Koeno Koeni

Resto ini berkonsep resto dan galeri. Sambil menikmati makanan, pengunjung bisa asyik menikmati koleksi benda-benda seni sang mepunya resto, Bos Jamu Sido Muncul. Menunya bagaimana? Menunya beragam dari khas Indonesia sampai Western. Ada pojok jamu juga loh.

Menariknya pengunjung bisa foto-foto di museum yang terbilang cukup instagram genic ini. Rasa makanannya, lumayan. Harga memang agak mahal, tapi sepadan dengan pengalaman mata dan rasa yang di dapatkan. Belum lagi restoran ini terletak di dataran yang agak tinggi. Sehingga kami bisa menikmati lampu-lampu yang menghiasi Kota Semarang.

IMG_6255
Koleksi Radio Tua
Mainan Jadul
Maianan dan Barang-barang Jadul
Suasana Resto Koeno Koeni
Suasana Resto Koeno Koeni Bagian Dalam
Koeno Koeni Bagian Luar
Koeno Koeni Bagian Luar

Museum Kereta Api di Ambarawa

Hari ketiga, urusan pekerjaan Zaki selesai. Akhirnya saya yang memang gak betah banget di hotel doang ketika berada jauh dari rumah, googling-googling enaknya kemana ya di Semarang ini. Ketemu deh tempat yang seru, meski agak jauh sedikit dari Semarang yaitu Museum Kereta Api di Ambarawa. Perjalanan Semarang ke Ambarawa memakan waktu dua jam dengan mobil rental. Kalau mau naik umum ada kok bus dari terminal. Mungkin agak lama karena menaikan dan menurunkan penumpang di jalan.

Berhubung kami datang di hari kerja, jadi museumnya sepi, dan sayangnya kereta api uap tidak dioperasikan. Ya, kereta uap hanya dioperasikan di weekend, atau kalau kita sudah pesan untuk rombongan misalnya. Ya udah gak papah. Besok lagi. Enaknya kan bisa puas foto-foto dan ya kami puas sekali. Tempatnya keren banget. Cocok untuk wisata edukasi dan sejarah buat anak-anak juga menyenangkan melihat kereta api tua.

Indonesian Railway Museum
Indonesian Railway Museum
Museum Kereta Ambarawa
I Love Ambarawa
Naik Lokomotif
Nyobain Naik Lokomotif
Museum Kereta Api Ambarawa
Peron di Museum Kereta Api Ambarawa
Koleksi Lokomotif Museum Kereta Api Ambarawa
Koleksi Lokomotif Museum Kereta Api Ambarawa
Nungguin Kereta, Mari Selfie
Selfie sambil nunggu kereta. Ceritanya
Mesin Cetak Tiket Jaman Dulu
Mesin Cetak Tiket Pada Masa Itu

Candi Gedong Songo di Bandungan Kabupaten Semarang

Puas lihat kereta api, kami menuju Candi Gedong Songo yang memakan waktu sekitar satu jam perjalanan dari Ambarawa. Letaknya yang memang sudah di dataran tinggi, membuat udara di sana sejuk dan cuaca siang itu agak mendung. Awan tebal menyelimuti langit. Seperti akan turun hujan.

Candi gedong Songo adalah sebuah komplek candi yang konon terdiri atas sembilan sesuai namanya (bahasa jawa Songo artinya sembilan). Meski demikian, baru ditemukan lima buah candi. Kemungkinan sisanya sudah hancur karena bencana lama.

DSC00603.JPG
Masukkan keterangan

Candi Gedong Sono terletak terpisah-pisah antara candi yang satu dengan yang lain dan agak berjarak lumayan (kalau jalan kaki) apalagi medan yang menanjak. Kalau capek bisa naik kuda kok yang harganya dari bawah sampai candi kelima seratus ribu rupiah. Saya yang berprinsip irit tentu gak mau naik kuda dong, dan Zaki manyun, soalnya dia kepengen banget naik kuda. Hahahaha… Hitung-hitung olahraga lah ya, masih muda juga. Padahal sampai hotel kami balurin betis dengan counterpain. Wkwkwkwk.

Komplek Candi Gedong Songo
Komplek Candi Gedong Songo
Candi Gedong I
Candi Pertama
Candi Gedong Songo
Lihat Pemandangannya…
Uap Panas Bumi
Mata Air Panas Umbul Sido Mukti

Benar saja, begitu tiba di candi keempat, dan candi kelima sudah tertutup kabut, kami memutuskan untuk kembali karena hujan kemudian turun dengan lebatnya. Sebagai pejalan yang well prepared tentu saja kami bawa payung dong.

Oh iyah, ada cerita lucu. Berhubung ke Semarang masih dalam rangka kerja (Zaki) dia bawa laptop dong kemana-mana, takut-takut si Bos nyuruh apa gitu. Laptop yang 14 inch yang merupakan properti kantor tentu saja dibawa dari pada menanggung resiko laptop hilang kalau ditinggal di mobil. Kebayang dong, jalan nanjak, sambil membawa laptop yang beratnya kira-kira 7 kg. Hahahahha. Maaf saya ketawa. Sumpah itu berat Jendral.

Zaki di Candi Gedong Songo
Jalanan Nanjak, dan Dia Membawa Laptop

Ngopi-ngopi Cantik di Umbul Sido Mukti

Nama Umbul Sido Mukti sendiri yang terkenal sebenarnya adalah sebuah tempat wisata kolam renang dari sumber mata air pegunungan. Tempat pemandian dan kolam renang gitu deh. Berhubung cuaca yang tidak mendukung, karena hujan cukup deras. Pak sopir kami membawa kami ke sebuah tempat yang lagi hits di sana. Sebuah restoran tempat ngopi-ngopi cantik. Ada penginapannya juga loh.

Pemandangan siang itu pohon kopi dan pinus berselimut kabut tebal dan rintik hujan. Udara cukup dingin menusuk. Zaki memesan kopi dan mie godhok, sedang saya yang sudah makan di warung makan Candi Gedong Songo memilih pisang goreng keju. Euhm… nikmatnya.

Umbul Sido Mukti
Mie Jawa
Umbul Sido Mukti
Nature +Food Perfect Combination
Umbul Sido Mukti
Ini Pemandangannya Berkabut

Kurang lebih satu jam di sana, kami kemudian pulang dan kembali ke kota Semarang. Esok harinya kami ke Kota Lama, main-main ke Museum Tiga Dimensi dan mencicipi es krim di Toko Oen yang legendaris. Main-main di Kota Lama akan saya ceritakan di edisi Agustus minggu depan. Oh semoga gak kumat malasnya ya. Hehehehe.