Staycation di Hotel Bintang Lima di Pulau Bali

Pengalaman yang akan saya tulis kali ini adalah pengalaman staycation saya di sebuah hotel bintang lima di Bali. Kalau kalian mau tahu ceritanya kok bisa-bisanya saya yang gak kaya-kaya amat 🙂 ini bisa staycation di hotel bintang lima di kawasan elit lagi. Bukan kawasan hostel-hostel para backpacker di daerah Kuta. Kawasan ini juga tepat Raja Salman ketika berkunjung ke Pulau Dewata.

Kok bisa? Oke, kalau mau tahu ceritanya, bisa baca di sini :

Gak Ada yang Enak-enak itu Cuma-cuma Begitu Saja

Janji yah, jangan ketawa. Pokoknya banyakan senangnya kok dan dengan begitu saya jadi punya pengalaman deh staycation di hotel bagus di Bali.

Kamar Hotel yang Luas Meski Agak Spooky

Novotel Bali
Kamarnya Luas dengan Pencahayaan yang Sedikit Sekali

Waktu itu kami mendarat di Bali sudah cukup malam. Letak hotel kami yang tidak terlalu jauh dari bandara, ya kami tidak masalah meski fasilitas penjemputa sudah tidak ada. Kami beruntung sudah ada yang namanya taksi online, meski kami harus sedikit kucing-kucingan dengan taksi resmi di Bandara. Ya, jadi kami naiknya bukan dari terminal kedatangan, tapi dari terminal keberangkatan.

Kami juga diminta tidak terlalu sibuk memegang handphone dan seolah-olah kami dijemput dengan kenalan bukan dengan taksi online. Memang, keberadaan taksi online di Pulau Dewata ini belum diterima baik dengan pengusaha taksi konvensional setempat. Jangankan taksi online milik asing seperti Uber atau Grab, wong taksi konvensional burung biru yang jelas-jelas milik orang Indonesia saja dibatasai pergerakannya. Yeah this is my country, Indonesia.

Tiba di hotel, kami menuju resepsionis dan langsung diantar ke kamar yang memang agak jauh dari lobby hotel. Kamar kami terletak di bangunan yang terletak di lantai kedua. “Whoaaa…” hanya itu kalimat yang bisa saya ucapkan sambil mendengar Bli yang mengantar kami memeberikan penjelasan sedikit tentang kamar yang akan kami tinggal selama dua malam kedepan.

Bentuk kamar kami model apartemen dengan satu kamar, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar mandi dan ruang laundry. Kumplit sekali. Bahkan menurut syaa untuk kami berdua, ukurannya terlalu besar. Ada balkon menghadap ke kebun belakang juga.

Pencahayaan yang tidak terlalu terang, ditambah beberapa benda seni seperti patung tubuh wanita tanpa kepala, lukisan wajah yang sangat mirip dengan aselinya, dan hiasan dinding kepala sang Budha membuat saya yang memang penakut agak berasa gimana gitu. Hehehe. Iyah suasana malam membuat kamar itu memang agak spooky.

Menikmati Private Beach dan Spa 

Keesokan paginya, saya memaksa Zaki untuk menikmati sunrise di private beach hotel yang memang letaknya bersebrangan dengan letak hotel. Jadi, kami harus berjalan kira-kira tiga ratus meter untuk ke pantai. Menikmati kecantikan lingkungan hotelnya yang ngademin hati.

Novotel Hotel Bali

Tiba di pantai, ada seorang tokoh masyarakat setempat sedang melakukan sembahyang tepat di pintu masuk pantai. Pagi itu pantai sepi banget. Hanya ada kami dan dua orang karyawan hotel yang sedang membersihkan pantai. Eh, ada pengunjung juga satu orang Ibu-ibu usia paruh baya yang ternyata salah satu Direktur Rumah Sakit Umum di Yogya. Cerita punya cerita beliau juga ikutan program menginap sama seperti kami loh. Hehehe.

Private Beach Novotel Bali

Private Beach Novotel Hotel Bali
Private Beach Novotel Hotel Bali

Private Beach Novotel Hotel Bali

Pagi di pantai itu, kami menikmati matahari pantai dengan berjalan membasahi kaki sebatas lutut dengan air laut. Kami memilih tidak berenang karena tepat jam delapan kami harus sudah duduk rapi di ruang pertemuan.

Kami berjalan ke arah hotel tempat Raja Salman menginap. Penasaran dengan bangunan yang dipagari bambu itu. Terpasang tangga dari halaman hotel hingga ke pantai. Baru saja kami ingin mendekat dengan menaiki tangga, seorang pria berpostur kekar menggunakan setelan jas hitam menghardik kami. Meminta kami segera menjauhi area pantai hotel.

“Okey Sir, we just took a picture. Thank you Sir.” kemudian kami bertiga menjauh dari area pantai terlarang tersebut. DI sekitaran pantai kami juga sempat bertemu dengan TNI Angkatan Laut yang sedang malakukan tugas pengamanan di sepanjang area pantai.

Perjalanan kami kembali ke hotel dari pantai, kami bertemu dengan Bapak Satpam yang berasal dari NTT. Bapaknya cerita banyak, daerahnya sudah semakin bagus karena pembangunan mulai terasa. Seperti bandara, jalan, dan lain-lain. “Bangga dan kagum sama Pak Presiden kita.” katanya lagi. Alhamdulillah.

Bapak Penjaga Keamanan
Pak penjaga kemanan Padang Golf yang bersebelahan dengan hotel dari Flores NTT

The Real of Me Time, Ditraktir Spa

Oke, mari kita skip acara yang super penting yang kami ikuti pagi hingga siang hari itu. Nah sekarang waktunya kami menikmati staycation. Setelah makan siang di warung nasi ayam Ibu Oki, saya dapat kado spesial meski waktu itu yang ulang tahun Zaki, dia kasih saya hadiah voucher spa di hotel siang itu. Asiiikkkk….

Zaki tidur siang, saya meluncur ke tempat spa yang dari luar saja sudah adem benerrrr… Beruntung siang itu, saya juga tidak perlu antri jadi langsung saja.

Spa House Novotel Bali
Tampak Depan Tempat Spa-nya

Teras Spa Novotel

IMG_0275
Itu ranjangnya dan di balik tirai itu buat berendam nanti

Memasuki kamar yang tentu saja dengan wangi aromaterapi khas Bali yaitu bau kayu cendana membuat cuaca siang di luar yang terik sama sekali tidak terasa. Hawa sejuk dari mesin pendingin dan interior kamar yang artistik membuat saya agak rileks.

Setelah berganti pakaian saya tiduran di sebuah ranjang khusus spa. Mbak-mbak yang siang itu memijat saya tidak terlalu suka ngobrol sepertinya. Obrolan hanya terjadi satu arah. Oke, saya memilih menikmati pijatan mbak-nya saja sambil menahan rasa kantuk yang amats angat. Berusaha menikmati setiap detik waktu yang sudah dibayar mahal Pak Suami. Wkwkwkwkwkwkwk…

Selesai spa, saya kemudian berpindah untuk badan saya dipanaskan. Seperti masuk ke dalam mesin cuci yang isinya uap panas. Uap panas tujuannya membuka pori-pori kulit agar bahan lulur meresap paripurna ke dalam kulit dan maksimal bekerja. “Panasnya booo…” Sumpah gerah banget. Lamanya waktu itu lima belas menit saja.

Selesai badan saya di uap, kemudian saya diminta berendam di kolam busa yang terletak di luar dibataskan sebuah pintu yang merupakan akses langsung ke tempat pemandian. Syahhhh pemandian. 🙂 Beralaskan langit dan dikelilingi tanaman bambu yang menutupi dinding. Seolah sedang mandi di tengah hutan. Aduh rileks banget pokoknya. Seolah masalah dalam hidup terhempas begitu saja. Hehehehe.

Bathtub Spa

Tidak terasa, satu setengah jam yang bisa saya sebut sebagai rekreasi jiwa dan raga ini seslesai. Saya lumayan puas dengan layanan spa hotel ini siang itu.

Berenang-berenang Cantik di Kolam Bareng Bule-bule

Swimming Pool Novotel Bali
Swimming Pool nya keren banget

Bali Novotel HOtel Swimming Pool

Menjelang sore, selesai spa saya menggeret Zaki untuk bergerak. Malas untuk fitnes atau lari, kami memutuskan untuk berenang saja. Iya, berenang. Sambil sesekali leyeh-leyeh di pinggir kolam minum jus semangka dan makan kentang goreng.

Sore itu kolam renang ramai dengan keluarga bule yang kalau saya dengar dari logatnya kebanyak bulek Australia sih. Ya ampun anak-anak kecil dah pinter-pinter banget berenang. Serunya lagi mereka ramah banget. Menyapa saya ketika bolanya terlempar ke arah saya dan tersenyum manis.

Menikmati Sarapan Pagi yang Agak Mewah

Kapan lagi sarapan mewah kalau nggak di hotel. Bintang lima lagi, Hehehe. Makanan enak dan pemandangan taman hotel yang bermandikan matahari pagi itu, perpaduan yang sempurna.

Uhm… akhirnya berakhirlah pengalaman menikmati hotel mewah buat saya. Seru, meski saya tahu gak ada sesuatu di muka bumi ini yang benar-benar gratis. Kemewahan yang dibayar mendengarkan ocehan marketing dan mengikhlaskan waktu kami di Bali untuk mendengarkan marketing jualan produknya.

Happy diajakin liburan meski singkat banyak cerita
Happy diajakin liburan, meski singkat banyak cerita

Puncaknya, ketika kami ingin kembali ke Jakarta, dan fasilitas antar ke bandara yang tidak disediakan pihak hotel. Pihak hotel bilang itu tanggung jawab biro perjalanan yang meski satu grup mempunayi manajemen yang terpisah dari hotel. Oke baiklah, malas berdebat kami kembali pesan taksi online untuk ke bandara. Di bandara pesawat kami harus rela delay karena  bersamaan dengan Raja Salman meninggalkan Indonesia. Plus buku “Lembaran-lembaran Pelangi” nya Nila Tanzil yang sedang saya baca tertinggal di bandara.

Kalau sudah begitu, kira-kira, saya untung apa rugi sih??? Auk ah… Sudahlah apa-apa jangan di hitung-hitung untung atau rugi. Paling penting semua memperkaya pengalaman dan  ada bahan buat nulis blog. Wkwkwkwkwk.

IMG_0395
Pemandangan di Bandara Ngurah Rai

 

 

“Korban First Travel?” Iyah, Saya :)

“Sesekali saya mau nulis yang kekinian ah… Apayah?” Begitu yang ada dalam benak saya belakangan ini. Sibuknya dunia awal perkuliahan saya, dengan jadwal satu hari weekend, mau gak mau ya jadi agak susah buat jalan-jalan dalam jangka waktu lama. Mungkin nantilah pas libur kuliah semesteran. Berawal karena hal itulah, saya jadi semangat buat nulis yang kekinian. Meski dengan menulis ini membuka aib “kebodohan” saya sendiri sih. Gak papalah, selain buat dokumentasi arsip pribadi, semoga bisa jadi pelajaran juga buat pembaca blog saya.

“Korban First Travel? Kok Bisa?”

Waktu itu di tahun 2016, alhamdulillah saya ditugaskan dari kantor ke Arab Saudi sebagai tim penerima obat yang akan digunakan jamaah haji Indonesia. September 2016 setahun lalu tepatnya.

Ini oleh-oleh tulisan saya waktu itu : Makanan Khas Arab yang Yummy (Worktrip Arab Saudi Part 2)   

Selama tujuh hari berada di Arab, tentu sangat berkesan sekali buat saya. Bagaimana tidak? Menginjakkan kaki di tanah haram adalah impian setiap umat muslim di manapun. Meski ketika itu tentu waktu saya sebagian besar ya buat bekerja tetapi kami tetap menyempatkan diri untuk beribadah di tanah berdirinya kiblat umat muslim seluruh dunia.

Kenangan spiritual ataupun duniawi sangat membekas. Hingga terbesit keinginan untuk suatu saat saya bersama suami akan bisa bersama-sama beribadah ke Mekkah. Singkat cerita, salah seorang teman saya yang juga berangkat saat itu menceritakan pengalaman umrohnya bersama suami dengan biro perjalan yang terbilang biayanya cukup murah.

“Iyah, enak kok, kemarin gue sama suami bareng Kak Naningnung nengnong tuh malah tiap tahun.” bebernya lagi mempromosikan sebuah biro perjalanan umroh yang kemudian akan dibekukan pemerintah di pertengahan 2017

Iya, disitulah saya mulai tergerak penasaran dengan yang namanya First Travel. Agak bimbang terus terang saya waktu itu, hingga Bos saya, juga bercerita beliau sudah dua kali berangkat umroh dengan biro perjalanan yang sama, First Travel. Bergeser ke ruangan sebelah, teman saya sejak kuliah, sebut saja Mawar menceritakan bahwa dia dan suaminya baru melakukan umroh dengan lagi-lagi First Travel. Tidak hanya Mawar ternyata di ruangan tersebut, ada juga Ibu Titi Teliti dan Pak Anwar Fuadi dan keluarganya.

Mereka semua saya tanyakan bagaimana bisa umroh dengan budget minim di sana? Bagaimana hotelnya? Bagaimana cateringnya? Bagaimana pelayanan-pelayanan lainnya. Mereka kompak menjawab bagus dan memuaskan. Tentu saja disesuaikan dengan uang yang sudah mereka bayarkan, pelayanan terbilang bagus.

Perlu diketahui, sebelumnya saya bermaksud menawarkan kedua orang tua saya buat umroh. Tidak dengan First Travel dengan biro perjalanan lainnya. Sudah jelas tanggal berangkat dengan harga lebih mahal tentunya. Kalau waktu itu First Travel 14 jutaan, biro perjalanan tersebut menawarkan di harga 22 juta sekian sekian. Kemudian Ibu dan Bapak memilih menggunakan dana tersebut untuk daftar haji. Baiklah Ibu dan Bapak kemudian daftar haji dan masih dalam proses mengantri.

Berbekal pengalaman saya di Arab ketika dinas, saya pikir kami (saya dan suami) masih usia yang cukup sehat untuk beribadah di sana meski dengan biaya yang murah sekalipun. Mumpung masih muda. Gak papahlah, toh kemarin saya bisa kok ketika dinas ke Mekkah naik taksi atau mau ke pasar mau beli apa secara mandiri tanpa biro atau agen perjalanan.

Bismillah, saya meminta suami untuk mendaftar ke kantor First Travel di daerah Depok. Kesana sendiri tanpa melalui agen atau paksaan. Mengambil formulir, menyiapkan foto untuk visa, membayar DP sampai harus melunasi beberapa hari kemudian. Kami juga menerima kalau kami akan berangkat di Tahun 2017 bulan April.

Hingga di penghujung 2016, suami ikut manasik umroh yang diselenggarakan First Travel di Masjid Istiqlal yang luar biasa jamaahnya memenuhi seluruh tempat di Masjid terbesar se-Asia Tenggara itu. Saya memilih tidak ikut. Selain tahu akan penuh, toh saya sudah pernah umroh. Suami berangkat sendiri pagi-pagi sekali agar mudah mendapat parkir. Di sana suami bertemu dengan tetangga dekat rumah, yang belakangan kami tahu beliau membawa atau mengajak beberapa jemaah. Entah beliau agen atau hanya membantu sampai sekarang saya tidak tahu.

Oh iyah, saat itu di ruangan saya di kantor, tidak hanya saya saja yang tertarik. Bu Lily Kasoem Optik, Bu Philips dengan suami, dan Pak Steward bahkan sekeluarga dengan istri dan dua anaknya.

Di penghujung 2016, mulai terdengar kehebohan di media tentang First Travel. Banyak jemaah yang dijanjikan akan berangkat di Januari 2017 belum juga diberangkatkan. Berita yang awalnya simpang siur mulai terbukti benar adanya. Bu Lily Kasoem Optik bergabung dengan grup WA yang mulai membuat aduan ke Kementerian Agama. Ketika itu Kemenag belum juga membekukan First Travel. Lucunya lagi, iklan dan tawaran First Travel masih dengan mudah ditemui di media sosial seperti Instagram.

Mulai Aneh, Minta Refund dan “Kembalikan Paspor Saya!”

Lucunya First Travel itu yah, paspor sudah diminta jauh-jauh hari banget. Katanya sih buat urus visa. Yaelah visa kan kalau lancar begini paling beberapa hari juga jadi. Oke, mikirnya jemaah banyak. Saya sudah meneyerahkan paspor di akhir 2016.

Suami yang memang masih membutuhkan paspor dalam rangka kerja, memilih akan membayar lebih yaitu sebesar tiga juta jika belakangan menyerahkan paspor. Ini yang bikin sebel. Suami waktu itu ada kerjaan ke Jerman dan Italia, dan saya yang tadinya mau ikut memilih gak ikut karena tahun depan mau umroh, harus menerima kenyataan pahit. Gagal ke Eropa dan gagal umroh. Wkwkwkwkw. Kasihan deh lo.

Bulan April 2017, kegaduhan mulai terjadi. Pihak First Travel tiba-tiba memenerapkan aturan tambahan biaya sebesar 2,5 juta rupiah bagi program umroh promo jika mereka akan diberangkatkan. Konon katanya biar bareng sama jemaah reguler. Nah loh, awalnya ajah udah molor setahun, kok tiba-tiba minta nambah terus bisa berangkat. Piye to? Gak masuk akal.

Mulai mencium keanehan, saya minta suami ke kantor First Travel. Minta refund dan ambil paspor saya. Sebel banget pokoknya. I want my paspor back. Paspor ditahan itu kayak kena banned sama pemerintah kalau saya itu penjahat, jadi gak boleh ke luar negeri. Sumpah sebel banget.

Alhamdulillah yah (selalu ada alhamdulillah di setiap peristiwa) suami kerjanya fleksibel. Jadi yang mondar mandir ke kantor First Travel yang mulai rusuh banget itu ya suami. Setiap habis dari kantor First Travel selalu ada ajah cerita sedih yang dibawa.

Cerita jemaah yang gagal berangkat padahal sudah menunggu dua tahun, ada anak yang memperjuangkan orang tuanya yang mau umroh, ada curhat para agen yang memperjuangkan orang-orang yang mereka bawa, hingga curhat para Customer Service First Travel yang menjadi sasaran amukan massa jemaah.

Kenapa Jualan yang Sifatnya Spiritual Laris Manis ?

Setelah formulir refund kami terima yang katanya akan cair 90 hari kerja dan paspor saya kembali, hati agak lega. Bahkan kemudian saya langsung gatel memakai paspor yang telah ama hilang itu. Hahahahaha. Lebay. Iyah saya langsung ikut nemanin suami ke Thailand. Hihihi.

Bagaimana dengan uang refund yang dijanjikan? Sudahkah cair? Tentu saja belum Saudara-saudara. Bolak-balik suami nanya, “Udah ada uang masuk, ke rekening kamu?” Saya cuma bisa jawab, “Yaelah gak usah diharapin deh…” bahkan saya menjawab demikian sebelum kedua Bos FT itu dijebloskan ke penjara. Apalagi sekarang Bos mereka sudah di penjara. Jelas keuangan pribadi dan perusahaan yang disatukan ditambah manajemen yang carut marut, hampir dipastikan kecil sekali kemungkinan dana kami akan kembali.

Terus, saya sedih gak? Ya sedih mah pasti. Tapi kok ya mau gimana lagi. Kekayaan mereka tidak sebanding dengan jemaah yang belum berangkat. Belum lagi stake holder yang mereka hutangi. Sebatas melapor ke Bareskrim akan kami tempuh.

Banyak teman-teman saya yang bilang, aduh manusia Indonesia nih. Pasrah dan menerima, bilangnya musibah dan takdir. Usaha dong. Yaelah mbak dibanding ngeributin dana kami yang hilang, waktu kami akan lebih berharga buat hal-hal yang jauh lebih berharga saat ini. Bukan berarti uang 28 juta sekian kami itu gak berharga, tapi ya itu, uang atau kekayaan milik Bos FT (kalau mereka jujur) sudah pasti tidak akan bisa membayar kembali uang jemaah yang belum diberangkatkan. Beda halnya kalau kami sebagai agen yang membawa jemaah banyak. Mungkin kami akan fight sekuat tenaga.

Apa kami menutut pemerintah buat ganti? Ih sumpah gak rela, meski kami jadi korban penipuan, tapi kalau pemerintah yang harus ganti. Kami gak mau. Yah uang pemerintah dari mana kalau bukan dari pajak rakyat? Kasihan banget rakyat Indonesia suruh mengganti kerugian gara-gara nafsu manusia serakah macam AA itu. Kalau gitu enak dong kalau kita nipu ajah, jalan-jalan ke luar negeri. Kemudian nanti diganti sama pemerintah. Bisa kualat sama satu rakyat Indonesia kalau begitu.

Penipuan yang gampang itu, di Indonesia memang ya main di seputar spiritual sih. Manusia Indonesia gampang banget mengeluarkan uang dengan dalih ibadah spiritual. Entahlah.

Pernah dengar nih, kok bisa murah yah, katanya lagi si Ibu Anisa itu sudah kaya,  punya usaha banyak, jadi ingin bantu orang Indonesia ibadah. Hadewh… mamam noh bantu. Berangkatin artis beserta keluarganya dengan fasilitas VIP, dan memprioritaskan pegawai-pegawai rombongan kantor pemerintah agar citranya bagus. Apalagi kalau lihat postingan IG-nya yang foto-foto di luar negeri. Ku tak sanggup gak menyinyir.

Hati-hati Mempromosikan Sesuatu yang Di Luar Kewajaran

Iyah, awalnya mungkin hanya ingin testimoni, tapi saya sama sekali gak menyalahkan teman saya, sampai Bos saya. Jujur awalnya kesel tapi ya saya kan juga sadar pergi ke Kantor FT sendiri, bayar, dan semuanya murni sadar dengan yang saya lakukan. Jadi ya gak bisa menyalahkan mereka. Bahkan ketika sudah bayar dan cerita ke Bapak Mertua pun dimarahin. Hehehe.

Sedih itu seperti Bu Lily Kasoem Optik yang anaknya bermaksud membahagiakan sang mertua, eh kemudian begini kejadiannya. Baik hati Bu Lily sedang mengusahakan agar besannya tetap bisa berangkat umroh dengan biro perjalanan lain, meski dia dan keluarganya gotong royong mencari dana. Lucunya lagi, besannya Bu Lily itu gak tauk apa-apa dong tentang hebohnya kasus FT ini. Padahal tinggal sebelahan. Kadang hidup butuh begitu. Tidak perlu tahu banyak. Salah satu efek kamu tahu banyak ini nih. Ikutan dan ditipu. Hahahhaha…

Jadi, kalau kemudian teman saya di Bus antar jemput kantor bertanya dengan lantangnya, “Eh, di sini gak ada yang korban First Travel, kan?”

Saya akan dengan lantang menjawab, “Ada. Saya. Iyah, saya korban First Travel.”

Kemudian akan diikuti lagi pertanyaan, “Kok bisa? Mbak?”

Kemudian cerita bergulir, hingga teman saya berkata, “Iyah sih kalo gue kayak lo juga gue tergiur. Untungnya di ruangan gue gak ada yang ikut First Travel.” Hahahhaha. Kami tertawa bersama. Dalam hati sih saya meringis menahan tangis. 😦

 

 

One Day Tour Chiang Rai-Golden Triangle (First Stop : Hot Spring)

Perjalanan kali kedua  saya ke Bangkok kali ini, lagi-lagi karena gak rela suami mau dinas dari kantornya. Hehehe emang saya istri yang sirik kalau suami lagi traveling. Enaknya kalau suami yang tugas dinas, itu seringnya sendiri, jadi saya selalu pinginnya ngintil . Ngintil itu bahasa Jawa yang artinya ngikutin.

Kalau yang pertama kali kami ke Bangkok kami liburan dulu, kali ini dibalik. Suami kerja dulu, saya menyusul kemudian. Alasan berikutnya, karena sudah hampir enam bulan paspor saya tertahan di travel agent penyelenggara umroh yang lagi bermasalah banget. Ketika sudah mendekati waktu keberangkatan dan sepertinya tidak ada kejelasan, kami memutuskan untuk menarik uang dan paspor kami, alias membatalkan. Paspor kembali ditangan setelah hilang beberapa bulan itu rasanya kan pengen diajak jalan yah. Hehehehe.

Setelah gagal ikut suami ke Jerman atau Singapura, pokoknya harus ikut  ke Bangkok. Dalam rangka pembebasan paspor saya dan hari kejepit tanggal merah. Hihihi. Meski ini kali kedua, saya pokoknya mau ikut. Tapi kalau cuma ke Bangkok lagi, kok rasanya bosan. Halah kayak udah sering aja ngomong begini. 🙂

Suami awalnya bilang kita staycation aja di hotel. Kantor tempatnya bekerja, bersedia kasih lebih 2-3 malam untuk menginap di hotel apartemen yang memang super duper nyaman. Saya merenung. Apa bedanya leyeh-leyeh di hotel bintang lima  sama leyeh-leyeh di rumah saya yang menurut saya tidak kalah nyaman dengan hotel? Ah, saya berpikir keras. Sayang cap di paspor saya deh. Moso jauh-jauh cuma leyeh-leyeh di hotel. Pokoknya harus kemana ini. Lagi-lagi pokoknya. Hehehehe.

Era sosial media sekarang ini, membuat saya bisa memecahkan persoalan saya kali ini dengan mudah. Ah masa, lima hari empat malam di Thailand jalan-jalan di Bangkok doang dan bobo-bobo di hotel ajah. Dari instagram teman saya, saya melihat belum lama ini, dia jalan-jalan ke Golden Triangle yang letaknya di sebelah utara Thailand dan berbatasan langsung dengan Laos dan Myanmar. Aha, saya ,mau ke sana. Meski kami harus merogoh kocek lagi, untuk transport dari Bangkok ke Chiang Mai. Ya, Chiang Mai. Saya juga belum pernah ke Chiang Mai. Provinsi di Thailand yang pernah menjadi tuan rumah acara pertandingan olahraga bangsa-bangsa se-Asia Tenggara di tahun 1995 zaman saya di sekolah dasar.

Setibanya saya di Bangkok, kami langsung memutuskan keliling Bangkok, tepatnya, menengok saudara tua di Kampung Jawa.

Baca : Menengok Masjid Jawa di Kampung Jawa, Bangkok dan bertemu Ibu Mariam yang baik hati. Baca juga : Ibu Mariam, Muslimah Keturunan Jawa di Kampung Jawa, Bangkok, Thailand

Hari berikutnya, kami menuju Chiang Mai dan menghabiskan satu hari melihat-lihat kota tua yang cukup terawat. Berkesempatan sholat berjamaah di masjid di kawasan muslim Chiang Mai.

Baca : Melihat Tradisi Muslim Chiang Mai di Masjid Hadayatul Islam Banhaw Chiang Mai

Berkunjung ke sebuah kuil dari banyaknya kuil yang ada di Chiang Mai.

Baca : Menengok Wat Buparram di Kota Seribu Kuil Chiang Mai

Hari kedua kami di Chiang Mai, kami akan dijemput oleh tour guide di depan hostel kami. Jam tujuh pagi kami sudah siap. Berhubung paket menginap kami tidak mendapat sarapan, pagi itu kami sudah melipir dulu ke Sevel. Oh iyah sebenarnya ada satu hal lagi yang mau saya ceritakan di sini. Entah kenapa, dari semalam sebelum keberangkatan kami ke Chiang Rai, perut saya mules. Untuk pengalaman ini baiknya sih nanti aja ya saya ceritakan di episode berikutnya.

Kembali ke topik tour ke Golden Triangle. Setelah peserta tour lengkap, akhirnya kami tiba di tempat pemberhentian pertama kami yaitu Hot Spring alias sumber mata air panas dari pegunungan.

Setibanya kami di sana, saya langsung mencari toilet. Guide tour kami menginfokan kami hanya 15 menit saja berada di sini. Ya ampun, sebentar banget. Apa yang mau dilihat coba?

Hot Spring Water Chiang Mai

Selesai dari toilet saya menghampiri beberapa orang yang sedang berendam (kebanyakan hanya menenggelamkan bagian kaki sampai lutut, gak ada yang sampai merendam tubuhnya). Coba sebesar mana. kira-kira diameter kolam tiga meter kali yah. Pengunjungnya pun belum terlalu ramai.

Turis-turis berendam di Hotspring

Zaki malah seperti biasa. Lebih tertarik sama jajanan yang namanya ro-tee. Iya kayak roti maryam gitu yang dimasak pakai telor dan dikasih saus. Jajanan khas Chiang rai yang kebanyakan penjualnya muslim. Biasanya di gerobaknya selalu ada tulisan halalnya soalnya.

Melipir cari cemilan

DSC01945.JPG
Rotee

Di sepanjang parkiran mobil juga banyak yang menjual cendera mata. Di bagian depan dimana ada tulisan nama tempat ini, ada sebuah kolam yang berdiameter satu meter yang airnya memiliki suhu paling panas dibanding di tempat lainnya. Di sekitarnya ada penjaja telur untuk ditawarkan pelanggan yang ingin membuktikan air di kolam itu bisa merebus telur.

Kalau dipikir-pikir yah. “Segini doang nih? Gak ada apa-apanya dibanding Pemandian Air Panas di Ciater atau di Garut yang kolam renangnya aja gede banget. Belum lagi aliran sungai air panas dari atas yang meliuk-liuk dan banyak orang berendam di dalamnya. Berendam seutuh-utuhnya badan lo yah. Bukan cuma basahin kaki. Hihihihihi. Ya udah namanya juga jalan-jalan. Dinikmati aja yah. Nah kan Indonesia lebih oks kan. Hehehe. Tapi… kenapa banyak turis aja gitu di sana? Coba yah bantu pikir, kenapa?

Pancuran air panas

Penampakan Hot Spring di Chiang Rai
Mata Air Panas di Chiang Rai

Sumur Air Panas
Sumur Air Panas Tempat Pembuktian Kalau Air Itu Panas, Jendral. Caranya? Telur Mentah Berubah Menjadi Telur Rebus 🙂

One day tour belum selesai, bersambung di postingan selanjutnya yah… 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

Hati-hati Kalau ke Toilet, Apalagi di Negara Orang :(

Sebenarnya dengan menuliskan hal ini, sedikit membuka aib diriku. Sumpah tulisan ini juga sangat tidak bermanfaat bagi pembacanya. Pokoknya gak dibutuhkan sama orang-orang, sehingga gak mungkin tulisan ini meningkatkan trafic blog saya. Hehehehe. Tapi ya sudahlah, semoga bisa jadi pelajaran buat teman-teman yang lain.

Entah apa yang terjadi pada metabolisme tubuh saya ketika di tempat yang sedikit ber-ac atau agak dingin sedikit. tiba-tiba saja selalu ada hasrat panggilan untuk ke belakang. Maksudnya ke belakang di sini tentu saja ke toilet. Bukan buang air kecil, tapi buang air besar. ups. Maaf kalau tulisan ini agak menyebalkan. Ya udah silahkan jangan lanjutkan bacanya.

Keinginan BAB di tempat umum ini sudah lama. Sepertinya sudah dua puluh tahun yang lalu. Dari Mall yang besar sampai cuma Indomaret atau Alfamart, saya sudah pernah loh. Bandara mah jangan ditanya. Pasar tradisional aja pernah. Parah kan? Pokoknya orang-orang terdekat sayamah sudah tauk banget kebiasaan saya yang nggak banget ini.

Sepertinya jejak banyak saya tinggalkan di mana-mana. Tapi ada yang paling banget gak bisa saya lupa. Itu sekitar beberapa tahun lalu, ketika jalan-jalan ke Bangkok. Lebih tepatnya ketika kami akan mengunjungi museum Madame Tussaud.

Museum Madame Tussaud memang terletak di Mall, namanya Mall Siam Paragon. Pagi-pagi kami sudah tiba di sana. Belum lama masuk mall, langsung deh perut berasa muter alias mules gitu. Saya pun segera mencari toilet.

Tauk dong mall di Bangkok, yang megah dan besar, toilet sudah pasti bersih dan modern. Pagi itu pengunjung mall pun masih bisa dihitung dengan jari. Masih sepi. Begitu masuk toilet pun yang ada hanya mbak-mbak petugas kebersihan toilet. Asyik bisa aman dan nyaman nih. Memang agak kurang nyaman kan kalau lagi kebelet Pup toliet antri. Mending gak deh. Hehehehe.

Saya pilih toilet yang paling pojok dong. Alasannya biar apa? Toilet pojok kan letaknya di ujung. Pasti jarang dipakai sama pengunjung lain. pasti mereka langsung incar yang di depan. eh tapi, kalau sebagian besar orang berpikiran seperti saya. Toilet pojok paling sering dipakai dong ya.

Langsung deh saya duduk manis. Masalah terjadi ketika saya menekan tombol flush toilet duduknya. Jreng… jreng.. kok gak bisa. Cuma bluk-bluk. What… ya Allah gimana dong. Coba lagi, coba lagi sampai berkali-kali belum berhasil. Ih, si Zaki sudah bolak-balik nelpon aja. Bodo amat cuekin ajah. Ini masalah genting.

Kondisi toilet yang sepi, kan malu banget. Belum lagi di sini saya turis. Dari Indonesia pula. Aduh bisa di cap jelek dong turis Indonesia. Padahal kan emang mesin flush toiletnya yang rusak. Gila yah ini mall besar kok bisa toiletnya rusak. Masih ada untungnya nih, ada showernya. Datanglah akal saya menggunakan kekuatan shower untuk menyiram “sampah” toilet. Lama sih emang, tapi… yeay it works. Alhamdulillah berhasil.

Sumpah saya kesel banget, pagi-pagi dapat zonk masalah di toilet begini. Ya ampun kenapa juga pas di Bangkok begini. Keluar toilet saya pun coba protes ke mbak-mbak penjaga kebersihan pake Bahasa Inggris. Baik-baik tentunya. Dia cuma ngangguk-ngangguk aja. tauk deh ngerti apa nggak.

Moment ini memberi pelajaran buat saya, sebelum pakai toilet cek terlebih dahulu apakah mesin flush nya berfungsi dengan baik atau tidak. Entah itu di Indonesia atau di manapun alam memanggilmu. Camkan itu Rini. Camkan.

Meski agak bete kemudian saya bisa bertemu dengan idola sejak zaman SMP. Selalu ada alhmadulillah… :)))

Rini dan Beckham
Finally Meet Him in Personal even just of his statue :)))))