Staycation di Hotel Bintang Lima di Pulau Bali

Pengalaman yang akan saya tulis kali ini adalah pengalaman staycation saya di sebuah hotel bintang lima di Bali. Kalau kalian mau tahu ceritanya kok bisa-bisanya saya yang gak kaya-kaya amat 🙂 ini bisa staycation di hotel bintang lima di kawasan elit lagi. Bukan kawasan hostel-hostel para backpacker di daerah Kuta. Kawasan ini juga tepat Raja Salman ketika berkunjung ke Pulau Dewata.

Kok bisa? Oke, kalau mau tahu ceritanya, bisa baca di sini :

Gak Ada yang Enak-enak itu Cuma-cuma Begitu Saja

Janji yah, jangan ketawa. Pokoknya banyakan senangnya kok dan dengan begitu saya jadi punya pengalaman deh staycation di hotel bagus di Bali.

Kamar Hotel yang Luas Meski Agak Spooky

Novotel Bali
Kamarnya Luas dengan Pencahayaan yang Sedikit Sekali

Waktu itu kami mendarat di Bali sudah cukup malam. Letak hotel kami yang tidak terlalu jauh dari bandara, ya kami tidak masalah meski fasilitas penjemputa sudah tidak ada. Kami beruntung sudah ada yang namanya taksi online, meski kami harus sedikit kucing-kucingan dengan taksi resmi di Bandara. Ya, jadi kami naiknya bukan dari terminal kedatangan, tapi dari terminal keberangkatan.

Kami juga diminta tidak terlalu sibuk memegang handphone dan seolah-olah kami dijemput dengan kenalan bukan dengan taksi online. Memang, keberadaan taksi online di Pulau Dewata ini belum diterima baik dengan pengusaha taksi konvensional setempat. Jangankan taksi online milik asing seperti Uber atau Grab, wong taksi konvensional burung biru yang jelas-jelas milik orang Indonesia saja dibatasai pergerakannya. Yeah this is my country, Indonesia.

Tiba di hotel, kami menuju resepsionis dan langsung diantar ke kamar yang memang agak jauh dari lobby hotel. Kamar kami terletak di bangunan yang terletak di lantai kedua. “Whoaaa…” hanya itu kalimat yang bisa saya ucapkan sambil mendengar Bli yang mengantar kami memeberikan penjelasan sedikit tentang kamar yang akan kami tinggal selama dua malam kedepan.

Bentuk kamar kami model apartemen dengan satu kamar, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar mandi dan ruang laundry. Kumplit sekali. Bahkan menurut syaa untuk kami berdua, ukurannya terlalu besar. Ada balkon menghadap ke kebun belakang juga.

Pencahayaan yang tidak terlalu terang, ditambah beberapa benda seni seperti patung tubuh wanita tanpa kepala, lukisan wajah yang sangat mirip dengan aselinya, dan hiasan dinding kepala sang Budha membuat saya yang memang penakut agak berasa gimana gitu. Hehehe. Iyah suasana malam membuat kamar itu memang agak spooky.

Menikmati Private Beach dan Spa 

Keesokan paginya, saya memaksa Zaki untuk menikmati sunrise di private beach hotel yang memang letaknya bersebrangan dengan letak hotel. Jadi, kami harus berjalan kira-kira tiga ratus meter untuk ke pantai. Menikmati kecantikan lingkungan hotelnya yang ngademin hati.

Novotel Hotel Bali

Tiba di pantai, ada seorang tokoh masyarakat setempat sedang melakukan sembahyang tepat di pintu masuk pantai. Pagi itu pantai sepi banget. Hanya ada kami dan dua orang karyawan hotel yang sedang membersihkan pantai. Eh, ada pengunjung juga satu orang Ibu-ibu usia paruh baya yang ternyata salah satu Direktur Rumah Sakit Umum di Yogya. Cerita punya cerita beliau juga ikutan program menginap sama seperti kami loh. Hehehe.

Private Beach Novotel Bali

Private Beach Novotel Hotel Bali
Private Beach Novotel Hotel Bali

Private Beach Novotel Hotel Bali

Pagi di pantai itu, kami menikmati matahari pantai dengan berjalan membasahi kaki sebatas lutut dengan air laut. Kami memilih tidak berenang karena tepat jam delapan kami harus sudah duduk rapi di ruang pertemuan.

Kami berjalan ke arah hotel tempat Raja Salman menginap. Penasaran dengan bangunan yang dipagari bambu itu. Terpasang tangga dari halaman hotel hingga ke pantai. Baru saja kami ingin mendekat dengan menaiki tangga, seorang pria berpostur kekar menggunakan setelan jas hitam menghardik kami. Meminta kami segera menjauhi area pantai hotel.

“Okey Sir, we just took a picture. Thank you Sir.” kemudian kami bertiga menjauh dari area pantai terlarang tersebut. DI sekitaran pantai kami juga sempat bertemu dengan TNI Angkatan Laut yang sedang malakukan tugas pengamanan di sepanjang area pantai.

Perjalanan kami kembali ke hotel dari pantai, kami bertemu dengan Bapak Satpam yang berasal dari NTT. Bapaknya cerita banyak, daerahnya sudah semakin bagus karena pembangunan mulai terasa. Seperti bandara, jalan, dan lain-lain. “Bangga dan kagum sama Pak Presiden kita.” katanya lagi. Alhamdulillah.

Bapak Penjaga Keamanan
Pak penjaga kemanan Padang Golf yang bersebelahan dengan hotel dari Flores NTT

The Real of Me Time, Ditraktir Spa

Oke, mari kita skip acara yang super penting yang kami ikuti pagi hingga siang hari itu. Nah sekarang waktunya kami menikmati staycation. Setelah makan siang di warung nasi ayam Ibu Oki, saya dapat kado spesial meski waktu itu yang ulang tahun Zaki, dia kasih saya hadiah voucher spa di hotel siang itu. Asiiikkkk….

Zaki tidur siang, saya meluncur ke tempat spa yang dari luar saja sudah adem benerrrr… Beruntung siang itu, saya juga tidak perlu antri jadi langsung saja.

Spa House Novotel Bali
Tampak Depan Tempat Spa-nya

Teras Spa Novotel

IMG_0275
Itu ranjangnya dan di balik tirai itu buat berendam nanti

Memasuki kamar yang tentu saja dengan wangi aromaterapi khas Bali yaitu bau kayu cendana membuat cuaca siang di luar yang terik sama sekali tidak terasa. Hawa sejuk dari mesin pendingin dan interior kamar yang artistik membuat saya agak rileks.

Setelah berganti pakaian saya tiduran di sebuah ranjang khusus spa. Mbak-mbak yang siang itu memijat saya tidak terlalu suka ngobrol sepertinya. Obrolan hanya terjadi satu arah. Oke, saya memilih menikmati pijatan mbak-nya saja sambil menahan rasa kantuk yang amats angat. Berusaha menikmati setiap detik waktu yang sudah dibayar mahal Pak Suami. Wkwkwkwkwkwkwk…

Selesai spa, saya kemudian berpindah untuk badan saya dipanaskan. Seperti masuk ke dalam mesin cuci yang isinya uap panas. Uap panas tujuannya membuka pori-pori kulit agar bahan lulur meresap paripurna ke dalam kulit dan maksimal bekerja. “Panasnya booo…” Sumpah gerah banget. Lamanya waktu itu lima belas menit saja.

Selesai badan saya di uap, kemudian saya diminta berendam di kolam busa yang terletak di luar dibataskan sebuah pintu yang merupakan akses langsung ke tempat pemandian. Syahhhh pemandian. 🙂 Beralaskan langit dan dikelilingi tanaman bambu yang menutupi dinding. Seolah sedang mandi di tengah hutan. Aduh rileks banget pokoknya. Seolah masalah dalam hidup terhempas begitu saja. Hehehehe.

Bathtub Spa

Tidak terasa, satu setengah jam yang bisa saya sebut sebagai rekreasi jiwa dan raga ini seslesai. Saya lumayan puas dengan layanan spa hotel ini siang itu.

Berenang-berenang Cantik di Kolam Bareng Bule-bule

Swimming Pool Novotel Bali
Swimming Pool nya keren banget

Bali Novotel HOtel Swimming Pool

Menjelang sore, selesai spa saya menggeret Zaki untuk bergerak. Malas untuk fitnes atau lari, kami memutuskan untuk berenang saja. Iya, berenang. Sambil sesekali leyeh-leyeh di pinggir kolam minum jus semangka dan makan kentang goreng.

Sore itu kolam renang ramai dengan keluarga bule yang kalau saya dengar dari logatnya kebanyak bulek Australia sih. Ya ampun anak-anak kecil dah pinter-pinter banget berenang. Serunya lagi mereka ramah banget. Menyapa saya ketika bolanya terlempar ke arah saya dan tersenyum manis.

Menikmati Sarapan Pagi yang Agak Mewah

Kapan lagi sarapan mewah kalau nggak di hotel. Bintang lima lagi, Hehehe. Makanan enak dan pemandangan taman hotel yang bermandikan matahari pagi itu, perpaduan yang sempurna.

Uhm… akhirnya berakhirlah pengalaman menikmati hotel mewah buat saya. Seru, meski saya tahu gak ada sesuatu di muka bumi ini yang benar-benar gratis. Kemewahan yang dibayar mendengarkan ocehan marketing dan mengikhlaskan waktu kami di Bali untuk mendengarkan marketing jualan produknya.

Happy diajakin liburan meski singkat banyak cerita
Happy diajakin liburan, meski singkat banyak cerita

Puncaknya, ketika kami ingin kembali ke Jakarta, dan fasilitas antar ke bandara yang tidak disediakan pihak hotel. Pihak hotel bilang itu tanggung jawab biro perjalanan yang meski satu grup mempunayi manajemen yang terpisah dari hotel. Oke baiklah, malas berdebat kami kembali pesan taksi online untuk ke bandara. Di bandara pesawat kami harus rela delay karena  bersamaan dengan Raja Salman meninggalkan Indonesia. Plus buku “Lembaran-lembaran Pelangi” nya Nila Tanzil yang sedang saya baca tertinggal di bandara.

Kalau sudah begitu, kira-kira, saya untung apa rugi sih??? Auk ah… Sudahlah apa-apa jangan di hitung-hitung untung atau rugi. Paling penting semua memperkaya pengalaman dan  ada bahan buat nulis blog. Wkwkwkwkwk.

IMG_0395
Pemandangan di Bandara Ngurah Rai

 

 

One thought on “Staycation di Hotel Bintang Lima di Pulau Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s