Jakarta-Surabaya Part 2 (Semarang-Surabaya) Nyobain Jalan Tol Baru :)

Apa Kabar Semarang? Jalan-jalan Pagi dan Mencari Sarapan

Melanjutkan kisah perjalanan kami yang akhirnya menginap di Hotel Pop belakang Lawang Sewu, alhamdulillah kami bisa tidur pulas. Mungkin karena capek yah. Iyah yang capek bukan saya sih, Zaki. Hihihihi. Saya waktunya tidur ya tidur. Misal tidur siang, atau setelah makan mengantuk.

Meski demikian, kalau lagi roadtrip begitu, sebelum tidur baiknya tanya ke rekan yang bawa mobil. “Kamu ngantuk gak?”, “Aku boleh tidur gak?”, Nah kalau dijawab gak ngantuk, lalu diizinkan tidur, baru saya tidur sih. Soalnya bukan apa-apa. Kalau mengantuk lebih baik kan kami istirahat dulu, atau kalau sedang di tol yang jalannya lurus, biasanya saya akan tahan-tahanin untuk menemani Zaki nyetir. Jalan tol yang lurus dan mulus yang memang baru kan banyak nih sekarang. Itu bikin ngantuk Pak supir kadang, jadi mau gak mau, sebagai partner yang baik, ya harus temani. Mengobrol apa kek, setel lagu lalu karaokean bareng juga asyik loh. Itu yang kami lakukan kemarin. Makanya sebelum perjalanan, siapkan lagu-lagu untuk teman di perjalanan.

Kembali melanjutkan kisah perjalanan kemarin ya. Pagi-pagi Zaki harus buka laptop, kemudian saya minta izin untuk keluar hotel. Berjanji untuk tidak jauh-jauh. Lagipula ini kali keberapa saya ke Semarang. Letak hotel di pusat kota dan di belakang Lawang Sewu, juga sepertinya saya hanya akan berkeliling Lawang Sewu saja. Di luarnya ya, karena kalau masuk, ya belum buka juga sih jam 7 pagi.

Kami yang tidak memilih sarapan di hotel, ketika keluar hotel saya langsung bertanya ke Pak Satpam yang sudah berganti. Maksudnya bukan satpam yang mengantar kami ke kamar itu loh. Beliau merekomendasikan di samping kiri hotel ada sebuah warung nasi. Warung nasi kecil dengan spanduk yang sudah lusuh bertuliskan Warung Mak’e. Meski kecil, dan tempatnya tidak menarik, tapi menu masakannya lumayan ramai (bermacam-macam) dan enak.

Benar saja, ketika saya melewati warung Mak’E, antrian pembeli cukup banyak. Mereka adalah pekerja yang mau berangkat ke kantornya. Ternyata, di depan hotel saya adalah sebuah pusat perbelanjaan.

Saya memutuskan untuk memilih berjalan-jalan dulu saja sebelum membeli sarapan. Trotoar di Semarang bagus sekali. Lebar dan nyaman untuk pejalan kaki. Pagi itu lalu-lintas belum terlalu ramai. Saya melewati Lawang Sewu, dan melihat beberapa petugas kebersihan sedang membersihkan pelatarannya.

Sepanjang trotoar tidak ada yang berjualan. Beda dengan Jakarta. Meski di jalan utama terkadang ada saja pedagang dengan motor atau sepeda yang menjajakan makanan untuk sarapan. Seperti bubur ayam, nasi uduk, roti bakar, bahkan buah segar. Akhirnya saya rindu Jakarta. Hehehehe. Tetapi itu yang membuat trotoar di Semarang bagus. Lebar, terlihat rapi dan bersih. Sangat enak bagi pejalan kaki. Meski ya trotoarnya pagi itu sepi dengan pejalan kaki.

Berbelok ke kiri untuk kembali ke hotel, saya melewati kali kecil, dan ada tempat pembuangan sampah kota. Gerobak sampah berbaris. Ada beberapa petugas kebersihan memilah sampah. Aromanya kurang enak. Saya kagum melihat mereka. Bekerja setiap hari dengan sampah. Hidup membuat mereka harus bekerja, meski saya rasa mereka tidak suka. Semoga banyak rejeki ya Ibu-ibu dan Bapak-bapak. Pahlawan keluarga.

Sebelum kembali masuk hotel, saya akhirnya membeli nasi bungkus di warung Mak’e. Seperti biasa, saya merindukan sayur mangut khas Semarang yang ternyata juga ditemukan di setiap daerah di pesisir utara Jawa ini. Dua porsi sayur bayam, sebungkus nasi dengan mangut ikan pari, kering tempe, dan sebungkus lagi dengan telor dadar untuk Zaki. Mak’e memberi bonus teh tawar hangat dan saya hanya membayar 23 ribu untuk semua makanan yang saya beli. Murah yah…

Sarapan
Sarapan Nasi Mangut Pari

Pagi itu warung Mak’e masih saja ramai oleh pembeli. Mereka yang ingin mengisi tenaga sebelum bekerja. Padahal saya mau ngobrol banyak sama Mak’e wanita yang kira-kira berusia 50-60 tahun dibantu seorang gadis muda yang menghidangkan minum bagi pembelinya.

Ah nanti saya mengganggu, jam ini jam sibuk di warung Mak’e. Mak’e bahkan sempat bertanya ke saya, “Sampeyan, kerja di hotel ini tho?” tanyanya. “Oh, nggak Bu, saya dari Jakarta. Cuma menginap saja kok, mau ke Surabaya. Makasih ya Bu.” Saya pamit dan harus segera kembali ke hotel. Zaki pasti sudah menunggu. Kami harus segera melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Jika lancar, kami akan tiba sore hari saat matahari terbenam.

Menikmati Kerennya Jalan Tol Bawen-Salatiga

Jam 09:00 pagi kami Chek-out dari Hotel Pop menuju Surabaya. Rute yang dipilih kali ini kami memilih melewati jalan tol terindah di pulau Jawa atau di Indonesia, saya gak tauk juga sih. Iyah, jalan tol Bawen-Salatiga. Yeayyy…

Lagi-lagi kami perlu ke toilet dan berhenti di rest area tol tersebut yang masih di masuk wilayah Kabupaten Semarang. Masih pagi, masih sepi pengunjung. Toiletnya bersih sekali. Gratis lagi. Berjalan ke bagian belakang toilet, kami disuguhi pemandangan alam nan ciamik. Subhanallah keren banget. Pemandangan pegunungan khas pedesaan kami nikmati. Tak kalah menarik juga mesjid di rest area tersebut. Masjidnya bagus, megah, dan besar. Sayangnya kami gak masuk. Kami memilih berfoto saja, dan kembali melanjutkan perjalanan.

Bergaya di rest area Tol Bawen-Salatigasekali-kali selfieee….

Jalan Tol Bawen-Salatiga
Jalan tol Bawen-Salatiga

Keluar tol Salatiga, kami memasuki jalan biasa, yaitu jalan antar provinsi. Kadang melewati hutan jati, atau ketika kami melewati daerah Sangiran ada museum fosil purbakala. Sayangnya Zaki gak mau mampir. Hiks. Ya gimana ini kan kerja ya, bukan jalan-jalan, jadi harus sampai di Surabaya segera. Zaki janji, setelah pekerjaan beres, nanti kita baru menikmati perjalanan dengan mampir-mampir. Baiklah, seertinya saya harus mengerti. Hihihihi.

Meski agak bete karena gak bisa mampir ke objek wisata yang kami lewati, saya cukup menikmati perjalanan kali ini. Kami melewati Pondok Modern Gontor yang cukup megah di daerah Ponorogo. Saya hanya mendengar saja tentang Pondok Pesantren Modern Gontor ini, kali ini saya melewatinya. Pondok tersebut terdapat di beberapa tempat, ada khusus laki-laki dan wanita yang terpisah.

Makan Siang di Madiun

Hari beranjak siang. Saya akui, jalan provinsi di Jawa Timur lebih bagus dan lebih besar dibandingkan Jawa Tengah. Perut mulai teriak minta diisi. Kami mau mencicipi pecel madiun ketika memasuki daerah Madiun, tetapi kok warung makan di daerah itu banyak yang tutup. Apa mungkin mereka hanya buka di akhir pekan? Saya tidak tahu. Akhirnya karena perut sudah lapar, kami berhenti di sebuah warung makan di daerah perbatasan Madiun dan Ngawi yaitu Caruban. Tepatnya di depan Kantor Kepala Desa Purworejo. Nah kan sama nama daerahnya seperti sebuah daerah di Jawa Tengah.

Kantor Kepala Desa Purworejo-Caruban
Kantor Kepala Desa yang sudah sepi

Siang itu sekitar jam 14:30 kantor kepala desa sudah sepi. Begitu pula dengan sekolah dasar di dekatnya. Siang itu hanya ada anak-anak sedang bermain sepeda. Mungkin mereka sudah pulang sekolah. Ketika saya tanyakan ke Ibu warung, kenapa kantor kepala desa sudah sepi? “Memang sudah bubaran mbak jam segini.” jawab si Ibu. “Wah senangnya… ” spontan saya berkata demikian.

Bandingkan dengan mereka yang bekerja di kota besar seperti saya. Jam segitu, mungkin baru memulai kerja dengan disposisi dari Bu Bos hasil rapat, yang kemudian harus diselesaikan hari itu juga. Tak jarang harus pulang jauh melewati jam kerja seharusnya. Jam 21:00 bahkan lebih. “Ya itulah bekerja di desa. Santai, gak ngoyo kayak orang kota.” tiba-tiba Zaki mengeluarkan celetukan. Iyayah, apa sebenarnya yang dicari dari pulang malam dari kantor? Apa yang di dapat? Oke, kapan-kapan kita bahas di lain waktu.

Makanan sudah tersaji di meja, dan kali ini saya lapar berat. Apa daya pecel Madiun tidak ada, adanya pecel lele. Berhubung lapar, sikattt… Hehehe.

makan siang pecel lele dan rawon

Nyobain Jalan Tol Baru Mojokerto-Surabaya

Oh iya, kemudian kami masuk tol lagi di Mojokerto yang belum lama diresmikan kemarin. Ya ampun, itu jalan tol mulus banget, bagus pula.

Sebenarnya sih, kenapa Zaki mau roadtrip sampai ke Surabaya pun ya karena sudah ada jalan tol yang menyambungkan Jakarta-Surabaya. Iyah belum jadi semua kok. Tapi ini membantu banget. Merasakan betapa pembangunan terjadi di negara ini. Setahu saya pembangunan waktu itu adanya di era Pak Harto dan kemudian entah kenapa semua orang atau petinggi negeri ini terlalu disibukkan dengan urusan politik yang gak jelas buat saya. Ya mungkin demikian prosesnya. Pokoknya saya happy banget lihat pembangunan yang benar-benar nyata adanya.

Ini Tol Mojokerto
Jalan Tol Mojokerto yang baru diresmikan September 2017 kemarin

Tiba-tiba kami memasuki sebuah keriuhan jalan. Kemacetan lalu-lintas. Oh ternyata lampu merah. Motor saling berdesak-desakan maju ke depan, hingga mobil kami yang mau belok ke kiri sulit sekali belok. Untungnya ada Bapak yang baik hati memberi aba-aba, sehingga kami bisa belok dengan mulus, meski di celah yang sempit. Ya, akhirnya kami tiba di Surabaya, tepat ketika orang-orang pulang bekerja. Kembali ingatan kami ke Jakarta. “Gokil, Surabaya persis banget Jakarta pas jam pulang kantor gini.” sumpah serapah mulai keluar dari mulut Zaki. Hahahaha. Welcome to Surabaya. 🙂 But Surabaya is more beautiful than Jakarta because of the park i think. Yess. Bersambung ke next post yah cerita di Surabaya dan perjalanan kembali ke Jakarta yang pastinya  lebih seru.

Advertisements

Road Trip Jakarta-Surabaya 1 (Jakarta-Semarang)

Memasuki minggu-minggu terakhir libur kuliah akan segera usai. Nah sebelum waktu berlalu begitu saja, mari kita stock tulisan banyak-banyak. Mengingat semester ini sepertinya akan sangat menggila. Hahahahaha.

Sebenarnya ini adalah perjalanan dinas suami yang tertunda, tapi alhamdulillah saya masih libur jadi masih bisa ikutan. Berhubung waktu yang luang, kami memutuskan untuk mencoba membawa kendaraan sendiri. Waktu itu pernah juga sih, kami bawa mobil sampai Yogyakarta yang kemudian ada trip Semarang dan Cirebon. Udah ditulis di sini belum yah ?

Eh udah nih ternyata :

Menjelajah Wisata di Semarang dan Sekitarnya

Hahaha yang Cirebon malah belum. Nantilah ya, kalau mood. Hehehe.

Jadi kami berangkat Senin 15 Januari 2017 jam 11:00 dari Bekasi. Kemudian transit di KM 39 untuk sholat Zuhur. Perjalanan kami banyak sekali transitnya sih, maklum faktor usia, jadi sebentar-sebentar mau ke toilet. Keberuntungan menghinggapi ketika kami bermaksud untuk ke toilet di daerah Tegal. Saya yang lupa belum menjamak sholat merasa senang bisa mampir di SPBU Muri Tegal atau SPBU Muri Shinta Irawaty.

Salah Satu Lorong di Toilet SPBU Muri Tegal
Barisan pintu toilet di SPBU Muri Tegal

Mengapa dinamakana SPBU Muri? Ya karena mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia sebagai SPBU dengan toilet terbanyak, yaitu 67+40 toilet bersih. Beneran banyak banget, meski agak bikin gimana gitu, karena sore itu pengunjung sepi. Mungkin ramai kalau musim mudik lebaran atau liburan panjang sangat bermanfaat. Barisan pintu kamar mandi yang kosong siang itu seperti sebuah misteri buat saya yang emang orangnya rada penakut. Untung siang dan terang. Hehehehe.

Tidak hanya toilet bersih, di SPBU itu dilengkapi ruang istirahat lengkap dengan ranjang yang disewakan 40 ribu per 8 jam, fasilitas pijat, tempat makan, sampai kolam renang. Buat yang membawa anak-anak yang sudah mulai bete dalam perjalanan bisalah buat hiburan nyemplung ke kolam renang dulu.

 

 

Puas berkeliling SPBU ini, kami melanjutkan perjalanan dengan target akan bermalam di Semarang sebelum melanjutkan perjalanan sampai ke Surabaya.

Kami berhenti di SPBU untuk Sholat Maghrib di daerah Kendal sebelum memasuki Semarang. Pokoknya target tidak mau terlalu malam melewati daerah Alas Roban yang sempat terkenal agak “menyeramkan” buat pengemudi yang belum terbiasa. Alhamdulillah aman-aman, meski suasana gelap ketika melewati hutan jati tersebut ditemani rintik hujan yang lumayan lebat.

Oh iyah, kok gak makan siang? Di SPBU KM 39, kami beli siomay dan saya membawa bekal nasi, lauk ayam, dan capcay sisa makan di rumah  semalam. Ketika matahari terbenam, perut mulai keroncongan, kami memutuskan makan malam di daerah Gringsing, Kendal di rumah makan Nyoto Roso. Sepanjang daerah Gringsing sepertinya terkenal dengan rumah makan yang menyajikan makanan khas berupa ayam kampung goreng.

Malam itu, kami memesan ayam kampung goreng, sayur asam bening yang beningnya seperti sayur bening. Isinya hanya labu siam, kacang panjang dan tomat, bening. Sekali lagi bening pemirsa. Saya agak shock lihat sayur asem seperti sayur bening soalnya. Hahaha. Zaki seperti membutuhkan tenaga tambahan, juga memesan sop ceker ayam kampung.

 

Selesai makan dan melihat-lihat ternyata rumah makan ini sudah cukup lama. Untuk meyakinkan pelanggan ada sertifikat halal dari pihak yang berwenang yang diberikan kepada rumah makan tersebut.

Di dinding juga terdapat foto saat rumah makan tersebut baru dirintis sekitaa dua puluh lima tahun yang lalu. Berawal dari sebuah rumah kecil, hingga menjadi rumah makan yang besar dengan area meja kursi dan lesehan yang bisa menampung seratus pengunjung.

Bagaimana rasanya? Enak. Sambal terasinya juara. Pedas dan khas terasi. Ayam gorengnya pun lezat. Meskipun ukurannya mini seperti ayam kampung pada umumnya, tapi bumbunya pas asinnya. Kesegaran sayur asem bening pun begitu menyegarkan hangat dan segar di tengorokkan, menghangatkan suasana dingin malam itu. Sop cekernya pun enak, gurih dan pas rasanya.

Sebagian menu di RM Nyoto Roso

Menu yang kami pesan di RM Nyoto Roso

Kami kemudian booking hotel di Semarang, dan memutuskan untuk menginap di Hotel Pop Semarang. Kira-kira jam 20:30 Zaki membangunkan saya yang pulas tertidur setelah kekenyangan. “Bangun, bangun, sampai di hotel nih.” Dengan setengah sadar, saya membuka mata dan mengumpulkan nyawa. Berpikir, apa saja yang akan kami bawa ke dalam, mengingat bawaan kami yang banyak. Iyah, saya bawa buah-buahan sisa di kulkas, sampai blender buat nge-jus. Kami memutuskan pesan hotel dengan harga tanpa sarapan. Hehehehe. Kenapa? Karena kami sudah pernah mencoba sarapan di hotel Pop Yogya dan yakin, sarapan di warung makan pinggir jalan sekalipun di Semarang jauh lebih enak.

Memasuki lobi hotel, saya cukup senang dengan design interior loby hotel tersebut. Anak muda sekali, kekinian sekali, instagenic sekali, pokoknya baguslah. Agak mengejutkan lagi, ternyata hotel tersebut baru dibuka tiga hari yang lalu sebelum kami menginap. Wow, seru nih. Hotel baru, asyik, pasti semuanya bagus. Gumam saya dalam hati.

 

Kami di antar ke kamar dibantu Pak Satpam. Kok Pak Satpam? Iya, mungkin karena hotel baru yah, bell boy-nya belum ada. Jadilah Pak Satpam yang baik hati mengantar kami hingga ke kamar. Sambil membantu mebuka pintu kamar, Pak Satpam berucap, “Selamat istirahat Bapak dan Ibu, silahkan, pemandangan hotel langsung menghadap ke Lawang Sewu?” sambil tersenyum. Kemudian saya, “What??? Syerem dong.” Langsung bergegas ke jendela dan membuka tirai, “Ohmoooo…” saya dan Zaki sontak tertawa terbahak-bahak.

Pemandangan dari Kamar Hotel
Pemandangan dari Kamar Hotel, Bangunan Lantai 2 Lawang Sewu dan Bangunan Sebelah Hotel yang Kosong Sisa Kebakaran

Untuk hotelnya sendiri bagus kok, so jangan khawatir. Pagi-pagi pemandangannya bagus dan pelayanannya memuaskan.

 

Baiklah sampai di sini cerita perjalanan kami, besok kami akan lanjut ke Surabaya dan akan saya ceritakan di post berikutnya.

Senyumin Aja, Meski Ku Suka Manyun Juga :)

Tulisan ini saya tulis, ketika ada sebuah kompetisi apalah waktu itu dan lumayan masuk 10 tulisan terbaik. Meski katanya mau dibukukan, tapi sampai sekarang belum juga tuh. Hehehe. Ya sudahlah biar saja, yang penting saya jadi produktif menulis lagi.

Ini sebuah cerita salah satu perjalanan hidup saya yang lumayan seru. Berawal dari seorang teman yang curhat waktu nilainya kurang bagus saat kuliah S2 ini, dan mengeluhkan keadaannya yang harus sekolah sambil bekerja. Meski katanya sekolah dibiayai orang tua, tapi gak enak kalau resign. Kalau teman-teman cerita begitu, saya jadi ingat kalau saya pernah di kondisi seperti mereka. Kuliah sambil bekerja. Kenapa? Ya harus, kalau gak kerja, dari mana saya bayar kuliah? 🙂

Kalau mengingat kondisi waktu itu, rasanya sulit sekali saya membayangkan saya bisa sampai di titik hidup saya sekarang (belom apa-apa juga sih) tapi saya bersyukur banget banget, kalau melihat perjuangan saya yang bahkan menyelesaikan S1 ajah kok harus huuuuu haaaahhhh sekali. Cuma satu ajah sih, yakin keadaan bisa berubah hanya saya dengan sekolah. Demi keluarga, dan orang tua. Itu tiga cuyyyy… Hihihi… plis jangan ketawa bacanya.

Mau Kuliah Lagi Setelah Selesai D3

“Pak, aku maunya sih, sekolah lagi. Lanjutin S1, seperti teman-temanku si Rahma, Rifqy, dan Santi.” Curhatku ke Bapak siang itu, ketika sudah hampir dipastikan saya akan segera menamatkan kuliah saya di Politeknik Kesehatan Jakarta II Jurusan Farmasi.

Tiga tahun sudah akhirnya saya berhail menamatkan pendidikan di sana. Buat saya itu tidak mudah. Bukannya tidak suka, tetapi sepertinya kemampuan otak kiri saya semakin berkurang seiring dengan usia. Agak terengah-engah buat saya untuk bisa lulus mata kuliah ilmu pasti seperti Matematika, Fisika, ataupun Kimia. Tetapi, kalau sudah masuk mata kuliah berkenaan dengan obat dan fungsi saya bisa lebih mudah menerimanya dengan menggunakan logika berpikir. Menurut saya lebih mudah dibayangkan.

Waktu itu Bapak hanya menjawab, “Memangnya biaya untuk kuliah berapa? Tahun ini Bapak sudah pensiun lo.”  Sambil matanya menatap keluar jendela di ruang tamu.

“Ya sudah Pak, saya mau coba kerja saja. Nanti nabung sendiri buat lanjut S1.” Saya menutup pembicaraan dengan mencari jalan terbaik yang saya bisa. Padahal dalam hati saya sangat iri dengan teman-teman yang bisa melanjutkan kuliah. Mereka mendaftar di sebuah perguruan tinggi negeri program ekstensi di bilangan Depok, Jawa Barat. Tetapi saya buru-buru membuang jauh rasa iri itu. Ini mungkin jalan saya. Ingat, saya waktu itu memutuskan memilih program D3 Farmasi agar bisa selesai tepat waktu saat Bapak pensiun. Selain itu, agar cepat dalam mendapat pekerjaan. Jadi ya terima saja, toh waktu itu cita-cita saya, sesederhana itu. Ingin membantu ekonomi keluarga.

Bertepatan dengan saya menamatkan sarjana muda saya, bapak pensiun. Bersamaan pula dengan adik saya lulus SMU. Saya tidak boleh egois. Adik saya harus kuliah juga. Meski Ibu bekerja, pendapatan Ibu tidak seberapa untuk membiayai kuliah adik saya.  Uang pensiun Bapak tentu tidak cukup untuk membiayai saya melanjutkan sekolah ke jenjang strata satu yang tidak murah.

Tabungan? Jangan ditanya. Kami bukan keluarga berlebih yang mempunyai tabungan pendidikan, dana cadangan atau apalah seperti istilah perencana keuangan yang sedang ngetren saat ini. Bapak seorang Pegawai Negeri Sipil yang hanya tamatan SMU, belum ada yang namanya tunjangan kinerja, di tempat Bapak juga tidak ada dinas keluar kota. Ibu bekerja di Balai Kesehatan Masyarakat sebagai pegawai administrasi yang gajinya dicukup-cukupkan untuk biaya hidup kami, terutama sekolah.

Kami bisa sekolah melanjutkan kuliah, mungkin dengan pinjaman dari koperasi tempat Ibu bekerja. Kami makan seadanya dan hampir tidak pernah jajan makan di luar. Meski Ibu bekerja dan harus berangkat jam 05:30 setiap hari Senin-Sabtu, Ibu selalu menyiapkan sarapan pagi dan bekal kami untuk makan siang. Sepulang kerja jam tiga sore, Ibu langsung memasak, kadang juga menyetrika pakaian. Waktu itu kami sudah bisa membantu membersihkan rumah dan mencuci pakaian.

Diterima Kerja Pertama, Senangnya

Alhamdulillah adik saya diterima di Universitas Negeri Jakarta. Doa Ibu dan Bapak juga membuat saya bisa dengan mudah diterima disebuah industri farmasi di daerah Cikarang, Jawa Barat. Buat kami yang hanya lulusan D3, diterima bekerja di industri farmasi, merupakan suatu kebanggan tersendiri. Apalagi waktu itu saya belum resmi di wisuda. Teman-teman saya masih berjibaku mengirimkan surat lamaran kesana kemari, alhamdulillah saya sudah dapat pekerjaan.

Pendidikan saya yang hanya D3, tidak bisa membuat saya langsung bekerja sebagai karyawan tetap. Saya terikat kontrak dengan status “KKWT” alias “Karyawan Kontrak dengan Kesepakatan Waktu Tertentu. Untuk percobaan, saya dikontrak selama satu tahun. Kelanjutannya akan dinilai oleh atasan langsung. Apakah saya akan diangkat menjadi karyawan tetap ataukah saya diputus kontrak, yang berarti saya akan jadi pengangguran.

Semangat fresh graduate yang ingin membuktikan kemampuan, saya bekerja dengan giat. Lokasi kantor yang di luar kota, membuat saya harus datang pagi-pagi buta dan pulang saat matahari tenggelam. Belum lagi adanya shift yang mengharuskan saya pulang jam dua dini hari jika saya mendapatkan shift kedua. Satu lagi, jika produksi sedang tinggi, kadang kami juga melakukan long shift. Jam 7 pagi sampai jam 7 malam atau dibalik, jam 7 malam sampai jam 7 pagi. Seperti zombie rasanya waktu itu. Pagi hari tidur, malam hari harus bekerja. Belum lagi tuntutan dari atasan saya yang lumayan tinggi buat pemula seperti saya. Menurut beliau, di sini kami harus bekerja, bukan belajar, karena di sini kantor bukan universitas. Aduh, kalau ingat itu kadang suka senyum-senyum saja sih.

Meski terasa berat, saya tetap menjalani pengalaman kerja pertama saya dengan fun. Pertama, saya senang sekali, bekerja di industri farmasi, karena ilmu yang saya pelajari bisa benar-benar diaplikasikan. Bahkan ilmu saya tambah banyak. Belajar dari para senior dan apoteker-apoteker yang menurut saya mereka semua jenius sangat cinta pada dunia farmasi. Teman-teman di kantor juga hampir seusia. Beberapa kali kami mengadakan jalan-jalan bareng seperti ke Bandung dan Anyer. Pokoknya bahagia deh.

Hingga pada suatu hari, kontrak saya akhirnya diselesaikan, karena atasan langsung saya sepertinya kurang puas dengan kinerja saya. Entahlah mungkin ini saya yang salah. Saya tidak cepat beradptasi. Tapi akhirnya saya terima saja. Berat sekali hidup saya waktu itu. Setahun sudah bekerja lalu menjadi pengangguran lagi dan serasa kembali ke titik nol.

Sepertinya Sudah Lelah 

Mulailah saya mencari-cari pekerjaan lagi seperti baru lulus kuliah. Setiap minggu mengirimkan paling tidak sepuluh amplop melalui PT. Pos, pergi ke warnet mengecek situs pencarian kerja, dan berlangganan koran setiap akhir pekan.

Satu bulan menganggur, akhirnya saya diterima bekerja di sebuah Apotek di bilangan Pondok Gede. Gajinya tentu saja sedikit lebih rendah. Tetapi cukup besar untuk kelas Apotek waktu itu. Pengalaman saya bekerja di Apotek pertama kali, dinodai dengan paraktik kecurangan Apotek tersebut. Hati nurani saya berontak. Bagaimana tidak, saya harus mengganti obat pasien dengan generik, tetapi memberi harga dengan harga obat bermerek. Itukan sama saja dengan menipu. Sudah mereka sakit, membeli obat dengan harga yang tidak murah, eh kok saya malah mencurangi. Hanya satu bulan, saya pun mengundurkan diri, dan diterima bekerja di sebuah Apotek jaringan di Menteng Jakarta Pusat.

Saat bekerja di Apotek jaringan ini, saya bekerja dua shift. Shift pagi jam 08:00 hingga15:00 dan shift siang jam 14:00 hingga jam 21:00. Waktu yang fleksibel, terlintas di pikiran saya untuk kembali ke bangku kuliah. Setelah meminta izin teman-teman dalam pengaturan shift.

Akhirnya Kuliah Lagi, S1

Saya sadar, hanya pendidikan yang bisa mengubah nasib saya. Kalau pendidikan saya hanya D3, akan selamnya saya menjadi bawahan. Akan selamanya saya tidak mempunyai jenjang karir jika bekerja di bidang farmasi.

Berbekal tabungan saya yang pas-pasan, saya nekat mendaftar kuliah. Tabungan saya cukup membiayai kuliah saya selama 2 semester. Saya mengambil kuliah di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jurusan Farmasi. Alasan saya memilih kuliah disitu yang pertama karena lokasinya tidak jauh dari rumah saya. Kedua, waktunya bisa fleksibel, bisa pagi dan sore hari. Dengan begitu tidak mengganggu jam kerja saya.

Jika saya bekerja masuk pagi, sore hari saya langsung ke kampus. Kuliah hingga jam delapan malam. Sebaliknya jika saya kerja siang, maka jam tujuh pagi saya sudah di kampus. Belum lagi tugas, kuis, dan ujian yang tidak ada toleransi meski bekerja. Sering saya mencuri-curi waktu di Apotek jika sepi pengunjung untuk belajar atau mengerjakan tugas. Kuliah farmasi juga disibukkan dengan praktikum. Mengerjakan jurnal sebelum praktikum dan membuat laporan sesudahnya. Buat saya itu luar biasa. Sepertinya otak saya diminta tidak berhenti selama empat belas jam.

Perjuangan akan lebih berat jika ujian tiba. Pernah saya terlambat datang ujian karena kereta atau pun lalu lintas macet. Jarak apotek dan kampus lumayan jauh. Di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Pernah saya menangis, ketika paginya saya kuliah, lalu siang bekerja. Pulang malam, naik kendaraan umum lalu turun hujan dan badan basah kuyup. Waktu itu saya merasa Tuhan tidak adil. Kenapa harus saya, teman-teman saya tidak susah-susah amat seperti saya untuk bisa menyelesaikan S1. Waktu itu yang membuat saya tambah sedih, ketika Ibu ikutan menangis. Ibu selalu sabar menunggu saya di rumah. Hanya bisa menghibur saya dengan kata-katanya. “Kamu harus kuat Rin, inikan maunya kamu. Kuliah sambil bekerja.” Biasanya Ibu bilang begitu, saya makin kencang menangis dan langsung ambil air wudhu buat sholat dan mengadu ke Tuhan.

Saya harus kuat, perjuangan ini belum selesai. Sering saya berpikir untuk tidak bekerja saja dan fokus di kuliah. Tetapi dari mana nanti saya bayar kuliah, darimana untuk membeli pulsa. Jauh-jauh dari mall deh. Beli buku pun hanya sebatas buku kuliah. Tidak ada pos untuk membeli novel yang menjadi bacaan favorit.

Meski saya bekerja, saya tetap mengusahakan agar Indek Prestasi Kumulatif saya lebih dari tiga. Berbagai jalan saya lalui. Berusaha bergaul dengan teman-teman yang hanya fokus kuliah untuk mencari informasi bahan kuliah ataupun kumpulan-kumpulan soal menjelang ujian. Pokoknya meski sibuk kuliah tidak boleh asal-asalan. Bagaimana bisa untuk modal melamar kerja jika nilai IPK saya jelek.

Tidak selesai di urusan kuliah dan bekerja, ternyata ada lagi ujian di hidup saya. Apotek jaringan tempat saya bekerja dinyatakan bangkrut. Menurut saya sih karena salahnya manajemen. Tetapi entahlah saya tidak tahu menahu urusan itu. Saya kemudian pindah bekerja di Apotek di Kali Malang. Lucunya pembayaran gaji di sini dicicil  Tidak sampai satu bulan saya mengundurkan diri dan pindah ke sebuah rumah sakit di Bekasi.

Alhamdulillah diterima CPNS

Diantara carut-marut pekerjaan dan kesibukan kuliah, saya iseng-iseng menguji nasib untuk ikut tes CPNS di sebuah Kementerian. Mungkin waktu itu Tuhan sudah lelah mendengar tangisan dan keluhan saya, dan setelah melalui tes di Stadion Utama Senayan, saya dinyatakan lulus. Alhamdulillah, waktu itu tidak bisa digambarkan bagaimana bahagianya Ibu saya. Mungkin ini semua atas doa beliau.

Saya akhirnya bekerja di  Kementerian sambil menjalani  kuliah saya yang  tinggal dua mata kuliah dan tugas akhir alias skripsi. Meski pekerjaan saya cukup membuat saya nyaman, ternyata justru disinilah saya mengalami kesulitan mengatur waktu. Pekerjaan saya mengharuskan saya sesekali bertugas ke luar kota. Kalau sudah begitu, berat sekali untuk harus izin kuliah. Di lain sisi, di kantor saya masih anak baru yang belum punya hak suara, apalagi menolak perintah.

Di saat semangat kuliah yang menurun padahal tinggal selangkah lagi, tidak lelah Ibu memberi dukungan agar semua perjuangan saya kemarin tidak sia-sia. Terhitung satu tahun lamanya saya mengerjakan tugas akhir alias skripsi. Untuk menyelesaikan skripsi, saya mempunyai rekan yang tidak kalah sibuknya dengan saya. Positifnya kami bergantian memberikan motivasi. Pokoknya harus selesai. Ini tinggal sedikit lagi. Kalau melihat semua yang sudah kami lakukan dalam kuliah dan bekerja, sangat tidak rela jika kuliah ini tidak selesai.

Waktu itu, alhamdulillah saya juga punya kesibukkan baru, yaitu menyiapkan pernikahan. Calon suami yang sekarang sudah menjadi suami saya, juga ikutan direpotkan. Menemani saya di laboratorium sampai malam, ataupun ikutan wira-wiri menemui dosen pembimbing. Alhamdulilah akhirnya saya sidang dan dinyatakan lulus. Waktu itu hanya bisa bilang alhamdulillah dan akhirnya selesai juga.

Setahun lulus S1, saya kembali melanjutkan pendidikan profesi Apoteker di perguruan tinggi yang sama. Seperti dejavu, aktivitas pagi hari bekerja, sorenya kuliah hingga malam berulang. Kali ini ditambah mengurusi rumah tangga.

Pendidikan profesi tidak hanya belajar di bangku kuliah tetapi ada Praktik Kerja Profesi (PKP) di Rumah Sakit, Apotek, dan Instansi. Ketika PKP di Rumah Sakit selama 10 hari dan Apotek 1 bulan, hampir setiap hari saya harus naik taksi atau ojek dari kantor agar tidak terlambat.

Tidak terhitung biaya,waktu, dan tenaga yang dikorbankan. Apakah itu semua demi gelar? Buat saya perjuangan yang dilalui tidak sesederhana demi sebuah gelar. Saya haus akan ilmu dan orang tua saya yang selalu mengingatkan, kalau mereka tidak pernah bisa memberi apa-apa selain membekali saya ilmu. Iyah, sekolah. Ibu dan Bapak akan melakukan apa saja agar saya dan adik bisa terus sekolah.

Pendidikan D3 saya membuat saya terpacu untuk melanjutkan ke S1 dan ketika sudah selesai S1, alhamdulillah Pak Bos di kantor mendukung untuk saya nyambi kuliah  program profesi Apoteker. Alhamdulillah selesai dengan nilai yang lebih memuaskan dibanding S1 🙂

Lima tahun setelah Apoteker, alhamdulillah dapat rezeki buat lanjut S2. Kali ini gratis dibiayai negara. Bersyukur sekali rasanya.

Oh iya, waktu itu, tema tulisan ini untuk lomba dengan tema perjuangan demi gelar. Kalau buat saya sekarang, apalah arti gelar yang kita miliki jika tidak diiringi dengan peningkatan akan manfaat kehadiran diri kita di dunia. Pekerjaan saya kali ini mungkin tidak begitu mengaplikasikan praktik langsung ke masyarakat, tetapi dengan ilmu yang saya miliki, saya masih bisa menjawab jika keluarga, teman, ataupun kerabat yang bertanya sedikit tentang obat.

Saya tidak pernah menyesal dengan semua yang saya lalui. Saya bersyukur bisa bekerja di industri, apotek, dan rumah sakit dengan segala suka duka ceritanya. Saya beruntung dan lebih mudah dalam menjalani kuliah profesi, karena saya sudah pernah terjun langsung. Saya beruntung dengan segala yang saya lalui, itu yang menempa saya dan membuat saya tidak cengeng. Yah sesekali cengeng boleh lah :).

Semua perjuangan tersebut semakin menguatkan saya. Saya ingat ketika dalam berdoa saya tidak minta untuk dimudahkan urusan, saya hanya minta Tuhan menguatkan saya. Menjadikan saya pribadi yang kuat dan tidak cengeng dalam menjalani semua takdirnya. Seperti salah satu ayat alquran favorit saya. “Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.”

Buat teman-teman yang masih pusing dengan sekolah, skripsi atau apalah itu, yakin, semuanya akan lewat dan akan tersenyum pada waktunya.

Tersenyum di Ha Long Bay
Senyumin Ajaaa

 

 

10 Hal, Ketika Saya Kembali Jadi Mahasiswa

Hai hai blog… apa kabar? Saya kangen banget nulis hal-hal yang receh gak pakai mikir nih. Alhamdulillah nyolong-nyolong waktu buat nge-blog, meski UTS di depan mata. Disela-sela kebosanan memandang layar laptop yang selalu bahan kuliah. Hihihihi…

Tulisan ini di draft ketika menjelang Ujian Tengah Semester coba. Berhubung menggilanya tugas dan belum ada fotonya kemudian diundur-undur dan ini saya edit ketika sudah liburan semesteran coba. Hehehehe. Baiklah kita langsung sajah.

Bukannya saya gak bersyukur yah, tapi proses transisi dari kehidupan yang awalnya sudah nyaman dengan hanya kerja dan mengurus rumah tangga, ke kehidupan kuliah yang segudang tugas, kuis, presentasi, dengan limit waktu yang terbatas, membuat saya seperti kekurangan waktu dalam sehari. Agak berlebihan memang, tapi ya memang demikian. Belum lagi saya anaknya yang memang tidak terlalu kompetitif, agak lemot,  dan terhitung santai. Hihihihi.

Perubahan ritme hidup perlahan harus saya bisa kendalikan kalau saya tidak mau kalah oleh keadaan. Halah. Apasih. Iyah mau gak mau saya harus memecut diri saya, untuk lebih semangat, giat, dan mencoba tetap menikmati kehidupan yang dengan sadar sudah saya pilih ini. Iyah alhamdulillah saya dapat tugas belajar dari kantor kuliah S2 di Depok sana. Insyaallah kalau lancar sekitar dua tahunan lah ya…

Berikut ada beberapa hal yang berubah dalam hidup saya, ya kira-kira bisa dibilang sebagai suka dan duka yang saya rasakan dalam masa transisi kembali menjadi mahasiswa :

1.Janji Mau Nge-blog Seminggu Satu Kali Tinggalah Janji Belaka

Tampilan beranda scele (web kampus UI)
Berikut halaman wajib yang harus rajin ditongkrongin selama ini. Menggantikan wordpress.

Jadi ya, waktu awal kuliah itu, kan saya dapat jatah libur satu minggu dua hari, yaitu Senin dan Kamis. Nah, hari-hari libur itu mau saya optimalkan dengan meningkatkan produktivitas blog saya. Awalnyalah saya mau bikin jadwal topik, sampe harus rajin nge-draft.

Eh ndilalah, setelah kuliah berjalan, lah kok ya, tiap mata kuliah itu selalu ada tugas. Tugasnya itu ndak Cuma menjawab soal begitu, tapi ya nulis. Topiknya apa? Beuh jangan ditanya, topiknya bsurd banget buat saya yang memang tidak terbiasa menulis topik-topik berat. Palagi cara penulisan harus ilmiah dan jangan sampai ketahuan plagiat. Harus cermat melihat sumber dan menuliskannya kembali ke dalam tulisan. Kalau ketahuan plagiat, bisa dilumat abis sama Dosennya. Hihihihi.

Belom lagi yah kalau sudah dibuat dalam bentuk tulisan ya nggak dengan enaknya pun ngumpulin. Ya harus dibuat power point-nya untuk dipresentasikan. Belum lagi sebelum dipresentasikan harus di acc oleh dosennya dulu. Bayangin harus ngejar dosennya, nungguin dosennya belom benerin revisi. Sementara itu tugas gak cuma satu mata kuliah jendral.

Bagaimana dengan materinya? Karena menurut dosennya ini kami mahasiswa S2 gak perlu banyak-banyak dikasih materi. Jadi kami hanya dikasih masalah lalu disuruh menganalisa dan menelaah. Ya ampun, pokoknya semua harus dipikirin dan bisa dipertanggungjawabkan. Ya kalau salah atau gimana gak papah sih, namanya belajar, tapi ya siap-siap agak malu aja kali yah.

Selain mata kuliah yang macam itu, selalu menganalisa dan membuat tulisan, adalagi mata kuliah yang bobotnya cukup besar mau masukin ke dalam otak saja, susahnya minta ampun-ampunan deh. Belum lagi setiap pertemuan kuis dan kuis, presentasi dan presentasi.

Iyasih, tiap minggu memang saya produktif menulis, produktif sekali. Itu nulis untuk tugas kuliah tapinya. Topiknya buanyak banget. Kalau saya tulis di blog, aduh bisa bosan nanti bacanya.

Dalam hati kecil saya sih, saya masih mau banget berusaha menjaga ke-istiqomahan blog saya meski apapun itu yang saya tulis. Liburan? Aduh nanti dulu lah. Semoga libur semester nanti saya bisa liburan dan menulis tentang traveling yang seru banget itu.

Nah rajinnya jadi rajin nongkrongin web kampus buat melihat tugas apalagi gerangan yang akan menghampiri. Hehehe. Soalnya suka mengejutkan mepet-mepet gitu sih.

2. Mata Suka Bergetar dengan Sendirinya

Awalnya saya suka aneh kenapa ini mata sebelah kanan suka bergetar sendiri. Buka-buka primbon kok malah aneh. Hehehehehe Ternyata hal tersebut termasuk gejala mata lelah. Misalnya terlalu banyak menatapa layar komputer atau hape. Iyah tubuh saya pun sebenarnya memberikan sinyal cukup bagus untuk saya agar jangan lupa istirahat.

3. Jarang Update Instagram tapi Sering Curhat di IG-Stories

IG Stories Wahyu Eka Arini
Berikut contoh curhat dan nyinyir saya lebih tepatnya di IG stories. Hihihihi

Buat saya feed Ig saya itu ya foto-foto traveling saya atau foto yang bagus seputar perjalanan yang bercerita. Nah kalau yang model kuliah begini diceritain fotonya kek mana yah? Sepertinya semua orang kok yah mengalami.

Memang sih saya jarang banet posting di IG yang isinya curhat tentang keseharian atau daily activity. Males ajah. Maunya itu yang ceritanya seru. Seru buat saya itu ya cerita liburan atau kehidupan, gak melulu tentang keluhan kayak yang sering terjadi belakangan. Makanya saya upadate di IG stories ajah yang usianya cua 24 jam gak perlu dilihat-lihat lagi. Memang gak penting soalnya. Uhmmm…

4. Jarang Masak Apalagi Moto Masakan Kemudian Upload di Sosmed

Pisang Nugget Nutella
Iya meski jarang masak di hari kuliah. Weekend kadang masih iseng bikin cemilan kekinian. Penasaran soalnya.

Padahal kan yah, namanya lagi sering di rumah, gak ngantor, idealnya kan masak yah sebagai isteri yang baik. Kenyataannya, sekarang kalau bangun tidur abis shubuh langsung buka laptop. Sampai di rumah sore bebersih, langsung buka laptop. Mana sempat masak. Kalaupun sempat masak, ya kemudian langsung dimakan sampai lupa garnish ini itu buat dipajang di IG. Udah keburu lapar soalnya. Hihihihi…

5. Jam Tidur Berubah Lebih Malam

Kalau ketika kerja saya abis isya bisa leyeh-leyeh nonton TV di sofa ataupun sekedar menikmati the art of doing nothing. Nonton film favorit atau menertawakan apapun itu, sampai akhirnya ketiduran, sekarang beuh boro-boro deh. Pulang kuliah langsung buka laptop, sampai mata bergetar itu tadi batasnya. Maksimal saya hanya kuat sampai jam 23:00. Lewat dari situ, bukannya mata yang gak bisa melek, tapi otak pun sudah enggan diajak berpikir. Badan udah gemeretek. Mau gak mau, biar gak jadi sakit, harus tidur. Setel weker jam 4 biar gak kesiangan Shubuh-annya.

Dari zaman masih sekolah sampai kuliah di tiga tempat, sumpah belom bisa yang namanya begadang. Mungkin saya penganut aliran Bang Oma sejati. Begadang jangan begadang. Meski ini ada artinya. Emang gak kuat sih. Hihihi… Makanyah nilai akademis saya standar. Mungkin memang perjuangan saya kurang yah… gak kaya rang-orang ituloh. Minum kopi bercangkir-cangkir demi nilai A. Saya mah… gimana besok sajalah, wong badan minta ditidurin kok. Piye dong. Walhasil IP yang penting cukup buat ngelamar kerja, jadi PNS. Payah banget jangan ditiru lah.

6. Sudah Jarang Baca Novel

Rini di depan Rektorat UI
Jarang ke toko buku baca novel, tapi masih berusaha bahagia, dengan bersepeda keliling kampus 🙂

Yaelah… kok gimana yah. Selama bergelut kuliah, saya kangen banget sama yang namanya membaca novel. Palingan yah blog walking di hape aja sih.  Dua bulan ini ditahan-tahanin biar gak beli novel, gak ke Gramedia. Padahal Gramedia tinggal kepleset dari kampus. Mau bekal buku apa gitu buat di jalan aja kok yah merasa kayak aku selingkuh dengan dunia kampus. Nanti kualat. Gak bisa jawab kuis. Iyah, bukannya baca buku kuliah wong mau UTS atau kuis malah enak-enak baca buku apa itu.

Huhuhu segitunya yah saya… Tapi kemarin nekat dong, gak ada dosen, saya pun pergi ke Gramedia dan dapat empat buku. Satu novel, satu bukunya Gita Savitri, satu bukunya Paulo Coelho dan yang terakhir buku buat siraman rohani yang berjudul Me+Good = Enough. Hahahhaha. Mungkin saya takut depresi jadi mulai mencari self healing melalui bacaan yang saya baca itu. Kemudian dalam waktu  dua minggu sudah selesai tiga buku. Hihihihi. Itu ditahan-tahanin sih soalnya. Kalau gak bablas.

7. Jarang Belanja Online

Mie Yamin Cijantung Kopasus
Ini mie yamien enak bangettttt….

Alhamdulillah ini mah yah. Berusaha menurunkan nafsu belanja hal-hal yang gak penting. Fokus pada kebutuhan yang benar-benar penting selama kuliah. Budget belanja jadi budget buat beli es kopi dan makanan. Hahahahaha sama ajah dong itu mah. Beneran sih. Alhamdulillah bisa menahan dari godaan sale jilbab di IG ataupun baju-baju lucu. Duitnya buat beli es kopi biar bisa ganjel mata yang ngantuk-an ini. Sesekali jajan mie yamin endeus di Cijantung pas pulang kuliah mampir ke rumah Orang Tua. Itu dah bikin bahagia banget. Hihihihi

8. Kecanduan Kopi

Kolary Kopi
Andalan ketika kuliah tiga SKS, biostatistika pula dan kemudian dosennya minta tambahan waktu karena kemarin beliau gak masuk 😦

Iyah jadi ceritanya gini, ada teman sekelas di mata kuliah yang super duper menuntut fokus tinggi yaitu Biostatistika yang punya warung kopi gitu. Plusnya lagi, beliau pun mantan barista dan orang Gayo. You know what i mean kan yah… Kopi Gayo itu memang kopi premium, gak bisa dibandingin sama kopi sachet-an itu kan yah.

Beneran dong aduh itu kopinya bikin nagih banget. Belum lagi yang manisnya pun gak terlalu, kopinya tebal, agak asam, dan ampuh banget buat saya. Ampuh maksudnya bisa bikin mata melek. Itulah why kopi sachet gak berpengaruh di saya. Buat saya kopi sachet itu seperti air gula warna coklat. Iyah, manis ajah kebangetan, no effect to my body beside can make my blood sugar rate higher, I think. Hihihihi sorry not sorry nih.

9. Cuek Rumah Berantakan

Awalnya tuh yah, pengen banget tiap hari bisa nyapu dan mengepel. Kalau bisa lagi bikin-bikin DIY hiasan rumah yang lucu-lucu gitu kaya para selebgram. Kenyataannya, keinginan hanya tinggal kenangan, dan kupun malas sekali. Sampai kadang di kuat-kuatin ajah cuek lihat rumah kayak kapal pecah.

Suami untungnya gak komplain dan maklum banget sama isterinya yang lagi khusyuk ngerjain tugas. Malah dia yang lebih aware misalnya kerangjang cucian kotor sudah penuh dan dengan sukarela memasukkannya ke mesin cuci. Iyah, Suamiku yang nyuci deh. Ya Allah… nikmat mana lagi yang kau dustakan. Makasih banget dikasih suami yang gak risih mengerjakan pekerjaan rumah. Alhamdulillah

10. Mengenal Karakter Teman Lama dan Teman Baru

Kebijakan Hukum Kesehatan 2017
Teman-teman satu perjuangan di satu peminatan Kebijakan Hukum Kesehatan

Untuk yang ini agak lumayan panjang dan sepertinya bisa ditaruh satu judul sendiri sih yah… hahahaha. Dasar julid saya mah yah, sukanya mengomentari kelakuan manusia. Eh nggak, maksudnya dengan begitu kita bisa belajar kan yah. Belajar mengenali watak manusia yang sangat beragam. Bukannya dengan demikian makin menambah kekaguman kita sama Allah, kalau semua itu cipataanNya yang mau tidak mau, suka tidak suka kita harus bisa hidup berdampingan. Hehehehe…

Sekian curhatan saya yang sangat tidak berfaedah ini. Seneng ajah, akhirnya saya bisa nulis lagi yang gak melulu isinya tugas kuliah. Cuma curhatan sih, gak penting buat yang baca, tapi penting banget buat saya untuk membuat saya tetap sehat secara mental. Wkwkwkkwkwk…