Pumping di Ruang Menyusui Kantor Bikin Insecure?

 

perlengkapan pumping di kantor
perlengkapan pumping di kantor 🙂

Terhitung September 2019, saya kembali ke kantor. Usia Azzam sudah 10 bulan lebih. Alhamdulillah masa-masa perjuangan drama kejar-kejaran ASIP karena si bayi Cuma bisa minum ASI telah terlewati. Azzam sudah memasuki fase MPASI (Makanan Pendamping ASI). Alhamdulillah sudah makan ini itu, tidak bergantung dengan ASI. Lucunya lagi karena kelamaan DBF (Direct Breastfeeding), Azzam jadi lupa nikmatnya mimik memakai dot. Hihihihi. Jadilah mimik ASIP pas ditinggal Ibu pakai gelas yang ada sedotannya. Seharian ditinggal Ibu, Azzam biasanya habis 100-200 ml saja. Biasaya mimik ASIP di jam snack, 1-2 jam sebelum atau sesudah makan.

Bagaimana stok ASIP di kulkas setelah Ibu masuk kerja? Alhamdulilah ada, meski tidak berlimpah ruah seperti Ibu-ibu yang suka posting ASIP satu freezer tersendiri. Rencana saya, saya mau kasih ASIP segar ke Azzam. Insyaallah dengan dua kali memompa di kantor, kebutuhan masih bisa terkejar.

Saya berkantor di Kementerian Kesehatan, yang sudah jelas pasti ada dong ruang amenyusui. Ruang menyusui yang terbilang lengkap dengan fasilitasnya dan tentu saja nyaman. Sofa besar yang bikin ngantukable, pompa ASI grade hospital, sterilizer, kulkas, wastafel tempat cuci botol, sampai pemberian makanan tambahan untuk Ibu menyusui. Lengkap pokoknya. Ruangannya tentu sjaa ber-AC dengan lampu penerangan yang tidak terlalu terang dan dinding ber-wallpapaer.

Sebagai pendatang baru, kemudian saya didaftakan ke grup WA Ibu Perah. Wow rame sekali, asyik nih. Belum lagi ceriita dari teman-teman saya serunya memompa ASI di ruang menyusui. Bisa sambil ghibah sesama busui ketika memerah dan katanya bisa menghasilkan hormon oksitosin yang bisa melancarkan dan meningkatkan produksi ASI. Wah, sepertinya akan menyenangkan. Begitu istimewanya posisi Ibu-ibu menyusui ya, alhamdulillah. Ya gimana gak istimewa semua sudah ada aturannya kok dalam Peraturan Menteri Kesehatan. Kumplit. Standar ruang menyusui di gedung perkantoran.

Eh tapi, saya baru ngeh, kok ada ya, teman saya, di ruangan yang males buat memompa di ruang ASI. Kemudian ingatan saya muncul pada hasli penelitian tugas kuliah waktu itu. Iyah, saya dengan kelompok membuat tugas melakukan penelitian kualitatif terhadap motivasi Ibu menyusui yang bekerja untuk memberikan ASI ekslusif, yang lokasinya di Kementerian Kesehatan. Hihihihi biar gak ribet-ribet ye kan? Penelitian di kantor sendiri.

Hasilnya? Apakah semua Ibu bekerja di kantor saya melakukan ASI ekslusif? Jawabannya ternyata tidak. Karena ini bukan penelitian kuantitatif, maka  kami mencari informan yang sekiranya dapat mewakili mengapa Ibu tersebut tidak memberikan ASI ekslusif. Padahal fasilitas di kantor kumplit. Dengan adanya Permenkes, seharusnya semua pegawai di kantor memahami kondisi Ibu menyusui. Didapatlah salah satu alasan karena ASInya tidak banyak. Banyak teori yang bilang ASI itu tergantung permintaan. Jadi ya rajin-rajinlah memompa.

Ada yang gak enak dengan bos kalau sering izin dan pekerjaan terbengkalai, dan ada juga yang merasa insecure kalau lihat hasil perahan Ibu-ibu lain jadi males buat memerah di ruang pumping. Pasrah dan sudahlah kasih sufor saja. Ya gak papah juga sih.

Jadi gimana dengan saya? Apakah dengan fasilitas yang bagus dan lengkap saya jadi semangat memompa? Asi jadi deras? Jawabannya ya dan tidak. Awalnya sih iyah, saya semangat sekali, sampai suatu ketika Ibu-ibu yang memang mungkin tidak dengan sengaja memperlihatkan hasil perahan mereka yang jumlahnya bisa 3-4 kali dari hasil perahan saya. Waduh… yang tadinya saya cuek, kemudian jadi ciut. Insecure. Kemudian yang awalnya PD gak pake apron (alat penutup dada) jadi besoknya pake apron atau ditutupin jilbab botol hasil perahannya. Nuang ke botolnya pun malu-malu. Duh jangan sampai deh kelihatan Ibu-ibu lainnya. Yang awalnya ingin ngobrol jadi males. Walhasil ngaruh ke psikologis, hasil perahan makin surut, karena ya TIDAK HAPPY. Wkwkwkwk.

Besoknya saya memutuskan untuk pumping di kubikel saja. Awalnya saya malu, tapi kemudian ya maap-maap ya… ketutupan kok. Pake apron kok, aman, tetap sesuai syariah. Sambil ngemil, sambil nonton youtube, sambil kerja kadang. Ya bebas lah. Gak lihat hasil perahan Ibu-ibu lainnya. Kelar, langsung masukin kulkas. Cuci pompa biarlah urusan nanti di rumah saja.

Baru sadar, di ruang menyusui memang ada beberapa tipe Ibu-ibu memerah. Salah satunya ya itu. Ada yang pake apron, ada yang cuek bebek saja. Kemudian ku menarik kesimpulan, kalau mereka yang memakai apron sepertinya seperti diriku. Insecure gak mau dilihat kalau hasil perahan ASInya tidak banyak. Iyah, soalnya nanya juga saya sama salah satu dan salah dua Ibu-ibu. Tentunya dengan cara bertanya yang gak menghakimi. Lah, orang senasib kan. Hehehe.

Ya udah, saya sekarang kadang pumping di kubikel, kadang di ruang pumping. Ya emang salah saya juga dapat teman pumpingnya yang ASInya banyak. Terus gak PD-an. Kepo maksimal juga. Padahal yah, seberapun dapatnya ya disyukuri aja. Yang penting hasilnya cukup buat anak kita kan. Soalnya ada, Ibu-ibu yang Asinya buanyak, tapi anaknya gak mau minum ASIP. Padahal dia sudah mencoba berbagai media pemberian. Walhasil hasil perahannya itu buat mandi. Hehehehe. Lalu untuk apa dia memompa? Ya itu tadi kan anaknya masih dbf. Jadi biar stok ASInya tidak habis karena selalu ada permintaan.

Tapi ya Ibu-ibu, percayalah Ibu itu insyaallah yang terbaik buat anaknya. Apapun keputusan yang dipilih Ibu, pasti mengutamakan anak. Meskipun si Ibu malas pompa, yang terpenting si Ibu bahagia. Gak kayak saya yang insecure-an dan kemudian makanya saya memilih yang membuat saya bahagia dengan pumping di kubikel. Yah sayang sih gak dapat makanan tambahan. Ah sudahlah, jajan ajah banyak kok kang jajan di kantor. Hahahhaa.

Semoga semua anak-anak di Indonesia bahagia karena sang Ibu bahagia dengan apapun pilihannya ya. Aamiin.

Hasil perahan di kubikel
hasil perahan di kubikel today 🙂 100 ml alhamdulillah

29 Oktober 2019

 

 

 

 

Balada Chat Group di Hape

Setiap membaca sebuah tulisan dimanapun itu, seringkali saya terinpirasi mengiyakan atau membantah, tetapi dasar otak saya gak mau berhenti untuk memikirkan tulisan-tulisan yang kebetulan nempel itu.

Ya, saya harus menyuarakan apa yang ada di kepala saya ini, kalau gak mau otak saya memanas dan kemungkinan akan meledakkan isi kepala saya. Kalian boleh bilang saya lebay. Memang saya lebay. Hehehe.

Postingan Bahagia

Kali ini saya ingin menanggapi tulisan seorang selebtwit yang pernah mentuit seperti ini : “Gue pernah keluar dari sebuah grup wa yang isinya hanya pamer kebahagiaan.”

Kemudian gue berpikir, bagaimana dengan wa grup yang ada di hape gue yah? Apa iyah juga banyak yang begitu? Lalu saya merenung. Sebenernya bukan grup wa doang sih, sebagian besar sosial media yang kita miliki kebanyakan isinya pamer kebahagiaan.

Tetapi, memangnya kita punya hak untuk men-cap mereka pamer kebahagiaan? Siapa tahu tujuan mereka ingin membagikan bahagia ke teman-teman yang ada di grup itu. Iyakan? Lalu kita harus apa? Ya sikapilah dengan senyum. Lalu ikutlah seolah-olah bahagia. (((Seolah-olah bahagia))) Jangan-jangan. Itu sama saja kamu pura-pura bahagia. Lebih baik tanggapi singkat sudah, gitu aja. Terlalu berpura-pura juga gak bagus buat psikologis. Hahahhaha.

Pamer bahagia memang gak boleh yah? Boleh aja sih, gak papah. Doakan saja setiap pamer bahagia, nular ke yang dipamerin. Buat yang selalu dipamerin, silahkan berdoa dalam hati semoga kebahagiaan mereka menular ke teman-teman satu grup. Sesekali sirik dan merutuk bolehlah. Hahahahahaha.

 

Pertemanan dalam Sebuah Grup Chat Hp

Ngomong-ngomong soal bagaimana kagetnya gue ketika melihat postingan di sosmed teman dekat dan tentu saja satu grup chat di hp, yang isinya bikin gue teriak (meski dalam hati) “WOWWWW…” Gimana nggak. Disitu gue mearasa gue bukan seorang teman yang baik. Gue ternyata sebegitu tidak mengenalnya teman yang gue anggap ketika itu “dekat” sama gue.

Dekat dalam arti itu gue betah berlama-lama ngobrol sama dia. Betah berlama-lama sharing pikiran, ide, atau pendapat tentang apapun dengan dia. Tetapi, ketika gue melihat sosmednya, dan kemudian gue kaget, apakah gue kemudian akan menjauhi dia atau menjaga jarak? Ya tentu tidak dong. Dia tetap akan menjadi teman baik gue. Loh, memang dalam sebuah pertemanan apa harus selalu apa-apa seiya dan seirama? Boro-boro pertemanan yang banyak beda asal-usul. Nah sedarah aja banyak bedanya kan kadang.  Jadi ya gue harus berbesar hati menerima dia seperti itu. Toh gue juga bukan manusia yang sempurna.

Di zaman yang makin gila karena sosmed, entah itu berita benar atau nggak. Mari kita sikapi semua dengan bijak. Di sebuah chat group di hp misalnya. Bikin grup awalnya karena satu pemikiran tentang hobi dan punya visi misi sama. Kemudian diisi dengan postingan-postingan kekinian (baca:pilkada, pilpres or politik-politik apalah) yang sering muncul di sosmed. Seringnya yang ada kalimat “Jangan berhenti di kamu.” atau “Sebarkan” bawa-bawa agama pula.  Aduh, apakah itu yang nge-share sudah yakin 100% itu benar, lalu apa yang ada di kepala satu grup itu sama terus? Apa kita tidak boleh berbeda pendapat. Kalau berbeda apa kita harus left chat terus gak temenan?

Selama ini sih gue memilih diam dan berusaha gak nanggepin, alias nyuekin ajah. Kecuali emang yang udah berlebihan, gue baru keluar dari grup. Lagipula gue orangnya malas diskusi yang berdebat-debat kemudian bikin grup jadi krik-krik.

Begitupun di sosmed, gue gak cuma follow mereka yang satu pemikiran loh. Gue follow semua aliran, semua pilihan. Tujuannya apa? Biar hati gue terbiasa melihat bahwa di dunia ini banyak perbedaan. Tidak selalu sama. Lalu bagaimana hati gue menyikapi perbedaan itu. Ya tersenyum saja. Memang Tuhan menciptakan kita demikian, tidak semua sama persis, plek-plek. Lah suami isteri ajah sering beda pendapat kok. Itu sah-sah banget.

Dan kemudian ketika gue menanggapi sebuah postingan seorang selebtwit yang isinya begini : “Siapa aja yang bisa follow nereka yg tidak sejalan sepemikiran demi melihat dari sudut pandang lain? Tanpa bermaksud menghardik? Bisa? @pinotski

Kemudian gue quote : bisa dong, semua difollow biar bisa lihat dari segala sudut pandang, dan kalau gak sepaham, senyumin ajah.

Yeah thats me. Kemudian dibalas lagi sama dia : Kalau ada satu kubu yang agresip ngamuk ngamuk ya senyumin aja. Mungkin lagi nyambut gawe.

Wkwkwkwkwkwk. Gue percaya teman gue murni gak nyambut gawe dari yang begituan.

Jadi buat kamu-kamu yang suka memancing di air keruh, silahkan. Semoga gue makin gak kepancing. Dicuekin aja, toh kalian teman gue. Teman baik, dan gue gak mau kehilangan teman cuma gara-gara kita beda pilihan dalam memandang suatu hal. But, yang harus kalian pikirkan adalah, gak semuanya pendapat dan pemikiran kita sama. Alangkah baiknya berpikir sebelum jari jemari berbicara.

Tulisan ini gue dedikasikan buat mereka yang suka broadcast masalah kekinian di grup pertemanan dan mengira teman-teman di satu grup itu sepaham dengan kalian. But its okey, Keep it rock guys 🙂

 

Jatiasih, 4 Februari 2017

 

Sebuah Cerita tentang Ibu-ibu Hebat di Kota Tua dan Megahnya Mesjid Agung Jawa Tengah (Masih di Semarang)

Sebenarnya tulisan ini sudah nangkring di draft blog saya sejak dua bukan yang lalu, ketika saya melakukan perjalanan Yogya-Semarang-Cirebon. Punya waktu di Semarang hanya satu hari dan Kota Tua Semarang adalah pilihan kami berikutnya setelah Lawang Sewu. Sengaja ingin posting tulisan ini dalam rangka hari Ibu.

Mengunjungi kota tua karena ya itu lagi, lihat postingan di IG. Saya IG mania? Ya boleh dibilang begitu. Meski follower saya gak banyak, tapi saya banyak dapat ilmu di IG. Hehehe, mari kembali ke laptop. Kami tiba di kota tua tepat pukul dua belas siang. Matahari emang lagi lucu-lucunya. Ternyata suhu siang itu mencapai tiga puluh enam derajat celcius.

Mobil kami parkir tepat di depan Taman Sri Gunting. Keluar mobil, ampun panasnya. Kami langsung mengambil duduk di taman yang merupakan tempat paling nyaman siang itu. Gimana nggak. Pohon rindang, semilir angin dan pemandangan kota tua seperti Gereja Blenduk, Kafe Spiegel, dan deretan penjaja barang-barang unik di Pasar Seni benar-benar bikin adem.

Ikon Kota Tua Semarang

Kota Tua Semarang
Lalu Lintas di Kota Tua

Gedung Bersejarah Spiegel
Gedung Spiegel

kota Tua
Taman Kota Sri Gunting

Awalnya saya bermaksud ngubek-ngubek Kota Tua, mencari objek foto-foto yang keren, eh tapi baru jalan sedikit ke arah kafe Spiegel, aduh panasnya gak tahan. Akhirnya ya duduk ajah di depan Taman Sri Gunting, sambil menikmati semangka dari penjaja buah dan gorengan dengan gerobak dorong. Murah meriah, semua yang dijual di dalam gerobaknya harganya seribu rupiah. Wah panas-panas terik begini paling cocok memang ngemil semangka. Siang itu saya membeli semangka dan papaya. Lima ribu saja semua. Padahal awalnya saya berharap Zaki mengajak masuk ke Kafe Spiegel yang ber-AC dan menikmati segelas cappuccino dingin. Tapi harapan tinggal harapan. Hahahhaha. Makan buah lebih sehat kan? Halah. Ngeles.

Taman Kota Sri Gunting

Taman Kota Bagai Oase di Tengah Kota Semarang yang Panas Terik

Ketika saya ingin mengambil foto taman dari sudut Pasar Seni, ada si dua Ibu-ibu yang sedang duduk terlihat canggung melihat kamera saya mengarah ke mereka. Lalu saya tersenyum ke mereka. “Eh gak papah Bu. Duduk saja,” Saya menenangkan. Kemudian saya menghampiri mereka. Ikut duduk-duduk menikmati Semarang yang sukses membuat peluh saya terus mengalir. Iseng-iseng saya ngobrol deh sama dua Ibu-ibu itu.

Sebut saja Bu Parni dan Bu Marni. Melihat dari kostum mereka saya menduga mereka petugas parkir di situ. Menggunakan rompi kuning dengan peluit tergantung di leher. Benar saja ketika ada bus pariwisata lewat, Bu Parni sigap berdiri dan memberi aba-aba untuk bus bisa parkir. Tapi Bu Parni kurang beruntung. Bus itu hanya lewat saja. Tidak berhenti di kota tua. Bu Parni kembali duduk dengan wajah yang tetap tersenyum. Mungkin dia menertawakan dirinya yang terlalu semangat, eh ternyata bus-nya tidak parkir.

Iseng-iseng saya mengajak kedua Ibu itu berbincang-bincang. Sudah bertahun-tahun mereka menjadi juru parkir di kota tua. Bekerja dari jam delapan pagi sampai jam dua belas malam. Rumah mereka tidak dekat, di pinggiran Semarang. Bu Parni yang berbadan agak besar mengaku mengayuh sepeda ontel dari rumahnya dengan perjalan 45 menit. Ia bekerja menjadi tukang parkir demi sang cucu yang berusia enam tahun. Anak Bu Parni sendiri sekarang sedang menjadi TKW di Hongkong. Meski sesekali kiriman uang datang, ia tidak betah hanya berdiam diri di rumah dan tidak menghasilkan apa-apa.

Lain lagi dengan Bu Parni. Bu Marni nenek lima orang cucu. Beliau bergantian menjaga parkir dengan sang suami. Mereka sebulan dibayar hanya tiga ratus ribu rupiah dari Pak Bos. Entah siapa Pak Bos yang dimaksud. Boro-boro mereka mengharapkan upah minimum regional. Mereka hanya berharap tips dari para pemilik kendaraan di situ. Paling senang kalau bus-bus besar atau bus pariwisata yang parkir. Biasanya tips yang diberikan lumayan besar.

Panas terik kota tidak mematikan semangat mereka. Kerja lebih dari lima belas jam sehari, beratap langit yang kadang hujan kadang terik, dengan bayaran tiga ratus ribu setiap bulan. Pendapatan mereka harus dibagi untuk menghidupi keluarga dan juga makan sehari-hari ketika bekerja. Mereka tidak kenal lelah demi cucu-cucu di rumah. Tidak malu atau gengsi meski mereka wanita. Mereka wanita-wanita perkasa. Pahlawan dalam keluarga.  Membayangkan bagaimana mereka setiap hari menjalani hidup, kok rasanya luar biasa yah. Dari jam sembilan pagi hingga jam sebelas malam. Badan rasanya kayak gimana ya? Ya, memang sejatinya setiap wanita memang diciptakan demikian. Pejuang dalam kehidupan.

Tiba-tiba saya ingat, masih punya sedikit yang bisa diberikan buat mereka. “Sebentar ya Bu, saya ada sedikit oleh-oleh buat Ibu-ibu. Dikit tapi ya Bu.” Kata saya. Kemudian bergegas ke arah mobil yang diparkir. Setelah saya memberikan sedikit oleh-oleh, si Ibu seketika tersenyum dan mengucapkan terima kasih yang panjang sekali. Berulang kali juga saya mengaminkan. “Terima kasih juga doanya Ibu-ibu. Semoga saya balik lagi ke Semarang, nanti kita ketemu lagi ya Bu. Semoga sehat terus ya Ibu-ibu. Salam buat cucu-cucu.” Kata saya menutup perjumpaan kami siang itu. Kemudian saya minta izin untuk kami foto bareng, dan kali ini Ibu-ibu tidak takut lagi dengan kamera. Sebulan kemudian saya balik ke Semarang, tapi malah gak sempat menemui mereka. Payah ya saya. 😦

Ibu-ibu Perkasa Penjaga Parkir kota Tua
Ibu-ibu Perkasa Penjaga Parkir Kota Tua

Dari Kota Tua, perjalanan kami lanjutkan untuk sholat Zuhur di Mesjid Agung Jawa Tengah. Namanya Mesjid Agung pasti besar dan bagus. Jadi destinasi yang sayang kalau dilewatkan.

Berbekal google maps kami menuju Mesjid Agung Jawa Tengah yang cukup besar dan luas. Sampai kami salah parkir. Bukan di tempat sholat tapi parkiran resepsi pernikahan. So, bisa sih, mampir numpang makan, tapi sayang gak kenal sama yang punya hajat dan kostum kurang representatif juga sih. Hihihihi.

Mesjidnya besar, ventilasinya bagus. Tetapi karena tidak jauh dengan pantai, so udara yang bergerak alias angin tetep ajah semilir hot gimana gituh. Bangunan dengan banyak ventilasi juga ternyata membuat burung-burung suka masuk ke Mesjid. Hati-hati yah pas sholat ada kotoran burung. Aduuh, gimana yah kalau gitu??

Penampakan Kemegahan Mesjid Agung Jateng

Penampakan Dalam Mesjid Agusng Jawa Tengah

Alquran Raksasa di Mesjid Agung Jawa Tengah
Alquran Raksasa

Puas berkeliling di dalam mesjid. Saya keluar dan bermaksud mencari lokasi yang pas untuk mengambil foto masjid secara utuh. Tapi susah, maklum bukan profesional. Pake drone kali yah baru sempurna. Eh tapi tunggu dulu. Di depan Masjid ternyata ada sebuah menara. Menara yang sepertinya belum jadi seratus persen. Di dalam menara yang sangat tinggi itu terdapat Museum Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Tengah di lantai dua dan tiga. Sejarah Islam di Jawa adalah proses perubahan atau proses alkulturalisasi atau perpaduan budaya dari masa Hindu ke Islam. Tidak heran banyak masjid-masjid lama di Jawa dengan arsitektur mirip dengan bangunan Pura. Untuk masuk ke menara AL Husna pengunjung dikenakan  tiket masuk tujuh ribu rupiah.

Selain Museum, kita juga bisa naik dengan lift hingga ke lantai 19 yaitu puncak menara. Dari puncak menara, kita bisa melihat pemandangan sekitar masjid dan pesisir Semarang. Bahkan hingga lautan lepas dengan teleskop. Kira-kira seperti di puncak Monumen Nasional. Angin bertiup sedikit lebih kencang di puncak menara.

Waktu itu si Zaki memilih makan di warung dekat parkiran mobil. Sedangkan saya ke atas menara. Hehehe. Prioritas kami beda. Dia mah urusan perut nomor satu. Kalau sudah begitu, ya udah ada waktu sebentar buat saya jadi solo traveler. Hore. Hihihihi.

Mesjid Agung Jawa Tengah
Dilihat dari depan Menara AlHusna

Kalau diperhatikan desain masjid ini seperti berkiblat ke Mesjid Nabawi di Madinah Arab Saudi. Keempat pilar payung yang bisa membuka dan menutup secara otomatis sesuai kebutuhan. Al-Husna Tower, apakah meniru Zamzam Tower di Mekkah Arab Saudi sana? Hehehe. Terinspirasi mungkin kali yah.

Menara Al Husna
Al Husna Tower

 

Mesjid Agung Jawa Tengah

Tidak lama saya di Al Husna Tower, saya menghampiri Zaki yang lagi-lagi asyik menikmati kupat tahu Semarang. Ya ampun padahal dari Lawang Sewu kami sudah membeli kupat tahu yang  kami makan di mobil ketika menuju Mesjid Agung. Satu bungkus berdua dan itu enak banget. Ada ceritanya juga, nanti deh ya diceritain. Soalnya si Bapak mau aja ngeladenin kami yang bawel tanya-tanya. Hehehehe. Bahkan saya iseng merekam perbincangan kami. Seperti bikin vlog ala-ala gitu.

Sebelum meninggalkan parkiran, saya membeli jus tomat. Sialnya, gelas jusnya bau kecoa. Belum habis jus, langsung saya buang. Bau kecoaknya itu loh, bikin pusing. Perjalanan kemudia kami lanjutkan. Tujuan kami berikutnya adalah Cirebon, kota perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Senja sore mengiringi kami menuju Cirebon. Perjalanan kali ini punya cerita tersendiri. Selain mengagumi destinasi bangunan-bangunan peningggalan Belanda, mengagumi kemegahan Mesjid Agung, belajar sejarah Islam di Jawa, dan bisa bertemu dengan Ibu-ibu hebat di Taman Sri Gunting. Bersyukur bisa belajar dari kisah hidup mereka. Perjalanan memang tempat pembelajaran yang tidak ada habis-habisnya. Jadi teruslah melakukan perjalanan dan teruslah jadi manusia pembelajar. Oh iya, selamat hari Ibu untuk semua Ibu-ibu hebat di dunia. Setiap Ibu diciptakan untuk menjadi pahlawan dalam kehidupan.

 

 

Just FYI… whats going on?

Yuhuuuu… long time no see.. my blog… :)))

After a Ramadhan n Iedul Fitri ampe belom pernah nulis lagi. Padahal banyak banget yang mau ditulis.

Punya Bos Baru

oke, akhirnya setelah sekian lama kosong, datang juga penghuni ruangan di depan meja gw. Iyah bos bauu… eh baruuu maksudnya. Kali ini cewek, Ibu-ibu, jawa tulen ningrat keraton kali yah?

Ntah gw doang apa banyak orang di ruangan mulai agak2 gerah sama kelakuan si Bos baru. Yah maklumlah. Tapi untuk orang selevel dia, kayaknya maklum itu harusnya diperkecil deh. Hehehehe…

Ya udah kita lihat aja sampe abis bulan ini, kayak gimana ya pola kepemimpinannya. Ya gw sih maunya makin baik, tapi… ah sudahlah kita liat aja nanti. Hehehehe

Dolar Melambung Tinggi dan Harga-harga Pada Naik

Okey ceritanya kita mau ulas dulu peristiwa terkini di negara kita tercinta Indonesia ini yah. Entah apa penyebabnya dolar menggila. Parahnya lagi… uhm… kita udah planning jalan-jalan keluar negeri dong. Meskipun ke negara tetangga ya… bikin pusing juga nih ngeliat dolar kek gini. Moso iye di sana kita ngegembel. Ah.. kita kan juga pengen happy dikit gitu loh. Ditunggu cerita nya abis dari sana yah. Semoga ajah gak kumat males nulisnya ya… hehehe.

Selain dolar yang melambung, harga2 juga pada mahal. Biasanya yang paling gampang naik ya harga barang konsumsi kayak daging sapi, daging ayam, semua mahal. Dan tauk gak ternyata kehebohan kubu pilpres kemarin berlanjut dong. Di medsos para haters mulai mengkritisi, menyinyir-i, dan seperti berjoget2 di atas kesulitan semua ini. Ya haters always gona be haters… biar jagoannya keliatan harus selalu ada haters dong ah… ya kan…

Perekonomian juga bisa dibilang lesu sih. Tapi gw masih optimis sama keadaan apapun di negara gw. (ya iyalahh…. emang mo tinggal di mana kalo gak di Indonesia). Tapi ingat aja selalu ada kemudahan dbalik kesulitan. Yakin ajah, kita bisa melewati semua ini dengan tetap semangat.

Ada CNN Indonesia

Iya ada stasiun tv baru di Indonesia namanya CNN Indonesia. Namanya CNN ya tauklah dia tv berita dan anchor nya kebanyakan alumnus tv2 yang keren2. Kayak mba Frida Lidwina idola gw dari kecil yg udah lama banget gak kelihatan, Desi Anwar juga ada… huhuhu… akhirnya masih bisa mengagumi mereka dari layar kaca.

Aduh kenapa yah suami eike ribut pengen liat tulisan dan baca tulisan gw. Kadang gw males moso hahahhahaa… aneh yah. Orang pengen banget diliat tulisannya eh gw malah males. Kadang ya gw pengen nulis aja. Tanpa ada orang yang tauk. Biar lega aja sih… Hehehehe

Udah ah segitu aja update terkini dari lingkungan sekitar… saya Wahyu Eka Arini melaporkan untuk ariniwahyu01wordpress hehehehhe…. (ala2 anchor di tv)

Upacara Sumpah Pemuda dengan Bu Menteri Terbaru…

Seusai Upacara Bu Menteri berfoto bersama petugas upacara dari P2Pl dan KKP Tanjung Priuk
Seusai Upacara Bu Menteri berfoto bersama petugas upacara dari P2Pl dan KKP Tanjung Priuk

Semangat Sumpah Pemuda…. 28 Oktober 1928

Setelah sehari sebelumnya Presiden Joko Widodo melantik para pembantunya di Istana, hari ini tanggal 28 Oktober 2014 memperingati hari Sumpah Pemuda. Seperti di kantor-kantor pemerintahan lainnya. Kantor gw juga pastinya melaksanakan upacara bendera.

Upacara kali ini terasa beda. Iyah beda karena tentu saja dengan bu Menteri yang baru. Ibu Nila Djuwita Anfasa Moeloek. Waw..gw penasaran banget sama Ibu yang satu ini. Cerita teman-teman yang udah lama disini, beliau bukanlah orang baru. Sang suami, Bapak Farid A. Moeloek pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan di era kabinet Reformasi Pembangunan. Sebagai isteri yang baik, beliau pun aktif di Dharma wanita Kemenkes. Meski tidak lama, tetapi Beliau banyak meninggalkan kenangan manis disini. Itu dia makanya gw penasaran sangat sama ini Ibu. Jiwa sosialnya tinggi, tidak haus akan materi, dan selalu ingin bermanfaat buat orang banyak. Buat staf di Kemenkes ataupun masyarakat yang kesusahan. Wanita keturunan Minangkabau kelahiran 65 tahun lalu ini terlihat sangat ke Ibuan, cantik sekali.

Di era SBY, beliau hampir saja diangkat menjadi menteri, tetapi akhirnya tidak jadi, jadinya Almh. Ibu Endang. Tapi jalan Allah memang luar biasa, akhirnya beliau sekarang berkantor disini juga, iya di Kemenkes.

Oke baiklah, mari kita lihat kayak apa sosok bu Nila ini yah,.. Apakah beliau bisa meninggalkan kesan yang bagus pada pandangan pertama??? syahilahhh…

Setelah beliau membacakan naskah teks pidato Menpora dalam rangka hari Sumpah Pemuda,  beliau pun menahan mic nya dan memperkenalkan diri… dan setelah gw menyeka air mata, gw mengeluarkan hape buat nge twitt kata-kata si Ibu pas sambutan, smape-sampe berdoa pun jadi gak khusuk. Iyah sumpah deh gw terharu banget sama sambutan perkenalannya Ibu ini.

Nih isi twitt gw tadi pagi :

Katakanlah gw lebay, tapi terharu bingits sama pidato nya bu menkes baru ini *sekaairmata*

Mari bekerja bukan untuk saya, bukan untuk anda… tapi untuk masyarakat yg belum merasakan kemerdekaan dalam kesehatan

“Maaf saya pakai tenda sedangkan kalian kepanasan. Ini ketidakadilan…” tetiba dong awan menaungi dan adem…

Sambutan pertama menkes, tanpa teks setelah bacain sambutan teks dari menpora. Memperkenalkan diri dan menyemangati

Semenjak gw disini, baru menteri in yg begini. Yg kemaren2, datar, adem, seringnya interaksi ngomelin peserta gak rapih

Keren kan bu Menteri gw, kalo gini gw mah mau dah rajin Upacara, demi menanti kata2nya yang penuh semangat. Hehehehe, eh tapi semoga jangan kata-kata aja ya bu, semoga disini kita bisa sama-sama benar2 bekerja buat masyarakat Indonesia, bukan buat Ibu bukan buat kami para staf tapi buat masyarakat Indonesia yang belum merdeka di bidang kesehatan. Mari bu Nila, apalagi Ibu juga pernah bilang mau fokus di ibdang pencegahan. Ibu saya setuju banget. Sebagai utusan MDGS Ibu tentunya tauk banget usaha2 apa saja yang harus kita lakukan untuk bangsa ini.

Selamat bekerja Ibu Nila… dengan semangat Sumpah Pemuda mari bekerja untuk Indonesia…

Kantorku 28 Oktober 2014 jam 16:41

Kuis Berpacu Dalam Melodi

Kuis Berpacu Dalam Melodi Net TV dengan Pembawa Acara David Bayu / David Naif
Kuis Berpacu Dalam Melodi Net TV dengan Pembawa Acara David Bayu / David Naif

Tauk gak sih, gw lagi keranjingan kuis yang satu ini. Namanya kuis Berpacu Dalam Melodi. Sebenarnya ini kuis remake alias kuis yang udah ada sejak jaman gw SD. Beneran loh. Inget banget deh, waktu SD gw nonton ini bareng Pakde, Bude, sama Mbak Dian. Pada waktu itu gw yang ada cuma bengong aja. Abis mana gw tauk lagu2nya. Dan gw kagum banget gituh ngeliatin Mbak Dian sama Pakde yang bisa nebak judul lagudan bareng2 nyanyi. Ya iyalah lagunya kan yang n dari tahun 60 an sampe tahun 80an. Mana juga gw dah begaul zaman itu. Hihihihihi.

Kuis ini di tayangkan di Net TV setiap hari Senin-Jumat jam 18:00 dengan pembawa acara vokalis grup band Naif si David. Otomatis tayangan ini jadi tayangan favorit gw sama suami (kalo dia terpaksa suka, soalnya gw kekepin remote tv nya 🙂

Iyah alhamdulillah ada acara ini. Bosen lihat berita yang bikin pusing, capek nonton sinetron yang bikin bingung karena gak tauk kapan tamatnya, nonton kuis ini bikin gw rileks banget. Pertama ngetes pengetahuan tentang lagu, dan yang paling asyik tentu aja ada acara nyanyi barengnya, setelah lagu itu ditebak ataupun gak ketebak. Iyah nonton kuis ini berasa lagi karakoean. Apalagi kebanyakan lagunya yang tahun 90 an. Itu lagu gw banget. Meski sering lupa judulnya, pas nyanyi bareng kan bagian ref nya tuh. Nah itu tuh bener2 me time banget deh.

Dibandingkan dengan versi lamanya kuis yang berdurasi satu jam ini sama persis, ya nama babaknya, aturan mainnya juga. Di bagian babak terakhir pun sama, yaitu kuis menebak wajah seorang tokoh dan itu yang hadiahnya paling besar.

Pokoknya gw seneng banget deh sama kuis ini. Ampe rumah, mandi, sholat maghrib, langsung deh pantengin tv, abis itu langsung lanjut sitkom tetangga masa gitu. Kapan2 pingin nulis juga ah tentang tetangga masa gitu, tungguin yah…

KARAKTER

Cerita pagi ini terinspirasi dari membaca Majalah Tempo Edisi Khusus Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden.

Dalam wawancaranya dengan tempo Pak Joko Widodo ditanya : Apakah Sulit mencari mneteri yang sesuai dengan keinginan ? ”

Pak Jokowi pun menjawab : “Sangat susah. Yang pintar banyak sekali, tapi yang punya karakter dan orisinil itu sulit. Sangat sulit ”

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter atau watak adalah sifat batin yang mempengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya.

Nah mungkin itu. Indonesia, dengan jumlah penduduknya yang 240 juta, pasti banyak memiliki orang-orang pintar yang bertitel panjang dan lulusan Universitas ternama bahkan dengan predikat cumm laude mungkin. Meski ada yang mengatakan jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang 240 juta, lulusan doktor atau profesor juga belum banyak sih, dibandingkan negara-negara tetangga.

Tapi ya pasti banyak lah, tapi kenapa yah menurut Pak Jokowi susah mencari orang dengan karakter yang sesuai dengan keingininnya. sebenarnya karakter apa yang dicari Pak Jokowi?? Pertam tentunya yang bersih yah, bersih disini ya belum pernah tersangkut kasus korupsi. Konon kabarnya penundaan pengumuman diakibatkan menunggu hasil laporan KPK terhadap nama2 calon menteri yang diajukan tim transisi.

Kalau dilihat bersih, gampang aja, cari aja yang belum pernah menjabat, orang baru, profesor atau dekan di kampus terus jadiin menteri deh. Oh oh ternyata tidak segampang itu buat Pak Jokowi. Bisa dilihat dong, wamen ESDM, yang katanya dari kampus, dosen, tapi gak kuat juga menahan godaan untuk ketularan ikutan bermain2 alias korupsi.

Okelah lupakan yang jauh2 dari calon menteri ataupun mereka yang sudah menjabat yang dikatakan pintar eh begitu juga, ikut arus. LIhat deh disekeliling gw. Di kantor gw. Itu moso iya sih mereka orang2 bego. Masuk tes CPNS ajah, bersaingnya sama ratusan atau bahkan ribuan orang. Menutup mata sama yang namanya titipan yah… Katanya sih dah gak zaman namanya titip2an. Tapi ya pas masuk, masih aja ada sih, yang anaknya eks pejabat A, B, atau C. Itu diluar kuasa yah. Kalo gw sih alhamdulillah sodara seiman dan sebangsa sama Pak SBY, jadi lolos deh tes CPNS nya …hehehehhe… :))) (lupakan)

Bener banget itu yang Pak Jokowi bilang susah cari orang yang berkarakter, dan gw juga miris. Di kantor gw ye, orang pintar tuh banyak, masih usia muda lah, terus ada beberapa orang yang sudah menduduki jabatan. Tapi kok ya mereka gak punya daya upaya untuk mendobrak yah. Pernah ngobrol sama teman yang sama2 masih jadi staf, begini : Gw : “Mbak, kayaknya lo bentar lagi mau naik deh, jadi pejabat gitu, feeling gw nih… hehehhe” sebut saja temen gw mba Sawi. Mba Sawi : “Ah, gak mau gw, dosanya lebih banyak, tanggungjawab berat terutama sama yang diatas.. ih gw mah gak mau deh. Males.” Gw : “Loh mbak, untuk merubah itu semua kita harus membuat gebrakan, berubah, jangan ikut2 kayak yang lain2.” Mbak Sawi : “Ya Ampun…gak bisa Rin… lo lihat aja tuh bos gw, doi kan dulu staf di Itjen, sekarang??? Gak bisa Rin… justru akan di musushin.” Gw : Bengong. Tak bisa berkata apa2 lagi.

Terus gw lihatin sekitar gw, iya juga sih. Ada mba Timun yang gw pikir bisa idealis, ada mas Lobak yang otaknya pejabat banget, perumus pidato resmi, sambutan, renstra, tapi tidak merubah dalam hal kebijakan atau teknis menjalankan anggaran. Terus ada bu Tomat dengan staf nya mbak Salad yang gw pikir bisa merubah eh, malah ikut ketemuan sama calo hotel. Agghhhhh….gw pusing. Entah siapa yang bisa berteriak disini. Oke gw? Gw belum siapa2 ya, tapi gw sudah agak berani dikit sih menunjukkan sikap gw ke Bos gw langsung. Intinya gw sudah masa bodoh, kalo lo mau nyuruh gw untuk yang aneh2 gw males deh, suruh yang lain ajah, gak dapat juga gak masalah yah…Gw akan mengerjakan yang sekiranya memang begitu kalau yang aneh2 dah ambil sonoh sekalian ama dosanya juga.

Oh yah untuk kali ini gw gak akan bahas detail teknis bagaimana memainkan uang anggaran. Mungkin next kali ye… kan judulnya aja karakter. Dan gw juga mau menyeelsaikan tulisan ini dengan cepat. Enam menit lagi waktunya bekerja. Belajar sedikit mungkin tidak korupsi waktu. Meskipun gw masih suka sesekali korupsi waktu :)) Jangan dicontoh, dan ini karakter yang sangat tidak baik. Hahahahahaha….

See U next… :)))

Ayo Sehat dengan Berpola Hidup Sehat (Change Your Mind ; Preventive not Kurative)

Awalnya kemaren teman saya mengeluhkan tentang suaminya yang setiap pagi hari tangannya muncul bentol-bentol merah. Sebut saja teman saya namanya mba Dani. Menurut mba Dani sih seperti alergi.

Sampai suatu ketika saya jalan-jalan ke moll bareng mba Dani. Kami masuk ke sebuah toko yang menjajakan cemilan. Langsung aja mbak Dani membeli masing-masing seperempat sumpia isi udang super, chiki-chikian yang kayak cheetos, dan setoples kue semprong yang rasanya menurut saya manis tak terkira. But I like it too 🙂

Tiba-tiba saya teringat, loh kok katanya suaminya pagi-pagi tangannya gatal. Selalu sedia obat alergi. Mba Dani pernah cerita juga kalau suaminya alergi seafood. Nah!!! Itu kenapa dibeli kayak begituan. Jelas-jelas sumpia isinya udang. Terus dia pilih yang super lagi. Eaaa…. belom betapa sehatnya makan chiki-chikian yang warnanya ajah serem banget, belom penyedap rasa, dan pengawetnya. Hadewh.

Terkadang saya suka bingung sama mereka yang sadar punya penyakit tapi orientasinya masih kuratif. Maksudnya masih berpikir, selama masih ada obatnya ya buat apa menjaga. Alergi toh ada obatnya. Bisa dibeli bebas di apotek atau warung obat terdekat. Ngapain pusing harus dilarang gak makan ini itu.

Pola pikir yang seperti itu yang sebenarnya harus di rubah segera. Kenapa sih gak mikir kan kalo kita gak sakit enak. Kalo gak harus beli obat enak. Daripada mahal-mahal ngabisin duit buat beli obat kan enkaan lo beli buah yang rasanya enak dan dapat bonus sehat.

Mba dani itu higienisnya bukan main. Hand sanitizer mungkin selalu ada dalam tasnya kemanapun dia pergi. Tapi yang saya heran dia mudah banget sakit. Keluhannya yang hampir sering terdengar itu kayak sakit kepala, maag, terus alergi. Badannya terbilang sehat dan agak gemuk. Tapi kok lemah ya. Maksudnya boleh dibilang setiap bulan ada dimana dia ke dokter untuk minta surat izin sakit gak masuk kantor satu sampai dua hari.

Lucu lagi ada teman masih seruangan. Beliau divonis penyakit diabetes. Dari fisik sih kelihatan memang gemuk. Tapi pernah saya pergokin, jam dua siang beliau lagi ngemil biskuit yang ada cream strawberry nya yang pasti manis sama permen kopiko, terus abis makan siang doi juga ngopi. Kopinya kopi instan seduhan yang pasti mengandung pemanis buatan dan pengawet. Bilangnya white cofee mah aman…Miris banget yah.

Ada gak sih bertanya mengapa saya sakit? Apa yang salah yang dengan kebiasaan-kebiasaan saya. Tubuh berhak medapatkan yang bagus-bagus. Kalau yang masuk ke dalam tubuh yang gak bagus. Otomatis tubuh akan berteriak dan mengluarkan gejala-gejala pusing, batuk pilek, badan meriang, alergi. Itu semua bentuk pertahanan tubuh karena dia mendapatkan asupan-asupan yang menurut dia salah.

Coba deh belajar makan sehat di waktu yang tepat juga. Belajar bergaya hidup sehat, dengan lebih dekat dengan alam. Banyak makan buah dan sayur. Mengurangi makanan yang kira-kira tidak dibutuhkan oleh tubuh. Emang sih biasanya makanan-makanan seprti itu enak banget. Tapi tetap boleh kok. Rekreasional ajah tapinya. Hasilnya lihat ajah nanti. Hidup terasa lebih enak dan dinikmati. Gak melulu mengeluh sedikit-sedikit pusing, mual, perut perih, badan meriang, dsb nya.

Buat saya sih sakit itu gak ada enaknya sama sekali. Terakhir sakit yang lumayan bikin saya menderita adalah diare. Waktu itu abis dinas keluar kota dan makan lalapan. Mungkin pihak hotelnya kurang bersih ya. Kenapa saya menyalahkan pihak hotel. Karena yang diare bukan saya doang. Ada tiga orang lainnya teman di kantor merasakan penderitaan yang sama. Sakit yang saya hadapi palingan sakit ringan ajah. Sehabis makan kentang goreng pedas tenggorokkan langsung protes. Habis makan ayam saus padang langsung kebelakang tapi Cuma sekali ajah kok. Alarm tubuh bekerja dengan tepat. Andalan saya bukan lagi obat2an ini itu. Cuma minyak aroma terapi dan minyak kayu putih aja yang selalu kubawa. Maklum gak tahan dingin. Tipis banget badannya. Hiihihi.

Bersambung ke episode Diare oh Diare…

12 Februari 2014, my lovely kantor….pretttt