Staycation di Hotel Bintang Lima di Pulau Bali

Pengalaman yang akan saya tulis kali ini adalah pengalaman staycation saya di sebuah hotel bintang lima di Bali. Kalau kalian mau tahu ceritanya kok bisa-bisanya saya yang gak kaya-kaya amat 🙂 ini bisa staycation di hotel bintang lima di kawasan elit lagi. Bukan kawasan hostel-hostel para backpacker di daerah Kuta. Kawasan ini juga tepat Raja Salman ketika berkunjung ke Pulau Dewata.

Kok bisa? Oke, kalau mau tahu ceritanya, bisa baca di sini :

Gak Ada yang Enak-enak itu Cuma-cuma Begitu Saja

Janji yah, jangan ketawa. Pokoknya banyakan senangnya kok dan dengan begitu saya jadi punya pengalaman deh staycation di hotel bagus di Bali.

Kamar Hotel yang Luas Meski Agak Spooky

Novotel Bali
Kamarnya Luas dengan Pencahayaan yang Sedikit Sekali

Waktu itu kami mendarat di Bali sudah cukup malam. Letak hotel kami yang tidak terlalu jauh dari bandara, ya kami tidak masalah meski fasilitas penjemputa sudah tidak ada. Kami beruntung sudah ada yang namanya taksi online, meski kami harus sedikit kucing-kucingan dengan taksi resmi di Bandara. Ya, jadi kami naiknya bukan dari terminal kedatangan, tapi dari terminal keberangkatan.

Kami juga diminta tidak terlalu sibuk memegang handphone dan seolah-olah kami dijemput dengan kenalan bukan dengan taksi online. Memang, keberadaan taksi online di Pulau Dewata ini belum diterima baik dengan pengusaha taksi konvensional setempat. Jangankan taksi online milik asing seperti Uber atau Grab, wong taksi konvensional burung biru yang jelas-jelas milik orang Indonesia saja dibatasai pergerakannya. Yeah this is my country, Indonesia.

Tiba di hotel, kami menuju resepsionis dan langsung diantar ke kamar yang memang agak jauh dari lobby hotel. Kamar kami terletak di bangunan yang terletak di lantai kedua. “Whoaaa…” hanya itu kalimat yang bisa saya ucapkan sambil mendengar Bli yang mengantar kami memeberikan penjelasan sedikit tentang kamar yang akan kami tinggal selama dua malam kedepan.

Bentuk kamar kami model apartemen dengan satu kamar, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar mandi dan ruang laundry. Kumplit sekali. Bahkan menurut syaa untuk kami berdua, ukurannya terlalu besar. Ada balkon menghadap ke kebun belakang juga.

Pencahayaan yang tidak terlalu terang, ditambah beberapa benda seni seperti patung tubuh wanita tanpa kepala, lukisan wajah yang sangat mirip dengan aselinya, dan hiasan dinding kepala sang Budha membuat saya yang memang penakut agak berasa gimana gitu. Hehehe. Iyah suasana malam membuat kamar itu memang agak spooky.

Menikmati Private Beach dan Spa 

Keesokan paginya, saya memaksa Zaki untuk menikmati sunrise di private beach hotel yang memang letaknya bersebrangan dengan letak hotel. Jadi, kami harus berjalan kira-kira tiga ratus meter untuk ke pantai. Menikmati kecantikan lingkungan hotelnya yang ngademin hati.

Novotel Hotel Bali

Tiba di pantai, ada seorang tokoh masyarakat setempat sedang melakukan sembahyang tepat di pintu masuk pantai. Pagi itu pantai sepi banget. Hanya ada kami dan dua orang karyawan hotel yang sedang membersihkan pantai. Eh, ada pengunjung juga satu orang Ibu-ibu usia paruh baya yang ternyata salah satu Direktur Rumah Sakit Umum di Yogya. Cerita punya cerita beliau juga ikutan program menginap sama seperti kami loh. Hehehe.

Private Beach Novotel Bali

Private Beach Novotel Hotel Bali
Private Beach Novotel Hotel Bali

Private Beach Novotel Hotel Bali

Pagi di pantai itu, kami menikmati matahari pantai dengan berjalan membasahi kaki sebatas lutut dengan air laut. Kami memilih tidak berenang karena tepat jam delapan kami harus sudah duduk rapi di ruang pertemuan.

Kami berjalan ke arah hotel tempat Raja Salman menginap. Penasaran dengan bangunan yang dipagari bambu itu. Terpasang tangga dari halaman hotel hingga ke pantai. Baru saja kami ingin mendekat dengan menaiki tangga, seorang pria berpostur kekar menggunakan setelan jas hitam menghardik kami. Meminta kami segera menjauhi area pantai hotel.

“Okey Sir, we just took a picture. Thank you Sir.” kemudian kami bertiga menjauh dari area pantai terlarang tersebut. DI sekitaran pantai kami juga sempat bertemu dengan TNI Angkatan Laut yang sedang malakukan tugas pengamanan di sepanjang area pantai.

Perjalanan kami kembali ke hotel dari pantai, kami bertemu dengan Bapak Satpam yang berasal dari NTT. Bapaknya cerita banyak, daerahnya sudah semakin bagus karena pembangunan mulai terasa. Seperti bandara, jalan, dan lain-lain. “Bangga dan kagum sama Pak Presiden kita.” katanya lagi. Alhamdulillah.

Bapak Penjaga Keamanan
Pak penjaga kemanan Padang Golf yang bersebelahan dengan hotel dari Flores NTT

The Real of Me Time, Ditraktir Spa

Oke, mari kita skip acara yang super penting yang kami ikuti pagi hingga siang hari itu. Nah sekarang waktunya kami menikmati staycation. Setelah makan siang di warung nasi ayam Ibu Oki, saya dapat kado spesial meski waktu itu yang ulang tahun Zaki, dia kasih saya hadiah voucher spa di hotel siang itu. Asiiikkkk….

Zaki tidur siang, saya meluncur ke tempat spa yang dari luar saja sudah adem benerrrr… Beruntung siang itu, saya juga tidak perlu antri jadi langsung saja.

Spa House Novotel Bali
Tampak Depan Tempat Spa-nya

Teras Spa Novotel

IMG_0275
Itu ranjangnya dan di balik tirai itu buat berendam nanti

Memasuki kamar yang tentu saja dengan wangi aromaterapi khas Bali yaitu bau kayu cendana membuat cuaca siang di luar yang terik sama sekali tidak terasa. Hawa sejuk dari mesin pendingin dan interior kamar yang artistik membuat saya agak rileks.

Setelah berganti pakaian saya tiduran di sebuah ranjang khusus spa. Mbak-mbak yang siang itu memijat saya tidak terlalu suka ngobrol sepertinya. Obrolan hanya terjadi satu arah. Oke, saya memilih menikmati pijatan mbak-nya saja sambil menahan rasa kantuk yang amats angat. Berusaha menikmati setiap detik waktu yang sudah dibayar mahal Pak Suami. Wkwkwkwkwkwkwk…

Selesai spa, saya kemudian berpindah untuk badan saya dipanaskan. Seperti masuk ke dalam mesin cuci yang isinya uap panas. Uap panas tujuannya membuka pori-pori kulit agar bahan lulur meresap paripurna ke dalam kulit dan maksimal bekerja. “Panasnya booo…” Sumpah gerah banget. Lamanya waktu itu lima belas menit saja.

Selesai badan saya di uap, kemudian saya diminta berendam di kolam busa yang terletak di luar dibataskan sebuah pintu yang merupakan akses langsung ke tempat pemandian. Syahhhh pemandian. 🙂 Beralaskan langit dan dikelilingi tanaman bambu yang menutupi dinding. Seolah sedang mandi di tengah hutan. Aduh rileks banget pokoknya. Seolah masalah dalam hidup terhempas begitu saja. Hehehehe.

Bathtub Spa

Tidak terasa, satu setengah jam yang bisa saya sebut sebagai rekreasi jiwa dan raga ini seslesai. Saya lumayan puas dengan layanan spa hotel ini siang itu.

Berenang-berenang Cantik di Kolam Bareng Bule-bule

Swimming Pool Novotel Bali
Swimming Pool nya keren banget

Bali Novotel HOtel Swimming Pool

Menjelang sore, selesai spa saya menggeret Zaki untuk bergerak. Malas untuk fitnes atau lari, kami memutuskan untuk berenang saja. Iya, berenang. Sambil sesekali leyeh-leyeh di pinggir kolam minum jus semangka dan makan kentang goreng.

Sore itu kolam renang ramai dengan keluarga bule yang kalau saya dengar dari logatnya kebanyak bulek Australia sih. Ya ampun anak-anak kecil dah pinter-pinter banget berenang. Serunya lagi mereka ramah banget. Menyapa saya ketika bolanya terlempar ke arah saya dan tersenyum manis.

Menikmati Sarapan Pagi yang Agak Mewah

Kapan lagi sarapan mewah kalau nggak di hotel. Bintang lima lagi, Hehehe. Makanan enak dan pemandangan taman hotel yang bermandikan matahari pagi itu, perpaduan yang sempurna.

Uhm… akhirnya berakhirlah pengalaman menikmati hotel mewah buat saya. Seru, meski saya tahu gak ada sesuatu di muka bumi ini yang benar-benar gratis. Kemewahan yang dibayar mendengarkan ocehan marketing dan mengikhlaskan waktu kami di Bali untuk mendengarkan marketing jualan produknya.

Happy diajakin liburan meski singkat banyak cerita
Happy diajakin liburan, meski singkat banyak cerita

Puncaknya, ketika kami ingin kembali ke Jakarta, dan fasilitas antar ke bandara yang tidak disediakan pihak hotel. Pihak hotel bilang itu tanggung jawab biro perjalanan yang meski satu grup mempunayi manajemen yang terpisah dari hotel. Oke baiklah, malas berdebat kami kembali pesan taksi online untuk ke bandara. Di bandara pesawat kami harus rela delay karena  bersamaan dengan Raja Salman meninggalkan Indonesia. Plus buku “Lembaran-lembaran Pelangi” nya Nila Tanzil yang sedang saya baca tertinggal di bandara.

Kalau sudah begitu, kira-kira, saya untung apa rugi sih??? Auk ah… Sudahlah apa-apa jangan di hitung-hitung untung atau rugi. Paling penting semua memperkaya pengalaman dan  ada bahan buat nulis blog. Wkwkwkwkwk.

IMG_0395
Pemandangan di Bandara Ngurah Rai

 

 

Advertisements

“Korban First Travel?” Iyah, Saya :)

“Sesekali saya mau nulis yang kekinian ah… Apayah?” Begitu yang ada dalam benak saya belakangan ini. Sibuknya dunia awal perkuliahan saya, dengan jadwal satu hari weekend, mau gak mau ya jadi agak susah buat jalan-jalan dalam jangka waktu lama. Mungkin nantilah pas libur kuliah semesteran. Berawal karena hal itulah, saya jadi semangat buat nulis yang kekinian. Meski dengan menulis ini membuka aib “kebodohan” saya sendiri sih. Gak papalah, selain buat dokumentasi arsip pribadi, semoga bisa jadi pelajaran juga buat pembaca blog saya.

“Korban First Travel? Kok Bisa?”

Waktu itu di tahun 2016, alhamdulillah saya ditugaskan dari kantor ke Arab Saudi sebagai tim penerima obat yang akan digunakan jamaah haji Indonesia. September 2016 setahun lalu tepatnya.

Ini oleh-oleh tulisan saya waktu itu : Makanan Khas Arab yang Yummy (Worktrip Arab Saudi Part 2)   

Selama tujuh hari berada di Arab, tentu sangat berkesan sekali buat saya. Bagaimana tidak? Menginjakkan kaki di tanah haram adalah impian setiap umat muslim di manapun. Meski ketika itu tentu waktu saya sebagian besar ya buat bekerja tetapi kami tetap menyempatkan diri untuk beribadah di tanah berdirinya kiblat umat muslim seluruh dunia.

Kenangan spiritual ataupun duniawi sangat membekas. Hingga terbesit keinginan untuk suatu saat saya bersama suami akan bisa bersama-sama beribadah ke Mekkah. Singkat cerita, salah seorang teman saya yang juga berangkat saat itu menceritakan pengalaman umrohnya bersama suami dengan biro perjalan yang terbilang biayanya cukup murah.

“Iyah, enak kok, kemarin gue sama suami bareng Kak Naningnung nengnong tuh malah tiap tahun.” bebernya lagi mempromosikan sebuah biro perjalanan umroh yang kemudian akan dibekukan pemerintah di pertengahan 2017

Iya, disitulah saya mulai tergerak penasaran dengan yang namanya First Travel. Agak bimbang terus terang saya waktu itu, hingga Bos saya, juga bercerita beliau sudah dua kali berangkat umroh dengan biro perjalanan yang sama, First Travel. Bergeser ke ruangan sebelah, teman saya sejak kuliah, sebut saja Mawar menceritakan bahwa dia dan suaminya baru melakukan umroh dengan lagi-lagi First Travel. Tidak hanya Mawar ternyata di ruangan tersebut, ada juga Ibu Titi Teliti dan Pak Anwar Fuadi dan keluarganya.

Mereka semua saya tanyakan bagaimana bisa umroh dengan budget minim di sana? Bagaimana hotelnya? Bagaimana cateringnya? Bagaimana pelayanan-pelayanan lainnya. Mereka kompak menjawab bagus dan memuaskan. Tentu saja disesuaikan dengan uang yang sudah mereka bayarkan, pelayanan terbilang bagus.

Perlu diketahui, sebelumnya saya bermaksud menawarkan kedua orang tua saya buat umroh. Tidak dengan First Travel dengan biro perjalanan lainnya. Sudah jelas tanggal berangkat dengan harga lebih mahal tentunya. Kalau waktu itu First Travel 14 jutaan, biro perjalanan tersebut menawarkan di harga 22 juta sekian sekian. Kemudian Ibu dan Bapak memilih menggunakan dana tersebut untuk daftar haji. Baiklah Ibu dan Bapak kemudian daftar haji dan masih dalam proses mengantri.

Berbekal pengalaman saya di Arab ketika dinas, saya pikir kami (saya dan suami) masih usia yang cukup sehat untuk beribadah di sana meski dengan biaya yang murah sekalipun. Mumpung masih muda. Gak papahlah, toh kemarin saya bisa kok ketika dinas ke Mekkah naik taksi atau mau ke pasar mau beli apa secara mandiri tanpa biro atau agen perjalanan.

Bismillah, saya meminta suami untuk mendaftar ke kantor First Travel di daerah Depok. Kesana sendiri tanpa melalui agen atau paksaan. Mengambil formulir, menyiapkan foto untuk visa, membayar DP sampai harus melunasi beberapa hari kemudian. Kami juga menerima kalau kami akan berangkat di Tahun 2017 bulan April.

Hingga di penghujung 2016, suami ikut manasik umroh yang diselenggarakan First Travel di Masjid Istiqlal yang luar biasa jamaahnya memenuhi seluruh tempat di Masjid terbesar se-Asia Tenggara itu. Saya memilih tidak ikut. Selain tahu akan penuh, toh saya sudah pernah umroh. Suami berangkat sendiri pagi-pagi sekali agar mudah mendapat parkir. Di sana suami bertemu dengan tetangga dekat rumah, yang belakangan kami tahu beliau membawa atau mengajak beberapa jemaah. Entah beliau agen atau hanya membantu sampai sekarang saya tidak tahu.

Oh iyah, saat itu di ruangan saya di kantor, tidak hanya saya saja yang tertarik. Bu Lily Kasoem Optik, Bu Philips dengan suami, dan Pak Steward bahkan sekeluarga dengan istri dan dua anaknya.

Di penghujung 2016, mulai terdengar kehebohan di media tentang First Travel. Banyak jemaah yang dijanjikan akan berangkat di Januari 2017 belum juga diberangkatkan. Berita yang awalnya simpang siur mulai terbukti benar adanya. Bu Lily Kasoem Optik bergabung dengan grup WA yang mulai membuat aduan ke Kementerian Agama. Ketika itu Kemenag belum juga membekukan First Travel. Lucunya lagi, iklan dan tawaran First Travel masih dengan mudah ditemui di media sosial seperti Instagram.

Mulai Aneh, Minta Refund dan “Kembalikan Paspor Saya!”

Lucunya First Travel itu yah, paspor sudah diminta jauh-jauh hari banget. Katanya sih buat urus visa. Yaelah visa kan kalau lancar begini paling beberapa hari juga jadi. Oke, mikirnya jemaah banyak. Saya sudah meneyerahkan paspor di akhir 2016.

Suami yang memang masih membutuhkan paspor dalam rangka kerja, memilih akan membayar lebih yaitu sebesar tiga juta jika belakangan menyerahkan paspor. Ini yang bikin sebel. Suami waktu itu ada kerjaan ke Jerman dan Italia, dan saya yang tadinya mau ikut memilih gak ikut karena tahun depan mau umroh, harus menerima kenyataan pahit. Gagal ke Eropa dan gagal umroh. Wkwkwkwkw. Kasihan deh lo.

Bulan April 2017, kegaduhan mulai terjadi. Pihak First Travel tiba-tiba memenerapkan aturan tambahan biaya sebesar 2,5 juta rupiah bagi program umroh promo jika mereka akan diberangkatkan. Konon katanya biar bareng sama jemaah reguler. Nah loh, awalnya ajah udah molor setahun, kok tiba-tiba minta nambah terus bisa berangkat. Piye to? Gak masuk akal.

Mulai mencium keanehan, saya minta suami ke kantor First Travel. Minta refund dan ambil paspor saya. Sebel banget pokoknya. I want my paspor back. Paspor ditahan itu kayak kena banned sama pemerintah kalau saya itu penjahat, jadi gak boleh ke luar negeri. Sumpah sebel banget.

Alhamdulillah yah (selalu ada alhamdulillah di setiap peristiwa) suami kerjanya fleksibel. Jadi yang mondar mandir ke kantor First Travel yang mulai rusuh banget itu ya suami. Setiap habis dari kantor First Travel selalu ada ajah cerita sedih yang dibawa.

Cerita jemaah yang gagal berangkat padahal sudah menunggu dua tahun, ada anak yang memperjuangkan orang tuanya yang mau umroh, ada curhat para agen yang memperjuangkan orang-orang yang mereka bawa, hingga curhat para Customer Service First Travel yang menjadi sasaran amukan massa jemaah.

Kenapa Jualan yang Sifatnya Spiritual Laris Manis ?

Setelah formulir refund kami terima yang katanya akan cair 90 hari kerja dan paspor saya kembali, hati agak lega. Bahkan kemudian saya langsung gatel memakai paspor yang telah ama hilang itu. Hahahahaha. Lebay. Iyah saya langsung ikut nemanin suami ke Thailand. Hihihi.

Bagaimana dengan uang refund yang dijanjikan? Sudahkah cair? Tentu saja belum Saudara-saudara. Bolak-balik suami nanya, “Udah ada uang masuk, ke rekening kamu?” Saya cuma bisa jawab, “Yaelah gak usah diharapin deh…” bahkan saya menjawab demikian sebelum kedua Bos FT itu dijebloskan ke penjara. Apalagi sekarang Bos mereka sudah di penjara. Jelas keuangan pribadi dan perusahaan yang disatukan ditambah manajemen yang carut marut, hampir dipastikan kecil sekali kemungkinan dana kami akan kembali.

Terus, saya sedih gak? Ya sedih mah pasti. Tapi kok ya mau gimana lagi. Kekayaan mereka tidak sebanding dengan jemaah yang belum berangkat. Belum lagi stake holder yang mereka hutangi. Sebatas melapor ke Bareskrim akan kami tempuh.

Banyak teman-teman saya yang bilang, aduh manusia Indonesia nih. Pasrah dan menerima, bilangnya musibah dan takdir. Usaha dong. Yaelah mbak dibanding ngeributin dana kami yang hilang, waktu kami akan lebih berharga buat hal-hal yang jauh lebih berharga saat ini. Bukan berarti uang 28 juta sekian kami itu gak berharga, tapi ya itu, uang atau kekayaan milik Bos FT (kalau mereka jujur) sudah pasti tidak akan bisa membayar kembali uang jemaah yang belum diberangkatkan. Beda halnya kalau kami sebagai agen yang membawa jemaah banyak. Mungkin kami akan fight sekuat tenaga.

Apa kami menutut pemerintah buat ganti? Ih sumpah gak rela, meski kami jadi korban penipuan, tapi kalau pemerintah yang harus ganti. Kami gak mau. Yah uang pemerintah dari mana kalau bukan dari pajak rakyat? Kasihan banget rakyat Indonesia suruh mengganti kerugian gara-gara nafsu manusia serakah macam AA itu. Kalau gitu enak dong kalau kita nipu ajah, jalan-jalan ke luar negeri. Kemudian nanti diganti sama pemerintah. Bisa kualat sama satu rakyat Indonesia kalau begitu.

Penipuan yang gampang itu, di Indonesia memang ya main di seputar spiritual sih. Manusia Indonesia gampang banget mengeluarkan uang dengan dalih ibadah spiritual. Entahlah.

Pernah dengar nih, kok bisa murah yah, katanya lagi si Ibu Anisa itu sudah kaya,  punya usaha banyak, jadi ingin bantu orang Indonesia ibadah. Hadewh… mamam noh bantu. Berangkatin artis beserta keluarganya dengan fasilitas VIP, dan memprioritaskan pegawai-pegawai rombongan kantor pemerintah agar citranya bagus. Apalagi kalau lihat postingan IG-nya yang foto-foto di luar negeri. Ku tak sanggup gak menyinyir.

Hati-hati Mempromosikan Sesuatu yang Di Luar Kewajaran

Iyah, awalnya mungkin hanya ingin testimoni, tapi saya sama sekali gak menyalahkan teman saya, sampai Bos saya. Jujur awalnya kesel tapi ya saya kan juga sadar pergi ke Kantor FT sendiri, bayar, dan semuanya murni sadar dengan yang saya lakukan. Jadi ya gak bisa menyalahkan mereka. Bahkan ketika sudah bayar dan cerita ke Bapak Mertua pun dimarahin. Hehehe.

Sedih itu seperti Bu Lily Kasoem Optik yang anaknya bermaksud membahagiakan sang mertua, eh kemudian begini kejadiannya. Baik hati Bu Lily sedang mengusahakan agar besannya tetap bisa berangkat umroh dengan biro perjalanan lain, meski dia dan keluarganya gotong royong mencari dana. Lucunya lagi, besannya Bu Lily itu gak tauk apa-apa dong tentang hebohnya kasus FT ini. Padahal tinggal sebelahan. Kadang hidup butuh begitu. Tidak perlu tahu banyak. Salah satu efek kamu tahu banyak ini nih. Ikutan dan ditipu. Hahahhaha…

Jadi, kalau kemudian teman saya di Bus antar jemput kantor bertanya dengan lantangnya, “Eh, di sini gak ada yang korban First Travel, kan?”

Saya akan dengan lantang menjawab, “Ada. Saya. Iyah, saya korban First Travel.”

Kemudian akan diikuti lagi pertanyaan, “Kok bisa? Mbak?”

Kemudian cerita bergulir, hingga teman saya berkata, “Iyah sih kalo gue kayak lo juga gue tergiur. Untungnya di ruangan gue gak ada yang ikut First Travel.” Hahahhaha. Kami tertawa bersama. Dalam hati sih saya meringis menahan tangis. 😦

 

 

One Day Tour Chiang Rai-Golden Triangle (First Stop : Hot Spring)

Perjalanan kali kedua  saya ke Bangkok kali ini, lagi-lagi karena gak rela suami mau dinas dari kantornya. Hehehe emang saya istri yang sirik kalau suami lagi traveling. Enaknya kalau suami yang tugas dinas, itu seringnya sendiri, jadi saya selalu pinginnya ngintil . Ngintil itu bahasa Jawa yang artinya ngikutin.

Kalau yang pertama kali kami ke Bangkok kami liburan dulu, kali ini dibalik. Suami kerja dulu, saya menyusul kemudian. Alasan berikutnya, karena sudah hampir enam bulan paspor saya tertahan di travel agent penyelenggara umroh yang lagi bermasalah banget. Ketika sudah mendekati waktu keberangkatan dan sepertinya tidak ada kejelasan, kami memutuskan untuk menarik uang dan paspor kami, alias membatalkan. Paspor kembali ditangan setelah hilang beberapa bulan itu rasanya kan pengen diajak jalan yah. Hehehehe.

Setelah gagal ikut suami ke Jerman atau Singapura, pokoknya harus ikut  ke Bangkok. Dalam rangka pembebasan paspor saya dan hari kejepit tanggal merah. Hihihi. Meski ini kali kedua, saya pokoknya mau ikut. Tapi kalau cuma ke Bangkok lagi, kok rasanya bosan. Halah kayak udah sering aja ngomong begini. 🙂

Suami awalnya bilang kita staycation aja di hotel. Kantor tempatnya bekerja, bersedia kasih lebih 2-3 malam untuk menginap di hotel apartemen yang memang super duper nyaman. Saya merenung. Apa bedanya leyeh-leyeh di hotel bintang lima  sama leyeh-leyeh di rumah saya yang menurut saya tidak kalah nyaman dengan hotel? Ah, saya berpikir keras. Sayang cap di paspor saya deh. Moso jauh-jauh cuma leyeh-leyeh di hotel. Pokoknya harus kemana ini. Lagi-lagi pokoknya. Hehehehe.

Era sosial media sekarang ini, membuat saya bisa memecahkan persoalan saya kali ini dengan mudah. Ah masa, lima hari empat malam di Thailand jalan-jalan di Bangkok doang dan bobo-bobo di hotel ajah. Dari instagram teman saya, saya melihat belum lama ini, dia jalan-jalan ke Golden Triangle yang letaknya di sebelah utara Thailand dan berbatasan langsung dengan Laos dan Myanmar. Aha, saya ,mau ke sana. Meski kami harus merogoh kocek lagi, untuk transport dari Bangkok ke Chiang Mai. Ya, Chiang Mai. Saya juga belum pernah ke Chiang Mai. Provinsi di Thailand yang pernah menjadi tuan rumah acara pertandingan olahraga bangsa-bangsa se-Asia Tenggara di tahun 1995 zaman saya di sekolah dasar.

Setibanya saya di Bangkok, kami langsung memutuskan keliling Bangkok, tepatnya, menengok saudara tua di Kampung Jawa.

Baca : Menengok Masjid Jawa di Kampung Jawa, Bangkok dan bertemu Ibu Mariam yang baik hati. Baca juga : Ibu Mariam, Muslimah Keturunan Jawa di Kampung Jawa, Bangkok, Thailand

Hari berikutnya, kami menuju Chiang Mai dan menghabiskan satu hari melihat-lihat kota tua yang cukup terawat. Berkesempatan sholat berjamaah di masjid di kawasan muslim Chiang Mai.

Baca : Melihat Tradisi Muslim Chiang Mai di Masjid Hadayatul Islam Banhaw Chiang Mai

Berkunjung ke sebuah kuil dari banyaknya kuil yang ada di Chiang Mai.

Baca : Menengok Wat Buparram di Kota Seribu Kuil Chiang Mai

Hari kedua kami di Chiang Mai, kami akan dijemput oleh tour guide di depan hostel kami. Jam tujuh pagi kami sudah siap. Berhubung paket menginap kami tidak mendapat sarapan, pagi itu kami sudah melipir dulu ke Sevel. Oh iyah sebenarnya ada satu hal lagi yang mau saya ceritakan di sini. Entah kenapa, dari semalam sebelum keberangkatan kami ke Chiang Rai, perut saya mules. Untuk pengalaman ini baiknya sih nanti aja ya saya ceritakan di episode berikutnya.

Kembali ke topik tour ke Golden Triangle. Setelah peserta tour lengkap, akhirnya kami tiba di tempat pemberhentian pertama kami yaitu Hot Spring alias sumber mata air panas dari pegunungan.

Setibanya kami di sana, saya langsung mencari toilet. Guide tour kami menginfokan kami hanya 15 menit saja berada di sini. Ya ampun, sebentar banget. Apa yang mau dilihat coba?

Hot Spring Water Chiang Mai

Selesai dari toilet saya menghampiri beberapa orang yang sedang berendam (kebanyakan hanya menenggelamkan bagian kaki sampai lutut, gak ada yang sampai merendam tubuhnya). Coba sebesar mana. kira-kira diameter kolam tiga meter kali yah. Pengunjungnya pun belum terlalu ramai.

Turis-turis berendam di Hotspring

Zaki malah seperti biasa. Lebih tertarik sama jajanan yang namanya ro-tee. Iya kayak roti maryam gitu yang dimasak pakai telor dan dikasih saus. Jajanan khas Chiang rai yang kebanyakan penjualnya muslim. Biasanya di gerobaknya selalu ada tulisan halalnya soalnya.

Melipir cari cemilan

DSC01945.JPG
Rotee

Di sepanjang parkiran mobil juga banyak yang menjual cendera mata. Di bagian depan dimana ada tulisan nama tempat ini, ada sebuah kolam yang berdiameter satu meter yang airnya memiliki suhu paling panas dibanding di tempat lainnya. Di sekitarnya ada penjaja telur untuk ditawarkan pelanggan yang ingin membuktikan air di kolam itu bisa merebus telur.

Kalau dipikir-pikir yah. “Segini doang nih? Gak ada apa-apanya dibanding Pemandian Air Panas di Ciater atau di Garut yang kolam renangnya aja gede banget. Belum lagi aliran sungai air panas dari atas yang meliuk-liuk dan banyak orang berendam di dalamnya. Berendam seutuh-utuhnya badan lo yah. Bukan cuma basahin kaki. Hihihihihi. Ya udah namanya juga jalan-jalan. Dinikmati aja yah. Nah kan Indonesia lebih oks kan. Hehehe. Tapi… kenapa banyak turis aja gitu di sana? Coba yah bantu pikir, kenapa?

Pancuran air panas

Penampakan Hot Spring di Chiang Rai
Mata Air Panas di Chiang Rai
Sumur Air Panas
Sumur Air Panas Tempat Pembuktian Kalau Air Itu Panas, Jendral. Caranya? Telur Mentah Berubah Menjadi Telur Rebus 🙂

One day tour belum selesai, bersambung di postingan selanjutnya yah… 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

Hati-hati Kalau ke Toilet, Apalagi di Negara Orang :(

Sebenarnya dengan menuliskan hal ini, sedikit membuka aib diriku. Sumpah tulisan ini juga sangat tidak bermanfaat bagi pembacanya. Pokoknya gak dibutuhkan sama orang-orang, sehingga gak mungkin tulisan ini meningkatkan trafic blog saya. Hehehehe. Tapi ya sudahlah, semoga bisa jadi pelajaran buat teman-teman yang lain.

Entah apa yang terjadi pada metabolisme tubuh saya ketika di tempat yang sedikit ber-ac atau agak dingin sedikit. tiba-tiba saja selalu ada hasrat panggilan untuk ke belakang. Maksudnya ke belakang di sini tentu saja ke toilet. Bukan buang air kecil, tapi buang air besar. ups. Maaf kalau tulisan ini agak menyebalkan. Ya udah silahkan jangan lanjutkan bacanya.

Keinginan BAB di tempat umum ini sudah lama. Sepertinya sudah dua puluh tahun yang lalu. Dari Mall yang besar sampai cuma Indomaret atau Alfamart, saya sudah pernah loh. Bandara mah jangan ditanya. Pasar tradisional aja pernah. Parah kan? Pokoknya orang-orang terdekat sayamah sudah tauk banget kebiasaan saya yang nggak banget ini.

Sepertinya jejak banyak saya tinggalkan di mana-mana. Tapi ada yang paling banget gak bisa saya lupa. Itu sekitar beberapa tahun lalu, ketika jalan-jalan ke Bangkok. Lebih tepatnya ketika kami akan mengunjungi museum Madame Tussaud.

Museum Madame Tussaud memang terletak di Mall, namanya Mall Siam Paragon. Pagi-pagi kami sudah tiba di sana. Belum lama masuk mall, langsung deh perut berasa muter alias mules gitu. Saya pun segera mencari toilet.

Tauk dong mall di Bangkok, yang megah dan besar, toilet sudah pasti bersih dan modern. Pagi itu pengunjung mall pun masih bisa dihitung dengan jari. Masih sepi. Begitu masuk toilet pun yang ada hanya mbak-mbak petugas kebersihan toilet. Asyik bisa aman dan nyaman nih. Memang agak kurang nyaman kan kalau lagi kebelet Pup toliet antri. Mending gak deh. Hehehehe.

Saya pilih toilet yang paling pojok dong. Alasannya biar apa? Toilet pojok kan letaknya di ujung. Pasti jarang dipakai sama pengunjung lain. pasti mereka langsung incar yang di depan. eh tapi, kalau sebagian besar orang berpikiran seperti saya. Toilet pojok paling sering dipakai dong ya.

Langsung deh saya duduk manis. Masalah terjadi ketika saya menekan tombol flush toilet duduknya. Jreng… jreng.. kok gak bisa. Cuma bluk-bluk. What… ya Allah gimana dong. Coba lagi, coba lagi sampai berkali-kali belum berhasil. Ih, si Zaki sudah bolak-balik nelpon aja. Bodo amat cuekin ajah. Ini masalah genting.

Kondisi toilet yang sepi, kan malu banget. Belum lagi di sini saya turis. Dari Indonesia pula. Aduh bisa di cap jelek dong turis Indonesia. Padahal kan emang mesin flush toiletnya yang rusak. Gila yah ini mall besar kok bisa toiletnya rusak. Masih ada untungnya nih, ada showernya. Datanglah akal saya menggunakan kekuatan shower untuk menyiram “sampah” toilet. Lama sih emang, tapi… yeay it works. Alhamdulillah berhasil.

Sumpah saya kesel banget, pagi-pagi dapat zonk masalah di toilet begini. Ya ampun kenapa juga pas di Bangkok begini. Keluar toilet saya pun coba protes ke mbak-mbak penjaga kebersihan pake Bahasa Inggris. Baik-baik tentunya. Dia cuma ngangguk-ngangguk aja. tauk deh ngerti apa nggak.

Moment ini memberi pelajaran buat saya, sebelum pakai toilet cek terlebih dahulu apakah mesin flush nya berfungsi dengan baik atau tidak. Entah itu di Indonesia atau di manapun alam memanggilmu. Camkan itu Rini. Camkan.

Meski agak bete kemudian saya bisa bertemu dengan idola sejak zaman SMP. Selalu ada alhmadulillah… :)))

Rini dan Beckham
Finally Meet Him in Personal even just of his statue :)))))

 

 

Kembali Ke Sekolah :)

Hari ini Senin  pertama di Bulan September. Senin itu, buat saya dan kebanyakan orang adalah hari yang horor. Berbeda dengan saya yang  dulu dan sekarang. Now, I Love Monday very much. Why??? Because this day is my free day… Buat saya, Senin kali ini adalah hadiah buat lelah saya di akhir minggu. Hihihihi. Kok bisa libur? Gak kerja? Yup. Saya lagi off dari kantor selama dua tahun kedepan dalam rangka tugas belajar. Tugas belajar? Apakah itu? Heumh… baiklah saya jelaskan sedikit yah.

Jadi tugas belajar itu buat saya adalah suatu reward buat seorang Pegawai Negeri Sipil macam saya ini. Mungkin hal ini juga lah yang membuat saya tertarik buat menjadi PNS selain zona nyamannya. Omong-omong zona nyaman, kamu akan merasa mencari zona nyaman kamu ketika kamu berada di zona yang bisa dikatakan tidak nyaman menurutmu. Tetapi, ketika kamu sudah bisa mencapai zona nyamanmu, salah satu pembisik dihatimu akan berteriak lagi dan lagi. “Yah ampun, ngapain lagi ini??? Bosannnn…'” begitu kira-kira. Kemudian kamu akan mencari hal-hal baru lagi dan akan berteriak lagi. Menadakan kita belum mati. Ya, kita masih hidup.

Cerita bagaimana saya menjadi PNS dan berada dalam kondisi yang tidak nyaman sudah pernah saya tulis dan akan saya posting juga nanti. Yup. Setelah melalui perjuangan dan lika-liku hidup akhirnya tibalah saya di kantor yang menjadi impian banyak pencari kerja di negara ini. Tepatnya di Jl. HR. Rasuna Said Kav 4-9 Blok X5. Kantor sebuah kementerian.

Buat saya dan teman-teman saya, bisa masuk kantor ini adalah impian. Gimana nggak, pokoknya semua serba pas. Latar pendidikan saya yang memang kesehatan, berharap jam kerja yang normal (bandingkan dengan teman-teman yang bekerja di pelayanan kesehatan atau industri yang harus di shift), serta kepastian (gak ada lagi yang namanya PHK) :). Wah pokoknya benar-benar nyaman deh.

Meski yah, setelah masuk dan menjadi PNS di eranya Pak Jokowi, eh saya masuk masih era Pak SBY deng. Itu yah gak ada lagi yang namanya PNS santai kayak di pantai. Waktu saya baru masuk di tahun 2009 sih yah, saya masih melihat generasi santai yang begitu. Melihat dengan mata kepala sendiri betapa kayanya negeri ini dari APBN kantor. Hahahahaha. Gak munafik saya melihat hal-hal yang tidak patut alias korupsi juga di kantor.

Tapi yah…itu zaman dahulu kala. Perlahan-lahan negara ini mulai membangun sistem. KPK dibentuk, BPK mulai kerja beneran, pokoknya semua sudah mulai berjalan sebagaimana mestinya karena semua mata masyarakat dan netizen 🙂 tentunya benar-benar mengawasi kami para pengurus negara yang dibayar pakai uang rakyat ini.

Meski saya sadar belum sepenuhnya saya berkontribusi banyak buat negara ini, saya cuma mau mulai dari diri saya, dari hal yang terkecil, dan dari sekarang. Percaya yang namanya hidup setelah mati itu ada. Berbuat hal baik atau jahat sekecil apapun Tuhan akan lihat. Jadi kalau mau memulai hal-hal yang baik dan birokrasi bersih ya mulai dari sekarang, meski penghalangnya tidak sedikit yes. Hahaha. Kembali ke topik tubel yah.

Tugas belajar boleh diberikan kepada PNS yang kalau gak salah sudah dua tahun terhitung sejak menjadi PNS. Mulai dari jenjang S1, S2, sampai S3 kalau memang instansi atau tempat di mana kamu mengabdi membutuhkan.

Oh iyah, ada yang namanya tubel alias tugas belajar dan ibel alias izin belajar. Bedanya tubel dan ibel adalah, kalau tubel kamu sepenuhnya dibiayai oleh negara masih mendapat gaji dan tukin meski tidak boleh ikutan dinas-dinas keluar kantor dengan demikian kamu boleh gak ngantor :). Kalau Ibel alias izin belajar itu cuma dapat izin ajah biasanya harus di luar jam kerja, masih harus masuk kerja dan masih boleh boleh dinas kemana-mana. Jadi ibel itu kayak kuliah sambil kerja dan tubel tugasnya belajar, jadi gak wajib ke kantor. Begitu.

Prosesnya Gimana Kalau Mau Tubel?

Berhubung pengalaman saya ambil tubel dibiayai oleh instansi Kementerian tempat saya bekerja dan bukan badan-badan yang mengadakan beasiswa seperti LPDP atau Bank Dunia misalanya, jadi saya hanya akan share pengalaman saya saja yah… buat yang itu coba di googling pasti banyak deh. Kemudian lagi, tubel saya ini hanya terbatas buat PNS di Kementerian Kesehatan buat Kementerian-kementerian lain ya silahkan di cari mungkin stepnya mirip-mirip. Mungkin lohhh…

Jadi yah beberapa tahun terakhir ini, terus terang saya mulai suntuk banget di kantor. Bosan dengan rutinitas di kantor yang memang agak menggila semenjak Pak Jokowi. Wkwkwk. Lah lagi-lagi salah Pak Jokowi? Nggak… saya mah nge-fans banget sama beliau. Berasa suasana kantor berubah jadi lebih kondusif banget. Suasana kerja, kerja, dan kerjanya itu benar-benar luar biasa.

Suntuknya saya itu yah, kok cuma segini yah yang bisa saya perbuat. Kok bosan yah. Lah terus lo udah dibayarin pakai uang negara, cuma karena anaknya bosanan? Nggak gitu cuy… Adalah dalam diri saya egois untuk mencoba yang namanya keluar di zona nyaman tadi dan pengen banget merasakan yang namanya reward tugas belajar. Toh jurusan yang dituju harus seizin atasan dan sesuai dengan bidang pekerjaan kita. Jadi di sini saya akan mencari ilmu yang kiranya berguna buat pekerjaan saya di kantor. Wong ada syarat setelah menyelesaikan tubel, saya harus mengabdi selama 2N+1 artinya dua tahun masa belajar ditambah satu tahun. Kalau tiba-tiba saya resign gimana? Ya saya harus mengganti biaya tugas belajar saya ke negara tercinta ini.

Terpecut oleh beberapa teman sengkatan yang sudah pada lulus S2 dan teman sebelah kubikel pergi ke Jepang, akhirnya saya bareng teman memutuskan untuk ikutan peruntungan tubel ini. Kenapa peruntungan, ya karena banyak faktor yang harus kami lalui, antara lain :

  1. Harus ada izin pasangan atau orang tua

Yup tentu pasangan jika kamu menikah harus dong tahu kamu mau sekolah lagi dan tidak masuk kantor. Buat yang kepala keluarga misalnya, dipastikan pasangan menerima kalau ketika tubel nanti, pemasukan rekening hanya gaji pokok, dan 50% tunjangan kinerja. Gak ada yang namanya dinas luar kota apalagi  luar negeri misalnya. Tentu akan sedikit berpengaruh ke perekonomian keluarga yah. Hehehehe

2. Harus dengan seizin atasan

Ini point paling penting sih. Dengan atasan kamu mengizinkan kamu ikut tubel, ya mereka harus rela kamu gak ngantor selama beberapa tahun kedepan. Jadi, ya mereka siap kehilangan “partner” atau stafnya dalam bekerja. Ini gak mudah loh. Ada atasan yang egois gak kasih izin karena melihat beban pekerjaan kantor yang banyak misalnya. Buat atasan yang baik mereka sih berpikiran terbuka dong, pingin anak buahnya maju dan berkembang. Itu maksudnya.

Izin atasan gak cuma izin boleh atau nggaknya sih, izin atasan juga masalah jurusan yang kamu ambil harus sesuai dengan kebutuhan organisasi. Misal kamu S1 nya dokter, kerja di Kementerian Kesehatan Direktorat Kesehatan Masyarakat, lalu ujug-ujug kamu pingin ambil S2 Seni Kontemporer misalnya :)) ya kayaknya atasanmu gak akan mengizinkan sih.

3. Mau di dalam atau luar negeri

Nah ini pun penting. Buat yang mau ke luar negeri sih, persiapan kayaknya paling tidak setahun atau bahkan lebih  harus mulai cari-cari beasiswa atau info kampusnya. Kalau mau di dalam negeri macam saya nih persiapan cukuplah enam bulan sampai setahun dari tahun rencana kita buat cari-cari info. Masalah tempat tinggal juga loh. Dipikirin buat yang di luar kota misalnya.

4. Pantengin web penyelenggara tugas belajar

Dalam hal ini kalau saya penyelenggaranya itu Badan Peningkatan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kesehatan. Pada umumnya akan dilakukan seleksi tubel dari instansi dulu sebelum seleksi di perguruan tinggi nya. Tapi gak ada salahnya kamu juga buka-buka web universitas yang kamu tuju itu.

Sebelumnya mereka juga akan mengirimkan surat edaran tugas belajar di Bulan November 2016 nah baca baik-baik dan pahami segala persyaratannya ada di situ. Mulai dari seleksi administratif tahap satu dan dua, hingga seleksi akademik. Berikut contoh surat edaran tahun lalu yah. Lengkap di sini. Baca perlahan-lahan dan resapi. Surat Edaran Tugas Belajar Tahun 2017. 

Perhatikan baik-baik batas pengajuan ini itunya. Misal batas akhir up-load dokumen ke web nya kapan. Pastikan semua berkas yang dibutuhkan sudah dipenuhi. Misal surat keterangan sehat dan bebas narkoba  dari rumah sakit pemerintah, surat izin dengan materai, sampai jurusan yang kamu ambil sudah benar-benar sesuai dan mendapat izin atasan. Web nya tubel Kemenkes itu ini : http://tubel.bppsdmk.kemkes.go.id

Pengalaman saya kemarin agak-agak gimana yah berkaitan dengan izin atasan. Untuk sekolah S2 ini, saya mau mengambil agak melenceng sedikit dari ilmu S1 saya. Masih kesehatan, tetapi saya mau ambil yang sifatnya kekinian alias promotif dan preventif. Berbeda dengan ilmu farmasi yang memang sekarang sudah fokus ke pelayanan tetapi masih lebih besar porsi kuratif nya terutama obat. Saya mantab mengambil peminatan Promosi Kesehatan.

Eh, ndilalah, ada di bagian lain yang peminat tubelnya lumayan banyak yaitu empat orang sehingga pimpinan tertinggi di unit saya harus ikut memantau dan memutuskan apa saja jurusan yang diambil. Ternyata saudara-saudara, saya tidak diizinkan mengambil peminatan promosi kesehatan dan dianjurkan atau “dipaksa” mengambil peminatan Kebijakan dan Hukum Kesehatan, mengingat kebutuhan organisasi di unit kerja saya. Ampun  DJ… yah itu Bu Dirjen pelakunya. Sempat bete dan kesel. Tapi ya sudahlah. Mungkin memang sudah jalannya. Kalau saya gak nurut itu Bu Dirjen gak mau tanda tangan izinnya. Ya Allah gini amat yaks. Akhirnya saya menerima keputusannya dan mengambil peminatan Kebijakan dan Hukum Kesehatan. Fuihhh

Setelah dipikir-pikir lagi kenapa nggak yah, justru itu semakin luas dan bisa membuat kebijakan-kebijakan yang sifatnya promotif dan prefentif dan akhirya saya menerima dengan lapang dada dan dewasa. Hahahahaha.

5. Pantengin web universitas tujuan kamu

Kalau sudah upload seleksi administratif instansi, hal yang kamu perhatikan berikutnya adalah persiapan buat masuk ke universitas inceran kamu. Perhatikan kapan tanggal buka pendaftaran, lihatin persyaratannya apa saja. Butuh nilai TOEFL atau nggak, butuh proposal thesis atau nggak, dll. Isinya pelan-pelan yah, pastikan semua benar. Kemudian lihat kapan akan dilakukannya tes tertulis. Soal-soal apa yang kira-kira akan diuji. Kalau UI kemarin alhamdulillah gak perlu TOEFL. Soal yang diujikan ada TPA (Tes Potensi Akademik) dan Bahasa Inggris. Kampus incaran saya Universitas Indonesia, Fakultas Kesehatan Masyarakat Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat dengan peminatan Kebijakan dan Hukum Kesehatan.

Persiapan saya kemarin sih beli buku-buku tes TPA di Gramedia ajah sama belajar Bahasa Inggrisnya pakai buku Persiapan TOEFL. Terus terang susah jendral. TPA nya itu ada Matematika Dasar yang sudah sekian lama saya gak tegur-tegur dan logikanya yang benar-benar gak nyampe banget. Hihihi. Kalau Bahasa Inggrisnya soal cerita dan topiknya macam-macam. Bagusnya sih sering baca-baca artikel Bahasa Inggris biar kosakata agak banyakan. Hehehehe.

Selesai ujian terus terang saya pesimis dan berharap di gelombang kedua. Oh iyah biasanya ada dua gelombang gitu. Nah kalau gak lulus gelombang pertama, bisa ikut lagi di gelombang kedua. Yes bayar lagi dari awal tentunya yah.

Setelah dinyatakan lulus, perhatikan lagi apa yang harus dilakukan. Meskipun tubel saya dibiayain negara, ternyata belum ada pengumuman lolos tidaknya seleksi administratif di Kementerian. So mau gak mau daripada nama saya terdepak dari sistem Universitas Indonesia, saya rela tabungan saya buat nalangin uang kuliah saya terlebih dahulu. Katanya diganti kok. Jadi ada baiknya, kamu siapin dana kuliah sebesar uang gedung dan satu semester. Buat yang mau pakai surat tunda bayar bisa, tapi harus ke BPPSDM buat minta usratnya kemudian menyerahkan ke bagian akademik kampus.

Setelah melalui itu semua, di sinilah saya. Setelah daftar ulang, siap-siap buat mengisi IRS atau mata kuliah yang harus berebut dosen yang enak katanya. Soalnya kan kita belom nyoba. Alhamdulillah ada yang namanya Pengenalan Sistem Administrasi Fakultas buat yang belom kuliah di UI, ini sangat membantu, yah istilahnya kenalan deh sama Fakultas dan Kampus juga teman-teman satu kelas yang beragam asalnya. Sok akrab juga sama kaka-kakak kelas. Ini sangat membantu buat membagi pengalaman.

Minggu ini kuliah sudah dimulai, bismillah saya bisa selesai tepat waktu dan menjalaninya dengan kuat. Bukannya apa, di UI sejak tahun ini, ada prasyarat yang mengharuskan input tulisan ke Jurnal Internasional juga gencarnya mereka membasmi plagiarisme. Mohon doanya teman-teman. Semoga bisa melalui dua tahun ini. Masa kuliah ini, saya kan off kerja semoga bisa lebih rajin nge-blognya. Meski akan banyak tugas kuliah, tapi berharap bisa rutin nge-blog.  Itung-itung latihan menulis yah, meski gak ilmiah. Setidaknya tangan dan pikiran terbiasa menuangkan ke dalam kata-kata dan membentuk sebuah kalimat panjang. Hahahhaha. Amiiinnn…

Suasana Pengenalan Sistem Akademik Fakultas selama dua hari
Mencoba kompak dala rangka adu “yel-yel” antar peminatan
Alhamdulillah kekompakan terbayar dengan dinobatkan sebagai “yel-yel” terbaik di PSAF Pasca FKM

Menengok Wat Buparram di Kota Seribu Kuil Chiang Mai

Hellow… dah lama banget gak posting. Harus displin lagi nih, oneweek one post-nya. Anyway… ini salah satu cerita dari masih ada beberapa seri perjalanan terakhir saya ke Thailand beberapa bulan lalu. Semoga belom basi ya… hehehe.

Jam enam pagi di hari kedua saya di Thailand, kami sudah duduk manis di restauran hotel bintang lima di kawasan Sukhumvit Bangkok itu. Ehem, jam segini sudah ramai. Kebetulan hotel itu merangkap apartemen di mana banyak ekspatriat yang kebanyakan Japanese tinggal. Mereka bekerja dan menetap di Bangkok. Gak mau rugi, pagi itu saya makan buah dan oats. Menyelipkan satu croisant keju, dan dua buah yogurth yang kemudian ketinggalan di kulkas di hostel Chiang Mai dan jadinya gak saya makan juga. Well, apakah karena itu mencuri? Ah gak dong, kan boleh diambil. Ya belom rejeki kali ya.

Dari Marriot kami naik taksi ke Don Mueang airport kurang lebih 30 menit saja. Hari masih pagi jalanan Bangkok belum macet. Di bandara saya sempat BAB dan jajan masker di Sevel. Di Chiang Mai kan panas, muka harus tetap kinclong. Demi foto yang cetar (padahal kemudian tidak ada foto yang cetar). Hehehehe.

Jajanan Skincare di Thailand
Jajan Skincare Sachet di Sevel Don Mueang (ka-ki : CC cream, Masker Lidah Buaya, dan Masker Tomat)

Tepat jam 9, kami sudah dipanggil untuk naik pesawat. Wah maskapai singa di Bangkok on-time sekali. Senangnya, gak malu-maluin Indonesia. Lucunya, saya tidak terlalu melihat perbedaan penampakan antara penumpang yang naik maskapai budget dengan mereka yang naik maskapai premium seperti Thai airways. Penumpang Thai Lion pagi itu tertib mengantri sesuai nomor tempat duduk, dan tertib saat di pesawat. Agak beda dengan yang saya temukan di Indonesia. Aduh maaf ya, bukan maksud nyinyir tapi itu memang nyata adanya.

Beberapa kali naik pesawat Singa itu beda sekali dengan naik Burung Biru ketika di Indonesia. Beda tempat jelas ya, tapi penumpang yang saya temui juga berbeda kelas sepertinya. Ya disitulah uniknya Indonesia. Seru dan indahnya keberagaman, bikin hidup gak selalu mulus.

Tiket ke Chiang Mai
Bangkok-Chiang Mai Thai Lion Air

 

Kembali ke judul yuk ah. Kami tiba di Chiang Mai satu jam kemudian. Pagi itu bandara masih sepi. Hanya pesawat kami saja yang mendarat. Seperti bandara di mana ya, mungkin Batam, tidak juga lebih kecil. Masih sederhana, tapi rapi dan cantik.

Banadara Chiang Mai
Landmark Bandara Chiang Mai

Sebelum keluar bandara, kami menghampiri sebuah travel agent di sana untuk membeli paket tour  ke Golden Triangle besok. Kami mendapat potongan 200 THB. Belakangan saya baru sadar harga kami sepertinya masih kemahalan (emak-emak selalu gini).

Di luar bandara, kami bingung memilih song thew (angkot di Chiang Mai kayak oplet), taksi konvensional, atau tuk-tuk (kendaraan roda tiga khas Thailand). Zaki mendekati sebuah tuk-tuk yang sedang parkir. Nego harga, kami rasa masih masuk akal. Deal, naiklah kami ke kendaraan yang mirip bajaj itu.

Wuzzz… tuk-tuk jalan dengan kecepatan agak lumayan. Angin kencang menerpa wajah kami. Dengan bantuan google maps, supir tuk-tuk membantu kami menuju tempat penginapan yang sudah kami booking via booking.com.

Agak lama kami berputar-putar di daerah old town, yang memang kawasan favorit turis untuk bermalam. Masuk ke gang yang satu keluar gang yang satu. Supir tuk-tuk sepertinya mulai kebingungan. Zaki mulai gak sabar, akhirnya ikutan buka hape dan bantu mencari. Euhm… alhamdulillah gak lama ketemu juga hostel kami. Ternyata letaknya di pinggir jalan. tidak di dalam gang. Meski begitu, kami kasihan juga sama supir tuk-tuk, akhirnya kami kasih lebih dari ongkos sesuai perjanjian. Senang sekali wajah si Bapak, menerimanya.

Lanna House
Lanna House Chiang Mai

Masih terlalu pagi, kami belum bisa masuk ke kamar hostel. Kami hanya menitipkan koper saja, dan kemudian keluar hostel untuk melihat kota Chiang Mai lebih dekat. Mau kemana kita? Sampai saat itu kami belum tahu mau kemana. Kemudian saya menujuk ke arah kanan hostel kami. “Jalan ke sana aja yuk.” yang diikuti anggukan Zaki.

Di sekitar hostel kami banyak kafe-kafe yang menjajakan western food dan Thai food dan tentu saja tempat buat mimik-mimik. Ada juga kafe yang menjual kopi seperti setarbaks. Menarik lagi, di Chiang Mai banyak toko-toko buku lokal yang menjual buku baru atau buku bekas dengan harga yang miring. Sayangnya saya gak mampir. Payah ya? Iyah payah. Hehehe. Abis belum lama ke Big Bad Wolf, takut kalap banget kalau masuk toko buku. Budget untuk beli buku juga gak ada. Tapi iyah, saya salah. Harusnya saya masuk saja.

Chiang Mai mungkin bisa dijuluki sebagai kota seribu kuil. Setiap dua ratus meter, kita akan bisa menemui kuil yang bagus-bagus khas bangunan kuil Budha Thailand. Siang yang terik, sebelum masuk kuil kami sempat berhenti untuk membeli Thai Iced Tea. Panasnya terik sekali siang itu, padahal suhu hanya 32ºC. Matahari seolah berjarak sejengkal dari kepala. Godaan kesegaran es teh Thailand memang tak tertahankan.

IMG_2376
Gerobak Penjual Thai Ice Tea
IMG_2378
Penampakan Thai Ice Tea

Setelah berjalan kurang lebih lima ratus meter, saya melihat gerbang sebuah kuil yang terbuka. Saya lihat lagi, sepertinya ada pengunjung. Ini kuil kedua yang kami lewati. Kuil pertama gerbangnya tertutup. Kami masuk saja. Untuk turis dikenakan biaya 40 THB per orang. Nama kuil ini Wat Buparram.

Penampakan Kuil Wat Buparram
Kuil Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram

Memasuki bangunan utama kuil, tentu ada patung Budha duduk. Di dalam sudah ada rombongan turis dari China dengan tour guidenya. Sayang sekali tour guide menggunakan bahasa China yang tentu saja kami tidak mengerti sama sekali. Kami cukup puas dengan mengambil foto saja.

Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram dan jangan tanya siapa laki-laki dan wanita cantik di foto itu.

Keluar bangunan utama, kami berkeliling area kuil. Berpose ala-ala selebgram di depan sebuah stupa yang paling besar, dan melihat-lihat ke area dapur kuil yang siang itu saya melihat seorang biksu. Ada museum juga tapi ditutup dan seperti kurang terawat.

Buparram Museum
Wat Buparram Museum
Wat Buparram dari pelataran
Wat Buparram dari samping
IWat Buparram
Wat Buparram dari depan
Gagal Gaya Ala Selebgram
Gagal Gaya Ala Selebgram 😦 Belom Siap dah Cekrek
Tuktuk
Parkir Tuk-tuk
Payung dan Sunglasses
Payung dan Sunglasses membuktikan panasnya Chiang Mai siang itu

Mungkin di sana kami hanya 30 menit dan kemudian dengan tiba-tiba sebuah konvoi tuk-tuk mengejutkan kami masuk ke dalam area parkiran kuil. Rombongan turis Korea ternyata. Wah seru juga yah. Rombongan naik tuk-tuk. Kami pun bergegas keluar gerbang kuil dan memutuskan cari makan. Iyah, kami lapar sudah jam dua belas. Cari makanan halal di mana yah. Zaki mulai kemudian meng-googling.

Sepertinya untuk satu postingan blog sudah terlalu panjang yah saya berceloteh. Bersambung aja kali ya… Next post, kami juga menemukan kawasan makanan halal di Chiang Mai.

 

Menyusuri Teluk Ha Long (Ha Long Bay) di Vietnam Utara

Yeay… nge-blog pertama di tahun 2017. Mau cerita perjalanan ke Vietnam kemarin aja yuk.

Percaya atau tidak, nama Vietnam gue tulis dalam resolusi 2016 kemarin. Alasannya? Sederhana saja, sebelum jalan-jalan yang terlalu jauh, untuk memberi tanda di paspor kenapa tidak dimulai dari negara-negara di Asia Tenggara dulu? Ah sepertinya semesta mendukung (kata-kata yang lagi trend nih).

Sebenarnya sih Filipina juga masuk daftar destinasi gue tahun lalu, gara-gara mulai jatuh cinta sama serial dan film-film mereka yang romantis komedi. Cerita yang sederhana, ringan, dan romantis. Ya, boleh dibilang film menye-menye receh mungkin kalau kata pengamat film. Buat gue sih ya hidup harus seimbang saja. Nonton film mikir berat hayuks, ke bioskop model Allied film perang atau film detektif yang pake mikir kayak Snowden. Tapi sespertinya otak gue kadang memilih yang kata orang nggak banget itu demi keseimbangan hidup. Halahhh. Oke balik ke topik mau bahas Vietnam.

Meski baru sebulan kemarin memaksakan ambil cuti untuk ikut suami ke Semarang, kali ini gue maksa juga ikut ke Vietnam. Bermodalkan nekad mengajukan surat izin tidak masuk kerja selama dua hari. Oke suatu perjalanan dimulai sejak memesan tiket. Yup memesan tiket.

Kota terbesar di Vietnam sebenarnya ada di selatan yaitu, Ho Chi Min, meskipun ibukota berada di utara yaitu Hanoi. Kenapa begitu? Ceritanya panjang, dan harus membuka luka lama negara tersebut. Bentuk Vietnam yang memanjang dari utara ke selatan pernah mempunyai sejarah kelam dengan adanya perang saudara yang membawa dua kepentingan. Vietnam utara beraliran komunis dan Vietnam selatan dibawah kekuasaan AS dan sekutunya. Sekarang sih sudah bersatu dan Vietnam termasuk dari beberapa negara yang saat ini masih menganut paham komunis.

Penerbangan langsung dari Jakarta menuju Vietnam bisa dengan Garuda tujuan Ho Chi Min. Sayangnya kami kekeuh maunya ke utara. Tauk kemana? Ha Long Bay. Sebuah teluk yang berada di perbatasan Vietnam dengan Cina. Letaknya yang di utara dan terbatasnya waktu, kami harus ke Hanoi kota yang lebih dekat untuk menuju Ha Long Bay. Suami berangkat lebih dulu dan saya kemudian menyusul. Maunya saya sih naik penerbangan yang sampai Hanoy pagi, tapi untuk itu harus bermalam di Bangkok, dan suami (pasti) gak mengizinkan. Dapat tiker pagi dengan Thai Airways dan tiba di Hanoy malam harinya dengan transit di Bangkok satu jam saja. Harga tiket lumayan mahal sih 5,4 jt, tapi ya gak papalah, kan hotel sudah beres, tiket suami gratis pula. Mari kita anggap harga tiket murah. Hihihihi.

Tiba di Hanoy jam 21:00 waktu yang masih sama dengan Jakarta. Jangan lupa bekal dollar AS aja, tukar di Noi Bai Airport Hanoi. Seratus Dolar dapat 2 juta sekian VND (Vietnam Dong).

Suhu Hanoi di bulan Desember sejuk, agak dingin, seperti hujan belum lama mengguyur, tapi masih bisa ditolerir buat penduduk negara tropis macam saya. Sesekali angin berhembus agak kencang malam itu. Dijemput suami di bandara, malam itu kami langsung pulang ke hotel, karena besok pagi-pagi kami mau ke Ha Long Bay. Kami naik taksi dari bandara menuju hotel. Jangan lupa harus sepakat dari awal mengenai ongkos taksinya. Pakai argo atau tidak, dan mata uang apa yang digunakan. Di Vietnam, selain mata uang VND, banyak juga yang menggunakan US Dollar.

Sehari sebelumnya, suami sudah mendaftarkan kami ikut One Day Trip ke Ha Long Bay via Shin Cafe. Shin Cafe adalah biro perjalanan yang cukup terpercaya. Silahkan googling atau kalau mau datang langsung, banyak terdapat di daerah kota tua Hanoi. Sebelum deal, harus banyak-banyak tanya dan jangan ragu untuk membandingkan. Soalnya para wisatawan suka dapat harga yang berbeda-beda. Apa saja yang di dapat dengan harga-harga yang ditawarkan. Pokoknya harus teliti deh.

Selesai sarapan di hotel, tepat jam 08:30 seorang laki-laki Vietnam menjemput kami di hotel. Hotel kami adalah hotel terakhir peserta tur. Perjalanan menuju Ha Long Bay menggunakan sebuah minibus van berisi 15 kursi. Kami duduk di kusi paling belakang, yang seharusnya untuk empat orang, jadi bisa selonjoran deh. Laki-laki dengan tinggi kurang dari 160 cm yang menjemput kami di hotel tadi, adalah guide tour kami nama Vietnamnya Ngu Yen siapa begitu, tetapi untuk memudahkan kami para tamu yang berasal dari berbagai negara, ia mengizinkan kami memanggilnya dengan sebutan Kim.

Kim kemudian mengabsen kami satu persatu. Teman perjalanan kami hari itu memang dari beragam negara. Duduk di baris paling depan ada pasangan sepertinya belum menikah dari Italia. Oppa-oppa yang ramah dan chubby dari Korea Selatan. Barisan kedua sebuah keluarga campuran Austria dan Thailand dengan anaknya yang cantik Asia tapi memiliki rambut kecoklatan dan postur yang kurus dan tinggi seperti ras Eropa bernama Kathy. Baris ketiga ada pasangan suami isteri Mexico dan Amerika serta solo traveller dari Amerika juga. Baris belakang, kami dari Indonesia. Meski banyak yang menebak kami dari Malaysia. Why???

Di perjalanan, Kim menceritaka kami sedikit tentang Vietnam. Seperti peta negara Vietnam yang sering dijuluki sexy lady, cara orang Vietnam melakukan toast saat minum-minum dan meminta kami mempraktikannya, dengan air mineral tentunya.

Perjalanan Hanoi menuju Ha Long Bay ditempuh dalam waktu empat jam. Selama perjalanan itu gue ngapain? Ngobrol sama yang lain? Nggak. Ada yang sibuk main hape, dan karena gue gak mengaktifkan paket data, ya udah gue mengamati Vietnam dari kaca mobil. Gak terlalu beda sama di Indonesia sih. Negara agraris, banyak sawah, perkebunan sayur, pohon pisang, anak sekolah naik sepeda onthel, pengendara sepeda motor dengan bawaan yang melebihi kapasitas. Mirip sama daerah Sleman di Yogya kali yah.

img_6907
Pemandangan dari depan hotel

Setelah dua jam kami menempuh perjalanan, bus kami berhenti di sebuah tempat pemberhentian, seperti rest area gitu kali ya. Bedanya rest area di Indonesia dan Vietnam adalah di Vietnam cuma ada satu bangunan besar yang berisi tempat penjualan souvenir khas kerajinan tangan berikut tempat workshopnya. Istimewanya mereka mendayagunakan mereka yang difable. Mereka membuat lukisan dengan sulaman benang. Merangkai benang di atas kain yang sudah digambari pola lukisan. Hasilnya keren-keren banget. Tema lukisan dibuat khas Vietnam sekali. Seperti kehidupan sehari-hari masyarakat Vietnam bercocok tanam, orang memancing di danau, dan seorang gadis yang memakai pakaian tradisional dengan membawa payung berdiri di bawah pohon atau dipinggiran danau dengan topi caping.

Barang-barang khas yang dijajakan mulai dari tempelan kulkas, tas kipling, anggur khas Vietnam yang di dalam botolnya ada kepala ular, juga makanan dan minuman ringan. Kayaknya teman-teman rombongan gue gak begitu doyan belanja. Paling ada yang jajan kopi dan cemilan. Kalau gue cuma ke toilet aja. Hehehe. Bangunan toilet terletak di luar dan bersih. Sambil menunggu yang lain kami juga sedikit ngobrol sama Park lebih tepatnya sih, berkenalan. Pipinya yang chubby dan wajah imutnya gak menyangka kalau dia seumuran sama kami.

Meski sudah nahan-nahan mata biar gak merem, tapi sejuknya AC mobil bikin gue ketiduran juga, dan ketika bangun, belum kelihatan juga penampakan Ha Long Bay. Gak lama kemudian, Kim menyapa kami (lebih tepat membangunkan kami yang tidur) dan mengingatkan, tidak lama lagi kami akan tiba di Ha Long Bay. Kim meminta kami melihat ke arah kanan, dan benar saja, bukit-bukit batu besar yang diselimuti pepohonan hijau bisa sedikit kami lihat. Iklim bulan Desember membuat suasana siang itu tidak panas karena matahari memang tertutup awan tebal. Mendung dan memang diselimuti kabut tipis. Foggy dan mistis. “Agh… itu Ha Long Bay!” teriak gue dalam hati. Persis seperti yang aku lihat di blognya orang-orang meski cuaca mendung, tapi aku senang.

One Day Trip ke Ha Long Bay dimulai dengan kami menaiki sebuah kapal mesin berukuran sedang yang akan membawa kami menyusuri teluk Ha Long ini. Paket trip gue ini harganya 50 US Dolar satu orang sudah termasuk makan siang di kapal. Oh iya, ada yang lucu nih masalah makanan. Berhubung kami ingin aman (halal) dalam hal makanan, maka kami bilang ke Kim kalau kami vegetarian. Kami dapat menu satu nampan besar khusus vegetarian. Isinya mie goreng, telur gulung, sedikit bakso tahu, dan bola-bola kentang. Gak lama datang makanan yang no vegie. Tauk gak, menunya apa? Semua seafood dong, ada udang bakar, ikan bakar, dan gue sama suami liat-liatan kemudian tertawa menertawakan kesialan kami.

Paling goks adalah kami sempat bekal mie goreng yang kami masak di hotel dan kami juga cuek aja mengeluarkan sambal botol belibis. Hihihihi. Kami takut makanannya aneh-aneh kan, tapi gak papa tauk menunya seafood, kami agak tenang lah makannya. Teman makan semeja kami si Park orang Korea dan pasangan campur dengan putrinya. Selesai makan gue tanya ke Zaki, “Nyesel bilang kita vegie?” Zaki jawab, “Gak papalah kita pesan menu terpisah dari mereka, itu Oppa-oppa (sebutan kakak laki-laki Korea bagi wanita) makannya banyak juga.” Wkwkwkwkwk. Emang sih, si Oppa makannya banyak.

Selesai makan, kami menaiki bagian atas kapal dan menikmati keindahan Ha Long Bay. Langit siang itu mendung, angin berhembus sedikit kencang. Suhu udara kurang lebih 10-15 derajat celcius, mirip dengan udara di Lembang Bandung musim hujan.

Foggy Ha Long Bay
Batu di tengah tersebut ada di gambar mata uang Vietnam

Kim menunjukkan kepada kami kalau pemandangan Ha Long Bay diabadikan juga sebagai gambar yang terdapat di lembar mata uang Vietnam. Kim juga menceritakan sedikit cerita atau mitos seputar Ha Long Bay. Konon batu-batu besar di teluk tersebut adalah batu-batu yang dilemparkan oleh para dewa, ketika tanah Vietnam akan diserang oleh bangsa China. Batu-batu tersebut konon menjadi penghalang bagi penjajah untuk menyerang Vietnam.

Ha Long Bay
Pemandangan di Sekeliling Ha Long Bay

Kapal kami kemudian berlabuh di sebuah dermaga kecil. Paket kami juga termasuk menaiki kapal kayu kecil. Satu kapal berisi 4-5 orang. Kami berperahu bersama Kathy dan sempat melakukan perbincangan. Ayah Kathy yang aseli Austria sudah pernah ke Bali, kemudian Ibunya Kathy kelihatan agak sebal pengen banget diajak ke Bali suatu hari nanti. Mereka sekarang tinggal di Austria dan Kathy bisa berbicara bahasa  Jerman, Thailand, dan Inggris. Emang sih, pas ngobrol sama Ibunya pakai bahasa Thai, pas sama bokapnya bahasa Jerman, kalau di sekolah Bahasa Inggris.

Mereka ke Vietnam dalam rangka liburan dan kemudian akan lanjut ke Thailand untuk merayakan natal di sana. Liburan keliling Asia dua bulan bo… Ngiri banget.

Dermaga Ha Long Bay
Dermaga tempat naik perahu kayu
Mixed Couple
Kathy dan Orang Tuanya
Perempuan Perkasa Hanoi
Pendayungnya Kebanyakan Wanita
Ha Long Bay
Penampakan Batu di Ha Long Bay

Menariknya lagi dari pejalanan kami dengan perahu kayu, adalah siapakah yang mendayung? Pendayung kebanyakan Ibu-ibu dan mbak-mbak cantik lho. Meskipun badannya kecil, tetapi tenaganya kuat banget. Lumayan kurang lebih 30 menit. Ada sih, kalau mau uji kekuatan tangan mendayung dengan kano. Mana mau si Zaki, ngedayung, dengan alasan nanti dia doang yang dayung. Hahaha. Males ah. Bahkan ada yang kano sendirian loh. Bodo ah, kami memang pemalas. Usia yah, gak bohong.

Canoing di Ha Long Bay
Canoing di Ha Long Bay

Ha Long Bay

Ha Long Bay

Ha Long Bay

 

Selesai menikmati keindahan Ha Long Bay dengan perahu kayu, kami balik ke kapal untuk mengunjungi gua dibalik bukit. Untuk mencapai gua, kita perlu sedikit menanjak. Jangan khawatir, jalurnya sudah bentuk tangga beton. Memasuki dalam goa, jangan bayangkan goa gelap dan lembab. Lampu warna-warni di dalamnya. Kuning, hijau, pink, wah berasa di club malam deh, bukan di goa. Sepanjang penyusuran ke goa, Kim menceritakan sedikit tentang goa. Cerita berasal dari mitos-mitos atas bentuk-bentuk yang terbentuk dari stalaktit dan stalakmit dalam gua. Misal ada yang berbentuk sepasang kekasih, seorang ibu dan anaknya, kera, buaya, sampai santa claus. Masyarakat Vietnam sama halnya dengan Indonesia memiliki sekali cerita atau mitos-mitos yang menarik.

Penampakan Gua
Penampakan Gua

Gua Ha Long Bay

Gua Ha Long Bay
Penampakan dari atas Gua Ha Long Bay

Berakhirnya kunjungan kami ke gua, mengakhiri perjalanan sehari kami ke Ha Long Bay, jam 5 sore kami kembali ke Hanoi. DI perjalanan menuju dermaga kami disuguhi teh khas Vietnam dan kue kacang hijau yang rasanya manis banget dan jeruk mandarin yang imut-imut. Eh si oppa lapar sepertinya. Dia yang paling banyak makan itu kue. Hihihihi.

Park, teman baru dalam perjalanan di Ha Long Bay
Pemandangan dari Dermaga Gua
Pemandangan dari atas Bukit Gua Ha Long Bay
Kue Kacang HIjau Khas Vietnam
Kue Kacang Hijau Khas Vietnam dan Secangkir Teh

Perjalanan pulang ke Hanoi melewati jalur yang berbeda dengan arah berangkat, dan karena hari itu hari Jumat, lalu lintas lebih ramai dan yang paling membuat tidak nyaman kenapa orang-orang di Vietnam senang sekali bermain klakson dan itu bikin kuping capek.

Perjalanan pulang, kami juga berhenti di rest area untuk ke kamar kecil ataupun berbelanja buat yang mau belanja. Rombongan kami yang cowok malahan asyik membahas masalah politik dan langsung menanyakan ke narasumber alias ke masing-masing warga negara. Contohnya, tentang terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika, kudeta Presiden Korea Selatan, dan sebagainya-sebagainya. Berat amat sih obrolan. Hahahahaha. Berasa lagi ikutan rapat di PBB.

Akhirnya tepat jam 20:30 kami tiba di Hanoi, dan kami yang pertama kali di antar ke hotel malam itu. Oh iya, kata si Park, hotel kami bagus. Ya iyalah kan dibayarin kantor. Hihihihi. Mau beli makan malam, kami ingat mie goreng tadi pagi belum di makan. Marilah makan mie goreng aja sama rendang. Ceritanya dietlah malam-malam. Padahal badan sudah capek banget, bawaannya pingin mandi kemudian langsung tidur. Hehehehe.

Perjalanan kami siang tadi meninggalkan pengalaman yang yang luar biasa. Ikutan grup tur yang mempertemukan kami dengan orang-orang dari berbagai negara. Oppa Korea malah bersedia memandu kami kalau kami suatu hari main-main ke Korea. Dari obrolan kami, kebanyakan mereka masih melanjutkan perjalanan keliling Vietnam seperti Danna  di Vietnam tengah dan Ho Chi Min di selatan. Bahkan ada yang lanjut ke Myanmar, Kamboja, atau Thailand. Sayangnya gak ada yang mampir ke Indonesia. Oh iyah, ketika ngobrol, kami gak bosan-bosan loh, promosi tentang Indonesia ke mereka. Cerita betapa indahnya Indonesia dan pulaunya yang banyak. Mereka sih manggut-manggut ajah dan janji suatu saat akan mampir ke Indonesia.

Ada juga yang tertarik dengan jilbab saya, menanyakan apa kami muslim, kenapa muslim begini dan begitu. Oke,lain kali akan saya ceritakan di halaman berikutnya dari blog saya ini.

Perjalanan kami esok harinya, kami lanjutkan dengan keliling Kota Hanoi. Kemana? Entahlah kami belum punya tujuan yang pasti, tapi saya yakin perjalanan kami besok pasti sama serunya dengan hari ini.

 

Anak-anak Hebat Dalam Perjalanan di Bawen Semarang

Perjalanan seru kami melintasi pantura Yogya-Jakarta, dari Klaten kami lanjutkan menuju Semarang melewati Boyolali dan Salatiga. Memasuki Kabupaten Semarang, sepertinya suami agak menyadari kalau dia salah jalan. Maksud hati ingin masuk tol, kenapa tiba-tiba berjalan di kawasan industri dengan kendaraan truk-truk besar lalu lalang. Melipirlah kami ke sebuah masjid milik pabrik Apac Inti Corpora yang lumayan besar untuk urusan toilet dan karena matahari sudah mulai tenggelam, kami memutuskan akan sholat Magrib juga.

Mesjid PT. AIC
Pembatas tempat sholat pria dan wanita

Lampu Gantung di Mesjid Apac
Lampu Gantung Mesjid
Seusai sholat, saya tertarik untuk menyapa tiga orang anak perempuan yang dengan santunnya menyalami tangan semua jemaah orang dewasa. Meski jemaah dewasa saat itu hanya berjumlah empat orang. Saya bertanya kenapa mereka tidak langsung pulang. Anak yang sepertinya paling tua menjawab dengan sopan . “Kami mau mengaji mbak.” Jawabnya dengan logat jawa yang kental. Saya pun sedikit bertanya hal-hal seputar kegiatan mereka mengaji. Oo, sepertinya saya harus segera bergegas melanjutkan perjlanan ke Semarang. Hari sudah gelap.Kami belum tahu juga mau menginap di mana di Semarang nanti. Ketika membereskan alat sholat, tetiba saya teringat kalau saya membawa sedikit oleh-oleh untuk mereka.

Sama sekali tidak ada rasa takut dalam raut wajah anak-anak itu, ketika saya ajak  mereka untuk ikut ke mobil mengambil sesuatu yang saya janjikan. Bahasa tubuh mereka juga memperlihatkan kalau mereka senang sekali akan diberi “sesuatu”. Mereka terus mengekor saya sampai saya mengambil sesuatu yang saya janjikan. Sambil berjalan menghampiri mobil, saya kembali bertanya ke salah satu anak yang paling besar lagi. Sepertinya memang dia yang paling punya keberanian untuk menjawab pertanyaan orang baru seperti saya ini.

Saya tanya orang tuanya berprofesi sebagai apa, adik kecil yang duduk di kelas 5 SD itu menjawab, “Ibu jualan warung, kalau Bapaksudah meninggal sejak saya lahir.” Jawabnya dengan nada suara yang tidak berubah sama sekali. Deg. Tenggorokan saya sperti ada yang menahan dan mulai mellow deh. “Oh, sabar ya dek.”jawab saya sambil menggandeng tangan kecilnya. Entah kenapasaya gak menanyakan ayahnya meninggal kenapa dan bagaimana. Ya ampun Rini, itu anak umur tujuh tahun.Bisa aja dia sedih.Udah gak usah banyak tanya.Buruan ajah kasih kan bikin dia seneng bahagia. Kalau ditanya-tanya takutnya dia jadi teringat almarhum ayahnya. Tiba-tiba seperti ada yang berbisik dan mengingatkan saya.

Setibanya di depan mobil, saya segera membuka pintu mobil bagian belakang dan mengambil beberapa kotak makan, tempat minum dan Majalah Bobo. “Ada Bobo nih, sudah pernah baca Bobo belum?” tanya saya. Mereka menjawab mereka sudah pernah membacanya di perpustakaan sekolah. “Wow, hebat. Ini dibagi-bagi juga ke teman-teman ngaji yang lain ya.” Ujar saya sambil menyerahkan dan kembali menutup pintu mobil.

Mereka bersorak riang dan dengan kompaknya mengucapkan terima kasih. Meski saat itu hari telah gelap dan lampu penerangan tidak cukup terang, tapi saya bisa melihat jelas raut wajah bahagia mereka.

“Mbaknya dari mana?” tiba-tiba salah satu dari mereka bertanya. “Saya orang Jakarta, dari Yogya mau ke Semarang” jawab saya. Kemudian mereka serempak berlari kembali ke masjid, karena salah satu kawan mereka sudah memanggil. Pengajian akan segera dimulai. Sambil memandang mereka saya pamitan dan mengatakan, “Sampai jumpa lagi kapan-kapan ya, dek. Belajar dan ngaji yang rajin ya.”

Terharu sekali melihat mereka. Bahasa mereka sangat sopan. Meskipun mereka orang jawa yang sehari-hari berbahasa daerah, ketika saya ajak bicara Bahasa Indonesia, mereka menjawab dengan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Terkadang saya jadi malu, sering berbahasa sesuka hati saya meski saya tinggal di Jakarta. Tempat di mana saya seharusnya bisa ber- Bahasa Indonesia lebih baik dibanding mereka.

Saya juga kagum dengan semangat yang mereka miliki. Seperti semangat anak-anak yang selalu haus akan ilmu. Untuk mencapai masjid, mereka harus menyeberang jembatan penyeberangan. Mengikuti sholat berjamaah di masjid, dan juga menciumi semua tangan jemaah dewasa, seperti sebuah kewajiban bagi mereka. Meski mereka belum mengenal orang-orang yang mereka ciumi tangannya itu. 

Masih dari cerita mereka,  sehabis sholat mereka belajar membaca Alquran. Setiap hari rutinitas tersebut mereka jalani. Murid yang datang kadang banyak mencapai sepuluh hinga lima belas anak, kadang hanya lima orang saja. Saat itu sepertinya sayahanya melihat jumlah mereka tidak lebih dari lima anak.

Meski kali ini saya hanya membawa majalah Bobo, kotak makan, dan tempat minum plastik alakadarnya. Belum bisa seperti teman-teman yang punya nyali besar untuk membawa perubahan. Saya terinpirasi dengan Mba Nila Tanzil yang melahirkan Taman Bacaan Pelangi buat teman-teman timur Indonesia, atau teman saya Nia yang membuat acara One Day Doing Fun untuk anak-anak kurang beruntung. Tapi langkah besar dimulai dengan hal kecil bukan. Saya ingin sedikit saja mencoba bergerak. Tidak banyak, tetapi buat saya ini prestasi tersendiri.

Sebelumnya, tujuan saya melakukan perjalanan hanya melihat tempat wisata, foto-foto ala turis, lalu pamer di social media. Bangga kalau di like banyak, dan dapat komen yang bagus. Tujuan jalan-jalan saya sekarang naik satu tingkat.Sseperti tulisan terbaru mbak Windy di blognya, ingin menjadi “kaki-kaki buku”. Meski awalnya hanya majalah dan kotak makan plastik, yang semoga bermanfaat buat mereka. Dalam hati saya janji, mau nabung agar bisa memberi lebih banyak ke mereka yang saya jumpai dalam perjalana. Semoga saya bisa berbuat lebih seperti mereka-mereka yang keren-keren dengan cara saya sendiri tentunya.

Sayangnya lagi, saya gak ajak mereka berfoto ria, karena mereka sudah harus mengaji. Hari juga sudah gelap. Terima kasih adik-adik di Mesjid As-Salam, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Semoga kalian jadi orang sukses nantinya. Semoga suatu saat nanti, akan ada pertemuan berikutnya.

Masjid PT. AIC
Penampakan Luar Masjid PT. Apac Inti Corpora

 

 

 

Yogya-Jakarta Lintas Pantura (Part 1 : Yogya-Klaten)

Aduh, saya malu sama para blogger yang patuh sama janjinya mau nge-post rajin. Apalah saya ini yang hanya bisa janji tapi susah untuk menepati. Hampir sebulan nih vakum gak nge-post. Tapi tnang meski gak nge-post, tapi alhamdulillah masih nulis di draft. Malesnya masukin foto dan ngedit itu yah. Hahahaha. Kali ini saya mau menceritakan perjalanan saya dari Yogya menuju Jakarta mampir ke Klaten. Kemudian menyempatkan main-main ke Semarang dan Cirebon.

Waktunya bertepatan ketika saya ada tugas ke Yogyakarta dalam rangka menghadiri Pertemuan Ilmiah Tahunan yang diadakan oleh Ikatan Apoteker Indonesia. Suami yang kerja di bagian marketing pun mengatur waktu, supaya punya alasan untuk menengok customer di Yogya. Saya pun berangkat lebih dulu ke Yogya dengan pesawat. Suami mengendarai mobil ke Yogya. Wow suatu prestasi buat suami, mengingat rute yang paling jauh sebelumnya adalah Bandung. Tugas kantor saya dan suami selesai, suami jemput dan dimulailah perjalanan darat kami dari Yogya menuju Jakarta.

Kami sebenarnya terinpirasi dari Komik karya Benny Rahmadi yang berjudul Tiga Manula jalan-jalan ke Pantura. Sebenarnya kami sudah pernah menyusuri pantura beberapa kali dalam rangka mudik Lebaran menuju kampung halaman suami di Klaten. Dalam komik tersebut digambarkan keseruan yang dialami tiga manula selama jalan-jalan ke Pantura. Kami pun tertantang untuk melakukan napak tilas jalur pantura. Ceileh napak tilas.

Bedanya, kali ini kami ingin lebih meresapi perjalanannya. Bawa mobil, nyetir sendiri, melewati kota-kota di pantai utara Jawa, singgah di tempat-tempat wisata yang belum pernah kami kunjungi ataupun sekedar makan di pinggir jalan. Pokoknya maunya perjalanan yang santai dengan sejuta makna tentunya.

Berhubung yang menyetir mobil hanya suami seorang, dan belajar mengendarai mobil hanya selalu menjadi wacana buat saya. Hormon adrenalin saya sepetinya selalu berada di titik terendah dan sepertinya saya tidak berniat untuk meningkatkan kadarnya. Pengaruh umur kah? Terserah. Hahahaha. Pokoknya saya belom berani buat menyetir mobil. Titik.

Ngapain aja kami di Yogya? Hahaha buat kami yang hampir setiap tahun ke Yogya, jadinya  kali ini kami hanya akan menengok adik-adik di Yogya, kulineran, dan jalan-jalan dekat hotel saja.

Kamis menjelang maghrib kami jemput Nida, adik saya yang lagi break koas dan mau PTT. Kami janjian untuk makan Seafood di restoran yang lagi hits di Yogya dengan adik kami yang sedang menimba ilmu di Universitas Islam Indonesia.

1. Makan Seafood Kekinian di Jakal

Crabby Crab Kaliurang
Seafood Time at Crabby

Hits atau tidaknya suatu tempat bisa dilihat dari usia pengunjungnya. Kami berasa paling om-om dan tante-tante gitu. Kalau saya sih pasti masih masuk banget untuk masuk kategori anak kuliahan yah. Hehehe. Rata-rata mereka datang ada yang berpasangan, ada juga yang segerombolan seperti sedang merayakan ulang tahun. Belom lagi kehebohan yang mereka timbulkan. Teriakan-teriakan ala gadis imut dan manja sesekali terdengar memekik telinga. Bayangin sendiri deh ya gimana.

Kira-kira dua puluh menit, pesanan kami akhirya datang. Untuk makan kami disediakan alas dengan kertas buram, tettapi agak tebal, alat bantu potong kepiting, dan celemek yang bisa dibilang bau macam kembang tujuh rupa tapi kembangnya bau eek ayam. Hahahaha. Pokoknya baunya gak enak banget deh. Daripada nanti itu bau berpindah ke baju, kami memilih untuk tidak memakainya.Lebih memilih berhati-hati lebih saja.

Rasa sajian kepiting yang kami pilih adalah kepiting saus padang. Tidak hanya kepiting, kami memilih paket. Paket tersebut berisi kepiting, udang, kerang, dan jagung rebus. Saya yang memang tidak terlalu suka kepiting karena males sama cangkangnya, memilih udang dan kerang. Rasanya biasa aja sih buat saya. Bumbunya kurang berasa. Level 3 dari yang tertinggi 4 saja kurang pedas buat kami. Bumbu kurang menyerap, yah nilainya enam deh. Tapi harganya sesuai kantong mahasiswa sih. Murah. Paket lengkap hanya dua ratus ribuan.

Sangat disayangkan lagi, tempat sholatnya sangat alakadaranya sekali. Seperti kamar tidur karyawan warung yang disulap jadi mushola dadakan. Bau khas kamar anak cowok. Mukenanya juga khas mukena tempat umum dengan tingkat kebersihan 2 dari 5. Maaf. Itu saja sudah mengurangi nafsu makan saya malam itu. Tapi ya karena lapar, udah ajalah ya kita makan.

Ketika hidangan belum tersaji, adik saya Nida bermaksud mengajak kami ke tempat hits berikutnya di Yogya. Es krim gelato. Eh Dek Naufal mau les Bahasa Inggris, jadilah kami putuskan bubar saja setelah makan. Kami pun balik ke hotel tempat suami menginap, di Jambuluwuk. Kapan-kapan deh ya saya tulis di blog reviewnya. Kapan yah? hehehe.

2. Jalan-jalan tanpa Tujuan di Malioboro

Pagi-pagi saya memaksa suami saya jalan-jalan ke Malioboro. Tepatnya sih ke Pasar Beringharjo. Pengen tahu ajah pagi-pagi itu gimana penampakannya. Sebelumnya mampir dulu ke restoran, siapa tauk sarapan sudah siap. Eh tapi, belum. Jadilah kami langsung cus ke Malioboro. Awalnya saya maksa ke Malioboro berjalan kaki, tapi dengan alasan jauh saya mengalah. Kami akhirnya naik mobil. Mau naik becak dari depan Hotel Jambuluwuk tempat kami menginap 50.000. Ups, lumayan yah.

Pasar Beringharjo
Pasar Beringharjo

Di sepanjang jalan Malioboro sekarang sudah tidak boleh parkir. Parkir tersedia di dalam kawasan  Benteng Vrederburg. Malioboro pagi itu masih sepi. Hanya ada beberapa pedagang asongan tas batik yang masih duduk-duduk santai menungu calon pembeli. Beberapa penjaja pecel dan gudeg sudah ramai diserbu mereka yang mencari sarapan. Ealah, apa itu, ternyata Pasar Beringharjo pun pagarnya masih tertutup dan sedang di pel. Hihihihi. Mari kita bantu si Bapak ngepel aja yuk. Tentu saja hal itu membuat si Zaki senengnya bukan main. Apalagi kalau bukan dengan begitu peluang saya belanja lenyap. Beuh, puas deh.

Malioboro
Malioboro
Malioboro
Malioboro masih sepi

Lelah menyusuri Malioboro yang masih sepi, perut minta diisi. Kami memutuskan untuk sarapan di hotel aja. Gak mau rugi kan. Tapi ternyata, ada acara senam pagi bersama yang diselenggarakan sebuah komunitas. Untuk itu mereka juga menutup akses jalan kami pulang. Oke baiklah. Rejekinya bakul gudeg deh, akhirnya kami menikmati seporsi gudeg di pelataran Beringharjo.

Selesai makan, kami memilih menghampiri acara senam pagi tersebut ke arah Monumen Titik Nol Kilometer. Pesertanya cukup banyak dan ramai. Warna-warna sponsor mewarnai kaus yang dikenakan, goody bag, dan stand-stand ikut meramaikan acara senam bersama tersebut. Alih-alih ikut senam, kami memilih duduk-duduk cantik di bangku di sepanjang trotoar nol kilometer. Memperhatikan betapa semangatnya si Bapak yang berdiri paling depan mengikuti gerakan sang instruktur senam kenamaan, Lisa Natalia. (Buat yang gak tauk Lisa Natalia, googling aja ya. Ketauan deh zaman kita berbeda) 🙂

Senam Pagi Komunitas Ikatan Apoteker Indonesia
Senam Pagi Komunitas Ikatan Apoteker Indonesia

Memperhatikan lalu lintas Yogya pagi hari yang mulai ramai dengan mereka aktivitas pagi. Seperti berangkat kerja atau sekolah. Menikmati bangunan-bangunan tua seperti Kantor Pos, Gedung Bank Indonesia,dan Gedung Bank Negara Indonesia.Sempat mampir ke kantor pos, maksud hati mau mengirimkan kartu pos. Eh kok yah gak ada yang jual kartu pos yah. Ya sudah, batal deh.

Jam sembilan tepat akhirnya acara senam bersama selesai. Horeee. Kami pun segera kembali ke hotel. Bersih-bersih lalu chek-out deh. Lanjut ke Klaten.

4. Sholat Jumat di Mesjid Raya Klaten dan Silturamhmi

Sebelum ke Klaten, kami menyempatkan untuk mampir membeli titipan Bakpia Kurnia Sari terdekat. Harus merek Kurnia Sari? Iyah harus. Rasanya lebih lembut dan lumer di mulut. Cobain deh. Perjalanan Yogya – Klaten memakan waktu kurang lebih dua jam. Berhubung hari itu hari Jumat, kami memutuskan mengunjungi Mesjid Raya Klaten yang baru untuk sholat Jumat. Bangunan tersebut berdiri di atas tanah yang sebelumnya adalah terminal. Terminal dipindah, dan berubah menjadi mesjid kebanggan warga Klaten.

Di daerah Jawa Tengah, memang tidak aneh kalau wanita ikutan sholat Jumat. Jadilah saya waktu itu bergabung untuk sholat Jumat juga. Daripada bengong panas terik menunggu.  Iya, itu sholat Jumat pertama saya selama saya bisa mengerjakan sholat. Hehehe.

Mesjid Raya Klaten
Mesjid Raya Klaten

Pengalaman menarik yang saya lihat selain kemegahan mesjid tersebut adalah jemaah anak-anak di sana. Mesjid raya yang terdiri dari tiga lantai, dilengkapi dengan lift. Nah, lift ini ternyata menjadi objek menarik buat anak-anak usia 6-10 tahun itu. Selesai sholat, mereka berebut untuk turun melalui lift. Anak-anak memang selalu punya cara untuk bahagia. Apapun dan dimananpun mereka berada. Raut wajahnya ituloh benar-benar bahagia. Makanya biar gak stres kadang kita harus mempunya kacamata seperti mereka.

Anak-anak di Masjid Raya Klaten
Anak-anak di Masjid Raya Klaten
Bagian Dalam Masjid Raya Klaten
Bagian Dalam Masjid Raya Klaten

Sholat Jumat selesai, mengagumi Mesjid Raya selesai. Kami pun ke tujuan utama kami ke Klaten. Ke rumah Simbah Putri satu-satunya yang kami miliki. Iyah, kami sengaja gak bilang-bilang. Kejutan ceritanya. Eh, tiba di rumah Simbah, Mbahnya lagi menikmati angin sepoi-sepoi di teras rumah dengan mata terpejam. Wah, Simbah tertidur pulas sepertinya. Di teras rumah Simbah, meski siang terik, persis di depannya ada pohon mangga yang cukup meneduhkan halaman rumah. Belum lagi tanaman bunga dalam pot dan hamparan sawah didepannya. Siang itu angin pun bertiup seperti meninabobokan. Udara begitu sejuk tanpa perlu kipas angin apalagi air conditioner. Bayangan saya malah menambahkan dengan buku digenggaman, ah lima menit saja mungkin saya terlelap.

Simbah Ketiduran di Teras
Simbah Ketiduran di Teras

Pelan-pelan kami membangunkan Simbah. Agak kaget sepertinya beliau melihat kedatangan cucunya ini. Bukan hari libur atau ada perayaan apa seperti kami biasa mengunjungi rumah Simbah. Kurang lebih tiga puluh menit di rumah Simbah dan setelah menghabiskan segelas teh manis buatan Bulek, kami mohon pamit. Berkah silaturahmi kami dapat ketika kami dibawakan kira-kira sepuluh liter beras oleh Bulek Rukh. Beras bukan sembarang beras. Beras yang ditanam oleh Om Sayid tanpa pupuk kimia dan memiliki aroma khas yang wangi pandan. Lumayanlah ya… Hemat gak beli beras dua bulan. Hihihi. Perjalanan kami masih panjang, bersambung di posting-an berikutnya ya.

 

 

 

 

 

 

 

Makanan Khas Arab yang Yummy (Worktrip Arab Saudi Part 2)

Setelah bagian 1 cerita worktrip ke Arab kemarin perjuangan meraih buku kuning, kali ini saya mau cerita tentang makanan. Hahaha. Maaf lah yah, masih gak jauh-jauh dari makanan. Belom yang berat-berat. Habis gimana, kita kan hidup butuh makan. Jadi, daripada yang berat-berat, bahas makanan memang lebih enak. Ngeles ajah.

Alhamdulillah, teman-teman worktrip saya kali, ini sudah semuanya pernah ke Arab. Bahkan gak cuma yang sepuluh hari sebagian besar sudah pernah tinggal di Arab selama 3 bulan sebagai TKHI (Tenaga Kesehatan Haji Indonesia). So, mereka udah tahu banget makanan apa saja yang bikin kangen kalau lagi di Arab Saudi.

1.Nasi Mandhi/ Nasi Bukhari /Hadramaut

Sebagai orang asia dan Indonesia sejati, tentu saja kami gak bisa jauh-jauh dari yang namanya nasi. Buat kami, nasi adalah makanan wajib. Kalau belum makan nasi, sepertinya kami belum makan. Jadilah pilihan pertama kami adalah nasi mandhi. Nasi mandhi disini mungkin mirip-mirip nasi briyani atau nasi kebuli.

Nasi mandhi atau biasa disebut hadramaut. Hadramaut sendiri sebenarnya nama daerah di Yaman dimana konon katanya asal muasal makanan itu.

Nasi Mandhi
Nasi Mandhi/ Hadramaut Kambing

Nasi mandhi dan nasi bukhari adalah nasi yang diolah dengan diberikan bumbu-bumbu khas Timur Tengah seperti kayumanis, kapulaga, pala, yang aromanya cukup kuat. Sajian nasi mandhi biasanya didampingi daging kambing yang dimasak diungkep ataupun ayam panggang atau roasted chicken. Ada juga bawang bombay, dan cabai hijau besar yang rasanya gak pedas sama sekali. Nah, disinilah sambal terasi sachet sangat bermanfaat. Jadinya rasanya gak beda jauh sama makan pecel ayam di Indonesia. Enakk… apalagi ditambah ikan saluang (makanan khas Banjarmasin), bawang goreng, dan kerupuk.

Makan nasi mandhi
Tim Penerimaan Obat, di karpet yang kami jadikan tempat kerja, makan, sampai tidur. :))

Makan nasi mandhi memang seru. Penjualnya selalu menyediakan plastik untuk alas makan. DImakannya bareng-bareng. Seru! Sesekali rebutan daging atau sambel.

Satu porsi nasi mandhi buat kami para wanita bisa dimakan bertiga sampai berempat. Maklum porsi Arab itu memang jumbo. Kami sering beli berlebihan, tapi karena nasi ini gak terlalu pulen (apayah bahasa Indonesianya pulen?) jadi masih kami bisa makan untuk sarapan keesokan harinya. Hemat kan jadinya? Hehehehehe.

2. Ayam Goreng Tepung Al Baik

Ayam goreng tepung ala Arab itu  berbeda dengan yang ada di Indonesia. Restoran siap saji asal Kolonel asal Amerika itu ada sih, tapi gak banyak. Hanya ada di pusat-pusat kota. Nah yang sangat masif itu, alias hampir di setiap sudut ada, mereknya AlBaik. Perbedaannya resto cepat aji di Arab dan di Indonesia adalah, mereka membedakan tempat antrian, gak ada nasi, sausnya hanya saus tomat, dan ada saus bawang putih.

Pengganti nasinya ada kentang goreng ataupun roti burger. Ada juga salad isinya wortel dan letuce. Oh iyah ukuran ayam di sana lebih besar-besar. Dua kali lipat dengan ukuran di Indonesia tetapi ayamnya kesat dan gak ada darahnya gitu. Ada juga nugget ayam dan ikan. Menariknya nugget di Arab itu, seperti potongan daging ayam utuh, bukan ayam yang diolah seperti di Indonesia, lebih mantap. Untuk rasa lebih spicy dan bumbunya itu meresap sampai ke dalam. Aduh sambil ngetik ini, jadi nelan ludah sendiri.

AlBaik
Albaik Ayam Goreng Tepung disajikan dengan kentang goreng, roti, dan salad

AlBaik selalu ramai menjelang waktu makan. Di salah satu outlet AlBaik di Jeddah, pembeli pada umumnya pekerja bangunan asal India yang karena harganya tergolong murah dan banyak. Satu porsi ayam (isi 2-3) dan kentang dihargai kurang lebih 13 real.

Seperti di Indonesia, kami gak bosan-bosan makan ayam tepung ini. Sampai-sampai, karena kami sibuk belanja, teman-teman saya sampai minta tolong supir  untuk dibelikan paket Albaik untuk oleh-oleh ke Indonesia. Wow banget kan? Eh ternyata, di bandara ada outletnya.

3. Shawarma

Shawarma
Shawarma dengan kentang goreng

Orang Indonesia pada umumnya mengenal shawarma dengan sebutan kebab. Shawarma bisa dibilang sandwich-nya orang Timur Tengah. Roti tipis berbentuk bulat diisi dengan daging kambing atau ayam panggang bersama sayuran seperti bawang bombay dan timun. Lucunya, di sana penjualnya ada yang menyediakan kentang goreng sebagai teman makannya. Kebayang gak sih orang Arab itu makannya hebat. Hahahaha.

Ada cerita lucu waktu beli shawarma yang persis di depan Kantor BPHI Mekkah. Mereka juga menjual jus. Ketika saya pesan jus tomat (soalnya saya lihat banyak  tomat dipajang). Mereka malah tertawa dan bilang gak ada jus tomat. Tomat dimaksud ternyata untuk membuat sambal. Yaelah. Orang tinggal blend ajah kok susah sih :))).

Kemudian teman saya pesan jus melon. Ketika jadi, dikasih  jus semangka (watermelon), Padahal maksud teman saya, melon itu yang warnanya hijau. Tapi ya udah miskom, eh ternyata semangka di sana enak banget, lebih manis, dan buahnya itu dua kali lipat besarnya dibandingkan semangka Indonesia.

4. Ma’sub

Maksub
Maksub yang manis dan manis banget, tapi enaaaakkkkk

Ma’sub ini bukan makanan berat. Seperti cemilan atau kue khas Arab. Terbuat dari pisang kukus yang ditumbuk, lalu dicampur susu kental manis, gula, cream cheese dan dengan taburan keju chedar yang melimpah. Rasanya satu. Manis dan manis sekali. Tapi enak, apalagi kalau didinginkan di kulkas. Lebih padat dan perpaduan pisang dengan keju itu memang luar biasa enaknya. Harganya 10 real atau sekitar 35 ribu.

Kemarin, saya coba buat ini di rumah. Tapi gak berhasil rasanya belum pas, entah kurang apa. Soalnya googling resepnya pun belum ada. Hehehehe.

5. Martabak Mose

Parata
Parata/Martabak kali ini isinya pisang

Martabak di Arab itu berbeda dengan di Indonesia. Martabak di sana, roti atau adonan martabak manisnya seperti martabak telur. Tipis dan dengan isian pisang. Harganya 9 real. Gak tauk juga sih saya isiannya apa ada variasi yang lain. Sayangnya, waktu di sana, kami para wanita gak bebas jalan-jalan. Jadi, bagian membeli makan ya selalu tugas teman laki-laki. Jadinya saya gak lihat proses pembuatan. Mau ikut, gak boleh kalau bukan muhrim. Aduh repot yah… Oh iyah, di Arab sana belom ada gojek ataupun delivery, jadi mau makan apa ya harus cari keluar. Itulah yang bikin kangen sama Indonesia, kalau lapar gak bingung dan gak harus nyusahin orang, tinggal pake aplikasi.

6. Tamis

Tamis
Tamis dengan pelengkapn

Tamis adalah makanan yang sering disajikan untuk sarapan pagi di Arab. Harganya murah, hanya 1 real yang diametenya kurang lebih 30 cm. Seperti roti yang dibuat menggunakan tungku yang amsih sangat tradisional. Tamis harus segera dikonsumsi agar tidak mengeras terkena udara luar. Dimakan dengan saus olahan kacang dan jeruk lemon. Kalau saya terus terang kurang suka. Rasanya hambar. Enakan nasi pecel. Eh…

7. Jajan Cemilan di Toko Kelontong 

Di Arab, sepertinya saya belum melihat yang namanya minimarket retail seperti yang sangat banyak di Indonesia. Toko-toko kelontong milik orang lokal sudah di desain seperti minimarket. Barang-barang yang agak kurang rapi diletakkan di rak sesuai macamnya. Harga memang sudah tertera. Sayangnya mereka masih manual dan kalau mau minta bon atau nota, nama barangnya tidak ada. Hanya harganya saja. Aduh… repot deh.

Jangan heran kalau produk-produk asal Indonesia banyak dijumpai di sana. Bahkan Indofood pun sudah punya pabrik di Arab. Berikut beberapa jajanan yang saya beli selama di sana. Maklum kami semua doyan nyemil, biar kuat angkat kardus obat :))

 

Kami di sana kemarin juga suka beli croisant ala-ala seharga satu real isinya ada coklat, vanila, dan strawberry, harganya 1 real saja. Kami menyebutnya dengan roti seven. Soalnya di platiknya ada angka 7. Teman-teman juga beli buat oleh-oleh. Kalau saya tentu saja tidak. Makan tempat banget soalnya.

Selain itu kami juga rajin beli jus. Jus jeruk di Arab itu enak banget. Cuaca yang mencapai 42 derajat celcius itu, menjadikan kami harus sering minum dan konsumsi buah segar supaya tidak dehidrasi. Jus jeruk diperas langsung dari jeruk segar tanpa gula aja rasanya manis banget. Enak, rasa jeruk asli. Harganya lupa, maaf. Tapi gak mahal kok.

Kangen Makanan Indonesia? Jangan khawatir, ada ini nih… :

Sebagai negara yang menurut saya memiliki makanan terenak di dunia, paling lama hanya bertahan tiga hari tahan dengan makanan asing. Setelah itu, tentu terbayang-bayang bakso, mie ayam, sate, sop iga, dan masih banyak lagi. Meski kami bawa sambel terasi, ikan saluang, dan kering kentang, keinginan kami makan masakan Indonesia terus menghantui. Gak usah khawatir, di Arab banyak restoran atau rumah makan Indonesia dengan koki orang asli Indonesia.

  1. Warung Bakso Mang Udin

Warung Bakso Mang Udin terletak di pusat pertokoan Al Balad Jeddah. Memasuki area Al-Balad, langsung kelihatan jelas. Melihat plang nya pertama kali, saya langsung senyum-senyum. Keren juga Indonesia yah. Meski kemarin saya datang belum musim haji, warung bakso Mang Udin selalu ramai pengunjung. Pengunjungnya memang mayoritas orang Indonesia yang merantau di Arab.

Menu di Warung Baskso Mang Udin, gak hanya bakso dan mie ayam. Ada soto ayam, sop iga, rawon, nasi goreng dan masih banyak lagi. Minumannya yang paling laris apalagi kalau bukan teh kemasan botol yang punya slogan selalu menjadi teman segala makanan alias teh botol sosro. Sebut aja deh mereknya.

Bakso Mang Udin
Bakso Mang Udin

Berhubung itu warung bakso, saya pun pesan bakso tanpa mie dan jeruk hangat. Rasanya standar sih, kayak bakso pada umumnya, gurih kaldu sapi tapi agak kurang asin. Baksonya enak, dagingnya berasa. Untuk mengobati kangen makanan berkuah ya lumayanlah.

2. Rumah Makan Garuda

Selain Warung Bakso Mang Udin, di Al Balad ada rumah makan yang menyajikan makanan Indonesia. Dari namanya saja sudah Indonesia banget. Rumah Makan Garuda. Rumah makan ini terletak di dekat pintu masuk parkir pertokoan Al Balad. Masuk kedalamnya, kita lalu naik beberapa anak tangga.

Menu rumah makan garuda lebih lengkap. Ada nasi rames yang menyajikan masakan seperti oseng-oseng, capcay, tempe orek, terong balado, sampai semur jengkol. Semua diletakkan di etalase ala warteg. Gorengan juga ada. Pisang, tempe, tahu semua digoreng pake tepung. Menunya selain nasi rames antara lain bakso, mie ayam, gado-gado, ketoprak, sop iga, rawon, ikan bakar, sate ayam atau kambing juga ada. Pokoknya ini rumah makan kayak one stop eating Indonesian food. Semuanya ada.

Dua kali kami berkunjung, menu pertama yang saya pesan gado-gado. Maklum, makanan khas Arab minim sayuran. Biar tetep sehat. Pesan gado-gado pake lontong. Sudah bisa ditebak. Porsinya kebanyakan buat saya tapi rasanya lumayan enak. Hari berikutnya sebelum ke bandara kami mampir lagi. Kali ini saya pesan mie ayam. Rasanya lumayan enak. Mengobati kangen mie yamin di kantin kantor. Saking enaknya saya lupa foto. 🙂

Rasa makanan di resto ini terbilang enak semua. Saya icip-icip juga menu yang dipesan teman saya. Pokoknya makan disitu serasa di Indonesia deh. Apalagi sambil nonton televisi yang selalu memutar chanel  Indonesia. Tayangan apa yang diputar coba? Apalagi kalau bukan Indosiar dan SCTV yang menayangkan sinetron atau FTV. Para pelayannya pun kalau sedang tidak melayani tamu, ikutan duduk dan ikutan nonton tv dengan khusuknya. Loh segitu kangennya sama Indonesia yah…

Sebenarnya ada satu lagi restoran yang menyajikan makanan Indonesia. Tapi panjang ceritanya, agak drama-drama gitu pas mau makan di sana. Buat bahan next post ajah kali yah.