Menengok Wat Buparram di Kota Seribu Kuil Chiang Mai

Hellow… dah lama banget gak posting. Harus displin lagi nih, oneweek one post-nya. Anyway… ini salah satu cerita dari masih ada beberapa seri perjalanan terakhir saya ke Thailand beberapa bulan lalu. Semoga belom basi ya… hehehe.

Jam enam pagi di hari kedua saya di Thailand, kami sudah duduk manis di restauran hotel bintang lima di kawasan Sukhumvit Bangkok itu. Ehem, jam segini sudah ramai. Kebetulan hotel itu merangkap apartemen di mana banyak ekspatriat yang kebanyakan Japanese tinggal. Mereka bekerja dan menetap di Bangkok. Gak mau rugi, pagi itu saya makan buah dan oats. Menyelipkan satu croisant keju, dan dua buah yogurth yang kemudian ketinggalan di kulkas di hostel Chiang Mai dan jadinya gak saya makan juga. Well, apakah karena itu mencuri? Ah gak dong, kan boleh diambil. Ya belom rejeki kali ya.

Dari Marriot kami naik taksi ke Don Mueang airport kurang lebih 30 menit saja. Hari masih pagi jalanan Bangkok belum macet. Di bandara saya sempat BAB dan jajan masker di Sevel. Di Chiang Mai kan panas, muka harus tetap kinclong. Demi foto yang cetar (padahal kemudian tidak ada foto yang cetar). Hehehehe.

Jajanan Skincare di Thailand
Jajan Skincare Sachet di Sevel Don Mueang (ka-ki : CC cream, Masker Lidah Buaya, dan Masker Tomat)

Tepat jam 9, kami sudah dipanggil untuk naik pesawat. Wah maskapai singa di Bangkok on-time sekali. Senangnya, gak malu-maluin Indonesia. Lucunya, saya tidak terlalu melihat perbedaan penampakan antara penumpang yang naik maskapai budget dengan mereka yang naik maskapai premium seperti Thai airways. Penumpang Thai Lion pagi itu tertib mengantri sesuai nomor tempat duduk, dan tertib saat di pesawat. Agak beda dengan yang saya temukan di Indonesia. Aduh maaf ya, bukan maksud nyinyir tapi itu memang nyata adanya.

Beberapa kali naik pesawat Singa itu beda sekali dengan naik Burung Biru ketika di Indonesia. Beda tempat jelas ya, tapi penumpang yang saya temui juga berbeda kelas sepertinya. Ya disitulah uniknya Indonesia. Seru dan indahnya keberagaman, bikin hidup gak selalu mulus.

Tiket ke Chiang Mai
Bangkok-Chiang Mai Thai Lion Air

 

Kembali ke judul yuk ah. Kami tiba di Chiang Mai satu jam kemudian. Pagi itu bandara masih sepi. Hanya pesawat kami saja yang mendarat. Seperti bandara di mana ya, mungkin Batam, tidak juga lebih kecil. Masih sederhana, tapi rapi dan cantik.

Banadara Chiang Mai
Landmark Bandara Chiang Mai

Sebelum keluar bandara, kami menghampiri sebuah travel agent di sana untuk membeli paket tour  ke Golden Triangle besok. Kami mendapat potongan 200 THB. Belakangan saya baru sadar harga kami sepertinya masih kemahalan (emak-emak selalu gini).

Di luar bandara, kami bingung memilih song thew (angkot di Chiang Mai kayak oplet), taksi konvensional, atau tuk-tuk (kendaraan roda tiga khas Thailand). Zaki mendekati sebuah tuk-tuk yang sedang parkir. Nego harga, kami rasa masih masuk akal. Deal, naiklah kami ke kendaraan yang mirip bajaj itu.

Wuzzz… tuk-tuk jalan dengan kecepatan agak lumayan. Angin kencang menerpa wajah kami. Dengan bantuan google maps, supir tuk-tuk membantu kami menuju tempat penginapan yang sudah kami booking via booking.com.

Agak lama kami berputar-putar di daerah old town, yang memang kawasan favorit turis untuk bermalam. Masuk ke gang yang satu keluar gang yang satu. Supir tuk-tuk sepertinya mulai kebingungan. Zaki mulai gak sabar, akhirnya ikutan buka hape dan bantu mencari. Euhm… alhamdulillah gak lama ketemu juga hostel kami. Ternyata letaknya di pinggir jalan. tidak di dalam gang. Meski begitu, kami kasihan juga sama supir tuk-tuk, akhirnya kami kasih lebih dari ongkos sesuai perjanjian. Senang sekali wajah si Bapak, menerimanya.

Lanna House
Lanna House Chiang Mai

Masih terlalu pagi, kami belum bisa masuk ke kamar hostel. Kami hanya menitipkan koper saja, dan kemudian keluar hostel untuk melihat kota Chiang Mai lebih dekat. Mau kemana kita? Sampai saat itu kami belum tahu mau kemana. Kemudian saya menujuk ke arah kanan hostel kami. “Jalan ke sana aja yuk.” yang diikuti anggukan Zaki.

Di sekitar hostel kami banyak kafe-kafe yang menjajakan western food dan Thai food dan tentu saja tempat buat mimik-mimik. Ada juga kafe yang menjual kopi seperti setarbaks. Menarik lagi, di Chiang Mai banyak toko-toko buku lokal yang menjual buku baru atau buku bekas dengan harga yang miring. Sayangnya saya gak mampir. Payah ya? Iyah payah. Hehehe. Abis belum lama ke Big Bad Wolf, takut kalap banget kalau masuk toko buku. Budget untuk beli buku juga gak ada. Tapi iyah, saya salah. Harusnya saya masuk saja.

Chiang Mai mungkin bisa dijuluki sebagai kota seribu kuil. Setiap dua ratus meter, kita akan bisa menemui kuil yang bagus-bagus khas bangunan kuil Budha Thailand. Siang yang terik, sebelum masuk kuil kami sempat berhenti untuk membeli Thai Iced Tea. Panasnya terik sekali siang itu, padahal suhu hanya 32ºC. Matahari seolah berjarak sejengkal dari kepala. Godaan kesegaran es teh Thailand memang tak tertahankan.

IMG_2376
Gerobak Penjual Thai Ice Tea
IMG_2378
Penampakan Thai Ice Tea

Setelah berjalan kurang lebih lima ratus meter, saya melihat gerbang sebuah kuil yang terbuka. Saya lihat lagi, sepertinya ada pengunjung. Ini kuil kedua yang kami lewati. Kuil pertama gerbangnya tertutup. Kami masuk saja. Untuk turis dikenakan biaya 40 THB per orang. Nama kuil ini Wat Buparram.

Penampakan Kuil Wat Buparram
Kuil Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram

Memasuki bangunan utama kuil, tentu ada patung Budha duduk. Di dalam sudah ada rombongan turis dari China dengan tour guidenya. Sayang sekali tour guide menggunakan bahasa China yang tentu saja kami tidak mengerti sama sekali. Kami cukup puas dengan mengambil foto saja.

Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram dan jangan tanya siapa laki-laki dan wanita cantik di foto itu.

Keluar bangunan utama, kami berkeliling area kuil. Berpose ala-ala selebgram di depan sebuah stupa yang paling besar, dan melihat-lihat ke area dapur kuil yang siang itu saya melihat seorang biksu. Ada museum juga tapi ditutup dan seperti kurang terawat.

Buparram Museum
Wat Buparram Museum
Wat Buparram dari pelataran
Wat Buparram dari samping
IWat Buparram
Wat Buparram dari depan
Gagal Gaya Ala Selebgram
Gagal Gaya Ala Selebgram 😦 Belom Siap dah Cekrek
Tuktuk
Parkir Tuk-tuk
Payung dan Sunglasses
Payung dan Sunglasses membuktikan panasnya Chiang Mai siang itu

Mungkin di sana kami hanya 30 menit dan kemudian dengan tiba-tiba sebuah konvoi tuk-tuk mengejutkan kami masuk ke dalam area parkiran kuil. Rombongan turis Korea ternyata. Wah seru juga yah. Rombongan naik tuk-tuk. Kami pun bergegas keluar gerbang kuil dan memutuskan cari makan. Iyah, kami lapar sudah jam dua belas. Cari makanan halal di mana yah. Zaki mulai kemudian meng-googling.

Sepertinya untuk satu postingan blog sudah terlalu panjang yah saya berceloteh. Bersambung aja kali ya… Next post, kami juga menemukan kawasan makanan halal di Chiang Mai.

 

Menyusuri Teluk Ha Long (Ha Long Bay) di Vietnam Utara

Yeay… nge-blog pertama di tahun 2017. Mau cerita perjalanan ke Vietnam kemarin aja yuk.

Percaya atau tidak, nama Vietnam gue tulis dalam resolusi 2016 kemarin. Alasannya? Sederhana saja, sebelum jalan-jalan yang terlalu jauh, untuk memberi tanda di paspor kenapa tidak dimulai dari negara-negara di Asia Tenggara dulu? Ah sepertinya semesta mendukung (kata-kata yang lagi trend nih).

Sebenarnya sih Filipina juga masuk daftar destinasi gue tahun lalu, gara-gara mulai jatuh cinta sama serial dan film-film mereka yang romantis komedi. Cerita yang sederhana, ringan, dan romantis. Ya, boleh dibilang film menye-menye receh mungkin kalau kata pengamat film. Buat gue sih ya hidup harus seimbang saja. Nonton film mikir berat hayuks, ke bioskop model Allied film perang atau film detektif yang pake mikir kayak Snowden. Tapi sespertinya otak gue kadang memilih yang kata orang nggak banget itu demi keseimbangan hidup. Halahhh. Oke balik ke topik mau bahas Vietnam.

Meski baru sebulan kemarin memaksakan ambil cuti untuk ikut suami ke Semarang, kali ini gue maksa juga ikut ke Vietnam. Bermodalkan nekad mengajukan surat izin tidak masuk kerja selama dua hari. Oke suatu perjalanan dimulai sejak memesan tiket. Yup memesan tiket.

Kota terbesar di Vietnam sebenarnya ada di selatan yaitu, Ho Chi Min, meskipun ibukota berada di utara yaitu Hanoi. Kenapa begitu? Ceritanya panjang, dan harus membuka luka lama negara tersebut. Bentuk Vietnam yang memanjang dari utara ke selatan pernah mempunyai sejarah kelam dengan adanya perang saudara yang membawa dua kepentingan. Vietnam utara beraliran komunis dan Vietnam selatan dibawah kekuasaan AS dan sekutunya. Sekarang sih sudah bersatu dan Vietnam termasuk dari beberapa negara yang saat ini masih menganut paham komunis.

Penerbangan langsung dari Jakarta menuju Vietnam bisa dengan Garuda tujuan Ho Chi Min. Sayangnya kami kekeuh maunya ke utara. Tauk kemana? Ha Long Bay. Sebuah teluk yang berada di perbatasan Vietnam dengan Cina. Letaknya yang di utara dan terbatasnya waktu, kami harus ke Hanoi kota yang lebih dekat untuk menuju Ha Long Bay. Suami berangkat lebih dulu dan saya kemudian menyusul. Maunya saya sih naik penerbangan yang sampai Hanoy pagi, tapi untuk itu harus bermalam di Bangkok, dan suami (pasti) gak mengizinkan. Dapat tiker pagi dengan Thai Airways dan tiba di Hanoy malam harinya dengan transit di Bangkok satu jam saja. Harga tiket lumayan mahal sih 5,4 jt, tapi ya gak papalah, kan hotel sudah beres, tiket suami gratis pula. Mari kita anggap harga tiket murah. Hihihihi.

Tiba di Hanoy jam 21:00 waktu yang masih sama dengan Jakarta. Jangan lupa bekal dollar AS aja, tukar di Noi Bai Airport Hanoi. Seratus Dolar dapat 2 juta sekian VND (Vietnam Dong).

Suhu Hanoi di bulan Desember sejuk, agak dingin, seperti hujan belum lama mengguyur, tapi masih bisa ditolerir buat penduduk negara tropis macam saya. Sesekali angin berhembus agak kencang malam itu. Dijemput suami di bandara, malam itu kami langsung pulang ke hotel, karena besok pagi-pagi kami mau ke Ha Long Bay. Kami naik taksi dari bandara menuju hotel. Jangan lupa harus sepakat dari awal mengenai ongkos taksinya. Pakai argo atau tidak, dan mata uang apa yang digunakan. Di Vietnam, selain mata uang VND, banyak juga yang menggunakan US Dollar.

Sehari sebelumnya, suami sudah mendaftarkan kami ikut One Day Trip ke Ha Long Bay via Shin Cafe. Shin Cafe adalah biro perjalanan yang cukup terpercaya. Silahkan googling atau kalau mau datang langsung, banyak terdapat di daerah kota tua Hanoi. Sebelum deal, harus banyak-banyak tanya dan jangan ragu untuk membandingkan. Soalnya para wisatawan suka dapat harga yang berbeda-beda. Apa saja yang di dapat dengan harga-harga yang ditawarkan. Pokoknya harus teliti deh.

Selesai sarapan di hotel, tepat jam 08:30 seorang laki-laki Vietnam menjemput kami di hotel. Hotel kami adalah hotel terakhir peserta tur. Perjalanan menuju Ha Long Bay menggunakan sebuah minibus van berisi 15 kursi. Kami duduk di kusi paling belakang, yang seharusnya untuk empat orang, jadi bisa selonjoran deh. Laki-laki dengan tinggi kurang dari 160 cm yang menjemput kami di hotel tadi, adalah guide tour kami nama Vietnamnya Ngu Yen siapa begitu, tetapi untuk memudahkan kami para tamu yang berasal dari berbagai negara, ia mengizinkan kami memanggilnya dengan sebutan Kim.

Kim kemudian mengabsen kami satu persatu. Teman perjalanan kami hari itu memang dari beragam negara. Duduk di baris paling depan ada pasangan sepertinya belum menikah dari Italia. Oppa-oppa yang ramah dan chubby dari Korea Selatan. Barisan kedua sebuah keluarga campuran Austria dan Thailand dengan anaknya yang cantik Asia tapi memiliki rambut kecoklatan dan postur yang kurus dan tinggi seperti ras Eropa bernama Kathy. Baris ketiga ada pasangan suami isteri Mexico dan Amerika serta solo traveller dari Amerika juga. Baris belakang, kami dari Indonesia. Meski banyak yang menebak kami dari Malaysia. Why???

Di perjalanan, Kim menceritaka kami sedikit tentang Vietnam. Seperti peta negara Vietnam yang sering dijuluki sexy lady, cara orang Vietnam melakukan toast saat minum-minum dan meminta kami mempraktikannya, dengan air mineral tentunya.

Perjalanan Hanoi menuju Ha Long Bay ditempuh dalam waktu empat jam. Selama perjalanan itu gue ngapain? Ngobrol sama yang lain? Nggak. Ada yang sibuk main hape, dan karena gue gak mengaktifkan paket data, ya udah gue mengamati Vietnam dari kaca mobil. Gak terlalu beda sama di Indonesia sih. Negara agraris, banyak sawah, perkebunan sayur, pohon pisang, anak sekolah naik sepeda onthel, pengendara sepeda motor dengan bawaan yang melebihi kapasitas. Mirip sama daerah Sleman di Yogya kali yah.

img_6907
Pemandangan dari depan hotel

Setelah dua jam kami menempuh perjalanan, bus kami berhenti di sebuah tempat pemberhentian, seperti rest area gitu kali ya. Bedanya rest area di Indonesia dan Vietnam adalah di Vietnam cuma ada satu bangunan besar yang berisi tempat penjualan souvenir khas kerajinan tangan berikut tempat workshopnya. Istimewanya mereka mendayagunakan mereka yang difable. Mereka membuat lukisan dengan sulaman benang. Merangkai benang di atas kain yang sudah digambari pola lukisan. Hasilnya keren-keren banget. Tema lukisan dibuat khas Vietnam sekali. Seperti kehidupan sehari-hari masyarakat Vietnam bercocok tanam, orang memancing di danau, dan seorang gadis yang memakai pakaian tradisional dengan membawa payung berdiri di bawah pohon atau dipinggiran danau dengan topi caping.

Barang-barang khas yang dijajakan mulai dari tempelan kulkas, tas kipling, anggur khas Vietnam yang di dalam botolnya ada kepala ular, juga makanan dan minuman ringan. Kayaknya teman-teman rombongan gue gak begitu doyan belanja. Paling ada yang jajan kopi dan cemilan. Kalau gue cuma ke toilet aja. Hehehe. Bangunan toilet terletak di luar dan bersih. Sambil menunggu yang lain kami juga sedikit ngobrol sama Park lebih tepatnya sih, berkenalan. Pipinya yang chubby dan wajah imutnya gak menyangka kalau dia seumuran sama kami.

Meski sudah nahan-nahan mata biar gak merem, tapi sejuknya AC mobil bikin gue ketiduran juga, dan ketika bangun, belum kelihatan juga penampakan Ha Long Bay. Gak lama kemudian, Kim menyapa kami (lebih tepat membangunkan kami yang tidur) dan mengingatkan, tidak lama lagi kami akan tiba di Ha Long Bay. Kim meminta kami melihat ke arah kanan, dan benar saja, bukit-bukit batu besar yang diselimuti pepohonan hijau bisa sedikit kami lihat. Iklim bulan Desember membuat suasana siang itu tidak panas karena matahari memang tertutup awan tebal. Mendung dan memang diselimuti kabut tipis. Foggy dan mistis. “Agh… itu Ha Long Bay!” teriak gue dalam hati. Persis seperti yang aku lihat di blognya orang-orang meski cuaca mendung, tapi aku senang.

One Day Trip ke Ha Long Bay dimulai dengan kami menaiki sebuah kapal mesin berukuran sedang yang akan membawa kami menyusuri teluk Ha Long ini. Paket trip gue ini harganya 50 US Dolar satu orang sudah termasuk makan siang di kapal. Oh iya, ada yang lucu nih masalah makanan. Berhubung kami ingin aman (halal) dalam hal makanan, maka kami bilang ke Kim kalau kami vegetarian. Kami dapat menu satu nampan besar khusus vegetarian. Isinya mie goreng, telur gulung, sedikit bakso tahu, dan bola-bola kentang. Gak lama datang makanan yang no vegie. Tauk gak, menunya apa? Semua seafood dong, ada udang bakar, ikan bakar, dan gue sama suami liat-liatan kemudian tertawa menertawakan kesialan kami.

Paling goks adalah kami sempat bekal mie goreng yang kami masak di hotel dan kami juga cuek aja mengeluarkan sambal botol belibis. Hihihihi. Kami takut makanannya aneh-aneh kan, tapi gak papa tauk menunya seafood, kami agak tenang lah makannya. Teman makan semeja kami si Park orang Korea dan pasangan campur dengan putrinya. Selesai makan gue tanya ke Zaki, “Nyesel bilang kita vegie?” Zaki jawab, “Gak papalah kita pesan menu terpisah dari mereka, itu Oppa-oppa (sebutan kakak laki-laki Korea bagi wanita) makannya banyak juga.” Wkwkwkwkwk. Emang sih, si Oppa makannya banyak.

Selesai makan, kami menaiki bagian atas kapal dan menikmati keindahan Ha Long Bay. Langit siang itu mendung, angin berhembus sedikit kencang. Suhu udara kurang lebih 10-15 derajat celcius, mirip dengan udara di Lembang Bandung musim hujan.

Foggy Ha Long Bay
Batu di tengah tersebut ada di gambar mata uang Vietnam

Kim menunjukkan kepada kami kalau pemandangan Ha Long Bay diabadikan juga sebagai gambar yang terdapat di lembar mata uang Vietnam. Kim juga menceritakan sedikit cerita atau mitos seputar Ha Long Bay. Konon batu-batu besar di teluk tersebut adalah batu-batu yang dilemparkan oleh para dewa, ketika tanah Vietnam akan diserang oleh bangsa China. Batu-batu tersebut konon menjadi penghalang bagi penjajah untuk menyerang Vietnam.

Ha Long Bay
Pemandangan di Sekeliling Ha Long Bay

Kapal kami kemudian berlabuh di sebuah dermaga kecil. Paket kami juga termasuk menaiki kapal kayu kecil. Satu kapal berisi 4-5 orang. Kami berperahu bersama Kathy dan sempat melakukan perbincangan. Ayah Kathy yang aseli Austria sudah pernah ke Bali, kemudian Ibunya Kathy kelihatan agak sebal pengen banget diajak ke Bali suatu hari nanti. Mereka sekarang tinggal di Austria dan Kathy bisa berbicara bahasa  Jerman, Thailand, dan Inggris. Emang sih, pas ngobrol sama Ibunya pakai bahasa Thai, pas sama bokapnya bahasa Jerman, kalau di sekolah Bahasa Inggris.

Mereka ke Vietnam dalam rangka liburan dan kemudian akan lanjut ke Thailand untuk merayakan natal di sana. Liburan keliling Asia dua bulan bo… Ngiri banget.

Dermaga Ha Long Bay
Dermaga tempat naik perahu kayu
Mixed Couple
Kathy dan Orang Tuanya
Perempuan Perkasa Hanoi
Pendayungnya Kebanyakan Wanita
Ha Long Bay
Penampakan Batu di Ha Long Bay

Menariknya lagi dari pejalanan kami dengan perahu kayu, adalah siapakah yang mendayung? Pendayung kebanyakan Ibu-ibu dan mbak-mbak cantik lho. Meskipun badannya kecil, tetapi tenaganya kuat banget. Lumayan kurang lebih 30 menit. Ada sih, kalau mau uji kekuatan tangan mendayung dengan kano. Mana mau si Zaki, ngedayung, dengan alasan nanti dia doang yang dayung. Hahaha. Males ah. Bahkan ada yang kano sendirian loh. Bodo ah, kami memang pemalas. Usia yah, gak bohong.

Canoing di Ha Long Bay
Canoing di Ha Long Bay

Ha Long Bay

Ha Long Bay

Ha Long Bay

 

Selesai menikmati keindahan Ha Long Bay dengan perahu kayu, kami balik ke kapal untuk mengunjungi gua dibalik bukit. Untuk mencapai gua, kita perlu sedikit menanjak. Jangan khawatir, jalurnya sudah bentuk tangga beton. Memasuki dalam goa, jangan bayangkan goa gelap dan lembab. Lampu warna-warni di dalamnya. Kuning, hijau, pink, wah berasa di club malam deh, bukan di goa. Sepanjang penyusuran ke goa, Kim menceritakan sedikit tentang goa. Cerita berasal dari mitos-mitos atas bentuk-bentuk yang terbentuk dari stalaktit dan stalakmit dalam gua. Misal ada yang berbentuk sepasang kekasih, seorang ibu dan anaknya, kera, buaya, sampai santa claus. Masyarakat Vietnam sama halnya dengan Indonesia memiliki sekali cerita atau mitos-mitos yang menarik.

Penampakan Gua
Penampakan Gua

Gua Ha Long Bay

Gua Ha Long Bay
Penampakan dari atas Gua Ha Long Bay

Berakhirnya kunjungan kami ke gua, mengakhiri perjalanan sehari kami ke Ha Long Bay, jam 5 sore kami kembali ke Hanoi. DI perjalanan menuju dermaga kami disuguhi teh khas Vietnam dan kue kacang hijau yang rasanya manis banget dan jeruk mandarin yang imut-imut. Eh si oppa lapar sepertinya. Dia yang paling banyak makan itu kue. Hihihihi.

Park, teman baru dalam perjalanan di Ha Long Bay
Pemandangan dari Dermaga Gua
Pemandangan dari atas Bukit Gua Ha Long Bay
Kue Kacang HIjau Khas Vietnam
Kue Kacang Hijau Khas Vietnam dan Secangkir Teh

Perjalanan pulang ke Hanoi melewati jalur yang berbeda dengan arah berangkat, dan karena hari itu hari Jumat, lalu lintas lebih ramai dan yang paling membuat tidak nyaman kenapa orang-orang di Vietnam senang sekali bermain klakson dan itu bikin kuping capek.

Perjalanan pulang, kami juga berhenti di rest area untuk ke kamar kecil ataupun berbelanja buat yang mau belanja. Rombongan kami yang cowok malahan asyik membahas masalah politik dan langsung menanyakan ke narasumber alias ke masing-masing warga negara. Contohnya, tentang terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika, kudeta Presiden Korea Selatan, dan sebagainya-sebagainya. Berat amat sih obrolan. Hahahahaha. Berasa lagi ikutan rapat di PBB.

Akhirnya tepat jam 20:30 kami tiba di Hanoi, dan kami yang pertama kali di antar ke hotel malam itu. Oh iya, kata si Park, hotel kami bagus. Ya iyalah kan dibayarin kantor. Hihihihi. Mau beli makan malam, kami ingat mie goreng tadi pagi belum di makan. Marilah makan mie goreng aja sama rendang. Ceritanya dietlah malam-malam. Padahal badan sudah capek banget, bawaannya pingin mandi kemudian langsung tidur. Hehehehe.

Perjalanan kami siang tadi meninggalkan pengalaman yang yang luar biasa. Ikutan grup tur yang mempertemukan kami dengan orang-orang dari berbagai negara. Oppa Korea malah bersedia memandu kami kalau kami suatu hari main-main ke Korea. Dari obrolan kami, kebanyakan mereka masih melanjutkan perjalanan keliling Vietnam seperti Danna  di Vietnam tengah dan Ho Chi Min di selatan. Bahkan ada yang lanjut ke Myanmar, Kamboja, atau Thailand. Sayangnya gak ada yang mampir ke Indonesia. Oh iyah, ketika ngobrol, kami gak bosan-bosan loh, promosi tentang Indonesia ke mereka. Cerita betapa indahnya Indonesia dan pulaunya yang banyak. Mereka sih manggut-manggut ajah dan janji suatu saat akan mampir ke Indonesia.

Ada juga yang tertarik dengan jilbab saya, menanyakan apa kami muslim, kenapa muslim begini dan begitu. Oke,lain kali akan saya ceritakan di halaman berikutnya dari blog saya ini.

Perjalanan kami esok harinya, kami lanjutkan dengan keliling Kota Hanoi. Kemana? Entahlah kami belum punya tujuan yang pasti, tapi saya yakin perjalanan kami besok pasti sama serunya dengan hari ini.

 

Anak-anak Hebat Dalam Perjalanan di Bawen Semarang

Perjalanan seru kami melintasi pantura Yogya-Jakarta, dari Klaten kami lanjutkan menuju Semarang melewati Boyolali dan Salatiga. Memasuki Kabupaten Semarang, sepertinya suami agak menyadari kalau dia salah jalan. Maksud hati ingin masuk tol, kenapa tiba-tiba berjalan di kawasan industri dengan kendaraan truk-truk besar lalu lalang. Melipirlah kami ke sebuah masjid milik pabrik Apac Inti Corpora yang lumayan besar untuk urusan toilet dan karena matahari sudah mulai tenggelam, kami memutuskan akan sholat Magrib juga.

Mesjid PT. AIC
Pembatas tempat sholat pria dan wanita

Lampu Gantung di Mesjid Apac
Lampu Gantung Mesjid
Seusai sholat, saya tertarik untuk menyapa tiga orang anak perempuan yang dengan santunnya menyalami tangan semua jemaah orang dewasa. Meski jemaah dewasa saat itu hanya berjumlah empat orang. Saya bertanya kenapa mereka tidak langsung pulang. Anak yang sepertinya paling tua menjawab dengan sopan . “Kami mau mengaji mbak.” Jawabnya dengan logat jawa yang kental. Saya pun sedikit bertanya hal-hal seputar kegiatan mereka mengaji. Oo, sepertinya saya harus segera bergegas melanjutkan perjlanan ke Semarang. Hari sudah gelap.Kami belum tahu juga mau menginap di mana di Semarang nanti. Ketika membereskan alat sholat, tetiba saya teringat kalau saya membawa sedikit oleh-oleh untuk mereka.

Sama sekali tidak ada rasa takut dalam raut wajah anak-anak itu, ketika saya ajak  mereka untuk ikut ke mobil mengambil sesuatu yang saya janjikan. Bahasa tubuh mereka juga memperlihatkan kalau mereka senang sekali akan diberi “sesuatu”. Mereka terus mengekor saya sampai saya mengambil sesuatu yang saya janjikan. Sambil berjalan menghampiri mobil, saya kembali bertanya ke salah satu anak yang paling besar lagi. Sepertinya memang dia yang paling punya keberanian untuk menjawab pertanyaan orang baru seperti saya ini.

Saya tanya orang tuanya berprofesi sebagai apa, adik kecil yang duduk di kelas 5 SD itu menjawab, “Ibu jualan warung, kalau Bapaksudah meninggal sejak saya lahir.” Jawabnya dengan nada suara yang tidak berubah sama sekali. Deg. Tenggorokan saya sperti ada yang menahan dan mulai mellow deh. “Oh, sabar ya dek.”jawab saya sambil menggandeng tangan kecilnya. Entah kenapasaya gak menanyakan ayahnya meninggal kenapa dan bagaimana. Ya ampun Rini, itu anak umur tujuh tahun.Bisa aja dia sedih.Udah gak usah banyak tanya.Buruan ajah kasih kan bikin dia seneng bahagia. Kalau ditanya-tanya takutnya dia jadi teringat almarhum ayahnya. Tiba-tiba seperti ada yang berbisik dan mengingatkan saya.

Setibanya di depan mobil, saya segera membuka pintu mobil bagian belakang dan mengambil beberapa kotak makan, tempat minum dan Majalah Bobo. “Ada Bobo nih, sudah pernah baca Bobo belum?” tanya saya. Mereka menjawab mereka sudah pernah membacanya di perpustakaan sekolah. “Wow, hebat. Ini dibagi-bagi juga ke teman-teman ngaji yang lain ya.” Ujar saya sambil menyerahkan dan kembali menutup pintu mobil.

Mereka bersorak riang dan dengan kompaknya mengucapkan terima kasih. Meski saat itu hari telah gelap dan lampu penerangan tidak cukup terang, tapi saya bisa melihat jelas raut wajah bahagia mereka.

“Mbaknya dari mana?” tiba-tiba salah satu dari mereka bertanya. “Saya orang Jakarta, dari Yogya mau ke Semarang” jawab saya. Kemudian mereka serempak berlari kembali ke masjid, karena salah satu kawan mereka sudah memanggil. Pengajian akan segera dimulai. Sambil memandang mereka saya pamitan dan mengatakan, “Sampai jumpa lagi kapan-kapan ya, dek. Belajar dan ngaji yang rajin ya.”

Terharu sekali melihat mereka. Bahasa mereka sangat sopan. Meskipun mereka orang jawa yang sehari-hari berbahasa daerah, ketika saya ajak bicara Bahasa Indonesia, mereka menjawab dengan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Terkadang saya jadi malu, sering berbahasa sesuka hati saya meski saya tinggal di Jakarta. Tempat di mana saya seharusnya bisa ber- Bahasa Indonesia lebih baik dibanding mereka.

Saya juga kagum dengan semangat yang mereka miliki. Seperti semangat anak-anak yang selalu haus akan ilmu. Untuk mencapai masjid, mereka harus menyeberang jembatan penyeberangan. Mengikuti sholat berjamaah di masjid, dan juga menciumi semua tangan jemaah dewasa, seperti sebuah kewajiban bagi mereka. Meski mereka belum mengenal orang-orang yang mereka ciumi tangannya itu. 

Masih dari cerita mereka,  sehabis sholat mereka belajar membaca Alquran. Setiap hari rutinitas tersebut mereka jalani. Murid yang datang kadang banyak mencapai sepuluh hinga lima belas anak, kadang hanya lima orang saja. Saat itu sepertinya sayahanya melihat jumlah mereka tidak lebih dari lima anak.

Meski kali ini saya hanya membawa majalah Bobo, kotak makan, dan tempat minum plastik alakadarnya. Belum bisa seperti teman-teman yang punya nyali besar untuk membawa perubahan. Saya terinpirasi dengan Mba Nila Tanzil yang melahirkan Taman Bacaan Pelangi buat teman-teman timur Indonesia, atau teman saya Nia yang membuat acara One Day Doing Fun untuk anak-anak kurang beruntung. Tapi langkah besar dimulai dengan hal kecil bukan. Saya ingin sedikit saja mencoba bergerak. Tidak banyak, tetapi buat saya ini prestasi tersendiri.

Sebelumnya, tujuan saya melakukan perjalanan hanya melihat tempat wisata, foto-foto ala turis, lalu pamer di social media. Bangga kalau di like banyak, dan dapat komen yang bagus. Tujuan jalan-jalan saya sekarang naik satu tingkat.Sseperti tulisan terbaru mbak Windy di blognya, ingin menjadi “kaki-kaki buku”. Meski awalnya hanya majalah dan kotak makan plastik, yang semoga bermanfaat buat mereka. Dalam hati saya janji, mau nabung agar bisa memberi lebih banyak ke mereka yang saya jumpai dalam perjalana. Semoga saya bisa berbuat lebih seperti mereka-mereka yang keren-keren dengan cara saya sendiri tentunya.

Sayangnya lagi, saya gak ajak mereka berfoto ria, karena mereka sudah harus mengaji. Hari juga sudah gelap. Terima kasih adik-adik di Mesjid As-Salam, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Semoga kalian jadi orang sukses nantinya. Semoga suatu saat nanti, akan ada pertemuan berikutnya.

Masjid PT. AIC
Penampakan Luar Masjid PT. Apac Inti Corpora

 

 

 

Yogya-Jakarta Lintas Pantura (Part 1 : Yogya-Klaten)

Aduh, saya malu sama para blogger yang patuh sama janjinya mau nge-post rajin. Apalah saya ini yang hanya bisa janji tapi susah untuk menepati. Hampir sebulan nih vakum gak nge-post. Tapi tnang meski gak nge-post, tapi alhamdulillah masih nulis di draft. Malesnya masukin foto dan ngedit itu yah. Hahahaha. Kali ini saya mau menceritakan perjalanan saya dari Yogya menuju Jakarta mampir ke Klaten. Kemudian menyempatkan main-main ke Semarang dan Cirebon.

Waktunya bertepatan ketika saya ada tugas ke Yogyakarta dalam rangka menghadiri Pertemuan Ilmiah Tahunan yang diadakan oleh Ikatan Apoteker Indonesia. Suami yang kerja di bagian marketing pun mengatur waktu, supaya punya alasan untuk menengok customer di Yogya. Saya pun berangkat lebih dulu ke Yogya dengan pesawat. Suami mengendarai mobil ke Yogya. Wow suatu prestasi buat suami, mengingat rute yang paling jauh sebelumnya adalah Bandung. Tugas kantor saya dan suami selesai, suami jemput dan dimulailah perjalanan darat kami dari Yogya menuju Jakarta.

Kami sebenarnya terinpirasi dari Komik karya Benny Rahmadi yang berjudul Tiga Manula jalan-jalan ke Pantura. Sebenarnya kami sudah pernah menyusuri pantura beberapa kali dalam rangka mudik Lebaran menuju kampung halaman suami di Klaten. Dalam komik tersebut digambarkan keseruan yang dialami tiga manula selama jalan-jalan ke Pantura. Kami pun tertantang untuk melakukan napak tilas jalur pantura. Ceileh napak tilas.

Bedanya, kali ini kami ingin lebih meresapi perjalanannya. Bawa mobil, nyetir sendiri, melewati kota-kota di pantai utara Jawa, singgah di tempat-tempat wisata yang belum pernah kami kunjungi ataupun sekedar makan di pinggir jalan. Pokoknya maunya perjalanan yang santai dengan sejuta makna tentunya.

Berhubung yang menyetir mobil hanya suami seorang, dan belajar mengendarai mobil hanya selalu menjadi wacana buat saya. Hormon adrenalin saya sepetinya selalu berada di titik terendah dan sepertinya saya tidak berniat untuk meningkatkan kadarnya. Pengaruh umur kah? Terserah. Hahahaha. Pokoknya saya belom berani buat menyetir mobil. Titik.

Ngapain aja kami di Yogya? Hahaha buat kami yang hampir setiap tahun ke Yogya, jadinya  kali ini kami hanya akan menengok adik-adik di Yogya, kulineran, dan jalan-jalan dekat hotel saja.

Kamis menjelang maghrib kami jemput Nida, adik saya yang lagi break koas dan mau PTT. Kami janjian untuk makan Seafood di restoran yang lagi hits di Yogya dengan adik kami yang sedang menimba ilmu di Universitas Islam Indonesia.

1. Makan Seafood Kekinian di Jakal

Crabby Crab Kaliurang
Seafood Time at Crabby

Hits atau tidaknya suatu tempat bisa dilihat dari usia pengunjungnya. Kami berasa paling om-om dan tante-tante gitu. Kalau saya sih pasti masih masuk banget untuk masuk kategori anak kuliahan yah. Hehehe. Rata-rata mereka datang ada yang berpasangan, ada juga yang segerombolan seperti sedang merayakan ulang tahun. Belom lagi kehebohan yang mereka timbulkan. Teriakan-teriakan ala gadis imut dan manja sesekali terdengar memekik telinga. Bayangin sendiri deh ya gimana.

Kira-kira dua puluh menit, pesanan kami akhirya datang. Untuk makan kami disediakan alas dengan kertas buram, tettapi agak tebal, alat bantu potong kepiting, dan celemek yang bisa dibilang bau macam kembang tujuh rupa tapi kembangnya bau eek ayam. Hahahaha. Pokoknya baunya gak enak banget deh. Daripada nanti itu bau berpindah ke baju, kami memilih untuk tidak memakainya.Lebih memilih berhati-hati lebih saja.

Rasa sajian kepiting yang kami pilih adalah kepiting saus padang. Tidak hanya kepiting, kami memilih paket. Paket tersebut berisi kepiting, udang, kerang, dan jagung rebus. Saya yang memang tidak terlalu suka kepiting karena males sama cangkangnya, memilih udang dan kerang. Rasanya biasa aja sih buat saya. Bumbunya kurang berasa. Level 3 dari yang tertinggi 4 saja kurang pedas buat kami. Bumbu kurang menyerap, yah nilainya enam deh. Tapi harganya sesuai kantong mahasiswa sih. Murah. Paket lengkap hanya dua ratus ribuan.

Sangat disayangkan lagi, tempat sholatnya sangat alakadaranya sekali. Seperti kamar tidur karyawan warung yang disulap jadi mushola dadakan. Bau khas kamar anak cowok. Mukenanya juga khas mukena tempat umum dengan tingkat kebersihan 2 dari 5. Maaf. Itu saja sudah mengurangi nafsu makan saya malam itu. Tapi ya karena lapar, udah ajalah ya kita makan.

Ketika hidangan belum tersaji, adik saya Nida bermaksud mengajak kami ke tempat hits berikutnya di Yogya. Es krim gelato. Eh Dek Naufal mau les Bahasa Inggris, jadilah kami putuskan bubar saja setelah makan. Kami pun balik ke hotel tempat suami menginap, di Jambuluwuk. Kapan-kapan deh ya saya tulis di blog reviewnya. Kapan yah? hehehe.

2. Jalan-jalan tanpa Tujuan di Malioboro

Pagi-pagi saya memaksa suami saya jalan-jalan ke Malioboro. Tepatnya sih ke Pasar Beringharjo. Pengen tahu ajah pagi-pagi itu gimana penampakannya. Sebelumnya mampir dulu ke restoran, siapa tauk sarapan sudah siap. Eh tapi, belum. Jadilah kami langsung cus ke Malioboro. Awalnya saya maksa ke Malioboro berjalan kaki, tapi dengan alasan jauh saya mengalah. Kami akhirnya naik mobil. Mau naik becak dari depan Hotel Jambuluwuk tempat kami menginap 50.000. Ups, lumayan yah.

Pasar Beringharjo
Pasar Beringharjo

Di sepanjang jalan Malioboro sekarang sudah tidak boleh parkir. Parkir tersedia di dalam kawasan  Benteng Vrederburg. Malioboro pagi itu masih sepi. Hanya ada beberapa pedagang asongan tas batik yang masih duduk-duduk santai menungu calon pembeli. Beberapa penjaja pecel dan gudeg sudah ramai diserbu mereka yang mencari sarapan. Ealah, apa itu, ternyata Pasar Beringharjo pun pagarnya masih tertutup dan sedang di pel. Hihihihi. Mari kita bantu si Bapak ngepel aja yuk. Tentu saja hal itu membuat si Zaki senengnya bukan main. Apalagi kalau bukan dengan begitu peluang saya belanja lenyap. Beuh, puas deh.

Malioboro
Malioboro
Malioboro
Malioboro masih sepi

Lelah menyusuri Malioboro yang masih sepi, perut minta diisi. Kami memutuskan untuk sarapan di hotel aja. Gak mau rugi kan. Tapi ternyata, ada acara senam pagi bersama yang diselenggarakan sebuah komunitas. Untuk itu mereka juga menutup akses jalan kami pulang. Oke baiklah. Rejekinya bakul gudeg deh, akhirnya kami menikmati seporsi gudeg di pelataran Beringharjo.

Selesai makan, kami memilih menghampiri acara senam pagi tersebut ke arah Monumen Titik Nol Kilometer. Pesertanya cukup banyak dan ramai. Warna-warna sponsor mewarnai kaus yang dikenakan, goody bag, dan stand-stand ikut meramaikan acara senam bersama tersebut. Alih-alih ikut senam, kami memilih duduk-duduk cantik di bangku di sepanjang trotoar nol kilometer. Memperhatikan betapa semangatnya si Bapak yang berdiri paling depan mengikuti gerakan sang instruktur senam kenamaan, Lisa Natalia. (Buat yang gak tauk Lisa Natalia, googling aja ya. Ketauan deh zaman kita berbeda) 🙂

Senam Pagi Komunitas Ikatan Apoteker Indonesia
Senam Pagi Komunitas Ikatan Apoteker Indonesia

Memperhatikan lalu lintas Yogya pagi hari yang mulai ramai dengan mereka aktivitas pagi. Seperti berangkat kerja atau sekolah. Menikmati bangunan-bangunan tua seperti Kantor Pos, Gedung Bank Indonesia,dan Gedung Bank Negara Indonesia.Sempat mampir ke kantor pos, maksud hati mau mengirimkan kartu pos. Eh kok yah gak ada yang jual kartu pos yah. Ya sudah, batal deh.

Jam sembilan tepat akhirnya acara senam bersama selesai. Horeee. Kami pun segera kembali ke hotel. Bersih-bersih lalu chek-out deh. Lanjut ke Klaten.

4. Sholat Jumat di Mesjid Raya Klaten dan Silturamhmi

Sebelum ke Klaten, kami menyempatkan untuk mampir membeli titipan Bakpia Kurnia Sari terdekat. Harus merek Kurnia Sari? Iyah harus. Rasanya lebih lembut dan lumer di mulut. Cobain deh. Perjalanan Yogya – Klaten memakan waktu kurang lebih dua jam. Berhubung hari itu hari Jumat, kami memutuskan mengunjungi Mesjid Raya Klaten yang baru untuk sholat Jumat. Bangunan tersebut berdiri di atas tanah yang sebelumnya adalah terminal. Terminal dipindah, dan berubah menjadi mesjid kebanggan warga Klaten.

Di daerah Jawa Tengah, memang tidak aneh kalau wanita ikutan sholat Jumat. Jadilah saya waktu itu bergabung untuk sholat Jumat juga. Daripada bengong panas terik menunggu.  Iya, itu sholat Jumat pertama saya selama saya bisa mengerjakan sholat. Hehehe.

Mesjid Raya Klaten
Mesjid Raya Klaten

Pengalaman menarik yang saya lihat selain kemegahan mesjid tersebut adalah jemaah anak-anak di sana. Mesjid raya yang terdiri dari tiga lantai, dilengkapi dengan lift. Nah, lift ini ternyata menjadi objek menarik buat anak-anak usia 6-10 tahun itu. Selesai sholat, mereka berebut untuk turun melalui lift. Anak-anak memang selalu punya cara untuk bahagia. Apapun dan dimananpun mereka berada. Raut wajahnya ituloh benar-benar bahagia. Makanya biar gak stres kadang kita harus mempunya kacamata seperti mereka.

Anak-anak di Masjid Raya Klaten
Anak-anak di Masjid Raya Klaten
Bagian Dalam Masjid Raya Klaten
Bagian Dalam Masjid Raya Klaten

Sholat Jumat selesai, mengagumi Mesjid Raya selesai. Kami pun ke tujuan utama kami ke Klaten. Ke rumah Simbah Putri satu-satunya yang kami miliki. Iyah, kami sengaja gak bilang-bilang. Kejutan ceritanya. Eh, tiba di rumah Simbah, Mbahnya lagi menikmati angin sepoi-sepoi di teras rumah dengan mata terpejam. Wah, Simbah tertidur pulas sepertinya. Di teras rumah Simbah, meski siang terik, persis di depannya ada pohon mangga yang cukup meneduhkan halaman rumah. Belum lagi tanaman bunga dalam pot dan hamparan sawah didepannya. Siang itu angin pun bertiup seperti meninabobokan. Udara begitu sejuk tanpa perlu kipas angin apalagi air conditioner. Bayangan saya malah menambahkan dengan buku digenggaman, ah lima menit saja mungkin saya terlelap.

Simbah Ketiduran di Teras
Simbah Ketiduran di Teras

Pelan-pelan kami membangunkan Simbah. Agak kaget sepertinya beliau melihat kedatangan cucunya ini. Bukan hari libur atau ada perayaan apa seperti kami biasa mengunjungi rumah Simbah. Kurang lebih tiga puluh menit di rumah Simbah dan setelah menghabiskan segelas teh manis buatan Bulek, kami mohon pamit. Berkah silaturahmi kami dapat ketika kami dibawakan kira-kira sepuluh liter beras oleh Bulek Rukh. Beras bukan sembarang beras. Beras yang ditanam oleh Om Sayid tanpa pupuk kimia dan memiliki aroma khas yang wangi pandan. Lumayanlah ya… Hemat gak beli beras dua bulan. Hihihi. Perjalanan kami masih panjang, bersambung di posting-an berikutnya ya.

 

 

 

 

 

 

 

Makanan Khas Arab yang Yummy (Worktrip Arab Saudi Part 2)

Setelah bagian 1 cerita worktrip ke Arab kemarin perjuangan meraih buku kuning, kali ini saya mau cerita tentang makanan. Hahaha. Maaf lah yah, masih gak jauh-jauh dari makanan. Belom yang berat-berat. Habis gimana, kita kan hidup butuh makan. Jadi, daripada yang berat-berat, bahas makanan memang lebih enak. Ngeles ajah.

Alhamdulillah, teman-teman worktrip saya kali, ini sudah semuanya pernah ke Arab. Bahkan gak cuma yang sepuluh hari sebagian besar sudah pernah tinggal di Arab selama 3 bulan sebagai TKHI (Tenaga Kesehatan Haji Indonesia). So, mereka udah tahu banget makanan apa saja yang bikin kangen kalau lagi di Arab Saudi.

1.Nasi Mandhi/ Nasi Bukhari /Hadramaut

Sebagai orang asia dan Indonesia sejati, tentu saja kami gak bisa jauh-jauh dari yang namanya nasi. Buat kami, nasi adalah makanan wajib. Kalau belum makan nasi, sepertinya kami belum makan. Jadilah pilihan pertama kami adalah nasi mandhi. Nasi mandhi disini mungkin mirip-mirip nasi briyani atau nasi kebuli.

Nasi mandhi atau biasa disebut hadramaut. Hadramaut sendiri sebenarnya nama daerah di Yaman dimana konon katanya asal muasal makanan itu.

Nasi Mandhi
Nasi Mandhi/ Hadramaut Kambing

Nasi mandhi dan nasi bukhari adalah nasi yang diolah dengan diberikan bumbu-bumbu khas Timur Tengah seperti kayumanis, kapulaga, pala, yang aromanya cukup kuat. Sajian nasi mandhi biasanya didampingi daging kambing yang dimasak diungkep ataupun ayam panggang atau roasted chicken. Ada juga bawang bombay, dan cabai hijau besar yang rasanya gak pedas sama sekali. Nah, disinilah sambal terasi sachet sangat bermanfaat. Jadinya rasanya gak beda jauh sama makan pecel ayam di Indonesia. Enakk… apalagi ditambah ikan saluang (makanan khas Banjarmasin), bawang goreng, dan kerupuk.

Makan nasi mandhi
Tim Penerimaan Obat, di karpet yang kami jadikan tempat kerja, makan, sampai tidur. :))

Makan nasi mandhi memang seru. Penjualnya selalu menyediakan plastik untuk alas makan. DImakannya bareng-bareng. Seru! Sesekali rebutan daging atau sambel.

Satu porsi nasi mandhi buat kami para wanita bisa dimakan bertiga sampai berempat. Maklum porsi Arab itu memang jumbo. Kami sering beli berlebihan, tapi karena nasi ini gak terlalu pulen (apayah bahasa Indonesianya pulen?) jadi masih kami bisa makan untuk sarapan keesokan harinya. Hemat kan jadinya? Hehehehehe.

2. Ayam Goreng Tepung Al Baik

Ayam goreng tepung ala Arab itu  berbeda dengan yang ada di Indonesia. Restoran siap saji asal Kolonel asal Amerika itu ada sih, tapi gak banyak. Hanya ada di pusat-pusat kota. Nah yang sangat masif itu, alias hampir di setiap sudut ada, mereknya AlBaik. Perbedaannya resto cepat aji di Arab dan di Indonesia adalah, mereka membedakan tempat antrian, gak ada nasi, sausnya hanya saus tomat, dan ada saus bawang putih.

Pengganti nasinya ada kentang goreng ataupun roti burger. Ada juga salad isinya wortel dan letuce. Oh iyah ukuran ayam di sana lebih besar-besar. Dua kali lipat dengan ukuran di Indonesia tetapi ayamnya kesat dan gak ada darahnya gitu. Ada juga nugget ayam dan ikan. Menariknya nugget di Arab itu, seperti potongan daging ayam utuh, bukan ayam yang diolah seperti di Indonesia, lebih mantap. Untuk rasa lebih spicy dan bumbunya itu meresap sampai ke dalam. Aduh sambil ngetik ini, jadi nelan ludah sendiri.

AlBaik
Albaik Ayam Goreng Tepung disajikan dengan kentang goreng, roti, dan salad

AlBaik selalu ramai menjelang waktu makan. Di salah satu outlet AlBaik di Jeddah, pembeli pada umumnya pekerja bangunan asal India yang karena harganya tergolong murah dan banyak. Satu porsi ayam (isi 2-3) dan kentang dihargai kurang lebih 13 real.

Seperti di Indonesia, kami gak bosan-bosan makan ayam tepung ini. Sampai-sampai, karena kami sibuk belanja, teman-teman saya sampai minta tolong supir  untuk dibelikan paket Albaik untuk oleh-oleh ke Indonesia. Wow banget kan? Eh ternyata, di bandara ada outletnya.

3. Shawarma

Shawarma
Shawarma dengan kentang goreng

Orang Indonesia pada umumnya mengenal shawarma dengan sebutan kebab. Shawarma bisa dibilang sandwich-nya orang Timur Tengah. Roti tipis berbentuk bulat diisi dengan daging kambing atau ayam panggang bersama sayuran seperti bawang bombay dan timun. Lucunya, di sana penjualnya ada yang menyediakan kentang goreng sebagai teman makannya. Kebayang gak sih orang Arab itu makannya hebat. Hahahaha.

Ada cerita lucu waktu beli shawarma yang persis di depan Kantor BPHI Mekkah. Mereka juga menjual jus. Ketika saya pesan jus tomat (soalnya saya lihat banyak  tomat dipajang). Mereka malah tertawa dan bilang gak ada jus tomat. Tomat dimaksud ternyata untuk membuat sambal. Yaelah. Orang tinggal blend ajah kok susah sih :))).

Kemudian teman saya pesan jus melon. Ketika jadi, dikasih  jus semangka (watermelon), Padahal maksud teman saya, melon itu yang warnanya hijau. Tapi ya udah miskom, eh ternyata semangka di sana enak banget, lebih manis, dan buahnya itu dua kali lipat besarnya dibandingkan semangka Indonesia.

4. Ma’sub

Maksub
Maksub yang manis dan manis banget, tapi enaaaakkkkk

Ma’sub ini bukan makanan berat. Seperti cemilan atau kue khas Arab. Terbuat dari pisang kukus yang ditumbuk, lalu dicampur susu kental manis, gula, cream cheese dan dengan taburan keju chedar yang melimpah. Rasanya satu. Manis dan manis sekali. Tapi enak, apalagi kalau didinginkan di kulkas. Lebih padat dan perpaduan pisang dengan keju itu memang luar biasa enaknya. Harganya 10 real atau sekitar 35 ribu.

Kemarin, saya coba buat ini di rumah. Tapi gak berhasil rasanya belum pas, entah kurang apa. Soalnya googling resepnya pun belum ada. Hehehehe.

5. Martabak Mose

Parata
Parata/Martabak kali ini isinya pisang

Martabak di Arab itu berbeda dengan di Indonesia. Martabak di sana, roti atau adonan martabak manisnya seperti martabak telur. Tipis dan dengan isian pisang. Harganya 9 real. Gak tauk juga sih saya isiannya apa ada variasi yang lain. Sayangnya, waktu di sana, kami para wanita gak bebas jalan-jalan. Jadi, bagian membeli makan ya selalu tugas teman laki-laki. Jadinya saya gak lihat proses pembuatan. Mau ikut, gak boleh kalau bukan muhrim. Aduh repot yah… Oh iyah, di Arab sana belom ada gojek ataupun delivery, jadi mau makan apa ya harus cari keluar. Itulah yang bikin kangen sama Indonesia, kalau lapar gak bingung dan gak harus nyusahin orang, tinggal pake aplikasi.

6. Tamis

Tamis
Tamis dengan pelengkapn

Tamis adalah makanan yang sering disajikan untuk sarapan pagi di Arab. Harganya murah, hanya 1 real yang diametenya kurang lebih 30 cm. Seperti roti yang dibuat menggunakan tungku yang amsih sangat tradisional. Tamis harus segera dikonsumsi agar tidak mengeras terkena udara luar. Dimakan dengan saus olahan kacang dan jeruk lemon. Kalau saya terus terang kurang suka. Rasanya hambar. Enakan nasi pecel. Eh…

7. Jajan Cemilan di Toko Kelontong 

Di Arab, sepertinya saya belum melihat yang namanya minimarket retail seperti yang sangat banyak di Indonesia. Toko-toko kelontong milik orang lokal sudah di desain seperti minimarket. Barang-barang yang agak kurang rapi diletakkan di rak sesuai macamnya. Harga memang sudah tertera. Sayangnya mereka masih manual dan kalau mau minta bon atau nota, nama barangnya tidak ada. Hanya harganya saja. Aduh… repot deh.

Jangan heran kalau produk-produk asal Indonesia banyak dijumpai di sana. Bahkan Indofood pun sudah punya pabrik di Arab. Berikut beberapa jajanan yang saya beli selama di sana. Maklum kami semua doyan nyemil, biar kuat angkat kardus obat :))

 

Kami di sana kemarin juga suka beli croisant ala-ala seharga satu real isinya ada coklat, vanila, dan strawberry, harganya 1 real saja. Kami menyebutnya dengan roti seven. Soalnya di platiknya ada angka 7. Teman-teman juga beli buat oleh-oleh. Kalau saya tentu saja tidak. Makan tempat banget soalnya.

Selain itu kami juga rajin beli jus. Jus jeruk di Arab itu enak banget. Cuaca yang mencapai 42 derajat celcius itu, menjadikan kami harus sering minum dan konsumsi buah segar supaya tidak dehidrasi. Jus jeruk diperas langsung dari jeruk segar tanpa gula aja rasanya manis banget. Enak, rasa jeruk asli. Harganya lupa, maaf. Tapi gak mahal kok.

Kangen Makanan Indonesia? Jangan khawatir, ada ini nih… :

Sebagai negara yang menurut saya memiliki makanan terenak di dunia, paling lama hanya bertahan tiga hari tahan dengan makanan asing. Setelah itu, tentu terbayang-bayang bakso, mie ayam, sate, sop iga, dan masih banyak lagi. Meski kami bawa sambel terasi, ikan saluang, dan kering kentang, keinginan kami makan masakan Indonesia terus menghantui. Gak usah khawatir, di Arab banyak restoran atau rumah makan Indonesia dengan koki orang asli Indonesia.

  1. Warung Bakso Mang Udin

Warung Bakso Mang Udin terletak di pusat pertokoan Al Balad Jeddah. Memasuki area Al-Balad, langsung kelihatan jelas. Melihat plang nya pertama kali, saya langsung senyum-senyum. Keren juga Indonesia yah. Meski kemarin saya datang belum musim haji, warung bakso Mang Udin selalu ramai pengunjung. Pengunjungnya memang mayoritas orang Indonesia yang merantau di Arab.

Menu di Warung Baskso Mang Udin, gak hanya bakso dan mie ayam. Ada soto ayam, sop iga, rawon, nasi goreng dan masih banyak lagi. Minumannya yang paling laris apalagi kalau bukan teh kemasan botol yang punya slogan selalu menjadi teman segala makanan alias teh botol sosro. Sebut aja deh mereknya.

Bakso Mang Udin
Bakso Mang Udin

Berhubung itu warung bakso, saya pun pesan bakso tanpa mie dan jeruk hangat. Rasanya standar sih, kayak bakso pada umumnya, gurih kaldu sapi tapi agak kurang asin. Baksonya enak, dagingnya berasa. Untuk mengobati kangen makanan berkuah ya lumayanlah.

2. Rumah Makan Garuda

Selain Warung Bakso Mang Udin, di Al Balad ada rumah makan yang menyajikan makanan Indonesia. Dari namanya saja sudah Indonesia banget. Rumah Makan Garuda. Rumah makan ini terletak di dekat pintu masuk parkir pertokoan Al Balad. Masuk kedalamnya, kita lalu naik beberapa anak tangga.

Menu rumah makan garuda lebih lengkap. Ada nasi rames yang menyajikan masakan seperti oseng-oseng, capcay, tempe orek, terong balado, sampai semur jengkol. Semua diletakkan di etalase ala warteg. Gorengan juga ada. Pisang, tempe, tahu semua digoreng pake tepung. Menunya selain nasi rames antara lain bakso, mie ayam, gado-gado, ketoprak, sop iga, rawon, ikan bakar, sate ayam atau kambing juga ada. Pokoknya ini rumah makan kayak one stop eating Indonesian food. Semuanya ada.

Dua kali kami berkunjung, menu pertama yang saya pesan gado-gado. Maklum, makanan khas Arab minim sayuran. Biar tetep sehat. Pesan gado-gado pake lontong. Sudah bisa ditebak. Porsinya kebanyakan buat saya tapi rasanya lumayan enak. Hari berikutnya sebelum ke bandara kami mampir lagi. Kali ini saya pesan mie ayam. Rasanya lumayan enak. Mengobati kangen mie yamin di kantin kantor. Saking enaknya saya lupa foto. 🙂

Rasa makanan di resto ini terbilang enak semua. Saya icip-icip juga menu yang dipesan teman saya. Pokoknya makan disitu serasa di Indonesia deh. Apalagi sambil nonton televisi yang selalu memutar chanel  Indonesia. Tayangan apa yang diputar coba? Apalagi kalau bukan Indosiar dan SCTV yang menayangkan sinetron atau FTV. Para pelayannya pun kalau sedang tidak melayani tamu, ikutan duduk dan ikutan nonton tv dengan khusuknya. Loh segitu kangennya sama Indonesia yah…

Sebenarnya ada satu lagi restoran yang menyajikan makanan Indonesia. Tapi panjang ceritanya, agak drama-drama gitu pas mau makan di sana. Buat bahan next post ajah kali yah.

 

Keliling Malang Part 2 (Coban Rondo dan Museum Satwa)

Akhirnya setelah kenyang makan ketan susu, kami memutuskan mencari hostel yang sudah kami booking dari booking.com. Hari yang sudah gelap, membuat kami agak kesulitan mencari lokasi hostel dimaksuud. Tanya tukang ojekpun gak ada yang tahu. Tapi dengan segala daya upaya (lebay) alhamdulillah akhirnya ketemu juga.

Papan nama homestaynya memang kecil. Kalau malam memang agak kurang jelas terlihat. Setibanya di sana ada Mas-mas di lobi homestay. Saya pun mengeluarkan bukti bookingan homestay dan si Mas-mas menjelaskan kalau kamar yang sudah saya booking tidak ada AC nya. Aduh saya agak kecewa yah. Awalnya saya booking 2 kamar dengan harga per kamar 250.000 per malam. Melihat wajah kecewa saya, si Mas-mas menawarkan kamar lainnya dengan tipe keluarga, bisa untuk empat orang dengan dua tempat tidur besar, dan kali ini ada AC, berikut sarapan dengan harga 350.000/malam. Waw… otak hemat saya tiba-tiba tersenyum. Bisa hemat 150.000 kan, ayeee… Akhirnya kami putuskan mengambil kamar tersebut. Ah senangnya booking hotel bisa se-fleksibel ini.

Badan yang lelah membuat kami langsung bersih-bersih dan langsung istirahat, mengingat masih banyak tempat-tempat keren yang akan kami kunjungi esok hari. Gak sempat juga ambil foto kamar homestay nya. Tapi saya deskripsikan aja yah, kamarnya bersih, pintu masuk langsung kamar mandi ada di dalam, air hangat, dan perlengkapan mandi kumplit. Tempat tidur ukuran sedang ada dua, televisi layar datar, dan colokan ada. Pokoknya buat bermalam saja cukuplah.

Selepas sholat shubuh, Ibu dan Bapak memilih berjalan-jalan keluar homestay. Sedangkan Zaki ya… tentu saja memilih untuk bogiiii alias bobo pagi. Heran deh gak di mana-mana, ritual bobo pagi itu tidak pernah dilewatkan.

Lokasi homestay O3 memang strategis. Terletak di antara Jatim Park 2 dan Batu Night Spectacular. Dari jalan besar, ambil kiri dan hanya kurang lebih 200 meter saja. Serunya lagi O3 homestay juga dekat dengan rumah penduduk, sawah, dan sekolah. Penduduk mungkin sudah melihat potensi daerahnya sebagai tempat wisata, sehingga sepanjang homestay kami juga banyak homestay lainnya.

O3 Hometsay Malang
O3 Homestay

Loby O3 Homestay

Loby O3 Homestay

O3 Homestay tampak depan
O3 Homestay tampak depan

Setelah mandi saya memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar homestay, siapa tahu ada yang menarik. Benar saja, saya bertemu dengan Ibu-ibu yang akan berangkat ke ladang dan sedikit bercerita, tapi cerita itu nanti saja saya ceritakan tersendiri.

Jalan-jalan di Sekitar O3 Homestay
Jalan pagi di sekitar O3 Homestay

Pagi itu di 03 homestay memang ada beberapa tamu yang menginap selain kami. Sarapan pagi itu sudah siap, dan si Ibu koki yang memasak dengan ramahnya menawarkan kami untuk sarapan pagi. Ternyata Ibu saya yang emang hobi ngobrol dapat bocoran kalau si Ibu Koki adalah Ibunya empunya O3 homestay ini. Semua diberdayakan, usaha keluarga.

Menu Sarapan ala O3 Homestay
Menu sarapan ala O3 Homestay
Sarapan ala O3 homestay
Sarapan ala O3 homestay, gak ketinggalan teh manis hangat
Bapak dan Ibu sedang sarapan
Bapak dan Ibu sarapan
Bincang Pagi Ibu sama Koki Homestay
Bincang Pagi Ibu sama Koki Homestay, seru banget. Saking semangatnya tangannya menutupi wajah, aduh padahal mau di candid. Hehehe

Menu sarapan pagi kami itu memang agak berat. Nasi putih, mie goreng, ayam kecap, sayur tahu bumbu kuning dan kerupuk. Ada hal yang membuat saya heran. Kota Batu adalah penghasil sayur mayur, tetapi kenapa di menu sarapan kami tidak ada menu sayurnya. Hahahaha. Pertanyaan yang seringkali saya tanyakan dan jawabannya entahlah. Di Indonesia itu sudah terbiasa kalau mie goreng yang jelas-jelas karbohidrat itu dijadikan lauk pauk. Unik yah negeriku. Hihihihihihihi.

Awalnya kami masih bingung, akan ke Bromo atau tidak dan apakah kami masih akan tetap menginap di O3 homestay atau tidak. Akhirnya setelah berdiskusi dengan supir rental kami Mas Pego, kalau kami ingin ke Bromo, baiknya dari Malang kota saja, jadilah kami langsung check-out pagi itu. Jadi, satu hari nanti kami akan habiskan di batu, sorenya kami akan menuju Malang kota. Selesai pembayaran kami pun menuju ke Air Terjun Coban Rondo. Dari Batu masih sekitar 30 menit perjalanan ke arah puncak. Pemandangan hutan pinus di kanan dan kiri meneyejukkan mata. Kami juga bisa melihat Kota Batu dari ketinggian.

Perjalanan Menuju Coban Rondo
Perjalanan menuju Air Terjun Coban Rondo
Pemandangan Kota Batu dari atas
Kota Batu tampak dari atas

Tiba di Coban Rondo, ternyata ada pekerjaaan perbaikan bendungan karena banjir yang belum lama terjadi. Debit air yang besar membuat tanggul hancur dan masyarakat di sana bergotong royong memperbaiki tanggul sungai.

Gerbang Air Terjun Coban Rondo
Si Ibu iseng di Gerbang Air Terjun Coban Rondo
Cerita Legenda Air Terjun Coban Rondo
Cerita Legenda Air Terjun Coban Rondo
Jalan Menuju Air Terjun Coban Rondo
Jalan Menuju  Air Terjun yang sudah bagus

Musim hujan debit air terjun cukup deras. Papan pengumuman agar pengunjung tidak mandi di air terjun sepertinya menjelaskan kalau kami hanya bisa foto-foto dan menikmati pemandangan, tidak untuk merasakan seberapa dalam atau dingin airnya. Tapi kami puas. Debit air yang besar, membuat air terjun terlihat bagus.

Air Terjun Coban Rondo
Air Terjun Coban Rondo dan Papan Peringatan Bagi Pengunjung
IMG_3213
Di Bawah AIr Terjun Coban Rondo, airnya deras sampai kayak kehujanan

Hawa di sana sejuk pake banget, dan karena bukan hari libur, bisa dibilang waktu itu sepi pengunjung. Dari parkiran ke lokasi air terjun, tidak terlalu jauh. Jalannya pun sudah bagus, aspal, tidak licin. Fasilitas seperti toilet umum untuk mandi pun gratis loh dan yang penting bersihnya itu, patut diacungi jempol. Seperti tempat wisata pada umumnya, banyak penjaja makanan dan minuman.

Puas menikmati air terjun kami menyudahi kunjungan kami dengan membeli jagung bakar. Di perjalanan pulang kami juga sempat berhenti untuk berfoto-foto.

Dari Coban Rondo kami menuju Jatim Park 2 dengan membeli tiket terusan sebesar 85.000 saja dengan tujuan Museum Satwa, Batu Secret Zoo, Museum Bagong, dan Eco Park. Mbak-mbak penjual tiket menganjurkan agar kami ke Museum Bagong terlebih dahulu, karena tutup paling awal yaitu jam 4 sore. Berhubung jarak dari Jatim Park 2 ke Museum Bagong jauh dan kami harus menunggu kereta yang mengantar, kami putuskan untuk ke museum satwa. Kami pikir satu jam cukuplah untuk berkeliling di Museum Satwa.

Museum Satwa
Museum Satwa

 

Museum satwa di Jatim Park 2 kali ini tidak seperti museum biasa seperti museum di Taman Mini. Museum Satwa dirancang lebih menarik. Ketika masuk kita akan disuguhi sangkar burung raksasa, masuk lebih dalam, akan ada replika salah satu keluarga dinosaurus yang sangat besar. Tidak hanya replika yang biasanya di letakkan di dalam lemari kaca seperti museum pada umumnya. Belum lagi replika gajah raksasa atau Mammoth, lalu ada replika gunung es seperti di kutub utara lengkap dengan beruang kutubnya.

Sangkar Burung Raksasa
Sangkar Burung Raksasa
Replika Dinosaurus
Replika Dinosaurus
Replika Mammoth
Replika Fosil Gajah 
Trick Art di Museum Satwa
Bapak dan Ibu berfoto Trick Art di Museum Satwa

Menariknya lagi replika dan semua dekorasi diciptakan sedemikian rupa agar pengunjung bisa mengambil gambar dengan menarik. Hewan-hewan yang dipamerkan di sini kebanyakan memang replika atau buatan. Tapi sangat mirip dengan aslinya. Luar biasa deh yang bikin. Pengelompokkan peraga hewan dibedakan sesuai habitat dan jenis hewan. Misalnya hewan laut, di sana ada tempat simulasi pelalangan ikan di kampung nelayan. Ikan segar yang digantung ataupun ikan asin yang sedang dijemur.

Tempat Pelelangan Ikan
Replika Tempat Pelelangan Ikan di Desa Nelayan
Beruang Salju
Groufie di depan Beruang Kutub

Selain dipamerkan hewan-hewan, di museum ini juga ada ruang tempat peraga audiovisual, jadi pengunjung yang sebagian besar anak usia sekolah bisa mendapat penjelasan dengan lebih lengkap. Tidak ketinggalan ada juga cafe di dalam museum ini.

Informasi Menarik di Museum Satwa
Selain bentuk fisik satwa, info menarik seputar satwa juga tersedia.
Akuarium
Akuarium Raksasa

Tidak terasa lebih dari satu jam berkeliling museum satwa. Masih ada beberapa tempat yang harus kami datangi dengan tiket terusan Jatim Park 2. Kunjungan kami berikutnya adalah Batu Secret Zoo, dan Museum Bagong yang akan bersambung di Episode Keliling Malang Part 3. Kalau dilanjutkan di sini takutnya yang baca kebosanan. Hahahaha. Itu alasan saya aja sih yang udah kecapekan ngetiknya. Hehehe.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keliling Malang bareng Bapak Ibu (Zangrandi, Museum Angkut, D’Topeng)

Helllooooo…. saya kembali. Hihihi. Semoga aja ada yang kangen baca tulisan blog saya. Sudah sebulan gak update blog nih. Februari memang bulan yang sibuk banget buat saya (sok sibuk aja padahal) dan alhamdulillah waktunya traveling. Nah setelah pulang traveling, males deh. Alasannya tiap weekend ada aja agenda keluar rumah. Kalaupun gak ada, ya waktunya bersih-bersih ataupun hanya mager (males gerak) menikmati sofa, leyeh-leyeh, main hape, dan oh ya kembalinya mood menonton drama Korea, jadinya bikin mood nulis saya gak dateng-dateng. Hehehe. Ada aja kan alasannya. Males nulis ya malas ajah.

Acara nikahan adik ipar saya di Surabaya kemarin, membuat saya berencana untuk traveling ke Malang. Jujur aja, November kemarin saya sudah outbond kantor ke Malang. Tetapi namanya juga jalan bareng rombongan ya gak banyak yang didatangi dan Malang memang kota yang asyik buat dikunjungi berulang kali. Outbond kemarin saya hanya dapat siraman rohani biar semangat ala motovator, rafting di Pujon, Museum Angkut, Museum Satwa, belanja oleh-oleh, dan main sepeda di sekitar Hotel Harris Malang.

Traveling kali ini agak berbeda buat saya, karena saya yang biasanya duet traveling bareng suami, kali ini mengajak Bapak dan Ibu. Hanya Bapak dan Ibu saya aja, karena Bapak dan Ibu mertua masih kerja dan mereka gak mau cuti lagi (karyawan teladan, patut di contoh). Awalnya bahkan kami mau traveling ke Malang dengan saudara-saudara ipar saya tetapi karena masing-masing punya keperluan dan kepentingan yang beragam, jadilah kami hanya berempat ke Malang. Meskipun ada tiga keluarga suami yang ke Malang, tetapi kami punya itinerary masing-masing dan jalan terpisah.

Perjalanan kami dari Surabaya start jam 9 pagi dengan mobil rental. Kami mampir ke Pasar Genting untuk beli oleh-oleh. Di sana saya hanya beli Teng-Teng Mente dan Sambal Bu Rudi yang harganya bisa dua kali lipat kalo udah nongkrong di Mall Jakarta.

Sambal Fenomenal Bu Rudi
Sambal Bu Rudi harganya sebotol 25 ribu

Dari Pasar Genting, kami mampir ke Warung Es Krim legendaris Zangrandi yang terletak di Pusat Kota Surabaya. Dua hari di Surabaya agak menyesal menyia-nyiakan waktu di kamar Asrama Haji yang memang asri. Ternyata banyak spot-spot menarik di Surabaya yang dikunjungi. Sepertinya next trip yah. Ahseeekk…

Es Krim Zangrandi, Surabaya
Menikmati manisnya Es Krim di Kedai Zangrandi dan senyum Ibu. 🙂

Dari Surabaya, kami beranjak ke Malang. Perjalanan Surabaya ke Malang normalnya kurang lebih tiga jam. Kami istirahat sebentar di sebuah Pom Bensin untuk sholat dan ke toilet. Hujan deras mengiringi perjalanan kami ketika kami tiba di Kota Malang. Tujuan kami memang langsung menuju Kota Batu. Tiba di Kota Malang, kami berhenti untuk makan siang di jalan Surabaya-Malang tepatnya di Warung Sate Hotplate. Alasannya kami makan di sini, ada pilihan selain ayam dan daging dimana saya sudah males banget makan menu itu, masuk list rumah makan enak di Malang, dan yang paling penting tempat parkirnya ada.

Menu yang kami pesan benar-benar menu rumahan. saya dan Ibu memilih telor dadar dan sayur asam. Sedangkan Zaki dan Bapak pilih sate kambing dan lalapan. Cuaca yang dingin membuat kami memilih minuman hangat, kecuali Zaki yang pilih es jeruk.

Sate Hot Plate Malang
Sate Hot Plate, telor dadar, dan tempe goreng. Sayur asem belom dateng. Udah keburu laper… hehehe

Perut kenyang hati senang, apalagi harganya juga tidak terlalu mahal. Makan berlima habis kurang lebih 150 ribu. Kami berlima ya, bareng Pak Supir rental yang pesan sate kambing.

Hujan masih menguyur Kota Malang kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Batu, tepatnya ke Museum Angkut. Tiba di Museum angkut sekitar jam 14:30. Berhubung weekend, harga tiket menjadi 80 rb ditambah terusan untuk ke Museum D’Topeng, totalnya 90 rb.

Museum Angkut memang museum yang sangat direkomendasikan jika kamu jalan-jalan ke Batu. Semua cerita alat angkut ada di sini. Tetapi apa coba alat angkut yang paling hebat dan bisa membawa kamu kemana saja? Jawabannya adalah uang. Hehehe bener juga siy.

Koleksi Uang di Museum Angkut
Koleksi Uang Berbagai Negara
Museum Angkut Malang
Uang termasuk alat angkut yang hebat bukan? 🙂
Museum Angkut
Simulasi Kokpit Pesawat
Koleksi Sepeda Onthel di Museum Angkut
Koleksi Sepeda Ontel di Museum Angkut
Replika Kota Tua di Museum Angkut
Replika Kota Tua di Museum Angkut
Koleksi Museum Angkut
Mobil dan Motor Jadul

Namanya saja museum angkut ya, di sini memang wajar jika yang ditampikan berbagai macam alat angkut dari yang sangat tradisional seperti gerobak sampai mobil yang dipakai Presiden, dan mobil-mobil yang paling keren di masanya. Keunikan yang dimiliki museum ini adalah design tempatnya yang dibuat untuk membuat pengunjung benar-benar menikmati museum. Buat orang awam seperti saya yang memang gak terlalu suka dan gak mengerti tentang mobil-mobil keren atau apalah. Tempat ini sangat menarik buat foto-foto, belajar sejarah alat angkut, games pengetahuannya yang kreatif, sampai penyajian miniatur-miniatur Kota-kota besar dunia seperti London, Paris, Berlin, Italia, New York yang gak kalah tampilannya sama Universal Studio nya Singapura.

Pokoknya saya bangga banget di Indonesia ada museum keren kayak begini. Pokoknya jauh sama kesan museum yang membosankan dan menjemukan. Apalagi buat yang suka selfie atau foto, sediakan waktu seharian penuh untuk mengunjungi museum ini. Selain waktu, kalian juga butuh banget tenaga terutama kaki yang kuat buat berkeliling.

Tembok Berlin, Museum Angkut
Mejeng di depan tembok Berlin
Museum Angkut Big Ben
Berdua sama Ibu…
Museum Angkut
Mobil Kuno 🙂

Meskipun seharian kamu di Museum, jangan khawatir kelaparan. Di dalam area museum ini ada Pasar Apung seperti yang terdapat di Lembang Bandung. Pasar yang menjajakan berbagai macam makanan di sebuah perahu yang terapung. Selain makanan ada juga souvenir yang dijual. Pokoknya kumplit deh.

Pasar Apung Museum Angkut
Pasar Apung Museum Angkut

Puas berkeliling di Museum Angkut, kami masih punya satu tiket museum lagi, yaitu museum D’Topeng. dari namanya saja kita pasti sudah tahu, ini museum topeng yang isinya topeng-topeng dari daerah di seluruh Indonesia. Ah pasti layaknya Museum Wayang di Jakarta, paling sebentar karena kami pasti hanya berkeliling dan lihat-lihat (begitu pikir saya di awal).

Kami segera masuk dengan hanya menunjukkan gelang di lengan kami sebagai tanda masuk ke Museum D’Topeng. Tiba di dalam Museum, seorang pemandu kemudian mendekati kami dan kemudian menemani kami berkeliling museum sambil menjelaskan benda-benda yang dipajang (bayangan saya salah).

Kita sebut saja Mas-mas Pemandu soalnya saya lupa namanya. Selain menjelaskan tentang sejarah benda-benda di sini, asal muasal, dan keistimewaannya, sesekali mas-mas pemandu juga suka melucu. Mungkin untuk menghilangkan jika pengunjung mulai bosan mendengarkan celotehnya. Asyik juga sih, dengan begitu kami malah semangat terus untuk bertanya ini itu.

D'Topeng Museum
Mas-mas pemandu sedang menjelaskan patung sembahan nenek moyang

Selain topeng, sebenarnnya museum ini juga berisi kekayaan budaya Indonesia. Mulai dari batik dengan keunikan di berbagai daerah di Indonesia, barang-barang peninggalan nenek moyang seperti tombak, alat-alat masak, dan masih banyak lagi. Pokoknya masuk ke dalam museum ini jadi tambah kaya pengetahuan tentang Indonesia. Makin bangga jadi orang Indonesia. Di Singapura adapun bukan punya bangsa mereka sendiri. Ini asli punya Indonesia. Bangganya saya. Maaf ya lebay.

Museum D'Topeng Malang
Makin bangga jadi orang Indonesia
D'Topeng Museum
Nice Quote

Waduh, gak rugilah nambah 10 ribu bisa masuk ke dalam museum keren begini. Pake pemandu dan dijelaskan lengkap lagi. Di penghujung museum, kita masih dapat bonus pertunjukkan musik keroncong. Boleh masukin uang sekedarnya juga. Pokoknya puaslah.

D'Topeng Museum

Pertunjukan Musik di D’Topeng Museum

Selesai berkeliling Museum D’Topeng, kami memutuskan untuk masuk lagi ke Museum Angkut yang setiap jam lima sore ada parade mobil. Eh, sayang di sayang setibanya kami di sana, paradenya sudah selesai dan yang ada kami tinggal disuguhi orang dengan berbagai kostum sehabis berparade yang berjoget-joget dengan musik yang jedung jedung yang bikin kepala saya muter. Kami pun memutuskan untuk keluar museum dan rencananya mau ke Batu Naight Spectacular (BNS).

Gerimis yang masih mengguyur Kota Batu tidak mengalahkan tekad kami. Setibanya di BNS kami berencana untuk makan malam saja. Tetapi setelah kami turun dari mobil dan mau membayar tiket masuk, terlihat dengan jelas kalau di dalam BNS sebenarnya banyak wahana permainan outdoor. Ah sepertinya sayang sekali kalau kami harus bayar hanya untuk makan yang pasti menunya alakadarnya. Kami pun memutuskan untuk meninggalkan BNS dan menuju alun-alun Kota Batu untuk menikmati ketan susu Legenda yang terkenal itu.

Sepertinya hukumnya wajib kalau ke Batu harus mencicipi ketan Legenda di Alun-Alun Kota Batu. Kedainya kecil, tetapi antrian pengunjungnya luar biasa. Kali ini kami beruntung antriannya tidak terlalu ramai. Mungkin karena hujan.

Menunya tentu saja ketan dengan berbagai macam toping. Ada toping keju, susu, duren, dan yang original adalah ketan dengan toping bubuk kacang kedelai. Ketannya memang pas tidak terlalu banyak apa yang istimewa saya juga tidak tahu. Rasanya sih sama saja dengan ketan yang saya makan di mana-mana.

Ketan Legenda Kota Batu
Ketan Legenda di Alun-alun Kota Batu sejak tahun 1967
Ketan Legenda Batu
Ketan Keju Susu
Ketan Legenda Kota Batu
Ketan Bubuk Kacang Kedelai
Warung Ketan Legenda
Wedang Uwuh dan Susu Jahe Madu

Teman makan ketan yang cocok di saat hujan apalagi kalau bukan wedang susu jahe ataupun susu murni. Kota Batu memang banyak terdapat peternakan sapi dan penghasil susu murni. Selain susu ada juga wedang uwuh yang berisi rempah-rempah yang dapat menghangatkan tubuh.

Warung Ketan Legenda buka sejak pukul 17:00 sampai tengah malam atau sampai habis. Sepertinya kami tidak perlu makan malam lagi. Sepiring ketan dan segelas wedang jahe sudah cukup mengenyangkan. Kami pun bergegas karena antrian sudah mulai panjang. Selain itu kami ingin cepat-cepat merebahkan badan yang sudah gemeretak. Belum lagi masih harus mencari lokasi penginapan yang sudah kami booking sebelumnya melalui booking.com

Bersambung di episode ke 2 perjalanan bareng Bapak dan Ibu ke Malang di Post selanjutnya ya. Keesokan harinya kami akan mengunjungi Coban Rondo, Batu Secret Zoo, Museum Satwa, Museum Tubuh, dan di hari terakhir kami akhirnya ke Bromo. Yeay… ditunggu yah.

 

 

 

 

 

Jawaban untuk Evaluasi ODOJ 2080

Ada pertanyaan  yang di lontarkan dari fasilitator di grup ODOJ gw, Cuma dua kok, dan ini jawaban gw…agak panjang…maaf.

1. Selama teman-teman gabung di grup ODOJ ini, apa ada kendala?

Kendala ada yaitu kendala yang di ada2in. Yaitu MALAS. Padahal banyak banget waktu luang pas jam istirahat di kantor misalnya tapi malah senengnya ngobrol sama teman2, ngegosip ngalor ngidul. Lebih suka buka hape lihat2 media sosial, main games, chat di grup sama teman-teman, baca buku, majalah or novel dan nonton streaming dvd korea. Hehehe. Manusiawi banget yah. Iyah bener banget itu semua manusiawi.

Manusia sifat aselinya memang selalu mencari kebahagiaan dan kenyamanan. Salah satunya ya do what your passion. Kalo gw di waktu gak kerja or ngurusin kerjaan or masak buat suami ya waktu lenggang gw sukanya ngerjain hal-hal di atas. Menurut gw sih sah2 banget, yah itung-itung ngasih reward dan bikin jasmani dan rohani rileks sejenak.

Tapi bener gak sih Cuma itu2 ajah yang bikin hati dan rohani kita tenang. Itu semua kan duniawi banget yah. Kalau gw sih ada yang kurang yah. Suka kepikiran, kalo lagi menikmati itu semua, sadar gak sih itu dari siapa. Yap dari Allah. Trus gw dah membalas apa ke sang pemberi semua nikmat itu? Sebenernya juga sih Allah gak butuh apapun dari gw. Tapi gw yang butuh Allah. Gw sadar banget tanpa gw rajin ibadah pun Allah sudah memberikan semua nikmat sama kita. Tapi ada satu yang kurang. Hati gw. Hati gak pernah tenang, kalo kita menjauh dari Allah. Makanya gw gabung sama ODOJ.

Waktu belum ikut ODOJ alhamdulillah tilawah gw setiap hari kok. Tapi sesuka-suka ajah. Paling Cuma selembar dua lembar, terus bada maghrib doang lagi. Terus ditawarin sama teman gabung di ODOJ, tiga bulan yang lalu. Alhamdulillah hati semakin enak ajah…asal ada waktu kosong jadi pengennya tilawah terus. Ikut ODOj berasa ikut berlomba-lomba dalam kebaikan. Akhirnya berhasil ngajakin suami juga. Dan kita jadi balap-balapan khatam tiap harinya. Saling pamer mengabarkan progress tilawah tinggal berapa lembar lagi. Dan ternyata meski bukan bulan ramadhan bisa kok khatam 1 juz 1 hari, bahkan semenjak awal tahun ini gw dah sedikit berani ambil lelangan. Program partneran-nya waktu itu kalo partner khatam, kita yang gantiin juz nya dia. Dan ternyata bisa juga kan…

Makanya kendala buat saya sih sampai detik ini belum ada, yang ada adalah kendala yang di ada2in…hehehhehe….

Kalo kita pergi, bisa tilawah di jalanan, kalo nge-moll misalnya, kita cari moll yang paling nyaman mushola nya. Abis sholat sambil istirahat sekitar 15-20 menit kita tilawah dulu nyicil. Bisa juga pas lagi pesan makanan. Sambil nunggu makanan datang, kita tilawah dulu kalo emang lagi gak ada yang mo dibahas. Daripada ngomentarin orang-orang. Hehehhe… ketauan kan… Pokoknya dimana ajah bisalah insyallah kalo emang niatnya semangat mau tilawah.

2. Apakah ada hal yang membuat teman2 tidak nyaman?

Euhm….kalo saya pribadi sih tidak nyaman sekali tidak. Karena usia kita yang gak seumuran, kadang celotehan mereka yang menurut saya suka lucu tanda kutip soalnya rane ting tang ting tapi kadang becandaan yang saya gak ngerti hehehhe..tapi itu tdk terlalu membuat saya tidak nyaman kok. Jadi yah its oke sajah, gak usah dibawa kedalam hati ajah kalo begitu.

Wassalam,

Rini ODOJ 2087

 

 

Promil okeh…kita coba insem

Januari ini 3,5 thn usia pernikahan kami. Setelah 4x ils (imunisasi leukosit suami). Dan 2 periode belum jg membuahkan hasil. Kami memutuskan untuk mencoba inseminasi. Tau kan inseminasi. Pembuahan buatan tapi  masih dilakukan di dalam rahim. Cuma dibantu dengan cara memilihkan sperma yg terbaik, trus di bantu juga supaya sel telur matang sempurna.

Kemarin sama dokter udah dikasih pembesar sel telur. Diminu. Hari ke 2 haid selama 5 hari. Biar telurnya besar2.

Hari ini hr ke 13, lht ukuran sel telur. Hiks sedih.. masih kecil 13mm pdhal harusnya udah 18 mm. Terus disuntik deh untuk besarin sel telur. Besok rabu lagi. Nah jumat eksekusi. Doakan yah…siapi  mental jg dgn apapun hasilnya nanti. Oh iyah tadi biayanya plus obat n dokter 1, 7 jt.

Apapapun hasilnya ini ikhtiar kami. Oh ya kami berobat di rs sam marie basuki rahmat dengan dr.muharram.

Semoga…membuahkan hasil. Giat berdoa…dan makan sehat nih…

Bolehkah saya tersinggung, kesal, atau bete ?

Hal-hal kecil sering banget bikin saya bete, kesal, ataupun tersinggung. Gak ngerti mungkin memang gini ya, jadi sensitif. Tapi sebisa mungkin saya tidak menunjukkannya di hadapan orang lain. Tapi muka gw ini kaya jendela. Apa yang di muka ya pasti yang di hati. Kalo hati gw lagi kesel, ya pasti muka gw juga jelek banget pastinya.

Meminta mereka mengerti. Dari bahasan atau topik di obrolan misalnya. Saya berusaha menghindari, pura-pura cuek, gak denger, bahkan gak peduli ada orang-orang disana. Malas bersosialisasi. Bahkan teman-teman terdekat pun tidak mengerti apa yang saya rasakan. Palingan ya teman saya cuma nulis, curhat ajah ke blog. Biar gak ada yang denger gak papaah. Allah kan maha mendengar.

Lagipula mengharap manusia mengerti semua mau kita mustahil. Terima ajah. Senyum ajah. Pura-pura gak ada apa2. Allah akan tahu kapan kita waktunya tersenyum dan kapan mereka tahu kalau saya bahagia. Bukan karena pikiran mereka. Karena saya juga mau tersenyum dan tertawa seperti mereka.

Jika saya bahagia, pasti saya akan pikir apakah teman saya bisa untuk berbagi bahagia dengan saya tanpa dia diam-diam menangis? Saya akan lebih memilih menangis dengannya, dan mengajaknya mencari bahagia. Ketimbang dia harus berpura-pura tertawa ketika saya bahagia. Sebenarnya dia menangis. Maafkan saya teman.