One Day Tour Chiang Rai-Golden Triangle (First Stop : Hot Spring)

Perjalanan kali kedua  saya ke Bangkok kali ini, lagi-lagi karena gak rela suami mau dinas dari kantornya. Hehehe emang saya istri yang sirik kalau suami lagi traveling. Enaknya kalau suami yang tugas dinas, itu seringnya sendiri, jadi saya selalu pinginnya ngintil . Ngintil itu bahasa Jawa yang artinya ngikutin.

Kalau yang pertama kali kami ke Bangkok kami liburan dulu, kali ini dibalik. Suami kerja dulu, saya menyusul kemudian. Alasan berikutnya, karena sudah hampir enam bulan paspor saya tertahan di travel agent penyelenggara umroh yang lagi bermasalah banget. Ketika sudah mendekati waktu keberangkatan dan sepertinya tidak ada kejelasan, kami memutuskan untuk menarik uang dan paspor kami, alias membatalkan. Paspor kembali ditangan setelah hilang beberapa bulan itu rasanya kan pengen diajak jalan yah. Hehehehe.

Setelah gagal ikut suami ke Jerman atau Singapura, pokoknya harus ikut  ke Bangkok. Dalam rangka pembebasan paspor saya dan hari kejepit tanggal merah. Hihihi. Meski ini kali kedua, saya pokoknya mau ikut. Tapi kalau cuma ke Bangkok lagi, kok rasanya bosan. Halah kayak udah sering aja ngomong begini. 🙂

Suami awalnya bilang kita staycation aja di hotel. Kantor tempatnya bekerja, bersedia kasih lebih 2-3 malam untuk menginap di hotel apartemen yang memang super duper nyaman. Saya merenung. Apa bedanya leyeh-leyeh di hotel bintang lima  sama leyeh-leyeh di rumah saya yang menurut saya tidak kalah nyaman dengan hotel? Ah, saya berpikir keras. Sayang cap di paspor saya deh. Moso jauh-jauh cuma leyeh-leyeh di hotel. Pokoknya harus kemana ini. Lagi-lagi pokoknya. Hehehehe.

Era sosial media sekarang ini, membuat saya bisa memecahkan persoalan saya kali ini dengan mudah. Ah masa, lima hari empat malam di Thailand jalan-jalan di Bangkok doang dan bobo-bobo di hotel ajah. Dari instagram teman saya, saya melihat belum lama ini, dia jalan-jalan ke Golden Triangle yang letaknya di sebelah utara Thailand dan berbatasan langsung dengan Laos dan Myanmar. Aha, saya ,mau ke sana. Meski kami harus merogoh kocek lagi, untuk transport dari Bangkok ke Chiang Mai. Ya, Chiang Mai. Saya juga belum pernah ke Chiang Mai. Provinsi di Thailand yang pernah menjadi tuan rumah acara pertandingan olahraga bangsa-bangsa se-Asia Tenggara di tahun 1995 zaman saya di sekolah dasar.

Setibanya saya di Bangkok, kami langsung memutuskan keliling Bangkok, tepatnya, menengok saudara tua di Kampung Jawa.

Baca : Menengok Masjid Jawa di Kampung Jawa, Bangkok dan bertemu Ibu Mariam yang baik hati. Baca juga : Ibu Mariam, Muslimah Keturunan Jawa di Kampung Jawa, Bangkok, Thailand

Hari berikutnya, kami menuju Chiang Mai dan menghabiskan satu hari melihat-lihat kota tua yang cukup terawat. Berkesempatan sholat berjamaah di masjid di kawasan muslim Chiang Mai.

Baca : Melihat Tradisi Muslim Chiang Mai di Masjid Hadayatul Islam Banhaw Chiang Mai

Berkunjung ke sebuah kuil dari banyaknya kuil yang ada di Chiang Mai.

Baca : Menengok Wat Buparram di Kota Seribu Kuil Chiang Mai

Hari kedua kami di Chiang Mai, kami akan dijemput oleh tour guide di depan hostel kami. Jam tujuh pagi kami sudah siap. Berhubung paket menginap kami tidak mendapat sarapan, pagi itu kami sudah melipir dulu ke Sevel. Oh iyah sebenarnya ada satu hal lagi yang mau saya ceritakan di sini. Entah kenapa, dari semalam sebelum keberangkatan kami ke Chiang Rai, perut saya mules. Untuk pengalaman ini baiknya sih nanti aja ya saya ceritakan di episode berikutnya.

Kembali ke topik tour ke Golden Triangle. Setelah peserta tour lengkap, akhirnya kami tiba di tempat pemberhentian pertama kami yaitu Hot Spring alias sumber mata air panas dari pegunungan.

Setibanya kami di sana, saya langsung mencari toilet. Guide tour kami menginfokan kami hanya 15 menit saja berada di sini. Ya ampun, sebentar banget. Apa yang mau dilihat coba?

Hot Spring Water Chiang Mai

Selesai dari toilet saya menghampiri beberapa orang yang sedang berendam (kebanyakan hanya menenggelamkan bagian kaki sampai lutut, gak ada yang sampai merendam tubuhnya). Coba sebesar mana. kira-kira diameter kolam tiga meter kali yah. Pengunjungnya pun belum terlalu ramai.

Turis-turis berendam di Hotspring

Zaki malah seperti biasa. Lebih tertarik sama jajanan yang namanya ro-tee. Iya kayak roti maryam gitu yang dimasak pakai telor dan dikasih saus. Jajanan khas Chiang rai yang kebanyakan penjualnya muslim. Biasanya di gerobaknya selalu ada tulisan halalnya soalnya.

Melipir cari cemilan

DSC01945.JPG
Rotee

Di sepanjang parkiran mobil juga banyak yang menjual cendera mata. Di bagian depan dimana ada tulisan nama tempat ini, ada sebuah kolam yang berdiameter satu meter yang airnya memiliki suhu paling panas dibanding di tempat lainnya. Di sekitarnya ada penjaja telur untuk ditawarkan pelanggan yang ingin membuktikan air di kolam itu bisa merebus telur.

Kalau dipikir-pikir yah. “Segini doang nih? Gak ada apa-apanya dibanding Pemandian Air Panas di Ciater atau di Garut yang kolam renangnya aja gede banget. Belum lagi aliran sungai air panas dari atas yang meliuk-liuk dan banyak orang berendam di dalamnya. Berendam seutuh-utuhnya badan lo yah. Bukan cuma basahin kaki. Hihihihihi. Ya udah namanya juga jalan-jalan. Dinikmati aja yah. Nah kan Indonesia lebih oks kan. Hehehe. Tapi… kenapa banyak turis aja gitu di sana? Coba yah bantu pikir, kenapa?

Pancuran air panas

Penampakan Hot Spring di Chiang Rai
Mata Air Panas di Chiang Rai
Sumur Air Panas
Sumur Air Panas Tempat Pembuktian Kalau Air Itu Panas, Jendral. Caranya? Telur Mentah Berubah Menjadi Telur Rebus 🙂

One day tour belum selesai, bersambung di postingan selanjutnya yah… 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

Menengok Wat Buparram di Kota Seribu Kuil Chiang Mai

Hellow… dah lama banget gak posting. Harus displin lagi nih, oneweek one post-nya. Anyway… ini salah satu cerita dari masih ada beberapa seri perjalanan terakhir saya ke Thailand beberapa bulan lalu. Semoga belom basi ya… hehehe.

Jam enam pagi di hari kedua saya di Thailand, kami sudah duduk manis di restauran hotel bintang lima di kawasan Sukhumvit Bangkok itu. Ehem, jam segini sudah ramai. Kebetulan hotel itu merangkap apartemen di mana banyak ekspatriat yang kebanyakan Japanese tinggal. Mereka bekerja dan menetap di Bangkok. Gak mau rugi, pagi itu saya makan buah dan oats. Menyelipkan satu croisant keju, dan dua buah yogurth yang kemudian ketinggalan di kulkas di hostel Chiang Mai dan jadinya gak saya makan juga. Well, apakah karena itu mencuri? Ah gak dong, kan boleh diambil. Ya belom rejeki kali ya.

Dari Marriot kami naik taksi ke Don Mueang airport kurang lebih 30 menit saja. Hari masih pagi jalanan Bangkok belum macet. Di bandara saya sempat BAB dan jajan masker di Sevel. Di Chiang Mai kan panas, muka harus tetap kinclong. Demi foto yang cetar (padahal kemudian tidak ada foto yang cetar). Hehehehe.

Jajanan Skincare di Thailand
Jajan Skincare Sachet di Sevel Don Mueang (ka-ki : CC cream, Masker Lidah Buaya, dan Masker Tomat)

Tepat jam 9, kami sudah dipanggil untuk naik pesawat. Wah maskapai singa di Bangkok on-time sekali. Senangnya, gak malu-maluin Indonesia. Lucunya, saya tidak terlalu melihat perbedaan penampakan antara penumpang yang naik maskapai budget dengan mereka yang naik maskapai premium seperti Thai airways. Penumpang Thai Lion pagi itu tertib mengantri sesuai nomor tempat duduk, dan tertib saat di pesawat. Agak beda dengan yang saya temukan di Indonesia. Aduh maaf ya, bukan maksud nyinyir tapi itu memang nyata adanya.

Beberapa kali naik pesawat Singa itu beda sekali dengan naik Burung Biru ketika di Indonesia. Beda tempat jelas ya, tapi penumpang yang saya temui juga berbeda kelas sepertinya. Ya disitulah uniknya Indonesia. Seru dan indahnya keberagaman, bikin hidup gak selalu mulus.

Tiket ke Chiang Mai
Bangkok-Chiang Mai Thai Lion Air

 

Kembali ke judul yuk ah. Kami tiba di Chiang Mai satu jam kemudian. Pagi itu bandara masih sepi. Hanya pesawat kami saja yang mendarat. Seperti bandara di mana ya, mungkin Batam, tidak juga lebih kecil. Masih sederhana, tapi rapi dan cantik.

Banadara Chiang Mai
Landmark Bandara Chiang Mai

Sebelum keluar bandara, kami menghampiri sebuah travel agent di sana untuk membeli paket tour  ke Golden Triangle besok. Kami mendapat potongan 200 THB. Belakangan saya baru sadar harga kami sepertinya masih kemahalan (emak-emak selalu gini).

Di luar bandara, kami bingung memilih song thew (angkot di Chiang Mai kayak oplet), taksi konvensional, atau tuk-tuk (kendaraan roda tiga khas Thailand). Zaki mendekati sebuah tuk-tuk yang sedang parkir. Nego harga, kami rasa masih masuk akal. Deal, naiklah kami ke kendaraan yang mirip bajaj itu.

Wuzzz… tuk-tuk jalan dengan kecepatan agak lumayan. Angin kencang menerpa wajah kami. Dengan bantuan google maps, supir tuk-tuk membantu kami menuju tempat penginapan yang sudah kami booking via booking.com.

Agak lama kami berputar-putar di daerah old town, yang memang kawasan favorit turis untuk bermalam. Masuk ke gang yang satu keluar gang yang satu. Supir tuk-tuk sepertinya mulai kebingungan. Zaki mulai gak sabar, akhirnya ikutan buka hape dan bantu mencari. Euhm… alhamdulillah gak lama ketemu juga hostel kami. Ternyata letaknya di pinggir jalan. tidak di dalam gang. Meski begitu, kami kasihan juga sama supir tuk-tuk, akhirnya kami kasih lebih dari ongkos sesuai perjanjian. Senang sekali wajah si Bapak, menerimanya.

Lanna House
Lanna House Chiang Mai

Masih terlalu pagi, kami belum bisa masuk ke kamar hostel. Kami hanya menitipkan koper saja, dan kemudian keluar hostel untuk melihat kota Chiang Mai lebih dekat. Mau kemana kita? Sampai saat itu kami belum tahu mau kemana. Kemudian saya menujuk ke arah kanan hostel kami. “Jalan ke sana aja yuk.” yang diikuti anggukan Zaki.

Di sekitar hostel kami banyak kafe-kafe yang menjajakan western food dan Thai food dan tentu saja tempat buat mimik-mimik. Ada juga kafe yang menjual kopi seperti setarbaks. Menarik lagi, di Chiang Mai banyak toko-toko buku lokal yang menjual buku baru atau buku bekas dengan harga yang miring. Sayangnya saya gak mampir. Payah ya? Iyah payah. Hehehe. Abis belum lama ke Big Bad Wolf, takut kalap banget kalau masuk toko buku. Budget untuk beli buku juga gak ada. Tapi iyah, saya salah. Harusnya saya masuk saja.

Chiang Mai mungkin bisa dijuluki sebagai kota seribu kuil. Setiap dua ratus meter, kita akan bisa menemui kuil yang bagus-bagus khas bangunan kuil Budha Thailand. Siang yang terik, sebelum masuk kuil kami sempat berhenti untuk membeli Thai Iced Tea. Panasnya terik sekali siang itu, padahal suhu hanya 32ºC. Matahari seolah berjarak sejengkal dari kepala. Godaan kesegaran es teh Thailand memang tak tertahankan.

IMG_2376
Gerobak Penjual Thai Ice Tea
IMG_2378
Penampakan Thai Ice Tea

Setelah berjalan kurang lebih lima ratus meter, saya melihat gerbang sebuah kuil yang terbuka. Saya lihat lagi, sepertinya ada pengunjung. Ini kuil kedua yang kami lewati. Kuil pertama gerbangnya tertutup. Kami masuk saja. Untuk turis dikenakan biaya 40 THB per orang. Nama kuil ini Wat Buparram.

Penampakan Kuil Wat Buparram
Kuil Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram

Memasuki bangunan utama kuil, tentu ada patung Budha duduk. Di dalam sudah ada rombongan turis dari China dengan tour guidenya. Sayang sekali tour guide menggunakan bahasa China yang tentu saja kami tidak mengerti sama sekali. Kami cukup puas dengan mengambil foto saja.

Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram dan jangan tanya siapa laki-laki dan wanita cantik di foto itu.

Keluar bangunan utama, kami berkeliling area kuil. Berpose ala-ala selebgram di depan sebuah stupa yang paling besar, dan melihat-lihat ke area dapur kuil yang siang itu saya melihat seorang biksu. Ada museum juga tapi ditutup dan seperti kurang terawat.

Buparram Museum
Wat Buparram Museum
Wat Buparram dari pelataran
Wat Buparram dari samping
IWat Buparram
Wat Buparram dari depan
Gagal Gaya Ala Selebgram
Gagal Gaya Ala Selebgram 😦 Belom Siap dah Cekrek
Tuktuk
Parkir Tuk-tuk
Payung dan Sunglasses
Payung dan Sunglasses membuktikan panasnya Chiang Mai siang itu

Mungkin di sana kami hanya 30 menit dan kemudian dengan tiba-tiba sebuah konvoi tuk-tuk mengejutkan kami masuk ke dalam area parkiran kuil. Rombongan turis Korea ternyata. Wah seru juga yah. Rombongan naik tuk-tuk. Kami pun bergegas keluar gerbang kuil dan memutuskan cari makan. Iyah, kami lapar sudah jam dua belas. Cari makanan halal di mana yah. Zaki mulai kemudian meng-googling.

Sepertinya untuk satu postingan blog sudah terlalu panjang yah saya berceloteh. Bersambung aja kali ya… Next post, kami juga menemukan kawasan makanan halal di Chiang Mai.

 

Melihat Tradisi Muslim Chiang Mai di Masjid Hadayatul Islam Banhaw Chiang Mai

Awalnya terus terang, kami tidak berniat berwisata ke Masjid di Chiang Mai. Ya gimana mau wisata Masjid, kalau kami tahu di Chiang Mai banyaknya kuil. Lagipula, alasan kami ke Chiang Mai sebagai transit ke Chiang Rai.

Ternyata Allah maha baik. Kami dikasih hadiah ketika mencari tempat makan halal, eh sepaket dengan Masjid yang terbilang cukup besar di tengah kota seribu kuil ini. Masjid besar tersebut ternyata juga sebagai pusat perwakilan Islam Provinsi Chiang Mai. Asyik bisa sholat di masjid lagi.

Belum masuk waktu Zuhur, jadilah kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Selesai makan, kami pamit ((((pamit))) sok akrab. Memang kami sok akrab sama Ibu-ibu di warung-nya. Hehehehe. Kami menuju masjid yang terletak persis di sebelah kanan warung makan.

Kawasan Halal Street Chiang Mai
Kawasan Halal Street Chiang Mai
Kantor Perwakilan Islam di Chiang Mai
Kantor Perwakilan Islam di Chiang Mai

Tempat sholat Jamah pria dan wanita berada di gedung yang berbeda. Saya naik ke lantai dua gedung sebelah kanan dan Zaki di gedung yang sebelah kiri. Tempat tangga memang agak tersembunyi jika belum pernah pasti tidak tahu. Kebetulan siang itu ada Ibu-ibu yang sibuk memasak di dapur masjid. Mereka yang menunjukkan letak tangganya.

Masjid Hadayatul Islam
Bagian Sisi Kiri Masjid

 

Masjid di Chiang Mai
Bangunan Sisi Kanan Masjid
Dapur Masjid Chiang Mai
Dapur Masjid Chiang Mai
Suasana Dalam Masjid
Suasana Bagian Dalam Masjid Jemaah Wanita

Di lantai dua mesjid ada toilet dan tempat wudhu yang mengingatkan saya seperti di Mekah waktu itu. Usai berwudhu saya masuk ke dalam area sholat. Bagian belakang ada meja dan kursi sepertinya diperuntukan untuk belajar ilmu agama. Saya menyalakan kipas angin. Berharap kipas angin bisa sedikit menyejukkan hawa panas siang itu. Azan zuhur berkumandang disusul iqomat. Alhamdulillah bathin saya. Gak ketinggalan berjamaah. Tapi, kenapa sepi ya jemaah wanitanya. Ah gak papa, tempat sholat terbaik wanita memang di rumah.

Baru saja saya akan berdiri untuk menunaikan sholat, tiba-tiba empat orang anak perempuan usia 10-12 tahun memasuki ruangan. Mereka mengenakan mukena, tetapi tidak mengenakan sarung. Hanya celana panjang dan kaus kaki. Saya mengajak mereka untuk berdiri di samping saya menggunakan bahasa tangan dan sebuah senyuman mengajak. Mereka menghampiri, dan berdiri membuat satu syaf sholat dengan saya, sambil tersenyum.

Usai sholat dan berdoa sejenak, anak-anak  tersebut mengajak bersalaman seperti layaknya di Indonesia. Saya tentu menyambut dengan hangat. Sambil menyapa, “Hai, assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam…” balas mereka kompak sambil tersenyum malu-malu.

Lalu, anak yang paling dekat dengan saya, seperti mengajak saya ngobrol berbicara beberapa kalimat menggunakan bahasa Thailand. Saya hanya menatapnya dan berkata, “I’m sorry, I can’t speak Thai. I come from Indonesia, Jakarta not Thai. Do u know where Jakarta is?” saya mencoba menjelaskan sekaligus bertanya.

“Oooo… ” ucapnya sambil menatap saya. Kemudian Ia dan teman-temannya berbisik-bisik sepertinya menjelaskan kalau saya bukan orang Thailand.

“Oh, I can speak English. What is your name?” katanya lagi.

“My name is Rini, what is your name? tanya saya lagi.

“My name is Mia.” dan kemudian saya menanyakan nama ketiga temannya yang lain.

Kami berbincang-bincang sedikit. Saya menanyakan umur mereka dan di mana mereka tinggal. Di antara mereka, hanya Mia yang mengenakan kerudung dan paling berani bicara dengan orang asing macam saya.

Teringat ada foto Kabah di bawah mesjid tadi, saya memperlihatkan foto saya waktu di depan Kabah, dan mereka bilang mereka suatu saat akan pergi ke sana. “Yes you have to go there someday its a magic place.”

Saya kemudian mengajak mereka wefie, mereka pun mengiyakan dengan senang. “Thank you,” kata saya. Kemudian mereka berbisik-bisik lagi, dan kemudian Mia berkata, “You are beautiful.” tulus sekali.

“Oh, you are beautiful too, and all of u are beautiful. Very nice to meet you all. See u next time” ucap saya lagi sambil berpamitan mengucap salam. Kemudian mereka berjalan keluar dan kembali bermain di sekitar masjid.

Chiang Mai Little Girls
Chiang Mai Little Girls

Di bagian bawah tempat sholat wanita terdapat ruangan lapang berisi meja dan kursi seperti di ruang makan. Bagian paling kanan terdapat dapur yang siang itu terdapat kesibukan. Di bagian kiri ada sebuah panggung dengan berlatar gambar Kabah di Mekah Arab Saudi. Sepertinya tempat ini digunakan jika ada sebuah perayaan di Masjid.

Auditorium Masjid Chiang Mai
Auditorium Masjid Chiang Mai

Malamnya kami yang kembali ke area ini untuk makan malam, dan melihat-lihat pasar malam. Kamipun kembali mengunjungi Masjid dan melihata ada sebuah perayaan malam nisfu syaban. Malam menyambut bulan suci Ramadhan. Malam itu siapa saja boleh datang ke Masjid. Bahkan buat kami yang memang tidak ikut membaca Yasin (karena sudah terlambat). Acara dimulai selepas sholat Maghrib.

Kami diperbolehkan masuk dan menikmati hidangan yang tersedia di meja-meja malam itu. Kue-kue khas Thailand dan minuman terhidang di meja. Pikir saya, kok gak di bawa pulang yah, ini acara sudah selesai tapi hidangan cemilan masih cukup banyak di meja. Mungkin budaya Ibu-ibu di Thailand berbeda dengan di Indonesia.

Karena kami sudah kenyang, jadi kami hanya melihat-lihat saja. Gak enak meski mereka sih gak terlalu peduli dengan keberadaan kami malam itu. Asyik berbincang dengan kerabat atau teman. Ah saya foto-foto saja. Kemudian kami melihat-lihat majalah dinding yang terpampang di tembok sebelah kanan. Ah sayang, lagi-lagi aksara Thai dan China isinya. Untung saja ada beberapa foto. Kami melihat lagi-lagi foto raja yang kala itu sepertinya sedang berkunjung ke Masjid. Sepertinya diambil ketika awal pembangunan Masjid.

Tidak heran perlakuan rakyat Thai ketika Sang Raja mangkat belum lama ini. Begitu cintanya mereka terhadap Sang Raja. Sang Raja memang terlihat dekat dengan rakyatnya. Tidak terkecuali mereka yang beragama minoritas di Thailand. Dalam foto, terlihat sang raja didampingi pimpinan Masjid atau ulama.

Di perjalanan saya kembali ke hostel, Zaki menceritakan pengalamannya juga di Masjid. Jamaahnya pria ketika sholat Zuhur tadi siang ramai. Sekitar empat shaf dan ada sekelompok anak usia SMP katanya.

“Anak-anak di mana-mana sama saja. Mereka bercanda dan membuat keributan. Sampai-sampai dimarahi imam masjid.” cerita Zaki.

Waktu menunjukkan sekitar jam 9 malam. Kami memutuskan kembali ke hostel. Meski pasar malam terlihat baru mulai meriah. Iyah, posisi kawasan halal ini dekat sekali dengan night market, tapi sepertinya aman-aman saja. Tidak ada pergesekan antara mereka penikmat pasar malam yang memang banyak turis mancanegara dengan kaum muslim di situ. Alhamdulillah.

Ketika kami berjalan pulang, suasana jalanan kota tua sudah sepi. Kuil-kuil dan toko-toko sudah tutup. Hanya ada beberapa penjaja roti halal dengan gerobaknya yang ramai pembeli.

Di perjalanan pulang, kami juga sempat berpapasan dengan beberapa turis mancanegara (sebut saja para bule) yang sepertinya akan menikmati malam itu di Night Market. Berhubung besok pagi-pagi kami akan ke Golden Triangle, dan melakukan one day tour yang sudah pasti melelahkan, pilihan kami ya menyiapkan stamina alias istirahat alias tidur.