Liburan ke Bali sama bayi

Akhirnyaaa… Ibu liburan lagi. Meski liburannya tipis-tipis banget dan dalam rangka mendampingi Pak Suami kerja. Kali ini ke Bali. Persiapan cuma dua hari doang dong. “Bu, Bapak jadi nih ke Bali, ikut yuk.” si Bapak tiba-tiba ajah gak ada angin gak ada hujan ngomong. Gak tauk apa sekarang sudah ada Azzam. Mau ke supermarket deket rumah aja nyiapinnya dari H-1 wkwkwk. Ini lagi mau ke Bali baru ngomong h-2. “Ayuklah Bu, mumpung belum masuk kerja. Itung-itung refreshing.” tambah si bapak lagi. Dalam hati mah, “elah… liburan… dengan segala kerempongannya ini mah.” Hahahahaha. Masih aja ngedumel. Emang sih, dipikir-pikir kapan lagi ye kan, ntar kalo sudah masuk kerja, yah gak tauk deh.

Kami pun bagi-bagi tugas. Zaki pesan tiket, sama cari hotel, saya berkemas nyiapin keperluan kami semua. Sebenarnya yang bikin kepala pening sih apalagi selain MPASI sodara-sodara. Usia Azzam yang masih 9 jalan 10 bulan masih PR banget kan nyiapin MPASI kan. Makan nasi belum bisa, makan makanan instan kayak bubur bayi juga kasihan terlalu halus.

Mulai berselancar di dunia maya deh tips n trik traveling sama bayi. Awalnya hampir mau bawa blender segala, sampai mau beli slow cooker. Maklum selama ini gak pake slow cooker. Merasa lebih praktis pakai panci aja sih. Eh nemu blog yang menceritakan liburan dengan bayi ke Bali dan nyewa peralatan tempur MPASI di Eve Baby Care. Saat itu juga nyoba wa. Sudah malam, dan baru dibalas keesokan paginya. Sepakat sewa slowcooker dan blender baby safe yang bisa untuk mengukus. Oke done. Masalah satu terpecahkan.

Azzam dan Ibu di Bandara
Nungguin pesawat. Sudah mam, sudah pup

1. Persiapan MPASI

Perlengkapan oke, akhirnya bekal beras, butter, daun salam, dan kaldu jamur. Selain itu untuk darurat bawa bubur instan Cerelac, biskuit bayi Milna, cemilan yummy bites dan bebe roll. Gak lupa wadah makannya ya. Mangkuk, sendok, sendok makan, termos air panas, dan gelas minum tentunya.

Sampai sana gimana? hehehe. Tentu saja, Ibu mager. Di hotel pertama kami menginap di Mercure Nusa Dua. Memang harganya terbilang terjangkau untuk lokasi di daerah Nusa Dua. Sayang menu sarapannya kurang baby friendly. Sayur rebus gak ada, tempe goreng juga gak ada. Jadi pagi itu Azzam sarapan bubur ayam campur telur rebus aja. Sayurnya gak ada. Soalnya gak ada sayur rebus. Gak ada menu gado-gado. Adanya tumisan dan salad yang mentah.

Siangnya pun berulang. Makan itu lagi. Ya Allah, maafkan Ibu ya Nak. Nah kan malamnya kami di La Brissa jadi Azzam nyobain Peachy. Kalo gak salah yang rasa sup ayam dan jagug deh. Berhubung habis main di pantai dan foto-foto, Azzam sepertinya doyan-doyan saja. Alhamdulillah.

Nah dua hari berikutnya kami pindah ke daerah Canggu. Kenapa Canggu? Ya karena belom pernah aja. Hahaha. Sederhana kan alasannya. Pengen tahu daerah Canggu itu kayak apa sih. Zaki yang cari hotel memutuskan menginap di Hotel Jambuluwuk Canggu. Hotelnya dari luar kecil, tapi ketika masuk lumayan panjang dan nyaman. Hawanya sejuk, karena tidak jauh ada kolam renang dengan air terjun buatan yang bergemericik.

Jambuluwuk Seminyak
Jambuluwuk Seminyak

Kami dapat kamar persis di depan kolam renang. Syenang sekali, kamarnya lebih bagus dibanding di Mercure kemarin. Ada ruang tamu, meja makan, dua televisi, dan bathtub. Happy sekali ada bathtub ini, soalnya sesi memandikan si bayik akan lebih mudah. Hehehe. Ibuk happy. Lalu harganya gimana? Ya jelas ada harga ada rupa. Kalau yang Mercure sekitar 800 ribuan, yang Jambuluwuk itu 2 malam 2100k.

Nah pas sarapan, itu Jambuluwuk the best deh. Ada bubur ayam pastinya, ada gado-gado, ada telor rebus, kumplit deh buat bikin makan bayik 4 kuadran, 4 bintang. Eh terus ada temen gue yang komen, “lo pikir itu bubur bebas MSG?” jawabku apa coba, “Bismillah ajah…” hahahhaha… ya kalo ribet sendiri gak liburan-liburan dong. Mamak butuh kewarasan. Longgar-longgar sikit lah.

MPASI di Bali
Bubur, wortel, telur, tempe

Jadi untuk urusan makan si bayi selama liburan kali ini saya mengandalkan makanan ketika sarapan di hotel, makanan instan baik lokal maupun impor, cemilan jadi, buah di hotel juga kubungkus buat cemilan, kue-kue tradisional, dan bawa termos buat makan siang, biar si bayi selang-seling gak makan instan terus. Hehehehe.

Fix sudah peralatan sewa MPASI tidak kugunakan sama sekali. Diketawain sama Zaki rugi 250 rebu. Hahahahaha. Ingat hidup itu masalah memilih. Pilih yang membuat bahagia saja.

3. Persiapan di Pesawat

Persiapan di pesawat ya… bawa tas kecil yang kumplit isinya pampers, baju ganti, minyak telon, tisu basah n kering. Cemilan wajib juga, mainan bawa lah satu dua, juga buku cerita. Oh iya, kalau bisa sebelum terbang telpon langsung ke Airline nya untuk memastikan bahwa dapat kursi yang kita inginkan. Misal di lorong atau lebih enak di barisan paling depan kalo memang belum mampu di kelas bisnis.

Untungnya, kemarin pas terbang Azzam bobo dong pas take-off, eh ternyata pas makanan datang, dia bangun dong. Untunglah bawa cemilan, agak tenang. Eh pas cemilan habis, tetep aja dia merosot ke lantai terus duduk di lantai. Sampai-sampai saya harus berulang kali minta maaf ke Bapak-bapak di sebelah saya yang kemudian bilang, “Wah, anaknya aktif yah..” hahahaha Ya sudah lah ya.

Pas balik jakarta, Azzam sengaja kami buat main terus di bandara. Sibuk merangkak, pokoknya jangan kasih nenen apalagi sampai tidur. Alhamdulillah di pesawat tidur dan itu sampai Jakarta dong. Paling penting lagi kalau memungkinkan emang pas jam tidurnya sih. Dijamin aman jaya lah di pesawat.

4. Ngapain aja di Bali?

Kami kan sampai malam ya, jadilah langsung bersih-bersih ajah, langsung tidur. azzam cuma dilap-lap aja, ganti piyama. Makan malam Cerelac beras merah. alhamdulillah masih doyan. Bapak Ibu sudah makan di pesawat tapi kemudian pesan mie goreng di hotel. Hehehehe. Sepiring berdua saja cukup.

Keesokan harinya, Bapak rencana mau ketemu sama Pak Bos di Canggu yang jaraknya kurang lebih satu jam dari Nusa Dua di sore hari. Nah siangnya kami memutuskan leyeh-leyeh di hotel saja. Setelah sarapan nemenin Azzam bobo pagi. Jam dua bersiap untuk cus ke Canggu karena Bapak janjian jam 4 sore.

Perjalanan ke Canggu ternyata lumayan macet. karena jam Azzam tidur, jadilah dia di mobil tidur dan sampai dia bangun, belum sampai juga dong. baiklah cemilan bebe roll to the rescue. Nah Zaki mampir ke sebuah minimarket, namanya Pepito. Penasaran kuikutan masuk. Lihat-lihat bagian rak tempat makan bayi. Ada yang menarik. Makanan bayi instan tinggal leb. Mereknya Peachy, buatan Thailand dan ada logo halalnya. Variannya pun macam-macam ada beras merah salmon, kentang dengan ayam, dan lainnya. Ambil deh.

Hari ketiga setelah chek-in di Jambuluwuk, kami memilih mengunjungi Bali Bird Park. Bingung juga sih, mau kemana dengan anak bayi. Pertimbangan tempat yang tidak terlalu luas dan hiburan melihat berbagai macam burung dari berbagai penjuru dunia menjadi alasan kami berkunjung ke sana. Lumayan jauh juga ternyata.

Tiba di sana kami makan siang dulu di restonya. Makaannya enak, harga ya lumayan lah. Wajar untuk di tempat wisata. Sambil makan siang, ada pertunjukkan memberi makan burung kakatua. Azzam senang, makannya bareng burung. Hehehe.

Hari keempat, paginya kami jalan-jalan ke pantai dekat hotel. Jalan kaki sekitar lima belas menit. Alhamdulillah azzam kooperatif mau pake stroler dong. ada kejadian lucu. Di jalan pas pulang bali ke hotel, digonggongin anjing. Untungnya ada pengemudi motor yang nolong kami lolos dari gonggongan anjing yang entah marah-marah kenapa. Siangnya kami lagi-lagi menikmati hotel dengan berenang dan siangnya berencana beli Joger dan pie susu buat oleh-oleh. Sebentar aja kok. Jam 5 sore kami sudah di hotel. Makan malam, dan tentu saja Ibu packing untuk pulang keesokan harinya.

Alhamdulillah di perjalanan pulang Azzam pulas tertidur dong. Setelah di bandara kulepas saja di lantai supaya dia bebas merangkak. Kasihan pegel digendong terus. Capek gak liburan sama bayi? Capek. Ribet gak? Ribet dong. Kapok gak? Oh tentu tidak. Jika diberikan nikmat sehat dan rejeki maunya sih yang begini ini rutin. Apalagi kalau anaknya sudah gedean dikit. Aghhh… gak sabar.

 

Roadtrip Jakarta-Surabaya (Part 3) Surabaya; Jalan-jalan Kaki dan Kuliner Bebek Kayu Tangan

Berhasil menembus kemacetan Surabaya menjelang senja hari itu, akhirnya kami tiba di Hotel Harris Gubeng. Rencananya kami akan menginap di sini dua malam. Besok Zaki akan ke Gresik untuk urusan kerjaan dan belum tahu juga apakah kerjaan besok bisa beres atau kami memperpanjang waktu singgah kami di Surabaya.

Kenapa pilih Harris, dengan budget di bawah 1 juta, hotel ini menurut saya paling tidak , (sejauh ini) belum pernah mengecewakan. Sudah pernah di beberapa kota seperti Bali dan Malang, selalu berkesan. Makanya saya agak maksa untuk menginap di Harris selama di Surabaya. Letak Haris di tengah kota di Jalan Gubeng. Bersebelahan dengan adiknya, yaitu Hotel Pop. Maaf yah, kali ini karena dibayarin kantor, agak mendingan dikit dong. Gak di Pop lagi. Hehehe.

Tiba di kamar hotel yang untungnya pemandangannya tidak lagi menyeramkan, kami sebenarnya antara lapar dan tidak lapar. Mau cari kulineran di Surabaya, Zaki sudah malas keluar. Mau gojek, takut ribet. Akhirnya kami pilih pesan di hotel atas rekomendasi petugas hotel, kami pilih nasi goreng kampung komplit.

Berhubung tidak terlalu lapar dan katanya komplit dengan sate ayamnya, kami pesan satu porsi untuk dimakan berdua. Biar romantis gitu. Eh padahal mah ngirit. Hehehe. Mahal bok. Kurang lebih 15 menit nasi goreng datang. “Eh kok katanya pedas, ini mah gak pedas ah.” kata Zaki. “Iyah, ini mah standar,” balas saya yang memang selera pedasnya jauh di bawah Zaki. Loh ini kan Surabaya yang terkenal apa-apa pedas. Kok malah gak pedas ya. Ya sudah, meski demikian piring nasi goreng tersebut langsung bersih tak ada sisa. Kami lafaaarrr ternyata yah.

Keesokan paginya, sebelum Zaki berangkat ke Gresik menempatkan diri sarapan. Ini bagian yang paling dinanti kalau menginap di Harris. Sarapannya buanyak macamnya. Puas. Meski demikian, pagi itu saya gak banyak makan. Udah kenyang saja. Efek membiasakan makan sesuai kebutuhan kali ya. Kalau Zaki, eits jangan ditanya. Pagi itu bubur ayam, mie ayam, lontong sayur. Hahahahaha. Katanya capek nyetir kemarin. Bisaaaaa… ajahhhh…

Sarapan di Harris Gubeng
Selpih ketika Sarapan

Zaki berangkat ke Gresik nyewa mobil rental Blue Bird yang memang ada di hotel. Katanya lagi dia capek. “Kalau disetirin kan bisa tidur, enak. Kayak kamu.” begitu katanya.

Zaki berangkat, saya buka laptop dan berencana mau nge-blog gitu. Kan enak kamar hotelnya. Alih-alih nge-blog, pagi hingga siang saya malah sibuk memindahkan foto-foto dari hp ke external HD. Kalau bosan ya sesekali saya membaca novel Crazy Rich Asians yang sedang saya baca.

Menjelang tengah hari, usai Zuhur saya berencana keluar hotel untuk mencari makan siang sekalian mencari buah tangan untuk berkunjung ke sepupunya Zaki yang tinggal di Surabaya nanti malam. sekalian silaturahmi kan yah.

Berhubung ini hotel di tengah kota, saya putuskan untuk ke mall saja. Padahal yah, hotel menyediakan shuttle bus untuk menuju mall tersebut, dasarnya saya gak disiplin ya telat aja dong. Ya udah saya memilih jalan kaki saja.

Tauk gak apa yang pikirkan ketika saya memilih jalan kaki siang itu. Loh kalau lagi di Singapura atau Bangkok saja kok saya bisa jalan berkilo-kilo meter, kenapa ini di Surabaya yang kotanya gak kalah bagus kok saya malas. Meski ditawari taksi, sama petugas hotel, saya kekeuh mau jalan. Buka google maps dan jalan kaki. Alhamdulillah meski awalnya sulit menggunakan google maps ya tapi lumayanlah lama-lama saya terbiasa juga. Kalau bingung kan nanya bisa. Toh bahasa yang digunakan masih sama. Bahasa Indonesia. Ye kannn…

Menenangkan berjalan kaki di Surabaya. Tamannya bagus, sangat terawat. Tanaman tumbuh subur, dengan bunga-bunga. Meski Surabaya agak panas, berada di dekat taman udara siang itu sedikit sejuk karena tiupan angin dan mata jadi hijau banget.

Air Mancur
Air Mancur di salah satu taman di Surabaya

Sungai di Surabaya
Bersihnya ini sungai di Surabaya

Entah karena saya yang dudul atau gimana, akhirnya saya tiba di mall yang bukan tujuan saya. Iyah, awalnya tuh saya mau ke Surabaya City Walk, eh malah belok ke Surabaya Plaza. Gara-gara mungkin saya salah baca maps. Sudah gak papah, kan sama-sama mall. Menghibur diri dan berusaha menerima kebodohan.

Gerai makanan di mall ya tentu saja sama persis dengan yang ada di Jakarta. Makanya saya memilih mencari foodcourt biar agak beda. Pilihan jatuh kepada nasi goreng Jancuk, yang katanya fenominil. Meski begitu saya pilih yang gak pedes. Nasinya banyak banget dan rasanya gak sefoneminil itu ternyata. Biasa ajah, ada potongan ikan asin kecil-kecil yang asinnya mantab. Harganya cukup mahal buat ukuran nasi goreng menurut saya. Entah kenapa saya selalu membandingkan setiap nasi goreng yang saya makan, dengan nasi goreng warung tenda dekat rumah. Sudah langganan, karena rasanya enak, dan murah. Enak versi saya, bumbu terasa, manis kecapnya cukup, nasi tidak terlalu ambyar dan sayurnya banyak. Sebenernya saya gak habis, tapi sayang. Pelan-pelan saya makan sambil membawa novel saya. Akhirnya sisa dikit. Yah maaf ya.

Nasi Goreng Jancoe di Plaza Surabaya
Nasi Goreng Jancoek di Plaza Surabaya

Selesai makan, saya putar-putar ke pusat perbelanjaan di situ. Dapat jaket lucu dan cardigan untuk dua orang keponakan. Dari situ ternyata Zaki menelepon dan bilang sudah di hotel. “Buruan pulang!” seperti biasa gaya otoriternya sebagai suami datang. Saya kembali ke hotel dengan ojek online dan hanya 5000 pemirsa. Ya ampun padahal lumayan lo muternya.

Malamnya kami berkunjung ke rumah sepupu Zaki yang di Surabaya. Dari situ kami meutuskan makan malam. Saran dari sepupu Zaki, namanya Dek Beni enaknya makan sambal belut. Kami meluncur ke sana. Eh belom rezeki, warung belut tutup. Kami menuju tujuan berikutnya, Bebek Kayu Tangan.

Rumah Makan Bebek Kayu Tangan sederhana. Bangunan lama tidak ada polesan kekinian sama sekali. Sangat otentik khas Surabaya. Buat yang gak suka bebek, ada juga ayam kampung. Saya pesan ayam kampung bakar bumbu rujak dan Zaki, bebek bakar bumbu rujak. Katanya itu yang khas.

Perlu diingatkan, kalau lagi lapar berat, pikir-pikir makan di sini. Agak lama gitu soalnya. Meski saat itu sedang tidak terlalu ramai pengunjung. Ketika hidangan tersaji langsung saja kami serbu. Kesetiaan kami menunggu berbuah. Ya ampun itu enak banget. Bumbu rujaknya manis, pedas, asam, bercampur jadi satu. Bubunya meresap hingga ke dagingnya. Meski untuk saya pedas, tapi itu enak sekali. Semuanya pas. Pedas manis dan asam, selera saya banget.

Di belakang meja kasir duduk seorang nenek yang usianya mungkin sudah 70 tahun. Selesai membayar makanan yang kami makan, saya sedikit mengobrol dengan beliau dan asistennya. Bukannya apa, sang asisten kadang memebri kode ke saya kalau si nenek sudah agak kurang pendengaran. Pantas kadang saya tanya apa, beliau jawab apa. Ya maklum lah ya.

Jadi hasil pembicaraan saya dengan mereka ketika saya usul agar membuka cabang di Jakarta, sebenarnya sudah pernah mereka coba. Di daerah Matraman. Respon pelanggan cukup bagus, namun entah kenapa harga sewa makin mencekik. Mereka tidak sanggup lagi dan akhirnya sekarang hanya menjalankan satu saja di Surabaya. Sudah berjualan sejak tahun 1970-an sejak anak-anak si nenek masih kecil. Alhamdulillah masih laris sampai sekarang.

Bebek Kayu Tangan
Ini Ayam Bakar Bumbu Rujak dengan Irisan Mangga Muda biar kayak rujak

Malam itu hari saya di Surabaya ditutup dengan kenangan pedas, asam, dan manis tentang sebuah rasa. Ya rasa, bumbu rujak yang bikin kangen. Pokoknya kalau ke Surabaya. Harus coba lagi. Begitu kata saya dalam hati, dilanjutkan dengan untung malam itu warung belut tutup. Hahahaha…

 

 

 

Staycation di Hotel Bintang Lima di Pulau Bali

Pengalaman yang akan saya tulis kali ini adalah pengalaman staycation saya di sebuah hotel bintang lima di Bali. Kalau kalian mau tahu ceritanya kok bisa-bisanya saya yang gak kaya-kaya amat ūüôā ini bisa staycation di hotel bintang lima di kawasan elit lagi. Bukan kawasan hostel-hostel para backpacker di daerah Kuta. Kawasan ini juga tepat Raja Salman ketika berkunjung ke Pulau Dewata.

Kok bisa? Oke, kalau mau tahu ceritanya, bisa baca di sini :

Gak Ada yang Enak-enak itu Cuma-cuma Begitu Saja

Janji yah, jangan ketawa. Pokoknya banyakan senangnya kok dan dengan begitu saya jadi punya pengalaman deh staycation di hotel bagus di Bali.

Kamar Hotel yang Luas Meski Agak Spooky

Novotel Bali
Kamarnya Luas dengan Pencahayaan yang Sedikit Sekali

Waktu itu kami mendarat di Bali sudah cukup malam. Letak hotel kami yang tidak terlalu jauh dari bandara, ya kami tidak masalah meski fasilitas penjemputa sudah tidak ada. Kami beruntung sudah ada yang namanya taksi online, meski kami harus sedikit kucing-kucingan dengan taksi resmi di Bandara. Ya, jadi kami naiknya bukan dari terminal kedatangan, tapi dari terminal keberangkatan.

Kami juga diminta tidak terlalu sibuk memegang handphone dan seolah-olah kami dijemput dengan kenalan bukan dengan taksi online. Memang, keberadaan taksi online di Pulau Dewata ini belum diterima baik dengan pengusaha taksi konvensional setempat. Jangankan taksi online milik asing seperti Uber atau Grab, wong taksi konvensional burung biru yang jelas-jelas milik orang Indonesia saja dibatasai pergerakannya. Yeah this is my country, Indonesia.

Tiba di hotel, kami menuju resepsionis dan langsung diantar ke kamar yang memang agak jauh dari lobby hotel. Kamar kami terletak di bangunan yang terletak di lantai kedua. “Whoaaa…” hanya itu kalimat yang bisa saya ucapkan sambil mendengar Bli yang mengantar kami memeberikan penjelasan sedikit tentang kamar yang akan kami tinggal selama dua malam kedepan.

Bentuk kamar kami model apartemen dengan satu kamar, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar mandi dan ruang laundry. Kumplit sekali. Bahkan menurut syaa untuk kami berdua, ukurannya terlalu besar. Ada balkon menghadap ke kebun belakang juga.

Pencahayaan yang tidak terlalu terang, ditambah beberapa benda seni seperti patung tubuh wanita tanpa kepala, lukisan wajah yang sangat mirip dengan aselinya, dan hiasan dinding kepala sang Budha membuat saya yang memang penakut agak berasa gimana gitu. Hehehe. Iyah suasana malam membuat kamar itu memang agak spooky.

Menikmati Private Beach dan Spa 

Keesokan paginya, saya memaksa Zaki untuk menikmati sunrise di private beach hotel yang memang letaknya bersebrangan dengan letak hotel. Jadi, kami harus berjalan kira-kira tiga ratus meter untuk ke pantai. Menikmati kecantikan lingkungan hotelnya yang ngademin hati.

Novotel Hotel Bali

Tiba di pantai, ada seorang tokoh masyarakat setempat sedang melakukan sembahyang tepat di pintu masuk pantai. Pagi itu pantai sepi banget. Hanya ada kami dan dua orang karyawan hotel yang sedang membersihkan pantai. Eh, ada pengunjung juga satu orang Ibu-ibu usia paruh baya yang ternyata salah satu Direktur Rumah Sakit Umum di Yogya. Cerita punya cerita beliau juga ikutan program menginap sama seperti kami loh. Hehehe.

Private Beach Novotel Bali

Private Beach Novotel Hotel Bali
Private Beach Novotel Hotel Bali

Private Beach Novotel Hotel Bali

Pagi di pantai itu, kami menikmati matahari pantai dengan berjalan membasahi kaki sebatas lutut dengan air laut. Kami memilih tidak berenang karena tepat jam delapan kami harus sudah duduk rapi di ruang pertemuan.

Kami berjalan ke arah hotel tempat Raja Salman menginap. Penasaran dengan bangunan yang dipagari bambu itu. Terpasang tangga dari halaman hotel hingga ke pantai. Baru saja kami ingin mendekat dengan menaiki tangga, seorang pria berpostur kekar menggunakan setelan jas hitam menghardik kami. Meminta kami segera menjauhi area pantai hotel.

“Okey Sir, we just took a picture. Thank you Sir.” kemudian kami bertiga menjauh dari area pantai terlarang tersebut. DI sekitaran pantai kami juga sempat bertemu dengan TNI Angkatan Laut yang sedang malakukan tugas pengamanan di sepanjang area pantai.

Perjalanan kami kembali ke hotel dari pantai, kami bertemu dengan Bapak Satpam yang berasal dari NTT. Bapaknya cerita banyak, daerahnya sudah semakin bagus karena pembangunan mulai terasa. Seperti bandara, jalan, dan lain-lain. “Bangga dan kagum sama Pak Presiden kita.” katanya lagi. Alhamdulillah.

Bapak Penjaga Keamanan
Pak penjaga kemanan Padang Golf yang bersebelahan dengan hotel dari Flores NTT

The Real of Me Time, Ditraktir Spa

Oke, mari kita skip acara yang super penting yang kami ikuti pagi hingga siang hari itu. Nah sekarang waktunya kami menikmati staycation. Setelah makan siang di warung nasi ayam Ibu Oki, saya dapat kado spesial meski waktu itu yang ulang tahun Zaki, dia kasih saya hadiah voucher spa di hotel siang itu. Asiiikkkk….

Zaki tidur siang, saya meluncur ke tempat spa yang dari luar saja sudah adem benerrrr… Beruntung siang itu, saya juga tidak perlu antri jadi langsung saja.

Spa House Novotel Bali
Tampak Depan Tempat Spa-nya

Teras Spa Novotel

IMG_0275
Itu ranjangnya dan di balik tirai itu buat berendam nanti

Memasuki kamar yang tentu saja dengan wangi aromaterapi khas Bali yaitu bau kayu cendana membuat cuaca siang di luar yang terik sama sekali tidak terasa. Hawa sejuk dari mesin pendingin dan interior kamar yang artistik membuat saya agak rileks.

Setelah berganti pakaian saya tiduran di sebuah ranjang khusus spa. Mbak-mbak yang siang itu memijat saya tidak terlalu suka ngobrol sepertinya. Obrolan hanya terjadi satu arah. Oke, saya memilih menikmati pijatan mbak-nya saja sambil menahan rasa kantuk yang amats angat. Berusaha menikmati setiap detik waktu yang sudah dibayar mahal Pak Suami. Wkwkwkwkwkwkwk…

Selesai spa, saya kemudian berpindah untuk badan saya dipanaskan. Seperti masuk ke dalam mesin cuci yang isinya uap panas. Uap panas tujuannya membuka pori-pori kulit agar bahan lulur meresap paripurna ke dalam kulit dan maksimal bekerja. “Panasnya booo…” Sumpah gerah banget. Lamanya waktu itu lima belas menit saja.

Selesai badan saya di uap, kemudian saya diminta berendam di kolam busa yang terletak di luar dibataskan sebuah pintu yang merupakan akses langsung ke tempat pemandian. Syahhhh pemandian. ūüôā Beralaskan langit dan dikelilingi tanaman bambu yang menutupi dinding. Seolah sedang mandi di tengah hutan. Aduh rileks banget pokoknya. Seolah masalah dalam hidup terhempas begitu saja. Hehehehe.

Bathtub Spa

Tidak terasa, satu setengah jam yang bisa saya sebut sebagai rekreasi jiwa dan raga ini seslesai. Saya lumayan puas dengan layanan spa hotel ini siang itu.

Berenang-berenang Cantik di Kolam Bareng Bule-bule

Swimming Pool Novotel Bali
Swimming Pool nya keren banget

Bali Novotel HOtel Swimming Pool

Menjelang sore, selesai spa saya menggeret Zaki untuk bergerak. Malas untuk fitnes atau lari, kami memutuskan untuk berenang saja. Iya, berenang. Sambil sesekali leyeh-leyeh di pinggir kolam minum jus semangka dan makan kentang goreng.

Sore itu kolam renang ramai dengan keluarga bule yang kalau saya dengar dari logatnya kebanyak bulek Australia sih. Ya ampun anak-anak kecil dah pinter-pinter banget berenang. Serunya lagi mereka ramah banget. Menyapa saya ketika bolanya terlempar ke arah saya dan tersenyum manis.

Menikmati Sarapan Pagi yang Agak Mewah

Kapan lagi sarapan mewah kalau nggak di hotel. Bintang lima lagi, Hehehe. Makanan enak dan pemandangan taman hotel yang bermandikan matahari pagi itu, perpaduan yang sempurna.

Uhm… akhirnya berakhirlah pengalaman menikmati hotel mewah buat saya. Seru, meski saya tahu gak ada sesuatu di muka bumi ini yang benar-benar gratis. Kemewahan yang dibayar mendengarkan ocehan marketing dan mengikhlaskan waktu kami di Bali untuk mendengarkan marketing jualan produknya.

Happy diajakin liburan meski singkat banyak cerita
Happy diajakin liburan, meski singkat banyak cerita

Puncaknya, ketika kami ingin kembali ke Jakarta, dan fasilitas antar ke bandara yang tidak disediakan pihak hotel. Pihak hotel bilang itu tanggung jawab biro perjalanan yang meski satu grup mempunayi manajemen yang terpisah dari hotel. Oke baiklah, malas berdebat kami kembali pesan taksi online untuk ke bandara. Di bandara pesawat kami harus rela delay karena ¬†bersamaan dengan Raja Salman meninggalkan Indonesia. Plus buku “Lembaran-lembaran Pelangi” nya Nila Tanzil yang sedang saya baca tertinggal di bandara.

Kalau sudah begitu, kira-kira, saya untung apa rugi sih??? Auk ah… Sudahlah apa-apa jangan di hitung-hitung untung atau rugi. Paling penting semua memperkaya pengalaman dan ¬†ada bahan buat nulis blog. Wkwkwkwkwk.

IMG_0395
Pemandangan di Bandara Ngurah Rai

 

 

Menjelajah Wisata di Semarang dan Sekitarnya

Perjalanan ke Semarang jilid dua ini sebenarnya berlangsung tahun lalu yang belum sempat saya tuliskan di blog ini. Berhubung ini Agustus, dimana di bulan ini adalah hari kemerdekaan Indonesia, maka kali ini saya mau menulis cerita perjalanan saya di Indonesia negeri tercinta. Perjalanan ke Semarang saya kali ini tentu saja mendatangi destinasi yang berbeda dengan perjalanan saya ke Semarang sebelumnya.

Jika perjalanan saya sebelumnya, kami menggunakan kendaraan mobil yang disupiri Zaki, kami ke tempat-tempat wajib di Kota Semarang, yang bisa kamu baca cerita lengkapnya di :

Semarang (Edisi : Simpang Lima dan Kucing Lawang Sewu)

Kulineran wajib di Semarang kayak di cerita ini :Nostalgia Masakan Simbah, Mencicipi Sayur Mangut (kuliner khas Semarang)

Kemudian sebelum kembali ke Jakarta, waktu itu kami menyempatkan diri menikmati kota tua dan bertemu Ibu-ibu hebat di sana juga mampir ke Mesjid Agung Jawa Tengah. Bisa baca di : Sebuah Cerita tentang Ibu-ibu Hebat di Kota Tua dan Megahnya Mesjid Agung Jawa Tengah (Masih di Semarang)

Perjalanan kami kali ini kami memilih naik pesawat, karena dalam rangka menemani Zaki yang business trip dan saya yang menghabiskan cuti tahunan. Waktu itu, berhubung ini kali kedua, saya sama sekali tidak punya rencana muluk-muluk di Semarang. Malah waktu itu rencananya saya mau puas-puasin staycation aja di hotel yang tentunya agak lumayan bagus dan berjudul gratisan. Hehehehe.

Menikmati Hotel 

Hari pertama kami tiba siang menjelang sore, jadi ya sampai hotel tidur siang, nonton tv, dan pokoknya goler-goler di tempat tidur ajah. Oh iya, kali ini kami menginap di Hotel Louise Kienne tidak jauh dari Simpang Lima. Meski hotel bintang lima, tapi kamar hotelnya jauh dari harapan kami. Kecil, sempit, dan semuanya menurut kami standar. Tapi ya sudahlah ya, masih untung dibayarin. Memang sih, melihat bentuk hotelnya, ini hotel sepertinya di setting untuk apartemen, jadi gak ada artistik-artistiknya banget.

Ruang makan kecil, sempit dan menu yang jauh dari harapan menu hotel bintang lima. Pengalaman yah bu…

Kamar Hotel Louise Kienne
Tempat tidurnya enak sih, kamarnya sempit tapi

Sudut Kamar Louise Kienne
Sudut kamar yang cukup nyaman buat ngeti-ngetik

Sorenya kami lagi-lagi gak mau rugi. Menikmati fasilitas hotel dengan fitness dan besok paginya berenang cantik dengan pemandangan keren. Nah kali ini bolehlah hotel ini menang dikit. Kolam renangnya di lantai atas dan bisa memandang pemandangan Simpang Lima dan Kota Semarang.

Berenang di Louis Kienne Hotel
Berenang…

IMG_6285
Maaf agak norak yah..

Makan Malam di Restoran Hits Koeno Koeni

Resto ini berkonsep resto dan galeri. Sambil menikmati makanan, pengunjung bisa asyik menikmati koleksi benda-benda seni sang mepunya resto, Bos Jamu Sido Muncul. Menunya bagaimana? Menunya beragam dari khas Indonesia sampai Western. Ada pojok jamu juga loh.

Menariknya pengunjung bisa foto-foto di museum yang terbilang cukup instagram genic ini. Rasa makanannya, lumayan. Harga memang agak mahal, tapi sepadan dengan pengalaman mata dan rasa yang di dapatkan. Belum lagi restoran ini terletak di dataran yang agak tinggi. Sehingga kami bisa menikmati lampu-lampu yang menghiasi Kota Semarang.

IMG_6255
Koleksi Radio Tua

Mainan Jadul
Maianan dan Barang-barang Jadul

Suasana Resto Koeno Koeni
Suasana Resto Koeno Koeni Bagian Dalam

Koeno Koeni Bagian Luar
Koeno Koeni Bagian Luar

Museum Kereta Api di Ambarawa

Hari ketiga, urusan pekerjaan Zaki selesai. Akhirnya saya yang memang gak betah banget di hotel doang ketika berada jauh dari rumah, googling-googling enaknya kemana ya di Semarang ini. Ketemu deh tempat yang seru, meski agak jauh sedikit dari Semarang yaitu Museum Kereta Api di Ambarawa. Perjalanan Semarang ke Ambarawa memakan waktu dua jam dengan mobil rental. Kalau mau naik umum ada kok bus dari terminal. Mungkin agak lama karena menaikan dan menurunkan penumpang di jalan.

Berhubung kami datang di hari kerja, jadi museumnya sepi, dan sayangnya kereta api uap tidak dioperasikan. Ya, kereta uap hanya dioperasikan di weekend, atau kalau kita sudah pesan untuk rombongan misalnya. Ya udah gak papah. Besok lagi. Enaknya kan bisa puas foto-foto dan ya kami puas sekali. Tempatnya keren banget. Cocok untuk wisata edukasi dan sejarah buat anak-anak juga menyenangkan melihat kereta api tua.

Indonesian Railway Museum
Indonesian Railway Museum

Museum Kereta Ambarawa
I Love Ambarawa

Naik Lokomotif
Nyobain Naik Lokomotif

Museum Kereta Api Ambarawa
Peron di Museum Kereta Api Ambarawa

Koleksi Lokomotif Museum Kereta Api Ambarawa
Koleksi Lokomotif Museum Kereta Api Ambarawa

Nungguin Kereta, Mari Selfie
Selfie sambil nunggu kereta. Ceritanya

Mesin Cetak Tiket Jaman Dulu
Mesin Cetak Tiket Pada Masa Itu

Candi Gedong Songo di Bandungan Kabupaten Semarang

Puas lihat kereta api, kami menuju Candi Gedong Songo yang memakan waktu sekitar satu jam perjalanan dari Ambarawa. Letaknya yang memang sudah di dataran tinggi, membuat udara di sana sejuk dan cuaca siang itu agak mendung. Awan tebal menyelimuti langit. Seperti akan turun hujan.

Candi gedong Songo adalah sebuah komplek candi yang konon terdiri atas sembilan sesuai namanya (bahasa jawa Songo artinya sembilan). Meski demikian, baru ditemukan lima buah candi. Kemungkinan sisanya sudah hancur karena bencana lama.

DSC00603.JPG
Masukkan keterangan

Candi Gedong Sono terletak terpisah-pisah antara candi yang satu dengan yang lain dan agak berjarak lumayan (kalau jalan kaki) apalagi medan yang menanjak. Kalau capek bisa naik kuda kok yang harganya dari bawah sampai candi kelima seratus ribu rupiah. Saya yang berprinsip irit tentu gak mau naik kuda dong, dan Zaki manyun, soalnya dia kepengen banget naik kuda. Hahahaha… Hitung-hitung olahraga lah ya, masih muda juga. Padahal sampai hotel kami balurin betis dengan counterpain. Wkwkwkwk.

Komplek Candi Gedong Songo
Komplek Candi Gedong Songo

Candi Gedong I
Candi Pertama

Candi Gedong Songo
Lihat Pemandangannya…

Uap Panas Bumi
Mata Air Panas Umbul Sido Mukti

Benar saja, begitu tiba di candi keempat, dan candi kelima sudah tertutup kabut, kami memutuskan untuk kembali karena hujan kemudian turun dengan lebatnya. Sebagai pejalan yang well prepared tentu saja kami bawa payung dong.

Oh iyah, ada cerita lucu. Berhubung ke Semarang masih dalam rangka kerja (Zaki) dia bawa laptop dong kemana-mana, takut-takut si Bos nyuruh apa gitu. Laptop yang 14 inch yang merupakan properti kantor tentu saja dibawa dari pada menanggung resiko laptop hilang kalau ditinggal di mobil. Kebayang dong, jalan nanjak, sambil membawa laptop yang beratnya kira-kira 7 kg. Hahahahha. Maaf saya ketawa. Sumpah itu berat Jendral.

Zaki di Candi Gedong Songo
Jalanan Nanjak, dan Dia Membawa Laptop

Ngopi-ngopi Cantik di Umbul Sido Mukti

Nama Umbul Sido Mukti sendiri yang terkenal sebenarnya adalah sebuah tempat wisata kolam renang dari sumber mata air pegunungan. Tempat pemandian dan kolam renang gitu deh. Berhubung cuaca yang tidak mendukung, karena hujan cukup deras. Pak sopir kami membawa kami ke sebuah tempat yang lagi hits di sana. Sebuah restoran tempat ngopi-ngopi cantik. Ada penginapannya juga loh.

Pemandangan siang itu pohon kopi dan pinus berselimut kabut tebal dan rintik hujan. Udara cukup dingin menusuk. Zaki memesan kopi dan mie godhok, sedang saya yang sudah makan di warung makan Candi Gedong Songo memilih pisang goreng keju. Euhm… nikmatnya.

Umbul Sido Mukti
Mie Jawa

Umbul Sido Mukti
Nature +Food Perfect Combination

Umbul Sido Mukti
Ini Pemandangannya Berkabut

Kurang lebih satu jam di sana, kami kemudian pulang dan kembali ke kota Semarang. Esok harinya kami ke Kota Lama, main-main ke Museum Tiga Dimensi dan mencicipi es krim di Toko Oen yang legendaris. Main-main di Kota Lama akan saya ceritakan di edisi Agustus minggu depan. Oh semoga gak kumat malasnya ya. Hehehehe.

 

Gak Ada yang Enak-enak itu Cuma-cuma Begitu Saja

Belum lama ini, saya dan suami berkesempatan menginap dengan harga yang bisa dibilang cukup murah untuk hotel di kawasan Nusa Dua Bali. Bersamaan dengan kunjungan Raja Salman di Bali kemarin. Awalnya sih, seharusnya Raja Salman sudah pulang duluan. Tapi kok ndilalah beliau memanjangkan liburannya di Bali. So, jadilah kita sempat tetanggan.

Dalam rangka apa saya ke Bali kemarin? Menginap di Kawasan Nusa Dua pula. Apakah kemarin kecipratan duit dari Raja Salman yang lagi ke Indonesia? Hahahhahaha… Tentu tidak dong.

Berawal ketika sebuah nomor telepon yang tidak ada di phone book hape terlihat. Kemudian gue angkat, dan ternyata dari sebuah marketing grup hotel kenamaan kita sebut saja Alor. Mereka menawarkan paket menginap 3 hari 2 malam di sebuah hotel kawasan Nusa Dua Bali dengan kamar yang luas, fasilitas lengkap, dan private beach tentu saja. Ada syaratnya gak? tentu saja. Syaratnya, pada hari kedua, kami harus mendengarkan sebuah presentasi dari marketing grup hotel tersebut selama kurang lebih dua jam. Dalam pikiran saya waktu itu, yah paling jualan dan  ditawarin paket liburan lagi. Biasalah.

Oh iyah, untuk meyakinkan kalo saya gak ditipu, saya juga nanya dong, tauk nomor saya dari mana. Kok bisa beruntung. Ini bukan penipuan kan? Mereka menjelaskan kalau mereka dapat nomor saya, dari data tamu yang pernah menginap di salah satu hotel yang masuk grup mereka. Setelah mereka menyebutkan nama hotelnya, saya pun ingat. Oke mereka tidak menipu.

Sebelum menetapkan tanggal berapa itu paket menginap ditentukan, jangan heran kalau hampir setiap hari itu marketing akan meneror seolah kamu punya hutang 1 M lebih dan udah nunggak berbulan-bulan. Gimana gak kesel, saya ditelepon ditanyain kapan pastinya setiap hari. Kalau pagi gak gue angkat ntar jam makan siang. Kalau pas siang gak saya angkat, pas jam pulang kerja ketika saya sedang terlelap di bus jemputan. Kan kesel banget lagi tidur enak-enak ada telepon yang aduh penting gak penting dan saya belum punya jawaban.

Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya kami putuskan untuk mengambil paket liburan tersebut di bulan Maret pas weekend dan kebetulan suami ulang tahun juga. Biar agak spesial gitu deh. Oh iyah paket menginap 3 hari 2 malam itu hanya senilai 990 ribu rupiah saja. Sudah termasuk makan pagi, dan fasilitas penjemputan.

Kami berdua yang orang kantoran dan males ngambil cuti (sayang banget siapa tauk ada rencana jalan yang lebih lama), memutuskan berangkat dari Jakarta pesawat malam dan tiba di hotel sudah cukup larut, walhasil kami tidak dijemput. Oke gak papah, kami pilih naik taksi onlen, dan alhamdulillah letak bandara ke hotel tidak terlalu jauh. Ongkos taksi hanya 40 rb saja.

Kami pun tiba di hotel dan saat mendaftar ke resepsionis, saya sedikit mengintip banyak juga peserta paket liburan murah seperti kami. Kami pun diantar ke kamar dimaksud. Hotelnya bergaya resort, terdiri atas beberapa gedung. Tenang sekali suasana hotel malam itu. Staf hotel yang membantu kami membawa barang pun memepersilahkan kami masuk, dan wow… ukuran kamarnya besar sekali. Kamar tipe apartemen dengan satu kamar.

Ruang tamu yang disatukan dengan ruang keluarga, ruang makan, dapur yang lengkap dengan alat masak dan kulkas dua pintu. Kamar mandi dan area laundry lengkap dengan mesin cuci. Kamarnya tidak begitu besar. Hanya tempat tidur single bed, lemari, dan meja rias.

Interior kamar yang sangat Bali ini agak-agak gimana gitu kalau cuma berdua. Dekat pintu masuk, kami disambut patung tanpa kepala, belum lagi di kamar tidur yang tidak ada tv dan ada lukisan gadis kecil seolah menatap kami. Penerangan agak remang-remang pula. Ah tenang lah, berani-berani. Gue emang rada-rada penakut gitu orangnya. Di belakang juga ada balkon yang cukup luas untuk bersantai. Memang sih kamar kami bukan kamar yang menghadap kolam renang, tapi dengan harga yang sudah kami bayar, gak boleh proteslah. Ini sudah jauh melebihi ekspektasi kami.

Oh iyah, sebelumnya saya juga sudah survey harga kamar ini permalamnya bisa lebih dari satu juta lo… jadi ya lupakan saja hal-hal yang spooky.¬† Pikirkanlah betapa beruntungnya saya bisa menginap di sini.

Esok paginya, saya ngotot pingin lihat pantai. Suami seperti biasa males banget, dan ritual tidur pagi buat dia sangat disayangkan kalau lewat. Meski akhirnya mau juga sih. Hotel ini sebenarnya punya private beach sendiri tapi karena letak hotelnya bersebrangan dengan pantai, jadi dibutuhkan jalan kaki kurang lebih 10-15 menit untuk menuju pantainya. Ah pagi-pagi kok, pasti asyik-asyik aja dong jalan kaki juga.

Saya yang memang norak karena gak pernah lihat pantai di Bali yang masih sepi, girang banget lihat pantai yang seolah milik sendiri. Sepi gak ada pengunjungnya. Hanya satu dua orang pekerja yang membersihkan pantai. Ada juga tetua adat setempat yang sedang memberi persembahan setiap mengawali hari. Eh iyah ternyata kami sebelahan lo sama hotel tempat Raja Salman menginap. Ada pembatas yang terbuat dari bambu yang baru dibangun untuk keamanan. Beberapa anggota marinir pun terlihat lalu lalang untuk menjaga penguasa Arab Saudi itu.

IMG_0213
Pemberian Sesajen untuk Memulai Hari

Private Beach Nusa Dua
Private Beach Hotel Nusa Dua Bali

Private Beach Nusa Dua
Enak banget buat leyeh-leyeh

Pose Ala-ala
Pose ALa-ala Couple (Horizon Miring?) Bodo Amat, Namanya Difotoin ūüôā

Hotel Raja Salman Menginap
Hotel Raja Salman Menginap

Matahari yang semakin tinggi, kami pun bergegas balik ke hotel. Dalam perjanjian, kami harus hadir tepat jam 9 dan tidak boleh telat. Bawa tanda pengenal dan kartu kredit. Wah banyak juga nih pasangan yang ada di ruagan pertemuan. Setiap pasangan akan dijelaskan oleh satu orang marketing. Marketing kami wanita berjilbab, cantik. Dia menjelaskan panjang kali lebar tentang grup Alor dimana, pada intinya mengajak kami untuk menjadi member. Bukan sembarang member tapi. Member eksklusif. Katanya, bisa gratis menginap di hotel-hotel berbintang di seluruh dunia. Siapa yang gak tergiur coba?

Kami ditawari menjadi anggota member tersebut, seolah-olah seperti membeli sebuah properti, dimana kami harus membayar sejumlah uang. Dari uang tersebut, kami akan mendapatkan sejumlah point yang akan bisa digunakan untuk membayar penginapan di hotel-hotel yang masuk grup (sebut saja) Grup Alor di seluruh dunia. Intinya sih, DP sebelum liburan. Hotelnya bagus-bagus tentu saja dari bintang 2 sampai bintang 6. Keanggotaan berlangsung selama seumur hidup, tiap tahun point akan diberikan sekian poin, dan poin akan kadaluwarsa setiap dua tahun. Keanggotaan bisa diwariskan. Kalau kami gak pake boleh juga dihadiahkan atau dibisniskan. Aduh ribet amat yah. Saya buka travel agent aja dong mendingan. Wkwkwkwkwk.

Dengan segala rupa yang ditawarkan dan hotel-hotel yang bagus-bagus diseluruuh dunia itu, saya udah gak sabar banget pengen ngomong gini : “Ok mbak, jadinya kami harus bayar berapa nih kalau mau jadi member eksklusif itu.” umpat saya dalam hati.

Mbak-mbak marketing itu juga bilang keanggotaan mereka itu terbatas di seluruh dunia. Mereka hanya menargetkan kalo gak salah 2000 member saja. Makanya katanya lagi, kami termasuk orang yang sangat beruntung. Ya saya senyum-senyum aja dong sambil angguk-angguk tanda saya mengantuk. Hehehehehe.

Setelah lebih dari dua jam, kemudian datanglah si manajer yang katanya akan menentukan harga paketnya ke kami. Si mbak manajer menyapa kami sangat ramah. Pertama-tama dia seperti membaca sisi keuangan kami dahulu. Seperti nanya suami kerja di mana, saya kerja di mana, sering jalan-jalan dalam rangka apa. Bla-bla bla bla panjang lebar dan saya makin ngantuk. Dengan mengatakan harga yang ditawarkan ke seluruh peserta sama, dia kemudian menyebutkan angka sekian juta yang kira-kira bisa buat beli rumah di Citayam. Yah sekitar sembilan digit lah pokoknya. Membuat saya yang tadinya ngantuk mendadak seger dan kaget.

Berhubung member yang eksklusif, keputusan harus diambil saat itu juga. DP bisa gesek kartu kredit, sisanya dicicil selama 1 tahun yang cicilan DPnya lebih dari 2 digit dan kemudian gimana bayar kartu kredit yang buat DP itu? Wkwkwkwkkwkwkwk. Bayar kartu kredit dicicil? Bisa sih, tapi terus saya gak makan. Gak punya ongkos buat ke ¬†kantor. Kami pun dengan halus langsung bilang, “Tidak, maaf.” dengan alasan akan menggangu stabilitas finasial lah, pake bohong lagi nyicil mobil lah. Rencana kami pergi haji dan lain-lain demi menghindari bujuk rayu mbak marketing ini.

Alhamdulillah, setelah tiga jam kami dicekoki, selesai juga acara prospek ini. Yang kami rasakan cuma lapar banget. Ish, gak dikasih makan siang sih. Hahahahhaha. Saya rasa kalo gue oke-in dikasih kali yah. Hahahahahahaha.

Keluar dari ruangan itu kami gak henti-hentinya ketawa. Saling menertawakan kok bisa ya, kami ditawarin kek gitu. Dari sisi mana coba kami akan tertarik. Mungkin yang cocok mah mereka yang uangnya udah gak berseri. Tinggal metik, tinggal nikmati hidup. Gak punya hutang cicilan, gak mikirin harus kerja. Pokoknya sudah mapan secara finansial.

Dari situ, si mbak marketing baik loh, memberi referensi makanan enak. Nasi ayam Ibu Oki. Tinggal jalan gak terlalu jauh sih, tapi cuaca Bali siang itu sangat tidak bersahabat buat pejalan kaki alias puanase poll. Berhubung laparnya sudah banget-banget ya tetap aja sih kita jalan kaki menerjang panas. Sambil lagi-lagi menertawakan, kalau saja saya atau suami kemasukan apa gitu yang mengiyakan tawaran marketing dan menggesek kartu yang hampir menghabiskan limit. Waw, sungguh tidak terbayang.

Eh, sebulan berikutnya, saya kembali menerima telepon. Lagi-lagi dari marketing hotel di Bali kemarin. Saya langsung ngomong gini dong, “Mbak, gak ada selain Bali ya, kalau Bali lagi saya gak mau deh Mba.” hehehe. Mbak marketingnya cuma bilang, “Wah gak bisa Ibu, karena kantor pusat kami di sana. Ibu datang saja dulu kesana. Nanti bisa bantu merencanakan liburan Ibu berikutnya.” Tanpa babibu gue langsung memotong, “Oke mbak, makasih, gak dulu yah.”

 

 

 

 

Sebuah Cerita tentang Ibu-ibu Hebat di Kota Tua dan Megahnya Mesjid Agung Jawa Tengah (Masih di Semarang)

Sebenarnya tulisan ini sudah nangkring di draft blog saya sejak dua bukan yang lalu, ketika saya melakukan perjalanan Yogya-Semarang-Cirebon. Punya waktu di Semarang hanya satu hari dan Kota Tua Semarang adalah pilihan kami berikutnya setelah Lawang Sewu. Sengaja ingin posting tulisan ini dalam rangka hari Ibu.

Mengunjungi kota tua karena ya itu lagi, lihat postingan di IG. Saya IG mania? Ya boleh dibilang begitu. Meski follower saya gak banyak, tapi saya banyak dapat ilmu di IG. Hehehe, mari kembali ke laptop. Kami tiba di kota tua tepat pukul dua belas siang. Matahari emang lagi lucu-lucunya. Ternyata suhu siang itu mencapai tiga puluh enam derajat celcius.

Mobil kami parkir tepat di depan Taman Sri Gunting. Keluar mobil, ampun panasnya. Kami langsung mengambil duduk di taman yang merupakan tempat paling nyaman siang itu. Gimana nggak. Pohon rindang, semilir angin dan pemandangan kota tua seperti Gereja Blenduk, Kafe Spiegel, dan deretan penjaja barang-barang unik di Pasar Seni benar-benar bikin adem.

Ikon Kota Tua Semarang

Kota Tua Semarang
Lalu Lintas di Kota Tua

Gedung Bersejarah Spiegel
Gedung Spiegel

kota Tua
Taman Kota Sri Gunting

Awalnya saya bermaksud ngubek-ngubek Kota Tua, mencari objek foto-foto yang keren, eh tapi baru jalan sedikit ke arah kafe Spiegel, aduh panasnya gak tahan. Akhirnya ya duduk ajah di depan Taman Sri Gunting, sambil menikmati semangka dari penjaja buah dan gorengan dengan gerobak dorong. Murah meriah, semua yang dijual di dalam gerobaknya harganya seribu rupiah. Wah panas-panas terik begini paling cocok memang ngemil semangka. Siang itu saya membeli semangka dan papaya. Lima ribu saja semua. Padahal awalnya saya berharap Zaki mengajak masuk ke Kafe Spiegel yang ber-AC dan menikmati segelas cappuccino dingin. Tapi harapan tinggal harapan. Hahahhaha. Makan buah lebih sehat kan? Halah. Ngeles.

Taman Kota Sri Gunting

Taman Kota Bagai Oase di Tengah Kota Semarang yang Panas Terik

Ketika saya ingin mengambil foto taman dari sudut Pasar Seni, ada si dua Ibu-ibu yang sedang duduk terlihat canggung melihat kamera saya mengarah ke mereka. Lalu saya tersenyum ke mereka. ‚ÄúEh gak papah Bu. Duduk saja,‚ÄĚ Saya menenangkan. Kemudian saya menghampiri mereka. Ikut duduk-duduk menikmati Semarang yang sukses membuat peluh saya terus mengalir. Iseng-iseng saya ngobrol deh sama dua Ibu-ibu itu.

Sebut saja Bu Parni dan Bu Marni. Melihat dari kostum mereka saya menduga mereka petugas parkir di situ. Menggunakan rompi kuning dengan peluit tergantung di leher. Benar saja ketika ada bus pariwisata lewat, Bu Parni sigap berdiri dan memberi aba-aba untuk bus bisa parkir. Tapi Bu Parni kurang beruntung. Bus itu hanya lewat saja. Tidak berhenti di kota tua. Bu Parni kembali duduk dengan wajah yang tetap tersenyum. Mungkin dia menertawakan dirinya yang terlalu semangat, eh ternyata bus-nya tidak parkir.

Iseng-iseng saya mengajak kedua Ibu itu berbincang-bincang. Sudah bertahun-tahun mereka menjadi juru parkir di kota tua. Bekerja dari jam delapan pagi sampai jam dua belas malam. Rumah mereka tidak dekat, di pinggiran Semarang. Bu Parni yang berbadan agak besar mengaku mengayuh sepeda ontel dari rumahnya dengan perjalan 45 menit. Ia bekerja menjadi tukang parkir demi sang cucu yang berusia enam tahun. Anak Bu Parni sendiri sekarang sedang menjadi TKW di Hongkong. Meski sesekali kiriman uang datang, ia tidak betah hanya berdiam diri di rumah dan tidak menghasilkan apa-apa.

Lain lagi dengan Bu Parni. Bu Marni nenek lima orang cucu. Beliau bergantian menjaga parkir dengan sang suami. Mereka sebulan dibayar hanya tiga ratus ribu rupiah dari Pak Bos. Entah siapa Pak Bos yang dimaksud. Boro-boro mereka mengharapkan upah minimum regional. Mereka hanya berharap tips dari para pemilik kendaraan di situ. Paling senang kalau bus-bus besar atau bus pariwisata yang parkir. Biasanya tips yang diberikan lumayan besar.

Panas terik kota tidak mematikan semangat mereka. Kerja lebih dari lima belas jam sehari, beratap langit yang kadang hujan kadang terik, dengan bayaran tiga ratus ribu setiap bulan. Pendapatan mereka harus dibagi untuk menghidupi keluarga dan juga makan sehari-hari ketika bekerja. Mereka tidak kenal lelah demi cucu-cucu di rumah. Tidak malu atau gengsi meski mereka wanita. Mereka wanita-wanita perkasa. Pahlawan dalam keluarga.  Membayangkan bagaimana mereka setiap hari menjalani hidup, kok rasanya luar biasa yah. Dari jam sembilan pagi hingga jam sebelas malam. Badan rasanya kayak gimana ya? Ya, memang sejatinya setiap wanita memang diciptakan demikian. Pejuang dalam kehidupan.

Tiba-tiba saya ingat, masih punya sedikit yang bisa diberikan buat mereka. ‚ÄúSebentar ya Bu, saya ada sedikit oleh-oleh buat Ibu-ibu. Dikit tapi ya Bu.‚ÄĚ Kata saya. Kemudian bergegas ke arah mobil yang diparkir. Setelah saya memberikan sedikit oleh-oleh, si Ibu seketika tersenyum dan mengucapkan terima kasih yang panjang sekali. Berulang kali juga saya mengaminkan. ‚ÄúTerima kasih juga doanya Ibu-ibu. Semoga saya balik lagi ke Semarang, nanti kita ketemu lagi ya Bu. Semoga sehat terus ya Ibu-ibu. Salam buat cucu-cucu.‚ÄĚ Kata saya menutup perjumpaan kami siang itu. Kemudian saya minta izin untuk kami foto bareng, dan kali ini Ibu-ibu tidak takut lagi dengan kamera. Sebulan kemudian saya balik ke Semarang, tapi malah gak sempat menemui mereka. Payah ya saya. ūüė¶

Ibu-ibu Perkasa Penjaga Parkir kota Tua
Ibu-ibu Perkasa Penjaga Parkir Kota Tua

Dari Kota Tua, perjalanan kami lanjutkan untuk sholat Zuhur di Mesjid Agung Jawa Tengah. Namanya Mesjid Agung pasti besar dan bagus. Jadi destinasi yang sayang kalau dilewatkan.

Berbekal google maps kami menuju Mesjid Agung Jawa Tengah yang cukup besar dan luas. Sampai kami salah parkir. Bukan di tempat sholat tapi parkiran resepsi pernikahan. So, bisa sih, mampir numpang makan, tapi sayang gak kenal sama yang punya hajat dan kostum kurang representatif juga sih. Hihihihi.

Mesjidnya besar, ventilasinya bagus. Tetapi karena tidak jauh dengan pantai, so udara yang bergerak alias angin tetep ajah semilir hot gimana gituh. Bangunan dengan banyak ventilasi juga ternyata membuat burung-burung suka masuk ke Mesjid. Hati-hati yah pas sholat ada kotoran burung. Aduuh, gimana yah kalau gitu??

Penampakan Kemegahan Mesjid Agung Jateng

Penampakan Dalam Mesjid Agusng Jawa Tengah

Alquran Raksasa di Mesjid Agung Jawa Tengah
Alquran Raksasa

Puas berkeliling di dalam mesjid. Saya keluar dan bermaksud mencari lokasi yang pas untuk mengambil foto masjid secara utuh. Tapi susah, maklum bukan profesional. Pake drone kali yah baru sempurna. Eh tapi tunggu dulu. Di depan Masjid ternyata ada sebuah menara. Menara yang sepertinya belum jadi seratus persen. Di dalam menara yang sangat tinggi itu terdapat Museum Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Tengah di lantai dua dan tiga. Sejarah Islam di Jawa adalah proses perubahan atau proses alkulturalisasi atau perpaduan budaya dari masa Hindu ke Islam. Tidak heran banyak masjid-masjid lama di Jawa dengan arsitektur mirip dengan bangunan Pura. Untuk masuk ke menara AL Husna pengunjung dikenakan  tiket masuk tujuh ribu rupiah.

Selain Museum, kita juga bisa naik dengan lift hingga ke lantai 19 yaitu puncak menara. Dari puncak menara, kita bisa melihat pemandangan sekitar masjid dan pesisir Semarang. Bahkan hingga lautan lepas dengan teleskop. Kira-kira seperti di puncak Monumen Nasional. Angin bertiup sedikit lebih kencang di puncak menara.

Waktu itu si Zaki memilih makan di warung dekat parkiran mobil. Sedangkan saya ke atas menara. Hehehe. Prioritas kami beda. Dia mah urusan perut nomor satu. Kalau sudah begitu, ya udah ada waktu sebentar buat saya jadi solo traveler. Hore. Hihihihi.

Mesjid Agung Jawa Tengah
Dilihat dari depan Menara AlHusna

Kalau diperhatikan desain masjid ini seperti berkiblat ke Mesjid Nabawi di Madinah Arab Saudi. Keempat pilar payung yang bisa membuka dan menutup secara otomatis sesuai kebutuhan. Al-Husna Tower, apakah meniru Zamzam Tower di Mekkah Arab Saudi sana? Hehehe. Terinspirasi mungkin kali yah.

Menara Al Husna
Al Husna Tower

 

Mesjid Agung Jawa Tengah

Tidak lama saya di Al Husna Tower, saya menghampiri Zaki yang lagi-lagi asyik menikmati kupat tahu Semarang. Ya ampun padahal dari Lawang Sewu kami sudah membeli kupat tahu yang  kami makan di mobil ketika menuju Mesjid Agung. Satu bungkus berdua dan itu enak banget. Ada ceritanya juga, nanti deh ya diceritain. Soalnya si Bapak mau aja ngeladenin kami yang bawel tanya-tanya. Hehehehe. Bahkan saya iseng merekam perbincangan kami. Seperti bikin vlog ala-ala gitu.

Sebelum meninggalkan parkiran, saya membeli jus tomat. Sialnya, gelas jusnya bau kecoa. Belum habis jus, langsung saya buang. Bau kecoaknya itu loh, bikin pusing. Perjalanan kemudia kami lanjutkan. Tujuan kami berikutnya adalah Cirebon, kota perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Senja sore mengiringi kami menuju Cirebon. Perjalanan kali ini punya cerita tersendiri. Selain mengagumi destinasi bangunan-bangunan peningggalan Belanda, mengagumi kemegahan Mesjid Agung, belajar sejarah Islam di Jawa, dan bisa bertemu dengan Ibu-ibu hebat di Taman Sri Gunting. Bersyukur bisa belajar dari kisah hidup mereka. Perjalanan memang tempat pembelajaran yang tidak ada habis-habisnya. Jadi teruslah melakukan perjalanan dan teruslah jadi manusia pembelajar. Oh iya, selamat hari Ibu untuk semua Ibu-ibu hebat di dunia. Setiap Ibu diciptakan untuk menjadi pahlawan dalam kehidupan.

 

 

Keliling Malang Part 2 (Coban Rondo dan Museum Satwa)

Akhirnya setelah kenyang makan ketan susu, kami memutuskan mencari hostel yang sudah kami booking dari booking.com. Hari yang sudah gelap, membuat kami agak kesulitan mencari lokasi hostel dimaksuud. Tanya tukang ojekpun gak ada yang tahu. Tapi dengan segala daya upaya (lebay) alhamdulillah akhirnya ketemu juga.

Papan nama homestaynya memang kecil. Kalau malam memang agak kurang jelas terlihat. Setibanya di sana ada Mas-mas di lobi homestay. Saya pun mengeluarkan bukti bookingan homestay dan si Mas-mas menjelaskan kalau kamar yang sudah saya booking tidak ada AC nya. Aduh saya agak kecewa yah. Awalnya saya booking 2 kamar dengan harga per kamar 250.000 per malam. Melihat wajah kecewa saya, si Mas-mas menawarkan kamar lainnya dengan tipe keluarga, bisa untuk empat orang dengan dua tempat tidur besar, dan kali ini ada AC, berikut sarapan dengan harga 350.000/malam. Waw… otak hemat saya tiba-tiba tersenyum. Bisa hemat 150.000 kan, ayeee… Akhirnya kami putuskan mengambil kamar tersebut. Ah senangnya booking hotel bisa se-fleksibel ini.

Badan yang lelah membuat kami langsung bersih-bersih dan langsung istirahat, mengingat masih banyak tempat-tempat keren yang akan kami kunjungi esok hari. Gak sempat juga ambil foto kamar homestay nya. Tapi saya deskripsikan aja yah, kamarnya bersih, pintu masuk langsung kamar mandi ada di dalam, air hangat, dan perlengkapan mandi kumplit. Tempat tidur ukuran sedang ada dua, televisi layar datar, dan colokan ada. Pokoknya buat bermalam saja cukuplah.

Selepas sholat shubuh, Ibu dan Bapak memilih berjalan-jalan keluar homestay. Sedangkan Zaki ya… tentu saja memilih untuk bogiiii alias bobo pagi. Heran deh gak di mana-mana, ritual bobo pagi itu tidak pernah dilewatkan.

Lokasi homestay O3 memang strategis. Terletak di antara Jatim Park 2 dan Batu Night Spectacular. Dari jalan besar, ambil kiri dan hanya kurang lebih 200 meter saja. Serunya lagi O3 homestay juga dekat dengan rumah penduduk, sawah, dan sekolah. Penduduk mungkin sudah melihat potensi daerahnya sebagai tempat wisata, sehingga sepanjang homestay kami juga banyak homestay lainnya.

O3 Hometsay Malang
O3 Homestay

Loby O3 Homestay

Loby O3 Homestay

O3 Homestay tampak depan
O3 Homestay tampak depan

Setelah mandi saya memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar homestay, siapa tahu ada yang menarik. Benar saja, saya bertemu dengan Ibu-ibu yang akan berangkat ke ladang dan sedikit bercerita, tapi cerita itu nanti saja saya ceritakan tersendiri.

Jalan-jalan di Sekitar O3 Homestay
Jalan pagi di sekitar O3 Homestay

Pagi itu di 03 homestay memang ada beberapa tamu yang menginap selain kami. Sarapan pagi itu sudah siap, dan si Ibu koki yang memasak dengan ramahnya menawarkan kami untuk sarapan pagi. Ternyata Ibu saya yang emang hobi ngobrol dapat bocoran kalau si Ibu Koki adalah Ibunya empunya O3 homestay ini. Semua diberdayakan, usaha keluarga.

Menu Sarapan ala O3 Homestay
Menu sarapan ala O3 Homestay

Sarapan ala O3 homestay
Sarapan ala O3 homestay, gak ketinggalan teh manis hangat

Bapak dan Ibu sedang sarapan
Bapak dan Ibu sarapan

Bincang Pagi Ibu sama Koki Homestay
Bincang Pagi Ibu sama Koki Homestay, seru banget. Saking semangatnya tangannya menutupi wajah, aduh padahal mau di candid. Hehehe

Menu sarapan pagi kami itu memang agak berat. Nasi putih, mie goreng, ayam kecap, sayur tahu bumbu kuning dan kerupuk. Ada hal yang membuat saya heran. Kota Batu adalah penghasil sayur mayur, tetapi kenapa di menu sarapan kami tidak ada menu sayurnya. Hahahaha. Pertanyaan yang seringkali saya tanyakan dan jawabannya entahlah. Di Indonesia itu sudah terbiasa kalau mie goreng yang jelas-jelas karbohidrat itu dijadikan lauk pauk. Unik yah negeriku. Hihihihihihihi.

Awalnya kami masih bingung, akan ke Bromo atau tidak dan apakah kami masih akan tetap menginap di O3 homestay atau tidak. Akhirnya setelah berdiskusi dengan supir rental kami Mas Pego, kalau kami ingin ke Bromo, baiknya dari Malang kota saja, jadilah kami langsung check-out pagi itu. Jadi, satu hari nanti kami akan habiskan di batu, sorenya kami akan menuju Malang kota. Selesai pembayaran kami pun menuju ke Air Terjun Coban Rondo. Dari Batu masih sekitar 30 menit perjalanan ke arah puncak. Pemandangan hutan pinus di kanan dan kiri meneyejukkan mata. Kami juga bisa melihat Kota Batu dari ketinggian.

Perjalanan Menuju Coban Rondo
Perjalanan menuju Air Terjun Coban Rondo

Pemandangan Kota Batu dari atas
Kota Batu tampak dari atas

Tiba di Coban Rondo, ternyata ada pekerjaaan perbaikan bendungan karena banjir yang belum lama terjadi. Debit air yang besar membuat tanggul hancur dan masyarakat di sana bergotong royong memperbaiki tanggul sungai.

Gerbang Air Terjun Coban Rondo
Si Ibu iseng di Gerbang Air Terjun Coban Rondo

Cerita Legenda Air Terjun Coban Rondo
Cerita Legenda Air Terjun Coban Rondo

Jalan Menuju Air Terjun Coban Rondo
Jalan Menuju  Air Terjun yang sudah bagus

Musim hujan debit air terjun cukup deras. Papan pengumuman agar pengunjung tidak mandi di air terjun sepertinya menjelaskan kalau kami hanya bisa foto-foto dan menikmati pemandangan, tidak untuk merasakan seberapa dalam atau dingin airnya. Tapi kami puas. Debit air yang besar, membuat air terjun terlihat bagus.

Air Terjun Coban Rondo
Air Terjun Coban Rondo dan Papan Peringatan Bagi Pengunjung

IMG_3213
Di Bawah AIr Terjun Coban Rondo, airnya deras sampai kayak kehujanan

Hawa di sana sejuk pake banget, dan karena bukan hari libur, bisa dibilang waktu itu sepi pengunjung. Dari parkiran ke lokasi air terjun, tidak terlalu jauh. Jalannya pun sudah bagus, aspal, tidak licin. Fasilitas seperti toilet umum untuk mandi pun gratis loh dan yang penting bersihnya itu, patut diacungi jempol. Seperti tempat wisata pada umumnya, banyak penjaja makanan dan minuman.

Puas menikmati air terjun kami menyudahi kunjungan kami dengan membeli jagung bakar. Di perjalanan pulang kami juga sempat berhenti untuk berfoto-foto.

Dari Coban Rondo kami menuju Jatim Park 2 dengan membeli tiket terusan sebesar 85.000 saja dengan tujuan Museum Satwa, Batu Secret Zoo, Museum Bagong, dan Eco Park. Mbak-mbak penjual tiket menganjurkan agar kami ke Museum Bagong terlebih dahulu, karena tutup paling awal yaitu jam 4 sore. Berhubung jarak dari Jatim Park 2 ke Museum Bagong jauh dan kami harus menunggu kereta yang mengantar, kami putuskan untuk ke museum satwa. Kami pikir satu jam cukuplah untuk berkeliling di Museum Satwa.

Museum Satwa
Museum Satwa

 

Museum satwa di Jatim Park 2 kali ini tidak seperti museum biasa seperti museum di Taman Mini. Museum Satwa dirancang lebih menarik. Ketika masuk kita akan disuguhi sangkar burung raksasa, masuk lebih dalam, akan ada replika salah satu keluarga dinosaurus yang sangat besar. Tidak hanya replika yang biasanya di letakkan di dalam lemari kaca seperti museum pada umumnya. Belum lagi replika gajah raksasa atau Mammoth, lalu ada replika gunung es seperti di kutub utara lengkap dengan beruang kutubnya.

Sangkar Burung Raksasa
Sangkar Burung Raksasa

Replika Dinosaurus
Replika Dinosaurus

Replika Mammoth
Replika Fosil Gajah 

Trick Art di Museum Satwa
Bapak dan Ibu berfoto Trick Art di Museum Satwa

Menariknya lagi replika dan semua dekorasi diciptakan sedemikian rupa agar pengunjung bisa mengambil gambar dengan menarik. Hewan-hewan yang dipamerkan di sini kebanyakan memang replika atau buatan. Tapi sangat mirip dengan aslinya. Luar biasa deh yang bikin. Pengelompokkan peraga hewan dibedakan sesuai habitat dan jenis hewan. Misalnya hewan laut, di sana ada tempat simulasi pelalangan ikan di kampung nelayan. Ikan segar yang digantung ataupun ikan asin yang sedang dijemur.

Tempat Pelelangan Ikan
Replika Tempat Pelelangan Ikan di Desa Nelayan

Beruang Salju
Groufie di depan Beruang Kutub

Selain dipamerkan hewan-hewan, di museum ini juga ada ruang tempat peraga audiovisual, jadi pengunjung yang sebagian besar anak usia sekolah bisa mendapat penjelasan dengan lebih lengkap. Tidak ketinggalan ada juga cafe di dalam museum ini.

Informasi Menarik di Museum Satwa
Selain bentuk fisik satwa, info menarik seputar satwa juga tersedia.

Akuarium
Akuarium Raksasa

Tidak terasa lebih dari satu jam berkeliling museum satwa. Masih ada beberapa tempat yang harus kami datangi dengan tiket terusan Jatim Park 2. Kunjungan kami berikutnya adalah Batu Secret Zoo, dan Museum Bagong yang akan bersambung di Episode Keliling Malang Part 3. Kalau dilanjutkan di sini takutnya yang baca kebosanan. Hahahaha. Itu alasan saya aja sih yang udah kecapekan ngetiknya. Hehehe.