Hati-hati Kalau ke Toilet, Apalagi di Negara Orang :(

Sebenarnya dengan menuliskan hal ini, sedikit membuka aib diriku. Sumpah tulisan ini juga sangat tidak bermanfaat bagi pembacanya. Pokoknya gak dibutuhkan sama orang-orang, sehingga gak mungkin tulisan ini meningkatkan trafic blog saya. Hehehehe. Tapi ya sudahlah, semoga bisa jadi pelajaran buat teman-teman yang lain.

Entah apa yang terjadi pada metabolisme tubuh saya ketika di tempat yang sedikit ber-ac atau agak dingin sedikit. tiba-tiba saja selalu ada hasrat panggilan untuk ke belakang. Maksudnya ke belakang di sini tentu saja ke toilet. Bukan buang air kecil, tapi buang air besar. ups. Maaf kalau tulisan ini agak menyebalkan. Ya udah silahkan jangan lanjutkan bacanya.

Keinginan BAB di tempat umum ini sudah lama. Sepertinya sudah dua puluh tahun yang lalu. Dari Mall yang besar sampai cuma Indomaret atau Alfamart, saya sudah pernah loh. Bandara mah jangan ditanya. Pasar tradisional aja pernah. Parah kan? Pokoknya orang-orang terdekat sayamah sudah tauk banget kebiasaan saya yang nggak banget ini.

Sepertinya jejak banyak saya tinggalkan di mana-mana. Tapi ada yang paling banget gak bisa saya lupa. Itu sekitar beberapa tahun lalu, ketika jalan-jalan ke Bangkok. Lebih tepatnya ketika kami akan mengunjungi museum Madame Tussaud.

Museum Madame Tussaud memang terletak di Mall, namanya Mall Siam Paragon. Pagi-pagi kami sudah tiba di sana. Belum lama masuk mall, langsung deh perut berasa muter alias mules gitu. Saya pun segera mencari toilet.

Tauk dong mall di Bangkok, yang megah dan besar, toilet sudah pasti bersih dan modern. Pagi itu pengunjung mall pun masih bisa dihitung dengan jari. Masih sepi. Begitu masuk toilet pun yang ada hanya mbak-mbak petugas kebersihan toilet. Asyik bisa aman dan nyaman nih. Memang agak kurang nyaman kan kalau lagi kebelet Pup toliet antri. Mending gak deh. Hehehehe.

Saya pilih toilet yang paling pojok dong. Alasannya biar apa? Toilet pojok kan letaknya di ujung. Pasti jarang dipakai sama pengunjung lain. pasti mereka langsung incar yang di depan. eh tapi, kalau sebagian besar orang berpikiran seperti saya. Toilet pojok paling sering dipakai dong ya.

Langsung deh saya duduk manis. Masalah terjadi ketika saya menekan tombol flush toilet duduknya. Jreng… jreng.. kok gak bisa. Cuma bluk-bluk. What… ya Allah gimana dong. Coba lagi, coba lagi sampai berkali-kali belum berhasil. Ih, si Zaki sudah bolak-balik nelpon aja. Bodo amat cuekin ajah. Ini masalah genting.

Kondisi toilet yang sepi, kan malu banget. Belum lagi di sini saya turis. Dari Indonesia pula. Aduh bisa di cap jelek dong turis Indonesia. Padahal kan emang mesin flush toiletnya yang rusak. Gila yah ini mall besar kok bisa toiletnya rusak. Masih ada untungnya nih, ada showernya. Datanglah akal saya menggunakan kekuatan shower untuk menyiram “sampah” toilet. Lama sih emang, tapi… yeay it works. Alhamdulillah berhasil.

Sumpah saya kesel banget, pagi-pagi dapat zonk masalah di toilet begini. Ya ampun kenapa juga pas di Bangkok begini. Keluar toilet saya pun coba protes ke mbak-mbak penjaga kebersihan pake Bahasa Inggris. Baik-baik tentunya. Dia cuma ngangguk-ngangguk aja. tauk deh ngerti apa nggak.

Moment ini memberi pelajaran buat saya, sebelum pakai toilet cek terlebih dahulu apakah mesin flush nya berfungsi dengan baik atau tidak. Entah itu di Indonesia atau di manapun alam memanggilmu. Camkan itu Rini. Camkan.

Meski agak bete kemudian saya bisa bertemu dengan idola sejak zaman SMP. Selalu ada alhmadulillah… :)))

Rini dan Beckham
Finally Meet Him in Personal even just of his statue :)))))

 

 

Menengok Wat Buparram di Kota Seribu Kuil Chiang Mai

Hellow… dah lama banget gak posting. Harus displin lagi nih, oneweek one post-nya. Anyway… ini salah satu cerita dari masih ada beberapa seri perjalanan terakhir saya ke Thailand beberapa bulan lalu. Semoga belom basi ya… hehehe.

Jam enam pagi di hari kedua saya di Thailand, kami sudah duduk manis di restauran hotel bintang lima di kawasan Sukhumvit Bangkok itu. Ehem, jam segini sudah ramai. Kebetulan hotel itu merangkap apartemen di mana banyak ekspatriat yang kebanyakan Japanese tinggal. Mereka bekerja dan menetap di Bangkok. Gak mau rugi, pagi itu saya makan buah dan oats. Menyelipkan satu croisant keju, dan dua buah yogurth yang kemudian ketinggalan di kulkas di hostel Chiang Mai dan jadinya gak saya makan juga. Well, apakah karena itu mencuri? Ah gak dong, kan boleh diambil. Ya belom rejeki kali ya.

Dari Marriot kami naik taksi ke Don Mueang airport kurang lebih 30 menit saja. Hari masih pagi jalanan Bangkok belum macet. Di bandara saya sempat BAB dan jajan masker di Sevel. Di Chiang Mai kan panas, muka harus tetap kinclong. Demi foto yang cetar (padahal kemudian tidak ada foto yang cetar). Hehehehe.

Jajanan Skincare di Thailand
Jajan Skincare Sachet di Sevel Don Mueang (ka-ki : CC cream, Masker Lidah Buaya, dan Masker Tomat)

Tepat jam 9, kami sudah dipanggil untuk naik pesawat. Wah maskapai singa di Bangkok on-time sekali. Senangnya, gak malu-maluin Indonesia. Lucunya, saya tidak terlalu melihat perbedaan penampakan antara penumpang yang naik maskapai budget dengan mereka yang naik maskapai premium seperti Thai airways. Penumpang Thai Lion pagi itu tertib mengantri sesuai nomor tempat duduk, dan tertib saat di pesawat. Agak beda dengan yang saya temukan di Indonesia. Aduh maaf ya, bukan maksud nyinyir tapi itu memang nyata adanya.

Beberapa kali naik pesawat Singa itu beda sekali dengan naik Burung Biru ketika di Indonesia. Beda tempat jelas ya, tapi penumpang yang saya temui juga berbeda kelas sepertinya. Ya disitulah uniknya Indonesia. Seru dan indahnya keberagaman, bikin hidup gak selalu mulus.

Tiket ke Chiang Mai
Bangkok-Chiang Mai Thai Lion Air

 

Kembali ke judul yuk ah. Kami tiba di Chiang Mai satu jam kemudian. Pagi itu bandara masih sepi. Hanya pesawat kami saja yang mendarat. Seperti bandara di mana ya, mungkin Batam, tidak juga lebih kecil. Masih sederhana, tapi rapi dan cantik.

Banadara Chiang Mai
Landmark Bandara Chiang Mai

Sebelum keluar bandara, kami menghampiri sebuah travel agent di sana untuk membeli paket tour  ke Golden Triangle besok. Kami mendapat potongan 200 THB. Belakangan saya baru sadar harga kami sepertinya masih kemahalan (emak-emak selalu gini).

Di luar bandara, kami bingung memilih song thew (angkot di Chiang Mai kayak oplet), taksi konvensional, atau tuk-tuk (kendaraan roda tiga khas Thailand). Zaki mendekati sebuah tuk-tuk yang sedang parkir. Nego harga, kami rasa masih masuk akal. Deal, naiklah kami ke kendaraan yang mirip bajaj itu.

Wuzzz… tuk-tuk jalan dengan kecepatan agak lumayan. Angin kencang menerpa wajah kami. Dengan bantuan google maps, supir tuk-tuk membantu kami menuju tempat penginapan yang sudah kami booking via booking.com.

Agak lama kami berputar-putar di daerah old town, yang memang kawasan favorit turis untuk bermalam. Masuk ke gang yang satu keluar gang yang satu. Supir tuk-tuk sepertinya mulai kebingungan. Zaki mulai gak sabar, akhirnya ikutan buka hape dan bantu mencari. Euhm… alhamdulillah gak lama ketemu juga hostel kami. Ternyata letaknya di pinggir jalan. tidak di dalam gang. Meski begitu, kami kasihan juga sama supir tuk-tuk, akhirnya kami kasih lebih dari ongkos sesuai perjanjian. Senang sekali wajah si Bapak, menerimanya.

Lanna House
Lanna House Chiang Mai

Masih terlalu pagi, kami belum bisa masuk ke kamar hostel. Kami hanya menitipkan koper saja, dan kemudian keluar hostel untuk melihat kota Chiang Mai lebih dekat. Mau kemana kita? Sampai saat itu kami belum tahu mau kemana. Kemudian saya menujuk ke arah kanan hostel kami. “Jalan ke sana aja yuk.” yang diikuti anggukan Zaki.

Di sekitar hostel kami banyak kafe-kafe yang menjajakan western food dan Thai food dan tentu saja tempat buat mimik-mimik. Ada juga kafe yang menjual kopi seperti setarbaks. Menarik lagi, di Chiang Mai banyak toko-toko buku lokal yang menjual buku baru atau buku bekas dengan harga yang miring. Sayangnya saya gak mampir. Payah ya? Iyah payah. Hehehe. Abis belum lama ke Big Bad Wolf, takut kalap banget kalau masuk toko buku. Budget untuk beli buku juga gak ada. Tapi iyah, saya salah. Harusnya saya masuk saja.

Chiang Mai mungkin bisa dijuluki sebagai kota seribu kuil. Setiap dua ratus meter, kita akan bisa menemui kuil yang bagus-bagus khas bangunan kuil Budha Thailand. Siang yang terik, sebelum masuk kuil kami sempat berhenti untuk membeli Thai Iced Tea. Panasnya terik sekali siang itu, padahal suhu hanya 32ºC. Matahari seolah berjarak sejengkal dari kepala. Godaan kesegaran es teh Thailand memang tak tertahankan.

IMG_2376
Gerobak Penjual Thai Ice Tea

IMG_2378
Penampakan Thai Ice Tea

Setelah berjalan kurang lebih lima ratus meter, saya melihat gerbang sebuah kuil yang terbuka. Saya lihat lagi, sepertinya ada pengunjung. Ini kuil kedua yang kami lewati. Kuil pertama gerbangnya tertutup. Kami masuk saja. Untuk turis dikenakan biaya 40 THB per orang. Nama kuil ini Wat Buparram.

Penampakan Kuil Wat Buparram
Kuil Wat Buparram

Wat Buparram
Wat Buparram

Wat Buparram
Wat Buparram

Memasuki bangunan utama kuil, tentu ada patung Budha duduk. Di dalam sudah ada rombongan turis dari China dengan tour guidenya. Sayang sekali tour guide menggunakan bahasa China yang tentu saja kami tidak mengerti sama sekali. Kami cukup puas dengan mengambil foto saja.

Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram

Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram dan jangan tanya siapa laki-laki dan wanita cantik di foto itu.

Keluar bangunan utama, kami berkeliling area kuil. Berpose ala-ala selebgram di depan sebuah stupa yang paling besar, dan melihat-lihat ke area dapur kuil yang siang itu saya melihat seorang biksu. Ada museum juga tapi ditutup dan seperti kurang terawat.

Buparram Museum
Wat Buparram Museum

Wat Buparram dari pelataran
Wat Buparram dari samping

IWat Buparram
Wat Buparram dari depan

Gagal Gaya Ala Selebgram
Gagal Gaya Ala Selebgram 😦 Belom Siap dah Cekrek

Tuktuk
Parkir Tuk-tuk

Payung dan Sunglasses
Payung dan Sunglasses membuktikan panasnya Chiang Mai siang itu

Mungkin di sana kami hanya 30 menit dan kemudian dengan tiba-tiba sebuah konvoi tuk-tuk mengejutkan kami masuk ke dalam area parkiran kuil. Rombongan turis Korea ternyata. Wah seru juga yah. Rombongan naik tuk-tuk. Kami pun bergegas keluar gerbang kuil dan memutuskan cari makan. Iyah, kami lapar sudah jam dua belas. Cari makanan halal di mana yah. Zaki mulai kemudian meng-googling.

Sepertinya untuk satu postingan blog sudah terlalu panjang yah saya berceloteh. Bersambung aja kali ya… Next post, kami juga menemukan kawasan makanan halal di Chiang Mai.

 

Akhirnya Nyobain Jadi Volunteer di #Onedayfundoingfun Batch 6; Garut

Volunteer… apa sih itu volunteer ya itu sukarelawan. Sukarelawan yang bekerja secara cuma-cuma tanpa bayaran dalam sebuah kegiatan sosial. Kegiatan sosial yang bertujuan membantu mereka yang perlu dibantu. memberi sedikit kebahagiaan dan tauk gak itu sama dengan memberi kebahagiaan bagi diri sendiri. Ya, itu salah satu lasan saya pingin banget jadi sukarelawan dan ikut menjadi bagian dalam sebuah kegiatan sosial.

Menjadi sukarelawan juga bisa membuat kita lebih mensyukuri hidup. Sering banget saya merasa hidup saya yang paling menyedihkan dan gak bahagia. Coba lihat itu teman-teman di sosial media mengunggah foto-foto yang bikin iri. Kemudian gak jarang saya merutuk dalam diri saya. Betapa lebih beruntungnya mereka. Mulai menyalahkan Allah yang terlihat tidak adil. Dimulailah kebaperan-kebaperan berikutnya.

Pada tahun 2015, Allah mempertemukan saya dengan anak muda yang super kreatif dan smart di mata saya. Berawal dari keikutsertaan kami di acara travel n blog dan kemudian kami memisahkan diri untuk mencari tempat sholat. Dari situ saya kenal dengan yang namanya Nia, kepanjangannya Isnia Nuruldita.

Perkenalan itu berlanjut saling mem-follow di media sosial. Dari situ saya tahu, Nia punya hajat yang bagus setiap tahunnya. Waktu saya tahu itu sudah gelaran kelima. One day fun doing fun namanya. Akhirnya saya beranikan diri buat japri nia dan tanya-tanya tentang acara itu. Baca di blognya juga dong. Kok seru yah. Tahun 2016, saya putuskan ikut berdonasi. Alakadarnya gak banyak, yang penting bisa sedikit membantu.

Waktu itu Nia bilang, kenapa gak coba ikutan aja. “Seru lo.” katanya lagi. Iyah kelihatan kok Nia, seru. Tapi karena satu dan lain hal, saya memang belum bisa ikutan.

Nah tahun 2017 Januari kemarin ini, saya bertekad saya mau ikutan. Mau nyobain jadi sukarelawan. Mau bermain sama adik-adik. Iya namanya aja One day Fun Doing Fun. Melakukan suatu hari yang menyenangkan.

Oke, karena acaranya di Garut, ternyata teman-teman sukarelawan yang lain menginap. Kata Nia sih, ini baru pertama kali pakai acara menginap, buat mengakrabkan diri katanya. Berhubung ada acara keluarga. Saya dan suami yang pingin ikutan naik bus bersama rombongan akhirnya jalan sendiri dan tiba di Garut lewat tengah malam. Oh iya, naik bus menempuh perjalanan panjang itu juga sangat berkesan buat kakak-kakak relawan. Ceritanya ada di sini.

Lokasinya di Villa Cipedes Garut. Tidak jauh dari lokasi wisata Candi Cisangkuang di Kecamatan Leles Kabupaten Garut. Kebaikan panita lagi, kami dapat villa dan bisa dapat satu kamar sendiri. Padahal gak papah lo dipisah kalau sekamar bareng-bareng sama sukarelawan lainnya.tapi anyway makasih yah. Hehehehe.

Keesokan paginya, meski hawa sejuk pegunungan begitu berat untuk menyadarkan diri, tapi kami tetap semangat bangun pagi. Ceritanya sih, jalan pagi, olahraga pagi. Tapi tetap tentu saja yang paling utama foto-foto. Maklum orang kota, gak pernah lihat sawah, berlatar pemandangan gunung pula. Hehehehe.

Sunrise di Leles
Jalan-jalan pagi memang gak pernah salah

 

 

Kakak-kakak ODFDF 6
Tiap sudut jangan lupa foto

Jalan-jalan Pagi ke Sawah
Jalan-jalan Pagi ke Sawah

Jalan-jalan pagi juga mengakrabkan saya dengan sukarelawan lain. Yah sok akrab ajah lah ya… memperkenalkan diri. Ngobrol sedikit-sedikit tentang asal dan kegiatan sehari-hari. Aduh, sepertinya mereka masih muda banget. Saya kayaknya agak paling senior yah. Hebat yah. Saya dulu seumur mereka ngapain aja yah. Hahahahha. Untungnya sih, wajah saya yang imut ini gak bikin gap usia kita terlihat jelas. Ya kan ya kan… hahahha. Maaf saya narsis.

Salah satu kakak relawan, Kak Tanti
Kak Tanti kenalan baru

Jalan pagi selesai, kami pun sarapan. Sederhana, nasi goreng, telur ceplok, dan kerupuk. Selesai sarapan kami membersihkan diri dan siap menyambut adik-adik yang hari ini akan bermain bersama kami.

Adik-adik yang jumlahnya hampir 40 orang itu, awalnya malu-malu. Kelihaian Kak Stevi si pemandu acara lah yang akhirnya sedikit demi sedikit bisa mencairkan suasana kaku di antara kami. Kakak-kakak sukarelawan yang berjumlah hampir 30 orang itu juga yang bikin seru.

Acara Perkenalan Kakak-kakak dan Adik
Sesi Perkenalan

Adiknya masih malu-malu
Adiknya dari usia 2 tahun sampai 10 tahun

Adik-adik datang dari panti asuhan dan beberapa anak yatim atau piatu lainnya tidak jauh dari vila. Kak Stevi membagi beberapa anak untuk menjadi tanggung jawab kakak-kakanya. Satu orang kakak sukarelawan, memegang satu sampai dua orang adik. Mereka bertanggung jawab sama si adik selama acara. Jadi kalau adiknya mau ke belakang, atau lapar ya kakaknya lah yang urusin.

Setelah acara perkenalan, dengan sedikit melemaskan otot bergoyang penguin, acara dimulai di pendopo untuk mendengarkan dongeng dari Kak Dita dan Yoyo boneka ajaibnya. Hehehehe. Antusias loh, adik-adik dengerinnya. Apalagi di penghujung dongeng nanti, ada hadiah yang dibagikan buat mereka yang bisa menjawab pertanyaan tentang dongeng yang disampaikan. Pintar-pintar semua, hadiah pun habis. Adik-adik berebutan ingin menjawab.

Kak Dita dan Yoyo in Action #ODFDF6
Aksi Kak Dita dan Yoyo mendongeng. Gak Cuma adik-adik yang nyimak, kakak-kakak juga serius. 🙂

Selesai dongeng, acara puncak dimulai. Acaranya apalagi kalo bukan bermain. Kakak-kakak dan adik dibagi menjadi beberapa kelompok. Diminta membuat nama kelompok juga yel-yel. Semua heboh (paling heboh ya tentu kakak-kakanya sih) Hehehe. Adik-adik yang sepertinya belum terlalu lancar berbahasa Indonesia cuma terpukau melihat kehebohan kakak-kakaknya. Iyah mereka masih terbiasa dengan bahasa ibu mereka Bahasa Sunda. Tapi apalah bahasa, tanpa bahasa yang sama pun kami tetap bisa bergembira bersama.

Beragam permainan dari yang membutuhkan keahlian fisik sampai basah-basahan semua benar-benar menikmati. Meski ada sedikit kecelakaan sedikit seperti jatuh, semua tetap gembira. Adik-adik yang awalnya malu-malu dan pendiam pun mulai bisa tertawa lepas dan aktif bermain.

Selesai permainan, kami berkumpul lagi di saung. Kali ini kami diminta membuat penampilan tiap kelompok. Panitia agak nyusahin yah. Tapi seru jadinya, ide-ide spontan mengalir begitu saja dan jadinya lucu.

Sambil duduk-duduk kita pun sedikit ngobrol-ngorol sama adik-adik. Adik asuh saya, namanya Azam, usianya 3 tahun. Kalem banget. Pipinya ngegemesin tembem. Gak banyak bicara. Pemalu sekali. Awalnya Azam gak mau lepas dari sang kakak. Tapi kemudian mau juga sih. Azam punya kakak dua orang dan adik yang masih bayi satu orang. Ibu Azam sudah meninggal dunia, karena sakit. Kakak Azam juga cerita, kalau mereka kakak beradik jadi harus terpisah-pisah. Ada yang tinggal sama nenek atau bibi. Ayah mereka juga bekerja di Garut agak jauh dari rumah.

Ini Azam dan Kakaknya
Ini Azam dan Kakaknya

Ada juga salah satu adik dengan keterbatasan fisik. Tangannya hanya satu. Tetapi selama permainan yang menggunakan fisik, tidak pernah ada rasa minder atau rendah diri. Dia tetap menikmati. Ada juga aduh saya lupa namanya, dan kemudian dikenal dengan teriakan khasnya “Kerang sakilo..” salah satu slogan buat yel-yel kemarin. Dia sudah harus memakai kacamata yang cukup tebal. Tetapi saya perhatikan dia suka membaca. Waktu itu, ada koran sebagai alat permainan, dan kemudian dia baca meski korannya sudah lecek dan kumal. Padahal sulit sekali untuknya, membaca harus dari jarak yang sangat dekat. Ketika saya tanya, “Kamu suka baca dek?” Dia mengangguk. Tunggu ya, kemudian saya ingat, di mobil saya membawa beberapa buku cerita anak yang kemudian saya berikan ke dia. “Terima kasih ya Kak,” sambil tersenyum. Senyum yang tulus.

Gendong-gendongan
Adik “Kerang Sakilo” digendong Kak Masha

IMG_8463

Di penghujung acara, ada testimoni dari kakak dan adik. Ada pemilihan kakak favorit, ada juga penulisan surat cinta dari kakak ke adik. Penulisan surat cinta ini berisi kata-kata motivasi ke adik buat belajar dan menjadi lebih baik. Agak sedih juga pas nulis surat cinta. Segenap doa yang baik-baik kami tulis untuk mereka. Kami bukan siapa-siapa yang bisa begitu saja merubah garis hidup mereka. Tetapi semoga lewat doa-doa baik yang kami tuliskan di sana bisa menjadi motivasi buat mereka menjadi lebih baik.

Rangkaian acara selesai, adik-adik bisa pulang dengan bahagia,membawa bingkisan yang kami siapkan. Paket sembako, cemilan, dan alat tulis. Aduh bawaannya banyak. Adik-adik yang kecil sampai kesusahan bawanya.

Semoga hal kecil yang kami lakukan bisa menjadi salah satu hari yang menyenangkan buat mereka. Memperkaya kenangan mereka, kalau masa kecil mereka sangat menyenangkan.

Formasi lengkap #ODFDF6
Formasi Lengkap #ODFDF6

Kakak-kakak #ODFDF6
Kakak-kakak #ODFDF6 Garut

kakak-kakak #odfdf6
Selalu heboh kalau lihat kamera

Kelompok POwer Rangers
Lihat siapa itu paling heboh yang paling depan ;)))

Buat Nia, makasih banyak memperkenalkan dan membawa saya dan Zaki dalam kegiatan ini. It was so fun. Awalnya saya takut Zaki gak melebur, eh ternyata malah hebohan dia. Hehehehe. Mau ikutan lagi? Yuks ikutan lagi, kali ini akan digelar di Majalengka Bandung 14 Mei nanti. Buat lengkapnya bisa lihat di instagram @onedayfundoingfun atau follow ig dan twitternya  nia di @alaniadita

 

Menyusuri Teluk Ha Long (Ha Long Bay) di Vietnam Utara

Yeay… nge-blog pertama di tahun 2017. Mau cerita perjalanan ke Vietnam kemarin aja yuk.

Percaya atau tidak, nama Vietnam gue tulis dalam resolusi 2016 kemarin. Alasannya? Sederhana saja, sebelum jalan-jalan yang terlalu jauh, untuk memberi tanda di paspor kenapa tidak dimulai dari negara-negara di Asia Tenggara dulu? Ah sepertinya semesta mendukung (kata-kata yang lagi trend nih).

Sebenarnya sih Filipina juga masuk daftar destinasi gue tahun lalu, gara-gara mulai jatuh cinta sama serial dan film-film mereka yang romantis komedi. Cerita yang sederhana, ringan, dan romantis. Ya, boleh dibilang film menye-menye receh mungkin kalau kata pengamat film. Buat gue sih ya hidup harus seimbang saja. Nonton film mikir berat hayuks, ke bioskop model Allied film perang atau film detektif yang pake mikir kayak Snowden. Tapi sespertinya otak gue kadang memilih yang kata orang nggak banget itu demi keseimbangan hidup. Halahhh. Oke balik ke topik mau bahas Vietnam.

Meski baru sebulan kemarin memaksakan ambil cuti untuk ikut suami ke Semarang, kali ini gue maksa juga ikut ke Vietnam. Bermodalkan nekad mengajukan surat izin tidak masuk kerja selama dua hari. Oke suatu perjalanan dimulai sejak memesan tiket. Yup memesan tiket.

Kota terbesar di Vietnam sebenarnya ada di selatan yaitu, Ho Chi Min, meskipun ibukota berada di utara yaitu Hanoi. Kenapa begitu? Ceritanya panjang, dan harus membuka luka lama negara tersebut. Bentuk Vietnam yang memanjang dari utara ke selatan pernah mempunyai sejarah kelam dengan adanya perang saudara yang membawa dua kepentingan. Vietnam utara beraliran komunis dan Vietnam selatan dibawah kekuasaan AS dan sekutunya. Sekarang sih sudah bersatu dan Vietnam termasuk dari beberapa negara yang saat ini masih menganut paham komunis.

Penerbangan langsung dari Jakarta menuju Vietnam bisa dengan Garuda tujuan Ho Chi Min. Sayangnya kami kekeuh maunya ke utara. Tauk kemana? Ha Long Bay. Sebuah teluk yang berada di perbatasan Vietnam dengan Cina. Letaknya yang di utara dan terbatasnya waktu, kami harus ke Hanoi kota yang lebih dekat untuk menuju Ha Long Bay. Suami berangkat lebih dulu dan saya kemudian menyusul. Maunya saya sih naik penerbangan yang sampai Hanoy pagi, tapi untuk itu harus bermalam di Bangkok, dan suami (pasti) gak mengizinkan. Dapat tiker pagi dengan Thai Airways dan tiba di Hanoy malam harinya dengan transit di Bangkok satu jam saja. Harga tiket lumayan mahal sih 5,4 jt, tapi ya gak papalah, kan hotel sudah beres, tiket suami gratis pula. Mari kita anggap harga tiket murah. Hihihihi.

Tiba di Hanoy jam 21:00 waktu yang masih sama dengan Jakarta. Jangan lupa bekal dollar AS aja, tukar di Noi Bai Airport Hanoi. Seratus Dolar dapat 2 juta sekian VND (Vietnam Dong).

Suhu Hanoi di bulan Desember sejuk, agak dingin, seperti hujan belum lama mengguyur, tapi masih bisa ditolerir buat penduduk negara tropis macam saya. Sesekali angin berhembus agak kencang malam itu. Dijemput suami di bandara, malam itu kami langsung pulang ke hotel, karena besok pagi-pagi kami mau ke Ha Long Bay. Kami naik taksi dari bandara menuju hotel. Jangan lupa harus sepakat dari awal mengenai ongkos taksinya. Pakai argo atau tidak, dan mata uang apa yang digunakan. Di Vietnam, selain mata uang VND, banyak juga yang menggunakan US Dollar.

Sehari sebelumnya, suami sudah mendaftarkan kami ikut One Day Trip ke Ha Long Bay via Shin Cafe. Shin Cafe adalah biro perjalanan yang cukup terpercaya. Silahkan googling atau kalau mau datang langsung, banyak terdapat di daerah kota tua Hanoi. Sebelum deal, harus banyak-banyak tanya dan jangan ragu untuk membandingkan. Soalnya para wisatawan suka dapat harga yang berbeda-beda. Apa saja yang di dapat dengan harga-harga yang ditawarkan. Pokoknya harus teliti deh.

Selesai sarapan di hotel, tepat jam 08:30 seorang laki-laki Vietnam menjemput kami di hotel. Hotel kami adalah hotel terakhir peserta tur. Perjalanan menuju Ha Long Bay menggunakan sebuah minibus van berisi 15 kursi. Kami duduk di kusi paling belakang, yang seharusnya untuk empat orang, jadi bisa selonjoran deh. Laki-laki dengan tinggi kurang dari 160 cm yang menjemput kami di hotel tadi, adalah guide tour kami nama Vietnamnya Ngu Yen siapa begitu, tetapi untuk memudahkan kami para tamu yang berasal dari berbagai negara, ia mengizinkan kami memanggilnya dengan sebutan Kim.

Kim kemudian mengabsen kami satu persatu. Teman perjalanan kami hari itu memang dari beragam negara. Duduk di baris paling depan ada pasangan sepertinya belum menikah dari Italia. Oppa-oppa yang ramah dan chubby dari Korea Selatan. Barisan kedua sebuah keluarga campuran Austria dan Thailand dengan anaknya yang cantik Asia tapi memiliki rambut kecoklatan dan postur yang kurus dan tinggi seperti ras Eropa bernama Kathy. Baris ketiga ada pasangan suami isteri Mexico dan Amerika serta solo traveller dari Amerika juga. Baris belakang, kami dari Indonesia. Meski banyak yang menebak kami dari Malaysia. Why???

Di perjalanan, Kim menceritaka kami sedikit tentang Vietnam. Seperti peta negara Vietnam yang sering dijuluki sexy lady, cara orang Vietnam melakukan toast saat minum-minum dan meminta kami mempraktikannya, dengan air mineral tentunya.

Perjalanan Hanoi menuju Ha Long Bay ditempuh dalam waktu empat jam. Selama perjalanan itu gue ngapain? Ngobrol sama yang lain? Nggak. Ada yang sibuk main hape, dan karena gue gak mengaktifkan paket data, ya udah gue mengamati Vietnam dari kaca mobil. Gak terlalu beda sama di Indonesia sih. Negara agraris, banyak sawah, perkebunan sayur, pohon pisang, anak sekolah naik sepeda onthel, pengendara sepeda motor dengan bawaan yang melebihi kapasitas. Mirip sama daerah Sleman di Yogya kali yah.

img_6907
Pemandangan dari depan hotel

Setelah dua jam kami menempuh perjalanan, bus kami berhenti di sebuah tempat pemberhentian, seperti rest area gitu kali ya. Bedanya rest area di Indonesia dan Vietnam adalah di Vietnam cuma ada satu bangunan besar yang berisi tempat penjualan souvenir khas kerajinan tangan berikut tempat workshopnya. Istimewanya mereka mendayagunakan mereka yang difable. Mereka membuat lukisan dengan sulaman benang. Merangkai benang di atas kain yang sudah digambari pola lukisan. Hasilnya keren-keren banget. Tema lukisan dibuat khas Vietnam sekali. Seperti kehidupan sehari-hari masyarakat Vietnam bercocok tanam, orang memancing di danau, dan seorang gadis yang memakai pakaian tradisional dengan membawa payung berdiri di bawah pohon atau dipinggiran danau dengan topi caping.

Barang-barang khas yang dijajakan mulai dari tempelan kulkas, tas kipling, anggur khas Vietnam yang di dalam botolnya ada kepala ular, juga makanan dan minuman ringan. Kayaknya teman-teman rombongan gue gak begitu doyan belanja. Paling ada yang jajan kopi dan cemilan. Kalau gue cuma ke toilet aja. Hehehe. Bangunan toilet terletak di luar dan bersih. Sambil menunggu yang lain kami juga sedikit ngobrol sama Park lebih tepatnya sih, berkenalan. Pipinya yang chubby dan wajah imutnya gak menyangka kalau dia seumuran sama kami.

Meski sudah nahan-nahan mata biar gak merem, tapi sejuknya AC mobil bikin gue ketiduran juga, dan ketika bangun, belum kelihatan juga penampakan Ha Long Bay. Gak lama kemudian, Kim menyapa kami (lebih tepat membangunkan kami yang tidur) dan mengingatkan, tidak lama lagi kami akan tiba di Ha Long Bay. Kim meminta kami melihat ke arah kanan, dan benar saja, bukit-bukit batu besar yang diselimuti pepohonan hijau bisa sedikit kami lihat. Iklim bulan Desember membuat suasana siang itu tidak panas karena matahari memang tertutup awan tebal. Mendung dan memang diselimuti kabut tipis. Foggy dan mistis. “Agh… itu Ha Long Bay!” teriak gue dalam hati. Persis seperti yang aku lihat di blognya orang-orang meski cuaca mendung, tapi aku senang.

One Day Trip ke Ha Long Bay dimulai dengan kami menaiki sebuah kapal mesin berukuran sedang yang akan membawa kami menyusuri teluk Ha Long ini. Paket trip gue ini harganya 50 US Dolar satu orang sudah termasuk makan siang di kapal. Oh iya, ada yang lucu nih masalah makanan. Berhubung kami ingin aman (halal) dalam hal makanan, maka kami bilang ke Kim kalau kami vegetarian. Kami dapat menu satu nampan besar khusus vegetarian. Isinya mie goreng, telur gulung, sedikit bakso tahu, dan bola-bola kentang. Gak lama datang makanan yang no vegie. Tauk gak, menunya apa? Semua seafood dong, ada udang bakar, ikan bakar, dan gue sama suami liat-liatan kemudian tertawa menertawakan kesialan kami.

Paling goks adalah kami sempat bekal mie goreng yang kami masak di hotel dan kami juga cuek aja mengeluarkan sambal botol belibis. Hihihihi. Kami takut makanannya aneh-aneh kan, tapi gak papa tauk menunya seafood, kami agak tenang lah makannya. Teman makan semeja kami si Park orang Korea dan pasangan campur dengan putrinya. Selesai makan gue tanya ke Zaki, “Nyesel bilang kita vegie?” Zaki jawab, “Gak papalah kita pesan menu terpisah dari mereka, itu Oppa-oppa (sebutan kakak laki-laki Korea bagi wanita) makannya banyak juga.” Wkwkwkwkwk. Emang sih, si Oppa makannya banyak.

Selesai makan, kami menaiki bagian atas kapal dan menikmati keindahan Ha Long Bay. Langit siang itu mendung, angin berhembus sedikit kencang. Suhu udara kurang lebih 10-15 derajat celcius, mirip dengan udara di Lembang Bandung musim hujan.

Foggy Ha Long Bay
Batu di tengah tersebut ada di gambar mata uang Vietnam

Kim menunjukkan kepada kami kalau pemandangan Ha Long Bay diabadikan juga sebagai gambar yang terdapat di lembar mata uang Vietnam. Kim juga menceritakan sedikit cerita atau mitos seputar Ha Long Bay. Konon batu-batu besar di teluk tersebut adalah batu-batu yang dilemparkan oleh para dewa, ketika tanah Vietnam akan diserang oleh bangsa China. Batu-batu tersebut konon menjadi penghalang bagi penjajah untuk menyerang Vietnam.

Ha Long Bay
Pemandangan di Sekeliling Ha Long Bay

Kapal kami kemudian berlabuh di sebuah dermaga kecil. Paket kami juga termasuk menaiki kapal kayu kecil. Satu kapal berisi 4-5 orang. Kami berperahu bersama Kathy dan sempat melakukan perbincangan. Ayah Kathy yang aseli Austria sudah pernah ke Bali, kemudian Ibunya Kathy kelihatan agak sebal pengen banget diajak ke Bali suatu hari nanti. Mereka sekarang tinggal di Austria dan Kathy bisa berbicara bahasa  Jerman, Thailand, dan Inggris. Emang sih, pas ngobrol sama Ibunya pakai bahasa Thai, pas sama bokapnya bahasa Jerman, kalau di sekolah Bahasa Inggris.

Mereka ke Vietnam dalam rangka liburan dan kemudian akan lanjut ke Thailand untuk merayakan natal di sana. Liburan keliling Asia dua bulan bo… Ngiri banget.

Dermaga Ha Long Bay
Dermaga tempat naik perahu kayu

Mixed Couple
Kathy dan Orang Tuanya

Perempuan Perkasa Hanoi
Pendayungnya Kebanyakan Wanita

Ha Long Bay
Penampakan Batu di Ha Long Bay

Menariknya lagi dari pejalanan kami dengan perahu kayu, adalah siapakah yang mendayung? Pendayung kebanyakan Ibu-ibu dan mbak-mbak cantik lho. Meskipun badannya kecil, tetapi tenaganya kuat banget. Lumayan kurang lebih 30 menit. Ada sih, kalau mau uji kekuatan tangan mendayung dengan kano. Mana mau si Zaki, ngedayung, dengan alasan nanti dia doang yang dayung. Hahaha. Males ah. Bahkan ada yang kano sendirian loh. Bodo ah, kami memang pemalas. Usia yah, gak bohong.

Canoing di Ha Long Bay
Canoing di Ha Long Bay

Ha Long Bay

Ha Long Bay

Ha Long Bay

 

Selesai menikmati keindahan Ha Long Bay dengan perahu kayu, kami balik ke kapal untuk mengunjungi gua dibalik bukit. Untuk mencapai gua, kita perlu sedikit menanjak. Jangan khawatir, jalurnya sudah bentuk tangga beton. Memasuki dalam goa, jangan bayangkan goa gelap dan lembab. Lampu warna-warni di dalamnya. Kuning, hijau, pink, wah berasa di club malam deh, bukan di goa. Sepanjang penyusuran ke goa, Kim menceritakan sedikit tentang goa. Cerita berasal dari mitos-mitos atas bentuk-bentuk yang terbentuk dari stalaktit dan stalakmit dalam gua. Misal ada yang berbentuk sepasang kekasih, seorang ibu dan anaknya, kera, buaya, sampai santa claus. Masyarakat Vietnam sama halnya dengan Indonesia memiliki sekali cerita atau mitos-mitos yang menarik.

Penampakan Gua
Penampakan Gua

Gua Ha Long Bay

Gua Ha Long Bay
Penampakan dari atas Gua Ha Long Bay

Berakhirnya kunjungan kami ke gua, mengakhiri perjalanan sehari kami ke Ha Long Bay, jam 5 sore kami kembali ke Hanoi. DI perjalanan menuju dermaga kami disuguhi teh khas Vietnam dan kue kacang hijau yang rasanya manis banget dan jeruk mandarin yang imut-imut. Eh si oppa lapar sepertinya. Dia yang paling banyak makan itu kue. Hihihihi.

Park, teman baru dalam perjalanan di Ha Long Bay

Pemandangan dari Dermaga Gua
Pemandangan dari atas Bukit Gua Ha Long Bay

Kue Kacang HIjau Khas Vietnam
Kue Kacang Hijau Khas Vietnam dan Secangkir Teh

Perjalanan pulang ke Hanoi melewati jalur yang berbeda dengan arah berangkat, dan karena hari itu hari Jumat, lalu lintas lebih ramai dan yang paling membuat tidak nyaman kenapa orang-orang di Vietnam senang sekali bermain klakson dan itu bikin kuping capek.

Perjalanan pulang, kami juga berhenti di rest area untuk ke kamar kecil ataupun berbelanja buat yang mau belanja. Rombongan kami yang cowok malahan asyik membahas masalah politik dan langsung menanyakan ke narasumber alias ke masing-masing warga negara. Contohnya, tentang terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika, kudeta Presiden Korea Selatan, dan sebagainya-sebagainya. Berat amat sih obrolan. Hahahahaha. Berasa lagi ikutan rapat di PBB.

Akhirnya tepat jam 20:30 kami tiba di Hanoi, dan kami yang pertama kali di antar ke hotel malam itu. Oh iya, kata si Park, hotel kami bagus. Ya iyalah kan dibayarin kantor. Hihihihi. Mau beli makan malam, kami ingat mie goreng tadi pagi belum di makan. Marilah makan mie goreng aja sama rendang. Ceritanya dietlah malam-malam. Padahal badan sudah capek banget, bawaannya pingin mandi kemudian langsung tidur. Hehehehe.

Perjalanan kami siang tadi meninggalkan pengalaman yang yang luar biasa. Ikutan grup tur yang mempertemukan kami dengan orang-orang dari berbagai negara. Oppa Korea malah bersedia memandu kami kalau kami suatu hari main-main ke Korea. Dari obrolan kami, kebanyakan mereka masih melanjutkan perjalanan keliling Vietnam seperti Danna  di Vietnam tengah dan Ho Chi Min di selatan. Bahkan ada yang lanjut ke Myanmar, Kamboja, atau Thailand. Sayangnya gak ada yang mampir ke Indonesia. Oh iyah, ketika ngobrol, kami gak bosan-bosan loh, promosi tentang Indonesia ke mereka. Cerita betapa indahnya Indonesia dan pulaunya yang banyak. Mereka sih manggut-manggut ajah dan janji suatu saat akan mampir ke Indonesia.

Ada juga yang tertarik dengan jilbab saya, menanyakan apa kami muslim, kenapa muslim begini dan begitu. Oke,lain kali akan saya ceritakan di halaman berikutnya dari blog saya ini.

Perjalanan kami esok harinya, kami lanjutkan dengan keliling Kota Hanoi. Kemana? Entahlah kami belum punya tujuan yang pasti, tapi saya yakin perjalanan kami besok pasti sama serunya dengan hari ini.

 

Sebuah Cerita tentang Ibu-ibu Hebat di Kota Tua dan Megahnya Mesjid Agung Jawa Tengah (Masih di Semarang)

Sebenarnya tulisan ini sudah nangkring di draft blog saya sejak dua bukan yang lalu, ketika saya melakukan perjalanan Yogya-Semarang-Cirebon. Punya waktu di Semarang hanya satu hari dan Kota Tua Semarang adalah pilihan kami berikutnya setelah Lawang Sewu. Sengaja ingin posting tulisan ini dalam rangka hari Ibu.

Mengunjungi kota tua karena ya itu lagi, lihat postingan di IG. Saya IG mania? Ya boleh dibilang begitu. Meski follower saya gak banyak, tapi saya banyak dapat ilmu di IG. Hehehe, mari kembali ke laptop. Kami tiba di kota tua tepat pukul dua belas siang. Matahari emang lagi lucu-lucunya. Ternyata suhu siang itu mencapai tiga puluh enam derajat celcius.

Mobil kami parkir tepat di depan Taman Sri Gunting. Keluar mobil, ampun panasnya. Kami langsung mengambil duduk di taman yang merupakan tempat paling nyaman siang itu. Gimana nggak. Pohon rindang, semilir angin dan pemandangan kota tua seperti Gereja Blenduk, Kafe Spiegel, dan deretan penjaja barang-barang unik di Pasar Seni benar-benar bikin adem.

Ikon Kota Tua Semarang

Kota Tua Semarang
Lalu Lintas di Kota Tua

Gedung Bersejarah Spiegel
Gedung Spiegel

kota Tua
Taman Kota Sri Gunting

Awalnya saya bermaksud ngubek-ngubek Kota Tua, mencari objek foto-foto yang keren, eh tapi baru jalan sedikit ke arah kafe Spiegel, aduh panasnya gak tahan. Akhirnya ya duduk ajah di depan Taman Sri Gunting, sambil menikmati semangka dari penjaja buah dan gorengan dengan gerobak dorong. Murah meriah, semua yang dijual di dalam gerobaknya harganya seribu rupiah. Wah panas-panas terik begini paling cocok memang ngemil semangka. Siang itu saya membeli semangka dan papaya. Lima ribu saja semua. Padahal awalnya saya berharap Zaki mengajak masuk ke Kafe Spiegel yang ber-AC dan menikmati segelas cappuccino dingin. Tapi harapan tinggal harapan. Hahahhaha. Makan buah lebih sehat kan? Halah. Ngeles.

Taman Kota Sri Gunting

Taman Kota Bagai Oase di Tengah Kota Semarang yang Panas Terik

Ketika saya ingin mengambil foto taman dari sudut Pasar Seni, ada si dua Ibu-ibu yang sedang duduk terlihat canggung melihat kamera saya mengarah ke mereka. Lalu saya tersenyum ke mereka. “Eh gak papah Bu. Duduk saja,” Saya menenangkan. Kemudian saya menghampiri mereka. Ikut duduk-duduk menikmati Semarang yang sukses membuat peluh saya terus mengalir. Iseng-iseng saya ngobrol deh sama dua Ibu-ibu itu.

Sebut saja Bu Parni dan Bu Marni. Melihat dari kostum mereka saya menduga mereka petugas parkir di situ. Menggunakan rompi kuning dengan peluit tergantung di leher. Benar saja ketika ada bus pariwisata lewat, Bu Parni sigap berdiri dan memberi aba-aba untuk bus bisa parkir. Tapi Bu Parni kurang beruntung. Bus itu hanya lewat saja. Tidak berhenti di kota tua. Bu Parni kembali duduk dengan wajah yang tetap tersenyum. Mungkin dia menertawakan dirinya yang terlalu semangat, eh ternyata bus-nya tidak parkir.

Iseng-iseng saya mengajak kedua Ibu itu berbincang-bincang. Sudah bertahun-tahun mereka menjadi juru parkir di kota tua. Bekerja dari jam delapan pagi sampai jam dua belas malam. Rumah mereka tidak dekat, di pinggiran Semarang. Bu Parni yang berbadan agak besar mengaku mengayuh sepeda ontel dari rumahnya dengan perjalan 45 menit. Ia bekerja menjadi tukang parkir demi sang cucu yang berusia enam tahun. Anak Bu Parni sendiri sekarang sedang menjadi TKW di Hongkong. Meski sesekali kiriman uang datang, ia tidak betah hanya berdiam diri di rumah dan tidak menghasilkan apa-apa.

Lain lagi dengan Bu Parni. Bu Marni nenek lima orang cucu. Beliau bergantian menjaga parkir dengan sang suami. Mereka sebulan dibayar hanya tiga ratus ribu rupiah dari Pak Bos. Entah siapa Pak Bos yang dimaksud. Boro-boro mereka mengharapkan upah minimum regional. Mereka hanya berharap tips dari para pemilik kendaraan di situ. Paling senang kalau bus-bus besar atau bus pariwisata yang parkir. Biasanya tips yang diberikan lumayan besar.

Panas terik kota tidak mematikan semangat mereka. Kerja lebih dari lima belas jam sehari, beratap langit yang kadang hujan kadang terik, dengan bayaran tiga ratus ribu setiap bulan. Pendapatan mereka harus dibagi untuk menghidupi keluarga dan juga makan sehari-hari ketika bekerja. Mereka tidak kenal lelah demi cucu-cucu di rumah. Tidak malu atau gengsi meski mereka wanita. Mereka wanita-wanita perkasa. Pahlawan dalam keluarga.  Membayangkan bagaimana mereka setiap hari menjalani hidup, kok rasanya luar biasa yah. Dari jam sembilan pagi hingga jam sebelas malam. Badan rasanya kayak gimana ya? Ya, memang sejatinya setiap wanita memang diciptakan demikian. Pejuang dalam kehidupan.

Tiba-tiba saya ingat, masih punya sedikit yang bisa diberikan buat mereka. “Sebentar ya Bu, saya ada sedikit oleh-oleh buat Ibu-ibu. Dikit tapi ya Bu.” Kata saya. Kemudian bergegas ke arah mobil yang diparkir. Setelah saya memberikan sedikit oleh-oleh, si Ibu seketika tersenyum dan mengucapkan terima kasih yang panjang sekali. Berulang kali juga saya mengaminkan. “Terima kasih juga doanya Ibu-ibu. Semoga saya balik lagi ke Semarang, nanti kita ketemu lagi ya Bu. Semoga sehat terus ya Ibu-ibu. Salam buat cucu-cucu.” Kata saya menutup perjumpaan kami siang itu. Kemudian saya minta izin untuk kami foto bareng, dan kali ini Ibu-ibu tidak takut lagi dengan kamera. Sebulan kemudian saya balik ke Semarang, tapi malah gak sempat menemui mereka. Payah ya saya. 😦

Ibu-ibu Perkasa Penjaga Parkir kota Tua
Ibu-ibu Perkasa Penjaga Parkir Kota Tua

Dari Kota Tua, perjalanan kami lanjutkan untuk sholat Zuhur di Mesjid Agung Jawa Tengah. Namanya Mesjid Agung pasti besar dan bagus. Jadi destinasi yang sayang kalau dilewatkan.

Berbekal google maps kami menuju Mesjid Agung Jawa Tengah yang cukup besar dan luas. Sampai kami salah parkir. Bukan di tempat sholat tapi parkiran resepsi pernikahan. So, bisa sih, mampir numpang makan, tapi sayang gak kenal sama yang punya hajat dan kostum kurang representatif juga sih. Hihihihi.

Mesjidnya besar, ventilasinya bagus. Tetapi karena tidak jauh dengan pantai, so udara yang bergerak alias angin tetep ajah semilir hot gimana gituh. Bangunan dengan banyak ventilasi juga ternyata membuat burung-burung suka masuk ke Mesjid. Hati-hati yah pas sholat ada kotoran burung. Aduuh, gimana yah kalau gitu??

Penampakan Kemegahan Mesjid Agung Jateng

Penampakan Dalam Mesjid Agusng Jawa Tengah

Alquran Raksasa di Mesjid Agung Jawa Tengah
Alquran Raksasa

Puas berkeliling di dalam mesjid. Saya keluar dan bermaksud mencari lokasi yang pas untuk mengambil foto masjid secara utuh. Tapi susah, maklum bukan profesional. Pake drone kali yah baru sempurna. Eh tapi tunggu dulu. Di depan Masjid ternyata ada sebuah menara. Menara yang sepertinya belum jadi seratus persen. Di dalam menara yang sangat tinggi itu terdapat Museum Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Tengah di lantai dua dan tiga. Sejarah Islam di Jawa adalah proses perubahan atau proses alkulturalisasi atau perpaduan budaya dari masa Hindu ke Islam. Tidak heran banyak masjid-masjid lama di Jawa dengan arsitektur mirip dengan bangunan Pura. Untuk masuk ke menara AL Husna pengunjung dikenakan  tiket masuk tujuh ribu rupiah.

Selain Museum, kita juga bisa naik dengan lift hingga ke lantai 19 yaitu puncak menara. Dari puncak menara, kita bisa melihat pemandangan sekitar masjid dan pesisir Semarang. Bahkan hingga lautan lepas dengan teleskop. Kira-kira seperti di puncak Monumen Nasional. Angin bertiup sedikit lebih kencang di puncak menara.

Waktu itu si Zaki memilih makan di warung dekat parkiran mobil. Sedangkan saya ke atas menara. Hehehe. Prioritas kami beda. Dia mah urusan perut nomor satu. Kalau sudah begitu, ya udah ada waktu sebentar buat saya jadi solo traveler. Hore. Hihihihi.

Mesjid Agung Jawa Tengah
Dilihat dari depan Menara AlHusna

Kalau diperhatikan desain masjid ini seperti berkiblat ke Mesjid Nabawi di Madinah Arab Saudi. Keempat pilar payung yang bisa membuka dan menutup secara otomatis sesuai kebutuhan. Al-Husna Tower, apakah meniru Zamzam Tower di Mekkah Arab Saudi sana? Hehehe. Terinspirasi mungkin kali yah.

Menara Al Husna
Al Husna Tower

 

Mesjid Agung Jawa Tengah

Tidak lama saya di Al Husna Tower, saya menghampiri Zaki yang lagi-lagi asyik menikmati kupat tahu Semarang. Ya ampun padahal dari Lawang Sewu kami sudah membeli kupat tahu yang  kami makan di mobil ketika menuju Mesjid Agung. Satu bungkus berdua dan itu enak banget. Ada ceritanya juga, nanti deh ya diceritain. Soalnya si Bapak mau aja ngeladenin kami yang bawel tanya-tanya. Hehehehe. Bahkan saya iseng merekam perbincangan kami. Seperti bikin vlog ala-ala gitu.

Sebelum meninggalkan parkiran, saya membeli jus tomat. Sialnya, gelas jusnya bau kecoa. Belum habis jus, langsung saya buang. Bau kecoaknya itu loh, bikin pusing. Perjalanan kemudia kami lanjutkan. Tujuan kami berikutnya adalah Cirebon, kota perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Senja sore mengiringi kami menuju Cirebon. Perjalanan kali ini punya cerita tersendiri. Selain mengagumi destinasi bangunan-bangunan peningggalan Belanda, mengagumi kemegahan Mesjid Agung, belajar sejarah Islam di Jawa, dan bisa bertemu dengan Ibu-ibu hebat di Taman Sri Gunting. Bersyukur bisa belajar dari kisah hidup mereka. Perjalanan memang tempat pembelajaran yang tidak ada habis-habisnya. Jadi teruslah melakukan perjalanan dan teruslah jadi manusia pembelajar. Oh iya, selamat hari Ibu untuk semua Ibu-ibu hebat di dunia. Setiap Ibu diciptakan untuk menjadi pahlawan dalam kehidupan.

 

 

Nostalgia Masakan Simbah, Mencicipi Sayur Mangut (kuliner khas Semarang)

Pagi itu kami tiba di Klenteng Sam Poo Kong jam 8:30. Bukannya bergegas masuk, tujuan kami adalah mencari warung makan. Iyah, berhubung hotel budget dan promo pula, kami tidak dapat sarapan. Kami mengganjal perut dengan salak dan jeruk hasil bawaan dari Hotel Jambuluwuk di Yogya kemarin. Hihihi. Gak masalah.

Di depan gerbang sebelah kanan Klenteng Sam Poo Kong banyak penjaja minuman dingin. Di belakangnya ternyata ada beberapa warung makan. Kami memilih warung yang waktu itu ada pengunjungnya. Saya melihat ada nasi pecel. Lumayanlah biar sehat meski lagi liburan. Setelah kami duduk, si Ibu warung menawarkan kami untuk mencoba sayur mangut khas Semarang yang baru saja matang. Warung makan yang sederhana berikut dapurnya dimana saya bisa melihat si Ibu sedang mengaduk-ngaduk sayur yang baru mendidih itu.

Warung Makan Bu Kelik
Warung Makan Bu Kelik

Ibu Kelik sedang Masak
Bu Kelik menghidangkan sayur yang baru saja matang

“Sayur mangut apa itu Bu?” tanya saya. “Ini mbak, sayur kuah santan, ada ikan manyung. Enak mbak, suegerrr, pedes.” Jawab si Ibu. Nah saya makin bingung. Apapula itu ikan manyung. Saya kembali bertanya, dan si Ibu menjelaskan, kalau Ikan Manyung itu ikan pari yang diasapi, lalu di sayur. Namanya sayur mangut. Apaaa??? Ikan pari? Pari yang lebar itu? Pari manta yang di laut lepas? Bayangan ikan pari menari-nari di otak saya. Saya menjawab dengan ragu. “Euhm… saya makan nasi pecel aja bu, tapi boleh gak diguyur kuah sayurnya dan ikannya sedikit saja. Pengen coba Bu.”

Sayur Mangut Ikan Pari
Sayur Mangut Ikan Pari

Yess. Akhirnya saya mencoba sayur mangut. Benar saja, sayur mangut berpadu dengan nasi pecel, hasilnya pedesnya dobel. Ditambah cuaca Semarang yang lumayan panas, membuat keringat saya bercucuran.

Sayur Mangut Kombinasi Pecel
Sayur mangut kombinasi pecel

Menikmati sayur mangut, mengingatkan saya akan masakan simbah di kampung. Masakan khas Jawa. Kalau simbah saya, masak ala sayur mangut dengan isi belut yang digoreng terlebih dahulu. Kuah santan yang tidak begitu kental, rasa gurih santan berpadu rempah dan potongan cabai rawit merah yang bikin melek karena pdesnya. Belum lagi aroma ikan yang diasapi. Itu khas makanan Jawa banget. Apalagi kalau dimasak menggunakan kayu bakar. Seperti masakan simbah saya dulu.

Saya jadi teringat simbah saya  yang sudah lama meninggal. Meski begitu, rasa masakannya masih melekat di indra pengecap saya. Luar biasa yah masakan simbah. Aduh saya jadi kangen mbah putri. Pagi itu saya makan dengan bahagia campur terharu.

Di warung makan sederhana itu, Bu Kelik tidak sendiri ada yang mebantu mencuci piring. Namanya Bu Mia (kalau gak salah, padahal sudah kenalan, tapi gak dicatet dan seperti ini selalu terulang. Maaf ya), beliau menawarkan kami mau minum apa. Cekatan Bu Mia menyiapkan pesanan minuman kami.

Zaki memilih hanya makan nasi pecel ditemani empat buah tahu bakso. Memang Zaki kurang suka masakan olehan ikan begitu. Hanya ikan tongkol balado warung Padang yang dia suka. Entahlah. Bumbu pecel nya enak, pedas manis.

Pecel dan Tahu Bakso
Ini menunya Zaki yang udah berantakan lupa di foto (pecel dan tahu bakso)

Selesai sarapan yang buat saya lumayan berat itu, saya masih penasaran melihat akan masak apalagi si Ibu. Si Ibu mau masak daun papaya ternyata. Si Ibu menjelaskan kalau siang nanti menu warungnya akan lebih bervariasi. Ada kerang, kikil, oseng daun papaya, dan masih banyak lagi. Total harga makanan yang harus kami bayar hanya dua puluh satu ribu rupiah. Nasi pecel enam ribu seporsi. Sayur mangut dengan ikan hanya tiga ribu. Tahu bakso sepotong seribu. Ya ampun, murah banget yah. Betah banget nih di Semarang kalau begini terus.

Sayur Mangut Warung Bu Kelik
Sajian Warung Ibu Kelik

Bu Kelik bergaya
Ibu Kelik gak mau kalah ikut bergaya

Sebelum meninggalkan warung saya minta izin untuk mengambil foto Bu Kelik dan Ibu yang bantu-bantu cuci piring dan melayani pembeli. Eh, mereka senang banget. Aduh saya jadi merasa punya hutang untuk memberi hasil jepretan saya ini ke beliau. Semoga saya diizinkan lagi ke Semarang ya bu, dan bisa mampir ke warung Ibu lagi.

 

Semarang (Edisi : Simpang Lima dan Kucing Lawang Sewu)

Setelah dari Yogya dan kemudian mampir ke Klaten, kami menuju kota yang akan menjadi tujuan utama kami, Semarang. Saya sendiri sudah pernah ke Semarang, tapi waktu itu pulang pergi di hari yang sama. Boro-boro nginep, makan siang pun terburu-buru. Cuma say hello sama toko oleh-oleh dan chek in di Bandara Ahmad Yani aja.

Agak bikin panas ketika teman saya mengatakan, “Ada apa sih di Semarang?”. Waduh. Buat saya, selama itu tempat adalah tempat yang belum pernah saya kunjungi, selalu ada yang menarik dan special buat saya. Bahkan sampai sekarang saya masih penasaran dengan yang namanya Pasar Pagi Asemka atau bahkan ke hutan mangrove di Pantai Indah Kapuk. Setiap perjalanan adalah unik dan pasti akan menghasilkan cerita yang berbeda. Jadi buat saya, Semarang salah satu kota besar di Jawa dan wajib banget buat saya jalan-jalan di sana.

Tiba di Semarang hari sudah gelap. Tujuan pertama kali apalagi kalau bukan makan. Yah urusan manusia yang satu ini memang repot kalau terlambat. Apalagi buat suami sehabis menyetir mobil kurang lebih 6 jam dari Klaten.

  1. Simpang Lima

Simpang Lima Semarang
Simpang Lima Semarang

Simpang Lima adalah tujuan pertama kami mengunjungi Semarang. Selain icon Semarang kami juga mau cari makan. Dari hasil riset saya sebelum perjalanan,di kawasan ini banyak tempat makan. Benar saja. Setibanya di sana, kami sampai bingung mau makan apa dan yang mana. Akhirnya kami memutari kawasan itu terlebih dahulu. Simpang Lima mengelilingi  alun-alun Semarang yang merupakan tempat hiburan rakyat. Sepeda yang dihiasi lampu warna-warni dengan berbagai bentuk meramaikan suasana Simpang Lima.

Pilihan menu makanan khas Jawa sepertinya ada semua di Simpang Lima. Kami memilih soto khas Semarang untuk makan malam kali ini. Soto disajikan dengan hangat yang berlebihan (panas) dengan mangkuk kecil nan imut berisi tauge, kubis, bihun, dan suwiran ayam. Kuah soto bening dan agak kental karena bumbu rempahnya. Ditemani dengan aneka lauk seperti perkedel kentang, tempe dan tahu bacem, atau pun aneka jeroan, soto memang paling pas disantap di malam selepas hujan. Total makan malam itu enam puluh ribu rupiah saja. Itu suami sudah dua mangkuk, satu porsi soto lima belas ribu.

Sambil makan malam, kami juga menyempatkan cari-cari penginapan yang murah untuk bermalam. Kami pilih yang paling murah di booking.com. Alasan pakai booking.com, karena gak perlu bayar dulu. Jadi kalau tidak berkenan, ya dibatalin aja.

Berbekal arahan google map, kami mencari hotel yang dimaksud, Nozz Hotel. Sebenarnya lokasi hotel budget ini terbilang strategis. Entah kenapa simbah google kasih jalan kami lewat gang-gang kecil. Awalnya bahkan kami hamper membatalkan menginap setelah melihat lahan parkir yang tidak cukup untuk mobil kami. Tapi suami kemudian turun dan ternyata staf hotel meyakinkan kalau masih tersedia parker dan aman. Oke, turunkan barang, malam ini tidur disini. Ulasan mengenai Nozz Hotel akan saya tulis nanti ya.

2. Klenteng Sam Poo Kong

Klenteng Sam Poo Kong
Klenteng Sam Poo Kong

Keesokan paginya saya googling, mau kemana kami di Semarang ini. Tujuan utama sudah pasti Lawang Sewu. Sebagai icon Kota Semarang, tentunya kami juga penasaran. Setelah membereskan urusan hotel, kami memilih mengunjungi Klenteng Sam Poh Koong sebagai tempat tujuan pertama kami, dengan pertimbangan cuaca panas dan semoga belum terlalu ramai kalau pagi-pagi.

Klenteng Sam Poh Kong adalah Klenteng bersejarah di Semarang. Bangunan ini tidak lepas dengan seorang yang patungnya tinggi besar berada di tengah-tengah komplek Klenteng, Laksamana Cheng Ho. Kalau kami kesini terus terang memang ingin melihat kemegahan Klenteng dan tentu saja berfoto ala turis. Kalau sejarah yang lebih lengkap tentu sudah ada di mana-mana kan. Hehehehe.

Klenteng Sam Poh Kong terdiri atas beberapa bangunan klenteng. Selain klenteng di sana juga ada monumen Laksamana Cheng Ho yang ukurannya cukup besar. Ada juga beberapa patung prajurit laksamana yang tertulis nama penyandang dana pembangunan patung-patung tersebut. Unik yah. Awalnya saya mengira itu patung namanya kok kekinian dan Indonesia banget. Tapi saya salah. Mereka penyandang dana. Bagi mereka yang percaya, itu semacam sedekah seperti misalnya kita membantu pembagunan masjid misalnya.

Patung yang di Prasastinya ada nama Penayndang Dana Pembuatnya
Patung dengan Prasasti nama Penyandang Dana Pembuatnya

3. Ada Kucing Lucu Misterius di Lawang Sewu. ((((LUCU))))

Tujuan kami berikutnya apa lagi kalau bukan Lawang Sewu. Dikarenakan kami tiba di Semarang malam dan sudah terlalu leha juga, kami baru sadar kalau letak Lawang Sewu tidak terlalu jauh dari pusat kota. Bahkan banyak yang bilang seharusnya kami berkunjung ke Lawang Sewu di malam hari. Lebih menantang. Menantang apa nih? Ya apalagi kalau bukan sedikit menguji adrenalin. Aduh makasih deh yah. Terus terang say amah gak tertarik. Numpang lewat ajah kalau malam mah.

Memasuki gerbang Lawang Sewu yang cukup megah ini di siang hari memang jauh dari kesan angker apalagi mistis. Saya seperti berkunjung ke bangunan besar, museum. Waktu itu tidak ada rasa merinding, deg-degan, bulu kuduk berdiri, dan sebagainya dan sebagainya.

Memasuki Lawang Sewu dimulai dari tulisan start atau dimulai dari sini. Kami ikuti saja. Kebetulan waktu itu, saya berbarengan dengan sepasang kekasih (sepertinya) dan sepasang sahabat remaja putri. Kami berjalan tidak berbarengan. Tetapi kemudian lama-lama saya agak jengkel (bukan sirik yah, saya kan juga bareng suami) sama pasangan mbak dan mas di depan kami. Kejengkelan kami disebabkan di setiap langkah dan sudut si mbak selalu berpose, dan kemudian mas-nya motoin. Aduh, kapan gue fotonya dan jadinya jalan kita kan lama banget. Belum setiap sudut si mbak beberapa kali gaya, dari angel yang berbeda pula. Alamak, gak sabar saya. Akhirnya saya memilih untuk mempercepat jalan dan kalau bisa kami ada di depan mereka. Hahaha.

Kemegahan Lawang Sewu
Kemegahan Lawang Sewu

Asyiknya Lawang Sewu itu sih sebenarnya ya suka-suka hati ajah gedung mana yang ingin dimasuki terlebih dahulu. Jadi ya kalau di situ rame silahkan berbelok atau berpindah gedung yang lebih sepi. Jadi bebas deh. Mau foto atau mau membaca sejarah tetang perekeretaapian di Indonesia.

Selfie dikit Boleh Dong
Selfie di Lawang Sewu

Foto Wajib di Lawang Sewu
Foto Wajib di Lawang Sewu

dscf5619
Sejarah Perkerreta Apian Indonesia

Selain gedung yang memang khusus sebagai museum, yang bercerita sejarah berdirinya Lawang Sewu, di gedung bagian lain ada sejarah yang menceritakan tentang berdirinya stasiun-stasiun besar di Indonesia.

Belajar Sejarah Perkeretaapian Indonesia

 

Beralih ke lantai dua bangunan samping Lawang Sewu, ternyata kosong. Kosong berarti tidak ada apapun di dalamnya. Waktu itu bahkan saya sempat berceloteh kalau kami bisa bermain bulu tangkis di sana. Setiap sudut Lawang Sewu memang sangat instagramable banget. Mungkin kalau yang ilmu fotografinya keren wah pasti luar biasa. Berhubung sebagai model saya sangat tidak berbakat, begitu juga mengambil foto pun asal sekenanya saja. Tapi yah paling tidak saya cukup puas siang itu. Jeprat jepret dan bergaya dikit-dikit.

 

Dari lantai dua, bagian belakang Lawang Sewu di mana dari kami berdiri bisa melihat pusat perbelanjaan besar di Semarang. Tetapi ketika kami melihat ke bawah, kami melihat seorang Pak Tua sedang memandikan kucing. Menariknya, setelah diperhatikan kucingnya bukan kucing biasa atau kucing kampung. Kucing itu seperti jenis kucing angora. Ukurannya besar, bulunya lebat dan halus. Kalau tidak salah jumlahnya empat ekor. Warnanya hitam dan coklat. Dari kejauhan seperti anak harimau.

Pak tua yang kurang lebih berusia 70 tahuanan itu memandikan kucingnya dengan selang air. Herannya kucing itu tidak takut air. Kucing-kucing itu sangat nurut dan menikmati setiap basuhan tangan Pak Tua. Setelah mandi kucing-kucing dimasukkan ke kandang yang ukurannya tidak terlalu besar. Kurang lebih satu kali satu meter. Siapa yah Pak Tua itu dan kenapa memelihara kucing di bangunan milik pemerintah ini.  Karena jarak kami jauh, jadi saya tidak bisa bertanya. Meski semakin banyak pertanyaan di kepala saya. Baoak itu siapa? Kerja di sini? Rumahnya di mana? Kenapa pelihara kucing di sini? Ah ssaya suka sebel sama rasa kepo sa yang berlebihan ini. Udah ah. “Turun yuk.” Suara Zaki menyadarkan lamunan saya. Kami pun turun.

Pintu keluar Lawang Sewu letaknya berbeda dengan pintu masuk. Di pintu keluar ada satpam yang sedang berjaga di pos. Iseng-iseng saya bertanya ke Pak Satpam itu. “Pak itu di belakang ada Pak Tua sedang memandikan kucing. Kucingnya siapa?” tanya saya. “Kucingnya Bapak itu mbak.” Jawab si Pak Satpam lagi. “Kalau malam kucingnya dilepas mbak, kalau siang dikandangkan.” Tambah Pak Satpam. Terus terang saya langsung terkejut. “Hah? Dilepas? Kenapa dilepas kalau malam Pak. Kok aneh?” tanya saya lagi. “Yah, mana saya tahu mbak, tanya saja ke Si Bapaknya sendiri sana.” Jawab si Bapak. Sebelum saya berpikir kembali atau bahkan menghampiri Bapak tua yang sedang memandikan kucing, Zaki sudah terlebih dahulu menarik lengan saya keluar sambil mengucapkan makasih ke Bapak Satpam.

Nah buat yang penasaran, silahkan ke Lawang Sewu dan cari Bapak Tua pemilik kucing itu. Hihihihi. Saya mah cukup sampai di situ aja yah. Pengecut? Iyah, emang. Bodo deh dibilang gitu juga. Wong sama kucing bayi aja rada gimana gitu. Apalagi itu, kucing raksasa yang malam-malam berkeliaran di Lawang Sewu. Aduh udah deh yah gak usah dibahas. Buat yang mau investigasi boleh. Coba deh malam-malam ke sana terus cari itu kucing yang dilepas. Aduh say amah mending bobo kalau malam. Dibayar juga makasih.

Jalan-jalan Semarang belum selesai, bersambung di next post yah. Berikutnya kami akan mengunjungi Kota Tua Semarang dan Mesjid Agung Jawa Tengah. Dilanjutkan perjalanan ke arah Jakarta.  Ikutin terus ya.

 

Yogya-Jakarta Lintas Pantura (Part 1 : Yogya-Klaten)

Aduh, saya malu sama para blogger yang patuh sama janjinya mau nge-post rajin. Apalah saya ini yang hanya bisa janji tapi susah untuk menepati. Hampir sebulan nih vakum gak nge-post. Tapi tnang meski gak nge-post, tapi alhamdulillah masih nulis di draft. Malesnya masukin foto dan ngedit itu yah. Hahahaha. Kali ini saya mau menceritakan perjalanan saya dari Yogya menuju Jakarta mampir ke Klaten. Kemudian menyempatkan main-main ke Semarang dan Cirebon.

Waktunya bertepatan ketika saya ada tugas ke Yogyakarta dalam rangka menghadiri Pertemuan Ilmiah Tahunan yang diadakan oleh Ikatan Apoteker Indonesia. Suami yang kerja di bagian marketing pun mengatur waktu, supaya punya alasan untuk menengok customer di Yogya. Saya pun berangkat lebih dulu ke Yogya dengan pesawat. Suami mengendarai mobil ke Yogya. Wow suatu prestasi buat suami, mengingat rute yang paling jauh sebelumnya adalah Bandung. Tugas kantor saya dan suami selesai, suami jemput dan dimulailah perjalanan darat kami dari Yogya menuju Jakarta.

Kami sebenarnya terinpirasi dari Komik karya Benny Rahmadi yang berjudul Tiga Manula jalan-jalan ke Pantura. Sebenarnya kami sudah pernah menyusuri pantura beberapa kali dalam rangka mudik Lebaran menuju kampung halaman suami di Klaten. Dalam komik tersebut digambarkan keseruan yang dialami tiga manula selama jalan-jalan ke Pantura. Kami pun tertantang untuk melakukan napak tilas jalur pantura. Ceileh napak tilas.

Bedanya, kali ini kami ingin lebih meresapi perjalanannya. Bawa mobil, nyetir sendiri, melewati kota-kota di pantai utara Jawa, singgah di tempat-tempat wisata yang belum pernah kami kunjungi ataupun sekedar makan di pinggir jalan. Pokoknya maunya perjalanan yang santai dengan sejuta makna tentunya.

Berhubung yang menyetir mobil hanya suami seorang, dan belajar mengendarai mobil hanya selalu menjadi wacana buat saya. Hormon adrenalin saya sepetinya selalu berada di titik terendah dan sepertinya saya tidak berniat untuk meningkatkan kadarnya. Pengaruh umur kah? Terserah. Hahahaha. Pokoknya saya belom berani buat menyetir mobil. Titik.

Ngapain aja kami di Yogya? Hahaha buat kami yang hampir setiap tahun ke Yogya, jadinya  kali ini kami hanya akan menengok adik-adik di Yogya, kulineran, dan jalan-jalan dekat hotel saja.

Kamis menjelang maghrib kami jemput Nida, adik saya yang lagi break koas dan mau PTT. Kami janjian untuk makan Seafood di restoran yang lagi hits di Yogya dengan adik kami yang sedang menimba ilmu di Universitas Islam Indonesia.

1. Makan Seafood Kekinian di Jakal

Crabby Crab Kaliurang
Seafood Time at Crabby

Hits atau tidaknya suatu tempat bisa dilihat dari usia pengunjungnya. Kami berasa paling om-om dan tante-tante gitu. Kalau saya sih pasti masih masuk banget untuk masuk kategori anak kuliahan yah. Hehehe. Rata-rata mereka datang ada yang berpasangan, ada juga yang segerombolan seperti sedang merayakan ulang tahun. Belom lagi kehebohan yang mereka timbulkan. Teriakan-teriakan ala gadis imut dan manja sesekali terdengar memekik telinga. Bayangin sendiri deh ya gimana.

Kira-kira dua puluh menit, pesanan kami akhirya datang. Untuk makan kami disediakan alas dengan kertas buram, tettapi agak tebal, alat bantu potong kepiting, dan celemek yang bisa dibilang bau macam kembang tujuh rupa tapi kembangnya bau eek ayam. Hahahaha. Pokoknya baunya gak enak banget deh. Daripada nanti itu bau berpindah ke baju, kami memilih untuk tidak memakainya.Lebih memilih berhati-hati lebih saja.

Rasa sajian kepiting yang kami pilih adalah kepiting saus padang. Tidak hanya kepiting, kami memilih paket. Paket tersebut berisi kepiting, udang, kerang, dan jagung rebus. Saya yang memang tidak terlalu suka kepiting karena males sama cangkangnya, memilih udang dan kerang. Rasanya biasa aja sih buat saya. Bumbunya kurang berasa. Level 3 dari yang tertinggi 4 saja kurang pedas buat kami. Bumbu kurang menyerap, yah nilainya enam deh. Tapi harganya sesuai kantong mahasiswa sih. Murah. Paket lengkap hanya dua ratus ribuan.

Sangat disayangkan lagi, tempat sholatnya sangat alakadaranya sekali. Seperti kamar tidur karyawan warung yang disulap jadi mushola dadakan. Bau khas kamar anak cowok. Mukenanya juga khas mukena tempat umum dengan tingkat kebersihan 2 dari 5. Maaf. Itu saja sudah mengurangi nafsu makan saya malam itu. Tapi ya karena lapar, udah ajalah ya kita makan.

Ketika hidangan belum tersaji, adik saya Nida bermaksud mengajak kami ke tempat hits berikutnya di Yogya. Es krim gelato. Eh Dek Naufal mau les Bahasa Inggris, jadilah kami putuskan bubar saja setelah makan. Kami pun balik ke hotel tempat suami menginap, di Jambuluwuk. Kapan-kapan deh ya saya tulis di blog reviewnya. Kapan yah? hehehe.

2. Jalan-jalan tanpa Tujuan di Malioboro

Pagi-pagi saya memaksa suami saya jalan-jalan ke Malioboro. Tepatnya sih ke Pasar Beringharjo. Pengen tahu ajah pagi-pagi itu gimana penampakannya. Sebelumnya mampir dulu ke restoran, siapa tauk sarapan sudah siap. Eh tapi, belum. Jadilah kami langsung cus ke Malioboro. Awalnya saya maksa ke Malioboro berjalan kaki, tapi dengan alasan jauh saya mengalah. Kami akhirnya naik mobil. Mau naik becak dari depan Hotel Jambuluwuk tempat kami menginap 50.000. Ups, lumayan yah.

Pasar Beringharjo
Pasar Beringharjo

Di sepanjang jalan Malioboro sekarang sudah tidak boleh parkir. Parkir tersedia di dalam kawasan  Benteng Vrederburg. Malioboro pagi itu masih sepi. Hanya ada beberapa pedagang asongan tas batik yang masih duduk-duduk santai menungu calon pembeli. Beberapa penjaja pecel dan gudeg sudah ramai diserbu mereka yang mencari sarapan. Ealah, apa itu, ternyata Pasar Beringharjo pun pagarnya masih tertutup dan sedang di pel. Hihihihi. Mari kita bantu si Bapak ngepel aja yuk. Tentu saja hal itu membuat si Zaki senengnya bukan main. Apalagi kalau bukan dengan begitu peluang saya belanja lenyap. Beuh, puas deh.

Malioboro
Malioboro

Malioboro
Malioboro masih sepi

Lelah menyusuri Malioboro yang masih sepi, perut minta diisi. Kami memutuskan untuk sarapan di hotel aja. Gak mau rugi kan. Tapi ternyata, ada acara senam pagi bersama yang diselenggarakan sebuah komunitas. Untuk itu mereka juga menutup akses jalan kami pulang. Oke baiklah. Rejekinya bakul gudeg deh, akhirnya kami menikmati seporsi gudeg di pelataran Beringharjo.

Selesai makan, kami memilih menghampiri acara senam pagi tersebut ke arah Monumen Titik Nol Kilometer. Pesertanya cukup banyak dan ramai. Warna-warna sponsor mewarnai kaus yang dikenakan, goody bag, dan stand-stand ikut meramaikan acara senam bersama tersebut. Alih-alih ikut senam, kami memilih duduk-duduk cantik di bangku di sepanjang trotoar nol kilometer. Memperhatikan betapa semangatnya si Bapak yang berdiri paling depan mengikuti gerakan sang instruktur senam kenamaan, Lisa Natalia. (Buat yang gak tauk Lisa Natalia, googling aja ya. Ketauan deh zaman kita berbeda) 🙂

Senam Pagi Komunitas Ikatan Apoteker Indonesia
Senam Pagi Komunitas Ikatan Apoteker Indonesia

Memperhatikan lalu lintas Yogya pagi hari yang mulai ramai dengan mereka aktivitas pagi. Seperti berangkat kerja atau sekolah. Menikmati bangunan-bangunan tua seperti Kantor Pos, Gedung Bank Indonesia,dan Gedung Bank Negara Indonesia.Sempat mampir ke kantor pos, maksud hati mau mengirimkan kartu pos. Eh kok yah gak ada yang jual kartu pos yah. Ya sudah, batal deh.

Jam sembilan tepat akhirnya acara senam bersama selesai. Horeee. Kami pun segera kembali ke hotel. Bersih-bersih lalu chek-out deh. Lanjut ke Klaten.

4. Sholat Jumat di Mesjid Raya Klaten dan Silturamhmi

Sebelum ke Klaten, kami menyempatkan untuk mampir membeli titipan Bakpia Kurnia Sari terdekat. Harus merek Kurnia Sari? Iyah harus. Rasanya lebih lembut dan lumer di mulut. Cobain deh. Perjalanan Yogya – Klaten memakan waktu kurang lebih dua jam. Berhubung hari itu hari Jumat, kami memutuskan mengunjungi Mesjid Raya Klaten yang baru untuk sholat Jumat. Bangunan tersebut berdiri di atas tanah yang sebelumnya adalah terminal. Terminal dipindah, dan berubah menjadi mesjid kebanggan warga Klaten.

Di daerah Jawa Tengah, memang tidak aneh kalau wanita ikutan sholat Jumat. Jadilah saya waktu itu bergabung untuk sholat Jumat juga. Daripada bengong panas terik menunggu.  Iya, itu sholat Jumat pertama saya selama saya bisa mengerjakan sholat. Hehehe.

Mesjid Raya Klaten
Mesjid Raya Klaten

Pengalaman menarik yang saya lihat selain kemegahan mesjid tersebut adalah jemaah anak-anak di sana. Mesjid raya yang terdiri dari tiga lantai, dilengkapi dengan lift. Nah, lift ini ternyata menjadi objek menarik buat anak-anak usia 6-10 tahun itu. Selesai sholat, mereka berebut untuk turun melalui lift. Anak-anak memang selalu punya cara untuk bahagia. Apapun dan dimananpun mereka berada. Raut wajahnya ituloh benar-benar bahagia. Makanya biar gak stres kadang kita harus mempunya kacamata seperti mereka.

Anak-anak di Masjid Raya Klaten
Anak-anak di Masjid Raya Klaten

Bagian Dalam Masjid Raya Klaten
Bagian Dalam Masjid Raya Klaten

Sholat Jumat selesai, mengagumi Mesjid Raya selesai. Kami pun ke tujuan utama kami ke Klaten. Ke rumah Simbah Putri satu-satunya yang kami miliki. Iyah, kami sengaja gak bilang-bilang. Kejutan ceritanya. Eh, tiba di rumah Simbah, Mbahnya lagi menikmati angin sepoi-sepoi di teras rumah dengan mata terpejam. Wah, Simbah tertidur pulas sepertinya. Di teras rumah Simbah, meski siang terik, persis di depannya ada pohon mangga yang cukup meneduhkan halaman rumah. Belum lagi tanaman bunga dalam pot dan hamparan sawah didepannya. Siang itu angin pun bertiup seperti meninabobokan. Udara begitu sejuk tanpa perlu kipas angin apalagi air conditioner. Bayangan saya malah menambahkan dengan buku digenggaman, ah lima menit saja mungkin saya terlelap.

Simbah Ketiduran di Teras
Simbah Ketiduran di Teras

Pelan-pelan kami membangunkan Simbah. Agak kaget sepertinya beliau melihat kedatangan cucunya ini. Bukan hari libur atau ada perayaan apa seperti kami biasa mengunjungi rumah Simbah. Kurang lebih tiga puluh menit di rumah Simbah dan setelah menghabiskan segelas teh manis buatan Bulek, kami mohon pamit. Berkah silaturahmi kami dapat ketika kami dibawakan kira-kira sepuluh liter beras oleh Bulek Rukh. Beras bukan sembarang beras. Beras yang ditanam oleh Om Sayid tanpa pupuk kimia dan memiliki aroma khas yang wangi pandan. Lumayanlah ya… Hemat gak beli beras dua bulan. Hihihi. Perjalanan kami masih panjang, bersambung di posting-an berikutnya ya.

 

 

 

 

 

 

 

Buku Kuning oh Buku Kuning… (Worktrip Arab Saudi part 1)

Setelah libur Lebaran kemarin, tiba-tiba seperti dapat durian runtuh (eh nggak juga sih, orang saya gak suka durian) pokoknya seperti ketiban rejeki gitu deh. Saya dapat tawaran untuk ikut Tim Penerimaan Obat Haji di Arab Saudi. Awalnya masih gak percaya dan apakah itu nyata. Tetapi bos saya cuma bilang, “Kamu berdoa saja, kalau memang rejeki, dan jalan kamu kesana ya kamu siapin aja yah.” Waduh agak kaget juga dong. Belom minta izin suami. Belom bikin paspor dinas yang memang saya belom punya (gak pernah dinas ke luar negeri soalnya, hehehe maklum masih apalah saya ini).

Akhirnya suami mengizinkan, dan saya mulai mengumpulkan persyaratan buat berangkat ke Arab. Pokoknya setiap tahapannya yang memang agak ribet itu dinikmati deh. Hehehe. Persyaratan administrasi pembuatan paspor dan visa alhamdulillah lancar-lancar saja. Lancar di sini maksudnya dari segi foto yang harus muka 80%, ciput gak kelihatan, seluruh bagian wajah harus jelas terlihat, wah pokoknya ada teman saya yang sampai ganti foto 2 atau 3 kali, tapi alhamdulillah saya tidak. jadi alhamdulillah deh.

Sebelum berangkat ke Arab Saudi, buat kami yang dinas ataupun ibadah, syaratnya sama. Harus suntik vaksin meningitis. Tujuannya ya untuk membentuk imun tubuh terhadap penyakit meningitis alias radang otak. Arab Saudi sebagai tempat ibadah umat muslim dari segala penjuru dunia, memang pernah menjadi daerah peneyebaran penyakit yang kebanyakan dibawa oleh pendatang dari negara-negara Afrika. Jadi untuk menghindari penyakit yang masih cukup agak mengkhawatirkan itu, ya semua yang kesana wajib di vaksin.

Berhubung perjalanan saya adalah perjalanan dinas yang dibiayai oleh negara, mudah saja saya mendapat vaksin meningitis ditambah vaksin influenza. Tinggal bawa surat tugas, kemudian bisa mengajukan permintaan vaksin tersebut ke bagian yang memang bertanggungjawab terhadap kesehatan haji di gedung sebelah. Vaksinnya ditangan, suntik aja langsung ke dokter klinik yang juga ada di kantor. Alhamdulillah sampai sini lancar.

Tahapan berikutnya, pencatatan saya sudah menerima vaksin, seharusnya dicatat di buku kecil warna kuning, yang namanya ICV (International Certificate for Vaccination or Prophylaxis) yang biasanya dikeluarkan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan atau Bandara. Berhubung saya belum punya, dokter hanya menuliskan di secarik kertas dan menempelkan label dari botol vaksin sebagai bukti, kalau saya sudah disuntik. N”Nanti buku kuningnya kamu minta di Bandara ya.” begitu pesan-pesan dari Bu Dokter yang juga mau berangkat ke ARab sebagai Petugas.

Pokoknya untuk ke Arab harus pake buku kuning, sebagai bentuk kepatuhan terhadap negara. Bisa-bisa saya gak boleh ke Arab kalau gak ada buku  kuning itu. Baiklah mari kita mencari buku kuning.

img_3730
Penampakan ICV alias Buku Kuning

Info dari teman, katanya saya cukup ke KKP Halim Perdanakusuma saja, yang jaraknya memang dekat dengan kantor. Baiklah, setelah menyesuaikan waktu yang pas, dan gak pake tanya-tanya mbah google, (soalnya yang kasih tahu udah sering ke Arab) pergilah saya ke Bandara Halim Perdanakusuma dan menanyakan letak KKP-nya. Eh si petugas menjawab : “Untuk hewan, tumbuhan, atau manusia mbak?” Saya bingung, oh KKP memang menangani hewan dan tumbuhan juga kan yang mungkin masuk atau perlu karantina. “Manusia Bu, vaksin, mau minta buku kuning.” jawab saya yang masih bingung.

“Oh, kalau untuk vaksin manusia gak di sini mbak. Sudah pindah di Jalan Jengki. Mbaknya keluar bandara ajah, terus naik angkot jurusan Cililitan bayar aja 3000. Bilang turun Jl. jengki. dari situ tinggal jalan kaki sudah dekat kok.” si Ibu menjelaskan.

Jadi keluar lagi lah saya dari bandara. Keluar bandara jalan pula. Itu gak seperti keluar rumah yah, tapi bener-bener keluar area bandara, yang jaraknya lumayan sekitar 1 km dan sukses bikin lumanyun. Gimana nggak. Siang-siang panas jalan kaki. Hiks. Sabar Rini sabar…

Tiba juga saya di KKP Halim yang dimaksud. Gedung baru ternyata dan mereka memang belum setahun menempati bangunan baru tersebut. Alhamdulillah sepi. Mungkin memang sudah mau masuk musim haji dan sudah tidak banyak yang umroh.

Masuklah saya, bertemu dengan mas-mas bagian pendaftaran. Polos banget saya bilang, saya mau mendapatkan buku kuning tapi saya sudah disuntik di kantor. Alhamdulillah waktu itu pas lagi pake seragam dan memang seragam kita sama. Bos kita masih sama soalnya. Tapi namanya aturan ya tetep harus ditaati dong. Si Mas-mas pendaftaran bilang. “Persayaratannya foto 4×6 1 lembar dan fotokopi paspor ya mbak.”

Glek saya menelan ludah. “Loh Mas, kata teman saya, saya cukup datang kesini minta buku kuning. Dia gak nyebutin harus bawa ini itu.” saya mulai panik. “Loh gak bisa mbak, persyaratannya begitu. Ya udah besok lagi aja mbak kesini.” si Mas-mas menjawab dengan santainya.

Apa-apaan, besok? Balik lagi? Gila apah, udah makan waktu dua jam dan saya harus pulang lagi terus besok kesini lagi? Aduh meski saya bukan pejabat, tapi bos-bos itu kan masih perlu saya di kantor. Belum lagi waktu keberangkatan yang semakin dekat, saya harus membereskan hutang-hutang pekerjaan saya kan.

“Coba mbak, cari di dompet, ada gak fotonya? Siapa tahu nyelip.” si Mas-mas pendaftaran menyemangati saya. “Duh Mas, saya kesini cuma bawa hape sama ongkos ajah, Dompet saja saya gak bawa Mas. Fotokopi paspor, paspor apa nih Mas? Paspor dinas saya yang memang buat berangkat masih belom jadi kan.” jawab saya.

“Ya kalau gak ada paspor dinas paspor hijau dulu juga gak apa-apa Mbak.” jawab Mas-nya lagi. Kalau masalah foto, saya bisalah lari ke studio foto terdekat terus balik lagi. Nah paspor. Fotokopinya gimana ini. Saya langsung menghubungi teman saya yang lagi urus paspor dinas saya. Jawabannya tidak membantu juga. Katanya, paspor dinas saya memang sudah jadi, tapi sudah keburu masuk ke Kedubes Arab Saudi untuk memproses visa. Nahloh. Tapi saya kemudian ingat sama paspor hijau saya, yang entah kenapa kemarin saya taruh di laci meja kantor, kalau-kalau butuh. Akhirnya saya menghubungi teman kantor dan minta difotoin ke hp saat itu juga. Oke, masalah foto paspor selesai.

Saya kemudian keluar mau foto dan cetak foto paspor. Eh tiba-tiba ditanya sama tukang parkir yang bisa disebut kayak premannya parkir di situ. Saya ditanya, apa mau ditolong. Biar dia yang pergi cetak foto dan saya cukup menunggu. Waduh apalagi nih. “Pak, Bapak gak nipu saya kan?” saya bertanya dengan nada yang memelas. Kemudian dia mengeluarkan handphone-nya, dan menunjukkan beberapa bukti bahwa memang dia ahlinya dalam urusan ini. “Mbak, saya tuh kenal sama semua dokter yang ada di sini. Apalagi si Mbak, seragamnya sama kayak mereka. Moso saya mau nipu-nipu.” jawab si Mas-mas. Ya saya oke saja deh akhirnya. Kalau dipikir ongkos ojek, dan mondar mandir ya worth it lah. Semoga memang jalannya.

Baiklah, kemudian saya di foto sama Mas-mas Parkiran tadi. Cekrek-cekrek. Pake diarahin kurang kanan-kiri layaknya foto di studio lagi. Padahal fotonya di tembok teras KKP. Hihihihihi. Seru deh. Akhirnya setelah menunggu sekitar 15-20 menit, Mas-mas parkiran datang dan membawa hasil foto saya dan cetakan paspor.

Senangnya saya, kembali ke meja pendaftaran dan menyerahkan persayaratan-persyaratan tersebut. Alhamdulillah. Diterima. Setelah itu saya disuruh masuk ke ruangan tempat pengambilan buku kuning. Gak lama, selesai deh. Bayar 25 ribu untuk bukunya, dan saya kasih 50 rb buat abang parkiran yang sudah membantu saya tadi.

Alhamdulillah banget deh. Selesai juga urusan saya di KKP. Balik ke kantor, saya memesan uber. Pas sudah duduk manis di dalam mobil, si sopir uber bertanya. “Mbak, sekarang tanggal 29 kan? Ganjil kan ya?” tanyanya. “Sekarang tanggal 3o Pak. genap.” jawab saya. “Ah moso si Mbak. Ini ganjil kok. Tanggal 29.” jawab si Bapak Sopir lagi ngeyel. Saya kemudian melirik jam tangan , kemudian hp buat memastikan kalau saya gak salah. “Tuh kan Pak, hari ini tanggal 30. Memangnya kenapa sih Pak?” tanya saya lagi.

“Nggak mbak, kan tujuannya ke Kuningan Rasuna Said yah? ini plat mobil saya ganjil Mbak. Tadi pas ambil orderan mbak-nya saya pikir sekarang tanggal 29. Berarti kita muter yah lewat Cassablanca biar gak kena operasi ganjil genap yang mulai diberlakukan itu lo Mbak.” jawab Bapak Sopir panjang lebar.

“Hah? Gitu ya Pak? Ya udah deh…” jawab saya sambil menghela nafas membayangkan kemacetan di depan Mall Kokas dan kemudian beristigfar. Hahahahahaha, pasrah lah jam berapa sampe kantor lagi ini mah. Pokoknya yang penting buku kuning ditangan lah. Wkwkwkkwkwkwk.