Menjelajah Wisata di Semarang dan Sekitarnya

Perjalanan ke Semarang jilid dua ini sebenarnya berlangsung tahun lalu yang belum sempat saya tuliskan di blog ini. Berhubung ini Agustus, dimana di bulan ini adalah hari kemerdekaan Indonesia, maka kali ini saya mau menulis cerita perjalanan saya di Indonesia negeri tercinta. Perjalanan ke Semarang saya kali ini tentu saja mendatangi destinasi yang berbeda dengan perjalanan saya ke Semarang sebelumnya.

Jika perjalanan saya sebelumnya, kami menggunakan kendaraan mobil yang disupiri Zaki, kami ke tempat-tempat wajib di Kota Semarang, yang bisa kamu baca cerita lengkapnya di :

Semarang (Edisi : Simpang Lima dan Kucing Lawang Sewu)

Kulineran wajib di Semarang kayak di cerita ini :Nostalgia Masakan Simbah, Mencicipi Sayur Mangut (kuliner khas Semarang)

Kemudian sebelum kembali ke Jakarta, waktu itu kami menyempatkan diri menikmati kota tua dan bertemu Ibu-ibu hebat di sana juga mampir ke Mesjid Agung Jawa Tengah. Bisa baca di : Sebuah Cerita tentang Ibu-ibu Hebat di Kota Tua dan Megahnya Mesjid Agung Jawa Tengah (Masih di Semarang)

Perjalanan kami kali ini kami memilih naik pesawat, karena dalam rangka menemani Zaki yang business trip dan saya yang menghabiskan cuti tahunan. Waktu itu, berhubung ini kali kedua, saya sama sekali tidak punya rencana muluk-muluk di Semarang. Malah waktu itu rencananya saya mau puas-puasin staycation aja di hotel yang tentunya agak lumayan bagus dan berjudul gratisan. Hehehehe.

Menikmati Hotel 

Hari pertama kami tiba siang menjelang sore, jadi ya sampai hotel tidur siang, nonton tv, dan pokoknya goler-goler di tempat tidur ajah. Oh iya, kali ini kami menginap di Hotel Louise Kienne tidak jauh dari Simpang Lima. Meski hotel bintang lima, tapi kamar hotelnya jauh dari harapan kami. Kecil, sempit, dan semuanya menurut kami standar. Tapi ya sudahlah ya, masih untung dibayarin. Memang sih, melihat bentuk hotelnya, ini hotel sepertinya di setting untuk apartemen, jadi gak ada artistik-artistiknya banget.

Ruang makan kecil, sempit dan menu yang jauh dari harapan menu hotel bintang lima. Pengalaman yah bu…

Kamar Hotel Louise Kienne
Tempat tidurnya enak sih, kamarnya sempit tapi

Sudut Kamar Louise Kienne
Sudut kamar yang cukup nyaman buat ngeti-ngetik

Sorenya kami lagi-lagi gak mau rugi. Menikmati fasilitas hotel dengan fitness dan besok paginya berenang cantik dengan pemandangan keren. Nah kali ini bolehlah hotel ini menang dikit. Kolam renangnya di lantai atas dan bisa memandang pemandangan Simpang Lima dan Kota Semarang.

Berenang di Louis Kienne Hotel
Berenang…

IMG_6285
Maaf agak norak yah..

Makan Malam di Restoran Hits Koeno Koeni

Resto ini berkonsep resto dan galeri. Sambil menikmati makanan, pengunjung bisa asyik menikmati koleksi benda-benda seni sang mepunya resto, Bos Jamu Sido Muncul. Menunya bagaimana? Menunya beragam dari khas Indonesia sampai Western. Ada pojok jamu juga loh.

Menariknya pengunjung bisa foto-foto di museum yang terbilang cukup instagram genic ini. Rasa makanannya, lumayan. Harga memang agak mahal, tapi sepadan dengan pengalaman mata dan rasa yang di dapatkan. Belum lagi restoran ini terletak di dataran yang agak tinggi. Sehingga kami bisa menikmati lampu-lampu yang menghiasi Kota Semarang.

IMG_6255
Koleksi Radio Tua

Mainan Jadul
Maianan dan Barang-barang Jadul

Suasana Resto Koeno Koeni
Suasana Resto Koeno Koeni Bagian Dalam

Koeno Koeni Bagian Luar
Koeno Koeni Bagian Luar

Museum Kereta Api di Ambarawa

Hari ketiga, urusan pekerjaan Zaki selesai. Akhirnya saya yang memang gak betah banget di hotel doang ketika berada jauh dari rumah, googling-googling enaknya kemana ya di Semarang ini. Ketemu deh tempat yang seru, meski agak jauh sedikit dari Semarang yaitu Museum Kereta Api di Ambarawa. Perjalanan Semarang ke Ambarawa memakan waktu dua jam dengan mobil rental. Kalau mau naik umum ada kok bus dari terminal. Mungkin agak lama karena menaikan dan menurunkan penumpang di jalan.

Berhubung kami datang di hari kerja, jadi museumnya sepi, dan sayangnya kereta api uap tidak dioperasikan. Ya, kereta uap hanya dioperasikan di weekend, atau kalau kita sudah pesan untuk rombongan misalnya. Ya udah gak papah. Besok lagi. Enaknya kan bisa puas foto-foto dan ya kami puas sekali. Tempatnya keren banget. Cocok untuk wisata edukasi dan sejarah buat anak-anak juga menyenangkan melihat kereta api tua.

Indonesian Railway Museum
Indonesian Railway Museum

Museum Kereta Ambarawa
I Love Ambarawa

Naik Lokomotif
Nyobain Naik Lokomotif

Museum Kereta Api Ambarawa
Peron di Museum Kereta Api Ambarawa

Koleksi Lokomotif Museum Kereta Api Ambarawa
Koleksi Lokomotif Museum Kereta Api Ambarawa

Nungguin Kereta, Mari Selfie
Selfie sambil nunggu kereta. Ceritanya

Mesin Cetak Tiket Jaman Dulu
Mesin Cetak Tiket Pada Masa Itu

Candi Gedong Songo di Bandungan Kabupaten Semarang

Puas lihat kereta api, kami menuju Candi Gedong Songo yang memakan waktu sekitar satu jam perjalanan dari Ambarawa. Letaknya yang memang sudah di dataran tinggi, membuat udara di sana sejuk dan cuaca siang itu agak mendung. Awan tebal menyelimuti langit. Seperti akan turun hujan.

Candi gedong Songo adalah sebuah komplek candi yang konon terdiri atas sembilan sesuai namanya (bahasa jawa Songo artinya sembilan). Meski demikian, baru ditemukan lima buah candi. Kemungkinan sisanya sudah hancur karena bencana lama.

DSC00603.JPG
Masukkan keterangan

Candi Gedong Sono terletak terpisah-pisah antara candi yang satu dengan yang lain dan agak berjarak lumayan (kalau jalan kaki) apalagi medan yang menanjak. Kalau capek bisa naik kuda kok yang harganya dari bawah sampai candi kelima seratus ribu rupiah. Saya yang berprinsip irit tentu gak mau naik kuda dong, dan Zaki manyun, soalnya dia kepengen banget naik kuda. Hahahaha… Hitung-hitung olahraga lah ya, masih muda juga. Padahal sampai hotel kami balurin betis dengan counterpain. Wkwkwkwk.

Komplek Candi Gedong Songo
Komplek Candi Gedong Songo

Candi Gedong I
Candi Pertama

Candi Gedong Songo
Lihat Pemandangannya…

Uap Panas Bumi
Mata Air Panas Umbul Sido Mukti

Benar saja, begitu tiba di candi keempat, dan candi kelima sudah tertutup kabut, kami memutuskan untuk kembali karena hujan kemudian turun dengan lebatnya. Sebagai pejalan yang well prepared tentu saja kami bawa payung dong.

Oh iyah, ada cerita lucu. Berhubung ke Semarang masih dalam rangka kerja (Zaki) dia bawa laptop dong kemana-mana, takut-takut si Bos nyuruh apa gitu. Laptop yang 14 inch yang merupakan properti kantor tentu saja dibawa dari pada menanggung resiko laptop hilang kalau ditinggal di mobil. Kebayang dong, jalan nanjak, sambil membawa laptop yang beratnya kira-kira 7 kg. Hahahahha. Maaf saya ketawa. Sumpah itu berat Jendral.

Zaki di Candi Gedong Songo
Jalanan Nanjak, dan Dia Membawa Laptop

Ngopi-ngopi Cantik di Umbul Sido Mukti

Nama Umbul Sido Mukti sendiri yang terkenal sebenarnya adalah sebuah tempat wisata kolam renang dari sumber mata air pegunungan. Tempat pemandian dan kolam renang gitu deh. Berhubung cuaca yang tidak mendukung, karena hujan cukup deras. Pak sopir kami membawa kami ke sebuah tempat yang lagi hits di sana. Sebuah restoran tempat ngopi-ngopi cantik. Ada penginapannya juga loh.

Pemandangan siang itu pohon kopi dan pinus berselimut kabut tebal dan rintik hujan. Udara cukup dingin menusuk. Zaki memesan kopi dan mie godhok, sedang saya yang sudah makan di warung makan Candi Gedong Songo memilih pisang goreng keju. Euhm… nikmatnya.

Umbul Sido Mukti
Mie Jawa

Umbul Sido Mukti
Nature +Food Perfect Combination

Umbul Sido Mukti
Ini Pemandangannya Berkabut

Kurang lebih satu jam di sana, kami kemudian pulang dan kembali ke kota Semarang. Esok harinya kami ke Kota Lama, main-main ke Museum Tiga Dimensi dan mencicipi es krim di Toko Oen yang legendaris. Main-main di Kota Lama akan saya ceritakan di edisi Agustus minggu depan. Oh semoga gak kumat malasnya ya. Hehehehe.

 

Sebuah Cerita tentang Ibu-ibu Hebat di Kota Tua dan Megahnya Mesjid Agung Jawa Tengah (Masih di Semarang)

Sebenarnya tulisan ini sudah nangkring di draft blog saya sejak dua bukan yang lalu, ketika saya melakukan perjalanan Yogya-Semarang-Cirebon. Punya waktu di Semarang hanya satu hari dan Kota Tua Semarang adalah pilihan kami berikutnya setelah Lawang Sewu. Sengaja ingin posting tulisan ini dalam rangka hari Ibu.

Mengunjungi kota tua karena ya itu lagi, lihat postingan di IG. Saya IG mania? Ya boleh dibilang begitu. Meski follower saya gak banyak, tapi saya banyak dapat ilmu di IG. Hehehe, mari kembali ke laptop. Kami tiba di kota tua tepat pukul dua belas siang. Matahari emang lagi lucu-lucunya. Ternyata suhu siang itu mencapai tiga puluh enam derajat celcius.

Mobil kami parkir tepat di depan Taman Sri Gunting. Keluar mobil, ampun panasnya. Kami langsung mengambil duduk di taman yang merupakan tempat paling nyaman siang itu. Gimana nggak. Pohon rindang, semilir angin dan pemandangan kota tua seperti Gereja Blenduk, Kafe Spiegel, dan deretan penjaja barang-barang unik di Pasar Seni benar-benar bikin adem.

Ikon Kota Tua Semarang

Kota Tua Semarang
Lalu Lintas di Kota Tua

Gedung Bersejarah Spiegel
Gedung Spiegel

kota Tua
Taman Kota Sri Gunting

Awalnya saya bermaksud ngubek-ngubek Kota Tua, mencari objek foto-foto yang keren, eh tapi baru jalan sedikit ke arah kafe Spiegel, aduh panasnya gak tahan. Akhirnya ya duduk ajah di depan Taman Sri Gunting, sambil menikmati semangka dari penjaja buah dan gorengan dengan gerobak dorong. Murah meriah, semua yang dijual di dalam gerobaknya harganya seribu rupiah. Wah panas-panas terik begini paling cocok memang ngemil semangka. Siang itu saya membeli semangka dan papaya. Lima ribu saja semua. Padahal awalnya saya berharap Zaki mengajak masuk ke Kafe Spiegel yang ber-AC dan menikmati segelas cappuccino dingin. Tapi harapan tinggal harapan. Hahahhaha. Makan buah lebih sehat kan? Halah. Ngeles.

Taman Kota Sri Gunting

Taman Kota Bagai Oase di Tengah Kota Semarang yang Panas Terik

Ketika saya ingin mengambil foto taman dari sudut Pasar Seni, ada si dua Ibu-ibu yang sedang duduk terlihat canggung melihat kamera saya mengarah ke mereka. Lalu saya tersenyum ke mereka. “Eh gak papah Bu. Duduk saja,” Saya menenangkan. Kemudian saya menghampiri mereka. Ikut duduk-duduk menikmati Semarang yang sukses membuat peluh saya terus mengalir. Iseng-iseng saya ngobrol deh sama dua Ibu-ibu itu.

Sebut saja Bu Parni dan Bu Marni. Melihat dari kostum mereka saya menduga mereka petugas parkir di situ. Menggunakan rompi kuning dengan peluit tergantung di leher. Benar saja ketika ada bus pariwisata lewat, Bu Parni sigap berdiri dan memberi aba-aba untuk bus bisa parkir. Tapi Bu Parni kurang beruntung. Bus itu hanya lewat saja. Tidak berhenti di kota tua. Bu Parni kembali duduk dengan wajah yang tetap tersenyum. Mungkin dia menertawakan dirinya yang terlalu semangat, eh ternyata bus-nya tidak parkir.

Iseng-iseng saya mengajak kedua Ibu itu berbincang-bincang. Sudah bertahun-tahun mereka menjadi juru parkir di kota tua. Bekerja dari jam delapan pagi sampai jam dua belas malam. Rumah mereka tidak dekat, di pinggiran Semarang. Bu Parni yang berbadan agak besar mengaku mengayuh sepeda ontel dari rumahnya dengan perjalan 45 menit. Ia bekerja menjadi tukang parkir demi sang cucu yang berusia enam tahun. Anak Bu Parni sendiri sekarang sedang menjadi TKW di Hongkong. Meski sesekali kiriman uang datang, ia tidak betah hanya berdiam diri di rumah dan tidak menghasilkan apa-apa.

Lain lagi dengan Bu Parni. Bu Marni nenek lima orang cucu. Beliau bergantian menjaga parkir dengan sang suami. Mereka sebulan dibayar hanya tiga ratus ribu rupiah dari Pak Bos. Entah siapa Pak Bos yang dimaksud. Boro-boro mereka mengharapkan upah minimum regional. Mereka hanya berharap tips dari para pemilik kendaraan di situ. Paling senang kalau bus-bus besar atau bus pariwisata yang parkir. Biasanya tips yang diberikan lumayan besar.

Panas terik kota tidak mematikan semangat mereka. Kerja lebih dari lima belas jam sehari, beratap langit yang kadang hujan kadang terik, dengan bayaran tiga ratus ribu setiap bulan. Pendapatan mereka harus dibagi untuk menghidupi keluarga dan juga makan sehari-hari ketika bekerja. Mereka tidak kenal lelah demi cucu-cucu di rumah. Tidak malu atau gengsi meski mereka wanita. Mereka wanita-wanita perkasa. Pahlawan dalam keluarga.  Membayangkan bagaimana mereka setiap hari menjalani hidup, kok rasanya luar biasa yah. Dari jam sembilan pagi hingga jam sebelas malam. Badan rasanya kayak gimana ya? Ya, memang sejatinya setiap wanita memang diciptakan demikian. Pejuang dalam kehidupan.

Tiba-tiba saya ingat, masih punya sedikit yang bisa diberikan buat mereka. “Sebentar ya Bu, saya ada sedikit oleh-oleh buat Ibu-ibu. Dikit tapi ya Bu.” Kata saya. Kemudian bergegas ke arah mobil yang diparkir. Setelah saya memberikan sedikit oleh-oleh, si Ibu seketika tersenyum dan mengucapkan terima kasih yang panjang sekali. Berulang kali juga saya mengaminkan. “Terima kasih juga doanya Ibu-ibu. Semoga saya balik lagi ke Semarang, nanti kita ketemu lagi ya Bu. Semoga sehat terus ya Ibu-ibu. Salam buat cucu-cucu.” Kata saya menutup perjumpaan kami siang itu. Kemudian saya minta izin untuk kami foto bareng, dan kali ini Ibu-ibu tidak takut lagi dengan kamera. Sebulan kemudian saya balik ke Semarang, tapi malah gak sempat menemui mereka. Payah ya saya. 😦

Ibu-ibu Perkasa Penjaga Parkir kota Tua
Ibu-ibu Perkasa Penjaga Parkir Kota Tua

Dari Kota Tua, perjalanan kami lanjutkan untuk sholat Zuhur di Mesjid Agung Jawa Tengah. Namanya Mesjid Agung pasti besar dan bagus. Jadi destinasi yang sayang kalau dilewatkan.

Berbekal google maps kami menuju Mesjid Agung Jawa Tengah yang cukup besar dan luas. Sampai kami salah parkir. Bukan di tempat sholat tapi parkiran resepsi pernikahan. So, bisa sih, mampir numpang makan, tapi sayang gak kenal sama yang punya hajat dan kostum kurang representatif juga sih. Hihihihi.

Mesjidnya besar, ventilasinya bagus. Tetapi karena tidak jauh dengan pantai, so udara yang bergerak alias angin tetep ajah semilir hot gimana gituh. Bangunan dengan banyak ventilasi juga ternyata membuat burung-burung suka masuk ke Mesjid. Hati-hati yah pas sholat ada kotoran burung. Aduuh, gimana yah kalau gitu??

Penampakan Kemegahan Mesjid Agung Jateng

Penampakan Dalam Mesjid Agusng Jawa Tengah

Alquran Raksasa di Mesjid Agung Jawa Tengah
Alquran Raksasa

Puas berkeliling di dalam mesjid. Saya keluar dan bermaksud mencari lokasi yang pas untuk mengambil foto masjid secara utuh. Tapi susah, maklum bukan profesional. Pake drone kali yah baru sempurna. Eh tapi tunggu dulu. Di depan Masjid ternyata ada sebuah menara. Menara yang sepertinya belum jadi seratus persen. Di dalam menara yang sangat tinggi itu terdapat Museum Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Tengah di lantai dua dan tiga. Sejarah Islam di Jawa adalah proses perubahan atau proses alkulturalisasi atau perpaduan budaya dari masa Hindu ke Islam. Tidak heran banyak masjid-masjid lama di Jawa dengan arsitektur mirip dengan bangunan Pura. Untuk masuk ke menara AL Husna pengunjung dikenakan  tiket masuk tujuh ribu rupiah.

Selain Museum, kita juga bisa naik dengan lift hingga ke lantai 19 yaitu puncak menara. Dari puncak menara, kita bisa melihat pemandangan sekitar masjid dan pesisir Semarang. Bahkan hingga lautan lepas dengan teleskop. Kira-kira seperti di puncak Monumen Nasional. Angin bertiup sedikit lebih kencang di puncak menara.

Waktu itu si Zaki memilih makan di warung dekat parkiran mobil. Sedangkan saya ke atas menara. Hehehe. Prioritas kami beda. Dia mah urusan perut nomor satu. Kalau sudah begitu, ya udah ada waktu sebentar buat saya jadi solo traveler. Hore. Hihihihi.

Mesjid Agung Jawa Tengah
Dilihat dari depan Menara AlHusna

Kalau diperhatikan desain masjid ini seperti berkiblat ke Mesjid Nabawi di Madinah Arab Saudi. Keempat pilar payung yang bisa membuka dan menutup secara otomatis sesuai kebutuhan. Al-Husna Tower, apakah meniru Zamzam Tower di Mekkah Arab Saudi sana? Hehehe. Terinspirasi mungkin kali yah.

Menara Al Husna
Al Husna Tower

 

Mesjid Agung Jawa Tengah

Tidak lama saya di Al Husna Tower, saya menghampiri Zaki yang lagi-lagi asyik menikmati kupat tahu Semarang. Ya ampun padahal dari Lawang Sewu kami sudah membeli kupat tahu yang  kami makan di mobil ketika menuju Mesjid Agung. Satu bungkus berdua dan itu enak banget. Ada ceritanya juga, nanti deh ya diceritain. Soalnya si Bapak mau aja ngeladenin kami yang bawel tanya-tanya. Hehehehe. Bahkan saya iseng merekam perbincangan kami. Seperti bikin vlog ala-ala gitu.

Sebelum meninggalkan parkiran, saya membeli jus tomat. Sialnya, gelas jusnya bau kecoa. Belum habis jus, langsung saya buang. Bau kecoaknya itu loh, bikin pusing. Perjalanan kemudia kami lanjutkan. Tujuan kami berikutnya adalah Cirebon, kota perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Senja sore mengiringi kami menuju Cirebon. Perjalanan kali ini punya cerita tersendiri. Selain mengagumi destinasi bangunan-bangunan peningggalan Belanda, mengagumi kemegahan Mesjid Agung, belajar sejarah Islam di Jawa, dan bisa bertemu dengan Ibu-ibu hebat di Taman Sri Gunting. Bersyukur bisa belajar dari kisah hidup mereka. Perjalanan memang tempat pembelajaran yang tidak ada habis-habisnya. Jadi teruslah melakukan perjalanan dan teruslah jadi manusia pembelajar. Oh iya, selamat hari Ibu untuk semua Ibu-ibu hebat di dunia. Setiap Ibu diciptakan untuk menjadi pahlawan dalam kehidupan.

 

 

Nostalgia Masakan Simbah, Mencicipi Sayur Mangut (kuliner khas Semarang)

Pagi itu kami tiba di Klenteng Sam Poo Kong jam 8:30. Bukannya bergegas masuk, tujuan kami adalah mencari warung makan. Iyah, berhubung hotel budget dan promo pula, kami tidak dapat sarapan. Kami mengganjal perut dengan salak dan jeruk hasil bawaan dari Hotel Jambuluwuk di Yogya kemarin. Hihihi. Gak masalah.

Di depan gerbang sebelah kanan Klenteng Sam Poo Kong banyak penjaja minuman dingin. Di belakangnya ternyata ada beberapa warung makan. Kami memilih warung yang waktu itu ada pengunjungnya. Saya melihat ada nasi pecel. Lumayanlah biar sehat meski lagi liburan. Setelah kami duduk, si Ibu warung menawarkan kami untuk mencoba sayur mangut khas Semarang yang baru saja matang. Warung makan yang sederhana berikut dapurnya dimana saya bisa melihat si Ibu sedang mengaduk-ngaduk sayur yang baru mendidih itu.

Warung Makan Bu Kelik
Warung Makan Bu Kelik

Ibu Kelik sedang Masak
Bu Kelik menghidangkan sayur yang baru saja matang

“Sayur mangut apa itu Bu?” tanya saya. “Ini mbak, sayur kuah santan, ada ikan manyung. Enak mbak, suegerrr, pedes.” Jawab si Ibu. Nah saya makin bingung. Apapula itu ikan manyung. Saya kembali bertanya, dan si Ibu menjelaskan, kalau Ikan Manyung itu ikan pari yang diasapi, lalu di sayur. Namanya sayur mangut. Apaaa??? Ikan pari? Pari yang lebar itu? Pari manta yang di laut lepas? Bayangan ikan pari menari-nari di otak saya. Saya menjawab dengan ragu. “Euhm… saya makan nasi pecel aja bu, tapi boleh gak diguyur kuah sayurnya dan ikannya sedikit saja. Pengen coba Bu.”

Sayur Mangut Ikan Pari
Sayur Mangut Ikan Pari

Yess. Akhirnya saya mencoba sayur mangut. Benar saja, sayur mangut berpadu dengan nasi pecel, hasilnya pedesnya dobel. Ditambah cuaca Semarang yang lumayan panas, membuat keringat saya bercucuran.

Sayur Mangut Kombinasi Pecel
Sayur mangut kombinasi pecel

Menikmati sayur mangut, mengingatkan saya akan masakan simbah di kampung. Masakan khas Jawa. Kalau simbah saya, masak ala sayur mangut dengan isi belut yang digoreng terlebih dahulu. Kuah santan yang tidak begitu kental, rasa gurih santan berpadu rempah dan potongan cabai rawit merah yang bikin melek karena pdesnya. Belum lagi aroma ikan yang diasapi. Itu khas makanan Jawa banget. Apalagi kalau dimasak menggunakan kayu bakar. Seperti masakan simbah saya dulu.

Saya jadi teringat simbah saya  yang sudah lama meninggal. Meski begitu, rasa masakannya masih melekat di indra pengecap saya. Luar biasa yah masakan simbah. Aduh saya jadi kangen mbah putri. Pagi itu saya makan dengan bahagia campur terharu.

Di warung makan sederhana itu, Bu Kelik tidak sendiri ada yang mebantu mencuci piring. Namanya Bu Mia (kalau gak salah, padahal sudah kenalan, tapi gak dicatet dan seperti ini selalu terulang. Maaf ya), beliau menawarkan kami mau minum apa. Cekatan Bu Mia menyiapkan pesanan minuman kami.

Zaki memilih hanya makan nasi pecel ditemani empat buah tahu bakso. Memang Zaki kurang suka masakan olehan ikan begitu. Hanya ikan tongkol balado warung Padang yang dia suka. Entahlah. Bumbu pecel nya enak, pedas manis.

Pecel dan Tahu Bakso
Ini menunya Zaki yang udah berantakan lupa di foto (pecel dan tahu bakso)

Selesai sarapan yang buat saya lumayan berat itu, saya masih penasaran melihat akan masak apalagi si Ibu. Si Ibu mau masak daun papaya ternyata. Si Ibu menjelaskan kalau siang nanti menu warungnya akan lebih bervariasi. Ada kerang, kikil, oseng daun papaya, dan masih banyak lagi. Total harga makanan yang harus kami bayar hanya dua puluh satu ribu rupiah. Nasi pecel enam ribu seporsi. Sayur mangut dengan ikan hanya tiga ribu. Tahu bakso sepotong seribu. Ya ampun, murah banget yah. Betah banget nih di Semarang kalau begini terus.

Sayur Mangut Warung Bu Kelik
Sajian Warung Ibu Kelik

Bu Kelik bergaya
Ibu Kelik gak mau kalah ikut bergaya

Sebelum meninggalkan warung saya minta izin untuk mengambil foto Bu Kelik dan Ibu yang bantu-bantu cuci piring dan melayani pembeli. Eh, mereka senang banget. Aduh saya jadi merasa punya hutang untuk memberi hasil jepretan saya ini ke beliau. Semoga saya diizinkan lagi ke Semarang ya bu, dan bisa mampir ke warung Ibu lagi.

 

Semarang (Edisi : Simpang Lima dan Kucing Lawang Sewu)

Setelah dari Yogya dan kemudian mampir ke Klaten, kami menuju kota yang akan menjadi tujuan utama kami, Semarang. Saya sendiri sudah pernah ke Semarang, tapi waktu itu pulang pergi di hari yang sama. Boro-boro nginep, makan siang pun terburu-buru. Cuma say hello sama toko oleh-oleh dan chek in di Bandara Ahmad Yani aja.

Agak bikin panas ketika teman saya mengatakan, “Ada apa sih di Semarang?”. Waduh. Buat saya, selama itu tempat adalah tempat yang belum pernah saya kunjungi, selalu ada yang menarik dan special buat saya. Bahkan sampai sekarang saya masih penasaran dengan yang namanya Pasar Pagi Asemka atau bahkan ke hutan mangrove di Pantai Indah Kapuk. Setiap perjalanan adalah unik dan pasti akan menghasilkan cerita yang berbeda. Jadi buat saya, Semarang salah satu kota besar di Jawa dan wajib banget buat saya jalan-jalan di sana.

Tiba di Semarang hari sudah gelap. Tujuan pertama kali apalagi kalau bukan makan. Yah urusan manusia yang satu ini memang repot kalau terlambat. Apalagi buat suami sehabis menyetir mobil kurang lebih 6 jam dari Klaten.

  1. Simpang Lima

Simpang Lima Semarang
Simpang Lima Semarang

Simpang Lima adalah tujuan pertama kami mengunjungi Semarang. Selain icon Semarang kami juga mau cari makan. Dari hasil riset saya sebelum perjalanan,di kawasan ini banyak tempat makan. Benar saja. Setibanya di sana, kami sampai bingung mau makan apa dan yang mana. Akhirnya kami memutari kawasan itu terlebih dahulu. Simpang Lima mengelilingi  alun-alun Semarang yang merupakan tempat hiburan rakyat. Sepeda yang dihiasi lampu warna-warni dengan berbagai bentuk meramaikan suasana Simpang Lima.

Pilihan menu makanan khas Jawa sepertinya ada semua di Simpang Lima. Kami memilih soto khas Semarang untuk makan malam kali ini. Soto disajikan dengan hangat yang berlebihan (panas) dengan mangkuk kecil nan imut berisi tauge, kubis, bihun, dan suwiran ayam. Kuah soto bening dan agak kental karena bumbu rempahnya. Ditemani dengan aneka lauk seperti perkedel kentang, tempe dan tahu bacem, atau pun aneka jeroan, soto memang paling pas disantap di malam selepas hujan. Total makan malam itu enam puluh ribu rupiah saja. Itu suami sudah dua mangkuk, satu porsi soto lima belas ribu.

Sambil makan malam, kami juga menyempatkan cari-cari penginapan yang murah untuk bermalam. Kami pilih yang paling murah di booking.com. Alasan pakai booking.com, karena gak perlu bayar dulu. Jadi kalau tidak berkenan, ya dibatalin aja.

Berbekal arahan google map, kami mencari hotel yang dimaksud, Nozz Hotel. Sebenarnya lokasi hotel budget ini terbilang strategis. Entah kenapa simbah google kasih jalan kami lewat gang-gang kecil. Awalnya bahkan kami hamper membatalkan menginap setelah melihat lahan parkir yang tidak cukup untuk mobil kami. Tapi suami kemudian turun dan ternyata staf hotel meyakinkan kalau masih tersedia parker dan aman. Oke, turunkan barang, malam ini tidur disini. Ulasan mengenai Nozz Hotel akan saya tulis nanti ya.

2. Klenteng Sam Poo Kong

Klenteng Sam Poo Kong
Klenteng Sam Poo Kong

Keesokan paginya saya googling, mau kemana kami di Semarang ini. Tujuan utama sudah pasti Lawang Sewu. Sebagai icon Kota Semarang, tentunya kami juga penasaran. Setelah membereskan urusan hotel, kami memilih mengunjungi Klenteng Sam Poh Koong sebagai tempat tujuan pertama kami, dengan pertimbangan cuaca panas dan semoga belum terlalu ramai kalau pagi-pagi.

Klenteng Sam Poh Kong adalah Klenteng bersejarah di Semarang. Bangunan ini tidak lepas dengan seorang yang patungnya tinggi besar berada di tengah-tengah komplek Klenteng, Laksamana Cheng Ho. Kalau kami kesini terus terang memang ingin melihat kemegahan Klenteng dan tentu saja berfoto ala turis. Kalau sejarah yang lebih lengkap tentu sudah ada di mana-mana kan. Hehehehe.

Klenteng Sam Poh Kong terdiri atas beberapa bangunan klenteng. Selain klenteng di sana juga ada monumen Laksamana Cheng Ho yang ukurannya cukup besar. Ada juga beberapa patung prajurit laksamana yang tertulis nama penyandang dana pembangunan patung-patung tersebut. Unik yah. Awalnya saya mengira itu patung namanya kok kekinian dan Indonesia banget. Tapi saya salah. Mereka penyandang dana. Bagi mereka yang percaya, itu semacam sedekah seperti misalnya kita membantu pembagunan masjid misalnya.

Patung yang di Prasastinya ada nama Penayndang Dana Pembuatnya
Patung dengan Prasasti nama Penyandang Dana Pembuatnya

3. Ada Kucing Lucu Misterius di Lawang Sewu. ((((LUCU))))

Tujuan kami berikutnya apa lagi kalau bukan Lawang Sewu. Dikarenakan kami tiba di Semarang malam dan sudah terlalu leha juga, kami baru sadar kalau letak Lawang Sewu tidak terlalu jauh dari pusat kota. Bahkan banyak yang bilang seharusnya kami berkunjung ke Lawang Sewu di malam hari. Lebih menantang. Menantang apa nih? Ya apalagi kalau bukan sedikit menguji adrenalin. Aduh makasih deh yah. Terus terang say amah gak tertarik. Numpang lewat ajah kalau malam mah.

Memasuki gerbang Lawang Sewu yang cukup megah ini di siang hari memang jauh dari kesan angker apalagi mistis. Saya seperti berkunjung ke bangunan besar, museum. Waktu itu tidak ada rasa merinding, deg-degan, bulu kuduk berdiri, dan sebagainya dan sebagainya.

Memasuki Lawang Sewu dimulai dari tulisan start atau dimulai dari sini. Kami ikuti saja. Kebetulan waktu itu, saya berbarengan dengan sepasang kekasih (sepertinya) dan sepasang sahabat remaja putri. Kami berjalan tidak berbarengan. Tetapi kemudian lama-lama saya agak jengkel (bukan sirik yah, saya kan juga bareng suami) sama pasangan mbak dan mas di depan kami. Kejengkelan kami disebabkan di setiap langkah dan sudut si mbak selalu berpose, dan kemudian mas-nya motoin. Aduh, kapan gue fotonya dan jadinya jalan kita kan lama banget. Belum setiap sudut si mbak beberapa kali gaya, dari angel yang berbeda pula. Alamak, gak sabar saya. Akhirnya saya memilih untuk mempercepat jalan dan kalau bisa kami ada di depan mereka. Hahaha.

Kemegahan Lawang Sewu
Kemegahan Lawang Sewu

Asyiknya Lawang Sewu itu sih sebenarnya ya suka-suka hati ajah gedung mana yang ingin dimasuki terlebih dahulu. Jadi ya kalau di situ rame silahkan berbelok atau berpindah gedung yang lebih sepi. Jadi bebas deh. Mau foto atau mau membaca sejarah tetang perekeretaapian di Indonesia.

Selfie dikit Boleh Dong
Selfie di Lawang Sewu

Foto Wajib di Lawang Sewu
Foto Wajib di Lawang Sewu

dscf5619
Sejarah Perkerreta Apian Indonesia

Selain gedung yang memang khusus sebagai museum, yang bercerita sejarah berdirinya Lawang Sewu, di gedung bagian lain ada sejarah yang menceritakan tentang berdirinya stasiun-stasiun besar di Indonesia.

Belajar Sejarah Perkeretaapian Indonesia

 

Beralih ke lantai dua bangunan samping Lawang Sewu, ternyata kosong. Kosong berarti tidak ada apapun di dalamnya. Waktu itu bahkan saya sempat berceloteh kalau kami bisa bermain bulu tangkis di sana. Setiap sudut Lawang Sewu memang sangat instagramable banget. Mungkin kalau yang ilmu fotografinya keren wah pasti luar biasa. Berhubung sebagai model saya sangat tidak berbakat, begitu juga mengambil foto pun asal sekenanya saja. Tapi yah paling tidak saya cukup puas siang itu. Jeprat jepret dan bergaya dikit-dikit.

 

Dari lantai dua, bagian belakang Lawang Sewu di mana dari kami berdiri bisa melihat pusat perbelanjaan besar di Semarang. Tetapi ketika kami melihat ke bawah, kami melihat seorang Pak Tua sedang memandikan kucing. Menariknya, setelah diperhatikan kucingnya bukan kucing biasa atau kucing kampung. Kucing itu seperti jenis kucing angora. Ukurannya besar, bulunya lebat dan halus. Kalau tidak salah jumlahnya empat ekor. Warnanya hitam dan coklat. Dari kejauhan seperti anak harimau.

Pak tua yang kurang lebih berusia 70 tahuanan itu memandikan kucingnya dengan selang air. Herannya kucing itu tidak takut air. Kucing-kucing itu sangat nurut dan menikmati setiap basuhan tangan Pak Tua. Setelah mandi kucing-kucing dimasukkan ke kandang yang ukurannya tidak terlalu besar. Kurang lebih satu kali satu meter. Siapa yah Pak Tua itu dan kenapa memelihara kucing di bangunan milik pemerintah ini.  Karena jarak kami jauh, jadi saya tidak bisa bertanya. Meski semakin banyak pertanyaan di kepala saya. Baoak itu siapa? Kerja di sini? Rumahnya di mana? Kenapa pelihara kucing di sini? Ah ssaya suka sebel sama rasa kepo sa yang berlebihan ini. Udah ah. “Turun yuk.” Suara Zaki menyadarkan lamunan saya. Kami pun turun.

Pintu keluar Lawang Sewu letaknya berbeda dengan pintu masuk. Di pintu keluar ada satpam yang sedang berjaga di pos. Iseng-iseng saya bertanya ke Pak Satpam itu. “Pak itu di belakang ada Pak Tua sedang memandikan kucing. Kucingnya siapa?” tanya saya. “Kucingnya Bapak itu mbak.” Jawab si Pak Satpam lagi. “Kalau malam kucingnya dilepas mbak, kalau siang dikandangkan.” Tambah Pak Satpam. Terus terang saya langsung terkejut. “Hah? Dilepas? Kenapa dilepas kalau malam Pak. Kok aneh?” tanya saya lagi. “Yah, mana saya tahu mbak, tanya saja ke Si Bapaknya sendiri sana.” Jawab si Bapak. Sebelum saya berpikir kembali atau bahkan menghampiri Bapak tua yang sedang memandikan kucing, Zaki sudah terlebih dahulu menarik lengan saya keluar sambil mengucapkan makasih ke Bapak Satpam.

Nah buat yang penasaran, silahkan ke Lawang Sewu dan cari Bapak Tua pemilik kucing itu. Hihihihi. Saya mah cukup sampai di situ aja yah. Pengecut? Iyah, emang. Bodo deh dibilang gitu juga. Wong sama kucing bayi aja rada gimana gitu. Apalagi itu, kucing raksasa yang malam-malam berkeliaran di Lawang Sewu. Aduh udah deh yah gak usah dibahas. Buat yang mau investigasi boleh. Coba deh malam-malam ke sana terus cari itu kucing yang dilepas. Aduh say amah mending bobo kalau malam. Dibayar juga makasih.

Jalan-jalan Semarang belum selesai, bersambung di next post yah. Berikutnya kami akan mengunjungi Kota Tua Semarang dan Mesjid Agung Jawa Tengah. Dilanjutkan perjalanan ke arah Jakarta.  Ikutin terus ya.