Roadtrip Surabaya-Jakarta Part 4 (Surabaya Hari Kedua: Monumen Kapal Selam dan Kulineran Belut)

Hari kedua kami di Surabaya, dan alhamdulillah kerjaan Zaki sudah beres. Jadi kami berencana langsung balik saja ke Jakarta, siang ini langsung chek-out dari Harris. Pagi ini karena lebih santai, Zaki fitness dan saya berjemur di pinggir kolam renang mencari sinar matahari sembari membaca novel saya yang mulai nagih untuk diselesaikan.

Kolam renang Hotel Harris selalu bagus

Continue reading “Roadtrip Surabaya-Jakarta Part 4 (Surabaya Hari Kedua: Monumen Kapal Selam dan Kulineran Belut)”

Roadtrip Jakarta-Surabaya (Part 3) Surabaya; Jalan-jalan Kaki dan Kuliner Bebek Kayu Tangan

Berhasil menembus kemacetan Surabaya menjelang senja hari itu, akhirnya kami tiba di Hotel Harris Gubeng. Rencananya kami akan menginap di sini dua malam. Besok Zaki akan ke Gresik untuk urusan kerjaan dan belum tahu juga apakah kerjaan besok bisa beres atau kami memperpanjang waktu singgah kami di Surabaya.

Kenapa pilih Harris, dengan budget di bawah 1 juta, hotel ini menurut saya paling tidak , (sejauh ini) belum pernah mengecewakan. Sudah pernah di beberapa kota seperti Bali dan Malang, selalu berkesan. Makanya saya agak maksa untuk menginap di Harris selama di Surabaya. Letak Haris di tengah kota di Jalan Gubeng. Bersebelahan dengan adiknya, yaitu Hotel Pop. Maaf yah, kali ini karena dibayarin kantor, agak mendingan dikit dong. Gak di Pop lagi. Hehehe.

Tiba di kamar hotel yang untungnya pemandangannya tidak lagi menyeramkan, kami sebenarnya antara lapar dan tidak lapar. Mau cari kulineran di Surabaya, Zaki sudah malas keluar. Mau gojek, takut ribet. Akhirnya kami pilih pesan di hotel atas rekomendasi petugas hotel, kami pilih nasi goreng kampung komplit.

Berhubung tidak terlalu lapar dan katanya komplit dengan sate ayamnya, kami pesan satu porsi untuk dimakan berdua. Biar romantis gitu. Eh padahal mah ngirit. Hehehe. Mahal bok. Kurang lebih 15 menit nasi goreng datang. “Eh kok katanya pedas, ini mah gak pedas ah.” kata Zaki. “Iyah, ini mah standar,” balas saya yang memang selera pedasnya jauh di bawah Zaki. Loh ini kan Surabaya yang terkenal apa-apa pedas. Kok malah gak pedas ya. Ya sudah, meski demikian piring nasi goreng tersebut langsung bersih tak ada sisa. Kami lafaaarrr ternyata yah.

Keesokan paginya, sebelum Zaki berangkat ke Gresik menempatkan diri sarapan. Ini bagian yang paling dinanti kalau menginap di Harris. Sarapannya buanyak macamnya. Puas. Meski demikian, pagi itu saya gak banyak makan. Udah kenyang saja. Efek membiasakan makan sesuai kebutuhan kali ya. Kalau Zaki, eits jangan ditanya. Pagi itu bubur ayam, mie ayam, lontong sayur. Hahahahaha. Katanya capek nyetir kemarin. Bisaaaaa… ajahhhh…

Sarapan di Harris Gubeng
Selpih ketika Sarapan

Zaki berangkat ke Gresik nyewa mobil rental Blue Bird yang memang ada di hotel. Katanya lagi dia capek. “Kalau disetirin kan bisa tidur, enak. Kayak kamu.” begitu katanya.

Zaki berangkat, saya buka laptop dan berencana mau nge-blog gitu. Kan enak kamar hotelnya. Alih-alih nge-blog, pagi hingga siang saya malah sibuk memindahkan foto-foto dari hp ke external HD. Kalau bosan ya sesekali saya membaca novel Crazy Rich Asians yang sedang saya baca.

Menjelang tengah hari, usai Zuhur saya berencana keluar hotel untuk mencari makan siang sekalian mencari buah tangan untuk berkunjung ke sepupunya Zaki yang tinggal di Surabaya nanti malam. sekalian silaturahmi kan yah.

Berhubung ini hotel di tengah kota, saya putuskan untuk ke mall saja. Padahal yah, hotel menyediakan shuttle bus untuk menuju mall tersebut, dasarnya saya gak disiplin ya telat aja dong. Ya udah saya memilih jalan kaki saja.

Tauk gak apa yang pikirkan ketika saya memilih jalan kaki siang itu. Loh kalau lagi di Singapura atau Bangkok saja kok saya bisa jalan berkilo-kilo meter, kenapa ini di Surabaya yang kotanya gak kalah bagus kok saya malas. Meski ditawari taksi, sama petugas hotel, saya kekeuh mau jalan. Buka google maps dan jalan kaki. Alhamdulillah meski awalnya sulit menggunakan google maps ya tapi lumayanlah lama-lama saya terbiasa juga. Kalau bingung kan nanya bisa. Toh bahasa yang digunakan masih sama. Bahasa Indonesia. Ye kannn…

Menenangkan berjalan kaki di Surabaya. Tamannya bagus, sangat terawat. Tanaman tumbuh subur, dengan bunga-bunga. Meski Surabaya agak panas, berada di dekat taman udara siang itu sedikit sejuk karena tiupan angin dan mata jadi hijau banget.

Air Mancur
Air Mancur di salah satu taman di Surabaya

Sungai di Surabaya
Bersihnya ini sungai di Surabaya

Entah karena saya yang dudul atau gimana, akhirnya saya tiba di mall yang bukan tujuan saya. Iyah, awalnya tuh saya mau ke Surabaya City Walk, eh malah belok ke Surabaya Plaza. Gara-gara mungkin saya salah baca maps. Sudah gak papah, kan sama-sama mall. Menghibur diri dan berusaha menerima kebodohan.

Gerai makanan di mall ya tentu saja sama persis dengan yang ada di Jakarta. Makanya saya memilih mencari foodcourt biar agak beda. Pilihan jatuh kepada nasi goreng Jancuk, yang katanya fenominil. Meski begitu saya pilih yang gak pedes. Nasinya banyak banget dan rasanya gak sefoneminil itu ternyata. Biasa ajah, ada potongan ikan asin kecil-kecil yang asinnya mantab. Harganya cukup mahal buat ukuran nasi goreng menurut saya. Entah kenapa saya selalu membandingkan setiap nasi goreng yang saya makan, dengan nasi goreng warung tenda dekat rumah. Sudah langganan, karena rasanya enak, dan murah. Enak versi saya, bumbu terasa, manis kecapnya cukup, nasi tidak terlalu ambyar dan sayurnya banyak. Sebenernya saya gak habis, tapi sayang. Pelan-pelan saya makan sambil membawa novel saya. Akhirnya sisa dikit. Yah maaf ya.

Nasi Goreng Jancoe di Plaza Surabaya
Nasi Goreng Jancoek di Plaza Surabaya

Selesai makan, saya putar-putar ke pusat perbelanjaan di situ. Dapat jaket lucu dan cardigan untuk dua orang keponakan. Dari situ ternyata Zaki menelepon dan bilang sudah di hotel. “Buruan pulang!” seperti biasa gaya otoriternya sebagai suami datang. Saya kembali ke hotel dengan ojek online dan hanya 5000 pemirsa. Ya ampun padahal lumayan lo muternya.

Malamnya kami berkunjung ke rumah sepupu Zaki yang di Surabaya. Dari situ kami meutuskan makan malam. Saran dari sepupu Zaki, namanya Dek Beni enaknya makan sambal belut. Kami meluncur ke sana. Eh belom rezeki, warung belut tutup. Kami menuju tujuan berikutnya, Bebek Kayu Tangan.

Rumah Makan Bebek Kayu Tangan sederhana. Bangunan lama tidak ada polesan kekinian sama sekali. Sangat otentik khas Surabaya. Buat yang gak suka bebek, ada juga ayam kampung. Saya pesan ayam kampung bakar bumbu rujak dan Zaki, bebek bakar bumbu rujak. Katanya itu yang khas.

Perlu diingatkan, kalau lagi lapar berat, pikir-pikir makan di sini. Agak lama gitu soalnya. Meski saat itu sedang tidak terlalu ramai pengunjung. Ketika hidangan tersaji langsung saja kami serbu. Kesetiaan kami menunggu berbuah. Ya ampun itu enak banget. Bumbu rujaknya manis, pedas, asam, bercampur jadi satu. Bubunya meresap hingga ke dagingnya. Meski untuk saya pedas, tapi itu enak sekali. Semuanya pas. Pedas manis dan asam, selera saya banget.

Di belakang meja kasir duduk seorang nenek yang usianya mungkin sudah 70 tahun. Selesai membayar makanan yang kami makan, saya sedikit mengobrol dengan beliau dan asistennya. Bukannya apa, sang asisten kadang memebri kode ke saya kalau si nenek sudah agak kurang pendengaran. Pantas kadang saya tanya apa, beliau jawab apa. Ya maklum lah ya.

Jadi hasil pembicaraan saya dengan mereka ketika saya usul agar membuka cabang di Jakarta, sebenarnya sudah pernah mereka coba. Di daerah Matraman. Respon pelanggan cukup bagus, namun entah kenapa harga sewa makin mencekik. Mereka tidak sanggup lagi dan akhirnya sekarang hanya menjalankan satu saja di Surabaya. Sudah berjualan sejak tahun 1970-an sejak anak-anak si nenek masih kecil. Alhamdulillah masih laris sampai sekarang.

Bebek Kayu Tangan
Ini Ayam Bakar Bumbu Rujak dengan Irisan Mangga Muda biar kayak rujak

Malam itu hari saya di Surabaya ditutup dengan kenangan pedas, asam, dan manis tentang sebuah rasa. Ya rasa, bumbu rujak yang bikin kangen. Pokoknya kalau ke Surabaya. Harus coba lagi. Begitu kata saya dalam hati, dilanjutkan dengan untung malam itu warung belut tutup. Hahahaha…

 

 

 

Jakarta-Surabaya Part 2 (Semarang-Surabaya) Nyobain Jalan Tol Baru :)

Apa Kabar Semarang? Jalan-jalan Pagi dan Mencari Sarapan

Melanjutkan kisah perjalanan kami yang akhirnya menginap di Hotel Pop belakang Lawang Sewu, alhamdulillah kami bisa tidur pulas. Mungkin karena capek yah. Iyah yang capek bukan saya sih, Zaki. Hihihihi. Saya waktunya tidur ya tidur. Misal tidur siang, atau setelah makan mengantuk.

Meski demikian, kalau lagi roadtrip begitu, sebelum tidur baiknya tanya ke rekan yang bawa mobil. “Kamu ngantuk gak?”, “Aku boleh tidur gak?”, Nah kalau dijawab gak ngantuk, lalu diizinkan tidur, baru saya tidur sih. Soalnya bukan apa-apa. Kalau mengantuk lebih baik kan kami istirahat dulu, atau kalau sedang di tol yang jalannya lurus, biasanya saya akan tahan-tahanin untuk menemani Zaki nyetir. Jalan tol yang lurus dan mulus yang memang baru kan banyak nih sekarang. Itu bikin ngantuk Pak supir kadang, jadi mau gak mau, sebagai partner yang baik, ya harus temani. Mengobrol apa kek, setel lagu lalu karaokean bareng juga asyik loh. Itu yang kami lakukan kemarin. Makanya sebelum perjalanan, siapkan lagu-lagu untuk teman di perjalanan.

Kembali melanjutkan kisah perjalanan kemarin ya. Pagi-pagi Zaki harus buka laptop, kemudian saya minta izin untuk keluar hotel. Berjanji untuk tidak jauh-jauh. Lagipula ini kali keberapa saya ke Semarang. Letak hotel di pusat kota dan di belakang Lawang Sewu, juga sepertinya saya hanya akan berkeliling Lawang Sewu saja. Di luarnya ya, karena kalau masuk, ya belum buka juga sih jam 7 pagi.

Kami yang tidak memilih sarapan di hotel, ketika keluar hotel saya langsung bertanya ke Pak Satpam yang sudah berganti. Maksudnya bukan satpam yang mengantar kami ke kamar itu loh. Beliau merekomendasikan di samping kiri hotel ada sebuah warung nasi. Warung nasi kecil dengan spanduk yang sudah lusuh bertuliskan Warung Mak’e. Meski kecil, dan tempatnya tidak menarik, tapi menu masakannya lumayan ramai (bermacam-macam) dan enak.

Benar saja, ketika saya melewati warung Mak’E, antrian pembeli cukup banyak. Mereka adalah pekerja yang mau berangkat ke kantornya. Ternyata, di depan hotel saya adalah sebuah pusat perbelanjaan.

Saya memutuskan untuk memilih berjalan-jalan dulu saja sebelum membeli sarapan. Trotoar di Semarang bagus sekali. Lebar dan nyaman untuk pejalan kaki. Pagi itu lalu-lintas belum terlalu ramai. Saya melewati Lawang Sewu, dan melihat beberapa petugas kebersihan sedang membersihkan pelatarannya.

Sepanjang trotoar tidak ada yang berjualan. Beda dengan Jakarta. Meski di jalan utama terkadang ada saja pedagang dengan motor atau sepeda yang menjajakan makanan untuk sarapan. Seperti bubur ayam, nasi uduk, roti bakar, bahkan buah segar. Akhirnya saya rindu Jakarta. Hehehehe. Tetapi itu yang membuat trotoar di Semarang bagus. Lebar, terlihat rapi dan bersih. Sangat enak bagi pejalan kaki. Meski ya trotoarnya pagi itu sepi dengan pejalan kaki.

Berbelok ke kiri untuk kembali ke hotel, saya melewati kali kecil, dan ada tempat pembuangan sampah kota. Gerobak sampah berbaris. Ada beberapa petugas kebersihan memilah sampah. Aromanya kurang enak. Saya kagum melihat mereka. Bekerja setiap hari dengan sampah. Hidup membuat mereka harus bekerja, meski saya rasa mereka tidak suka. Semoga banyak rejeki ya Ibu-ibu dan Bapak-bapak. Pahlawan keluarga.

Sebelum kembali masuk hotel, saya akhirnya membeli nasi bungkus di warung Mak’e. Seperti biasa, saya merindukan sayur mangut khas Semarang yang ternyata juga ditemukan di setiap daerah di pesisir utara Jawa ini. Dua porsi sayur bayam, sebungkus nasi dengan mangut ikan pari, kering tempe, dan sebungkus lagi dengan telor dadar untuk Zaki. Mak’e memberi bonus teh tawar hangat dan saya hanya membayar 23 ribu untuk semua makanan yang saya beli. Murah yah…

Sarapan
Sarapan Nasi Mangut Pari

Pagi itu warung Mak’e masih saja ramai oleh pembeli. Mereka yang ingin mengisi tenaga sebelum bekerja. Padahal saya mau ngobrol banyak sama Mak’e wanita yang kira-kira berusia 50-60 tahun dibantu seorang gadis muda yang menghidangkan minum bagi pembelinya.

Ah nanti saya mengganggu, jam ini jam sibuk di warung Mak’e. Mak’e bahkan sempat bertanya ke saya, “Sampeyan, kerja di hotel ini tho?” tanyanya. “Oh, nggak Bu, saya dari Jakarta. Cuma menginap saja kok, mau ke Surabaya. Makasih ya Bu.” Saya pamit dan harus segera kembali ke hotel. Zaki pasti sudah menunggu. Kami harus segera melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Jika lancar, kami akan tiba sore hari saat matahari terbenam.

Menikmati Kerennya Jalan Tol Bawen-Salatiga

Jam 09:00 pagi kami Chek-out dari Hotel Pop menuju Surabaya. Rute yang dipilih kali ini kami memilih melewati jalan tol terindah di pulau Jawa atau di Indonesia, saya gak tauk juga sih. Iyah, jalan tol Bawen-Salatiga. Yeayyy…

Lagi-lagi kami perlu ke toilet dan berhenti di rest area tol tersebut yang masih di masuk wilayah Kabupaten Semarang. Masih pagi, masih sepi pengunjung. Toiletnya bersih sekali. Gratis lagi. Berjalan ke bagian belakang toilet, kami disuguhi pemandangan alam nan ciamik. Subhanallah keren banget. Pemandangan pegunungan khas pedesaan kami nikmati. Tak kalah menarik juga mesjid di rest area tersebut. Masjidnya bagus, megah, dan besar. Sayangnya kami gak masuk. Kami memilih berfoto saja, dan kembali melanjutkan perjalanan.

Bergaya di rest area Tol Bawen-Salatigasekali-kali selfieee….

Jalan Tol Bawen-Salatiga
Jalan tol Bawen-Salatiga

Keluar tol Salatiga, kami memasuki jalan biasa, yaitu jalan antar provinsi. Kadang melewati hutan jati, atau ketika kami melewati daerah Sangiran ada museum fosil purbakala. Sayangnya Zaki gak mau mampir. Hiks. Ya gimana ini kan kerja ya, bukan jalan-jalan, jadi harus sampai di Surabaya segera. Zaki janji, setelah pekerjaan beres, nanti kita baru menikmati perjalanan dengan mampir-mampir. Baiklah, seertinya saya harus mengerti. Hihihihi.

Meski agak bete karena gak bisa mampir ke objek wisata yang kami lewati, saya cukup menikmati perjalanan kali ini. Kami melewati Pondok Modern Gontor yang cukup megah di daerah Ponorogo. Saya hanya mendengar saja tentang Pondok Pesantren Modern Gontor ini, kali ini saya melewatinya. Pondok tersebut terdapat di beberapa tempat, ada khusus laki-laki dan wanita yang terpisah.

Makan Siang di Madiun

Hari beranjak siang. Saya akui, jalan provinsi di Jawa Timur lebih bagus dan lebih besar dibandingkan Jawa Tengah. Perut mulai teriak minta diisi. Kami mau mencicipi pecel madiun ketika memasuki daerah Madiun, tetapi kok warung makan di daerah itu banyak yang tutup. Apa mungkin mereka hanya buka di akhir pekan? Saya tidak tahu. Akhirnya karena perut sudah lapar, kami berhenti di sebuah warung makan di daerah perbatasan Madiun dan Ngawi yaitu Caruban. Tepatnya di depan Kantor Kepala Desa Purworejo. Nah kan sama nama daerahnya seperti sebuah daerah di Jawa Tengah.

Kantor Kepala Desa Purworejo-Caruban
Kantor Kepala Desa yang sudah sepi

Siang itu sekitar jam 14:30 kantor kepala desa sudah sepi. Begitu pula dengan sekolah dasar di dekatnya. Siang itu hanya ada anak-anak sedang bermain sepeda. Mungkin mereka sudah pulang sekolah. Ketika saya tanyakan ke Ibu warung, kenapa kantor kepala desa sudah sepi? “Memang sudah bubaran mbak jam segini.” jawab si Ibu. “Wah senangnya… ” spontan saya berkata demikian.

Bandingkan dengan mereka yang bekerja di kota besar seperti saya. Jam segitu, mungkin baru memulai kerja dengan disposisi dari Bu Bos hasil rapat, yang kemudian harus diselesaikan hari itu juga. Tak jarang harus pulang jauh melewati jam kerja seharusnya. Jam 21:00 bahkan lebih. “Ya itulah bekerja di desa. Santai, gak ngoyo kayak orang kota.” tiba-tiba Zaki mengeluarkan celetukan. Iyayah, apa sebenarnya yang dicari dari pulang malam dari kantor? Apa yang di dapat? Oke, kapan-kapan kita bahas di lain waktu.

Makanan sudah tersaji di meja, dan kali ini saya lapar berat. Apa daya pecel Madiun tidak ada, adanya pecel lele. Berhubung lapar, sikattt… Hehehe.

makan siang pecel lele dan rawon

Nyobain Jalan Tol Baru Mojokerto-Surabaya

Oh iya, kemudian kami masuk tol lagi di Mojokerto yang belum lama diresmikan kemarin. Ya ampun, itu jalan tol mulus banget, bagus pula.

Sebenarnya sih, kenapa Zaki mau roadtrip sampai ke Surabaya pun ya karena sudah ada jalan tol yang menyambungkan Jakarta-Surabaya. Iyah belum jadi semua kok. Tapi ini membantu banget. Merasakan betapa pembangunan terjadi di negara ini. Setahu saya pembangunan waktu itu adanya di era Pak Harto dan kemudian entah kenapa semua orang atau petinggi negeri ini terlalu disibukkan dengan urusan politik yang gak jelas buat saya. Ya mungkin demikian prosesnya. Pokoknya saya happy banget lihat pembangunan yang benar-benar nyata adanya.

Ini Tol Mojokerto
Jalan Tol Mojokerto yang baru diresmikan September 2017 kemarin

Tiba-tiba kami memasuki sebuah keriuhan jalan. Kemacetan lalu-lintas. Oh ternyata lampu merah. Motor saling berdesak-desakan maju ke depan, hingga mobil kami yang mau belok ke kiri sulit sekali belok. Untungnya ada Bapak yang baik hati memberi aba-aba, sehingga kami bisa belok dengan mulus, meski di celah yang sempit. Ya, akhirnya kami tiba di Surabaya, tepat ketika orang-orang pulang bekerja. Kembali ingatan kami ke Jakarta. “Gokil, Surabaya persis banget Jakarta pas jam pulang kantor gini.” sumpah serapah mulai keluar dari mulut Zaki. Hahahaha. Welcome to Surabaya. 🙂 But Surabaya is more beautiful than Jakarta because of the park i think. Yess. Bersambung ke next post yah cerita di Surabaya dan perjalanan kembali ke Jakarta yang pastinya  lebih seru.