One Day Tour Chiang Rai-Golden Triangle (First Stop : Hot Spring)

Perjalanan kali kedua  saya ke Bangkok kali ini, lagi-lagi karena gak rela suami mau dinas dari kantornya. Hehehe emang saya istri yang sirik kalau suami lagi traveling. Enaknya kalau suami yang tugas dinas, itu seringnya sendiri, jadi saya selalu pinginnya ngintil . Ngintil itu bahasa Jawa yang artinya ngikutin.

Kalau yang pertama kali kami ke Bangkok kami liburan dulu, kali ini dibalik. Suami kerja dulu, saya menyusul kemudian. Alasan berikutnya, karena sudah hampir enam bulan paspor saya tertahan di travel agent penyelenggara umroh yang lagi bermasalah banget. Ketika sudah mendekati waktu keberangkatan dan sepertinya tidak ada kejelasan, kami memutuskan untuk menarik uang dan paspor kami, alias membatalkan. Paspor kembali ditangan setelah hilang beberapa bulan itu rasanya kan pengen diajak jalan yah. Hehehehe.

Setelah gagal ikut suami ke Jerman atau Singapura, pokoknya harus ikut  ke Bangkok. Dalam rangka pembebasan paspor saya dan hari kejepit tanggal merah. Hihihi. Meski ini kali kedua, saya pokoknya mau ikut. Tapi kalau cuma ke Bangkok lagi, kok rasanya bosan. Halah kayak udah sering aja ngomong begini. 🙂

Suami awalnya bilang kita staycation aja di hotel. Kantor tempatnya bekerja, bersedia kasih lebih 2-3 malam untuk menginap di hotel apartemen yang memang super duper nyaman. Saya merenung. Apa bedanya leyeh-leyeh di hotel bintang lima  sama leyeh-leyeh di rumah saya yang menurut saya tidak kalah nyaman dengan hotel? Ah, saya berpikir keras. Sayang cap di paspor saya deh. Moso jauh-jauh cuma leyeh-leyeh di hotel. Pokoknya harus kemana ini. Lagi-lagi pokoknya. Hehehehe.

Era sosial media sekarang ini, membuat saya bisa memecahkan persoalan saya kali ini dengan mudah. Ah masa, lima hari empat malam di Thailand jalan-jalan di Bangkok doang dan bobo-bobo di hotel ajah. Dari instagram teman saya, saya melihat belum lama ini, dia jalan-jalan ke Golden Triangle yang letaknya di sebelah utara Thailand dan berbatasan langsung dengan Laos dan Myanmar. Aha, saya ,mau ke sana. Meski kami harus merogoh kocek lagi, untuk transport dari Bangkok ke Chiang Mai. Ya, Chiang Mai. Saya juga belum pernah ke Chiang Mai. Provinsi di Thailand yang pernah menjadi tuan rumah acara pertandingan olahraga bangsa-bangsa se-Asia Tenggara di tahun 1995 zaman saya di sekolah dasar.

Setibanya saya di Bangkok, kami langsung memutuskan keliling Bangkok, tepatnya, menengok saudara tua di Kampung Jawa.

Baca : Menengok Masjid Jawa di Kampung Jawa, Bangkok dan bertemu Ibu Mariam yang baik hati. Baca juga : Ibu Mariam, Muslimah Keturunan Jawa di Kampung Jawa, Bangkok, Thailand

Hari berikutnya, kami menuju Chiang Mai dan menghabiskan satu hari melihat-lihat kota tua yang cukup terawat. Berkesempatan sholat berjamaah di masjid di kawasan muslim Chiang Mai.

Baca : Melihat Tradisi Muslim Chiang Mai di Masjid Hadayatul Islam Banhaw Chiang Mai

Berkunjung ke sebuah kuil dari banyaknya kuil yang ada di Chiang Mai.

Baca : Menengok Wat Buparram di Kota Seribu Kuil Chiang Mai

Hari kedua kami di Chiang Mai, kami akan dijemput oleh tour guide di depan hostel kami. Jam tujuh pagi kami sudah siap. Berhubung paket menginap kami tidak mendapat sarapan, pagi itu kami sudah melipir dulu ke Sevel. Oh iyah sebenarnya ada satu hal lagi yang mau saya ceritakan di sini. Entah kenapa, dari semalam sebelum keberangkatan kami ke Chiang Rai, perut saya mules. Untuk pengalaman ini baiknya sih nanti aja ya saya ceritakan di episode berikutnya.

Kembali ke topik tour ke Golden Triangle. Setelah peserta tour lengkap, akhirnya kami tiba di tempat pemberhentian pertama kami yaitu Hot Spring alias sumber mata air panas dari pegunungan.

Setibanya kami di sana, saya langsung mencari toilet. Guide tour kami menginfokan kami hanya 15 menit saja berada di sini. Ya ampun, sebentar banget. Apa yang mau dilihat coba?

Hot Spring Water Chiang Mai

Selesai dari toilet saya menghampiri beberapa orang yang sedang berendam (kebanyakan hanya menenggelamkan bagian kaki sampai lutut, gak ada yang sampai merendam tubuhnya). Coba sebesar mana. kira-kira diameter kolam tiga meter kali yah. Pengunjungnya pun belum terlalu ramai.

Turis-turis berendam di Hotspring

Zaki malah seperti biasa. Lebih tertarik sama jajanan yang namanya ro-tee. Iya kayak roti maryam gitu yang dimasak pakai telor dan dikasih saus. Jajanan khas Chiang rai yang kebanyakan penjualnya muslim. Biasanya di gerobaknya selalu ada tulisan halalnya soalnya.

Melipir cari cemilan

DSC01945.JPG
Rotee

Di sepanjang parkiran mobil juga banyak yang menjual cendera mata. Di bagian depan dimana ada tulisan nama tempat ini, ada sebuah kolam yang berdiameter satu meter yang airnya memiliki suhu paling panas dibanding di tempat lainnya. Di sekitarnya ada penjaja telur untuk ditawarkan pelanggan yang ingin membuktikan air di kolam itu bisa merebus telur.

Kalau dipikir-pikir yah. “Segini doang nih? Gak ada apa-apanya dibanding Pemandian Air Panas di Ciater atau di Garut yang kolam renangnya aja gede banget. Belum lagi aliran sungai air panas dari atas yang meliuk-liuk dan banyak orang berendam di dalamnya. Berendam seutuh-utuhnya badan lo yah. Bukan cuma basahin kaki. Hihihihihi. Ya udah namanya juga jalan-jalan. Dinikmati aja yah. Nah kan Indonesia lebih oks kan. Hehehe. Tapi… kenapa banyak turis aja gitu di sana? Coba yah bantu pikir, kenapa?

Pancuran air panas

Penampakan Hot Spring di Chiang Rai
Mata Air Panas di Chiang Rai
Sumur Air Panas
Sumur Air Panas Tempat Pembuktian Kalau Air Itu Panas, Jendral. Caranya? Telur Mentah Berubah Menjadi Telur Rebus 🙂

One day tour belum selesai, bersambung di postingan selanjutnya yah… 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

Hati-hati Kalau ke Toilet, Apalagi di Negara Orang :(

Sebenarnya dengan menuliskan hal ini, sedikit membuka aib diriku. Sumpah tulisan ini juga sangat tidak bermanfaat bagi pembacanya. Pokoknya gak dibutuhkan sama orang-orang, sehingga gak mungkin tulisan ini meningkatkan trafic blog saya. Hehehehe. Tapi ya sudahlah, semoga bisa jadi pelajaran buat teman-teman yang lain.

Entah apa yang terjadi pada metabolisme tubuh saya ketika di tempat yang sedikit ber-ac atau agak dingin sedikit. tiba-tiba saja selalu ada hasrat panggilan untuk ke belakang. Maksudnya ke belakang di sini tentu saja ke toilet. Bukan buang air kecil, tapi buang air besar. ups. Maaf kalau tulisan ini agak menyebalkan. Ya udah silahkan jangan lanjutkan bacanya.

Keinginan BAB di tempat umum ini sudah lama. Sepertinya sudah dua puluh tahun yang lalu. Dari Mall yang besar sampai cuma Indomaret atau Alfamart, saya sudah pernah loh. Bandara mah jangan ditanya. Pasar tradisional aja pernah. Parah kan? Pokoknya orang-orang terdekat sayamah sudah tauk banget kebiasaan saya yang nggak banget ini.

Sepertinya jejak banyak saya tinggalkan di mana-mana. Tapi ada yang paling banget gak bisa saya lupa. Itu sekitar beberapa tahun lalu, ketika jalan-jalan ke Bangkok. Lebih tepatnya ketika kami akan mengunjungi museum Madame Tussaud.

Museum Madame Tussaud memang terletak di Mall, namanya Mall Siam Paragon. Pagi-pagi kami sudah tiba di sana. Belum lama masuk mall, langsung deh perut berasa muter alias mules gitu. Saya pun segera mencari toilet.

Tauk dong mall di Bangkok, yang megah dan besar, toilet sudah pasti bersih dan modern. Pagi itu pengunjung mall pun masih bisa dihitung dengan jari. Masih sepi. Begitu masuk toilet pun yang ada hanya mbak-mbak petugas kebersihan toilet. Asyik bisa aman dan nyaman nih. Memang agak kurang nyaman kan kalau lagi kebelet Pup toliet antri. Mending gak deh. Hehehehe.

Saya pilih toilet yang paling pojok dong. Alasannya biar apa? Toilet pojok kan letaknya di ujung. Pasti jarang dipakai sama pengunjung lain. pasti mereka langsung incar yang di depan. eh tapi, kalau sebagian besar orang berpikiran seperti saya. Toilet pojok paling sering dipakai dong ya.

Langsung deh saya duduk manis. Masalah terjadi ketika saya menekan tombol flush toilet duduknya. Jreng… jreng.. kok gak bisa. Cuma bluk-bluk. What… ya Allah gimana dong. Coba lagi, coba lagi sampai berkali-kali belum berhasil. Ih, si Zaki sudah bolak-balik nelpon aja. Bodo amat cuekin ajah. Ini masalah genting.

Kondisi toilet yang sepi, kan malu banget. Belum lagi di sini saya turis. Dari Indonesia pula. Aduh bisa di cap jelek dong turis Indonesia. Padahal kan emang mesin flush toiletnya yang rusak. Gila yah ini mall besar kok bisa toiletnya rusak. Masih ada untungnya nih, ada showernya. Datanglah akal saya menggunakan kekuatan shower untuk menyiram “sampah” toilet. Lama sih emang, tapi… yeay it works. Alhamdulillah berhasil.

Sumpah saya kesel banget, pagi-pagi dapat zonk masalah di toilet begini. Ya ampun kenapa juga pas di Bangkok begini. Keluar toilet saya pun coba protes ke mbak-mbak penjaga kebersihan pake Bahasa Inggris. Baik-baik tentunya. Dia cuma ngangguk-ngangguk aja. tauk deh ngerti apa nggak.

Moment ini memberi pelajaran buat saya, sebelum pakai toilet cek terlebih dahulu apakah mesin flush nya berfungsi dengan baik atau tidak. Entah itu di Indonesia atau di manapun alam memanggilmu. Camkan itu Rini. Camkan.

Meski agak bete kemudian saya bisa bertemu dengan idola sejak zaman SMP. Selalu ada alhmadulillah… :)))

Rini dan Beckham
Finally Meet Him in Personal even just of his statue :)))))

 

 

Menengok Wat Buparram di Kota Seribu Kuil Chiang Mai

Hellow… dah lama banget gak posting. Harus displin lagi nih, oneweek one post-nya. Anyway… ini salah satu cerita dari masih ada beberapa seri perjalanan terakhir saya ke Thailand beberapa bulan lalu. Semoga belom basi ya… hehehe.

Jam enam pagi di hari kedua saya di Thailand, kami sudah duduk manis di restauran hotel bintang lima di kawasan Sukhumvit Bangkok itu. Ehem, jam segini sudah ramai. Kebetulan hotel itu merangkap apartemen di mana banyak ekspatriat yang kebanyakan Japanese tinggal. Mereka bekerja dan menetap di Bangkok. Gak mau rugi, pagi itu saya makan buah dan oats. Menyelipkan satu croisant keju, dan dua buah yogurth yang kemudian ketinggalan di kulkas di hostel Chiang Mai dan jadinya gak saya makan juga. Well, apakah karena itu mencuri? Ah gak dong, kan boleh diambil. Ya belom rejeki kali ya.

Dari Marriot kami naik taksi ke Don Mueang airport kurang lebih 30 menit saja. Hari masih pagi jalanan Bangkok belum macet. Di bandara saya sempat BAB dan jajan masker di Sevel. Di Chiang Mai kan panas, muka harus tetap kinclong. Demi foto yang cetar (padahal kemudian tidak ada foto yang cetar). Hehehehe.

Jajanan Skincare di Thailand
Jajan Skincare Sachet di Sevel Don Mueang (ka-ki : CC cream, Masker Lidah Buaya, dan Masker Tomat)

Tepat jam 9, kami sudah dipanggil untuk naik pesawat. Wah maskapai singa di Bangkok on-time sekali. Senangnya, gak malu-maluin Indonesia. Lucunya, saya tidak terlalu melihat perbedaan penampakan antara penumpang yang naik maskapai budget dengan mereka yang naik maskapai premium seperti Thai airways. Penumpang Thai Lion pagi itu tertib mengantri sesuai nomor tempat duduk, dan tertib saat di pesawat. Agak beda dengan yang saya temukan di Indonesia. Aduh maaf ya, bukan maksud nyinyir tapi itu memang nyata adanya.

Beberapa kali naik pesawat Singa itu beda sekali dengan naik Burung Biru ketika di Indonesia. Beda tempat jelas ya, tapi penumpang yang saya temui juga berbeda kelas sepertinya. Ya disitulah uniknya Indonesia. Seru dan indahnya keberagaman, bikin hidup gak selalu mulus.

Tiket ke Chiang Mai
Bangkok-Chiang Mai Thai Lion Air

 

Kembali ke judul yuk ah. Kami tiba di Chiang Mai satu jam kemudian. Pagi itu bandara masih sepi. Hanya pesawat kami saja yang mendarat. Seperti bandara di mana ya, mungkin Batam, tidak juga lebih kecil. Masih sederhana, tapi rapi dan cantik.

Banadara Chiang Mai
Landmark Bandara Chiang Mai

Sebelum keluar bandara, kami menghampiri sebuah travel agent di sana untuk membeli paket tour  ke Golden Triangle besok. Kami mendapat potongan 200 THB. Belakangan saya baru sadar harga kami sepertinya masih kemahalan (emak-emak selalu gini).

Di luar bandara, kami bingung memilih song thew (angkot di Chiang Mai kayak oplet), taksi konvensional, atau tuk-tuk (kendaraan roda tiga khas Thailand). Zaki mendekati sebuah tuk-tuk yang sedang parkir. Nego harga, kami rasa masih masuk akal. Deal, naiklah kami ke kendaraan yang mirip bajaj itu.

Wuzzz… tuk-tuk jalan dengan kecepatan agak lumayan. Angin kencang menerpa wajah kami. Dengan bantuan google maps, supir tuk-tuk membantu kami menuju tempat penginapan yang sudah kami booking via booking.com.

Agak lama kami berputar-putar di daerah old town, yang memang kawasan favorit turis untuk bermalam. Masuk ke gang yang satu keluar gang yang satu. Supir tuk-tuk sepertinya mulai kebingungan. Zaki mulai gak sabar, akhirnya ikutan buka hape dan bantu mencari. Euhm… alhamdulillah gak lama ketemu juga hostel kami. Ternyata letaknya di pinggir jalan. tidak di dalam gang. Meski begitu, kami kasihan juga sama supir tuk-tuk, akhirnya kami kasih lebih dari ongkos sesuai perjanjian. Senang sekali wajah si Bapak, menerimanya.

Lanna House
Lanna House Chiang Mai

Masih terlalu pagi, kami belum bisa masuk ke kamar hostel. Kami hanya menitipkan koper saja, dan kemudian keluar hostel untuk melihat kota Chiang Mai lebih dekat. Mau kemana kita? Sampai saat itu kami belum tahu mau kemana. Kemudian saya menujuk ke arah kanan hostel kami. “Jalan ke sana aja yuk.” yang diikuti anggukan Zaki.

Di sekitar hostel kami banyak kafe-kafe yang menjajakan western food dan Thai food dan tentu saja tempat buat mimik-mimik. Ada juga kafe yang menjual kopi seperti setarbaks. Menarik lagi, di Chiang Mai banyak toko-toko buku lokal yang menjual buku baru atau buku bekas dengan harga yang miring. Sayangnya saya gak mampir. Payah ya? Iyah payah. Hehehe. Abis belum lama ke Big Bad Wolf, takut kalap banget kalau masuk toko buku. Budget untuk beli buku juga gak ada. Tapi iyah, saya salah. Harusnya saya masuk saja.

Chiang Mai mungkin bisa dijuluki sebagai kota seribu kuil. Setiap dua ratus meter, kita akan bisa menemui kuil yang bagus-bagus khas bangunan kuil Budha Thailand. Siang yang terik, sebelum masuk kuil kami sempat berhenti untuk membeli Thai Iced Tea. Panasnya terik sekali siang itu, padahal suhu hanya 32ºC. Matahari seolah berjarak sejengkal dari kepala. Godaan kesegaran es teh Thailand memang tak tertahankan.

IMG_2376
Gerobak Penjual Thai Ice Tea
IMG_2378
Penampakan Thai Ice Tea

Setelah berjalan kurang lebih lima ratus meter, saya melihat gerbang sebuah kuil yang terbuka. Saya lihat lagi, sepertinya ada pengunjung. Ini kuil kedua yang kami lewati. Kuil pertama gerbangnya tertutup. Kami masuk saja. Untuk turis dikenakan biaya 40 THB per orang. Nama kuil ini Wat Buparram.

Penampakan Kuil Wat Buparram
Kuil Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram
Wat Buparram

Memasuki bangunan utama kuil, tentu ada patung Budha duduk. Di dalam sudah ada rombongan turis dari China dengan tour guidenya. Sayang sekali tour guide menggunakan bahasa China yang tentu saja kami tidak mengerti sama sekali. Kami cukup puas dengan mengambil foto saja.

Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram
Patung Budha di Wat Buparram dan jangan tanya siapa laki-laki dan wanita cantik di foto itu.

Keluar bangunan utama, kami berkeliling area kuil. Berpose ala-ala selebgram di depan sebuah stupa yang paling besar, dan melihat-lihat ke area dapur kuil yang siang itu saya melihat seorang biksu. Ada museum juga tapi ditutup dan seperti kurang terawat.

Buparram Museum
Wat Buparram Museum
Wat Buparram dari pelataran
Wat Buparram dari samping
IWat Buparram
Wat Buparram dari depan
Gagal Gaya Ala Selebgram
Gagal Gaya Ala Selebgram 😦 Belom Siap dah Cekrek
Tuktuk
Parkir Tuk-tuk
Payung dan Sunglasses
Payung dan Sunglasses membuktikan panasnya Chiang Mai siang itu

Mungkin di sana kami hanya 30 menit dan kemudian dengan tiba-tiba sebuah konvoi tuk-tuk mengejutkan kami masuk ke dalam area parkiran kuil. Rombongan turis Korea ternyata. Wah seru juga yah. Rombongan naik tuk-tuk. Kami pun bergegas keluar gerbang kuil dan memutuskan cari makan. Iyah, kami lapar sudah jam dua belas. Cari makanan halal di mana yah. Zaki mulai kemudian meng-googling.

Sepertinya untuk satu postingan blog sudah terlalu panjang yah saya berceloteh. Bersambung aja kali ya… Next post, kami juga menemukan kawasan makanan halal di Chiang Mai.

 

Tempat Makan Halal dan Enak di Bangkok

Sepertinya semua sudah tahu lah ya, kalau Thailand itu surganya makanan enak. Mulai dari makanan pembuka atau cemilan. Sebut saja mango sticky rice, coconut ice cream, manisan-manisan dan masih banyak lagi. Sampai makanan utama kayak Tom Yam, Pad Thai, Bakmie, dan sebagainya dan sebagainya.

Makanya buat orang Indonesia yang doyan makan gak susah lah kalau ke Thailand. Gak perlu bawa mie instan sampai satu kardus atau rendang tiga kilogram, kita masih bisa menikmati makanan di sini. Makanan Thailand juga akan terasa lebih enak dibandingkan jika kita makan masakan Thailand di Jakarta.

Kalau di Jakarta saya suka makan di Kokas ada White Elephant atau resto dekat rumah juga ada. Oh iyah, sebagai orang Indonesia saya sumpah sirik banget sama Thailand yang makanany sudah mengekspansi ke Indonesia bahkan ke pelosok Bekasi rumah saya. Pokoknya gampang bangetlah ketemu masakan Thailand di mana-mana. Coba di Thailand, ada gak yah makanan Indonesia di sana. Belom pernah sih. Hehehe.

Meskipun makanan Thailand enak dan enak banget, tapi gak juga kami bisa makan di mana saja dan apa saja. Sebagai muslim kami harus selalu cek dan ricek asal-usul bahan makanannya. Paling gampang ya tidak mengandung hal-hal yang diharamkan seperti babi, anjing, atau hewan-hewan yang hidup di dua alam.

Terus susah dong cari makan di Thailand. Ah nggak juga, siapa bilang. Googling ajah, pasti banyak dan itu semua enak-enak. Berikut beberapa restoran ataupun makanan halal yang udah pernah kita cobain di Bangkok, Thailand.

  • Warung Bakmie di Daerah Kampung Jawa

Daerah Kampung Jawa memang perkampungan muslim di Bangkok. Di sana ada hostel dan ada beberapa penjual makanan yang tentunya halal. Kemarin saya mencoba bakmie kuah di sini. Cerita lengkapnya di postingan sebelumnya.

Warungnya lumayan ramai, beruntung lagi karena letaknya di Kampung Jawa jika ada pembeli yang bisa berbahasa Melayu, kamu bisa dapat bonus ngobrol-ngobrol dan mencari tahu tentang masyarakat keturunan Jawa di sana. Seperti kami kemarin.

Baca : Ibu Mariam, Muslimah Keturunan Jawa di Kampung Jawa Bangkok

Bakmie Thailand
Bakmie Thailand
  • Yana Restoran di MBK Mall

Setelah lelah jalan-jalan di pelataran Grand Palace kami berniat makan malam di salah satu mall yang lumayan besar Bangkok. Yup MBK. Gak ada niatan sama sekali belanja, ya sudah cuma dadah-dadah aja sama sepatu asal Jepang yang belum masuk ke Indonesia itu. Huhuhuhu. Sama beli Thai Ice Tea Nestea titipan teman. Langsung menuju Yana Restoran di Lantai 3.

Awalnya kami agak sok turis gitu, ngomongnya pakai Bahasa Inggris. Eh disautin sama pelayannya pakai bahasa Melayu. Ya udah, gagal jadi turis. Mukanya melayu banget sih. Hehehehe.

Sore menjelang malam itu kami memesan Tom Yum, Nasi Goreng dengan daun apa yah hijau rempah gitu, sama spring roll. Untuk minumnya, saya air jeruk lemon dan Zaki es teh tawar.

Sudah gak shock sih sama porsinya yang besar. Makanan Thai memang gak nanggung-nanggung. Heran banget cewek-cewek sana bisa kurus-kurus cantik. Jarang yang gendut. Rasanya enak masuk lah sama lidah kami. Jelas tom yum-nya lebih enak dan isinya lebih banyak dibanding di Jakarta. Untuk harga, agak lebih mahal memang. Secara tempatnya di mall ya.

Menu di Yanan Restauran
Tom Yum
Nasi Goreng Yana Restoran
Nasi Goreng
Spring Roll Yana Resoran
Spring Roll

Di MBK mall lantai atas ada food court, di sana ada juga tempat makan bakmi yang halal. Kami makan di sana sekitar tahun 2014. Harga sedikit lebih murah, tapi setelah dipikir-pikir, itu kanan kirinya kan jualan apa yah, dan nyucinya barengan alat makannya. Baru ngeh ketika sudah selesai makan. Hahaha. Ampuni kami Ya Allah.

  • Warung Nasi Briyani di Catucak Market

Tiba di Catucak jam 10 pagi setelah drop koper di hotel selepas kami dari Chiang Mai. Ya

ampun nafsu banget yah bu belanja, jam segitu udah di pasar. Wkwkwkwk. Bukannya apa sih yah. Tujuan utama kami sebenarnya cari sarapan.

Hotel kami letaknya persis, banget di belakang pasar yang hanya buka Sabtu dan Minggu ini. Beruntung banget sih iya, tapi sayangnya gak bisa yah itu tembok di jebol biar kami gak harus memutar gitu. Capek juga jalan turun dari bus, bawa ransel, geret koper, harus jalan kurang lebih satu kilometer. Huhuhuhu.

Setelah memasuki area Catucak, warung makan yang jelas-jelas ada logo halalnya meski kami gak tauk nama warung itu apa karena hanya ada tulisan Thai aja. Lihat menu seputar ayam. Ya udah apapun itu kami lapar.

Pagi itu menu yang saya pesan, nasi briyani dengan ayam porsi kecil, sedangkan Zaki nasi briyani dengan ayam masak pedas. Setiap menu dikasih kuah sup ayam di mangkuk plastik.

Persis kayak di resto cepat saji, makanan yang kami pesan datang tidak terlalu lama. Minuman saya pilih air mineral saja dan Zaki teh tawar tentunya saya akan dapat cangkir bersisi bongkahan es batu.

Warung Nasi Briyani di Catucak
Warung Nasi Briyani di Catucak Market
Nasi Briyani dan Ayam Goreng
Nasi Briyani dan Ayam Goreng
Nasi Ayam Pedas
Nasi Ayam Pedas

Bagaimana rasanya? Euhm… entah karena rasa lapar saya yang memang puncak-puncaknya atau memang enak beneran sih, ini enak banget nasi briyaninya. Rasanya mirip bahkan persis banget sama yang saya makan waktu di Arab.

Ya ampun tiba-tiba jadi ingat pas di Arab dan itu sampai bahagia banget rasanya. Ayamnya juga sama rasanya, bumbunya menyerap sempurna. Agak-agak manis dan renyah. Oh iya, sambalnya sambal Bangkok seperti yang ada di Indonesia kok. Itu kan selera saya. Pedas Manis. Waktu di Arab makanan ini andalan gank saya waktu itu. Porsinya yang besar bisa buat tiga orang sekaligus makan dalam satu wadah. Aduh nikmat sekali.

Kalian tahu gak, sorenya, kami balik ke Catuchak Market setelah istirahat sholat dan saya ajak Zaki makan di sini lagi. Wkwkwkwk. Satu lagi, harganya murah. Bedalah sama yang di mall. Gak sampai 50 ribu satu porsi. Sorenya, saya pesan menu yang sama dan Zaki saya paksa untuk coba menu yang saya pesan tetapi dengan porsi besar.

  • Warung Tenda Salman di Catucak Market

Dua kali saya makan di warung ini, saya selalu bertemu dengan orang Indonesia. Kali ini saya satu meja dengan empat orang asal Indonesia, dua ibu-ibu paruh baya dan dua orang anak remaja beranjak dewasa. Tahunya orang Indonesia? Ya nguping mereka ngobrol tentu saja. Si Ibu juga komentarin pad thai yang saya pesan. Katanya, “aduh kok itu kayaknya enak ya,” kemudian dia meminta anaknya untuk memesan buat dibungkus makan di hotel Saya senyum-senyum dalam hati.

Siang itu Zaki memesan Tom Yum lagi dan saya Pad Thai. Ada bule cowok Prancis di depan meja kami, yang membutuhkan tisu karena kuah Tom Yum nya muncrat. Dia celingak celinguk dong nyari tisuue. Sepertinya pegawai warung gak ada yang peduli saking sibuknya. Ya kemudian saya sodorkan saja tisue saya. Dia agak heran sampai bertanya, “Is it yours? Sorry, but thank you” dengan gayanya yang gak enak begitu sama saya. It’s okelah om bul, gak perlu sampe segitunya. Hehehe

Untuk rasa, tentu tidak perlu ditanya. Warung Salman selalu ramai kadang malah harus menunggu ketika jam makan siang. Harganya agak mahal, sama seperti di mall. Semangkuk Tom Yum jika dirupiahkan harganya sekitar 60 ribu rupiah seporsi.

Pad Thai
Pad Thai Warung Salman

 

  • Kebab di Asiatique 

Kalau kebetulan kamu lagi main-main ke Asiatique dan mencari yang praktis. kebab adalah kunci eh jawaban. Penjual kebab di sana keturunan timur tengah menjajakan porsi kebab yang memang agak lebih besar dibanding di Jakarta.

Warung Kebab di Asiatique
Warung Kebab di Asiatique

Berhubung di Bangkok yang cuma dua hari, ya kami hanya makan itu saja. Buat Zaki yang seminggu di sana, dia pernah cicipin juga di daerah Shukumvit, sebelah Hotel JW Mariot restoran muslim bernama Usman Thai Muslim Food. Menunya tidak berbeda jauh dengan di Yana Restauran. Begitupun dengan harga.

Pokoknya gak perlu bingung lah cari makan halal di Bangkok. Mentok-mentok ya ke Sevel cari nasi putih lalu pakai rendang. Selain itu di Sevel juga ada yang berlogo halal. Kami pernah makan nasi ayam atau nasi rendang. Harganya pasti lebih terjangkau. Tinggal minta panasin deh. Kenyang.

Oh iya waktu tahun 2014 lalu, kami juga udah pernah ke Thailand waktu itu Ke Bangkok dan Phuket. Buat saya yang baru kali pertma ke Bangkok, bekal rendang dan kentang kering selalu diandalkan demi meminimkan pengeluaran makan. Bahkan waktu menginap di hotel apartemen kayak Marriot, kami beli nasi di sevel, kemudian masak mie goreng dan telur dadar karena tersedia dapur dan peralatan masaknya lengkap.

Dapur Marriot Hotel
Dapur Marriot Hotel yang besar dan lengkap peralatannya

Wah…hebat yah banyak duit bisa nginap di Marriot. Ish, jangan salah sangka. Manalah kami mampu bayar sendiri. Ini pas gue udah mau pulang besoknya dan Zaki akan bekerja seminggu kedepannya. Lumayanlah nebeng menginap gratis dan berenang cantik gitu. Hehehe… jadi beberapa kali gue ke Thai itu ya karena suami kerja terus gue ikut. :)))

 

 

 

Melihat Tradisi Muslim Chiang Mai di Masjid Hadayatul Islam Banhaw Chiang Mai

Awalnya terus terang, kami tidak berniat berwisata ke Masjid di Chiang Mai. Ya gimana mau wisata Masjid, kalau kami tahu di Chiang Mai banyaknya kuil. Lagipula, alasan kami ke Chiang Mai sebagai transit ke Chiang Rai.

Ternyata Allah maha baik. Kami dikasih hadiah ketika mencari tempat makan halal, eh sepaket dengan Masjid yang terbilang cukup besar di tengah kota seribu kuil ini. Masjid besar tersebut ternyata juga sebagai pusat perwakilan Islam Provinsi Chiang Mai. Asyik bisa sholat di masjid lagi.

Belum masuk waktu Zuhur, jadilah kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Selesai makan, kami pamit ((((pamit))) sok akrab. Memang kami sok akrab sama Ibu-ibu di warung-nya. Hehehehe. Kami menuju masjid yang terletak persis di sebelah kanan warung makan.

Kawasan Halal Street Chiang Mai
Kawasan Halal Street Chiang Mai
Kantor Perwakilan Islam di Chiang Mai
Kantor Perwakilan Islam di Chiang Mai

Tempat sholat Jamah pria dan wanita berada di gedung yang berbeda. Saya naik ke lantai dua gedung sebelah kanan dan Zaki di gedung yang sebelah kiri. Tempat tangga memang agak tersembunyi jika belum pernah pasti tidak tahu. Kebetulan siang itu ada Ibu-ibu yang sibuk memasak di dapur masjid. Mereka yang menunjukkan letak tangganya.

Masjid Hadayatul Islam
Bagian Sisi Kiri Masjid

 

Masjid di Chiang Mai
Bangunan Sisi Kanan Masjid
Dapur Masjid Chiang Mai
Dapur Masjid Chiang Mai
Suasana Dalam Masjid
Suasana Bagian Dalam Masjid Jemaah Wanita

Di lantai dua mesjid ada toilet dan tempat wudhu yang mengingatkan saya seperti di Mekah waktu itu. Usai berwudhu saya masuk ke dalam area sholat. Bagian belakang ada meja dan kursi sepertinya diperuntukan untuk belajar ilmu agama. Saya menyalakan kipas angin. Berharap kipas angin bisa sedikit menyejukkan hawa panas siang itu. Azan zuhur berkumandang disusul iqomat. Alhamdulillah bathin saya. Gak ketinggalan berjamaah. Tapi, kenapa sepi ya jemaah wanitanya. Ah gak papa, tempat sholat terbaik wanita memang di rumah.

Baru saja saya akan berdiri untuk menunaikan sholat, tiba-tiba empat orang anak perempuan usia 10-12 tahun memasuki ruangan. Mereka mengenakan mukena, tetapi tidak mengenakan sarung. Hanya celana panjang dan kaus kaki. Saya mengajak mereka untuk berdiri di samping saya menggunakan bahasa tangan dan sebuah senyuman mengajak. Mereka menghampiri, dan berdiri membuat satu syaf sholat dengan saya, sambil tersenyum.

Usai sholat dan berdoa sejenak, anak-anak  tersebut mengajak bersalaman seperti layaknya di Indonesia. Saya tentu menyambut dengan hangat. Sambil menyapa, “Hai, assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam…” balas mereka kompak sambil tersenyum malu-malu.

Lalu, anak yang paling dekat dengan saya, seperti mengajak saya ngobrol berbicara beberapa kalimat menggunakan bahasa Thailand. Saya hanya menatapnya dan berkata, “I’m sorry, I can’t speak Thai. I come from Indonesia, Jakarta not Thai. Do u know where Jakarta is?” saya mencoba menjelaskan sekaligus bertanya.

“Oooo… ” ucapnya sambil menatap saya. Kemudian Ia dan teman-temannya berbisik-bisik sepertinya menjelaskan kalau saya bukan orang Thailand.

“Oh, I can speak English. What is your name?” katanya lagi.

“My name is Rini, what is your name? tanya saya lagi.

“My name is Mia.” dan kemudian saya menanyakan nama ketiga temannya yang lain.

Kami berbincang-bincang sedikit. Saya menanyakan umur mereka dan di mana mereka tinggal. Di antara mereka, hanya Mia yang mengenakan kerudung dan paling berani bicara dengan orang asing macam saya.

Teringat ada foto Kabah di bawah mesjid tadi, saya memperlihatkan foto saya waktu di depan Kabah, dan mereka bilang mereka suatu saat akan pergi ke sana. “Yes you have to go there someday its a magic place.”

Saya kemudian mengajak mereka wefie, mereka pun mengiyakan dengan senang. “Thank you,” kata saya. Kemudian mereka berbisik-bisik lagi, dan kemudian Mia berkata, “You are beautiful.” tulus sekali.

“Oh, you are beautiful too, and all of u are beautiful. Very nice to meet you all. See u next time” ucap saya lagi sambil berpamitan mengucap salam. Kemudian mereka berjalan keluar dan kembali bermain di sekitar masjid.

Chiang Mai Little Girls
Chiang Mai Little Girls

Di bagian bawah tempat sholat wanita terdapat ruangan lapang berisi meja dan kursi seperti di ruang makan. Bagian paling kanan terdapat dapur yang siang itu terdapat kesibukan. Di bagian kiri ada sebuah panggung dengan berlatar gambar Kabah di Mekah Arab Saudi. Sepertinya tempat ini digunakan jika ada sebuah perayaan di Masjid.

Auditorium Masjid Chiang Mai
Auditorium Masjid Chiang Mai

Malamnya kami yang kembali ke area ini untuk makan malam, dan melihat-lihat pasar malam. Kamipun kembali mengunjungi Masjid dan melihata ada sebuah perayaan malam nisfu syaban. Malam menyambut bulan suci Ramadhan. Malam itu siapa saja boleh datang ke Masjid. Bahkan buat kami yang memang tidak ikut membaca Yasin (karena sudah terlambat). Acara dimulai selepas sholat Maghrib.

Kami diperbolehkan masuk dan menikmati hidangan yang tersedia di meja-meja malam itu. Kue-kue khas Thailand dan minuman terhidang di meja. Pikir saya, kok gak di bawa pulang yah, ini acara sudah selesai tapi hidangan cemilan masih cukup banyak di meja. Mungkin budaya Ibu-ibu di Thailand berbeda dengan di Indonesia.

Karena kami sudah kenyang, jadi kami hanya melihat-lihat saja. Gak enak meski mereka sih gak terlalu peduli dengan keberadaan kami malam itu. Asyik berbincang dengan kerabat atau teman. Ah saya foto-foto saja. Kemudian kami melihat-lihat majalah dinding yang terpampang di tembok sebelah kanan. Ah sayang, lagi-lagi aksara Thai dan China isinya. Untung saja ada beberapa foto. Kami melihat lagi-lagi foto raja yang kala itu sepertinya sedang berkunjung ke Masjid. Sepertinya diambil ketika awal pembangunan Masjid.

Tidak heran perlakuan rakyat Thai ketika Sang Raja mangkat belum lama ini. Begitu cintanya mereka terhadap Sang Raja. Sang Raja memang terlihat dekat dengan rakyatnya. Tidak terkecuali mereka yang beragama minoritas di Thailand. Dalam foto, terlihat sang raja didampingi pimpinan Masjid atau ulama.

Di perjalanan saya kembali ke hostel, Zaki menceritakan pengalamannya juga di Masjid. Jamaahnya pria ketika sholat Zuhur tadi siang ramai. Sekitar empat shaf dan ada sekelompok anak usia SMP katanya.

“Anak-anak di mana-mana sama saja. Mereka bercanda dan membuat keributan. Sampai-sampai dimarahi imam masjid.” cerita Zaki.

Waktu menunjukkan sekitar jam 9 malam. Kami memutuskan kembali ke hostel. Meski pasar malam terlihat baru mulai meriah. Iyah, posisi kawasan halal ini dekat sekali dengan night market, tapi sepertinya aman-aman saja. Tidak ada pergesekan antara mereka penikmat pasar malam yang memang banyak turis mancanegara dengan kaum muslim di situ. Alhamdulillah.

Ketika kami berjalan pulang, suasana jalanan kota tua sudah sepi. Kuil-kuil dan toko-toko sudah tutup. Hanya ada beberapa penjaja roti halal dengan gerobaknya yang ramai pembeli.

Di perjalanan pulang, kami juga sempat berpapasan dengan beberapa turis mancanegara (sebut saja para bule) yang sepertinya akan menikmati malam itu di Night Market. Berhubung besok pagi-pagi kami akan ke Golden Triangle, dan melakukan one day tour yang sudah pasti melelahkan, pilihan kami ya menyiapkan stamina alias istirahat alias tidur.

Ibu Mariam, Muslimah Keturunan Jawa di Kampung Jawa, Bangkok, Thailand

Setelah cukup puas berkunjung ke Masjid Jawa di postingan pertama kemarin, kami meninggalkan Masjid dengan pengalaman baru. Senangnya ke Masjid di luar negeri adalah kami seperti bertemu saudara. Saling mengucap salam, kemudian menyapa. Kendala bahasa tak menjadikan kami bingung. Ucapkan Assalamualaikum, semua akan terasa mencair. Seperti bertemu saudara yang sudah lama tak berjumpa.

Menyusuri gang di Kampung Jawa tak terasa kami belum makan siang. Kanan kiri di gang ini sepertinya akan ramai di malam hari. Warung-warung sepertinya baru akan buka di malam hari.

Oh iya, di daerah Kampung Jawa selain banyak penjual makanan di sepanjang gangnya, ada juga beberapa hostel yang dikelola penduduk. Pemilik hostel kebanyakan muslim. Jadi buat yang mau mencari hostel yang ramah untuk muslim, bisa coba ke sini. Di perjalanan kami juga sempat bertemu turis asal India muslim atau wajah-wajah Timur Tengah. Meski begitu ada juga beberapa anak muda berwajah kaukasoid, entah dari Amerika atau Eropa. Ya di daerah itu banyak penginapan yang sederhana.

Tak berapa jauh kami menemukan warung bakmi yang sudah buka. Cukup ramai pengunjungnya. Logo halal di pasang di depan warung. Sang penjual Ibu-ibu yang sudah cukup umur mengenakan ciput dan tambah meyakinkan kalau makanan yang dijual dipastikan halal. Ya, beliau muslim.

Warung Bakmie di Kampung Jawa
Gerobak Bakmie dan si Ibu Penjual
Bagian dalam Warung Bakmi
Bapak berkaus biru sedang mencuci mangkuk bakmie

Memasuki warungnya, hiasan kaligrafi sederhana menghiasi dinding. Sepertinya bangunan sudah cukup tua. Dilihat dari warna cat dinding yang tidak lagi putih terang, dan beberapa barang yang menurut saya cukup antik. Oh, selain Ibu tua, ada juga si Bapak tua. Mungkin suaminya. Si Bapak dengan cekatan menyajikan mangkuk mie yang sudah siap ke meja kami. Menyediakan gelas berisi bongkahan batu es yang air putihnya sudah ada di teko di setiap meja. Si Bapak juga akan mengambil mangkuk pengunjung yang sudah selesai dan mencucinya di bagian belakang warung.

Sepertinya warung ini juga merangkap tempat tinggal sang penjual. Dilihat dari barang-barang lain selain perangkat berjualan bakmie. Gerobak tempat memasak bakmi terletak di depan. Sama seperti di Indonesia. Sang Ibu berkacamata cekatan melayani pengunjung. Kami masuk, mengambil tempat, kemudian memesan dua mangkuk mie. Sepertinya Ibu penjual bakmi tidak bisa bahasa Inggris.

Tiba-tiba ada seorang Ibu berkerudung hitam menyapa kami. Melihat kami yang seperti kebingungan berbicara dengan Ibu penjual. Dia langsung menyapa kami dan berbicara bahasa melayu.

“Assalamualaikum,” sapanya.

“Waalaikumussalam,” jawab kami.

Lalu dia mengambil kursi dan duduk di dekat meja kami. Awalnya saya pikir, beliau adalah salah satu empunya warung bakmie ini. Tapi saya salah. Beliau juga pembeli. Warga sekitar Kampung Jawa. Rumahnya tidak jauh dari Masjid Jawa katanya.

Awalnya kami berbincang-bincang menggunakan Bahasa Melayu campur Bahasa Inggris. Setelah kami jelaskan kami dari Jakarta, Indonesia. Dia kemudian mulai menggunakan bahasa melayu kemudian lebih mengarah ke Bahasa Indonesia. Agak terkejut kami mendengarnya. Wow kok keren yah. Setahu saya ada daerah Thailand yang bisa sedikit bahasa melayu, tetapi daerah Thailand selatan yang berbatasan dengan Malaysia.

Si Ibu berjilbab hitam ini, namanya Ibu Mariam. Dia baik sekali mau menerjemahkan pesanan kami ke Ibu penjual yang hanya bisa Bahasa Thai. Ibu Mariam cerita, beliau adalah keturunan Jawa. Kakeknya adalah orang Jawa. Beliau tidak bisa bicara bahasa Jawa, tetapi setiap hari Ahad, di Mesjid Jawa ada orang Indonesia yang mengajar Bahasa Indonesia untuk jemaah Masjid Jawa.

Ibu Mariam bahkan rela si Ibu penjual melayani kami lebih dahulu. Mempromosikan ini Bakmie Thailand yang enak. Beliau juga mengundang kami malam Jumat untuk datang ke Masjid. Masjid Jawa akan mengadakan perayaan malam Nisfu Syaban. Pembacaan surat Yasin tiga kali selepas sholat Maghrib.

Wah ternyata tidak hanya di Indonesia yah. Di Bangkok juga ada malam Nisfu Sya’ban. Beliau bilang, di malam itu nanti sehabis sholat Isya akan ada makanan. Itu gratis untuk jemaah Masjid. Wajah kami memang kelihatan suka yang gratisan ya bu? Tauk aja nih si Ibu. Hihihihi. Saya berbicara dalam hati sih.

Ini penampakan bakmie Thailand. Mienya bermacam-macam. Ada bihun, mie kuning, mie kwetiauw. Dicampur sayuran seperti tauge dan sawi juga bakso ikan, udang, atau cumi. Rasa kuahnya segar. Ditambah perasan jeruk nipis dan ada pangsit gorengnya juga. Kalau dari rasanya mirip Mie Pho khas Vietnam. Di Indonesia mirip mie kocok Bandung. Hehehehe. Sueger deh.

Oh iya, jangan tanya kecap manis dan saus cabai di Thailand ya. Yang ada hanya cabe bubuk dan kecap ikan. Pakai apapun enak kok. Segar asam-asam khas Thailand.

Bakmie Thailand
Bakmie Thailand
Ibu Mariam
Ibu Mariam antusias bercerita

Sembari menikamti bakmie, Ibu Mariam masih semangat mengajak kami berbincang. Beliau mengundang kami untuk datang lagi di hari Minggu dan melihat pelajaran Bahasa Indonesia di Masjid Jawa. Sayang sekali, besok kami sudah berencana ke Chiang Mai dan Minggu pagi sudah harus pulang ke Jakarta. Lain kali kalau kami ke Bangkok lagi ya Bu.

Katanya lagi, Bahasa Indonesia mudah dipelajari. Sudah satu bulan dia belajar. Meski agak terbata-bata, saya salut usahanya yang berani berbicara dengan kami menggunakan bahasa baru-nya. Beliau belum pernah ke Jakarta, tetapi sudah pernah berhaji ke Arab.

Pesanan bakmie Ibu Mariam sudah selesai dibuat. Beliau pamit undur diri. Setelah mengucap salam, dan tetap mengharap kehadiran kami di hari Ahad, beliau pergi. Sepeninggal beliau, saya tersenyum ke Zaki. Ya tersenyum senang, seperti ketemu Saudara. Baik sekali Ibunya ya.

Tidak lama Ibu Mariam datang lagi menghampiri kami.

“Ini pisang Bangkok. Enak rasanya. Buat kalian.” ucapnya sambil menyerahkan kantung plastik berisi sesisir pisang. Kalau kata saya seperti pisang ambon yang kecil-kecil.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Bu.” kata kami kompak.

“Aduh jadi ngerepotin. Makasih banyak ya Bu.” tambah Zaki. Entah si Ibu mengerti apa tidak kata-kata ngerepotin itu.

Setelah itu, si Ibu pergi sambil tersenyum meninggalkan kami yang masih setengah bengong dengan kantung plastik berisi pisang di tangan.

Pisang Bangkok dari Ibu Mariam
Pisang Bangkok dari Ibu Mariam

Menengok Masjid Jawa di Kampung Jawa, Bangkok

Ramadhan tiba… Hei… apa kabar Ramadhan tahun ini? Semoga lebih banyak emmbawa keberkahan ya. Marhaban ya Ramadhan. Biasanya di bulan Ramadhan, masjid-masjid lebih ramai dikunjungi dari bulan-bulan lainnya. Masjid menjadi tempat yang tidak pernah sepi. Dari menunaikan sholat wajib, sholat sunah, ataupun kegiatan lainnya seperti tadarus atau kajian-kajian. Untuk Ramadhan kali ini saya punya cerita tentang liburan di Bangkok kemarin dan mengunjungi Masjid Jawa.

Ceritanya suami mau tugas ke Bangkok di Minggu di mana adanya tanggal merah dan hari kejepit nasional. Suami pun bilang, “Saya mau ke Mesjid Jawa ah. Masa, berkali-kali ke Bangkok belum pernah sekalipun ke sana.” Akhirnya, kami punya tujuan baru di Bangkok selain Wat-wat tourisity nya. Yeay. Senang sekali rasaya mau ke Mesjid Jawa, yang terletak di Kampung Jawa.

Saya pun mengajukan surat izin cuti dua hari. Izin dua hari, saya bisa mengunjungi Thailand selama lima hari. That’s how I love my country. Banyak liburnya. Kali itu hari libur dalm rangka Waisak. Yeay. Rabu pagi-pagi saya naik penerbangan budget (karena bayar sendiri) menuju Don Mueang, Bangkok.

Tiba di Bangkok jam 11:00 di jemput suami , kami akan langsung menuju Mesjid Jawa yang terletak di daerah Sathorn, Bangkok. Loh gak ke hotel dulu? Gak bawa koper? Nggak dong. Perlengkapan saya sudah di bawa suami duluan. Jadinya saya cuma bawa tas poket dan ransel saja.

Dari Don Mueang naik Bus A2 ke Victory Monumen. Dari situ sambung dengan BTS ke arah Silom, turun di terminal Surasak. Keluar pintu, ambil ke arah kiri dan jalan terus sekitar 500 meter saja, ketemu deh Mesjid Jawa. Oh iya, jangan takut kesasar atau bingung. Penduduk di sana ramah. Apalagi melihat tampilan saya yang berhijab dan sepertinya mereka sudah tahu saya mau kemana. Jadi setiap bertemu, setelah menyapa dengan Assalamualaikum, mereka dengan bahasa Thai, menggunakan tangannya seolah berkata,  “Sana, masih kesana lagi, terus aja. Masjid, ya Masjid.” Begitulah kira-kira saya menerjemahkan bahasa yang mereka ingin sampaikan. Sangat membantu sekali. Terima kasih Bapak-bapak yag lagi nongkrong di pangkalan ojek. Hehehe.

Gang Menuju Masjid Jawa

Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga. Tujuan pertama ya sholat Zuhur dijamak dengan Ashar. Waktu itu sudah lewat sedikit dari waktu sholat berjamaah, sehingga masjid sudah terlihat sepi. Masih ada siy, beberapa jemaah, tapi hanya jemaah laki-laki yang masih berbincang-bincang. Saya pun wudhu, dan memasuki masjid. Ketika saya masuk ada jemaah laki-laki yang berada di tempat sholat wanita. Dia sepertinya agak kaget, dan bergegas keluar lewat pintu belakang.

Saya sempat sedikit mengintip ruangan di balik pintu itu. Kok sepertinya ada banyak orang di dalam situ, berpakaian gamis putih, dan ada beberapa kasur berkelambu. Mereka ada yang membaca atau sekedar duduk-duduk. Sayang, pintu cepat sekali ditutup. Bruk, lenyaplah pemandangan, dan saya harus mengakhiri ke-kepoan saya.

Untuk interior masjid bagian dalam, saya tidak banyak mengambil gambar, soalnya ada beberapa jamaah, takut ditegur. Waktu itu sempat insta story sih di Instagram. Interior dalam tidak terlalu spesial. Kaligrafi di sekeliling dinding bagian atas Masjid dan karpet berwarna hijau. Seperti mushola di lingkungan perumahan di Indonesia biasanya. Sederhana. Ukuran Masjid juga tidak terlalu luas kurang lebih 500 meter. Meskipun bangunan utamanya tidak terlalu besar.

Ketika sudah keluar Mesjid, saya cerita ke Zaki dan menurutnya, masjid itu juga tempat singgah para muslim di Thailand atau negara lain seperti musafir. Mungkin memang ada tempat untuk menginap. Memang setiap hari Ahad ada kajian yang kadang ada orang asal Indonesia juga yang mengisi kajian. Barusan katanya juga ada orang dari konjen Indonesia yang mengatakan akan ada kerjasama Indonesia Thailand dalam mempelajari agam Islam. Wah… keren.

Benar saja, selesai sholat, Zaki sempat berbincang dengan jemaah ada yang dari Brunei ataupun Malaysia. Orang Indonesia sering berkunjung terutama kalau sholat Jumat. Ramai pendatang dari mana-mana. Kami juga sedikit foto-foto di muka masjid. Rencana kami selanjutnya ke Grand Palace. Kami pun balik menuju terminal BTS.

Pose di Depan Masjid Jawa
DI depan Masjid Jawa

Dalam perjalanan, kami membaca di sebuah perempatan jalan sebuah tembok keramik yang menceritakan sejarah Mesjid Jawa. Bermula di masa Raja King Rama IV, ada beberapa orang Jawa yang berdagang hingga ke Thailand. Mereka kemudian menetap di daerah Sathorn Utara ini. Selain berdagang, Raja juga meminta orang-orang Jawa di sana untuk bekerja di kebun-kebun istana seperti Grand Palace dan gedung-gedung pemerintahan lainnya. Hinga mereka menetap dan membangun keluarga di sana dan memutuskan untuk membangun masjid untuk mereka beribadah.

Tahun 1945, Hj Muh. Sholeh bin Hasan seorang pedagang Jawa mendonasikan tanahnya untuk dibangun masjid. Arsitektur masjid bergaya Semarang, Jawa Tengah. Hal itu terlihat dari atap bangunan yang berlapis seperti masjid-masjid di Jawa Tengah pada umumnya. Atas kerjasama orang-orang Jawa dan muslim sekitar, berdirilah masjid ini dan H. Muh Soleh bin Hasan menjadi imam masjid yang pertama. Masjid ini didaftarkan menjadi mesjid yang keempat di Thailand di Bulan November 1945.

Sejarah Masjid  Jawa

Euhm, meski ada Masjid Kampung Jawa dan dipercaya orang-orang yang tinggal di sini adalah keturunan Jawa, tapi jangan berharap mereka bisa berbahasa jawa apalagi Indonesia. Mereka semua sudah generasi keempat atau bahkan kelima. Hal itu ketika kami membeli sebotol air mineral di pinggir jalan dan mengajak ngobrol penjualnya. Cantik, sama seperti wanita Thailand pada umumnya. Berjilbab besar syar’i. Dia mengaku keturunan Jawa, tapi tidak bisa berbahasa Jawa.

Postingan selanjutnya, kami sempat bertemu dengan seorang Ibu warga setempat, yang bisa sedikit berbahasa Indonesia. Kami juga sempat berbincang-bincang di warung bakmi. Seru kan lihat postingan selanjutnya ya. 🙂