Jalan-jalan (kaki) di Hanoi (Makam Ho Chi Min dan Old Quarter)

Hari kedua di Vietnam setelah hari pertama ikutan one day trip ke Ha Long Bay adalah kami mau jalan-jalan keliling Kota Hanoi.

Bangunan Ta di Hanoi
Bangunan Tua Mendominasi Arsitektur Kota Hanoi

Hanoi adalah kota yang cantik berhawa sejuk dengan bangunan-bangunan tua khas peninggalan kolonial Perancis yang masih terawat dan digunakan dengan baik. Trotoarnya yang besar dan seharusnya cukup nyaman untuk pejalan kaki. Tetapi ya, itu kita harus berbagi dengan para pedagang pinggir jalan. Ketidaknyamanan juga akan didapat ketika beberapa pengendara motor yang jumlahnya memang banyak tiba-tiba cuek aja melintas di trotoar. Belum lagi kalau mau menyebrang. harus hati-hati pakai banget. Tengok kanan kiri biar gak ditabrak. Apalagi sama taksi di sana yang kalau di Bekasi mirip sama abang-abang supir angkot. Tapi keseluruhan berjalan kaki di Hanoi menyenangkan, dengan menikmati pemandangan khas yang sangat Hanoi.

Beres sarapan, kami memulai perjalanan jam 9 pagi. Sebenarnya ini sudah kesiangan sih, tapi ya itu si Zaki butuh tenaga katanya buat jalan jadi harus nambah jam tidur. Kzl banget, dan ketika kami melakukan perjalanan, hal inilah yang sering kami perdebatkan. Saya yang memang early morning person, apalagi di tempat yang jauh dari rumah, itu rasanya selalu ingin bangun pagi-pagi, jalan-jalan melihat aktivitas pagi.

Kebalikannya dengan suami, yang namanya jalan-jalan saat liburan harus nyantai, abis sholat shubuh ya gak papa tidur lagi. Kan lagi liburan. Hellow… kalau tidur di Bekasi ajah woy. Hal itu selalu aja berulang tiap jalan-jalan tapi ya kadang-kadang saya memilih mengalah biasanya sih, kalau Zaki tidur pagi, saya browsing tempat-tempat atau ngeblog, atau foto-foto pemandangan dari kamar. Kalau saya sudah kesel pengen banget keluar, saya langsung mandi dan ganti baju rapi. Biasanya dengan begitu Zaki langsung bangun dan siap-siap. Ya mungkin dia gak mau saya nekat keluar sendirian. Hehehehe. Takut ilang kali yah. Gak ada yang sebawel saya soalnya. Hihihihi.

Pemandangan Hanoi dari Hotel
Pemandangan Hanoi dari Jendela Hotel

Kembali ke topik, keliling Hanoi. Berbekal peta, tujuan pertama kami adalah Museum Ho Chi Min. Padahal sih Zaki sudah kesana dua hari yang lalu, tapi demi saya, dia bilang gak papah buat kesana lagi. Saya yang jelas-jelas gak bisa eh bukan gak bisa, tapi malas baca peta pun ikut ajah. Mengangguk-angguk ketika Zaki menunjukkan rute jalan yang akan kami lewati. Oh, ya…

“Itu, kita harus jalan yah? Gak ada taksi gitu?” tanya saya polos. “Kalau taksi ada sih, tapi kan katanya mau jalan. Dekat kok…” blablabla dan blababla Zaki menjelaskan rute. Padahal dalam hati saya mah ngomong gini : “Ya udahlah mau lewat mana juga, hayukslah. Lihat nanti ajah gimana.” Wkwkwkwk…

Dalam perjalanan, kami tidak sendiri, ada beberapa turis asing yang kami temui. Sepasang oma dan opa sepertinya dari Eropa, lalu ada rombongan empat orang dari Inggris dari logatnya, dan juga wanita Korea dan Ibunya dengan bekal google maps.

Serunya jalan-jalan dengan jalan kaki adalah bisa mengamati keseharian dan aktivitas warga Hanoi dari dekat. Pagi-pagi mereka sibuk braktivitas. Ada yang berjualan sayur, di trotoar banyak yang menjajakan kopi, teh, rokok, dan makanan kecil untuk sarapan.

Kursi-kursi yang terbuat dari plastik berukuran kecil, pengunjung duduk dan menikmati sarapan pagi. Para pekerja seperti mbak-mbak dengan rok mini yang sebenarnya sih kurang nyaman ya, kalau harus duduk di bangku kecil plastik. Tetapi mereka nyaman-nyaman aja tuh, cuek aja duduk minum teh ambil makan mie pho yang memang menjadi menu sarapan pada umumnya masyarakat Hanoi.

Sarapan
Menikmati Sraapan di Warung Pinggir Jalan

Hal ini pernah saya tanyakan sama karyawan hotel tempat saya menginap. Kenapa warga Hanoi memilih kursi plastik yang kecil buat warung makannya, kenapa gak yang besar, lagipula kalau orangnya besar seperti Zaki. Bagaimana kalau lagi duduk, tiba-tiba bangkunya patah. Krekk… ups! Tapi itu bisa terjadi kan? Pernah saya baca soalnya ada traveler Indonesia yang mengalami.

Mas-mas hotel yang saya ajak ngobrol menjawab, katanya kursi plastik kecil harganya lebih murah dibanding kursi kayu besar dan mudah di letakkan serta dibereskan jika mereka tutup warung. Begitu katanya. Memang sudah tradisi sejak lama, dan sampai sekarang tidak berubah. Serunya lagi, saya juga sesekali lihat bule-bule yang juga asyik menikmati mie Pho dengan duduk di kursi kecil dan merasa asyik aja. Mungkin mereka ingin meresapi jadi warga lokal. Saya kemudian berpikir, kok di Indonesia, saya jarang yah, lihat bule nongkrong di warteg, atau makan ketoprak di pinggir jalan pakai kursi plastik abangnya itu. Kebanyakan kita lihat mereka pasti di mall atau resto yang bagus. Kenapa begitu? Entahlah. Ada kali, cuma saya yang belum ketemu saja.

Meski hotel kami menginap merupakan pusat kota, tapi ada tuh yang menggelar sayuran atau buah-buahan untuk dijajakan di trotoar. Hanoi memang kota yang masih berkembang. Dari yang saya baca, Vietnam merupakan negara di Asia Tenggara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi. Mereka sedang giat-giatnya membangun. Pemerintahan yang dikuasai partai komunis, memang baru-baru ini terbuka. Banyak pabrik-pabrik merek ternama milik barat yang mulai membuka pabriknya. Sebut saja Nike, Kipling, Adidas, dan masih banyak lagi. Kabarnya sih, ongkos pekerja di sana yang masih lebih murah dibandingkan negara berkembang lainnya.

Bagaimana dengan harganya? Harganya sih beda tipis sama  di Indonesia kalau sepatu. Tas Kipling yang jauh lebih murah, jaket North Face juga. Berhubung kami lagi gak butuh sepatu, jaket, ataupun tas, ya kami gak beli. Kami memang mulai berprinsip membeli yang kami butuhkan bukan yang kami inginkan. Gak nyesel, gak beli? Kan mumpung lagi di situ… Nggak. Malahan seringnya sih kami berdoa lagi supaya bisa ke tempat itu lagi. Hehehe. Gitu aja sih, doanya.

Perjalanan kami pagi itu jauh juga yah ternyata, apalagi jalan kaki. Berusaha menikmati setiap langkah kaki ini, menikmati hiruk pikuk Hanoi pagi itu. Dalam perjalanan, kami melewati sebuah lapangan yang cukup luas, tepatnya berhadapan dengan Museum Militer. Tepat di tengah lapangan ada sebuah patung enggambarkan sesosok manusia. Ukurannya terbilang cukup besar, kurang lebih setinggi tiga meter. Beberapa turis mancanegara terlihat mengambil foto sambil mendengarkan penjelasan yang sepertinya pemandu, warga asli Vietnam.

Patung Vladimir Lenin di Hanoi
Patung Lenin di tengah Kota Hanoi

Ada yang tahu patung siapa yang dimaksud? Vladimir Lenin. Beliau adalah seorang pencetus alias seorang revolusioner komunis. Bisa dibilang salah satu Bapak Komunis di dunia. Hanoi yang di bagian utara Vietnam, awalnya merupakan ibukota Vietnam Utara  yang beraliran komunis. Vietnam memang punya sejarah kelam saat perang saudara antara Vietnam Utara yang didukung China dan Uni Soviet dan Vietnam Selatan yang didukung Amerika dan Sekutunya. Meski perang telah usai, paham komunis masih berkuasa di Vietnam hingga saat ini. Tapi sumpah, gak serem kok. Meski kita akan banyak mendapati polisi di mana-mana. Cukup banyak turis asing. Terus jangan salting juga kalau bendera berlogo palu arit yang lagi heboh di Indonesia bertebaran di mana-mana. Hihihihi.

Ada cerita lucu ketika Zaki ingin mengirimkan kartu pos buat keponakan di Indonesia. Dikasih perangko berlogo palu arit dong. Takut nanti bermasalah di Indonesia, Zaki pun minta tukar. Spontan petugas kantor pos menanyakan. “Kenapa? Apa bermasalah dengan gambar ini ?” tanyanya. Zaki cuma jawab. “No, I just want other picture. May I?” agak gugup juga tentunya. Hehehehe. Untung petugasnya terima aja dan kemudian menukar perangko tersebut dengan gambar lain.

Antrian Anak Sekolah Usis Dini
Anak PAUD mau kunjungan ke Museum nih… lucu :).

Sabtu mungkin bukan hari libur di Vietnam, tetapi suasana gerbang di Ho Chi Minh Museum terbilang lebih ramai. Antrean cukup mengular panjang. Bahkan beberapa pintu ditutup dan dialihkan untuk tempat parkir bus-bus pariwisata yang cukup ramai. Masuk ke dalam tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman. Jaket juga harus dititipkan, begitupun dengan kamera. Di dalam tidak boleh membawa kamera juga. Zaki sempat bingung, kemarin dia kesini gak segitu ketatnya. Ini kenapa ketat banget.

Demi kenyamanan, mari kita ikuti saja segala peraturan yang berlaku. Serem juga di mana-mana tentara. Penjaga museum aja, seragamnya blazer hitam, yang rapih dan terlihat tegas.

Mengikuti antrian yang cukup panjang, kami harus antri dengan tertib. Selama antri dilarang berisik. Seperti heboh bercanda, atau foto selfie misalnya. Pakaian juga harus sopan. Untuk mereka yang pake celana atau rok pendek dikasih pinjaman kain sarung gitu.

Kami gak tauk juga kami mau di bawa kemana sama antrian ini. Bingung, kata Zaki jalan masuknya beda. Mungkin Sabtu, jadi rame harus begini. Eh, ternyata kami masuk ke sebuah ruangan, naik tangga, dan penjaga berseragam di setiap meter. Penjaganya gak main-main. Seragam militer lengkap warna putih. Berdiri layaknya penjaga lambang negara. Gak ada ekspresi. Pandangan ke depan, lurus, mata aja gak berkedip.

Makam Presiden Ho Chi Min
Makam Presiden Ho Chi Min

Kami masuk ke dalam ruangan dengan pencahayaan yang remang-remang. Dilarang berisik, gak boleh mengeluarkan suara apalagi mengambil foto. Belok ke arah kana. Agak terbawa suasana, saya agak merinding. Tepat di tengah terdapat etalase kaca yang di dalamnya terdapat jasad yang tentu saja diawetkan Bapak Bangsa Vietnam. Presiden Ho Chi Min. Di tiap sudut etalase berukuran kurang lebih 1×2 meter itu, berdiri seorang penjaga, sehingga jumlahnya empat. Lengkap dengan senjata. Kebayang gak sih, kalau kita tiba-tiba nekad ambil foto. Bisa-bisa itu peluru nemplok di muka. Hiii…

Begitulah bangsa Vietnam memperlakukan pemimpin mereka. Mungkin agak mirip dengan negara komunis lainnya seperti Korea Utara, yang menjadikan hari lahir Presiden Kim Jong Un sebagai hari libur nasional. Kami terus berjalan perlahan, tidak diperbolehkan berhenti. kurang lebih 30 detik kami melihat kemudian langsung ke pintu keluar. Di pintu luar, kami sudah bisa mengambil kamera kami yang ditahan di pintu masuk.

Dari makam Presiden Ho Chi Min, kami menuju rumah beliau semasa memperjuangkan kemerdekaan Vietnam. Dimulai dari koleksi mobil yang digunakan, ruang kerja, hingga kamar tidur. Pengunjung tidak bisa masuk langsung, hanya melihat dari luar. Lagi-lagi tetap dalam penjagaan tentara. Melihatnya pun antri, karena rumah beliau berbentuk rumah panggung, kami antri naik ke tangga dan kemudian sambil terus berjalan dalam antrian melihat-lihat. Tidak boleh berhenti terlalu lama. Mengambil foto pun harus cepat-cepat.

 

Danau di depan Rumah Presiden Ho Chi Min
Danau di Belakang Rumah Ho Chi Min

 

Tampak Samping Istana Presiden Ho Chi Mi
Tampak Samping Istana Presiden Ho Chi Min

Kompleks istana Presiden Ho Chi Min bersebelahan dengan museumnya. Area yang cukup luas, tidak terasa kami sudah menghabiskan waktu dua jam, dan sejatinya, saya belum memasuki museum Ho Chi Min. Zaki sih sudah kemarin. Rute Sabtu Minggu ternyata dimulai dari makam kemudian tempat tinggal, dan terakhir museum. Untuk masuk ke museum, kami harus bayar lagi. Setelah dipertimbangkan, saya memilih untuk berjalan-jalan saja dan tidak masuk ke museum. Nanti diceritain saja sama Zaki katanya. Ya sudahlah gak papah.

Tampak Depan Museum Ho Chi Min
Tampak Depan Museum Ho Chi Min dan Saya Gak Masuk 😦
Kuil di Depan Museum Ho Chi Min
Kuil di Depan Museum Ho Chi Min
Museum Perang
Museum Perang

Melihat rencana kami hari itu, akhirnya kami kemudian memilih jalan-jalan ke kota tua, sekaligus mencari mesjid untuk sholat dan mencari makan siang tentunya. Untuk ke Kota Tua, kami harus mengambil jalur balik ke arah hotel. Kami melewati museum perang Vietnam dan lagi-lagi ketika kami tiba, museum tutup karena jam istirahat dan akan kembali buka jam 1 atau 2 siang. Zaki juga sudah masuk ke sini. Foto-foto di dalam Museum Ho Chi Min dan Museum Perang adalah foto yang diambil Zaki kemarin. Buat yang menyukai sejarah, sepertinya wajib kesini.  Saya sih bukan gak suka, tapi ya, lain kali ajah kali ya. Amiinnn.

Bermodalkan hanya peta di tangan, membuat saya merasa perjalanan kami seperti kok tidak sampai-sampai ya. Hahaha. Maklum kalau di peta semua terasa dekat, tapi tidak demikian kalau kita berjalan kaki. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di sebuah kedai es krim masa kini. Sekalian numpang wifi-an juga, dan tanya-tanya.

Siang itu saya pesan es krim matcha dan Zaki rasa cappucino dengan taburan almond. Tidak sampai lima belas menit, es krim di depan kami ludes. Kami pun melanjutkan perjalanan. Akhirnya tibalah kami di Kota Tua Hanoi.

Wilayah Kota Tua memang daerah tujuan turis. Selain bangunan tuanya, di sini pusatnya buat yang hobi belanja. Sepanjang jalan adalah toko-toko souvenir, tas Kipling, jaket North Face, sepatu Nike, dan juga kafe-kafe penjual Mie Pho. Saya gak belanja? Belanja siy, tapi dikit. Pengen beli tas, jaket atau sepatu sebenarnya, tapi balik lagi, apa saya butuh? Hahahaha. tentu saja tidak. Ya udah, akhirnya gak beli deh. Hehehe.

St. Joseph Catedral
St. Joseph Catedral

Spot pertama yang menarik kami temukan adalah sebuah gereja tua, khas bergaya Eropa, St. Joseph Catedral. Banyak turis lokal yang berfoto di depan gereja. Ikutan juga dong. Di sekitarnya banyak jasa biro perjalanan wisata dan kafe. Oh iya, yang menarik, selama berjalan di gang-gang kecil Kota Tua itu, selalu ada yang memperhatikan sepatu kami, ternyata tukang semir sepatu. Mereka membawa keranjang jinjing dari plastik. Agak berbeda dengan di Indonesia yang biasanya dengan kotak kayu. Mereka berkeliling menjajakan jasanya.

Tujuan kami berikutnya Mesjid untuk sholat Zuhur dan Ashar. Dari peta sih, seharusnya tidak jauh. Benar saja, akhirnya kami ketemua mesjid. Sepi. Mungkin sudah lewat dari jam sholat. Kami masuk, ke halamannya yang teduh karena pohon rindang. Di dalam mesjid pencahayaan agak gelap, lampu dimatikan, tapi justru suasana seperti di rumah. Sejuk. Ada seorang Bapak Tua seperti keturunan Timur Tengah yang sedang membaca Al Quran. Mungkin beliau Imam di mesjid ini. Kami menyapanya dengan salam, dan dia menjawab kemudian melanjutkan kegiatannya. Sepertinya tidak terlalu tertarik untuk mengobrol panjang dengan kami. Hanya bertanya asal kami, dan sudah. Padahal saya pengen banget ngobrol. Tapi ya sudahlah.

Selesai sholat, tidak sengaja di dalam mesjid, kami melihat sebuah papan kecil bertuliskan halal food. What? Ya ampun, senangnya kami. Buru-buru kami masuk. Tempatnya terpencil sekali. Di dalam wilayah mesjid dengan pintu besi tertutup rapat. Bangunannya menyatu dengan tempat tinggal sang empunya. Pintunya tidak terkunci, berarti buka. Yeay!

Hanya empat meja makan untuk masing-masing meja empat orang. Ada sebuah televisi yang menayangkan tayangan HBO. Saat itu hanya kami pengunjung di situ. Pelayannya seorang pria Vietnam yang posturnya agak tinggi dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. Its okelah, yang penting dia bisa mengerti apa yang kami maksud.

Siang itu sebenarnya kami ingin mencicipi Mie Pho yang dijual penduduk aseli. Tapi sayang, Mie Pho di warung itu hanya dibuat untuk pagi hari saat sarapan. Saya memesan ikan gurame yang di grilled dengan nasi yang menurut saya nasi ketan, dan sayuran. Zaki lebih mainstreem pesennya, nugget ayam :). Kami juga pesan vietnam roll dan capcay. Rasanya sih biasa aja, standar, gak terlalu spesial. Tapi kami senang, bisa ketemu resto ini. Harganya pun gak mahal. Jadi kesimpulannya okelah. Awalnya kami memang tidak mencari rumah makan. Habis sholat saja. Eh seperti sudah jodoh, kami dipertemukan. Halah.

Biasanya kalau kesulitan cari makanan halal, kami mendatangi minimarket dan cari makanan ringan yang mengenyangkan dengan label halal atau buah saja. Selama di negara tropis, dimanapun ada buah yang mengenyangkan. Pokoknya semua jangan dibuat susah dan ribet lah yah… Happy-happy ajah.

Tidak lama kemudian, datang sepasang turis lagi memasuki restauran. Satunya wanita berjilbab dan laki-laki seusia kami. Kami pun saling menyapa. Sedikit berbasa-basi,  mereka berasal dari Thailand Selatan, Pathani. Selesai makan kami langsung ke tujuan berikutnya, menonton pertunjukkan wayang air di depan Danau Hoan Kim.

Cerita diatas, dua pertiga dari perjalanan kami keliling Kota Hanoi. Cerita tentang pertunjukkan wayang air dan asyiknya menikmati suasana Danau Hoan Kiem Sabtu sore yang ruame dan seru, akan saya ceritakan di postingan berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menyusuri Teluk Ha Long (Ha Long Bay) di Vietnam Utara

Yeay… nge-blog pertama di tahun 2017. Mau cerita perjalanan ke Vietnam kemarin aja yuk.

Percaya atau tidak, nama Vietnam gue tulis dalam resolusi 2016 kemarin. Alasannya? Sederhana saja, sebelum jalan-jalan yang terlalu jauh, untuk memberi tanda di paspor kenapa tidak dimulai dari negara-negara di Asia Tenggara dulu? Ah sepertinya semesta mendukung (kata-kata yang lagi trend nih).

Sebenarnya sih Filipina juga masuk daftar destinasi gue tahun lalu, gara-gara mulai jatuh cinta sama serial dan film-film mereka yang romantis komedi. Cerita yang sederhana, ringan, dan romantis. Ya, boleh dibilang film menye-menye receh mungkin kalau kata pengamat film. Buat gue sih ya hidup harus seimbang saja. Nonton film mikir berat hayuks, ke bioskop model Allied film perang atau film detektif yang pake mikir kayak Snowden. Tapi sespertinya otak gue kadang memilih yang kata orang nggak banget itu demi keseimbangan hidup. Halahhh. Oke balik ke topik mau bahas Vietnam.

Meski baru sebulan kemarin memaksakan ambil cuti untuk ikut suami ke Semarang, kali ini gue maksa juga ikut ke Vietnam. Bermodalkan nekad mengajukan surat izin tidak masuk kerja selama dua hari. Oke suatu perjalanan dimulai sejak memesan tiket. Yup memesan tiket.

Kota terbesar di Vietnam sebenarnya ada di selatan yaitu, Ho Chi Min, meskipun ibukota berada di utara yaitu Hanoi. Kenapa begitu? Ceritanya panjang, dan harus membuka luka lama negara tersebut. Bentuk Vietnam yang memanjang dari utara ke selatan pernah mempunyai sejarah kelam dengan adanya perang saudara yang membawa dua kepentingan. Vietnam utara beraliran komunis dan Vietnam selatan dibawah kekuasaan AS dan sekutunya. Sekarang sih sudah bersatu dan Vietnam termasuk dari beberapa negara yang saat ini masih menganut paham komunis.

Penerbangan langsung dari Jakarta menuju Vietnam bisa dengan Garuda tujuan Ho Chi Min. Sayangnya kami kekeuh maunya ke utara. Tauk kemana? Ha Long Bay. Sebuah teluk yang berada di perbatasan Vietnam dengan Cina. Letaknya yang di utara dan terbatasnya waktu, kami harus ke Hanoi kota yang lebih dekat untuk menuju Ha Long Bay. Suami berangkat lebih dulu dan saya kemudian menyusul. Maunya saya sih naik penerbangan yang sampai Hanoy pagi, tapi untuk itu harus bermalam di Bangkok, dan suami (pasti) gak mengizinkan. Dapat tiker pagi dengan Thai Airways dan tiba di Hanoy malam harinya dengan transit di Bangkok satu jam saja. Harga tiket lumayan mahal sih 5,4 jt, tapi ya gak papalah, kan hotel sudah beres, tiket suami gratis pula. Mari kita anggap harga tiket murah. Hihihihi.

Tiba di Hanoy jam 21:00 waktu yang masih sama dengan Jakarta. Jangan lupa bekal dollar AS aja, tukar di Noi Bai Airport Hanoi. Seratus Dolar dapat 2 juta sekian VND (Vietnam Dong).

Suhu Hanoi di bulan Desember sejuk, agak dingin, seperti hujan belum lama mengguyur, tapi masih bisa ditolerir buat penduduk negara tropis macam saya. Sesekali angin berhembus agak kencang malam itu. Dijemput suami di bandara, malam itu kami langsung pulang ke hotel, karena besok pagi-pagi kami mau ke Ha Long Bay. Kami naik taksi dari bandara menuju hotel. Jangan lupa harus sepakat dari awal mengenai ongkos taksinya. Pakai argo atau tidak, dan mata uang apa yang digunakan. Di Vietnam, selain mata uang VND, banyak juga yang menggunakan US Dollar.

Sehari sebelumnya, suami sudah mendaftarkan kami ikut One Day Trip ke Ha Long Bay via Shin Cafe. Shin Cafe adalah biro perjalanan yang cukup terpercaya. Silahkan googling atau kalau mau datang langsung, banyak terdapat di daerah kota tua Hanoi. Sebelum deal, harus banyak-banyak tanya dan jangan ragu untuk membandingkan. Soalnya para wisatawan suka dapat harga yang berbeda-beda. Apa saja yang di dapat dengan harga-harga yang ditawarkan. Pokoknya harus teliti deh.

Selesai sarapan di hotel, tepat jam 08:30 seorang laki-laki Vietnam menjemput kami di hotel. Hotel kami adalah hotel terakhir peserta tur. Perjalanan menuju Ha Long Bay menggunakan sebuah minibus van berisi 15 kursi. Kami duduk di kusi paling belakang, yang seharusnya untuk empat orang, jadi bisa selonjoran deh. Laki-laki dengan tinggi kurang dari 160 cm yang menjemput kami di hotel tadi, adalah guide tour kami nama Vietnamnya Ngu Yen siapa begitu, tetapi untuk memudahkan kami para tamu yang berasal dari berbagai negara, ia mengizinkan kami memanggilnya dengan sebutan Kim.

Kim kemudian mengabsen kami satu persatu. Teman perjalanan kami hari itu memang dari beragam negara. Duduk di baris paling depan ada pasangan sepertinya belum menikah dari Italia. Oppa-oppa yang ramah dan chubby dari Korea Selatan. Barisan kedua sebuah keluarga campuran Austria dan Thailand dengan anaknya yang cantik Asia tapi memiliki rambut kecoklatan dan postur yang kurus dan tinggi seperti ras Eropa bernama Kathy. Baris ketiga ada pasangan suami isteri Mexico dan Amerika serta solo traveller dari Amerika juga. Baris belakang, kami dari Indonesia. Meski banyak yang menebak kami dari Malaysia. Why???

Di perjalanan, Kim menceritaka kami sedikit tentang Vietnam. Seperti peta negara Vietnam yang sering dijuluki sexy lady, cara orang Vietnam melakukan toast saat minum-minum dan meminta kami mempraktikannya, dengan air mineral tentunya.

Perjalanan Hanoi menuju Ha Long Bay ditempuh dalam waktu empat jam. Selama perjalanan itu gue ngapain? Ngobrol sama yang lain? Nggak. Ada yang sibuk main hape, dan karena gue gak mengaktifkan paket data, ya udah gue mengamati Vietnam dari kaca mobil. Gak terlalu beda sama di Indonesia sih. Negara agraris, banyak sawah, perkebunan sayur, pohon pisang, anak sekolah naik sepeda onthel, pengendara sepeda motor dengan bawaan yang melebihi kapasitas. Mirip sama daerah Sleman di Yogya kali yah.

img_6907
Pemandangan dari depan hotel

Setelah dua jam kami menempuh perjalanan, bus kami berhenti di sebuah tempat pemberhentian, seperti rest area gitu kali ya. Bedanya rest area di Indonesia dan Vietnam adalah di Vietnam cuma ada satu bangunan besar yang berisi tempat penjualan souvenir khas kerajinan tangan berikut tempat workshopnya. Istimewanya mereka mendayagunakan mereka yang difable. Mereka membuat lukisan dengan sulaman benang. Merangkai benang di atas kain yang sudah digambari pola lukisan. Hasilnya keren-keren banget. Tema lukisan dibuat khas Vietnam sekali. Seperti kehidupan sehari-hari masyarakat Vietnam bercocok tanam, orang memancing di danau, dan seorang gadis yang memakai pakaian tradisional dengan membawa payung berdiri di bawah pohon atau dipinggiran danau dengan topi caping.

Barang-barang khas yang dijajakan mulai dari tempelan kulkas, tas kipling, anggur khas Vietnam yang di dalam botolnya ada kepala ular, juga makanan dan minuman ringan. Kayaknya teman-teman rombongan gue gak begitu doyan belanja. Paling ada yang jajan kopi dan cemilan. Kalau gue cuma ke toilet aja. Hehehe. Bangunan toilet terletak di luar dan bersih. Sambil menunggu yang lain kami juga sedikit ngobrol sama Park lebih tepatnya sih, berkenalan. Pipinya yang chubby dan wajah imutnya gak menyangka kalau dia seumuran sama kami.

Meski sudah nahan-nahan mata biar gak merem, tapi sejuknya AC mobil bikin gue ketiduran juga, dan ketika bangun, belum kelihatan juga penampakan Ha Long Bay. Gak lama kemudian, Kim menyapa kami (lebih tepat membangunkan kami yang tidur) dan mengingatkan, tidak lama lagi kami akan tiba di Ha Long Bay. Kim meminta kami melihat ke arah kanan, dan benar saja, bukit-bukit batu besar yang diselimuti pepohonan hijau bisa sedikit kami lihat. Iklim bulan Desember membuat suasana siang itu tidak panas karena matahari memang tertutup awan tebal. Mendung dan memang diselimuti kabut tipis. Foggy dan mistis. “Agh… itu Ha Long Bay!” teriak gue dalam hati. Persis seperti yang aku lihat di blognya orang-orang meski cuaca mendung, tapi aku senang.

One Day Trip ke Ha Long Bay dimulai dengan kami menaiki sebuah kapal mesin berukuran sedang yang akan membawa kami menyusuri teluk Ha Long ini. Paket trip gue ini harganya 50 US Dolar satu orang sudah termasuk makan siang di kapal. Oh iya, ada yang lucu nih masalah makanan. Berhubung kami ingin aman (halal) dalam hal makanan, maka kami bilang ke Kim kalau kami vegetarian. Kami dapat menu satu nampan besar khusus vegetarian. Isinya mie goreng, telur gulung, sedikit bakso tahu, dan bola-bola kentang. Gak lama datang makanan yang no vegie. Tauk gak, menunya apa? Semua seafood dong, ada udang bakar, ikan bakar, dan gue sama suami liat-liatan kemudian tertawa menertawakan kesialan kami.

Paling goks adalah kami sempat bekal mie goreng yang kami masak di hotel dan kami juga cuek aja mengeluarkan sambal botol belibis. Hihihihi. Kami takut makanannya aneh-aneh kan, tapi gak papa tauk menunya seafood, kami agak tenang lah makannya. Teman makan semeja kami si Park orang Korea dan pasangan campur dengan putrinya. Selesai makan gue tanya ke Zaki, “Nyesel bilang kita vegie?” Zaki jawab, “Gak papalah kita pesan menu terpisah dari mereka, itu Oppa-oppa (sebutan kakak laki-laki Korea bagi wanita) makannya banyak juga.” Wkwkwkwkwk. Emang sih, si Oppa makannya banyak.

Selesai makan, kami menaiki bagian atas kapal dan menikmati keindahan Ha Long Bay. Langit siang itu mendung, angin berhembus sedikit kencang. Suhu udara kurang lebih 10-15 derajat celcius, mirip dengan udara di Lembang Bandung musim hujan.

Foggy Ha Long Bay
Batu di tengah tersebut ada di gambar mata uang Vietnam

Kim menunjukkan kepada kami kalau pemandangan Ha Long Bay diabadikan juga sebagai gambar yang terdapat di lembar mata uang Vietnam. Kim juga menceritakan sedikit cerita atau mitos seputar Ha Long Bay. Konon batu-batu besar di teluk tersebut adalah batu-batu yang dilemparkan oleh para dewa, ketika tanah Vietnam akan diserang oleh bangsa China. Batu-batu tersebut konon menjadi penghalang bagi penjajah untuk menyerang Vietnam.

Ha Long Bay
Pemandangan di Sekeliling Ha Long Bay

Kapal kami kemudian berlabuh di sebuah dermaga kecil. Paket kami juga termasuk menaiki kapal kayu kecil. Satu kapal berisi 4-5 orang. Kami berperahu bersama Kathy dan sempat melakukan perbincangan. Ayah Kathy yang aseli Austria sudah pernah ke Bali, kemudian Ibunya Kathy kelihatan agak sebal pengen banget diajak ke Bali suatu hari nanti. Mereka sekarang tinggal di Austria dan Kathy bisa berbicara bahasa  Jerman, Thailand, dan Inggris. Emang sih, pas ngobrol sama Ibunya pakai bahasa Thai, pas sama bokapnya bahasa Jerman, kalau di sekolah Bahasa Inggris.

Mereka ke Vietnam dalam rangka liburan dan kemudian akan lanjut ke Thailand untuk merayakan natal di sana. Liburan keliling Asia dua bulan bo… Ngiri banget.

Dermaga Ha Long Bay
Dermaga tempat naik perahu kayu
Mixed Couple
Kathy dan Orang Tuanya
Perempuan Perkasa Hanoi
Pendayungnya Kebanyakan Wanita
Ha Long Bay
Penampakan Batu di Ha Long Bay

Menariknya lagi dari pejalanan kami dengan perahu kayu, adalah siapakah yang mendayung? Pendayung kebanyakan Ibu-ibu dan mbak-mbak cantik lho. Meskipun badannya kecil, tetapi tenaganya kuat banget. Lumayan kurang lebih 30 menit. Ada sih, kalau mau uji kekuatan tangan mendayung dengan kano. Mana mau si Zaki, ngedayung, dengan alasan nanti dia doang yang dayung. Hahaha. Males ah. Bahkan ada yang kano sendirian loh. Bodo ah, kami memang pemalas. Usia yah, gak bohong.

Canoing di Ha Long Bay
Canoing di Ha Long Bay

Ha Long Bay

Ha Long Bay

Ha Long Bay

 

Selesai menikmati keindahan Ha Long Bay dengan perahu kayu, kami balik ke kapal untuk mengunjungi gua dibalik bukit. Untuk mencapai gua, kita perlu sedikit menanjak. Jangan khawatir, jalurnya sudah bentuk tangga beton. Memasuki dalam goa, jangan bayangkan goa gelap dan lembab. Lampu warna-warni di dalamnya. Kuning, hijau, pink, wah berasa di club malam deh, bukan di goa. Sepanjang penyusuran ke goa, Kim menceritakan sedikit tentang goa. Cerita berasal dari mitos-mitos atas bentuk-bentuk yang terbentuk dari stalaktit dan stalakmit dalam gua. Misal ada yang berbentuk sepasang kekasih, seorang ibu dan anaknya, kera, buaya, sampai santa claus. Masyarakat Vietnam sama halnya dengan Indonesia memiliki sekali cerita atau mitos-mitos yang menarik.

Penampakan Gua
Penampakan Gua

Gua Ha Long Bay

Gua Ha Long Bay
Penampakan dari atas Gua Ha Long Bay

Berakhirnya kunjungan kami ke gua, mengakhiri perjalanan sehari kami ke Ha Long Bay, jam 5 sore kami kembali ke Hanoi. DI perjalanan menuju dermaga kami disuguhi teh khas Vietnam dan kue kacang hijau yang rasanya manis banget dan jeruk mandarin yang imut-imut. Eh si oppa lapar sepertinya. Dia yang paling banyak makan itu kue. Hihihihi.

Park, teman baru dalam perjalanan di Ha Long Bay
Pemandangan dari Dermaga Gua
Pemandangan dari atas Bukit Gua Ha Long Bay
Kue Kacang HIjau Khas Vietnam
Kue Kacang Hijau Khas Vietnam dan Secangkir Teh

Perjalanan pulang ke Hanoi melewati jalur yang berbeda dengan arah berangkat, dan karena hari itu hari Jumat, lalu lintas lebih ramai dan yang paling membuat tidak nyaman kenapa orang-orang di Vietnam senang sekali bermain klakson dan itu bikin kuping capek.

Perjalanan pulang, kami juga berhenti di rest area untuk ke kamar kecil ataupun berbelanja buat yang mau belanja. Rombongan kami yang cowok malahan asyik membahas masalah politik dan langsung menanyakan ke narasumber alias ke masing-masing warga negara. Contohnya, tentang terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika, kudeta Presiden Korea Selatan, dan sebagainya-sebagainya. Berat amat sih obrolan. Hahahahaha. Berasa lagi ikutan rapat di PBB.

Akhirnya tepat jam 20:30 kami tiba di Hanoi, dan kami yang pertama kali di antar ke hotel malam itu. Oh iya, kata si Park, hotel kami bagus. Ya iyalah kan dibayarin kantor. Hihihihi. Mau beli makan malam, kami ingat mie goreng tadi pagi belum di makan. Marilah makan mie goreng aja sama rendang. Ceritanya dietlah malam-malam. Padahal badan sudah capek banget, bawaannya pingin mandi kemudian langsung tidur. Hehehehe.

Perjalanan kami siang tadi meninggalkan pengalaman yang yang luar biasa. Ikutan grup tur yang mempertemukan kami dengan orang-orang dari berbagai negara. Oppa Korea malah bersedia memandu kami kalau kami suatu hari main-main ke Korea. Dari obrolan kami, kebanyakan mereka masih melanjutkan perjalanan keliling Vietnam seperti Danna  di Vietnam tengah dan Ho Chi Min di selatan. Bahkan ada yang lanjut ke Myanmar, Kamboja, atau Thailand. Sayangnya gak ada yang mampir ke Indonesia. Oh iyah, ketika ngobrol, kami gak bosan-bosan loh, promosi tentang Indonesia ke mereka. Cerita betapa indahnya Indonesia dan pulaunya yang banyak. Mereka sih manggut-manggut ajah dan janji suatu saat akan mampir ke Indonesia.

Ada juga yang tertarik dengan jilbab saya, menanyakan apa kami muslim, kenapa muslim begini dan begitu. Oke,lain kali akan saya ceritakan di halaman berikutnya dari blog saya ini.

Perjalanan kami esok harinya, kami lanjutkan dengan keliling Kota Hanoi. Kemana? Entahlah kami belum punya tujuan yang pasti, tapi saya yakin perjalanan kami besok pasti sama serunya dengan hari ini.