Roadtrip Surabaya-Jakarta Part 4 (Surabaya Hari Kedua: Monumen Kapal Selam dan Kulineran Belut)

Hari kedua kami di Surabaya, dan alhamdulillah kerjaan Zaki sudah beres. Jadi kami berencana langsung balik saja ke Jakarta, siang ini langsung chek-out dari Harris. Pagi ini karena lebih santai, Zaki fitness dan saya berjemur di pinggir kolam renang mencari sinar matahari sembari membaca novel saya yang mulai nagih untuk diselesaikan.

Kolam renang Hotel Harris selalu bagus

Letak hotel kami yang di jalan Gubeng itu lumayan dekat dengan Monumen Kapal Selam yang memang belum pernah kami datangi meski sudah beberapa kali ke Surabaya. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi monumen tersebut. Letaknya persis di sebelah SUrabaya Plaza dan samping Sungai Kalimas.

Jam 10:30 kami masuk dengan harga tiket masuk per orang 5000 rupiah. Monumen Kapal Selam memang benar-benar sebuah Kapal Selam buatan Uni Soviet untuk melengkapi kekuatan Angkatan Laut Indonesia ketika pembebasan Irian Barat waktu itu.

Memasuki monumen kapal selam ya di dalamnya memang benar-benar aselinya kapal selam. Ada tempat tidur, kamar kapten, kemudi kapal, sampai toilet. Konstruksinya jangan ditanya, bikin pusing. pesan saya, buat yang tinggi hati-hati kepentok.

Siang itu, ketika di Monumen Kapal Selam pengunjungnya hanya kami berdua. Eh, ternyata ada ruang audiovisualnya jugaloh. Pemutaran film setiap satu jam sekali. Jadi kami menunggu sebentar untuk melihat film sambil menikmati pemandangan sungai dan kota Surabaya yang siang itu cukup panas.

Jam sebelas tepat ruang audiovisual dibuka. Siang itu pengunjung yang masuk untuk menonton film ada empat orang termasuk kami. Lampu dipadamkan, film diputar. Persis seperti bioskop. Kursi seperti kursi makan. Kalau saya kira-kira film dibuat sekitar tahun 90-an deh. Udah agak gimana gitu filmnya. Suara narator dan narasinya model  era Pak Harto. Narasinya menggugah rasa kebanggaan menjadi warga negara NKRI.

Kenapa Monumen Kapal Selam di Surabaya? Karena waktu itu lagi pembesan Irian Barat, dan pangkalan AL Indonesia untuk wilayah timur itu di Surabaya, jadilah Kapal Selam yang sudah tidak digunakan itu, dijadikan monumen. Ditambahkan lagi oleh sang narator menguatkan juga bahwa Surabaya sebagai kota pahlawan.

Kurang lebih 30 menit film diputar dan hampir sepuluh menit terakhir saya mengantuk. Nagntuk berat. Untungnya tidak lama film selesai.

Dari Monkasel, kami makan siang ke Warung Belut Khas Surabaya yang semalem tutup. Penasaran banget yah. Tiba di warung belut Khas Surabaya di Jalan Ngagel Jaya Selatan I, agak kaget juga lihat ember-ember besar di pelataran rumah makan berisi belut yang masih hidup. Tergesa-gesa saya melewati barisan emeber tersebut sambil berusaha agar pandangan tidak melihat ke isi ember tersebut. Bukannya apa, terus terang agak gimana gitu melihat belut yang masih hidup kemudian digoreng dan kumakan. Kutak sanggup. Hihihihi.

Cukup lumayan waktu menunggu, karena sambal belutnya beneran ndadak, fresh banget. Menurut sepupu, yang best seller itu varian belut elek. Belut elek itu belut yang digorengnya tidak terlalu kering ditambah sambal tomat.

Daripada saya gak doyan gara-gara amis belut, saya memutuskan pilih yang goreng kering dan Zaki yang goreng biasa. Meski awalnya Zaki au makan burung dara, tapi sayangnya belum siap. Mau gak mau makan belut juga. Siang itu tambah terong dan tempe goreng.

Bagaimana rasanya? Buat saya yah beda tipis sama pecel lele. Bedanya ini belut. Udah. Enak banget? Nggak. Buat saya biasa saja. Bingung juga sih para sepupu doyan banget. Spesialnya di sini, setiap gorengan belut ditambah bawang putih goreng. Bawang putih yang bahkan kulitnya tidak dikupas lo. Hehehe. Baguslah buat antikolesterol alami. Hihihihi.

Beranjak dari warung belut, kami menuju Depot Bu Rudy di Jalan Dharmahusada untuk beli sambel favorit yang fenominil. Itu ajah sih buat saya yang wajb dibeli ketika ke Surabaya. Meski, di Surabaya banyak banget artis-artis buka brand oleh-oleh kue kekinian yang pada dasarnya adalah bolu, manis, keju, atau coklat. Hehehehe.

Ramai banget siang itu memang bertepatan makan siang. Bisa dipastikan parkir susah. Depot Bu Rudy kumplit. Mau makan siang yang paling tenar itu nasi sambal udang. Sayurnya khas Jawa seperti sayur nangka, lodeh, krecek, dengan lauk kumplit bebek goreng, empal, tahu dan tempe. Tidak ketinggalan di setiap meja sepiring bakwan jagung yang lebar. Yummi banget.

Di bagian penjualan oleh-oleh kumplit khas Surabaya ada. Dari sambal, teng-teng mede, sampai kue-kue basah untuk cemilan, pisang goreng, donat kentang, bolu tape, hingga ovomaltine. Why ovomaltine??? Eh bahkan Zaki sempat beli Dumdum loh di kios depannya. Kios-kios di depan Depot lebih banyak lagi. Ada lunpia Semarang, serabi notosuman, carabika, kue pukis, kumplit bangetlah. Khawatir bentar lagi Bu Rudy buka brand baju atau kosmetik nih.

Beres peroleh-olehan di Bu Rudi, kami menuju pom bensin, untuk isi bensin dan sholat Zuhur dan memutuskan langsung menuju Rembang untuk main-main di Rembang sampai keesokan hari melanjutkan perjalanan sampai ke Jakarta.

Lanjut Next Post yah… Masih ada cerita keseruan di Rembang dan Pekalongan. Duh, berasa bikin cerbung yah 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s