“Korban First Travel?” Iyah, Saya :)

“Sesekali saya mau nulis yang kekinian ah… Apayah?” Begitu yang ada dalam benak saya belakangan ini. Sibuknya dunia awal perkuliahan saya, dengan jadwal satu hari weekend, mau gak mau ya jadi agak susah buat jalan-jalan dalam jangka waktu lama. Mungkin nantilah pas libur kuliah semesteran. Berawal karena hal itulah, saya jadi semangat buat nulis yang kekinian. Meski dengan menulis ini membuka aib “kebodohan” saya sendiri sih. Gak papalah, selain buat dokumentasi arsip pribadi, semoga bisa jadi pelajaran juga buat pembaca blog saya.

“Korban First Travel? Kok Bisa?”

Waktu itu di tahun 2016, alhamdulillah saya ditugaskan dari kantor ke Arab Saudi sebagai tim penerima obat yang akan digunakan jamaah haji Indonesia. September 2016 setahun lalu tepatnya.

Ini oleh-oleh tulisan saya waktu itu : Makanan Khas Arab yang Yummy (Worktrip Arab Saudi Part 2)   

Selama tujuh hari berada di Arab, tentu sangat berkesan sekali buat saya. Bagaimana tidak? Menginjakkan kaki di tanah haram adalah impian setiap umat muslim di manapun. Meski ketika itu tentu waktu saya sebagian besar ya buat bekerja tetapi kami tetap menyempatkan diri untuk beribadah di tanah berdirinya kiblat umat muslim seluruh dunia.

Kenangan spiritual ataupun duniawi sangat membekas. Hingga terbesit keinginan untuk suatu saat saya bersama suami akan bisa bersama-sama beribadah ke Mekkah. Singkat cerita, salah seorang teman saya yang juga berangkat saat itu menceritakan pengalaman umrohnya bersama suami dengan biro perjalan yang terbilang biayanya cukup murah.

“Iyah, enak kok, kemarin gue sama suami bareng Kak Naningnung nengnong tuh malah tiap tahun.” bebernya lagi mempromosikan sebuah biro perjalanan umroh yang kemudian akan dibekukan pemerintah di pertengahan 2017

Iya, disitulah saya mulai tergerak penasaran dengan yang namanya First Travel. Agak bimbang terus terang saya waktu itu, hingga Bos saya, juga bercerita beliau sudah dua kali berangkat umroh dengan biro perjalanan yang sama, First Travel. Bergeser ke ruangan sebelah, teman saya sejak kuliah, sebut saja Mawar menceritakan bahwa dia dan suaminya baru melakukan umroh dengan lagi-lagi First Travel. Tidak hanya Mawar ternyata di ruangan tersebut, ada juga Ibu Titi Teliti dan Pak Anwar Fuadi dan keluarganya.

Mereka semua saya tanyakan bagaimana bisa umroh dengan budget minim di sana? Bagaimana hotelnya? Bagaimana cateringnya? Bagaimana pelayanan-pelayanan lainnya. Mereka kompak menjawab bagus dan memuaskan. Tentu saja disesuaikan dengan uang yang sudah mereka bayarkan, pelayanan terbilang bagus.

Perlu diketahui, sebelumnya saya bermaksud menawarkan kedua orang tua saya buat umroh. Tidak dengan First Travel dengan biro perjalanan lainnya. Sudah jelas tanggal berangkat dengan harga lebih mahal tentunya. Kalau waktu itu First Travel 14 jutaan, biro perjalanan tersebut menawarkan di harga 22 juta sekian sekian. Kemudian Ibu dan Bapak memilih menggunakan dana tersebut untuk daftar haji. Baiklah Ibu dan Bapak kemudian daftar haji dan masih dalam proses mengantri.

Berbekal pengalaman saya di Arab ketika dinas, saya pikir kami (saya dan suami) masih usia yang cukup sehat untuk beribadah di sana meski dengan biaya yang murah sekalipun. Mumpung masih muda. Gak papahlah, toh kemarin saya bisa kok ketika dinas ke Mekkah naik taksi atau mau ke pasar mau beli apa secara mandiri tanpa biro atau agen perjalanan.

Bismillah, saya meminta suami untuk mendaftar ke kantor First Travel di daerah Depok. Kesana sendiri tanpa melalui agen atau paksaan. Mengambil formulir, menyiapkan foto untuk visa, membayar DP sampai harus melunasi beberapa hari kemudian. Kami juga menerima kalau kami akan berangkat di Tahun 2017 bulan April.

Hingga di penghujung 2016, suami ikut manasik umroh yang diselenggarakan First Travel di Masjid Istiqlal yang luar biasa jamaahnya memenuhi seluruh tempat di Masjid terbesar se-Asia Tenggara itu. Saya memilih tidak ikut. Selain tahu akan penuh, toh saya sudah pernah umroh. Suami berangkat sendiri pagi-pagi sekali agar mudah mendapat parkir. Di sana suami bertemu dengan tetangga dekat rumah, yang belakangan kami tahu beliau membawa atau mengajak beberapa jemaah. Entah beliau agen atau hanya membantu sampai sekarang saya tidak tahu.

Oh iyah, saat itu di ruangan saya di kantor, tidak hanya saya saja yang tertarik. Bu Lily Kasoem Optik, Bu Philips dengan suami, dan Pak Steward bahkan sekeluarga dengan istri dan dua anaknya.

Di penghujung 2016, mulai terdengar kehebohan di media tentang First Travel. Banyak jemaah yang dijanjikan akan berangkat di Januari 2017 belum juga diberangkatkan. Berita yang awalnya simpang siur mulai terbukti benar adanya. Bu Lily Kasoem Optik bergabung dengan grup WA yang mulai membuat aduan ke Kementerian Agama. Ketika itu Kemenag belum juga membekukan First Travel. Lucunya lagi, iklan dan tawaran First Travel masih dengan mudah ditemui di media sosial seperti Instagram.

Mulai Aneh, Minta Refund dan “Kembalikan Paspor Saya!”

Lucunya First Travel itu yah, paspor sudah diminta jauh-jauh hari banget. Katanya sih buat urus visa. Yaelah visa kan kalau lancar begini paling beberapa hari juga jadi. Oke, mikirnya jemaah banyak. Saya sudah meneyerahkan paspor di akhir 2016.

Suami yang memang masih membutuhkan paspor dalam rangka kerja, memilih akan membayar lebih yaitu sebesar tiga juta jika belakangan menyerahkan paspor. Ini yang bikin sebel. Suami waktu itu ada kerjaan ke Jerman dan Italia, dan saya yang tadinya mau ikut memilih gak ikut karena tahun depan mau umroh, harus menerima kenyataan pahit. Gagal ke Eropa dan gagal umroh. Wkwkwkwkw. Kasihan deh lo.

Bulan April 2017, kegaduhan mulai terjadi. Pihak First Travel tiba-tiba memenerapkan aturan tambahan biaya sebesar 2,5 juta rupiah bagi program umroh promo jika mereka akan diberangkatkan. Konon katanya biar bareng sama jemaah reguler. Nah loh, awalnya ajah udah molor setahun, kok tiba-tiba minta nambah terus bisa berangkat. Piye to? Gak masuk akal.

Mulai mencium keanehan, saya minta suami ke kantor First Travel. Minta refund dan ambil paspor saya. Sebel banget pokoknya. I want my paspor back. Paspor ditahan itu kayak kena banned sama pemerintah kalau saya itu penjahat, jadi gak boleh ke luar negeri. Sumpah sebel banget.

Alhamdulillah yah (selalu ada alhamdulillah di setiap peristiwa) suami kerjanya fleksibel. Jadi yang mondar mandir ke kantor First Travel yang mulai rusuh banget itu ya suami. Setiap habis dari kantor First Travel selalu ada ajah cerita sedih yang dibawa.

Cerita jemaah yang gagal berangkat padahal sudah menunggu dua tahun, ada anak yang memperjuangkan orang tuanya yang mau umroh, ada curhat para agen yang memperjuangkan orang-orang yang mereka bawa, hingga curhat para Customer Service First Travel yang menjadi sasaran amukan massa jemaah.

Kenapa Jualan yang Sifatnya Spiritual Laris Manis ?

Setelah formulir refund kami terima yang katanya akan cair 90 hari kerja dan paspor saya kembali, hati agak lega. Bahkan kemudian saya langsung gatel memakai paspor yang telah ama hilang itu. Hahahahaha. Lebay. Iyah saya langsung ikut nemanin suami ke Thailand. Hihihi.

Bagaimana dengan uang refund yang dijanjikan? Sudahkah cair? Tentu saja belum Saudara-saudara. Bolak-balik suami nanya, “Udah ada uang masuk, ke rekening kamu?” Saya cuma bisa jawab, “Yaelah gak usah diharapin deh…” bahkan saya menjawab demikian sebelum kedua Bos FT itu dijebloskan ke penjara. Apalagi sekarang Bos mereka sudah di penjara. Jelas keuangan pribadi dan perusahaan yang disatukan ditambah manajemen yang carut marut, hampir dipastikan kecil sekali kemungkinan dana kami akan kembali.

Terus, saya sedih gak? Ya sedih mah pasti. Tapi kok ya mau gimana lagi. Kekayaan mereka tidak sebanding dengan jemaah yang belum berangkat. Belum lagi stake holder yang mereka hutangi. Sebatas melapor ke Bareskrim akan kami tempuh.

Banyak teman-teman saya yang bilang, aduh manusia Indonesia nih. Pasrah dan menerima, bilangnya musibah dan takdir. Usaha dong. Yaelah mbak dibanding ngeributin dana kami yang hilang, waktu kami akan lebih berharga buat hal-hal yang jauh lebih berharga saat ini. Bukan berarti uang 28 juta sekian kami itu gak berharga, tapi ya itu, uang atau kekayaan milik Bos FT (kalau mereka jujur) sudah pasti tidak akan bisa membayar kembali uang jemaah yang belum diberangkatkan. Beda halnya kalau kami sebagai agen yang membawa jemaah banyak. Mungkin kami akan fight sekuat tenaga.

Apa kami menutut pemerintah buat ganti? Ih sumpah gak rela, meski kami jadi korban penipuan, tapi kalau pemerintah yang harus ganti. Kami gak mau. Yah uang pemerintah dari mana kalau bukan dari pajak rakyat? Kasihan banget rakyat Indonesia suruh mengganti kerugian gara-gara nafsu manusia serakah macam AA itu. Kalau gitu enak dong kalau kita nipu ajah, jalan-jalan ke luar negeri. Kemudian nanti diganti sama pemerintah. Bisa kualat sama satu rakyat Indonesia kalau begitu.

Penipuan yang gampang itu, di Indonesia memang ya main di seputar spiritual sih. Manusia Indonesia gampang banget mengeluarkan uang dengan dalih ibadah spiritual. Entahlah.

Pernah dengar nih, kok bisa murah yah, katanya lagi si Ibu Anisa itu sudah kaya,  punya usaha banyak, jadi ingin bantu orang Indonesia ibadah. Hadewh… mamam noh bantu. Berangkatin artis beserta keluarganya dengan fasilitas VIP, dan memprioritaskan pegawai-pegawai rombongan kantor pemerintah agar citranya bagus. Apalagi kalau lihat postingan IG-nya yang foto-foto di luar negeri. Ku tak sanggup gak menyinyir.

Hati-hati Mempromosikan Sesuatu yang Di Luar Kewajaran

Iyah, awalnya mungkin hanya ingin testimoni, tapi saya sama sekali gak menyalahkan teman saya, sampai Bos saya. Jujur awalnya kesel tapi ya saya kan juga sadar pergi ke Kantor FT sendiri, bayar, dan semuanya murni sadar dengan yang saya lakukan. Jadi ya gak bisa menyalahkan mereka. Bahkan ketika sudah bayar dan cerita ke Bapak Mertua pun dimarahin. Hehehe.

Sedih itu seperti Bu Lily Kasoem Optik yang anaknya bermaksud membahagiakan sang mertua, eh kemudian begini kejadiannya. Baik hati Bu Lily sedang mengusahakan agar besannya tetap bisa berangkat umroh dengan biro perjalanan lain, meski dia dan keluarganya gotong royong mencari dana. Lucunya lagi, besannya Bu Lily itu gak tauk apa-apa dong tentang hebohnya kasus FT ini. Padahal tinggal sebelahan. Kadang hidup butuh begitu. Tidak perlu tahu banyak. Salah satu efek kamu tahu banyak ini nih. Ikutan dan ditipu. Hahahhaha…

Jadi, kalau kemudian teman saya di Bus antar jemput kantor bertanya dengan lantangnya, “Eh, di sini gak ada yang korban First Travel, kan?”

Saya akan dengan lantang menjawab, “Ada. Saya. Iyah, saya korban First Travel.”

Kemudian akan diikuti lagi pertanyaan, “Kok bisa? Mbak?”

Kemudian cerita bergulir, hingga teman saya berkata, “Iyah sih kalo gue kayak lo juga gue tergiur. Untungnya di ruangan gue gak ada yang ikut First Travel.” Hahahhaha. Kami tertawa bersama. Dalam hati sih saya meringis menahan tangis. 😦

 

 

Advertisements

Hati-hati Kalau ke Toilet, Apalagi di Negara Orang :(

Sebenarnya dengan menuliskan hal ini, sedikit membuka aib diriku. Sumpah tulisan ini juga sangat tidak bermanfaat bagi pembacanya. Pokoknya gak dibutuhkan sama orang-orang, sehingga gak mungkin tulisan ini meningkatkan trafic blog saya. Hehehehe. Tapi ya sudahlah, semoga bisa jadi pelajaran buat teman-teman yang lain.

Entah apa yang terjadi pada metabolisme tubuh saya ketika di tempat yang sedikit ber-ac atau agak dingin sedikit. tiba-tiba saja selalu ada hasrat panggilan untuk ke belakang. Maksudnya ke belakang di sini tentu saja ke toilet. Bukan buang air kecil, tapi buang air besar. ups. Maaf kalau tulisan ini agak menyebalkan. Ya udah silahkan jangan lanjutkan bacanya.

Keinginan BAB di tempat umum ini sudah lama. Sepertinya sudah dua puluh tahun yang lalu. Dari Mall yang besar sampai cuma Indomaret atau Alfamart, saya sudah pernah loh. Bandara mah jangan ditanya. Pasar tradisional aja pernah. Parah kan? Pokoknya orang-orang terdekat sayamah sudah tauk banget kebiasaan saya yang nggak banget ini.

Sepertinya jejak banyak saya tinggalkan di mana-mana. Tapi ada yang paling banget gak bisa saya lupa. Itu sekitar beberapa tahun lalu, ketika jalan-jalan ke Bangkok. Lebih tepatnya ketika kami akan mengunjungi museum Madame Tussaud.

Museum Madame Tussaud memang terletak di Mall, namanya Mall Siam Paragon. Pagi-pagi kami sudah tiba di sana. Belum lama masuk mall, langsung deh perut berasa muter alias mules gitu. Saya pun segera mencari toilet.

Tauk dong mall di Bangkok, yang megah dan besar, toilet sudah pasti bersih dan modern. Pagi itu pengunjung mall pun masih bisa dihitung dengan jari. Masih sepi. Begitu masuk toilet pun yang ada hanya mbak-mbak petugas kebersihan toilet. Asyik bisa aman dan nyaman nih. Memang agak kurang nyaman kan kalau lagi kebelet Pup toliet antri. Mending gak deh. Hehehehe.

Saya pilih toilet yang paling pojok dong. Alasannya biar apa? Toilet pojok kan letaknya di ujung. Pasti jarang dipakai sama pengunjung lain. pasti mereka langsung incar yang di depan. eh tapi, kalau sebagian besar orang berpikiran seperti saya. Toilet pojok paling sering dipakai dong ya.

Langsung deh saya duduk manis. Masalah terjadi ketika saya menekan tombol flush toilet duduknya. Jreng… jreng.. kok gak bisa. Cuma bluk-bluk. What… ya Allah gimana dong. Coba lagi, coba lagi sampai berkali-kali belum berhasil. Ih, si Zaki sudah bolak-balik nelpon aja. Bodo amat cuekin ajah. Ini masalah genting.

Kondisi toilet yang sepi, kan malu banget. Belum lagi di sini saya turis. Dari Indonesia pula. Aduh bisa di cap jelek dong turis Indonesia. Padahal kan emang mesin flush toiletnya yang rusak. Gila yah ini mall besar kok bisa toiletnya rusak. Masih ada untungnya nih, ada showernya. Datanglah akal saya menggunakan kekuatan shower untuk menyiram “sampah” toilet. Lama sih emang, tapi… yeay it works. Alhamdulillah berhasil.

Sumpah saya kesel banget, pagi-pagi dapat zonk masalah di toilet begini. Ya ampun kenapa juga pas di Bangkok begini. Keluar toilet saya pun coba protes ke mbak-mbak penjaga kebersihan pake Bahasa Inggris. Baik-baik tentunya. Dia cuma ngangguk-ngangguk aja. tauk deh ngerti apa nggak.

Moment ini memberi pelajaran buat saya, sebelum pakai toilet cek terlebih dahulu apakah mesin flush nya berfungsi dengan baik atau tidak. Entah itu di Indonesia atau di manapun alam memanggilmu. Camkan itu Rini. Camkan.

Meski agak bete kemudian saya bisa bertemu dengan idola sejak zaman SMP. Selalu ada alhmadulillah… :)))

Rini dan Beckham
Finally Meet Him in Personal even just of his statue :)))))

 

 

Kembali Ke Sekolah :)

Hari ini Senin  pertama di Bulan September. Senin itu, buat saya dan kebanyakan orang adalah hari yang horor. Berbeda dengan saya yang  dulu dan sekarang. Now, I Love Monday very much. Why??? Because this day is my free day… Buat saya, Senin kali ini adalah hadiah buat lelah saya di akhir minggu. Hihihihi. Kok bisa libur? Gak kerja? Yup. Saya lagi off dari kantor selama dua tahun kedepan dalam rangka tugas belajar. Tugas belajar? Apakah itu? Heumh… baiklah saya jelaskan sedikit yah.

Jadi tugas belajar itu buat saya adalah suatu reward buat seorang Pegawai Negeri Sipil macam saya ini. Mungkin hal ini juga lah yang membuat saya tertarik buat menjadi PNS selain zona nyamannya. Omong-omong zona nyaman, kamu akan merasa mencari zona nyaman kamu ketika kamu berada di zona yang bisa dikatakan tidak nyaman menurutmu. Tetapi, ketika kamu sudah bisa mencapai zona nyamanmu, salah satu pembisik dihatimu akan berteriak lagi dan lagi. “Yah ampun, ngapain lagi ini??? Bosannnn…'” begitu kira-kira. Kemudian kamu akan mencari hal-hal baru lagi dan akan berteriak lagi. Menadakan kita belum mati. Ya, kita masih hidup.

Cerita bagaimana saya menjadi PNS dan berada dalam kondisi yang tidak nyaman sudah pernah saya tulis dan akan saya posting juga nanti. Yup. Setelah melalui perjuangan dan lika-liku hidup akhirnya tibalah saya di kantor yang menjadi impian banyak pencari kerja di negara ini. Tepatnya di Jl. HR. Rasuna Said Kav 4-9 Blok X5. Kantor sebuah kementerian.

Buat saya dan teman-teman saya, bisa masuk kantor ini adalah impian. Gimana nggak, pokoknya semua serba pas. Latar pendidikan saya yang memang kesehatan, berharap jam kerja yang normal (bandingkan dengan teman-teman yang bekerja di pelayanan kesehatan atau industri yang harus di shift), serta kepastian (gak ada lagi yang namanya PHK) :). Wah pokoknya benar-benar nyaman deh.

Meski yah, setelah masuk dan menjadi PNS di eranya Pak Jokowi, eh saya masuk masih era Pak SBY deng. Itu yah gak ada lagi yang namanya PNS santai kayak di pantai. Waktu saya baru masuk di tahun 2009 sih yah, saya masih melihat generasi santai yang begitu. Melihat dengan mata kepala sendiri betapa kayanya negeri ini dari APBN kantor. Hahahahaha. Gak munafik saya melihat hal-hal yang tidak patut alias korupsi juga di kantor.

Tapi yah…itu zaman dahulu kala. Perlahan-lahan negara ini mulai membangun sistem. KPK dibentuk, BPK mulai kerja beneran, pokoknya semua sudah mulai berjalan sebagaimana mestinya karena semua mata masyarakat dan netizen 🙂 tentunya benar-benar mengawasi kami para pengurus negara yang dibayar pakai uang rakyat ini.

Meski saya sadar belum sepenuhnya saya berkontribusi banyak buat negara ini, saya cuma mau mulai dari diri saya, dari hal yang terkecil, dan dari sekarang. Percaya yang namanya hidup setelah mati itu ada. Berbuat hal baik atau jahat sekecil apapun Tuhan akan lihat. Jadi kalau mau memulai hal-hal yang baik dan birokrasi bersih ya mulai dari sekarang, meski penghalangnya tidak sedikit yes. Hahaha. Kembali ke topik tubel yah.

Tugas belajar boleh diberikan kepada PNS yang kalau gak salah sudah dua tahun terhitung sejak menjadi PNS. Mulai dari jenjang S1, S2, sampai S3 kalau memang instansi atau tempat di mana kamu mengabdi membutuhkan.

Oh iyah, ada yang namanya tubel alias tugas belajar dan ibel alias izin belajar. Bedanya tubel dan ibel adalah, kalau tubel kamu sepenuhnya dibiayai oleh negara masih mendapat gaji dan tukin meski tidak boleh ikutan dinas-dinas keluar kantor dengan demikian kamu boleh gak ngantor :). Kalau Ibel alias izin belajar itu cuma dapat izin ajah biasanya harus di luar jam kerja, masih harus masuk kerja dan masih boleh boleh dinas kemana-mana. Jadi ibel itu kayak kuliah sambil kerja dan tubel tugasnya belajar, jadi gak wajib ke kantor. Begitu.

Prosesnya Gimana Kalau Mau Tubel?

Berhubung pengalaman saya ambil tubel dibiayai oleh instansi Kementerian tempat saya bekerja dan bukan badan-badan yang mengadakan beasiswa seperti LPDP atau Bank Dunia misalanya, jadi saya hanya akan share pengalaman saya saja yah… buat yang itu coba di googling pasti banyak deh. Kemudian lagi, tubel saya ini hanya terbatas buat PNS di Kementerian Kesehatan buat Kementerian-kementerian lain ya silahkan di cari mungkin stepnya mirip-mirip. Mungkin lohhh…

Jadi yah beberapa tahun terakhir ini, terus terang saya mulai suntuk banget di kantor. Bosan dengan rutinitas di kantor yang memang agak menggila semenjak Pak Jokowi. Wkwkwk. Lah lagi-lagi salah Pak Jokowi? Nggak… saya mah nge-fans banget sama beliau. Berasa suasana kantor berubah jadi lebih kondusif banget. Suasana kerja, kerja, dan kerjanya itu benar-benar luar biasa.

Suntuknya saya itu yah, kok cuma segini yah yang bisa saya perbuat. Kok bosan yah. Lah terus lo udah dibayarin pakai uang negara, cuma karena anaknya bosanan? Nggak gitu cuy… Adalah dalam diri saya egois untuk mencoba yang namanya keluar di zona nyaman tadi dan pengen banget merasakan yang namanya reward tugas belajar. Toh jurusan yang dituju harus seizin atasan dan sesuai dengan bidang pekerjaan kita. Jadi di sini saya akan mencari ilmu yang kiranya berguna buat pekerjaan saya di kantor. Wong ada syarat setelah menyelesaikan tubel, saya harus mengabdi selama 2N+1 artinya dua tahun masa belajar ditambah satu tahun. Kalau tiba-tiba saya resign gimana? Ya saya harus mengganti biaya tugas belajar saya ke negara tercinta ini.

Terpecut oleh beberapa teman sengkatan yang sudah pada lulus S2 dan teman sebelah kubikel pergi ke Jepang, akhirnya saya bareng teman memutuskan untuk ikutan peruntungan tubel ini. Kenapa peruntungan, ya karena banyak faktor yang harus kami lalui, antara lain :

  1. Harus ada izin pasangan atau orang tua

Yup tentu pasangan jika kamu menikah harus dong tahu kamu mau sekolah lagi dan tidak masuk kantor. Buat yang kepala keluarga misalnya, dipastikan pasangan menerima kalau ketika tubel nanti, pemasukan rekening hanya gaji pokok, dan 50% tunjangan kinerja. Gak ada yang namanya dinas luar kota apalagi  luar negeri misalnya. Tentu akan sedikit berpengaruh ke perekonomian keluarga yah. Hehehehe

2. Harus dengan seizin atasan

Ini point paling penting sih. Dengan atasan kamu mengizinkan kamu ikut tubel, ya mereka harus rela kamu gak ngantor selama beberapa tahun kedepan. Jadi, ya mereka siap kehilangan “partner” atau stafnya dalam bekerja. Ini gak mudah loh. Ada atasan yang egois gak kasih izin karena melihat beban pekerjaan kantor yang banyak misalnya. Buat atasan yang baik mereka sih berpikiran terbuka dong, pingin anak buahnya maju dan berkembang. Itu maksudnya.

Izin atasan gak cuma izin boleh atau nggaknya sih, izin atasan juga masalah jurusan yang kamu ambil harus sesuai dengan kebutuhan organisasi. Misal kamu S1 nya dokter, kerja di Kementerian Kesehatan Direktorat Kesehatan Masyarakat, lalu ujug-ujug kamu pingin ambil S2 Seni Kontemporer misalnya :)) ya kayaknya atasanmu gak akan mengizinkan sih.

3. Mau di dalam atau luar negeri

Nah ini pun penting. Buat yang mau ke luar negeri sih, persiapan kayaknya paling tidak setahun atau bahkan lebih  harus mulai cari-cari beasiswa atau info kampusnya. Kalau mau di dalam negeri macam saya nih persiapan cukuplah enam bulan sampai setahun dari tahun rencana kita buat cari-cari info. Masalah tempat tinggal juga loh. Dipikirin buat yang di luar kota misalnya.

4. Pantengin web penyelenggara tugas belajar

Dalam hal ini kalau saya penyelenggaranya itu Badan Peningkatan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kesehatan. Pada umumnya akan dilakukan seleksi tubel dari instansi dulu sebelum seleksi di perguruan tinggi nya. Tapi gak ada salahnya kamu juga buka-buka web universitas yang kamu tuju itu.

Sebelumnya mereka juga akan mengirimkan surat edaran tugas belajar di Bulan November 2016 nah baca baik-baik dan pahami segala persyaratannya ada di situ. Mulai dari seleksi administratif tahap satu dan dua, hingga seleksi akademik. Berikut contoh surat edaran tahun lalu yah. Lengkap di sini. Baca perlahan-lahan dan resapi. Surat Edaran Tugas Belajar Tahun 2017. 

Perhatikan baik-baik batas pengajuan ini itunya. Misal batas akhir up-load dokumen ke web nya kapan. Pastikan semua berkas yang dibutuhkan sudah dipenuhi. Misal surat keterangan sehat dan bebas narkoba  dari rumah sakit pemerintah, surat izin dengan materai, sampai jurusan yang kamu ambil sudah benar-benar sesuai dan mendapat izin atasan. Web nya tubel Kemenkes itu ini : http://tubel.bppsdmk.kemkes.go.id

Pengalaman saya kemarin agak-agak gimana yah berkaitan dengan izin atasan. Untuk sekolah S2 ini, saya mau mengambil agak melenceng sedikit dari ilmu S1 saya. Masih kesehatan, tetapi saya mau ambil yang sifatnya kekinian alias promotif dan preventif. Berbeda dengan ilmu farmasi yang memang sekarang sudah fokus ke pelayanan tetapi masih lebih besar porsi kuratif nya terutama obat. Saya mantab mengambil peminatan Promosi Kesehatan.

Eh, ndilalah, ada di bagian lain yang peminat tubelnya lumayan banyak yaitu empat orang sehingga pimpinan tertinggi di unit saya harus ikut memantau dan memutuskan apa saja jurusan yang diambil. Ternyata saudara-saudara, saya tidak diizinkan mengambil peminatan promosi kesehatan dan dianjurkan atau “dipaksa” mengambil peminatan Kebijakan dan Hukum Kesehatan, mengingat kebutuhan organisasi di unit kerja saya. Ampun  DJ… yah itu Bu Dirjen pelakunya. Sempat bete dan kesel. Tapi ya sudahlah. Mungkin memang sudah jalannya. Kalau saya gak nurut itu Bu Dirjen gak mau tanda tangan izinnya. Ya Allah gini amat yaks. Akhirnya saya menerima keputusannya dan mengambil peminatan Kebijakan dan Hukum Kesehatan. Fuihhh

Setelah dipikir-pikir lagi kenapa nggak yah, justru itu semakin luas dan bisa membuat kebijakan-kebijakan yang sifatnya promotif dan prefentif dan akhirya saya menerima dengan lapang dada dan dewasa. Hahahahaha.

5. Pantengin web universitas tujuan kamu

Kalau sudah upload seleksi administratif instansi, hal yang kamu perhatikan berikutnya adalah persiapan buat masuk ke universitas inceran kamu. Perhatikan kapan tanggal buka pendaftaran, lihatin persyaratannya apa saja. Butuh nilai TOEFL atau nggak, butuh proposal thesis atau nggak, dll. Isinya pelan-pelan yah, pastikan semua benar. Kemudian lihat kapan akan dilakukannya tes tertulis. Soal-soal apa yang kira-kira akan diuji. Kalau UI kemarin alhamdulillah gak perlu TOEFL. Soal yang diujikan ada TPA (Tes Potensi Akademik) dan Bahasa Inggris. Kampus incaran saya Universitas Indonesia, Fakultas Kesehatan Masyarakat Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat dengan peminatan Kebijakan dan Hukum Kesehatan.

Persiapan saya kemarin sih beli buku-buku tes TPA di Gramedia ajah sama belajar Bahasa Inggrisnya pakai buku Persiapan TOEFL. Terus terang susah jendral. TPA nya itu ada Matematika Dasar yang sudah sekian lama saya gak tegur-tegur dan logikanya yang benar-benar gak nyampe banget. Hihihi. Kalau Bahasa Inggrisnya soal cerita dan topiknya macam-macam. Bagusnya sih sering baca-baca artikel Bahasa Inggris biar kosakata agak banyakan. Hehehehe.

Selesai ujian terus terang saya pesimis dan berharap di gelombang kedua. Oh iyah biasanya ada dua gelombang gitu. Nah kalau gak lulus gelombang pertama, bisa ikut lagi di gelombang kedua. Yes bayar lagi dari awal tentunya yah.

Setelah dinyatakan lulus, perhatikan lagi apa yang harus dilakukan. Meskipun tubel saya dibiayain negara, ternyata belum ada pengumuman lolos tidaknya seleksi administratif di Kementerian. So mau gak mau daripada nama saya terdepak dari sistem Universitas Indonesia, saya rela tabungan saya buat nalangin uang kuliah saya terlebih dahulu. Katanya diganti kok. Jadi ada baiknya, kamu siapin dana kuliah sebesar uang gedung dan satu semester. Buat yang mau pakai surat tunda bayar bisa, tapi harus ke BPPSDM buat minta usratnya kemudian menyerahkan ke bagian akademik kampus.

Setelah melalui itu semua, di sinilah saya. Setelah daftar ulang, siap-siap buat mengisi IRS atau mata kuliah yang harus berebut dosen yang enak katanya. Soalnya kan kita belom nyoba. Alhamdulillah ada yang namanya Pengenalan Sistem Administrasi Fakultas buat yang belom kuliah di UI, ini sangat membantu, yah istilahnya kenalan deh sama Fakultas dan Kampus juga teman-teman satu kelas yang beragam asalnya. Sok akrab juga sama kaka-kakak kelas. Ini sangat membantu buat membagi pengalaman.

Minggu ini kuliah sudah dimulai, bismillah saya bisa selesai tepat waktu dan menjalaninya dengan kuat. Bukannya apa, di UI sejak tahun ini, ada prasyarat yang mengharuskan input tulisan ke Jurnal Internasional juga gencarnya mereka membasmi plagiarisme. Mohon doanya teman-teman. Semoga bisa melalui dua tahun ini. Masa kuliah ini, saya kan off kerja semoga bisa lebih rajin nge-blognya. Meski akan banyak tugas kuliah, tapi berharap bisa rutin nge-blog.  Itung-itung latihan menulis yah, meski gak ilmiah. Setidaknya tangan dan pikiran terbiasa menuangkan ke dalam kata-kata dan membentuk sebuah kalimat panjang. Hahahhaha. Amiiinnn…

Suasana Pengenalan Sistem Akademik Fakultas selama dua hari
Mencoba kompak dala rangka adu “yel-yel” antar peminatan
Alhamdulillah kekompakan terbayar dengan dinobatkan sebagai “yel-yel” terbaik di PSAF Pasca FKM

Akhirnya Nyobain Jadi Volunteer di #Onedayfundoingfun Batch 6; Garut

Volunteer… apa sih itu volunteer ya itu sukarelawan. Sukarelawan yang bekerja secara cuma-cuma tanpa bayaran dalam sebuah kegiatan sosial. Kegiatan sosial yang bertujuan membantu mereka yang perlu dibantu. memberi sedikit kebahagiaan dan tauk gak itu sama dengan memberi kebahagiaan bagi diri sendiri. Ya, itu salah satu lasan saya pingin banget jadi sukarelawan dan ikut menjadi bagian dalam sebuah kegiatan sosial.

Menjadi sukarelawan juga bisa membuat kita lebih mensyukuri hidup. Sering banget saya merasa hidup saya yang paling menyedihkan dan gak bahagia. Coba lihat itu teman-teman di sosial media mengunggah foto-foto yang bikin iri. Kemudian gak jarang saya merutuk dalam diri saya. Betapa lebih beruntungnya mereka. Mulai menyalahkan Allah yang terlihat tidak adil. Dimulailah kebaperan-kebaperan berikutnya.

Pada tahun 2015, Allah mempertemukan saya dengan anak muda yang super kreatif dan smart di mata saya. Berawal dari keikutsertaan kami di acara travel n blog dan kemudian kami memisahkan diri untuk mencari tempat sholat. Dari situ saya kenal dengan yang namanya Nia, kepanjangannya Isnia Nuruldita.

Perkenalan itu berlanjut saling mem-follow di media sosial. Dari situ saya tahu, Nia punya hajat yang bagus setiap tahunnya. Waktu saya tahu itu sudah gelaran kelima. One day fun doing fun namanya. Akhirnya saya beranikan diri buat japri nia dan tanya-tanya tentang acara itu. Baca di blognya juga dong. Kok seru yah. Tahun 2016, saya putuskan ikut berdonasi. Alakadarnya gak banyak, yang penting bisa sedikit membantu.

Waktu itu Nia bilang, kenapa gak coba ikutan aja. “Seru lo.” katanya lagi. Iyah kelihatan kok Nia, seru. Tapi karena satu dan lain hal, saya memang belum bisa ikutan.

Nah tahun 2017 Januari kemarin ini, saya bertekad saya mau ikutan. Mau nyobain jadi sukarelawan. Mau bermain sama adik-adik. Iya namanya aja One day Fun Doing Fun. Melakukan suatu hari yang menyenangkan.

Oke, karena acaranya di Garut, ternyata teman-teman sukarelawan yang lain menginap. Kata Nia sih, ini baru pertama kali pakai acara menginap, buat mengakrabkan diri katanya. Berhubung ada acara keluarga. Saya dan suami yang pingin ikutan naik bus bersama rombongan akhirnya jalan sendiri dan tiba di Garut lewat tengah malam. Oh iya, naik bus menempuh perjalanan panjang itu juga sangat berkesan buat kakak-kakak relawan. Ceritanya ada di sini.

Lokasinya di Villa Cipedes Garut. Tidak jauh dari lokasi wisata Candi Cisangkuang di Kecamatan Leles Kabupaten Garut. Kebaikan panita lagi, kami dapat villa dan bisa dapat satu kamar sendiri. Padahal gak papah lo dipisah kalau sekamar bareng-bareng sama sukarelawan lainnya.tapi anyway makasih yah. Hehehehe.

Keesokan paginya, meski hawa sejuk pegunungan begitu berat untuk menyadarkan diri, tapi kami tetap semangat bangun pagi. Ceritanya sih, jalan pagi, olahraga pagi. Tapi tetap tentu saja yang paling utama foto-foto. Maklum orang kota, gak pernah lihat sawah, berlatar pemandangan gunung pula. Hehehehe.

Sunrise di Leles
Jalan-jalan pagi memang gak pernah salah

 

 

Kakak-kakak ODFDF 6
Tiap sudut jangan lupa foto
Jalan-jalan Pagi ke Sawah
Jalan-jalan Pagi ke Sawah

Jalan-jalan pagi juga mengakrabkan saya dengan sukarelawan lain. Yah sok akrab ajah lah ya… memperkenalkan diri. Ngobrol sedikit-sedikit tentang asal dan kegiatan sehari-hari. Aduh, sepertinya mereka masih muda banget. Saya kayaknya agak paling senior yah. Hebat yah. Saya dulu seumur mereka ngapain aja yah. Hahahahha. Untungnya sih, wajah saya yang imut ini gak bikin gap usia kita terlihat jelas. Ya kan ya kan… hahahha. Maaf saya narsis.

Salah satu kakak relawan, Kak Tanti
Kak Tanti kenalan baru

Jalan pagi selesai, kami pun sarapan. Sederhana, nasi goreng, telur ceplok, dan kerupuk. Selesai sarapan kami membersihkan diri dan siap menyambut adik-adik yang hari ini akan bermain bersama kami.

Adik-adik yang jumlahnya hampir 40 orang itu, awalnya malu-malu. Kelihaian Kak Stevi si pemandu acara lah yang akhirnya sedikit demi sedikit bisa mencairkan suasana kaku di antara kami. Kakak-kakak sukarelawan yang berjumlah hampir 30 orang itu juga yang bikin seru.

Acara Perkenalan Kakak-kakak dan Adik
Sesi Perkenalan
Adiknya masih malu-malu
Adiknya dari usia 2 tahun sampai 10 tahun

Adik-adik datang dari panti asuhan dan beberapa anak yatim atau piatu lainnya tidak jauh dari vila. Kak Stevi membagi beberapa anak untuk menjadi tanggung jawab kakak-kakanya. Satu orang kakak sukarelawan, memegang satu sampai dua orang adik. Mereka bertanggung jawab sama si adik selama acara. Jadi kalau adiknya mau ke belakang, atau lapar ya kakaknya lah yang urusin.

Setelah acara perkenalan, dengan sedikit melemaskan otot bergoyang penguin, acara dimulai di pendopo untuk mendengarkan dongeng dari Kak Dita dan Yoyo boneka ajaibnya. Hehehehe. Antusias loh, adik-adik dengerinnya. Apalagi di penghujung dongeng nanti, ada hadiah yang dibagikan buat mereka yang bisa menjawab pertanyaan tentang dongeng yang disampaikan. Pintar-pintar semua, hadiah pun habis. Adik-adik berebutan ingin menjawab.

Kak Dita dan Yoyo in Action #ODFDF6
Aksi Kak Dita dan Yoyo mendongeng. Gak Cuma adik-adik yang nyimak, kakak-kakak juga serius. 🙂

Selesai dongeng, acara puncak dimulai. Acaranya apalagi kalo bukan bermain. Kakak-kakak dan adik dibagi menjadi beberapa kelompok. Diminta membuat nama kelompok juga yel-yel. Semua heboh (paling heboh ya tentu kakak-kakanya sih) Hehehe. Adik-adik yang sepertinya belum terlalu lancar berbahasa Indonesia cuma terpukau melihat kehebohan kakak-kakaknya. Iyah mereka masih terbiasa dengan bahasa ibu mereka Bahasa Sunda. Tapi apalah bahasa, tanpa bahasa yang sama pun kami tetap bisa bergembira bersama.

Beragam permainan dari yang membutuhkan keahlian fisik sampai basah-basahan semua benar-benar menikmati. Meski ada sedikit kecelakaan sedikit seperti jatuh, semua tetap gembira. Adik-adik yang awalnya malu-malu dan pendiam pun mulai bisa tertawa lepas dan aktif bermain.

Selesai permainan, kami berkumpul lagi di saung. Kali ini kami diminta membuat penampilan tiap kelompok. Panitia agak nyusahin yah. Tapi seru jadinya, ide-ide spontan mengalir begitu saja dan jadinya lucu.

Sambil duduk-duduk kita pun sedikit ngobrol-ngorol sama adik-adik. Adik asuh saya, namanya Azam, usianya 3 tahun. Kalem banget. Pipinya ngegemesin tembem. Gak banyak bicara. Pemalu sekali. Awalnya Azam gak mau lepas dari sang kakak. Tapi kemudian mau juga sih. Azam punya kakak dua orang dan adik yang masih bayi satu orang. Ibu Azam sudah meninggal dunia, karena sakit. Kakak Azam juga cerita, kalau mereka kakak beradik jadi harus terpisah-pisah. Ada yang tinggal sama nenek atau bibi. Ayah mereka juga bekerja di Garut agak jauh dari rumah.

Ini Azam dan Kakaknya
Ini Azam dan Kakaknya

Ada juga salah satu adik dengan keterbatasan fisik. Tangannya hanya satu. Tetapi selama permainan yang menggunakan fisik, tidak pernah ada rasa minder atau rendah diri. Dia tetap menikmati. Ada juga aduh saya lupa namanya, dan kemudian dikenal dengan teriakan khasnya “Kerang sakilo..” salah satu slogan buat yel-yel kemarin. Dia sudah harus memakai kacamata yang cukup tebal. Tetapi saya perhatikan dia suka membaca. Waktu itu, ada koran sebagai alat permainan, dan kemudian dia baca meski korannya sudah lecek dan kumal. Padahal sulit sekali untuknya, membaca harus dari jarak yang sangat dekat. Ketika saya tanya, “Kamu suka baca dek?” Dia mengangguk. Tunggu ya, kemudian saya ingat, di mobil saya membawa beberapa buku cerita anak yang kemudian saya berikan ke dia. “Terima kasih ya Kak,” sambil tersenyum. Senyum yang tulus.

Gendong-gendongan
Adik “Kerang Sakilo” digendong Kak Masha

IMG_8463

Di penghujung acara, ada testimoni dari kakak dan adik. Ada pemilihan kakak favorit, ada juga penulisan surat cinta dari kakak ke adik. Penulisan surat cinta ini berisi kata-kata motivasi ke adik buat belajar dan menjadi lebih baik. Agak sedih juga pas nulis surat cinta. Segenap doa yang baik-baik kami tulis untuk mereka. Kami bukan siapa-siapa yang bisa begitu saja merubah garis hidup mereka. Tetapi semoga lewat doa-doa baik yang kami tuliskan di sana bisa menjadi motivasi buat mereka menjadi lebih baik.

Rangkaian acara selesai, adik-adik bisa pulang dengan bahagia,membawa bingkisan yang kami siapkan. Paket sembako, cemilan, dan alat tulis. Aduh bawaannya banyak. Adik-adik yang kecil sampai kesusahan bawanya.

Semoga hal kecil yang kami lakukan bisa menjadi salah satu hari yang menyenangkan buat mereka. Memperkaya kenangan mereka, kalau masa kecil mereka sangat menyenangkan.

Formasi lengkap #ODFDF6
Formasi Lengkap #ODFDF6
Kakak-kakak #ODFDF6
Kakak-kakak #ODFDF6 Garut
kakak-kakak #odfdf6
Selalu heboh kalau lihat kamera
Kelompok POwer Rangers
Lihat siapa itu paling heboh yang paling depan ;)))

Buat Nia, makasih banyak memperkenalkan dan membawa saya dan Zaki dalam kegiatan ini. It was so fun. Awalnya saya takut Zaki gak melebur, eh ternyata malah hebohan dia. Hehehehe. Mau ikutan lagi? Yuks ikutan lagi, kali ini akan digelar di Majalengka Bandung 14 Mei nanti. Buat lengkapnya bisa lihat di instagram @onedayfundoingfun atau follow ig dan twitternya  nia di @alaniadita

 

Gak Ada yang Enak-enak itu Cuma-cuma Begitu Saja

Belum lama ini, saya dan suami berkesempatan menginap dengan harga yang bisa dibilang cukup murah untuk hotel di kawasan Nusa Dua Bali. Bersamaan dengan kunjungan Raja Salman di Bali kemarin. Awalnya sih, seharusnya Raja Salman sudah pulang duluan. Tapi kok ndilalah beliau memanjangkan liburannya di Bali. So, jadilah kita sempat tetanggan.

Dalam rangka apa saya ke Bali kemarin? Menginap di Kawasan Nusa Dua pula. Apakah kemarin kecipratan duit dari Raja Salman yang lagi ke Indonesia? Hahahhahaha… Tentu tidak dong.

Berawal ketika sebuah nomor telepon yang tidak ada di phone book hape terlihat. Kemudian gue angkat, dan ternyata dari sebuah marketing grup hotel kenamaan kita sebut saja Alor. Mereka menawarkan paket menginap 3 hari 2 malam di sebuah hotel kawasan Nusa Dua Bali dengan kamar yang luas, fasilitas lengkap, dan private beach tentu saja. Ada syaratnya gak? tentu saja. Syaratnya, pada hari kedua, kami harus mendengarkan sebuah presentasi dari marketing grup hotel tersebut selama kurang lebih dua jam. Dalam pikiran saya waktu itu, yah paling jualan dan  ditawarin paket liburan lagi. Biasalah.

Oh iyah, untuk meyakinkan kalo saya gak ditipu, saya juga nanya dong, tauk nomor saya dari mana. Kok bisa beruntung. Ini bukan penipuan kan? Mereka menjelaskan kalau mereka dapat nomor saya, dari data tamu yang pernah menginap di salah satu hotel yang masuk grup mereka. Setelah mereka menyebutkan nama hotelnya, saya pun ingat. Oke mereka tidak menipu.

Sebelum menetapkan tanggal berapa itu paket menginap ditentukan, jangan heran kalau hampir setiap hari itu marketing akan meneror seolah kamu punya hutang 1 M lebih dan udah nunggak berbulan-bulan. Gimana gak kesel, saya ditelepon ditanyain kapan pastinya setiap hari. Kalau pagi gak gue angkat ntar jam makan siang. Kalau pas siang gak saya angkat, pas jam pulang kerja ketika saya sedang terlelap di bus jemputan. Kan kesel banget lagi tidur enak-enak ada telepon yang aduh penting gak penting dan saya belum punya jawaban.

Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya kami putuskan untuk mengambil paket liburan tersebut di bulan Maret pas weekend dan kebetulan suami ulang tahun juga. Biar agak spesial gitu deh. Oh iyah paket menginap 3 hari 2 malam itu hanya senilai 990 ribu rupiah saja. Sudah termasuk makan pagi, dan fasilitas penjemputan.

Kami berdua yang orang kantoran dan males ngambil cuti (sayang banget siapa tauk ada rencana jalan yang lebih lama), memutuskan berangkat dari Jakarta pesawat malam dan tiba di hotel sudah cukup larut, walhasil kami tidak dijemput. Oke gak papah, kami pilih naik taksi onlen, dan alhamdulillah letak bandara ke hotel tidak terlalu jauh. Ongkos taksi hanya 40 rb saja.

Kami pun tiba di hotel dan saat mendaftar ke resepsionis, saya sedikit mengintip banyak juga peserta paket liburan murah seperti kami. Kami pun diantar ke kamar dimaksud. Hotelnya bergaya resort, terdiri atas beberapa gedung. Tenang sekali suasana hotel malam itu. Staf hotel yang membantu kami membawa barang pun memepersilahkan kami masuk, dan wow… ukuran kamarnya besar sekali. Kamar tipe apartemen dengan satu kamar.

Ruang tamu yang disatukan dengan ruang keluarga, ruang makan, dapur yang lengkap dengan alat masak dan kulkas dua pintu. Kamar mandi dan area laundry lengkap dengan mesin cuci. Kamarnya tidak begitu besar. Hanya tempat tidur single bed, lemari, dan meja rias.

Interior kamar yang sangat Bali ini agak-agak gimana gitu kalau cuma berdua. Dekat pintu masuk, kami disambut patung tanpa kepala, belum lagi di kamar tidur yang tidak ada tv dan ada lukisan gadis kecil seolah menatap kami. Penerangan agak remang-remang pula. Ah tenang lah, berani-berani. Gue emang rada-rada penakut gitu orangnya. Di belakang juga ada balkon yang cukup luas untuk bersantai. Memang sih kamar kami bukan kamar yang menghadap kolam renang, tapi dengan harga yang sudah kami bayar, gak boleh proteslah. Ini sudah jauh melebihi ekspektasi kami.

Oh iyah, sebelumnya saya juga sudah survey harga kamar ini permalamnya bisa lebih dari satu juta lo… jadi ya lupakan saja hal-hal yang spooky.  Pikirkanlah betapa beruntungnya saya bisa menginap di sini.

Esok paginya, saya ngotot pingin lihat pantai. Suami seperti biasa males banget, dan ritual tidur pagi buat dia sangat disayangkan kalau lewat. Meski akhirnya mau juga sih. Hotel ini sebenarnya punya private beach sendiri tapi karena letak hotelnya bersebrangan dengan pantai, jadi dibutuhkan jalan kaki kurang lebih 10-15 menit untuk menuju pantainya. Ah pagi-pagi kok, pasti asyik-asyik aja dong jalan kaki juga.

Saya yang memang norak karena gak pernah lihat pantai di Bali yang masih sepi, girang banget lihat pantai yang seolah milik sendiri. Sepi gak ada pengunjungnya. Hanya satu dua orang pekerja yang membersihkan pantai. Ada juga tetua adat setempat yang sedang memberi persembahan setiap mengawali hari. Eh iyah ternyata kami sebelahan lo sama hotel tempat Raja Salman menginap. Ada pembatas yang terbuat dari bambu yang baru dibangun untuk keamanan. Beberapa anggota marinir pun terlihat lalu lalang untuk menjaga penguasa Arab Saudi itu.

IMG_0213
Pemberian Sesajen untuk Memulai Hari
Private Beach Nusa Dua
Private Beach Hotel Nusa Dua Bali
Private Beach Nusa Dua
Enak banget buat leyeh-leyeh
Pose Ala-ala
Pose ALa-ala Couple (Horizon Miring?) Bodo Amat, Namanya Difotoin 🙂
Hotel Raja Salman Menginap
Hotel Raja Salman Menginap

Matahari yang semakin tinggi, kami pun bergegas balik ke hotel. Dalam perjanjian, kami harus hadir tepat jam 9 dan tidak boleh telat. Bawa tanda pengenal dan kartu kredit. Wah banyak juga nih pasangan yang ada di ruagan pertemuan. Setiap pasangan akan dijelaskan oleh satu orang marketing. Marketing kami wanita berjilbab, cantik. Dia menjelaskan panjang kali lebar tentang grup Alor dimana, pada intinya mengajak kami untuk menjadi member. Bukan sembarang member tapi. Member eksklusif. Katanya, bisa gratis menginap di hotel-hotel berbintang di seluruh dunia. Siapa yang gak tergiur coba?

Kami ditawari menjadi anggota member tersebut, seolah-olah seperti membeli sebuah properti, dimana kami harus membayar sejumlah uang. Dari uang tersebut, kami akan mendapatkan sejumlah point yang akan bisa digunakan untuk membayar penginapan di hotel-hotel yang masuk grup (sebut saja) Grup Alor di seluruh dunia. Intinya sih, DP sebelum liburan. Hotelnya bagus-bagus tentu saja dari bintang 2 sampai bintang 6. Keanggotaan berlangsung selama seumur hidup, tiap tahun point akan diberikan sekian poin, dan poin akan kadaluwarsa setiap dua tahun. Keanggotaan bisa diwariskan. Kalau kami gak pake boleh juga dihadiahkan atau dibisniskan. Aduh ribet amat yah. Saya buka travel agent aja dong mendingan. Wkwkwkwkwk.

Dengan segala rupa yang ditawarkan dan hotel-hotel yang bagus-bagus diseluruuh dunia itu, saya udah gak sabar banget pengen ngomong gini : “Ok mbak, jadinya kami harus bayar berapa nih kalau mau jadi member eksklusif itu.” umpat saya dalam hati.

Mbak-mbak marketing itu juga bilang keanggotaan mereka itu terbatas di seluruh dunia. Mereka hanya menargetkan kalo gak salah 2000 member saja. Makanya katanya lagi, kami termasuk orang yang sangat beruntung. Ya saya senyum-senyum aja dong sambil angguk-angguk tanda saya mengantuk. Hehehehehe.

Setelah lebih dari dua jam, kemudian datanglah si manajer yang katanya akan menentukan harga paketnya ke kami. Si mbak manajer menyapa kami sangat ramah. Pertama-tama dia seperti membaca sisi keuangan kami dahulu. Seperti nanya suami kerja di mana, saya kerja di mana, sering jalan-jalan dalam rangka apa. Bla-bla bla bla panjang lebar dan saya makin ngantuk. Dengan mengatakan harga yang ditawarkan ke seluruh peserta sama, dia kemudian menyebutkan angka sekian juta yang kira-kira bisa buat beli rumah di Citayam. Yah sekitar sembilan digit lah pokoknya. Membuat saya yang tadinya ngantuk mendadak seger dan kaget.

Berhubung member yang eksklusif, keputusan harus diambil saat itu juga. DP bisa gesek kartu kredit, sisanya dicicil selama 1 tahun yang cicilan DPnya lebih dari 2 digit dan kemudian gimana bayar kartu kredit yang buat DP itu? Wkwkwkwkkwkwkwk. Bayar kartu kredit dicicil? Bisa sih, tapi terus saya gak makan. Gak punya ongkos buat ke  kantor. Kami pun dengan halus langsung bilang, “Tidak, maaf.” dengan alasan akan menggangu stabilitas finasial lah, pake bohong lagi nyicil mobil lah. Rencana kami pergi haji dan lain-lain demi menghindari bujuk rayu mbak marketing ini.

Alhamdulillah, setelah tiga jam kami dicekoki, selesai juga acara prospek ini. Yang kami rasakan cuma lapar banget. Ish, gak dikasih makan siang sih. Hahahahhaha. Saya rasa kalo gue oke-in dikasih kali yah. Hahahahahahaha.

Keluar dari ruangan itu kami gak henti-hentinya ketawa. Saling menertawakan kok bisa ya, kami ditawarin kek gitu. Dari sisi mana coba kami akan tertarik. Mungkin yang cocok mah mereka yang uangnya udah gak berseri. Tinggal metik, tinggal nikmati hidup. Gak punya hutang cicilan, gak mikirin harus kerja. Pokoknya sudah mapan secara finansial.

Dari situ, si mbak marketing baik loh, memberi referensi makanan enak. Nasi ayam Ibu Oki. Tinggal jalan gak terlalu jauh sih, tapi cuaca Bali siang itu sangat tidak bersahabat buat pejalan kaki alias puanase poll. Berhubung laparnya sudah banget-banget ya tetap aja sih kita jalan kaki menerjang panas. Sambil lagi-lagi menertawakan, kalau saja saya atau suami kemasukan apa gitu yang mengiyakan tawaran marketing dan menggesek kartu yang hampir menghabiskan limit. Waw, sungguh tidak terbayang.

Eh, sebulan berikutnya, saya kembali menerima telepon. Lagi-lagi dari marketing hotel di Bali kemarin. Saya langsung ngomong gini dong, “Mbak, gak ada selain Bali ya, kalau Bali lagi saya gak mau deh Mba.” hehehe. Mbak marketingnya cuma bilang, “Wah gak bisa Ibu, karena kantor pusat kami di sana. Ibu datang saja dulu kesana. Nanti bisa bantu merencanakan liburan Ibu berikutnya.” Tanpa babibu gue langsung memotong, “Oke mbak, makasih, gak dulu yah.”

 

 

 

 

Balada Chat Group di Hape

Setiap membaca sebuah tulisan dimanapun itu, seringkali saya terinpirasi mengiyakan atau membantah, tetapi dasar otak saya gak mau berhenti untuk memikirkan tulisan-tulisan yang kebetulan nempel itu.

Ya, saya harus menyuarakan apa yang ada di kepala saya ini, kalau gak mau otak saya memanas dan kemungkinan akan meledakkan isi kepala saya. Kalian boleh bilang saya lebay. Memang saya lebay. Hehehe.

Postingan Bahagia

Kali ini saya ingin menanggapi tulisan seorang selebtwit yang pernah mentuit seperti ini : “Gue pernah keluar dari sebuah grup wa yang isinya hanya pamer kebahagiaan.”

Kemudian gue berpikir, bagaimana dengan wa grup yang ada di hape gue yah? Apa iyah juga banyak yang begitu? Lalu saya merenung. Sebenernya bukan grup wa doang sih, sebagian besar sosial media yang kita miliki kebanyakan isinya pamer kebahagiaan.

Tetapi, memangnya kita punya hak untuk men-cap mereka pamer kebahagiaan? Siapa tahu tujuan mereka ingin membagikan bahagia ke teman-teman yang ada di grup itu. Iyakan? Lalu kita harus apa? Ya sikapilah dengan senyum. Lalu ikutlah seolah-olah bahagia. (((Seolah-olah bahagia))) Jangan-jangan. Itu sama saja kamu pura-pura bahagia. Lebih baik tanggapi singkat sudah, gitu aja. Terlalu berpura-pura juga gak bagus buat psikologis. Hahahhaha.

Pamer bahagia memang gak boleh yah? Boleh aja sih, gak papah. Doakan saja setiap pamer bahagia, nular ke yang dipamerin. Buat yang selalu dipamerin, silahkan berdoa dalam hati semoga kebahagiaan mereka menular ke teman-teman satu grup. Sesekali sirik dan merutuk bolehlah. Hahahahahaha.

 

Pertemanan dalam Sebuah Grup Chat Hp

Ngomong-ngomong soal bagaimana kagetnya gue ketika melihat postingan di sosmed teman dekat dan tentu saja satu grup chat di hp, yang isinya bikin gue teriak (meski dalam hati) “WOWWWW…” Gimana nggak. Disitu gue mearasa gue bukan seorang teman yang baik. Gue ternyata sebegitu tidak mengenalnya teman yang gue anggap ketika itu “dekat” sama gue.

Dekat dalam arti itu gue betah berlama-lama ngobrol sama dia. Betah berlama-lama sharing pikiran, ide, atau pendapat tentang apapun dengan dia. Tetapi, ketika gue melihat sosmednya, dan kemudian gue kaget, apakah gue kemudian akan menjauhi dia atau menjaga jarak? Ya tentu tidak dong. Dia tetap akan menjadi teman baik gue. Loh, memang dalam sebuah pertemanan apa harus selalu apa-apa seiya dan seirama? Boro-boro pertemanan yang banyak beda asal-usul. Nah sedarah aja banyak bedanya kan kadang.  Jadi ya gue harus berbesar hati menerima dia seperti itu. Toh gue juga bukan manusia yang sempurna.

Di zaman yang makin gila karena sosmed, entah itu berita benar atau nggak. Mari kita sikapi semua dengan bijak. Di sebuah chat group di hp misalnya. Bikin grup awalnya karena satu pemikiran tentang hobi dan punya visi misi sama. Kemudian diisi dengan postingan-postingan kekinian (baca:pilkada, pilpres or politik-politik apalah) yang sering muncul di sosmed. Seringnya yang ada kalimat “Jangan berhenti di kamu.” atau “Sebarkan” bawa-bawa agama pula.  Aduh, apakah itu yang nge-share sudah yakin 100% itu benar, lalu apa yang ada di kepala satu grup itu sama terus? Apa kita tidak boleh berbeda pendapat. Kalau berbeda apa kita harus left chat terus gak temenan?

Selama ini sih gue memilih diam dan berusaha gak nanggepin, alias nyuekin ajah. Kecuali emang yang udah berlebihan, gue baru keluar dari grup. Lagipula gue orangnya malas diskusi yang berdebat-debat kemudian bikin grup jadi krik-krik.

Begitupun di sosmed, gue gak cuma follow mereka yang satu pemikiran loh. Gue follow semua aliran, semua pilihan. Tujuannya apa? Biar hati gue terbiasa melihat bahwa di dunia ini banyak perbedaan. Tidak selalu sama. Lalu bagaimana hati gue menyikapi perbedaan itu. Ya tersenyum saja. Memang Tuhan menciptakan kita demikian, tidak semua sama persis, plek-plek. Lah suami isteri ajah sering beda pendapat kok. Itu sah-sah banget.

Dan kemudian ketika gue menanggapi sebuah postingan seorang selebtwit yang isinya begini : “Siapa aja yang bisa follow nereka yg tidak sejalan sepemikiran demi melihat dari sudut pandang lain? Tanpa bermaksud menghardik? Bisa? @pinotski

Kemudian gue quote : bisa dong, semua difollow biar bisa lihat dari segala sudut pandang, dan kalau gak sepaham, senyumin ajah.

Yeah thats me. Kemudian dibalas lagi sama dia : Kalau ada satu kubu yang agresip ngamuk ngamuk ya senyumin aja. Mungkin lagi nyambut gawe.

Wkwkwkwkwkwk. Gue percaya teman gue murni gak nyambut gawe dari yang begituan.

Jadi buat kamu-kamu yang suka memancing di air keruh, silahkan. Semoga gue makin gak kepancing. Dicuekin aja, toh kalian teman gue. Teman baik, dan gue gak mau kehilangan teman cuma gara-gara kita beda pilihan dalam memandang suatu hal. But, yang harus kalian pikirkan adalah, gak semuanya pendapat dan pemikiran kita sama. Alangkah baiknya berpikir sebelum jari jemari berbicara.

Tulisan ini gue dedikasikan buat mereka yang suka broadcast masalah kekinian di grup pertemanan dan mengira teman-teman di satu grup itu sepaham dengan kalian. But its okey, Keep it rock guys 🙂

 

Jatiasih, 4 Februari 2017

 

Sebuah Cerita tentang Ibu-ibu Hebat di Kota Tua dan Megahnya Mesjid Agung Jawa Tengah (Masih di Semarang)

Sebenarnya tulisan ini sudah nangkring di draft blog saya sejak dua bukan yang lalu, ketika saya melakukan perjalanan Yogya-Semarang-Cirebon. Punya waktu di Semarang hanya satu hari dan Kota Tua Semarang adalah pilihan kami berikutnya setelah Lawang Sewu. Sengaja ingin posting tulisan ini dalam rangka hari Ibu.

Mengunjungi kota tua karena ya itu lagi, lihat postingan di IG. Saya IG mania? Ya boleh dibilang begitu. Meski follower saya gak banyak, tapi saya banyak dapat ilmu di IG. Hehehe, mari kembali ke laptop. Kami tiba di kota tua tepat pukul dua belas siang. Matahari emang lagi lucu-lucunya. Ternyata suhu siang itu mencapai tiga puluh enam derajat celcius.

Mobil kami parkir tepat di depan Taman Sri Gunting. Keluar mobil, ampun panasnya. Kami langsung mengambil duduk di taman yang merupakan tempat paling nyaman siang itu. Gimana nggak. Pohon rindang, semilir angin dan pemandangan kota tua seperti Gereja Blenduk, Kafe Spiegel, dan deretan penjaja barang-barang unik di Pasar Seni benar-benar bikin adem.

Ikon Kota Tua Semarang

Kota Tua Semarang
Lalu Lintas di Kota Tua
Gedung Bersejarah Spiegel
Gedung Spiegel
kota Tua
Taman Kota Sri Gunting

Awalnya saya bermaksud ngubek-ngubek Kota Tua, mencari objek foto-foto yang keren, eh tapi baru jalan sedikit ke arah kafe Spiegel, aduh panasnya gak tahan. Akhirnya ya duduk ajah di depan Taman Sri Gunting, sambil menikmati semangka dari penjaja buah dan gorengan dengan gerobak dorong. Murah meriah, semua yang dijual di dalam gerobaknya harganya seribu rupiah. Wah panas-panas terik begini paling cocok memang ngemil semangka. Siang itu saya membeli semangka dan papaya. Lima ribu saja semua. Padahal awalnya saya berharap Zaki mengajak masuk ke Kafe Spiegel yang ber-AC dan menikmati segelas cappuccino dingin. Tapi harapan tinggal harapan. Hahahhaha. Makan buah lebih sehat kan? Halah. Ngeles.

Taman Kota Sri Gunting

Taman Kota Bagai Oase di Tengah Kota Semarang yang Panas Terik

Ketika saya ingin mengambil foto taman dari sudut Pasar Seni, ada si dua Ibu-ibu yang sedang duduk terlihat canggung melihat kamera saya mengarah ke mereka. Lalu saya tersenyum ke mereka. “Eh gak papah Bu. Duduk saja,” Saya menenangkan. Kemudian saya menghampiri mereka. Ikut duduk-duduk menikmati Semarang yang sukses membuat peluh saya terus mengalir. Iseng-iseng saya ngobrol deh sama dua Ibu-ibu itu.

Sebut saja Bu Parni dan Bu Marni. Melihat dari kostum mereka saya menduga mereka petugas parkir di situ. Menggunakan rompi kuning dengan peluit tergantung di leher. Benar saja ketika ada bus pariwisata lewat, Bu Parni sigap berdiri dan memberi aba-aba untuk bus bisa parkir. Tapi Bu Parni kurang beruntung. Bus itu hanya lewat saja. Tidak berhenti di kota tua. Bu Parni kembali duduk dengan wajah yang tetap tersenyum. Mungkin dia menertawakan dirinya yang terlalu semangat, eh ternyata bus-nya tidak parkir.

Iseng-iseng saya mengajak kedua Ibu itu berbincang-bincang. Sudah bertahun-tahun mereka menjadi juru parkir di kota tua. Bekerja dari jam delapan pagi sampai jam dua belas malam. Rumah mereka tidak dekat, di pinggiran Semarang. Bu Parni yang berbadan agak besar mengaku mengayuh sepeda ontel dari rumahnya dengan perjalan 45 menit. Ia bekerja menjadi tukang parkir demi sang cucu yang berusia enam tahun. Anak Bu Parni sendiri sekarang sedang menjadi TKW di Hongkong. Meski sesekali kiriman uang datang, ia tidak betah hanya berdiam diri di rumah dan tidak menghasilkan apa-apa.

Lain lagi dengan Bu Parni. Bu Marni nenek lima orang cucu. Beliau bergantian menjaga parkir dengan sang suami. Mereka sebulan dibayar hanya tiga ratus ribu rupiah dari Pak Bos. Entah siapa Pak Bos yang dimaksud. Boro-boro mereka mengharapkan upah minimum regional. Mereka hanya berharap tips dari para pemilik kendaraan di situ. Paling senang kalau bus-bus besar atau bus pariwisata yang parkir. Biasanya tips yang diberikan lumayan besar.

Panas terik kota tidak mematikan semangat mereka. Kerja lebih dari lima belas jam sehari, beratap langit yang kadang hujan kadang terik, dengan bayaran tiga ratus ribu setiap bulan. Pendapatan mereka harus dibagi untuk menghidupi keluarga dan juga makan sehari-hari ketika bekerja. Mereka tidak kenal lelah demi cucu-cucu di rumah. Tidak malu atau gengsi meski mereka wanita. Mereka wanita-wanita perkasa. Pahlawan dalam keluarga.  Membayangkan bagaimana mereka setiap hari menjalani hidup, kok rasanya luar biasa yah. Dari jam sembilan pagi hingga jam sebelas malam. Badan rasanya kayak gimana ya? Ya, memang sejatinya setiap wanita memang diciptakan demikian. Pejuang dalam kehidupan.

Tiba-tiba saya ingat, masih punya sedikit yang bisa diberikan buat mereka. “Sebentar ya Bu, saya ada sedikit oleh-oleh buat Ibu-ibu. Dikit tapi ya Bu.” Kata saya. Kemudian bergegas ke arah mobil yang diparkir. Setelah saya memberikan sedikit oleh-oleh, si Ibu seketika tersenyum dan mengucapkan terima kasih yang panjang sekali. Berulang kali juga saya mengaminkan. “Terima kasih juga doanya Ibu-ibu. Semoga saya balik lagi ke Semarang, nanti kita ketemu lagi ya Bu. Semoga sehat terus ya Ibu-ibu. Salam buat cucu-cucu.” Kata saya menutup perjumpaan kami siang itu. Kemudian saya minta izin untuk kami foto bareng, dan kali ini Ibu-ibu tidak takut lagi dengan kamera. Sebulan kemudian saya balik ke Semarang, tapi malah gak sempat menemui mereka. Payah ya saya. 😦

Ibu-ibu Perkasa Penjaga Parkir kota Tua
Ibu-ibu Perkasa Penjaga Parkir Kota Tua

Dari Kota Tua, perjalanan kami lanjutkan untuk sholat Zuhur di Mesjid Agung Jawa Tengah. Namanya Mesjid Agung pasti besar dan bagus. Jadi destinasi yang sayang kalau dilewatkan.

Berbekal google maps kami menuju Mesjid Agung Jawa Tengah yang cukup besar dan luas. Sampai kami salah parkir. Bukan di tempat sholat tapi parkiran resepsi pernikahan. So, bisa sih, mampir numpang makan, tapi sayang gak kenal sama yang punya hajat dan kostum kurang representatif juga sih. Hihihihi.

Mesjidnya besar, ventilasinya bagus. Tetapi karena tidak jauh dengan pantai, so udara yang bergerak alias angin tetep ajah semilir hot gimana gituh. Bangunan dengan banyak ventilasi juga ternyata membuat burung-burung suka masuk ke Mesjid. Hati-hati yah pas sholat ada kotoran burung. Aduuh, gimana yah kalau gitu??

Penampakan Kemegahan Mesjid Agung Jateng

Penampakan Dalam Mesjid Agusng Jawa Tengah

Alquran Raksasa di Mesjid Agung Jawa Tengah
Alquran Raksasa

Puas berkeliling di dalam mesjid. Saya keluar dan bermaksud mencari lokasi yang pas untuk mengambil foto masjid secara utuh. Tapi susah, maklum bukan profesional. Pake drone kali yah baru sempurna. Eh tapi tunggu dulu. Di depan Masjid ternyata ada sebuah menara. Menara yang sepertinya belum jadi seratus persen. Di dalam menara yang sangat tinggi itu terdapat Museum Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Tengah di lantai dua dan tiga. Sejarah Islam di Jawa adalah proses perubahan atau proses alkulturalisasi atau perpaduan budaya dari masa Hindu ke Islam. Tidak heran banyak masjid-masjid lama di Jawa dengan arsitektur mirip dengan bangunan Pura. Untuk masuk ke menara AL Husna pengunjung dikenakan  tiket masuk tujuh ribu rupiah.

Selain Museum, kita juga bisa naik dengan lift hingga ke lantai 19 yaitu puncak menara. Dari puncak menara, kita bisa melihat pemandangan sekitar masjid dan pesisir Semarang. Bahkan hingga lautan lepas dengan teleskop. Kira-kira seperti di puncak Monumen Nasional. Angin bertiup sedikit lebih kencang di puncak menara.

Waktu itu si Zaki memilih makan di warung dekat parkiran mobil. Sedangkan saya ke atas menara. Hehehe. Prioritas kami beda. Dia mah urusan perut nomor satu. Kalau sudah begitu, ya udah ada waktu sebentar buat saya jadi solo traveler. Hore. Hihihihi.

Mesjid Agung Jawa Tengah
Dilihat dari depan Menara AlHusna

Kalau diperhatikan desain masjid ini seperti berkiblat ke Mesjid Nabawi di Madinah Arab Saudi. Keempat pilar payung yang bisa membuka dan menutup secara otomatis sesuai kebutuhan. Al-Husna Tower, apakah meniru Zamzam Tower di Mekkah Arab Saudi sana? Hehehe. Terinspirasi mungkin kali yah.

Menara Al Husna
Al Husna Tower

 

Mesjid Agung Jawa Tengah

Tidak lama saya di Al Husna Tower, saya menghampiri Zaki yang lagi-lagi asyik menikmati kupat tahu Semarang. Ya ampun padahal dari Lawang Sewu kami sudah membeli kupat tahu yang  kami makan di mobil ketika menuju Mesjid Agung. Satu bungkus berdua dan itu enak banget. Ada ceritanya juga, nanti deh ya diceritain. Soalnya si Bapak mau aja ngeladenin kami yang bawel tanya-tanya. Hehehehe. Bahkan saya iseng merekam perbincangan kami. Seperti bikin vlog ala-ala gitu.

Sebelum meninggalkan parkiran, saya membeli jus tomat. Sialnya, gelas jusnya bau kecoa. Belum habis jus, langsung saya buang. Bau kecoaknya itu loh, bikin pusing. Perjalanan kemudia kami lanjutkan. Tujuan kami berikutnya adalah Cirebon, kota perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Senja sore mengiringi kami menuju Cirebon. Perjalanan kali ini punya cerita tersendiri. Selain mengagumi destinasi bangunan-bangunan peningggalan Belanda, mengagumi kemegahan Mesjid Agung, belajar sejarah Islam di Jawa, dan bisa bertemu dengan Ibu-ibu hebat di Taman Sri Gunting. Bersyukur bisa belajar dari kisah hidup mereka. Perjalanan memang tempat pembelajaran yang tidak ada habis-habisnya. Jadi teruslah melakukan perjalanan dan teruslah jadi manusia pembelajar. Oh iya, selamat hari Ibu untuk semua Ibu-ibu hebat di dunia. Setiap Ibu diciptakan untuk menjadi pahlawan dalam kehidupan.

 

 

Nostalgia Masakan Simbah, Mencicipi Sayur Mangut (kuliner khas Semarang)

Pagi itu kami tiba di Klenteng Sam Poo Kong jam 8:30. Bukannya bergegas masuk, tujuan kami adalah mencari warung makan. Iyah, berhubung hotel budget dan promo pula, kami tidak dapat sarapan. Kami mengganjal perut dengan salak dan jeruk hasil bawaan dari Hotel Jambuluwuk di Yogya kemarin. Hihihi. Gak masalah.

Di depan gerbang sebelah kanan Klenteng Sam Poo Kong banyak penjaja minuman dingin. Di belakangnya ternyata ada beberapa warung makan. Kami memilih warung yang waktu itu ada pengunjungnya. Saya melihat ada nasi pecel. Lumayanlah biar sehat meski lagi liburan. Setelah kami duduk, si Ibu warung menawarkan kami untuk mencoba sayur mangut khas Semarang yang baru saja matang. Warung makan yang sederhana berikut dapurnya dimana saya bisa melihat si Ibu sedang mengaduk-ngaduk sayur yang baru mendidih itu.

Warung Makan Bu Kelik
Warung Makan Bu Kelik
Ibu Kelik sedang Masak
Bu Kelik menghidangkan sayur yang baru saja matang

“Sayur mangut apa itu Bu?” tanya saya. “Ini mbak, sayur kuah santan, ada ikan manyung. Enak mbak, suegerrr, pedes.” Jawab si Ibu. Nah saya makin bingung. Apapula itu ikan manyung. Saya kembali bertanya, dan si Ibu menjelaskan, kalau Ikan Manyung itu ikan pari yang diasapi, lalu di sayur. Namanya sayur mangut. Apaaa??? Ikan pari? Pari yang lebar itu? Pari manta yang di laut lepas? Bayangan ikan pari menari-nari di otak saya. Saya menjawab dengan ragu. “Euhm… saya makan nasi pecel aja bu, tapi boleh gak diguyur kuah sayurnya dan ikannya sedikit saja. Pengen coba Bu.”

Sayur Mangut Ikan Pari
Sayur Mangut Ikan Pari

Yess. Akhirnya saya mencoba sayur mangut. Benar saja, sayur mangut berpadu dengan nasi pecel, hasilnya pedesnya dobel. Ditambah cuaca Semarang yang lumayan panas, membuat keringat saya bercucuran.

Sayur Mangut Kombinasi Pecel
Sayur mangut kombinasi pecel

Menikmati sayur mangut, mengingatkan saya akan masakan simbah di kampung. Masakan khas Jawa. Kalau simbah saya, masak ala sayur mangut dengan isi belut yang digoreng terlebih dahulu. Kuah santan yang tidak begitu kental, rasa gurih santan berpadu rempah dan potongan cabai rawit merah yang bikin melek karena pdesnya. Belum lagi aroma ikan yang diasapi. Itu khas makanan Jawa banget. Apalagi kalau dimasak menggunakan kayu bakar. Seperti masakan simbah saya dulu.

Saya jadi teringat simbah saya  yang sudah lama meninggal. Meski begitu, rasa masakannya masih melekat di indra pengecap saya. Luar biasa yah masakan simbah. Aduh saya jadi kangen mbah putri. Pagi itu saya makan dengan bahagia campur terharu.

Di warung makan sederhana itu, Bu Kelik tidak sendiri ada yang mebantu mencuci piring. Namanya Bu Mia (kalau gak salah, padahal sudah kenalan, tapi gak dicatet dan seperti ini selalu terulang. Maaf ya), beliau menawarkan kami mau minum apa. Cekatan Bu Mia menyiapkan pesanan minuman kami.

Zaki memilih hanya makan nasi pecel ditemani empat buah tahu bakso. Memang Zaki kurang suka masakan olehan ikan begitu. Hanya ikan tongkol balado warung Padang yang dia suka. Entahlah. Bumbu pecel nya enak, pedas manis.

Pecel dan Tahu Bakso
Ini menunya Zaki yang udah berantakan lupa di foto (pecel dan tahu bakso)

Selesai sarapan yang buat saya lumayan berat itu, saya masih penasaran melihat akan masak apalagi si Ibu. Si Ibu mau masak daun papaya ternyata. Si Ibu menjelaskan kalau siang nanti menu warungnya akan lebih bervariasi. Ada kerang, kikil, oseng daun papaya, dan masih banyak lagi. Total harga makanan yang harus kami bayar hanya dua puluh satu ribu rupiah. Nasi pecel enam ribu seporsi. Sayur mangut dengan ikan hanya tiga ribu. Tahu bakso sepotong seribu. Ya ampun, murah banget yah. Betah banget nih di Semarang kalau begini terus.

Sayur Mangut Warung Bu Kelik
Sajian Warung Ibu Kelik
Bu Kelik bergaya
Ibu Kelik gak mau kalah ikut bergaya

Sebelum meninggalkan warung saya minta izin untuk mengambil foto Bu Kelik dan Ibu yang bantu-bantu cuci piring dan melayani pembeli. Eh, mereka senang banget. Aduh saya jadi merasa punya hutang untuk memberi hasil jepretan saya ini ke beliau. Semoga saya diizinkan lagi ke Semarang ya bu, dan bisa mampir ke warung Ibu lagi.

 

Buku Kuning oh Buku Kuning… (Worktrip Arab Saudi part 1)

Setelah libur Lebaran kemarin, tiba-tiba seperti dapat durian runtuh (eh nggak juga sih, orang saya gak suka durian) pokoknya seperti ketiban rejeki gitu deh. Saya dapat tawaran untuk ikut Tim Penerimaan Obat Haji di Arab Saudi. Awalnya masih gak percaya dan apakah itu nyata. Tetapi bos saya cuma bilang, “Kamu berdoa saja, kalau memang rejeki, dan jalan kamu kesana ya kamu siapin aja yah.” Waduh agak kaget juga dong. Belom minta izin suami. Belom bikin paspor dinas yang memang saya belom punya (gak pernah dinas ke luar negeri soalnya, hehehe maklum masih apalah saya ini).

Akhirnya suami mengizinkan, dan saya mulai mengumpulkan persyaratan buat berangkat ke Arab. Pokoknya setiap tahapannya yang memang agak ribet itu dinikmati deh. Hehehe. Persyaratan administrasi pembuatan paspor dan visa alhamdulillah lancar-lancar saja. Lancar di sini maksudnya dari segi foto yang harus muka 80%, ciput gak kelihatan, seluruh bagian wajah harus jelas terlihat, wah pokoknya ada teman saya yang sampai ganti foto 2 atau 3 kali, tapi alhamdulillah saya tidak. jadi alhamdulillah deh.

Sebelum berangkat ke Arab Saudi, buat kami yang dinas ataupun ibadah, syaratnya sama. Harus suntik vaksin meningitis. Tujuannya ya untuk membentuk imun tubuh terhadap penyakit meningitis alias radang otak. Arab Saudi sebagai tempat ibadah umat muslim dari segala penjuru dunia, memang pernah menjadi daerah peneyebaran penyakit yang kebanyakan dibawa oleh pendatang dari negara-negara Afrika. Jadi untuk menghindari penyakit yang masih cukup agak mengkhawatirkan itu, ya semua yang kesana wajib di vaksin.

Berhubung perjalanan saya adalah perjalanan dinas yang dibiayai oleh negara, mudah saja saya mendapat vaksin meningitis ditambah vaksin influenza. Tinggal bawa surat tugas, kemudian bisa mengajukan permintaan vaksin tersebut ke bagian yang memang bertanggungjawab terhadap kesehatan haji di gedung sebelah. Vaksinnya ditangan, suntik aja langsung ke dokter klinik yang juga ada di kantor. Alhamdulillah sampai sini lancar.

Tahapan berikutnya, pencatatan saya sudah menerima vaksin, seharusnya dicatat di buku kecil warna kuning, yang namanya ICV (International Certificate for Vaccination or Prophylaxis) yang biasanya dikeluarkan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan atau Bandara. Berhubung saya belum punya, dokter hanya menuliskan di secarik kertas dan menempelkan label dari botol vaksin sebagai bukti, kalau saya sudah disuntik. N”Nanti buku kuningnya kamu minta di Bandara ya.” begitu pesan-pesan dari Bu Dokter yang juga mau berangkat ke ARab sebagai Petugas.

Pokoknya untuk ke Arab harus pake buku kuning, sebagai bentuk kepatuhan terhadap negara. Bisa-bisa saya gak boleh ke Arab kalau gak ada buku  kuning itu. Baiklah mari kita mencari buku kuning.

img_3730
Penampakan ICV alias Buku Kuning

Info dari teman, katanya saya cukup ke KKP Halim Perdanakusuma saja, yang jaraknya memang dekat dengan kantor. Baiklah, setelah menyesuaikan waktu yang pas, dan gak pake tanya-tanya mbah google, (soalnya yang kasih tahu udah sering ke Arab) pergilah saya ke Bandara Halim Perdanakusuma dan menanyakan letak KKP-nya. Eh si petugas menjawab : “Untuk hewan, tumbuhan, atau manusia mbak?” Saya bingung, oh KKP memang menangani hewan dan tumbuhan juga kan yang mungkin masuk atau perlu karantina. “Manusia Bu, vaksin, mau minta buku kuning.” jawab saya yang masih bingung.

“Oh, kalau untuk vaksin manusia gak di sini mbak. Sudah pindah di Jalan Jengki. Mbaknya keluar bandara ajah, terus naik angkot jurusan Cililitan bayar aja 3000. Bilang turun Jl. jengki. dari situ tinggal jalan kaki sudah dekat kok.” si Ibu menjelaskan.

Jadi keluar lagi lah saya dari bandara. Keluar bandara jalan pula. Itu gak seperti keluar rumah yah, tapi bener-bener keluar area bandara, yang jaraknya lumayan sekitar 1 km dan sukses bikin lumanyun. Gimana nggak. Siang-siang panas jalan kaki. Hiks. Sabar Rini sabar…

Tiba juga saya di KKP Halim yang dimaksud. Gedung baru ternyata dan mereka memang belum setahun menempati bangunan baru tersebut. Alhamdulillah sepi. Mungkin memang sudah mau masuk musim haji dan sudah tidak banyak yang umroh.

Masuklah saya, bertemu dengan mas-mas bagian pendaftaran. Polos banget saya bilang, saya mau mendapatkan buku kuning tapi saya sudah disuntik di kantor. Alhamdulillah waktu itu pas lagi pake seragam dan memang seragam kita sama. Bos kita masih sama soalnya. Tapi namanya aturan ya tetep harus ditaati dong. Si Mas-mas pendaftaran bilang. “Persayaratannya foto 4×6 1 lembar dan fotokopi paspor ya mbak.”

Glek saya menelan ludah. “Loh Mas, kata teman saya, saya cukup datang kesini minta buku kuning. Dia gak nyebutin harus bawa ini itu.” saya mulai panik. “Loh gak bisa mbak, persyaratannya begitu. Ya udah besok lagi aja mbak kesini.” si Mas-mas menjawab dengan santainya.

Apa-apaan, besok? Balik lagi? Gila apah, udah makan waktu dua jam dan saya harus pulang lagi terus besok kesini lagi? Aduh meski saya bukan pejabat, tapi bos-bos itu kan masih perlu saya di kantor. Belum lagi waktu keberangkatan yang semakin dekat, saya harus membereskan hutang-hutang pekerjaan saya kan.

“Coba mbak, cari di dompet, ada gak fotonya? Siapa tahu nyelip.” si Mas-mas pendaftaran menyemangati saya. “Duh Mas, saya kesini cuma bawa hape sama ongkos ajah, Dompet saja saya gak bawa Mas. Fotokopi paspor, paspor apa nih Mas? Paspor dinas saya yang memang buat berangkat masih belom jadi kan.” jawab saya.

“Ya kalau gak ada paspor dinas paspor hijau dulu juga gak apa-apa Mbak.” jawab Mas-nya lagi. Kalau masalah foto, saya bisalah lari ke studio foto terdekat terus balik lagi. Nah paspor. Fotokopinya gimana ini. Saya langsung menghubungi teman saya yang lagi urus paspor dinas saya. Jawabannya tidak membantu juga. Katanya, paspor dinas saya memang sudah jadi, tapi sudah keburu masuk ke Kedubes Arab Saudi untuk memproses visa. Nahloh. Tapi saya kemudian ingat sama paspor hijau saya, yang entah kenapa kemarin saya taruh di laci meja kantor, kalau-kalau butuh. Akhirnya saya menghubungi teman kantor dan minta difotoin ke hp saat itu juga. Oke, masalah foto paspor selesai.

Saya kemudian keluar mau foto dan cetak foto paspor. Eh tiba-tiba ditanya sama tukang parkir yang bisa disebut kayak premannya parkir di situ. Saya ditanya, apa mau ditolong. Biar dia yang pergi cetak foto dan saya cukup menunggu. Waduh apalagi nih. “Pak, Bapak gak nipu saya kan?” saya bertanya dengan nada yang memelas. Kemudian dia mengeluarkan handphone-nya, dan menunjukkan beberapa bukti bahwa memang dia ahlinya dalam urusan ini. “Mbak, saya tuh kenal sama semua dokter yang ada di sini. Apalagi si Mbak, seragamnya sama kayak mereka. Moso saya mau nipu-nipu.” jawab si Mas-mas. Ya saya oke saja deh akhirnya. Kalau dipikir ongkos ojek, dan mondar mandir ya worth it lah. Semoga memang jalannya.

Baiklah, kemudian saya di foto sama Mas-mas Parkiran tadi. Cekrek-cekrek. Pake diarahin kurang kanan-kiri layaknya foto di studio lagi. Padahal fotonya di tembok teras KKP. Hihihihihi. Seru deh. Akhirnya setelah menunggu sekitar 15-20 menit, Mas-mas parkiran datang dan membawa hasil foto saya dan cetakan paspor.

Senangnya saya, kembali ke meja pendaftaran dan menyerahkan persayaratan-persyaratan tersebut. Alhamdulillah. Diterima. Setelah itu saya disuruh masuk ke ruangan tempat pengambilan buku kuning. Gak lama, selesai deh. Bayar 25 ribu untuk bukunya, dan saya kasih 50 rb buat abang parkiran yang sudah membantu saya tadi.

Alhamdulillah banget deh. Selesai juga urusan saya di KKP. Balik ke kantor, saya memesan uber. Pas sudah duduk manis di dalam mobil, si sopir uber bertanya. “Mbak, sekarang tanggal 29 kan? Ganjil kan ya?” tanyanya. “Sekarang tanggal 3o Pak. genap.” jawab saya. “Ah moso si Mbak. Ini ganjil kok. Tanggal 29.” jawab si Bapak Sopir lagi ngeyel. Saya kemudian melirik jam tangan , kemudian hp buat memastikan kalau saya gak salah. “Tuh kan Pak, hari ini tanggal 30. Memangnya kenapa sih Pak?” tanya saya lagi.

“Nggak mbak, kan tujuannya ke Kuningan Rasuna Said yah? ini plat mobil saya ganjil Mbak. Tadi pas ambil orderan mbak-nya saya pikir sekarang tanggal 29. Berarti kita muter yah lewat Cassablanca biar gak kena operasi ganjil genap yang mulai diberlakukan itu lo Mbak.” jawab Bapak Sopir panjang lebar.

“Hah? Gitu ya Pak? Ya udah deh…” jawab saya sambil menghela nafas membayangkan kemacetan di depan Mall Kokas dan kemudian beristigfar. Hahahahahaha, pasrah lah jam berapa sampe kantor lagi ini mah. Pokoknya yang penting buku kuning ditangan lah. Wkwkwkkwkwkwk.

 

 

 

 

#BahagiaDiRumah versinya Rini

1.#BahagiaDiRumah itu ketika bangun di pagi hari dan meyadari kalau hari ini hari libur. Yeay… bukannya saya gak seneng ya kalau bekerja, tetapi, bangun di hari libur itu rasanya berbeda loh semangatnya. Entahlah, tapi memang begitulah kenyataannya. Mungkin kebosanan menjalankan rutinitas nine-to-five aja kali ya. Mungkin yang ibu rumah tangga atau yang bekerja di rumah ya kadang kan juga bosan dengan di rumah. Meski kami (saya dan suami) suka travelling, tapi kalau lagi gak jalan-jalan ya di rumah ajah itu surga bingits.

2. #BahagiaDiRumah akan berlanjut ketika kami, saya dan suami kemudian bersiap berolahraga pagi. Gak perlu jauh-jauh ke Gelora Bung Karno Senayan. Buat saya jauh, soalnya rumah saya di Jati Asih. Kami lebih suka main bulu tangkis di halaman rumah ataupun ber-zumba ria dengan instruktur dari chanel Youtube :).

img_1079
Sebelum olahraga, narsis dulu 🙂


3. #BahagiaDiRumah kemudian kami isi dengan mengerjakkan pekerjaan rumah, yang tentu saja tidak bisa kami kerjakan di hari kerja. Rumah kami tidak terlalu besar. Tetapi saya juga tidak sanggup kalau saya mengerjakan urusan rumah sendirian. Saya biasanya bertugas menyapu, memberihkan debu, dan segala rupa urusan di dapur termasuk memasak. Suami bagian mengepel lantai, mencuci pakaian, menyiram tanaman,  mencuci mobil dan membersihkan kamar mandi. Ihiy kerjasama yang ciamik bukan?

Halaman depan rumah yang dipegang seminggu sekali


4. #BahagiaDiRumah setelah rumah rapi akan semakin terasa. Rumah bersih, lantai enak dipijak, wangi, itu surga banget deh. Setelah itu kami akan bersantai dengan gegoleran di sofa ruang tamu sekaligus ruang makan, ruang keluarga, pokoknya semuanya kami lakukan di situ deh. Biasanya sih kalau lagi gak mood nge-blog atau baca buku, saya suka merapihkan koleksi  Tabloid Nova saya, seperti mengumpulkan file resep masakan yang kemudian saya kliping.
Cerita sedikit tentang Tabloid Nova ya, dalam rangka NOVAVERSARY.

Saya mengenal Nova sejak masih SD, dari Bude saya yang langganan. Mungkin hobi membaca saya yang membuat meski SD saya sudah suka membaca Nova. Paling suka dari dulu apalagi kalau bukan resep masakan, cerpen, dan dulu ada komiknya tuh. Ditambah informasi-informasi yang menambah wawasan saya. Sejak dulu juga saya sudah mengumpulkan koleksi resep masakan yang sekarang ada di rumah Ibu saya.

Koleksi Nova langganan di kantor

5. Tidur siang juga sebuah kemewahan untuk menambah #BahagiaDiRumah buat kami yang setiap harinya sibuk di kantor. Biasanya saya tidur siang setelah makan siang.  Bangun tidur siang biasanya kami makan lagi lalu nonton tv, sudah begitu saja sampai malam. Sekarang saya lagi suka fotografi, makanya kalau di rumah saya suka motret apa saja yang ada di rumah. Belajar sendiri ajah sambil lihat instagram mereka yang sudah mahir.

Belajar motret ala-ala selebgram


#BahagiaDiRumah semakin menjadi kalau suami memuji masakan yang saya masak hari itu. Pokoknya di rumah tempat kami me-recharge energi deh. Saat leyeh-leyeh di sofa kami menikmati yang namanya “the art of doing nothing”,  sambil ngobrolin hal-hal yang penting buat kami seperi ngomongin masa depan gitu deh (syahelah) sampai berita rencana pernikahan artis  #eh.

Living room yang merangkap ruangan macem-macem


Mungkin banyak yang melihat kami akan kekurangan bahagia karena belum ada momongan diantara kami. Tetapi anak itu pemberian Tuhan, dan bahagia itu adalah diciptakan. Bersyukur dengan yang apa yang ada disekitar kita. Menikmati apa yang kita miliki sekarang, lebih bahagia ketimbang meratapi apa yang belum kita miliki, tapi jangan lupa harus diimbangi usaha sungguh-sungguh dan berdoa. Semuanya sudah dilakukan, tinggal menunggu rencana terbaik Allah buat hambanya.

Menciptakan #BahagiaDiRumah adalah hal-hal sederhana yang menguatkan hubungan kami dan juga membuat kami lebih siap menghadapi hari (sok) sibuk satu minggu ke depan. Pokoknya gak usah ribet-ribet cari bahagia yang jauh-jauh. Bahagia selalu bisa diciptakan di manapun kita berada, apalagi di rumah yang memang seharusnya menjadi surga di dunia. Yuk ah ciptakan #BahagiaDiRumah.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Comperition “NOVAVERSARY”

 

200x200-novaversery