Featured

Kenapa Sih Mau Jadi ASN?

Lagi musim daftar jadi Aparatur Sipil Negara (ASN) nih belakangan ini. Beberapa tahun belakangan katanya, menjadi pegwai pemerintah atau ASN merupakan profesi yang diincar mereka yang baru lulus kuliah. Pada umumnya alasan yang paling standar itu apalagi kalau bukan karena kepastian. Eh, tapi ada lagi gak sih alasan kenapa pada umumnya pencari kerja pengen sekali menjadi ASN. Berikut kira-kira menurut pengamatan dan survey kecil-kecilan wawancara dari teman-teman saya, kenapa sih kamu mau jadi ASN?

Orang tua adalah ASN atau pensiunan ASN

Orang tua selalu ingin melihat anaknya bahagia dan bekerja dengan tenang sampai tua. Menurut mereka menjadi ASN merupakan salah satu jalan mencapai kedamaian dalam hidup seperti zaman mereka waktu itu.

Adanya jaminan hari tua (pensiun)

Siapa yang gak mau dikasih gaji meski sudah gak bekerja? Semua orang mau kan? Tapi zaman sekarang kalau mau pensiun gak perlu jadi ASN juga bisa. Banyak Bank yang punya program dana pensiun.

Susah banget dipecat

ASN itu susah banget mecatnya. Prosedurnya panjang. Eh tapi sekarang udah lebih disiplin semenjak diberlakukannya sistem tunjangan kinerja. Kalau ada apa juga sebentar-sebentar dapat teguran

Kerjaannya santai kayak di pantai

Hellow… zaman kapan itu ngomongnya. Mending kalau mau jadi ASN kalian riset dulu deh ke beberapa ASN yang baru 3-5 tahun. Coba tanya mereka gimana kerjannya. Hahahhaha… Zaman netizen selalu bereaksi gini, banyak tuntutan cuy… Gaka da itu kerja mulai jam 10 jam 3 siang. ASN zaman sekarang itu kayaknya hampir 24 jam standby. Kebanyakan apa-apa sifatnya segera. Dinamis banget pokoknya lah… kubur dalam-dalam impian kerja antai kayak di pantai. Apalagi kalau anda masih single dan kos. Udah deh diandalkan sekali anda.

Banyak maklumnya untuk Ibu-ibu

Aduh, nanti saya dimarahin sama para feminist ini… ngomong gini. Tapi memang itu kenyataanya. Banyak mereka yang memilih jadi ASN karena kemudahannya kalau minta izin dalam rangka urusan keluarga. Mu ambil rapot anak dulu, mau anter anak ke sekolah dulu, atau apalah. Eh tapi sekarang gak segampang itu. Kalau mau izin ya siap-siap potong tunkin.

Kerja di Industri seperti tidak memiliki dunia lain

Untuk mereka yangs ebelumnya sudah mencicipi industri swasta yang memang sibuk, speertinya mereka ngiri lihat para ASN. Meskipun ya jelas gaji akan terjun bebas. Tapi ntah pendapatan ya… semakin sibuk tentunya semakin lumayan dong

Bisa keliling Indonesia bahkan dunia

Ini buat yang mengincar di instansi pusat ya. Betul kalian akan punya kesempatan untuk melihat sudut Indonesia dari lebih dekat. Lumayan banget buat update feed di sosmed. Selain itu dari perjalanan itu akan ada uang saku yang akan bisa menambah pundi-pundi rekening kamu. Kalau ada waktu, bahkan bisa sekalian jalan-jalan dong. Uhuy

Bisa ikut membangun negara dan bangsa tercinta

Cita-cita yang sungguh mulia. Jangan cuma ngomel-ngomel aja di sosmed kau. Ayo berbuat ikutan terlibat, dan rasakan nikmatnya. Hehehehe…

Idaman calon mertua

Gak bohong, memang banyak orang tua yang kalau melihat calon menantunya ASN, udah lampu hijau banget ya… tapi kayaknya tetap perlu wawancara lagi sih. Kalau saya sih akan saya tanya gajinya berapa pendapatan berapa… (buat yang ngerti aja)

Kira-kira begitu ya kenapa banyak orang berminat menjadi ASN. Namun, yang perlu digaris bawahi, buat teman-teman yang masih mencari-cari, untuk menjadi sukses dan bahagia tidak hanya melulu menjadi ASN. Semakin dewasa dan bertumbuh, yang terpenting ketika menjalani hidup dengan bahagia dan apapun yang bisa membayar segala kebutuhan hidupmu, ya dijalani saja.

Mungkin ada yang mau menambahkan, di sini kenapa tertarik menjadi ASN atau bahkan ada yang sama sekali gak tertarik, monggo ya…

Featured

Apa Kabar Ibu WFH dengan Batita?

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah 20210729_085455.jpg
Suasana rumah ketika WFH berdua bareng Azzam :)))

Buat Ibu-ibu bekerja macam saya, Work From Home yang diterapkan kantor selama masa pademi itu seperti pisau bermata dua. Iyah semua hal kayaknya juga seperti itu ya, ada sisi positif dan negatifnya. Kali ini saya mau bahas ini ah. Buat kenang-kenangan nanti kalau suatu hari pandemi berakhir. Ih pernah begini loh… Hahahaha. Apa aja sih sisi positif dan negatifnya dari Ibu dengan batita yang juga harus WFH. Meski banyak yang bilang bisa WFH dengan gaji yang aman adalah sebuah privilege

Sisi PositifSisi Negatif
Aman dari virus-virus yang berkeliaran di luar. Gak perlu rempong ke kantor kayak mau perang, masker double dan mensugesti diri kalau di luar akan aman dan baik-baik sajaMemang aman sih dari virus… tapi… kesehatan jiwa dan raga diuji, karena Ibu susah buat kerja. Anaknya maunya main ditemani Ibu  
Bisa menjalin ikatan dengan anak. Asyiiikk… bisa main sama anak di rumah.Kenyataannya memang iya, ikatan begitu snagat erat bahkan anak nempel terus sama Iboooo… Maunya dipangku terus. Mau nimbrung pas zoom meeting. Kepo lihat teman-teman Ibu, pengen ikutan pencet-pencet laptop (saya sudah ganti keyboard dan keyboard baru pun huruf C udah copot)  
Asyiiik bisa stimulasi anak, bisa nih no gadget seharian. Bisa… aku pasti bisa.  Ampuuunnn Ibu nyerah, mau zoom meeting, harus jadi asrot, notulen, nih nak nih Tab, nih nonton Baby Bus nih, nih Nusa Rara nih… wkwkkwk
Bisa tidur siang… eh…  Boro-boro tidur siang. Kalau sama Ibu, si anak susah banget tidurnya. Malah ngajak main melulu… Giliran sama Mbak 5 menit langsung pules.
Bisa melakukan banyak hal seperti hobi dengan tanaman, foto-foto cantik, de el el de el el  Boro-boro mau melakukan hobi, anak bisa makan lahap 3 kali sehari dengan jadwal cemilan yang gak ke skip, aja udah alhamdulillah
Bisa kali nih nyambi cari sampingan jualan onlenYa Allah… sampingannya terganti sama bolak balik beresin mainan yang gak sengaja keinjek Ibu…
Sisi positif negatif WFH untuk Ibu dengan Batita

Kalau sudah gitu gimana dong?

Kalau saya awal-awal WFH sih y aitu mencoba menikmati seolah-olah saya Ibu rumah tangga, kerjanya sampingan. Tapi semakin kesini kerjaan makin wow, dan kok kayaknya gak ada mikirin tuh, lo di rumah sambil nggurus anak apa nggak. Terus kok ya jadi agak kurang professional gitu.

Terus saya juga merasa gak bahagia, karena kayak dikejar-kejar debt collector masalah kerjaan. Anak juga gak maksimal kepegang. Disambi-sambi, kebanyakan terpapar gadget juga, anak merasa kesepian dan minta Ibu menemani main. Duh memang multitasking itu tidak selalu sebanding lurus dengan produkstivitas ya.

Demi kewarasan jiwa dan raga Ibu dan Azzam, akhirnya memutuskan Ibu dan Azzam tiap pagi ke rumah Mbah. Di rumah Mbah Ibu bisa kerja di lantai atas. Azzam bisa main sama Adek, dan Kakak sepupu, bisa makan tepat waktu sampai cemilan, buah, susu, tepat waktu.

Ibu bisa lebih produktif. Jam kerja Ibu serius kerja, bisa sholat dengan tenang, dan kadang curi-curi waktu buat nulis dan me time. Selesai kerja Ibu bisa penuh menemani Azzam main, membacakan buku, menemani ritual mau tidur, menyanggupi minta makan atau bikin teh meski udah malam. Atuh… kenapa gak tidur aja sih. Hehehe.

Karena ya kalau seharian di rumah, pasti tugas-tugas kantor tertunda. Ibu harus bangun tengah malam, buka laptop buat kerja, pake mikir lagi. Otomatis Ibu kurang tidur dan gampang banget cranky. Ibu memang bukan Ibu-ibu Instagram yang tetap terlihat bahagia meski mengurus anak di rumah sambil bekerja. Kok bisa sih mereka sekeren itu…. kok bisaaa….

Jadi jadwal sehari-hari Ibu begini, dan meski ongkos bensin Bapak dan bayar tol nya bikin lumanyun, yang penting masih aman anggaran keluarga dan yang terpenting Ibu bisa namaste.

WaktuKegiatan
03:30-04:00Bangun, ke toilet kemudian mengumpulkan nyawa
04:00-04:30Tahajud, berdoa, me time
04:30-04:55Ke dapur masak nasi, preparasi buat masak
04:55- 05:15Sholat Shubuh dan zikir pagi
05:15-06:00Masak buat Azzam buat satu hari (sayur, lauk, potong buah buat 3 porsi) siapin snack, minum, dan yang mau dibawa ke rumah Mbah
06:00-06:30Mandi, rapih2 kasur, dan siap berangkat
06:45Ke rumah Mbah
07:30Sampai rumah mbah
07:30-08:00Mandiin Azzam
08:00 – 12:00WFH
12:00-13:00Ishoma
13:00-16:00WFH
17:00Selesai WFH
18:30Pulang ke Jatiasih
19:15Sampai di Jatiasih
19:15-20:00Beres-beresin barang dari rumah Mbah dan siapin buat besok. Azzam ditemani Bapak.  
20:00-21:00Main sama Azzam sampai bersih-bersih mau tidur
Jadwal Ibu WFH

Kalau dilihat dari jadwal, memang waktu Ibu sama Azzam gak banyak, namun lebih berkualitas dan Ibu merasa jauh lebih sehat secara mantal. Gak senggol bacok, nungguin Bapak pulang, gak manyun pas Bapak pulang, main sama Azzam juga lebih mendalami karena ya memang seharian belum keep in touch lama kan. Alhamdulillah jam segitu Azzam nya belom ngantuk. Karena siang dia tidur lebih dari cukup. Malah Bapak Ibu yang seringnya sudah ngantuk. Hehehe. Maafin ya Nak.

Eh tapi kadang ya capek juga dengan ritual siap-siap setiap harinya, pengen gitu jadi full Ibu ART, tapi ya begitu, harus dipastikan kerjaan satu hari itu gak padat-padat banget. Tapi ya kerjaan juga terkadang unpredictable, sih.

Mungkin yang kurasakan belum seberapa dibandingkan sama Ibu-ibu yang punya anak sudah sekolah dan balita ditambah harus bekerja kadang tanpa ART lagi. Aduh saya mah hormat setinggi-tingginya. Sehat-sehat semua buat semua Ibu-ibu dan calon Ibu, dengan sehat semoga kita senantiasa bisa bahagia. Aaamiin.

Featured

Belajar Jadi Minimalis Edisi Kondangan

Beberapa waktu yang lalu, kami sekeluarga menghadiri pernikahan sepupu di Klaten. Sudah diinfo sejak beberapa bulan kalau dresscodenya putih. Bapak-bapak pakai jas saja.

Duh baju putih yang kupunya yang layak tidak ada bukaan depan. Bayangan saat itu, acara kondangan yang lama, kalau Azzam cranky gerah lalu pasti akan minta nen gitu. Ada yang bukaan depan, eh sudah kekecilan.

Pokoknya gak mau gamis, alasan:

  • karena takut ribet menjuntai-juntai dan kotor
  • kalau beli online takut bahannya gak nyaman, kepanjangan butuh usaha ke tukang jahit buat potong bajunya
  • kalau mau gendong Azzam susah

Tiba-tiba saja datang ide, awalnya pengen beli aja dress biasa biar bisa dipake buat ke kantor. Memang butuh sih. Mikirnya bawahannya itu kain batik saja. Punya kain batik yang sudah kujahit menjadi rok yang siap dan bisa dipakai segala kondisi.

Mulai deh searching di market place. Tiba-tiba kepikiran buat beli kebaya aja, persis seperti kebaya yang kubeli buat wisuda S2 kemarin. Kebaya dengan resleting depan. Sayangnya gak ada  yang warna putih. Huhuhu sedih.

Akhirnya keywordnya berubah jadi kebaya menyusui. Kemudian keluarlah model kebaya encim Betawi yang modelnya memang berkancing. Cari warna putih, eh kok bagus. Bahannya katun. Gak boleh males baca review pembeli lainnya. Katanya bahannya adem, lumayan sesuai harga. Harganya emang terbilang lumayan murah, yaitu 74.500 rupiah saja. Ah coba beli ah, toh kalau gak sreg, ya emang murah jadi gak usah protes banyak-banyak. Itu prinsip yang gak tauk benar atau salah. Hahaha

Akhirnya pesanan datang. Pas pegang bahannya. Ya ampun ini kok kayak bahan seragam kemeja zaman sekolah. Wkwkwk. Ah sudahlah coba dicuci dan disetrika saja. Alhamdulillah untuk ukuran pas dan gak mletet, adem, pokoknya nyaman sekali buat bergerak segala macam rupa. Hehehe.

Setelah dicuci dan disetrika, lumayan juga sih. Jilbab pakai yang ada. Warna putih tulang. Bawahannya pakai rok batik warna hitam dan coklat model A-Line. Sepatu? Ya pakai sepatu yang biasa buat ngantor aja dong. Sepatu kets silver Rockport kesayangan aku. Yang usianya sudah dua tahun.

Tas kondangan? Tentu tidak perlu. Bawa bayi say, tetap harus bawa perlengkapan macam pospak, tisue basah, tisue kering, hand sanit, baju ganti satu, handuk kecil, cemilan, dan ya pokoknya tas saya macam tas doraemon apa aja ada. Tetap pakai tas ransel mini kulit favorit yang dibeli pas ada bazar di kantor.

Make up? Berhubung saya make up komplit pas kondangan doang, (eh tu juga gak komplit-komplit amat) cek laci yang gak ada maskara aja, karena sudah expired. Akhirnya cus ke Indomaret beli maskara sachet merek Moko-Moko. Bener kan, kepake nya cuma pas itu aja.

Baju Ibu buat kondangan checked.

Beralih ke baju Bapak. Jas hitam alhamdulillah masih muat. Bapak akhirnya beli kemeja putih. Iyah menurut saya mah mahal. Tapi ya sudahlah beliau mah bebaskan saja. Alasannya gak punya kemeja baju putih yang bagus. Hehehe. Sepatu awalnya mau beli kembaran sama Azzam, tapi kuajak diskusi baik-baik, Sepatu masih banyak. Okelah mau kembaran sama Azzam. Tapi kondisi sekarang, apa memungkinkan sepatunya dipake seberapa perlu. Yang ada nanti keburu kekecilan. Wkwkwkwk. Akhirnya Bapak gak jadi beli sepatu. Ibu menang.

Gimana dengan Azzam? Oh iya Azzam punya baju kado dari teman Bapak di Thailand. Kemeja putih dengan rompi kotak-kotak model seragam anak TK. wkwkwk. Eh iyah ada juga stok kemeja putih motif lumba-lumba biru dongker dan bawahannya celana jeans panjang dan pendek dibawa saja. Kenyataannya gak mau dong dipakein baju kemeja rapi. Maunya kemeja putih dan celana jeans pendek. Ya sudah ibu ngalah, demi anak yang bahagia. Wkwkwkwk.

Dan inilah kami, yang lebih senang di luar ketimbang di dalam gedung.

Susah benerrr foto sama todler😖 dengan tentengan cemilan tentunya 😂

Terus gimana? PD gak pas di sana? Wah alhamdulillah saya PD banget, meski outfit yang biasa-biasa aja. Saya bebas mengejar-ngejar Azzam yang sempat berguling-guling di lantai, bolak-balik cuci tangan di kran, nangis histeris gara-gara Ibu gendong adik sepupu yang masih bayi, sampai baju putihnya yang penuh es krim coklat di mana-mana. Ibu tetap bisa calm dan ya udahlah namanya anak-anak.

Minimalis ke tiap orang itu beda-beda ya, minimalis buat saya bukan seminimal mungkin gak beli apa-apa. Tapi lebih memanfaatkan yang ada dan sangat sadar (banyak pertimbangan) sebelum memutuskan menambah barang. Apalagi kalau cuma untuk penampilan semata. Balik lagi ke prioritas ya bund… hehehehe…

Suami Positif Covid-19

Pandemi gak kelar-kelar ya Allah… itu saja hampir setiap hari yang saya keluhkan. Tapi ya udahlah hidup harus terus kan?

Jadi saya mau sharing pengalaman suami yang dinyatakan positif Covid-19. Alhamdulillah sekarang sudah membaik dan sudah terbilang aktivitas biasa. Meski begitu, masih harus menyelesaikan isolasi mandiri yang pada saat saya menuliskan ini sudah berjalan 7 hari setelah dinyatakan positif.

Semenjak pandemi ini, kami memang masih beraktivitas di luar karena pekerjaan. Saya sih gak tiap hari. Paling banyak itu seminggu tiga kali ke kantor. Karena kantor saya zona merah banget. Wkwkwk… tapi gak mungkin dan gak akan di lokdon-lokdon deh apapun yang terjadi. Tauk kan di mana? Hehehehe…

Meski demikian saya berusaha banget menjalankan protocol kesehatan semaksimal mungkin. Pake masker dobel kain dan medis kalau di kantor, sering cuci tangan, bawa hand sanitizer, dan semprot-semprot desinfektan.

Pulang kantor, pakaian langsung pisahin, mandi bersih, baru pegang Azzam. Minum vitamin, madu, air hangat lemon, propolis, makan sehat, sebisa mungkin olahraga, dan jemuran matahari pagi. Sebisa mungkin gak makan atau minum yang bisa jadi pemicu sakit. Di saya itu kayak pilus, gorengan, keripik kaya mecin yang padahal enak, es-es an yang kelewat manis.

Kalau ada yang dirasa aneh di tenggorokkan atau gak enak badan langsung deh minum air hangat yang banyak dan banyakin pikiran positif sehat, sehat, dan sehat. Satu lagi. Langsung pake masker kalau ketemu orang atau pas ke rumah orang tua.

Nah balik ke cerita suami yang dinyatakan positif Covid. Minggu sebelum bergejala, tepatnya Kamis Jumat Zaki itu ada kerjaan ke Bandung. Ya mungkin saja itu Coronces dapat dari sana. Sejauh itu sih itu yang kami curigai.

Berawal Minggu 27 September, suami mengeluh kedinginan. Minta matiin kipas angin. Ya Allah padahal siang itu gerah banget. Apa karena kusibuk bolak-balik ngurusin Azzam jadi perasaan badan keringetan. Sore itu pun Zaki minta mandi pakai air hangat. Ukur suhu, masih di bawah 37,5. Minum Panadol, minum vitamin, minum air hangat, dan malam itu Zaki tidur di sofa karena gak kuat AC. Azzam gak mungkin gak pakai AC.

Nah hal itu berlangsung sampai hari Rabu malam. Rabu pagi Zaki cek asam urat katanya tinggi. Oh mungkin itu. Ya sudah makan sehat saja yuk. Tapi masih gak enak badannya. Istilahnya greges gitu ditambah suara terdengar agak bindeng. Oh mungkin mau flu biasa aja.

Sebenarnya saya maunya Zaki swab dan katanya mau rapid tapi belom juga. Eh Kamis pagi, pas Zaki mandi, saya lagi kerja dan Azzam lagi kedatangan tamu kecilnya di ruang tamu. Saya keluar dari kamar bermaksud menemani Azzam. Eh kok bau gas banget. Baunya sampai keluar. Wong Azzam dan tetangga saya saja sampai ribut bau gas.

Pas Zaki selesai mandi, saya heran dong kok dia gak menyium bau gas yang baunya masyaallah. Kami pun saling lihat-lihatan. Mungkin kalau di sinetron musiknya gini, jeng jeng jeng jeng…… wkwkkwkw

Saya inisiatif ambil parfum, kopi, sampai minyak kayu putih. Katanya cuma nyium tapi dikitttt banget. Ya Allah… langsung saya bilang, “Sudah kamu swab dih plis,” Langsung deh maskeran medis terus. Eh tapi pake masker dari Senin deh kayaknya pas hidung agak-agak mampet dan sedikit batuk-batuk gitu.

Zaki langsung pesan untuk swab melalui aplikasi Halodoc dan memilih RS Hermina Galaksi. Kecurigaan kami yang menjurus positif gak bikin kami panik. Ya awalnya panik, tapi mari berpikir jernih biar tahu apa yang harus dilakukan.

Pulang tes swab Zaki beli kasur untuk kamar sebelah. Kami putuskan langsung isolasi. Meski kami berharap hasil negatif, awalnya saya dan Azzam mau menunggu hasil sampai Sabtu dan gak perlulah mengungsi ke Bintara. Takutnya kan malah kami bawa virus. Tapi malamnya Zaki berpendapat buat kami ngungsi aja. Takutnya kelamaan bareng lama-lama kami terpapar kan. Mana Azzam kan agak susah untuk dikondisikan Bapak lagi diisolasi. Hehehe. Malam itu pun kami beli gas, gallon, telur 1 kg, apel, mangga, pir, pepaya, jeruk, memastikan kalau Zaki perlu isolasi mandiri, semua sudah aman perbekalan.

Jumat pagi saya berkemas dan kami melakukan rapid tes di klinik dekat rumah. Pagi itu hasilnya non reaktif semua. Kami pun masih punya harapan. Moga-moga aja besok hasilnya negatif. Zaki pun mengantar saya dan Azzam ke Bintara. Ke rumah orang tua saya.

Di Bintara saya maskeran terus, meski alhamdulillah tidak ada gejala. Demi keamanan semua.

Sabtu siang, Zaki mengabari saya via wa kalau dia positif. Baiklah saya sudah menyiapkan hal terburuk. Tapi ya tetep aja kaget. Duh. Pertama yang terlintas, duh gimana dengan saya dan Azzam? Bagaimana dengan orang-orang di rumah Bintara? Belom Sabtu kemarin kami kumpul di rumah Ciracas. Itu kan banyak banget orang Ya Allah… Gimana Ibu dan Bapak, belom keponakan-keponakan yang balita. Dari yang positif banget harus gimana-gimana sampai yang negatif-negatif saya pikirin semua. Hahahhaha.

Baiklah, hal yang pertama saya lakukan, menghubungi tetangga di cluster dan menceritakan semuanya. Alhamdulillah tanggapan mereka baik sekali. Mulai dari siap mensupport makanan setiap harinya, sampai menanyakan apa yang dibutuhkan Zaki. Alhamdulillah ya Allah makasih banget dikasih tetangga baik-baik begini.

Saya pun mengabari kantor dan mendaftar untuk swab di kantor. Qodarullah di ruangan saya ada kasus positif baru dan saya pun tidak sendiri tapi bareng teman-teman yang kontak dengan teman saya yang positif itu.

Senin 5 Oktober pun saya swab di kantor. Alhamdulillah sampai hari itu tidak ada gejala covid ataupun apa. Saya merasa sehat. Berbeda waktu swab pertama di mana saya sedang batuk jadi sempet stres. Meski begitu ya saya tetap deg-deg an sampai tiba diumumkan Kamis pagi kalau alhamdulillah hasil swab saya negatif. Alhamdulillah dan saya gak perlu pakai masker lagi di rumah. Saya juga diizinkan mingggu ini saya tidak perlu ke kantor.

Hari ini 9 Oktober 2020. Kondisi Zaki sehat, sudah kerja di rumah. Alhamdulillah teman-teman di kantornya negatif juga. Cuma ya memang Zaki belum tes swab kedua jadi masih isolasi di rumah. Rencananya sih besok.

Gimana pemenuhan kebutuhan makan Zaki di rumah? Alhamdulillah banyak banget makanan. Kata Zaki kulkas di rumah sampai penuh. Ibu mertua banyak banget kirim makanan. Semua makanan kesukaan Zaki dikirimin. Sop Ayam, Sop Iga, Entok Rica-rica, sampai paru dan mie goreng. Tetangga juga kirimin sarapan bubur ayam, lontong sayur, sampai kerupuk dan roti tawar. Kayaknya Zaki lebih happy begini deh. Wkwkwkwkwk. Ketimbang makan masakan saya yang alakadarnya. Hehehehhe.

Alhamdulillah juga rumah adik yang berdekatan, jadinya gampang minta tolong apa kayak beli galon, beli vitamin yang habis, dikirimin es kelapa juga. Pokoknya Zaki benar-benar gak stress sama sekali. Dia mah enjoy banget di rumah kerja, nonton Netflix. Sehari dua tiga kali saya cek suhu, saturasi oksigen, video call-an sama Azzam. Saya juga kirim video Azzam.

Dukungan dari warga juga kami dapat sembako yang isinya daging ayam, mie, dan susu uht.

Saya berkala mengecek beberapa yang kontak dengan Zaki. Keluarga Ciracas alhamdulillah sehat, keluarga Bintara sehat, orang di kantor Zaki sehat, sampai anak tetangga dan mbak yang bantu-bantu di rumah sehat. Itu aja yang bikin saya lega banget. Setelah hari Kamis  waktu swab juga Zaki sudah sehat, rajin berjemur dan saya minta dia olahraga lihat dari Youtube biar gak gendats setelah isolasi.

Hikmah dari semua ini ya kok Allah memang masih sayang banget sama kami. Coba aja gak ada gas yang bocor manalah kami ngeh dan meyakinkan Zaki untuk swab. Sebelum yang terburuk terjadi kan, udah dikasih tanda. Ya Allah makasih banget banget banget.

Saya sehat, Azzam sehat, Zaki sehat. Itu aja cukup.

Mungkin saja kondisi Zaki gak drop banget jadi virusnya gak merajalela di tubuhnya. Begitu juga tingkat penularannya  yang tidak terlalu infeksius. Mungkin juga kondisi saya dan Azzam yang lagi fit jadi si virus enggan hinggap. Makasih Gusti Allah… makasih… semoga kami sehat dan pandemic ini segera berakhir di Indonesia. Amiiin

19/10/20

Tanggal 12 Bapak swab lagi dan hasilnya positif. Terus dikasih obat-obatan banyak banget dari antivirus, antibiotic sampe vitamin-vitamin yang sebenarnya kami masih punya. Tapi di RS Bunda itu setelah dari dokter, pasien suruh nunggu di ruang isolasi dan gak bisa bilang babibu kalo vitamin A, B dan C masih banyak di rumah gak perlu diambil. Jadilah semua akhirmya diambil. Biayanya berapa??? Ya bisalah dapat laptop yang murah. Udah bye gak usah dibahas. Nyesek bukan karena Covid, tapi karena menguras biaya. wkwkwk.

Oke fix Zaki gak bisa ikutan ultah Azzam… huhuhu sedih banget. Tapi ya sudah tak mengapa. Seminggu lebih tepatnya tanggal 21 Oktober Zaki swab lagi. Awalnya bingung mau yang hasilnya cepat tapi mahal. Takut kalo masih positif. Eh tapi dia PD aja dong.

Tanggal 22 Oktober Jam 11 lewat ketika saya di terminal 3 Bandara Soeta, Zaki mengabarkan kalau hasil swab test-nya kemarin itu NEGATIF. Alhamdulillahhhhh… akhirnya.

Buat yang masih berjuang dalam pandemi apapun itu… semangat. Mengutip kata-kata teman saya yang juga penyintas Covid-19, “Pandemi ini harus dihadapi bareng-bareng Mba. Pasti bisa…” iya betul banget. Zaki yang alhamdulillah tenang dan tetap positif, berjuang dengan support dari sekelilingnya. Isteri, anak, Ibu, Bapak, Adik2, Kakak2, tetangga, teman-teman kantor, hingga teman-teman saya. Makasih semuanya. Sehat-sehat dan semoga pandemi ini segera selesai. Aaamiin

Bersyukur…

Sudah seminggu terakhir naik KRL ke kantor masyaallah penuhnya bikin pengen nangis banget. Ya tapi mau gimana lagi, kendaraan itu yang paling memungkinkan membawaku sampai di kantor dengan waktu yang paling singkat sekarang ini. Meski ya tetap aja telat sampai kantor.

Bukan, bukan karena ada Azzam. Ya sayanya ajah sih yang salah. Padahal tiap hari bangun jam 4 pagi, biasanya langsung masak air bukan bikin aor lemon, masak buat Azzam, potong buah, packing yang mau dibawa, kemudian mandi, sholat, sampai Azzam bangun, dan biasanya kami selesai jam 5:30-06:00. Selesai semua kami langsung ke Bintara buat taruh Azzam di rumah Ibu.

Balik mau cerita di KRL. Naik kereta jam 07:00 itu ya butuh perjuangan banget. Kondisi kereta yang tiba di Cakung sudah penuh. Begitu masuk, ada suara, “Ada yang gak hamil?” gak ada yang jawab. Ya Allah bangku prioritas 6 sudah penuh dengan Ibu-ibu hamil. Lagi musim hamil apa gimana sih? Ya ampun gimana ibu itu dong.

“Sebelah sana aja bu.” sahutan dari beberapa penumpang terdengar. Duh mau gerak aja susah, ini lagi nyari kursi. Ya tapi akhirnya selalu ada sih yang kasih. Hehehehe.

Ingatan saya terbang ke tahun 2018 awal hingga pertengahan. Iya apalagi kalo bukan pas hamil Azzam. Allah kok sayang banget ya sama saya. Kayaknya tahu banget buat kami yang ya selain nunggunya lama, buat hamil pakai program juga, ya pas aja hamil pas lagi kuliah. Kuliah paling banyak seminggu tiga kali ke kampus. Zaki juga baru pindah kerja dan kantornya belom sibuk banget. Jadilah setiap ke kampus diantar jemput. Pokoknya kemana-mana diantar deh. How lucky I am hehehe. Ya tapi pas anaknya sudah lahir aku kembali menjadi wonder woman, huft…

Ya udah pengen cerita itu ajah. bersyukur ceritanya. Allah memang paling tahu kapan waktunya ya? Tapi abis itu turun kereta susah cari gojek, hujan, telat ke kantor dan kemudian marah-marah lagi wa Zaki. Hahahahha… ya namanya manusia. Wkwkwkkwk. Postingan yang sangat berfaedah kan??? :))))

 

Pumping di Ruang Menyusui Kantor Bikin Insecure?

 

perlengkapan pumping di kantor
perlengkapan pumping di kantor 🙂

Terhitung September 2019, saya kembali ke kantor. Usia Azzam sudah 10 bulan lebih. Alhamdulillah masa-masa perjuangan drama kejar-kejaran ASIP karena si bayi Cuma bisa minum ASI telah terlewati. Azzam sudah memasuki fase MPASI (Makanan Pendamping ASI). Alhamdulillah sudah makan ini itu, tidak bergantung dengan ASI. Lucunya lagi karena kelamaan DBF (Direct Breastfeeding), Azzam jadi lupa nikmatnya mimik memakai dot. Hihihihi. Jadilah mimik ASIP pas ditinggal Ibu pakai gelas yang ada sedotannya. Seharian ditinggal Ibu, Azzam biasanya habis 100-200 ml saja. Biasaya mimik ASIP di jam snack, 1-2 jam sebelum atau sesudah makan.

Bagaimana stok ASIP di kulkas setelah Ibu masuk kerja? Alhamdulilah ada, meski tidak berlimpah ruah seperti Ibu-ibu yang suka posting ASIP satu freezer tersendiri. Rencana saya, saya mau kasih ASIP segar ke Azzam. Insyaallah dengan dua kali memompa di kantor, kebutuhan masih bisa terkejar.

Saya berkantor di Kementerian Kesehatan, yang sudah jelas pasti ada dong ruang amenyusui. Ruang menyusui yang terbilang lengkap dengan fasilitasnya dan tentu saja nyaman. Sofa besar yang bikin ngantukable, pompa ASI grade hospital, sterilizer, kulkas, wastafel tempat cuci botol, sampai pemberian makanan tambahan untuk Ibu menyusui. Lengkap pokoknya. Ruangannya tentu sjaa ber-AC dengan lampu penerangan yang tidak terlalu terang dan dinding ber-wallpapaer.

Sebagai pendatang baru, kemudian saya didaftakan ke grup WA Ibu Perah. Wow rame sekali, asyik nih. Belum lagi ceriita dari teman-teman saya serunya memompa ASI di ruang menyusui. Bisa sambil ghibah sesama busui ketika memerah dan katanya bisa menghasilkan hormon oksitosin yang bisa melancarkan dan meningkatkan produksi ASI. Wah, sepertinya akan menyenangkan. Begitu istimewanya posisi Ibu-ibu menyusui ya, alhamdulillah. Ya gimana gak istimewa semua sudah ada aturannya kok dalam Peraturan Menteri Kesehatan. Kumplit. Standar ruang menyusui di gedung perkantoran.

Eh tapi, saya baru ngeh, kok ada ya, teman saya, di ruangan yang males buat memompa di ruang ASI. Kemudian ingatan saya muncul pada hasli penelitian tugas kuliah waktu itu. Iyah, saya dengan kelompok membuat tugas melakukan penelitian kualitatif terhadap motivasi Ibu menyusui yang bekerja untuk memberikan ASI ekslusif, yang lokasinya di Kementerian Kesehatan. Hihihihi biar gak ribet-ribet ye kan? Penelitian di kantor sendiri.

Hasilnya? Apakah semua Ibu bekerja di kantor saya melakukan ASI ekslusif? Jawabannya ternyata tidak. Karena ini bukan penelitian kuantitatif, maka  kami mencari informan yang sekiranya dapat mewakili mengapa Ibu tersebut tidak memberikan ASI ekslusif. Padahal fasilitas di kantor kumplit. Dengan adanya Permenkes, seharusnya semua pegawai di kantor memahami kondisi Ibu menyusui. Didapatlah salah satu alasan karena ASInya tidak banyak. Banyak teori yang bilang ASI itu tergantung permintaan. Jadi ya rajin-rajinlah memompa.

Ada yang gak enak dengan bos kalau sering izin dan pekerjaan terbengkalai, dan ada juga yang merasa insecure kalau lihat hasil perahan Ibu-ibu lain jadi males buat memerah di ruang pumping. Pasrah dan sudahlah kasih sufor saja. Ya gak papah juga sih.

Jadi gimana dengan saya? Apakah dengan fasilitas yang bagus dan lengkap saya jadi semangat memompa? Asi jadi deras? Jawabannya ya dan tidak. Awalnya sih iyah, saya semangat sekali, sampai suatu ketika Ibu-ibu yang memang mungkin tidak dengan sengaja memperlihatkan hasil perahan mereka yang jumlahnya bisa 3-4 kali dari hasil perahan saya. Waduh… yang tadinya saya cuek, kemudian jadi ciut. Insecure. Kemudian yang awalnya PD gak pake apron (alat penutup dada) jadi besoknya pake apron atau ditutupin jilbab botol hasil perahannya. Nuang ke botolnya pun malu-malu. Duh jangan sampai deh kelihatan Ibu-ibu lainnya. Yang awalnya ingin ngobrol jadi males. Walhasil ngaruh ke psikologis, hasil perahan makin surut, karena ya TIDAK HAPPY. Wkwkwkwk.

Besoknya saya memutuskan untuk pumping di kubikel saja. Awalnya saya malu, tapi kemudian ya maap-maap ya… ketutupan kok. Pake apron kok, aman, tetap sesuai syariah. Sambil ngemil, sambil nonton youtube, sambil kerja kadang. Ya bebas lah. Gak lihat hasil perahan Ibu-ibu lainnya. Kelar, langsung masukin kulkas. Cuci pompa biarlah urusan nanti di rumah saja.

Baru sadar, di ruang menyusui memang ada beberapa tipe Ibu-ibu memerah. Salah satunya ya itu. Ada yang pake apron, ada yang cuek bebek saja. Kemudian ku menarik kesimpulan, kalau mereka yang memakai apron sepertinya seperti diriku. Insecure gak mau dilihat kalau hasil perahan ASInya tidak banyak. Iyah, soalnya nanya juga saya sama salah satu dan salah dua Ibu-ibu. Tentunya dengan cara bertanya yang gak menghakimi. Lah, orang senasib kan. Hehehe.

Ya udah, saya sekarang kadang pumping di kubikel, kadang di ruang pumping. Ya emang salah saya juga dapat teman pumpingnya yang ASInya banyak. Terus gak PD-an. Kepo maksimal juga. Padahal yah, seberapun dapatnya ya disyukuri aja. Yang penting hasilnya cukup buat anak kita kan. Soalnya ada, Ibu-ibu yang Asinya buanyak, tapi anaknya gak mau minum ASIP. Padahal dia sudah mencoba berbagai media pemberian. Walhasil hasil perahannya itu buat mandi. Hehehehe. Lalu untuk apa dia memompa? Ya itu tadi kan anaknya masih dbf. Jadi biar stok ASInya tidak habis karena selalu ada permintaan.

Tapi ya Ibu-ibu, percayalah Ibu itu insyaallah yang terbaik buat anaknya. Apapun keputusan yang dipilih Ibu, pasti mengutamakan anak. Meskipun si Ibu malas pompa, yang terpenting si Ibu bahagia. Gak kayak saya yang insecure-an dan kemudian makanya saya memilih yang membuat saya bahagia dengan pumping di kubikel. Yah sayang sih gak dapat makanan tambahan. Ah sudahlah, jajan ajah banyak kok kang jajan di kantor. Hahahhaa.

Semoga semua anak-anak di Indonesia bahagia karena sang Ibu bahagia dengan apapun pilihannya ya. Aamiin.

Hasil perahan di kubikel
hasil perahan di kubikel today 🙂 100 ml alhamdulillah

29 Oktober 2019

 

 

 

 

Cerita Semester Dua Kuliah :) Sudah Setahun Aja… :(

Alooha… blog… wkwkwkwk…

Gilak lama banget gak nulis. Nulis blog maksudnya. Semester dua kemarin sangat menyita waktu banget. Selain waktu pikiran, tenaga, dan semua hasrat lainnya termasuk untuk update blog.

Hari ini sudah sebulan dari libur lebaran dan satu setengah bulan dari libur semester. Ntah kenapa beberapa bulan belakangan diriku males banget yang namanya update sosmed. Bukan gak main sosmed lagi yah, ini sih masih. Susah berhenti. Maksudnya mengupdate isi sosmed gitu loh. Updaete kegiatan sehari-hari atau apalah beropini tentang hal-hal kekinian, dan mengikuti tren-tren kekinian di sosmed seperti fitur terbaru instagram yang namanya Ask Me Question. Hihihi. Gak ngerti kenapa. Rasanya males dan berasa apa yang akan kuupload itu gak penting juga sih. Hahahaha.

Males berkreasi dan aku gak tahu ini sehat apa nggak. Jadi apa nih yang layak mau saya bahas pada tulisan kali ini dong. Nah udah mulai ngetik aja masih bingung.

Cerita seputar kuliah itu seru gak sih? Semester dua ini memang penuh perjuangan ditambah sayanya juga mulai agak goyah. Goyah kenapa? Hahaha. Berhubung semester ini banyak teman-teman satu gang yang sudah mulai egois, secara mencari mata kuliah yang dinaungi dosen PA masing-masing dalam rangka menjalin persatuan dan kesatuan dengan PA. Kemudian, ada mereka yang masih semangat mencari ilmu dan sebagian lain seperti saya ini masih menimbang-nimbang. Apakah sanggup kalo seidealis itu. Misal cari dosen yang kelas berat di mana selain tugasnya yang berat juga berat banget kasih nilai bagus ke mahasiswa. Hehehe. Yah dengan berbagai pertimbangan, di semester dua ini betul-betul perjuangan individu lah.

Bagaimana hasilnya? Alhamdulillah IP turun. Wkwkwkwkwkwk…. tapi gak papah. Saya masih percaya kalau proses itu lebih indah dibanding nilai. Meski semua orang ya akan pertama nanya emang nilai IP. Mana mau mereka dengar cerita, udah begadang siang malam, dan kemudian ketika ujian Manajemen Data Lanjut yang lanjutan statistika itu laptopnya nge-hang dan program gak bisa dipakai, dan seribu macam permasalahan lainnya.

Salah satu yang bikin saya sangat percaya kalau hasil tidak menghianati proses itu terjadi lagi di semester ini. Iyah memang di tahap hidup saya itu, sepertinya bisa dihitunglah yang dibilang beruntung. Pokoknya saya mah kalau mau meraih atau mencapai sesuatu haruslah kudu bekerja keras kalau perlu menangis-nangis deh. Hahahaha. Lebay? Nggak ya memang begitu. Bukan berarti saya tidak mensyukuri apa yang sudah Allah berikan yah, tapi yah sepertinya jalan hidup saya memang harus begitu,

Terus saya sebal gak sama hidup saya? Gak lah. Alhamdulillah sudah dikasih hidup dan membentuk saya seperti yang sekarang ini. Hehehehe. Kalau hidup saya gampang-gampang ajah mah, aduh gak kebayang deh jadinya gimana. Saya jadi lembek dan malas berjuang gitu deh.

Ambil contoh waktu kuliah mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif. Buat peminatan saya, mata kuliah ini penting banget, karena kebanyakan tesis akan menggunakan metodologi penelitian ini. Jadilah saya semangat di awal. dapat tugas observasi aja, saya sampai maksa suami buat mengantar saya ke RPTRA Kalijodo yang lokasinya lumayan jauh dari rumah saya di Bekasi.

Suasana pagi di RPTRA Kalijodo 🙂

Saya tertarik kayak apa sih RPTRA Kalijodo. Pengen banget lihat yang katanya dulu tempat prostitusi sejak zaman sebelum merdeka, menjadi sebuah tempat yang sangat edukatif bagi masyarakat. Meski kondisi fisik saya waktu itu juga bisa dibilang lagi gak fit-fit banget. Eh kemudian, ketika Ujian Tengah Semester, nilai saya sangat tidak  memuaskan. Aduh gimana kalau saya harus mengulang. Itu UTS memang teori banget, harus hafal, yang terus terang untuk sekarang susah banget buat saya menghafal mati. Ya udah terima saja dulu ya.

Alhamdulillah Allah kasih dosen saya baik sekali. Dosen saya memberikan tugas UAS berkelompok untuk membuat sebuah penelitian kualitatif dengan penggunaan berbagai metode. Salah satunya wawancara ataupun grup diskusi. Pokoknya mirip banget  deh kayak buat thesis.

Sesi wawancara tugas Metlit Kualitatif

Nah di sini saya benar-benar mengerahkan segala kemampuan saya. Gimana nggga, alhamdulillah teman-teman satu kelompok juga nilainya udah bagus-bagus semua. Jadi ketika saya mau maksimal mereka justru mempersilahkan. Misal, saya mau nanti pas bagian hasil saya yang presentasi, saya yang rapihin materi presentasi, saya juga merekap hasil wawancara. Wah pokoknya saya mau maksimal deh ngerjainnya. Nah kemudian di akhir semester juga, dosen saya menawarkan untuk memasukkkan hasil riset kami ini untuk surat kabar. Maksudnya dipublikasikan ke umum. Gak harus jurnal ilmiah terindeks. Koran lokal saja cukup. Untuk menambah nilai.

Waduh, saya yang merasa, terbiasa menulis populer, tertantang nih, bagaimana menuliskan hasil penelitian yang terbilang ilmiah untuk dituangkan ke sebuah tulisan di surat kabar populer. Maksudnya biar enak dibaca gitu. Hehehe.

Alhamdulillah tulisan saya dimuat di sebuah harian surat kabar lokal. Gak papah gak nasional juga. Lumayan buat pengalaman. Dosen saya pun cukup memberi apresiasi meski dengan hanya emoticon jempol. Hehehe. Iyah saya mengabari tulisan saya dimuat memang hanya melalui whatsapp.

Alhamdulillah, ketika nilai keluar hasilnya sangat memuaskan. Pokoknya gak nyangka deh kalau melihat nilai UTS saya itu. Senang sekali jadi IP saya meski turun, yah gak drastis banget turunnya. Meski ada yang bikin sakit hati ketika ada mata kuliah 3 SKS yang harus puas dengan nilai B. Tapi saya terima, wong memang saya gak terlalu mudeng, meski sudah kasih usaha besar. Ya sudahlah ya… hahahaha… Padahal itu mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum loh, yang di mana judul peminatan saya saja Kebijakan dan Hukum Kesehatan. :)) Untuk mata kuliah ini, gak bisa pilih dosen, so nikmatin saja, beliau itu :))

Teman2 satu peminatan Kebhukes bareng sama Dosen Pengantar Ilmu Hukum

Untuk mata kuliah yang lain? Cukup puas lah. Alhamdulillah mata kuliah kayak statistik yang sejak zaman SMU jadi momok buat saya bisa saya lewati dengan mendapat sedikit keberuntungan. Keberuntungannya apa? Ketika ujian, saya dikelilingi sama anak-anak dari peminatan Biostatistika, di mana ketika soal ujian diterima, mereka bisik-bisik membahas, rumus mana yang akan dipakai pada soal, dan saya gak sengaja dengar, karena memang persis di belakang saya. Mau gak mau, sedikit ada pencerahan. Meski ya saya juga berlatih bolak balik menggunakan program SPSS yang rumit itu ya… hahahahaha… another alhamdulillah lah pokoknya. Terpenting lagi, laptop dan program saya gak eror seperti yang dialami beberapa teman saya sih. Huhuhuhu.

Mata kuliah Ekonomi Kesehatan alhamdulillah sama Pak Prof favorit Prof. Ascobat Gani nalar saya masih seirama sama beliau. Oh iyah, dapat beliau itu perjuangan loh. Mari berterima kasih buat teman saya Mba Ida dan Tya yang tengah malam menelepon untuk membangunkan saya yang waktu itu lagi road trip sampai Pekalongan, agar supaya bisa mendapatkan Prof favorit sejuta umat mahasiswa FKM UI tersebut. Makasih teman-teman.

Akhirnya foto sama Prof idola 😊😊

Untuk dosen favorit lainnya siapa lagi kalau bukan Pak Sandy, pengampu mata kuliah Metlit kuantitatif yang akhirnya saya ikutan milih demi mengantisipasi kalau-kalau nilai dari dosen yang lain jelek. Soalnya Pak Sandy terkenal dengan kemurahan hatinya dengan memberikan nilai memuaskan. Mari enyahkan idealisme, hahahah.

Untuk mata kuliah dosen PA saya Bu Dumilah Ayuningtyas, saya bahkan ambil dua mata kuliah beliau sekaligus. Mata kuliah Penulisan Ilmiah dan Publikasi juga Manajemen Kebijakan Kesehatan. Sungguh Allah baik hati sekali, memberikan beliau sebagai dosen Pembimbing Akademik saya. Orangnya luar biasa. Keibuan, ngemong, pintar, juara publikasinya di mana-mana, motivator juga. Meski standar beliau agak tinggi buat setiap pembuatan penelitian, ya saya harus bekerja keras sepertinya buat lulus dari UI nanti. Semangat. Alhamdulillah semester dua ini beliau kasih nilai yang lumayan buat saya. Makasih Ibu :)). Kesan pertama yang cukup baik untuk setahun ke depan ya Bu…

Ibu PA terkerennnn…😆

Alhamdulillah dengan segenap perjuangan semester dua terlewati, mari siapkan untuk semester tiga yang meski masih sebulan lagi saya sudah sangat deg-degan. Apa yang bikin saya deg-degan sih? Iyah,  manuskrip yang harus publikasi di jurnal terakreditasi dan tentunya  thesis. Hahahahahahaha. Udahan ah, semangat yoookkk…. kapan merpus lagi, yaaa?? Hihihihihi…

Poto2 pas mau bukber bareng teman satu peminatan

Senyumin Aja, Meski Ku Suka Manyun Juga :)

Tulisan ini saya tulis, ketika ada sebuah kompetisi apalah waktu itu dan lumayan masuk 10 tulisan terbaik. Meski katanya mau dibukukan, tapi sampai sekarang belum juga tuh. Hehehe. Ya sudahlah biar saja, yang penting saya jadi produktif menulis lagi.

Ini sebuah cerita salah satu perjalanan hidup saya yang lumayan seru. Berawal dari seorang teman yang curhat waktu nilainya kurang bagus saat kuliah S2 ini, dan mengeluhkan keadaannya yang harus sekolah sambil bekerja. Meski katanya sekolah dibiayai orang tua, tapi gak enak kalau resign. Kalau teman-teman cerita begitu, saya jadi ingat kalau saya pernah di kondisi seperti mereka. Kuliah sambil bekerja. Kenapa? Ya harus, kalau gak kerja, dari mana saya bayar kuliah? 🙂

Kalau mengingat kondisi waktu itu, rasanya sulit sekali saya membayangkan saya bisa sampai di titik hidup saya sekarang (belom apa-apa juga sih) tapi saya bersyukur banget banget, kalau melihat perjuangan saya yang bahkan menyelesaikan S1 ajah kok harus huuuuu haaaahhhh sekali. Cuma satu ajah sih, yakin keadaan bisa berubah hanya saya dengan sekolah. Demi keluarga, dan orang tua. Itu tiga cuyyyy… Hihihi… plis jangan ketawa bacanya.

Mau Kuliah Lagi Setelah Selesai D3

“Pak, aku maunya sih, sekolah lagi. Lanjutin S1, seperti teman-temanku si Rahma, Rifqy, dan Santi.” Curhatku ke Bapak siang itu, ketika sudah hampir dipastikan saya akan segera menamatkan kuliah saya di Politeknik Kesehatan Jakarta II Jurusan Farmasi.

Tiga tahun sudah akhirnya saya berhail menamatkan pendidikan di sana. Buat saya itu tidak mudah. Bukannya tidak suka, tetapi sepertinya kemampuan otak kiri saya semakin berkurang seiring dengan usia. Agak terengah-engah buat saya untuk bisa lulus mata kuliah ilmu pasti seperti Matematika, Fisika, ataupun Kimia. Tetapi, kalau sudah masuk mata kuliah berkenaan dengan obat dan fungsi saya bisa lebih mudah menerimanya dengan menggunakan logika berpikir. Menurut saya lebih mudah dibayangkan.

Waktu itu Bapak hanya menjawab, “Memangnya biaya untuk kuliah berapa? Tahun ini Bapak sudah pensiun lo.”  Sambil matanya menatap keluar jendela di ruang tamu.

“Ya sudah Pak, saya mau coba kerja saja. Nanti nabung sendiri buat lanjut S1.” Saya menutup pembicaraan dengan mencari jalan terbaik yang saya bisa. Padahal dalam hati saya sangat iri dengan teman-teman yang bisa melanjutkan kuliah. Mereka mendaftar di sebuah perguruan tinggi negeri program ekstensi di bilangan Depok, Jawa Barat. Tetapi saya buru-buru membuang jauh rasa iri itu. Ini mungkin jalan saya. Ingat, saya waktu itu memutuskan memilih program D3 Farmasi agar bisa selesai tepat waktu saat Bapak pensiun. Selain itu, agar cepat dalam mendapat pekerjaan. Jadi ya terima saja, toh waktu itu cita-cita saya, sesederhana itu. Ingin membantu ekonomi keluarga.

Bertepatan dengan saya menamatkan sarjana muda saya, bapak pensiun. Bersamaan pula dengan adik saya lulus SMU. Saya tidak boleh egois. Adik saya harus kuliah juga. Meski Ibu bekerja, pendapatan Ibu tidak seberapa untuk membiayai kuliah adik saya.  Uang pensiun Bapak tentu tidak cukup untuk membiayai saya melanjutkan sekolah ke jenjang strata satu yang tidak murah.

Tabungan? Jangan ditanya. Kami bukan keluarga berlebih yang mempunyai tabungan pendidikan, dana cadangan atau apalah seperti istilah perencana keuangan yang sedang ngetren saat ini. Bapak seorang Pegawai Negeri Sipil yang hanya tamatan SMU, belum ada yang namanya tunjangan kinerja, di tempat Bapak juga tidak ada dinas keluar kota. Ibu bekerja di Balai Kesehatan Masyarakat sebagai pegawai administrasi yang gajinya dicukup-cukupkan untuk biaya hidup kami, terutama sekolah.

Kami bisa sekolah melanjutkan kuliah, mungkin dengan pinjaman dari koperasi tempat Ibu bekerja. Kami makan seadanya dan hampir tidak pernah jajan makan di luar. Meski Ibu bekerja dan harus berangkat jam 05:30 setiap hari Senin-Sabtu, Ibu selalu menyiapkan sarapan pagi dan bekal kami untuk makan siang. Sepulang kerja jam tiga sore, Ibu langsung memasak, kadang juga menyetrika pakaian. Waktu itu kami sudah bisa membantu membersihkan rumah dan mencuci pakaian.

Diterima Kerja Pertama, Senangnya

Alhamdulillah adik saya diterima di Universitas Negeri Jakarta. Doa Ibu dan Bapak juga membuat saya bisa dengan mudah diterima disebuah industri farmasi di daerah Cikarang, Jawa Barat. Buat kami yang hanya lulusan D3, diterima bekerja di industri farmasi, merupakan suatu kebanggan tersendiri. Apalagi waktu itu saya belum resmi di wisuda. Teman-teman saya masih berjibaku mengirimkan surat lamaran kesana kemari, alhamdulillah saya sudah dapat pekerjaan.

Pendidikan saya yang hanya D3, tidak bisa membuat saya langsung bekerja sebagai karyawan tetap. Saya terikat kontrak dengan status “KKWT” alias “Karyawan Kontrak dengan Kesepakatan Waktu Tertentu. Untuk percobaan, saya dikontrak selama satu tahun. Kelanjutannya akan dinilai oleh atasan langsung. Apakah saya akan diangkat menjadi karyawan tetap ataukah saya diputus kontrak, yang berarti saya akan jadi pengangguran.

Semangat fresh graduate yang ingin membuktikan kemampuan, saya bekerja dengan giat. Lokasi kantor yang di luar kota, membuat saya harus datang pagi-pagi buta dan pulang saat matahari tenggelam. Belum lagi adanya shift yang mengharuskan saya pulang jam dua dini hari jika saya mendapatkan shift kedua. Satu lagi, jika produksi sedang tinggi, kadang kami juga melakukan long shift. Jam 7 pagi sampai jam 7 malam atau dibalik, jam 7 malam sampai jam 7 pagi. Seperti zombie rasanya waktu itu. Pagi hari tidur, malam hari harus bekerja. Belum lagi tuntutan dari atasan saya yang lumayan tinggi buat pemula seperti saya. Menurut beliau, di sini kami harus bekerja, bukan belajar, karena di sini kantor bukan universitas. Aduh, kalau ingat itu kadang suka senyum-senyum saja sih.

Meski terasa berat, saya tetap menjalani pengalaman kerja pertama saya dengan fun. Pertama, saya senang sekali, bekerja di industri farmasi, karena ilmu yang saya pelajari bisa benar-benar diaplikasikan. Bahkan ilmu saya tambah banyak. Belajar dari para senior dan apoteker-apoteker yang menurut saya mereka semua jenius sangat cinta pada dunia farmasi. Teman-teman di kantor juga hampir seusia. Beberapa kali kami mengadakan jalan-jalan bareng seperti ke Bandung dan Anyer. Pokoknya bahagia deh.

Hingga pada suatu hari, kontrak saya akhirnya diselesaikan, karena atasan langsung saya sepertinya kurang puas dengan kinerja saya. Entahlah mungkin ini saya yang salah. Saya tidak cepat beradptasi. Tapi akhirnya saya terima saja. Berat sekali hidup saya waktu itu. Setahun sudah bekerja lalu menjadi pengangguran lagi dan serasa kembali ke titik nol.

Sepertinya Sudah Lelah 

Mulailah saya mencari-cari pekerjaan lagi seperti baru lulus kuliah. Setiap minggu mengirimkan paling tidak sepuluh amplop melalui PT. Pos, pergi ke warnet mengecek situs pencarian kerja, dan berlangganan koran setiap akhir pekan.

Satu bulan menganggur, akhirnya saya diterima bekerja di sebuah Apotek di bilangan Pondok Gede. Gajinya tentu saja sedikit lebih rendah. Tetapi cukup besar untuk kelas Apotek waktu itu. Pengalaman saya bekerja di Apotek pertama kali, dinodai dengan paraktik kecurangan Apotek tersebut. Hati nurani saya berontak. Bagaimana tidak, saya harus mengganti obat pasien dengan generik, tetapi memberi harga dengan harga obat bermerek. Itukan sama saja dengan menipu. Sudah mereka sakit, membeli obat dengan harga yang tidak murah, eh kok saya malah mencurangi. Hanya satu bulan, saya pun mengundurkan diri, dan diterima bekerja di sebuah Apotek jaringan di Menteng Jakarta Pusat.

Saat bekerja di Apotek jaringan ini, saya bekerja dua shift. Shift pagi jam 08:00 hingga15:00 dan shift siang jam 14:00 hingga jam 21:00. Waktu yang fleksibel, terlintas di pikiran saya untuk kembali ke bangku kuliah. Setelah meminta izin teman-teman dalam pengaturan shift.

Akhirnya Kuliah Lagi, S1

Saya sadar, hanya pendidikan yang bisa mengubah nasib saya. Kalau pendidikan saya hanya D3, akan selamnya saya menjadi bawahan. Akan selamanya saya tidak mempunyai jenjang karir jika bekerja di bidang farmasi.

Berbekal tabungan saya yang pas-pasan, saya nekat mendaftar kuliah. Tabungan saya cukup membiayai kuliah saya selama 2 semester. Saya mengambil kuliah di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jurusan Farmasi. Alasan saya memilih kuliah disitu yang pertama karena lokasinya tidak jauh dari rumah saya. Kedua, waktunya bisa fleksibel, bisa pagi dan sore hari. Dengan begitu tidak mengganggu jam kerja saya.

Jika saya bekerja masuk pagi, sore hari saya langsung ke kampus. Kuliah hingga jam delapan malam. Sebaliknya jika saya kerja siang, maka jam tujuh pagi saya sudah di kampus. Belum lagi tugas, kuis, dan ujian yang tidak ada toleransi meski bekerja. Sering saya mencuri-curi waktu di Apotek jika sepi pengunjung untuk belajar atau mengerjakan tugas. Kuliah farmasi juga disibukkan dengan praktikum. Mengerjakan jurnal sebelum praktikum dan membuat laporan sesudahnya. Buat saya itu luar biasa. Sepertinya otak saya diminta tidak berhenti selama empat belas jam.

Perjuangan akan lebih berat jika ujian tiba. Pernah saya terlambat datang ujian karena kereta atau pun lalu lintas macet. Jarak apotek dan kampus lumayan jauh. Di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Pernah saya menangis, ketika paginya saya kuliah, lalu siang bekerja. Pulang malam, naik kendaraan umum lalu turun hujan dan badan basah kuyup. Waktu itu saya merasa Tuhan tidak adil. Kenapa harus saya, teman-teman saya tidak susah-susah amat seperti saya untuk bisa menyelesaikan S1. Waktu itu yang membuat saya tambah sedih, ketika Ibu ikutan menangis. Ibu selalu sabar menunggu saya di rumah. Hanya bisa menghibur saya dengan kata-katanya. “Kamu harus kuat Rin, inikan maunya kamu. Kuliah sambil bekerja.” Biasanya Ibu bilang begitu, saya makin kencang menangis dan langsung ambil air wudhu buat sholat dan mengadu ke Tuhan.

Saya harus kuat, perjuangan ini belum selesai. Sering saya berpikir untuk tidak bekerja saja dan fokus di kuliah. Tetapi dari mana nanti saya bayar kuliah, darimana untuk membeli pulsa. Jauh-jauh dari mall deh. Beli buku pun hanya sebatas buku kuliah. Tidak ada pos untuk membeli novel yang menjadi bacaan favorit.

Meski saya bekerja, saya tetap mengusahakan agar Indek Prestasi Kumulatif saya lebih dari tiga. Berbagai jalan saya lalui. Berusaha bergaul dengan teman-teman yang hanya fokus kuliah untuk mencari informasi bahan kuliah ataupun kumpulan-kumpulan soal menjelang ujian. Pokoknya meski sibuk kuliah tidak boleh asal-asalan. Bagaimana bisa untuk modal melamar kerja jika nilai IPK saya jelek.

Tidak selesai di urusan kuliah dan bekerja, ternyata ada lagi ujian di hidup saya. Apotek jaringan tempat saya bekerja dinyatakan bangkrut. Menurut saya sih karena salahnya manajemen. Tetapi entahlah saya tidak tahu menahu urusan itu. Saya kemudian pindah bekerja di Apotek di Kali Malang. Lucunya pembayaran gaji di sini dicicil  Tidak sampai satu bulan saya mengundurkan diri dan pindah ke sebuah rumah sakit di Bekasi.

Alhamdulillah diterima CPNS

Diantara carut-marut pekerjaan dan kesibukan kuliah, saya iseng-iseng menguji nasib untuk ikut tes CPNS di sebuah Kementerian. Mungkin waktu itu Tuhan sudah lelah mendengar tangisan dan keluhan saya, dan setelah melalui tes di Stadion Utama Senayan, saya dinyatakan lulus. Alhamdulillah, waktu itu tidak bisa digambarkan bagaimana bahagianya Ibu saya. Mungkin ini semua atas doa beliau.

Saya akhirnya bekerja di  Kementerian sambil menjalani  kuliah saya yang  tinggal dua mata kuliah dan tugas akhir alias skripsi. Meski pekerjaan saya cukup membuat saya nyaman, ternyata justru disinilah saya mengalami kesulitan mengatur waktu. Pekerjaan saya mengharuskan saya sesekali bertugas ke luar kota. Kalau sudah begitu, berat sekali untuk harus izin kuliah. Di lain sisi, di kantor saya masih anak baru yang belum punya hak suara, apalagi menolak perintah.

Di saat semangat kuliah yang menurun padahal tinggal selangkah lagi, tidak lelah Ibu memberi dukungan agar semua perjuangan saya kemarin tidak sia-sia. Terhitung satu tahun lamanya saya mengerjakan tugas akhir alias skripsi. Untuk menyelesaikan skripsi, saya mempunyai rekan yang tidak kalah sibuknya dengan saya. Positifnya kami bergantian memberikan motivasi. Pokoknya harus selesai. Ini tinggal sedikit lagi. Kalau melihat semua yang sudah kami lakukan dalam kuliah dan bekerja, sangat tidak rela jika kuliah ini tidak selesai.

Waktu itu, alhamdulillah saya juga punya kesibukkan baru, yaitu menyiapkan pernikahan. Calon suami yang sekarang sudah menjadi suami saya, juga ikutan direpotkan. Menemani saya di laboratorium sampai malam, ataupun ikutan wira-wiri menemui dosen pembimbing. Alhamdulilah akhirnya saya sidang dan dinyatakan lulus. Waktu itu hanya bisa bilang alhamdulillah dan akhirnya selesai juga.

Setahun lulus S1, saya kembali melanjutkan pendidikan profesi Apoteker di perguruan tinggi yang sama. Seperti dejavu, aktivitas pagi hari bekerja, sorenya kuliah hingga malam berulang. Kali ini ditambah mengurusi rumah tangga.

Pendidikan profesi tidak hanya belajar di bangku kuliah tetapi ada Praktik Kerja Profesi (PKP) di Rumah Sakit, Apotek, dan Instansi. Ketika PKP di Rumah Sakit selama 10 hari dan Apotek 1 bulan, hampir setiap hari saya harus naik taksi atau ojek dari kantor agar tidak terlambat.

Tidak terhitung biaya,waktu, dan tenaga yang dikorbankan. Apakah itu semua demi gelar? Buat saya perjuangan yang dilalui tidak sesederhana demi sebuah gelar. Saya haus akan ilmu dan orang tua saya yang selalu mengingatkan, kalau mereka tidak pernah bisa memberi apa-apa selain membekali saya ilmu. Iyah, sekolah. Ibu dan Bapak akan melakukan apa saja agar saya dan adik bisa terus sekolah.

Pendidikan D3 saya membuat saya terpacu untuk melanjutkan ke S1 dan ketika sudah selesai S1, alhamdulillah Pak Bos di kantor mendukung untuk saya nyambi kuliah  program profesi Apoteker. Alhamdulillah selesai dengan nilai yang lebih memuaskan dibanding S1 🙂

Lima tahun setelah Apoteker, alhamdulillah dapat rezeki buat lanjut S2. Kali ini gratis dibiayai negara. Bersyukur sekali rasanya.

Oh iya, waktu itu, tema tulisan ini untuk lomba dengan tema perjuangan demi gelar. Kalau buat saya sekarang, apalah arti gelar yang kita miliki jika tidak diiringi dengan peningkatan akan manfaat kehadiran diri kita di dunia. Pekerjaan saya kali ini mungkin tidak begitu mengaplikasikan praktik langsung ke masyarakat, tetapi dengan ilmu yang saya miliki, saya masih bisa menjawab jika keluarga, teman, ataupun kerabat yang bertanya sedikit tentang obat.

Saya tidak pernah menyesal dengan semua yang saya lalui. Saya bersyukur bisa bekerja di industri, apotek, dan rumah sakit dengan segala suka duka ceritanya. Saya beruntung dan lebih mudah dalam menjalani kuliah profesi, karena saya sudah pernah terjun langsung. Saya beruntung dengan segala yang saya lalui, itu yang menempa saya dan membuat saya tidak cengeng. Yah sesekali cengeng boleh lah :).

Semua perjuangan tersebut semakin menguatkan saya. Saya ingat ketika dalam berdoa saya tidak minta untuk dimudahkan urusan, saya hanya minta Tuhan menguatkan saya. Menjadikan saya pribadi yang kuat dan tidak cengeng dalam menjalani semua takdirnya. Seperti salah satu ayat alquran favorit saya. “Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.”

Buat teman-teman yang masih pusing dengan sekolah, skripsi atau apalah itu, yakin, semuanya akan lewat dan akan tersenyum pada waktunya.

Tersenyum di Ha Long Bay
Senyumin Ajaaa

 

 

10 Hal, Ketika Saya Kembali Jadi Mahasiswa

Hai hai blog… apa kabar? Saya kangen banget nulis hal-hal yang receh gak pakai mikir nih. Alhamdulillah nyolong-nyolong waktu buat nge-blog, meski UTS di depan mata. Disela-sela kebosanan memandang layar laptop yang selalu bahan kuliah. Hihihihi…

Tulisan ini di draft ketika menjelang Ujian Tengah Semester coba. Berhubung menggilanya tugas dan belum ada fotonya kemudian diundur-undur dan ini saya edit ketika sudah liburan semesteran coba. Hehehehe. Baiklah kita langsung sajah.

Bukannya saya gak bersyukur yah, tapi proses transisi dari kehidupan yang awalnya sudah nyaman dengan hanya kerja dan mengurus rumah tangga, ke kehidupan kuliah yang segudang tugas, kuis, presentasi, dengan limit waktu yang terbatas, membuat saya seperti kekurangan waktu dalam sehari. Agak berlebihan memang, tapi ya memang demikian. Belum lagi saya anaknya yang memang tidak terlalu kompetitif, agak lemot,  dan terhitung santai. Hihihihi.

Perubahan ritme hidup perlahan harus saya bisa kendalikan kalau saya tidak mau kalah oleh keadaan. Halah. Apasih. Iyah mau gak mau saya harus memecut diri saya, untuk lebih semangat, giat, dan mencoba tetap menikmati kehidupan yang dengan sadar sudah saya pilih ini. Iyah alhamdulillah saya dapat tugas belajar dari kantor kuliah S2 di Depok sana. Insyaallah kalau lancar sekitar dua tahunan lah ya…

Berikut ada beberapa hal yang berubah dalam hidup saya, ya kira-kira bisa dibilang sebagai suka dan duka yang saya rasakan dalam masa transisi kembali menjadi mahasiswa :

1.Janji Mau Nge-blog Seminggu Satu Kali Tinggalah Janji Belaka

Tampilan beranda scele (web kampus UI)
Berikut halaman wajib yang harus rajin ditongkrongin selama ini. Menggantikan wordpress.

Jadi ya, waktu awal kuliah itu, kan saya dapat jatah libur satu minggu dua hari, yaitu Senin dan Kamis. Nah, hari-hari libur itu mau saya optimalkan dengan meningkatkan produktivitas blog saya. Awalnyalah saya mau bikin jadwal topik, sampe harus rajin nge-draft.

Eh ndilalah, setelah kuliah berjalan, lah kok ya, tiap mata kuliah itu selalu ada tugas. Tugasnya itu ndak Cuma menjawab soal begitu, tapi ya nulis. Topiknya apa? Beuh jangan ditanya, topiknya bsurd banget buat saya yang memang tidak terbiasa menulis topik-topik berat. Palagi cara penulisan harus ilmiah dan jangan sampai ketahuan plagiat. Harus cermat melihat sumber dan menuliskannya kembali ke dalam tulisan. Kalau ketahuan plagiat, bisa dilumat abis sama Dosennya. Hihihihi.

Belom lagi yah kalau sudah dibuat dalam bentuk tulisan ya nggak dengan enaknya pun ngumpulin. Ya harus dibuat power point-nya untuk dipresentasikan. Belum lagi sebelum dipresentasikan harus di acc oleh dosennya dulu. Bayangin harus ngejar dosennya, nungguin dosennya belom benerin revisi. Sementara itu tugas gak cuma satu mata kuliah jendral.

Bagaimana dengan materinya? Karena menurut dosennya ini kami mahasiswa S2 gak perlu banyak-banyak dikasih materi. Jadi kami hanya dikasih masalah lalu disuruh menganalisa dan menelaah. Ya ampun, pokoknya semua harus dipikirin dan bisa dipertanggungjawabkan. Ya kalau salah atau gimana gak papah sih, namanya belajar, tapi ya siap-siap agak malu aja kali yah.

Selain mata kuliah yang macam itu, selalu menganalisa dan membuat tulisan, adalagi mata kuliah yang bobotnya cukup besar mau masukin ke dalam otak saja, susahnya minta ampun-ampunan deh. Belum lagi setiap pertemuan kuis dan kuis, presentasi dan presentasi.

Iyasih, tiap minggu memang saya produktif menulis, produktif sekali. Itu nulis untuk tugas kuliah tapinya. Topiknya buanyak banget. Kalau saya tulis di blog, aduh bisa bosan nanti bacanya.

Dalam hati kecil saya sih, saya masih mau banget berusaha menjaga ke-istiqomahan blog saya meski apapun itu yang saya tulis. Liburan? Aduh nanti dulu lah. Semoga libur semester nanti saya bisa liburan dan menulis tentang traveling yang seru banget itu.

Nah rajinnya jadi rajin nongkrongin web kampus buat melihat tugas apalagi gerangan yang akan menghampiri. Hehehe. Soalnya suka mengejutkan mepet-mepet gitu sih.

2. Mata Suka Bergetar dengan Sendirinya

Awalnya saya suka aneh kenapa ini mata sebelah kanan suka bergetar sendiri. Buka-buka primbon kok malah aneh. Hehehehehe Ternyata hal tersebut termasuk gejala mata lelah. Misalnya terlalu banyak menatapa layar komputer atau hape. Iyah tubuh saya pun sebenarnya memberikan sinyal cukup bagus untuk saya agar jangan lupa istirahat.

3. Jarang Update Instagram tapi Sering Curhat di IG-Stories

IG Stories Wahyu Eka Arini
Berikut contoh curhat dan nyinyir saya lebih tepatnya di IG stories. Hihihihi

Buat saya feed Ig saya itu ya foto-foto traveling saya atau foto yang bagus seputar perjalanan yang bercerita. Nah kalau yang model kuliah begini diceritain fotonya kek mana yah? Sepertinya semua orang kok yah mengalami.

Memang sih saya jarang banet posting di IG yang isinya curhat tentang keseharian atau daily activity. Males ajah. Maunya itu yang ceritanya seru. Seru buat saya itu ya cerita liburan atau kehidupan, gak melulu tentang keluhan kayak yang sering terjadi belakangan. Makanya saya upadate di IG stories ajah yang usianya cua 24 jam gak perlu dilihat-lihat lagi. Memang gak penting soalnya. Uhmmm…

4. Jarang Masak Apalagi Moto Masakan Kemudian Upload di Sosmed

Pisang Nugget Nutella
Iya meski jarang masak di hari kuliah. Weekend kadang masih iseng bikin cemilan kekinian. Penasaran soalnya.

Padahal kan yah, namanya lagi sering di rumah, gak ngantor, idealnya kan masak yah sebagai isteri yang baik. Kenyataannya, sekarang kalau bangun tidur abis shubuh langsung buka laptop. Sampai di rumah sore bebersih, langsung buka laptop. Mana sempat masak. Kalaupun sempat masak, ya kemudian langsung dimakan sampai lupa garnish ini itu buat dipajang di IG. Udah keburu lapar soalnya. Hihihihi…

5. Jam Tidur Berubah Lebih Malam

Kalau ketika kerja saya abis isya bisa leyeh-leyeh nonton TV di sofa ataupun sekedar menikmati the art of doing nothing. Nonton film favorit atau menertawakan apapun itu, sampai akhirnya ketiduran, sekarang beuh boro-boro deh. Pulang kuliah langsung buka laptop, sampai mata bergetar itu tadi batasnya. Maksimal saya hanya kuat sampai jam 23:00. Lewat dari situ, bukannya mata yang gak bisa melek, tapi otak pun sudah enggan diajak berpikir. Badan udah gemeretek. Mau gak mau, biar gak jadi sakit, harus tidur. Setel weker jam 4 biar gak kesiangan Shubuh-annya.

Dari zaman masih sekolah sampai kuliah di tiga tempat, sumpah belom bisa yang namanya begadang. Mungkin saya penganut aliran Bang Oma sejati. Begadang jangan begadang. Meski ini ada artinya. Emang gak kuat sih. Hihihi… Makanyah nilai akademis saya standar. Mungkin memang perjuangan saya kurang yah… gak kaya rang-orang ituloh. Minum kopi bercangkir-cangkir demi nilai A. Saya mah… gimana besok sajalah, wong badan minta ditidurin kok. Piye dong. Walhasil IP yang penting cukup buat ngelamar kerja, jadi PNS. Payah banget jangan ditiru lah.

6. Sudah Jarang Baca Novel

Rini di depan Rektorat UI
Jarang ke toko buku baca novel, tapi masih berusaha bahagia, dengan bersepeda keliling kampus 🙂

Yaelah… kok gimana yah. Selama bergelut kuliah, saya kangen banget sama yang namanya membaca novel. Palingan yah blog walking di hape aja sih.  Dua bulan ini ditahan-tahanin biar gak beli novel, gak ke Gramedia. Padahal Gramedia tinggal kepleset dari kampus. Mau bekal buku apa gitu buat di jalan aja kok yah merasa kayak aku selingkuh dengan dunia kampus. Nanti kualat. Gak bisa jawab kuis. Iyah, bukannya baca buku kuliah wong mau UTS atau kuis malah enak-enak baca buku apa itu.

Huhuhu segitunya yah saya… Tapi kemarin nekat dong, gak ada dosen, saya pun pergi ke Gramedia dan dapat empat buku. Satu novel, satu bukunya Gita Savitri, satu bukunya Paulo Coelho dan yang terakhir buku buat siraman rohani yang berjudul Me+Good = Enough. Hahahhaha. Mungkin saya takut depresi jadi mulai mencari self healing melalui bacaan yang saya baca itu. Kemudian dalam waktu  dua minggu sudah selesai tiga buku. Hihihihi. Itu ditahan-tahanin sih soalnya. Kalau gak bablas.

7. Jarang Belanja Online

Mie Yamin Cijantung Kopasus
Ini mie yamien enak bangettttt….

Alhamdulillah ini mah yah. Berusaha menurunkan nafsu belanja hal-hal yang gak penting. Fokus pada kebutuhan yang benar-benar penting selama kuliah. Budget belanja jadi budget buat beli es kopi dan makanan. Hahahahaha sama ajah dong itu mah. Beneran sih. Alhamdulillah bisa menahan dari godaan sale jilbab di IG ataupun baju-baju lucu. Duitnya buat beli es kopi biar bisa ganjel mata yang ngantuk-an ini. Sesekali jajan mie yamin endeus di Cijantung pas pulang kuliah mampir ke rumah Orang Tua. Itu dah bikin bahagia banget. Hihihihi

8. Kecanduan Kopi

Kolary Kopi
Andalan ketika kuliah tiga SKS, biostatistika pula dan kemudian dosennya minta tambahan waktu karena kemarin beliau gak masuk 😦

Iyah jadi ceritanya gini, ada teman sekelas di mata kuliah yang super duper menuntut fokus tinggi yaitu Biostatistika yang punya warung kopi gitu. Plusnya lagi, beliau pun mantan barista dan orang Gayo. You know what i mean kan yah… Kopi Gayo itu memang kopi premium, gak bisa dibandingin sama kopi sachet-an itu kan yah.

Beneran dong aduh itu kopinya bikin nagih banget. Belum lagi yang manisnya pun gak terlalu, kopinya tebal, agak asam, dan ampuh banget buat saya. Ampuh maksudnya bisa bikin mata melek. Itulah why kopi sachet gak berpengaruh di saya. Buat saya kopi sachet itu seperti air gula warna coklat. Iyah, manis ajah kebangetan, no effect to my body beside can make my blood sugar rate higher, I think. Hihihihi sorry not sorry nih.

9. Cuek Rumah Berantakan

Awalnya tuh yah, pengen banget tiap hari bisa nyapu dan mengepel. Kalau bisa lagi bikin-bikin DIY hiasan rumah yang lucu-lucu gitu kaya para selebgram. Kenyataannya, keinginan hanya tinggal kenangan, dan kupun malas sekali. Sampai kadang di kuat-kuatin ajah cuek lihat rumah kayak kapal pecah.

Suami untungnya gak komplain dan maklum banget sama isterinya yang lagi khusyuk ngerjain tugas. Malah dia yang lebih aware misalnya kerangjang cucian kotor sudah penuh dan dengan sukarela memasukkannya ke mesin cuci. Iyah, Suamiku yang nyuci deh. Ya Allah… nikmat mana lagi yang kau dustakan. Makasih banget dikasih suami yang gak risih mengerjakan pekerjaan rumah. Alhamdulillah

10. Mengenal Karakter Teman Lama dan Teman Baru

Kebijakan Hukum Kesehatan 2017
Teman-teman satu perjuangan di satu peminatan Kebijakan Hukum Kesehatan

Untuk yang ini agak lumayan panjang dan sepertinya bisa ditaruh satu judul sendiri sih yah… hahahaha. Dasar julid saya mah yah, sukanya mengomentari kelakuan manusia. Eh nggak, maksudnya dengan begitu kita bisa belajar kan yah. Belajar mengenali watak manusia yang sangat beragam. Bukannya dengan demikian makin menambah kekaguman kita sama Allah, kalau semua itu cipataanNya yang mau tidak mau, suka tidak suka kita harus bisa hidup berdampingan. Hehehehe…

Sekian curhatan saya yang sangat tidak berfaedah ini. Seneng ajah, akhirnya saya bisa nulis lagi yang gak melulu isinya tugas kuliah. Cuma curhatan sih, gak penting buat yang baca, tapi penting banget buat saya untuk membuat saya tetap sehat secara mental. Wkwkwkkwkwk…

“Korban First Travel?” Iyah, Saya :)

“Sesekali saya mau nulis yang kekinian ah… Apayah?” Begitu yang ada dalam benak saya belakangan ini. Sibuknya dunia awal perkuliahan saya, dengan jadwal satu hari weekend, mau gak mau ya jadi agak susah buat jalan-jalan dalam jangka waktu lama. Mungkin nantilah pas libur kuliah semesteran. Berawal karena hal itulah, saya jadi semangat buat nulis yang kekinian. Meski dengan menulis ini membuka aib “kebodohan” saya sendiri sih. Gak papalah, selain buat dokumentasi arsip pribadi, semoga bisa jadi pelajaran juga buat pembaca blog saya.

“Korban First Travel? Kok Bisa?”

Waktu itu di tahun 2016, alhamdulillah saya ditugaskan dari kantor ke Arab Saudi sebagai tim penerima obat yang akan digunakan jamaah haji Indonesia. September 2016 setahun lalu tepatnya.

Ini oleh-oleh tulisan saya waktu itu : Makanan Khas Arab yang Yummy (Worktrip Arab Saudi Part 2)   

Selama tujuh hari berada di Arab, tentu sangat berkesan sekali buat saya. Bagaimana tidak? Menginjakkan kaki di tanah haram adalah impian setiap umat muslim di manapun. Meski ketika itu tentu waktu saya sebagian besar ya buat bekerja tetapi kami tetap menyempatkan diri untuk beribadah di tanah berdirinya kiblat umat muslim seluruh dunia.

Kenangan spiritual ataupun duniawi sangat membekas. Hingga terbesit keinginan untuk suatu saat saya bersama suami akan bisa bersama-sama beribadah ke Mekkah. Singkat cerita, salah seorang teman saya yang juga berangkat saat itu menceritakan pengalaman umrohnya bersama suami dengan biro perjalan yang terbilang biayanya cukup murah.

“Iyah, enak kok, kemarin gue sama suami bareng Kak Naningnung nengnong tuh malah tiap tahun.” bebernya lagi mempromosikan sebuah biro perjalanan umroh yang kemudian akan dibekukan pemerintah di pertengahan 2017

Iya, disitulah saya mulai tergerak penasaran dengan yang namanya First Travel. Agak bimbang terus terang saya waktu itu, hingga Bos saya, juga bercerita beliau sudah dua kali berangkat umroh dengan biro perjalanan yang sama, First Travel. Bergeser ke ruangan sebelah, teman saya sejak kuliah, sebut saja Mawar menceritakan bahwa dia dan suaminya baru melakukan umroh dengan lagi-lagi First Travel. Tidak hanya Mawar ternyata di ruangan tersebut, ada juga Ibu Titi Teliti dan Pak Anwar Fuadi dan keluarganya.

Mereka semua saya tanyakan bagaimana bisa umroh dengan budget minim di sana? Bagaimana hotelnya? Bagaimana cateringnya? Bagaimana pelayanan-pelayanan lainnya. Mereka kompak menjawab bagus dan memuaskan. Tentu saja disesuaikan dengan uang yang sudah mereka bayarkan, pelayanan terbilang bagus.

Perlu diketahui, sebelumnya saya bermaksud menawarkan kedua orang tua saya buat umroh. Tidak dengan First Travel dengan biro perjalanan lainnya. Sudah jelas tanggal berangkat dengan harga lebih mahal tentunya. Kalau waktu itu First Travel 14 jutaan, biro perjalanan tersebut menawarkan di harga 22 juta sekian sekian. Kemudian Ibu dan Bapak memilih menggunakan dana tersebut untuk daftar haji. Baiklah Ibu dan Bapak kemudian daftar haji dan masih dalam proses mengantri.

Berbekal pengalaman saya di Arab ketika dinas, saya pikir kami (saya dan suami) masih usia yang cukup sehat untuk beribadah di sana meski dengan biaya yang murah sekalipun. Mumpung masih muda. Gak papahlah, toh kemarin saya bisa kok ketika dinas ke Mekkah naik taksi atau mau ke pasar mau beli apa secara mandiri tanpa biro atau agen perjalanan.

Bismillah, saya meminta suami untuk mendaftar ke kantor First Travel di daerah Depok. Kesana sendiri tanpa melalui agen atau paksaan. Mengambil formulir, menyiapkan foto untuk visa, membayar DP sampai harus melunasi beberapa hari kemudian. Kami juga menerima kalau kami akan berangkat di Tahun 2017 bulan April.

Hingga di penghujung 2016, suami ikut manasik umroh yang diselenggarakan First Travel di Masjid Istiqlal yang luar biasa jamaahnya memenuhi seluruh tempat di Masjid terbesar se-Asia Tenggara itu. Saya memilih tidak ikut. Selain tahu akan penuh, toh saya sudah pernah umroh. Suami berangkat sendiri pagi-pagi sekali agar mudah mendapat parkir. Di sana suami bertemu dengan tetangga dekat rumah, yang belakangan kami tahu beliau membawa atau mengajak beberapa jemaah. Entah beliau agen atau hanya membantu sampai sekarang saya tidak tahu.

Oh iyah, saat itu di ruangan saya di kantor, tidak hanya saya saja yang tertarik. Bu Lily Kasoem Optik, Bu Philips dengan suami, dan Pak Steward bahkan sekeluarga dengan istri dan dua anaknya.

Di penghujung 2016, mulai terdengar kehebohan di media tentang First Travel. Banyak jemaah yang dijanjikan akan berangkat di Januari 2017 belum juga diberangkatkan. Berita yang awalnya simpang siur mulai terbukti benar adanya. Bu Lily Kasoem Optik bergabung dengan grup WA yang mulai membuat aduan ke Kementerian Agama. Ketika itu Kemenag belum juga membekukan First Travel. Lucunya lagi, iklan dan tawaran First Travel masih dengan mudah ditemui di media sosial seperti Instagram.

Mulai Aneh, Minta Refund dan “Kembalikan Paspor Saya!”

Lucunya First Travel itu yah, paspor sudah diminta jauh-jauh hari banget. Katanya sih buat urus visa. Yaelah visa kan kalau lancar begini paling beberapa hari juga jadi. Oke, mikirnya jemaah banyak. Saya sudah meneyerahkan paspor di akhir 2016.

Suami yang memang masih membutuhkan paspor dalam rangka kerja, memilih akan membayar lebih yaitu sebesar tiga juta jika belakangan menyerahkan paspor. Ini yang bikin sebel. Suami waktu itu ada kerjaan ke Jerman dan Italia, dan saya yang tadinya mau ikut memilih gak ikut karena tahun depan mau umroh, harus menerima kenyataan pahit. Gagal ke Eropa dan gagal umroh. Wkwkwkwkw. Kasihan deh lo.

Bulan April 2017, kegaduhan mulai terjadi. Pihak First Travel tiba-tiba memenerapkan aturan tambahan biaya sebesar 2,5 juta rupiah bagi program umroh promo jika mereka akan diberangkatkan. Konon katanya biar bareng sama jemaah reguler. Nah loh, awalnya ajah udah molor setahun, kok tiba-tiba minta nambah terus bisa berangkat. Piye to? Gak masuk akal.

Mulai mencium keanehan, saya minta suami ke kantor First Travel. Minta refund dan ambil paspor saya. Sebel banget pokoknya. I want my paspor back. Paspor ditahan itu kayak kena banned sama pemerintah kalau saya itu penjahat, jadi gak boleh ke luar negeri. Sumpah sebel banget.

Alhamdulillah yah (selalu ada alhamdulillah di setiap peristiwa) suami kerjanya fleksibel. Jadi yang mondar mandir ke kantor First Travel yang mulai rusuh banget itu ya suami. Setiap habis dari kantor First Travel selalu ada ajah cerita sedih yang dibawa.

Cerita jemaah yang gagal berangkat padahal sudah menunggu dua tahun, ada anak yang memperjuangkan orang tuanya yang mau umroh, ada curhat para agen yang memperjuangkan orang-orang yang mereka bawa, hingga curhat para Customer Service First Travel yang menjadi sasaran amukan massa jemaah.

Kenapa Jualan yang Sifatnya Spiritual Laris Manis ?

Setelah formulir refund kami terima yang katanya akan cair 90 hari kerja dan paspor saya kembali, hati agak lega. Bahkan kemudian saya langsung gatel memakai paspor yang telah ama hilang itu. Hahahahaha. Lebay. Iyah saya langsung ikut nemanin suami ke Thailand. Hihihi.

Bagaimana dengan uang refund yang dijanjikan? Sudahkah cair? Tentu saja belum Saudara-saudara. Bolak-balik suami nanya, “Udah ada uang masuk, ke rekening kamu?” Saya cuma bisa jawab, “Yaelah gak usah diharapin deh…” bahkan saya menjawab demikian sebelum kedua Bos FT itu dijebloskan ke penjara. Apalagi sekarang Bos mereka sudah di penjara. Jelas keuangan pribadi dan perusahaan yang disatukan ditambah manajemen yang carut marut, hampir dipastikan kecil sekali kemungkinan dana kami akan kembali.

Terus, saya sedih gak? Ya sedih mah pasti. Tapi kok ya mau gimana lagi. Kekayaan mereka tidak sebanding dengan jemaah yang belum berangkat. Belum lagi stake holder yang mereka hutangi. Sebatas melapor ke Bareskrim akan kami tempuh.

Banyak teman-teman saya yang bilang, aduh manusia Indonesia nih. Pasrah dan menerima, bilangnya musibah dan takdir. Usaha dong. Yaelah mbak dibanding ngeributin dana kami yang hilang, waktu kami akan lebih berharga buat hal-hal yang jauh lebih berharga saat ini. Bukan berarti uang 28 juta sekian kami itu gak berharga, tapi ya itu, uang atau kekayaan milik Bos FT (kalau mereka jujur) sudah pasti tidak akan bisa membayar kembali uang jemaah yang belum diberangkatkan. Beda halnya kalau kami sebagai agen yang membawa jemaah banyak. Mungkin kami akan fight sekuat tenaga.

Apa kami menutut pemerintah buat ganti? Ih sumpah gak rela, meski kami jadi korban penipuan, tapi kalau pemerintah yang harus ganti. Kami gak mau. Yah uang pemerintah dari mana kalau bukan dari pajak rakyat? Kasihan banget rakyat Indonesia suruh mengganti kerugian gara-gara nafsu manusia serakah macam AA itu. Kalau gitu enak dong kalau kita nipu ajah, jalan-jalan ke luar negeri. Kemudian nanti diganti sama pemerintah. Bisa kualat sama satu rakyat Indonesia kalau begitu.

Penipuan yang gampang itu, di Indonesia memang ya main di seputar spiritual sih. Manusia Indonesia gampang banget mengeluarkan uang dengan dalih ibadah spiritual. Entahlah.

Pernah dengar nih, kok bisa murah yah, katanya lagi si Ibu Anisa itu sudah kaya,  punya usaha banyak, jadi ingin bantu orang Indonesia ibadah. Hadewh… mamam noh bantu. Berangkatin artis beserta keluarganya dengan fasilitas VIP, dan memprioritaskan pegawai-pegawai rombongan kantor pemerintah agar citranya bagus. Apalagi kalau lihat postingan IG-nya yang foto-foto di luar negeri. Ku tak sanggup gak menyinyir.

Hati-hati Mempromosikan Sesuatu yang Di Luar Kewajaran

Iyah, awalnya mungkin hanya ingin testimoni, tapi saya sama sekali gak menyalahkan teman saya, sampai Bos saya. Jujur awalnya kesel tapi ya saya kan juga sadar pergi ke Kantor FT sendiri, bayar, dan semuanya murni sadar dengan yang saya lakukan. Jadi ya gak bisa menyalahkan mereka. Bahkan ketika sudah bayar dan cerita ke Bapak Mertua pun dimarahin. Hehehe.

Sedih itu seperti Bu Lily Kasoem Optik yang anaknya bermaksud membahagiakan sang mertua, eh kemudian begini kejadiannya. Baik hati Bu Lily sedang mengusahakan agar besannya tetap bisa berangkat umroh dengan biro perjalanan lain, meski dia dan keluarganya gotong royong mencari dana. Lucunya lagi, besannya Bu Lily itu gak tauk apa-apa dong tentang hebohnya kasus FT ini. Padahal tinggal sebelahan. Kadang hidup butuh begitu. Tidak perlu tahu banyak. Salah satu efek kamu tahu banyak ini nih. Ikutan dan ditipu. Hahahhaha…

Jadi, kalau kemudian teman saya di Bus antar jemput kantor bertanya dengan lantangnya, “Eh, di sini gak ada yang korban First Travel, kan?”

Saya akan dengan lantang menjawab, “Ada. Saya. Iyah, saya korban First Travel.”

Kemudian akan diikuti lagi pertanyaan, “Kok bisa? Mbak?”

Kemudian cerita bergulir, hingga teman saya berkata, “Iyah sih kalo gue kayak lo juga gue tergiur. Untungnya di ruangan gue gak ada yang ikut First Travel.” Hahahhaha. Kami tertawa bersama. Dalam hati sih saya meringis menahan tangis. 😦