“Korban First Travel?” Iyah, Saya :)

“Sesekali saya mau nulis yang kekinian ah… Apayah?” Begitu yang ada dalam benak saya belakangan ini. Sibuknya dunia awal perkuliahan saya, dengan jadwal satu hari weekend, mau gak mau ya jadi agak susah buat jalan-jalan dalam jangka waktu lama. Mungkin nantilah pas libur kuliah semesteran. Berawal karena hal itulah, saya jadi semangat buat nulis yang kekinian. Meski dengan menulis ini membuka aib “kebodohan” saya sendiri sih. Gak papalah, selain buat dokumentasi arsip pribadi, semoga bisa jadi pelajaran juga buat pembaca blog saya.

“Korban First Travel? Kok Bisa?”

Waktu itu di tahun 2016, alhamdulillah saya ditugaskan dari kantor ke Arab Saudi sebagai tim penerima obat yang akan digunakan jamaah haji Indonesia. September 2016 setahun lalu tepatnya.

Ini oleh-oleh tulisan saya waktu itu : Makanan Khas Arab yang Yummy (Worktrip Arab Saudi Part 2)   

Selama tujuh hari berada di Arab, tentu sangat berkesan sekali buat saya. Bagaimana tidak? Menginjakkan kaki di tanah haram adalah impian setiap umat muslim di manapun. Meski ketika itu tentu waktu saya sebagian besar ya buat bekerja tetapi kami tetap menyempatkan diri untuk beribadah di tanah berdirinya kiblat umat muslim seluruh dunia.

Kenangan spiritual ataupun duniawi sangat membekas. Hingga terbesit keinginan untuk suatu saat saya bersama suami akan bisa bersama-sama beribadah ke Mekkah. Singkat cerita, salah seorang teman saya yang juga berangkat saat itu menceritakan pengalaman umrohnya bersama suami dengan biro perjalan yang terbilang biayanya cukup murah.

“Iyah, enak kok, kemarin gue sama suami bareng Kak Naningnung nengnong tuh malah tiap tahun.” bebernya lagi mempromosikan sebuah biro perjalanan umroh yang kemudian akan dibekukan pemerintah di pertengahan 2017

Iya, disitulah saya mulai tergerak penasaran dengan yang namanya First Travel. Agak bimbang terus terang saya waktu itu, hingga Bos saya, juga bercerita beliau sudah dua kali berangkat umroh dengan biro perjalanan yang sama, First Travel. Bergeser ke ruangan sebelah, teman saya sejak kuliah, sebut saja Mawar menceritakan bahwa dia dan suaminya baru melakukan umroh dengan lagi-lagi First Travel. Tidak hanya Mawar ternyata di ruangan tersebut, ada juga Ibu Titi Teliti dan Pak Anwar Fuadi dan keluarganya.

Mereka semua saya tanyakan bagaimana bisa umroh dengan budget minim di sana? Bagaimana hotelnya? Bagaimana cateringnya? Bagaimana pelayanan-pelayanan lainnya. Mereka kompak menjawab bagus dan memuaskan. Tentu saja disesuaikan dengan uang yang sudah mereka bayarkan, pelayanan terbilang bagus.

Perlu diketahui, sebelumnya saya bermaksud menawarkan kedua orang tua saya buat umroh. Tidak dengan First Travel dengan biro perjalanan lainnya. Sudah jelas tanggal berangkat dengan harga lebih mahal tentunya. Kalau waktu itu First Travel 14 jutaan, biro perjalanan tersebut menawarkan di harga 22 juta sekian sekian. Kemudian Ibu dan Bapak memilih menggunakan dana tersebut untuk daftar haji. Baiklah Ibu dan Bapak kemudian daftar haji dan masih dalam proses mengantri.

Berbekal pengalaman saya di Arab ketika dinas, saya pikir kami (saya dan suami) masih usia yang cukup sehat untuk beribadah di sana meski dengan biaya yang murah sekalipun. Mumpung masih muda. Gak papahlah, toh kemarin saya bisa kok ketika dinas ke Mekkah naik taksi atau mau ke pasar mau beli apa secara mandiri tanpa biro atau agen perjalanan.

Bismillah, saya meminta suami untuk mendaftar ke kantor First Travel di daerah Depok. Kesana sendiri tanpa melalui agen atau paksaan. Mengambil formulir, menyiapkan foto untuk visa, membayar DP sampai harus melunasi beberapa hari kemudian. Kami juga menerima kalau kami akan berangkat di Tahun 2017 bulan April.

Hingga di penghujung 2016, suami ikut manasik umroh yang diselenggarakan First Travel di Masjid Istiqlal yang luar biasa jamaahnya memenuhi seluruh tempat di Masjid terbesar se-Asia Tenggara itu. Saya memilih tidak ikut. Selain tahu akan penuh, toh saya sudah pernah umroh. Suami berangkat sendiri pagi-pagi sekali agar mudah mendapat parkir. Di sana suami bertemu dengan tetangga dekat rumah, yang belakangan kami tahu beliau membawa atau mengajak beberapa jemaah. Entah beliau agen atau hanya membantu sampai sekarang saya tidak tahu.

Oh iyah, saat itu di ruangan saya di kantor, tidak hanya saya saja yang tertarik. Bu Lily Kasoem Optik, Bu Philips dengan suami, dan Pak Steward bahkan sekeluarga dengan istri dan dua anaknya.

Di penghujung 2016, mulai terdengar kehebohan di media tentang First Travel. Banyak jemaah yang dijanjikan akan berangkat di Januari 2017 belum juga diberangkatkan. Berita yang awalnya simpang siur mulai terbukti benar adanya. Bu Lily Kasoem Optik bergabung dengan grup WA yang mulai membuat aduan ke Kementerian Agama. Ketika itu Kemenag belum juga membekukan First Travel. Lucunya lagi, iklan dan tawaran First Travel masih dengan mudah ditemui di media sosial seperti Instagram.

Mulai Aneh, Minta Refund dan “Kembalikan Paspor Saya!”

Lucunya First Travel itu yah, paspor sudah diminta jauh-jauh hari banget. Katanya sih buat urus visa. Yaelah visa kan kalau lancar begini paling beberapa hari juga jadi. Oke, mikirnya jemaah banyak. Saya sudah meneyerahkan paspor di akhir 2016.

Suami yang memang masih membutuhkan paspor dalam rangka kerja, memilih akan membayar lebih yaitu sebesar tiga juta jika belakangan menyerahkan paspor. Ini yang bikin sebel. Suami waktu itu ada kerjaan ke Jerman dan Italia, dan saya yang tadinya mau ikut memilih gak ikut karena tahun depan mau umroh, harus menerima kenyataan pahit. Gagal ke Eropa dan gagal umroh. Wkwkwkwkw. Kasihan deh lo.

Bulan April 2017, kegaduhan mulai terjadi. Pihak First Travel tiba-tiba memenerapkan aturan tambahan biaya sebesar 2,5 juta rupiah bagi program umroh promo jika mereka akan diberangkatkan. Konon katanya biar bareng sama jemaah reguler. Nah loh, awalnya ajah udah molor setahun, kok tiba-tiba minta nambah terus bisa berangkat. Piye to? Gak masuk akal.

Mulai mencium keanehan, saya minta suami ke kantor First Travel. Minta refund dan ambil paspor saya. Sebel banget pokoknya. I want my paspor back. Paspor ditahan itu kayak kena banned sama pemerintah kalau saya itu penjahat, jadi gak boleh ke luar negeri. Sumpah sebel banget.

Alhamdulillah yah (selalu ada alhamdulillah di setiap peristiwa) suami kerjanya fleksibel. Jadi yang mondar mandir ke kantor First Travel yang mulai rusuh banget itu ya suami. Setiap habis dari kantor First Travel selalu ada ajah cerita sedih yang dibawa.

Cerita jemaah yang gagal berangkat padahal sudah menunggu dua tahun, ada anak yang memperjuangkan orang tuanya yang mau umroh, ada curhat para agen yang memperjuangkan orang-orang yang mereka bawa, hingga curhat para Customer Service First Travel yang menjadi sasaran amukan massa jemaah.

Kenapa Jualan yang Sifatnya Spiritual Laris Manis ?

Setelah formulir refund kami terima yang katanya akan cair 90 hari kerja dan paspor saya kembali, hati agak lega. Bahkan kemudian saya langsung gatel memakai paspor yang telah ama hilang itu. Hahahahaha. Lebay. Iyah saya langsung ikut nemanin suami ke Thailand. Hihihi.

Bagaimana dengan uang refund yang dijanjikan? Sudahkah cair? Tentu saja belum Saudara-saudara. Bolak-balik suami nanya, “Udah ada uang masuk, ke rekening kamu?” Saya cuma bisa jawab, “Yaelah gak usah diharapin deh…” bahkan saya menjawab demikian sebelum kedua Bos FT itu dijebloskan ke penjara. Apalagi sekarang Bos mereka sudah di penjara. Jelas keuangan pribadi dan perusahaan yang disatukan ditambah manajemen yang carut marut, hampir dipastikan kecil sekali kemungkinan dana kami akan kembali.

Terus, saya sedih gak? Ya sedih mah pasti. Tapi kok ya mau gimana lagi. Kekayaan mereka tidak sebanding dengan jemaah yang belum berangkat. Belum lagi stake holder yang mereka hutangi. Sebatas melapor ke Bareskrim akan kami tempuh.

Banyak teman-teman saya yang bilang, aduh manusia Indonesia nih. Pasrah dan menerima, bilangnya musibah dan takdir. Usaha dong. Yaelah mbak dibanding ngeributin dana kami yang hilang, waktu kami akan lebih berharga buat hal-hal yang jauh lebih berharga saat ini. Bukan berarti uang 28 juta sekian kami itu gak berharga, tapi ya itu, uang atau kekayaan milik Bos FT (kalau mereka jujur) sudah pasti tidak akan bisa membayar kembali uang jemaah yang belum diberangkatkan. Beda halnya kalau kami sebagai agen yang membawa jemaah banyak. Mungkin kami akan fight sekuat tenaga.

Apa kami menutut pemerintah buat ganti? Ih sumpah gak rela, meski kami jadi korban penipuan, tapi kalau pemerintah yang harus ganti. Kami gak mau. Yah uang pemerintah dari mana kalau bukan dari pajak rakyat? Kasihan banget rakyat Indonesia suruh mengganti kerugian gara-gara nafsu manusia serakah macam AA itu. Kalau gitu enak dong kalau kita nipu ajah, jalan-jalan ke luar negeri. Kemudian nanti diganti sama pemerintah. Bisa kualat sama satu rakyat Indonesia kalau begitu.

Penipuan yang gampang itu, di Indonesia memang ya main di seputar spiritual sih. Manusia Indonesia gampang banget mengeluarkan uang dengan dalih ibadah spiritual. Entahlah.

Pernah dengar nih, kok bisa murah yah, katanya lagi si Ibu Anisa itu sudah kaya,  punya usaha banyak, jadi ingin bantu orang Indonesia ibadah. Hadewh… mamam noh bantu. Berangkatin artis beserta keluarganya dengan fasilitas VIP, dan memprioritaskan pegawai-pegawai rombongan kantor pemerintah agar citranya bagus. Apalagi kalau lihat postingan IG-nya yang foto-foto di luar negeri. Ku tak sanggup gak menyinyir.

Hati-hati Mempromosikan Sesuatu yang Di Luar Kewajaran

Iyah, awalnya mungkin hanya ingin testimoni, tapi saya sama sekali gak menyalahkan teman saya, sampai Bos saya. Jujur awalnya kesel tapi ya saya kan juga sadar pergi ke Kantor FT sendiri, bayar, dan semuanya murni sadar dengan yang saya lakukan. Jadi ya gak bisa menyalahkan mereka. Bahkan ketika sudah bayar dan cerita ke Bapak Mertua pun dimarahin. Hehehe.

Sedih itu seperti Bu Lily Kasoem Optik yang anaknya bermaksud membahagiakan sang mertua, eh kemudian begini kejadiannya. Baik hati Bu Lily sedang mengusahakan agar besannya tetap bisa berangkat umroh dengan biro perjalanan lain, meski dia dan keluarganya gotong royong mencari dana. Lucunya lagi, besannya Bu Lily itu gak tauk apa-apa dong tentang hebohnya kasus FT ini. Padahal tinggal sebelahan. Kadang hidup butuh begitu. Tidak perlu tahu banyak. Salah satu efek kamu tahu banyak ini nih. Ikutan dan ditipu. Hahahhaha…

Jadi, kalau kemudian teman saya di Bus antar jemput kantor bertanya dengan lantangnya, “Eh, di sini gak ada yang korban First Travel, kan?”

Saya akan dengan lantang menjawab, “Ada. Saya. Iyah, saya korban First Travel.”

Kemudian akan diikuti lagi pertanyaan, “Kok bisa? Mbak?”

Kemudian cerita bergulir, hingga teman saya berkata, “Iyah sih kalo gue kayak lo juga gue tergiur. Untungnya di ruangan gue gak ada yang ikut First Travel.” Hahahhaha. Kami tertawa bersama. Dalam hati sih saya meringis menahan tangis. 😦

 

 

2 thoughts on ““Korban First Travel?” Iyah, Saya :)

  1. Huwaah, aku nyaris, Mba.
    Ketika dipromosiin sama salah satu rekan kerja. Qadarallah, saat itu emang uangnya belum mencukupi.

    Hem, yang ku yakini (dan semoga kita satu frekuensi) bahwa ya semua yang ada sekarang titipan Allah ya. Keluarga, teman, kerjaan, materi. Allah punya hak veto untuk memberi dan mengambil kapanpun Ia mau. Caranya ya terserah Ia juga, kan? Ada yang dengan harus membayar biaya rumah sakit. Kehilangan harta benda. Atau yang butuh pihak ketiga seperti ini. Hehe.

    Kalau aku berada di posisi mbak Rini sih ya, syukuri apa yang ada. Uang mah masih bisa dicari dan diusahakan ya. Yang penting masih sehat, keluarga masih kumplit dan masih bisa jalan-jalan dengan passport yang dikembalikan! 🙂

    InsyaAllah dengan tetap bersyukurnya kita dengan kondisi sekarang, Allah akan ganti apa yang sudah di ambil ini. Naik haji Plus, mungkin?

    Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s